Pages

Friday, 1 June 2012

Belajarlah, Agar Beradab!


Belajarlah, Agar Beradab!
Posted by PuJa on May 30, 2012
Adian Husaini
http://www.sabili.co.id/

Pendiri Nahdlatul Ulama (NU), K.H. M. Hasyim Asy’ari, menulis sebuah buku penting bagi dunia pendidikan. Judulnya, Aadabul ‘Aalim wal-Muta’allim Terjemahan harfiahnya: Adab Guru dan Murid. Buku ini membahas tentang konsep adab. Kyai Hasyim Asy’ari membuka kitabnya dengan mengutip hadits Rasulullah saw: “Haqqul waladi ‘alaa waalidihi an-yuhsina ismahu, wa yuhsina murdhi’ahu, wa yuhsina adabahu.” (Hak seorang anak atas orang tuanya adalah mendapatkan nama yang baik, pengasuhan yang baik, dan adab yang baik).
Jadi, mendidik anak agar menjadi orang beradab, sejatinya adalah tugas orang tua. Sebagai institusi pendidikan, sekolah mengambil alih sebagian tugas itu, menggantikan amanah yang dibebankan kepada orang tua. Tujuannya tetap sama: jadikanlah anak beradab! Adab memang sangatlah penting kedudukannya dalam ajaran Islam. Imam Syafii, imam mazhab yang banyak menjadi panutan kaum Muslim di Indonesia, pernah ditanya, bagaimana upayanya dalam meraih adab? Sang Imam menjawab, bahwa ia selalu mengejar adab laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.”
Demikianlah sebagian penjelasan KH Hasyim Asy’ari tentang makna adab. Menyimak paparannya, maka tidak bisa tidak, kata adab memang merupakan istilah yang khas maknanya dalam Islam. Bahkan, menurutnya, salah satu indikator amal ibadah seseorang diterima atau tidak di sisi Allah SWT adalah tergantung pada sejauh mana aspek adab disertakan dalam setiap amal perbuatan yang dilakukannya.
Lalu, apa sebenarnya konsep adab? Uraian yang lebih rinci tentang konsep adab dalam Islam disampaikan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, pakar filsafat dan sejarah Melayu. Menurut Prof. Naquib al-Attas, adab adalah “pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan darjat, yang merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta.” Pengenalan adalah ilmu; pengakuan adalah amal. Maka, pengenalan tanpa pengakuan seperti ilmu tanpa amal; dan pengakuan tanpa pengenalan seperti amal tanpa ilmu. ”Keduanya sia-sia kerana yang satu mensifatkan keingkaran dan keangkuhan, dan yang satu lagi mensifatkan ketiadasedaran dan kejahilan,” demikian Prof. Naquib al-Attas. (SM Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, (ISTAC, 2001).
Begitu pentingnya masalah adab ini, maka bisa dikatakan, jatuh-bangunnya umat Islam, tergantung sejauh mana mereka dapat memahami dan menerapkan konsep adab ini dalam kehidupan mereka. Manusia yang beradab terhadap orang lain akan paham bagaimana mengenali dan mengakui seseorang sesuai harkat dan martabatnya. Martabat ulama yang shalih beda dengan martabat orang fasik yang durhaka kepada Allah. Jika dikatakan menyebutkan, manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa, maka seorang yang beradab tidak akan lebih menghormat kepada penguasa yang zalim ketimbang guru ngaji di kampung yang shalih. Itu adab kepada manusia.
Adab terkait dengan iman dan ibadah dalam Islam. Adab bukan sekedar ”sopan santun”. Jika dimaknai sopan santun, bisa-bisa ada orang yang menuduh Nabi Ibrahim a.s. sebagai orang yang tidak beradab, karena berani menyatakan kepada ayahnya, ”Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS 6:74). Bisa jadi, jika hanya berdasarkan sopan santun, tindakan mencegah kemunkaran (nahyu ’anil munkar) akan dikatakan sebagai tindakan tidak beradab. Padahal, dalam Islam, adab terkait dengan iman dan ibadah kepada Allah. Ukuran seorang beradab atau tidak ditentukan berdasarkan ukuran sopan-santun menurut manusia. Seorang yang berjilbab di kolam renang bisa dikatakan berperilaku tidak sopan, karena semua perenangnya berbikini.
Adab di Tamadun Melayu
Ulama besar dan sastrawan dari Riau, Raja Ali Haji pun telah menyinggung tentang pentingnya akal adan adab. Ia menyatakan kelebihan seorang manusia adalah pada akal dan adab dan bukan pada janis bangsa dan asal. Maka, dalam kitabnya, Bustan al Katibin, yang ditulisnya tahun 1850, ia menyatakan: “Jikalau beberapa pun bangsa jika tiada ilmu dan akal dan adab, ke bawah juga jatuhnya, yakni kehinaan juga diperolehnya.”
Maka agar seseorang, masyarakat atau bangsa itu menjadi mulia, Ali Haji menasehatkan agar individu-individu itu memahami agama. Sebagaimana hadits Rasulullah saw yang terkenal: “Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan, maka ia diberi pemahaman kepada ilmu agama (ad diin).”
Pembinaan individu yang ber-adab ini juga menjadi perhatian yang serius ulama-ulama Melayu abad 18. Seperti Syekh Abdus Shamad al Palimbani dan Syekh Daud Abdullah Fathani. Syekh Palimbani misalnya menulis Hidayah as Salikin. Kitab ini disusun diantaranya merujuk pada karya-karya Imam al Ghazali Minhajul Abidin, Ihya’ Ulumud Din dan dan al-Arbain fi Ushul ad Din. Sedangkan karya Syeikh Daud bin Abdullah al Fathani diantaranya adalah menerjemahkan kitab al Ghazali Bidayah al Hidayah. (Dikutip dari makalah pakar sejarah Melayu, Wan Mohd Shaghir Abdullah, “Sejarah Tasawuf dan Perkembangannya di Nusantara”, 2006).
Syekh Wan Ahmad al Fathani dari Pattani (1856-1908), dalam kitabnya Hadiqatul Azhar war Rayahin (Terj. Oleh Wan Shaghir), berpesan agar seseorang mempunyai adab, maka ia harus selalu dekat dengan majelis ilmu. Ia menyatakan : “Jadikan olehmu akan yang sekedudukan engkau itu (majelis) perhimpunan ilmu yang engkau muthalaah akan dia. Supaya mengambil guna engkau daripada segala adab dan hikmah.”
Menjabarkan konsep adab Prof. SM Naquib al-Attas, Prof. Wan Mohd. Nor Wan Daud, guru besar Institut Alam dan Tamadun Melayu—Universiti Kebangsaan Malaysia, mencatat, bahwa sedikitnya terdapat 18 entri mengenai ta’dib, addaba dan adab yang bisa dijumpai dalam lebih dari satu buku koleksi hadits. Lihat AJ Wensinck dan JP Mensing, Boncordance Indices de la Tradition Musulmane, 7 jil. (Leiden :EJ Brill, 1943), I :26 ; Nasrat Abdel Rahman, The Semantic of Adab in Arabic, al Syajarah jil.2, No. 2, 1997, hh. 189-207. Dalam artikel ini Prof. Abdel Rahman menganalisis pelbagai arti perkataan adab dan perkataan yang diderivasi darinya, khususnya perkataan ta’dib, dari 50 pengarang (penulis) buku berbahasa Arab dan analisis tersebut secara umum menguatkan pemahaman al Attas.”
Perkataan adab, menurut al Attas, memiliki arti yang sangat luas dan mendalam, sebab pada awalnya perkataan adab berarti undangan ke sebuah jamuan makan,yang di dalamnya sudah terkandung ide mengenai hubungan social yang baik dan mulia. Namun adab kemudian digunakan dalam konteks yang terbatas, seperti untuk sesuatu yang merujuk pada kajian kesusastraan dan etika profesional dan kemasyarakatan. Menurut Wan Daud, filosof terkenal, Al Farabi juga mendefinisikan ta’dib sebagai aktivitas yang memproduksi suatu karakter yang bersumber dari sikap moral. Maka, sebenarnya, makna kedua istilah, ta’lim dan tarbiyah telah tercakup di dalam istilah ta’dib. Ibnul Mubarak menyatakan: “Kita lebih memerlukan adab daripada ilmu yang banyak.”
Jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kezaliman, kebodohan dan menuruti hawa nafsu yang merusak. Karena itu, adab mesti ditanamkan pada seluruh manusia dalam berbagai lapisan, pada murid, guru, pemimpin rumah tangga, pemimpin bisnis, pemimpin masyarakat dan lainnya. Bagi orang-orang yang memegang institusi, bila tidak terdapat adab, maka akan terjadi kerusakan yang lebih parah. Kata Prof Wan Mohd. Nor: ”Gejala penyalahgunaan kuasa, penipuan, pelbagai jenis rasuah, politik uang, pemubaziran, kehilangan keberanian dan keadilan, sikap malas dan ’sambil lewa’, kegagalan pemimpin rumah tangga dan sebagainya mencerminkan masalah pokok ini.”
Sikap boros dalam menggunakan kekayaan negara adalah sifat yang buruk bagi pemimpin dan dapat berakibat pada pencopotan dari jabatannya. Dalam teks Hikayat Aceh menurut Prof. Wan Mohd Nor (2007), terdapat dua kasus, dimana Sultan Seri Alam yang sangat boros dan Sultan Zainal Abidin yang zalim dimakzulkan dari kursi pemerintahan.
Adab terhadap ilmu
Jadi, menurut Prof. Wan Mohd. Nor, jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kezaliman, kebodohan dan menuruti hawa nafsu yang merusak. Manusia dikatakan zalim, jika – misalnya – meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Maka, dengan pemahaman seperti itu, seorang Muslim yang beradab pasti lebih mencintai dan mengidolakan Nabi Muhammad saw ketimbang manusia mana pun. Manusia Muslim yang beradab juga akan menghormati sahabat-sahabat nabi dan keluarganya. Begitu juga seorang muslim yang beradab akan lebih menghormati ulama pewaris nabi, ketimbang penguasa yang zalim. Salah satu adab penting yang harus dimiliki seorang Muslim adalah adab terhadap ilmu. Saeorang yang beradab, menurut SM Naquib al-Attas, seorang beradab haruslah mengenal derajat ilmu, mana ilmu yang wajib ‘ain (wajib dimiliki oleh setiap muslim) dan mana yang wajib kifayah (wajib dimiliki sebagian Muslim).
Islam memandang kedudukan ilmu sangatlah penting, sebagai jalan mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya. Ilmu juga satu-satunya jalan meraih adab. Orang yang berilmu (ulama) adalah pewaris nabi. Karena itu, dalam Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali mengingatkan, orang yang mecari ilmu dengan niat yang salah, untuk mencari keuntungan duniawi dan pujian manusia, sama saja dengan menghancurkan agama. Dalam kitabnya, Adabul ‘Alim wal-Muta’allim, KH Hasyim Asy’ari juga mengutip hadits Rasulullah saw: “Barangsiapa mencari ilmu bukan karena Allah atau ia mengharapkan selain keridhaan Allah Ta’ala, maka bersiaplah dia mendapatkan tempat di neraka.”
Ibnul Qayyim al-Jauziyah, murid terkemuka Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, juga menulis sebuah buku berjudul Al-Ilmu. Beliau mengutip ungkapan Abu Darda’ r.a. yang menyatakan: “Barangsiapa berpendapat bahwa pergi menuntut ilmu bukan merupakan jihad, sesungguhnya ia kurang akalnya.” Abu Hatim bin Hibban juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah r.a., yang pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa masuk ke masjid ku ini untuk belajar kebaikan atau untuk mengajarkannya, maka ia laksana orang yang berjihad di jalan Allah.”
Karena begitu mulianya kedudukan ilmu dalam Islam, maka seorang yang beradab tidak akan menyia-nyiakan umurnya untuk menjauhi ilmu, atau mengejar ilmu yang tidak bermanfaat, atau salah niat dalam meraih ilmu. Sebab, akibatnya sangat fatal. Ia tidak akan pernah mengenal Allah, tidak akan pernah meraih kebahagiaan sejati. Sebab, dengan mengenal dan berzikir kepada Allah, maka hati akan menjadi tenang.
Maka, belajarlah ilmu yang benar! Belajarlah dengan niat yang benar! Jadilah manusia yang adil dan beradab! Ingatlah, nasihat Luqmanul Hakim kepada anaknya:”Wahai anakku, janganlah kamu menserikatkan Allah, sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar.” (QS 31:13)
03 May 2010

“Ta’dib”, Konsep Ideal Pendidikan Islam


“Ta’dib”, Konsep Ideal Pendidikan Islam
Posted by PuJa on May 30, 2012
Amin Hasan *
http://www.hidayatullah.com/

AWAL pendidikan Islam bermula dari tempat yang sangat sederhana, yaitu serambi masjid yang disebut al-Suffah. Namun, walaupun hanya dari serambi masjid, tetapi mampu menghasilkan ilmu-ilmu keislaman yang bisa dirasakan sampai dengan sekarang. Tidak hanya itu, dari serambi masjid ini pula mampu mencetak ulama-ulama yang sangat dalam keilmuannya dimana pengaruhnya sangat besar sekali bagi peradaban Islam, bahkan juga mampu mempengaruhi peradaban-peradaban lain. Sudah barang tentu, “pendidikan” menjadi syarat utama dalam membangun sebuah peradaban yang besar. Oleh sebab itu, pendidikan merupakan tema yang tidak pernah sepi dan selalu manarik perhatian banyak kalangan. Sehingga,tarik-ulur konsep yang ideal pun selalu mewarnai dalam sejarah perjalanan pendidikan. Begitu pun yang terjadi dalam dunia Islam.
Namun, sungguh disayangkan bahwa dalam perkembangannya, kondisi sebagaimana diawal pendidikan Islam terdahulu sudah kurang terasa lagi dari institusi pendidikan Islam yang ada sekarang. Sebagaimana sebuah obor, maka obor tersebut sudah hampir padam. Agar obor tersebut tidak padam dan terus menyala, maka pendidikan Islam seperti yang telah diwariskan oleh ulama-ulama terdahulu harus dihidupkan kembali. Di sinilah tulisan ini hadir untuk mengeksplor konsep pendidikan Islam yang akan dikhususkan pada konsep ta’dib yang ditawarkan oleh Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas.
Ada tiga istilah yang umum digunakan dalam pendidikan Islam yaitu at-tarbiyah, al-ta’lim dan at-ta’dib. Umumnya, istilah pendikan Islam banyak menggunakan at Tarbiyah. Padahal menurut Naquib Al Attas, pengertian ta’dib lebih tepat dipakai untuk pendidikan Islam daripada ta’lim atau tarbiyah.
Ta’dib merupakan mashdar dari addaba yang secara konsisten bermakna mendidik. Ada tiga derivasi dari kata addaba, yakni adiib, ta’dib, muaddib. Seorang guru yang mengajarkan etika dan kepribadian disebut juga mu’addib. Setidaknya. Seorang pendidik (muaddib), adalah orang yang mengajarkan etika, kesopanan, pengembangan diri atau suatu ilmu agar anak didiknya terhindar dari kesalahan ilmu, menjadi manusia yang sempurna (insan kamil) sebagaimana dicontohkan dalam pribadi Rasulullah SAW. Cara mendidiknya perlu dengan menggunakan cara-cara yang benar sesuai kaidah. Karena itu ta’dib berbeda dengan mengajarkan biasa sebagai mana umumnya mengajarkan siswa di sekolah yang hanya dominan mengejar akademis dan nilai.
Istilah ini menjadi penting untuk meluruskan kembali identitas dari konsep-konsep pendidikan Islam yang secara langsung maupun tidak langsung telah terhegemoni oleh pendidikan negara-negara sekuler.
Mengembalikan prioritas utama pendidikan Islam
Al-Qur’an dan al-Sunnah merupakan asas dalam pendidikan Islam. Sehingga, bisa dipahami bahwa tujuan dari pendidikan Islam adalah untuk mentauhidkan diri kepada Allah. Artinya, mentauhidkan diri kepada Allah adalah prioritas utama dalam pendidikan Islam selain dari tujuan keilmuan (IPTEK, keahlian, keterampilan dan profesionalisme), membentuk manusia untuk menjadi khalifah, pembentukan akhlak yang mulia, membentuk insan Islami bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat, serta mempersiapkan manusia bagi kehidupan di dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, arah dan tujuan, muatan materi, metode, dan evaluasi peserta didik dan guru harus disusun sedemikan rupa agar tidak menyimpang dari landasan akidah Islam.
Bertauhid kepada Allah sebagai prioritas utama dalam pendidikan Islam secara tidak langsung juga berarti pendidikan Islam juga bertujuan mencari keridhaan-Nya.
Artinya, peningkatan individu-individu yang kuat pada setiap peserta didik diperoleh melalui ridha Allah. Jadi tidak benar jika dalam pendidikan individu peserta didik diletakkan pada posisi kedua setelah kebutuhan sosial-politik masyarakat. Al-Attas menjelaskan, bahwa penekanan terhadap individu bukan hanya sesuatu yang prinsipil, melainkan juga strategi yang jitu pada masa sekarang. (baca Aims and Objevtives) Di sinilah letak keunikan dari pendidikan Islam yang tidak dimiliki oleh sistem pendidikan selain Islam, dimana pendidikan yang dilakukan berpusat pada pencarian ridha Allah melalui peningkatan kualitas individu.
Bisa dibayangkan betapa bahayanya jika pendidikan dilihat sebagai ladang investasi baik dalam kehidupan sosial masyarakat maupun negara. Sudah bisa dipastikan bahwa dunia pendidikan akan melahirkan patologi psiko-sosial, terutama dikalangan peserta didik dan orang tua, yang terkenal dengan sebutan “penyakit diploma” (diploma disease), yaitu usaha dalam meraih suatu gelar pendidikan bukan karena kepentingan pendidikan itu sendiri, melainkan karena nilai-nilai ekonomi dan sosial. (baca Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas).
Hal tersebut, Al-Attas melanjutkan dalam karnyanya yang lain, dikarenakan pendidikan menurut Islam adalah untuk menciptakan manusia yang baik, bukan untuk menghasilkan warga negara dan pekerja yang baik. Hal ini sangat ditentukan oleh tujuan mencari ilmu itu sendiri. Sebab semua ilmu datang dari Allah Swt, maka ilmu merangkumi iman dan kepercayaan.
Dalam maksud yang sama bahwa ilmu tidak bebas nilai. Oleh karena itu, Al-Attas menegaskan bahwa tujuan menuntut ilmu adalah penanaman kebaikan atau keadilan dalam diri manusia sebagai manusia dan diri-pribadi, dan bukannya sekadar manusia sebagai warga negara atau bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat. Inilah nilai manusia sebagai manusia sejati, sebagai penduduk dalam kota-dirinya (self’s city), sebagai warga negara dalam kerajaan mikrokosmiknya sendiri, sebagai ruh. Inilah yang perlu ditekankan, manusia bukan sekadar suatu diri jasmani yang nilainya diukur dalam pengertian pragmatis atau utilitarian yang melihat kegunaannya bagi negara, masyarakat dan dunia. (baca: Islam and Secularism).
Dalam semangat yang sama, Muhammad ‘Abduh juga mengkritik dengan tajam pragmatisme yang terjadi dalam pendidikan yang secara khusus ia tujukan pada sistem pendidikan Mesir. Inti dari semuanya adalah bahwa prioritas utama dalam pendidikan Islam adalah membentuk orang menjadi terpelajar.
Menurut Al-Attas, orang terpelajar adalah orang “baik”. Pertanyaannya kemudian, apakah sesederhana itu pendidikan Islam? Apakah pendidikan Islam hanya membentuk orang hanya sekadar menjadi “baik”? Apa sebenarnya “baik” yang dimaksud Al-Attas di atas?
Konsep Ideal
Konsep Ideal pendidikan Islam secara sistematis telah disampaikan Al-Attas dalam sebuah Konferensi Dunia Pertama mengenai Pendidikan Islam di Makkah pada awal tahun 1977. Pada Konferensi tersebut, Al-Attas menjadi salah seorang pembicara utama dan mengetuai komite yang membahas cita-cita dan tujuan pendidikan.
Dalam kesempatan ini, Al-Attas mengajukan agar definisi pendidikan Islam diganti menjadi penanaman adab dan istilah pendidikan Islam menjadi ta’dib. Konsep ta’dib ini disampaikan kembali oleh Al-Attas pada Konferensi Dunia Kedua mengenai Pendidikan Islam yang diselenggarakan di Islamabad, pada 1980.
Sebenarnya apa yang menjadi alasan Al-Attas terus-menerus memperjuangkan konsep ta’dib sebagai pengganti dari Pendidikan Islam? Itu tidak lain, karena menurut Al-Attas, jika benar-benar dipahami dan dijelaskan dengan baik, konsep ta’dib adalah konsep yang paling tepat untuk pendidikan Islam, bukannya tarbiyah ataupun ta’lim. Sebab, Al-Attas melanjutkan, bahwa struktur kata ta’dib sudah mencakup unsur-unsur ilmu (‘ilm), instruksi (ta’lim), dan pembinaan yang baik (tarbiyah). Sehingga tidak perlu lagi dikatakan bahwa konsep pendidikan Islam adalah sebagaimana terdapat dalam tiga serangkai konsep tarbiyah-ta’lim-ta’dib. (baca The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education).
Masih dalam karya yang sama, Al-Attas juga menegaskan bahwa istilah “pendidikan” yang digunakan sekarang ini, secara normal, bersifat fisik dan material serta berwatak kuantitatif. Hal tersebut lebih disebabkan oleh konsep bawaan yang termuat dalam istilah tersebut berhubungan dengan pertumbuhan dan kematangan material dan fisik saja. Esensi sejati proses pendidikan telah diatur menuju pencapaian tujuan yang berhubungan dengan intelek atau ‘aql yang ada hanya pada diri manusia.
Dari sinilah kemudian, dengan konsep ta’dib-nya, Al-Attas menjelaskan bahwa orang terpelajar adalah orang baik. “Baik” yang dimaksudkan di sini adalah adab dalam pengertian yang menyeluruh, “yang meliputi kehidupan spiritual dan material seseorang, yang berusaha menanamkan kualitas kebaikan yang diterimanya.” Oleh karena itu, orang yang benar-benar terpelajar menurut perspektif Islam didefinisikan Al-Attas sebagai orang yang beradab. (baca: Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas).
Oleh sebab itu, pendidikan, menurut Al-Attas adalah “penyemaian dan penanaman adab dalam diri seseorang—ini disebut dengan ta’dib.” (baca: Aims and Objectives). Sebagaimana al-Qur’an menegaskan bahwa contoh ideal bagi orang yang beradab adalan Nabi Muhammad Saw., yang oleh kebanyakan sarjana Muslim disebut sebagai Manusia Sempurna atau Manusia Universal (al-insan al-kulliyy). Perkataan adab sendiri memiliki arti yang sangat luas dan mendalam. Selain itu, Al-Attas melanjutkan, ide yang dikandung dalam perkataan ini sudah diislamisasikan dari konteks yang dikenal pada masa sebelum Islam dengan cara menambah elemen-elemen spiritual dan intelektual pada dataran semantiknya.
Maka, berdasarkan arti perkataan adab yang telah diislamisasikan itu dan berangkat dari analisis semantisnya, Al-Attas mengajukan definisinya mengenai adab:
Adab adalah pengenalan dan pengakuan terhadap realitas bahwasanya ilmu dan segala sesuatu yang ada terdiri dari hierarki yang sesuai dengan kategori-kategori dan tingkatan-tingkatannya, dan bahwa seseorang itu memiliki tempatnya masing-masing dalam kaitannya dengan realitas, kapasitas, potensi fisik, intelektual, dan spiritualnya. (baca: The Semantics of Adab)
Al-Attas, sekali lagi menegaskan bahwa pendidikan sebagai penanaman adab ke dalam diri, sebuah proses yang sebenarnya tidak dapat diperoleh melalui suatu metode khusus. Dalam proses pembelajaran, siswa akan mendemonstrasikan tingkat pemahaman terhadap materi secara berbeda-beda, atau lebih tepatnya pemahaman terhadap makna pembelajaran itu. Hal ini karena ‘ilm dan hikmah yang merupakan dua komponen utama dalam konsepsi adab benar-benar merupakan anugerah Allah Swt. (baca: Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, Syed M. Naquib Al-Attas).
Tegasnya, bahwa adab mensyaratkan ilmu pengetahuan dan metode mengetahui yang benar. Dari sinilah kemudian, pendidikan Islam memainkan peranannya serta tanggung jawabnya di dunia dan tujuan akhirnya di akhirat. Dari sini tampak sangat jelas dalam mata hati kita bahwa kebenaran metafisis sentralitas Tuhan sebagai Realitas Tertinggi sepenuhnya selaras dengan tujuan dan makna adab dan pendidikan sebagai ta’dib. Dari sinilah kemudian, menurut Al-Attas, konsep ideal pendidikan Islam adalah ta’dib.
Epilog
Alhasil, mentauhidkan diri kepada Allah adalah prioritas utama dalam pendidikan Islam. Hal tersebut tidak lain diperoleh melalui ridha Allah. Dengan mengajukan konsep ta’dib sebagai pengganti dari pendidikan Islam diharapkan agar peserta didik tidak hanya memperoleh intelek dan ‘aql saja. Tetapi lebih dari itu semua, yaitu peserta didik benar-benar mampu menjadi orang yang terpejalar, dan orang yang beradab.
*) Penulis adalah Mahasiswa pada Program Pasca Sarjana di Universitas Darussalam Gontor Ponorogo Fakultas Ushuluddin, Jurusan Ilmu Akidah. /17 Juni 2011

SUMBANGAN ACEH BAGI BAHASA MELAYU DAN INDONESIA *


SUMBANGAN ACEH BAGI BAHASA MELAYU DAN INDONESIA *
Posted by PuJa on May 31, 2012
T.A. Sakti **
Serambi Indonesia, 21 Agu 2008

Bahasa Melayu merupakan akar utama dari bahasa Indonesia. Sepanjang sejarah perkembangannya, bahasa diperkaya sehingga ia semakin mantap berperan di seluruh Nusantara, Bahasa Melayu masih dapat dilacak jejaknya mulai abad ke-7 masa kerajaan Sriwijaya berupa prasasti-prasasti yang menggunakan bahasa Melayu kuno, seperti prasasti Kedukan Bukit (tahun 683 M), Talang Tuo (tahun 684), dan lain-lain.
Seiring dengan timbul-tenggelamnya kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara dan datangnya penjajahan asing; bahasa Melayu pun mendapat predikat yang berbeda-beda dalam perkembangannya; seperti bahasa Melayu Pasai, bahasa Melayu Melaka, bahasa Melayu Johor, bahasa Melayu Riau, bahasa Melayu Balai Pustaka, dan bahasa Nasional Indonesia.
Bahasa Melayu Pasai berkembang pada masa Kerajaan Samudera Pasai (1250-1524M). Kerajaan ini amat berperan dalam penyebaran agama Islam ke berbagai wilayah di Asia Tenggara seperti Melaka dan Jawa. Bersamaan dengan berkembangnya agama Islam itu tersebar pula bahasa Melayu Pasai di daerah wilayah tersebut melalui kitab-kitab pelajaran agama Islam yang menggunakan bahasa Melayu Pasai sebagai pengantarnya.
Kerajaan Samudera Pasai berhubungan akrab dengan Kerajaan Melaka. Perkawinan antara Sultan Melaka Iskandar Syah dengan putri Sultan Zainal Abidin dari Samudera Pasai semakin mempererat hubungan kedua Negara itu. Sultan Samudera juga telah mengutus dua orang ulama ke pulau Jawa untuk mengembangkan agama Islam. Berkat dakwah Islam yang dilakukan oleh Maulana Ishak-lah, maka agama Islam berkembang di Gresik, dan seterusnya menyebar ke seluruh pulau Jawa. Karena berperan sebagai pendakwah pertama itulah sehingga Maulana Ishak bergelar Syekh Awwalul Islam.
Sebutan istilah “bahasa Melayu” merupakan kebiasaan baru di abad ke-18. Pada abad keenam belas dan tujuh belas penyebutan bahasa Melayu dengan menggunakan istilah “bahasa Jawi”, karena bahasa itu ditulis dalam huruf jawi, yakni huruf yang telah disesuaikan dengan ucapan lidah masyarakat Nusantara. Sementara “Jawi” ialah sebutan orang-orang Arab di masa itu untuk negeri-negeri di wilayah Nusantara – Asia Tenggara.
Hikayat Raja-raja Pasai yang ditulis dengan bahasa Jawi atau bahasa Melayu Pasai merupakan bukti amat kuat untuk mengenal bentuk asli bahasa Jawi Pasai itu. Namun, naskah satu-satunya dari Hikayat Raja-raja Pasai yang terwariskan kepada kita hari ini bukanlah dijumpai di Aceh, melainkan di pulau Jawa. Naskah itu kepunyaan Kiai Suradimenggala, Bupati Sepuh di Demak, daerah Bogor yang selesai disalin tahun 1235 H atau 1819 M.
Keberadaan naskah satu-satunya Hikayat Raja-raja Pasai di pulau Jawa merupakan salah satu bukti pula, bahwa masyarakat Jawa masa itu telah mengenal bahasa Melayu Pasai dengan baik, sehingga mereka dapat menikmati kisah-kisah dalam Hikayat Raja-raja Pasai itu.
Menurut Dr. Muhammad Gade Ismail dalam satu tulisannya mengatakan, adanya hubungan antara Kerajaan Samudera-Pasai dengan wilayah-wilayah lain di Nusantara seperti pulau Jawa, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Lombok dan Sumbawa dapat ditelusuri dengan adanya kesenian batu nisan yang terdapat di Pasai dengan daerah-daerah tersebut di atas. Melalui perhubungan antara berbagai wilayah itulah bahasa Melayu Pasai secara perlahan-lahan berkembang menjadi “bahasa lingua franca” atau bahasa ilmu dan perdagangan.
Bahasa Jawi atau bahasa Melayu Pasai juga menjadi salah satu bahasa resmi Kerajaan Aceh Darussalam. Hal ini antara lain dapat dibuktikan melalui pengantar Kitab Miraatut Thullab karya Syekh Abdurrauf Syiah Kuala. Tentang hal ini Syekh Abdurrauf berkata: “Maka bahwa sanya adalah hadlarat yang Mahamulia (Paduka Sri Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah) itu telah bersabda kepadaku daripada sangat lebai akan agama Rasulullah, bahwa kukarang baginya sebuah kitab dengan bahasa Jawi yang dibangsakan kepada bahasa Pasai yang muhtaj (diperlukan) kepadanya orang yang menjabat jabatan qadli pada pekerjaan hukum daripada segala hukum syarak Allah yang muktamad pada segala ulama yang dibangsakan kepada Imam Syafi’i radliallahu ‘anhu”.
Dalam masa kejayaan kerajaan Aceh Darussalam, wilayah ini banyak melahirkan ulama dan pengarang yang sebagian karya-karya mereka masih ditemui hingga hari ini. Namun, ada empat ulama-pujangga yang paling terkenal yaitu Hamzah Fansuri, Syamsuddin Assumatrani, Nuruddin Ar-Raninry dan Abdurrauf As-Singkili. Diantara karangan Hamzah Fansuri ialah: Syair Burung Pingai, Syair Burung Pungguk, Syair Perahu, dan Syair Dagang. Sementara karya yang berbentuk prosa antara lain Asrarul Arifin.
Tokoh ulama dan ilmuan lainnya yang amat terkenal adalah Nurudin Ar-Raniry meski hanya menetap selama tujuh tahun (1047 H/1637 M – 1054 H/1644 M), peranan syekh Nuruddin Ar-Raniry di Aceh cukup besar, ia menulis 29 kitab dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Karya-karyanya antara lain Bustanus Salatin, Sirathal Mustaqim, Hidayatul Habib, Khaifiatus salat, Babul Nikah, yang terakhir ini, bersama kitab Sirathal Mustaqim dikirimkan sendiri oleh Ar-raniry ke Kedah (sekarang di Malaysia) pada akhir tahun 1050 H/1640 M. diantara murid Nuruddin Ar-Raniry yang kemudian paling menonjol di Nusantara adalah Syekh Yusuf Al-Maqassari, seorang ulama besar Sulawesi Selatan, yang juga berperan di Banten (Jawa) dan Afrika Selatan.
Tentang peranan Nuruddin Ar-Raniri dalam mengembangkan bahasa Melayu, Dr. Azyumardi Azra menulis sebagai berikut : “Tidak kalah penting adalah peranan Nuruddin Ar-Raniri dalam mendorong lebih jauh perkembangan bahasa Melayu sebagai Lingua Franca di wilayah melayu Indonesia. Dia bahkan diklaim sebagai salah seorang pujangga Melayu pertama. Meski bahasa ibu Ar-Raniri bukanlah Melayu, penguasaannya atas bahasa ini tidak perlu diperdebatkan lagi. Seorang ahli bahasa Melayu –Indonesia menyatakan, bahasa Melayu Klasik al-Raniri tidak menunjukkan kekakuan yang sering terlihat dalam bahasa Melayu praklasik. Dengan demikian karya-karya Ar-Raniri dalam bahasa Melayu juga dianggap sebagai karya-karya sastra dan, sebab itu, memberikan sumbangan besar terhadap perkembangan bahasa Melayu sebagai bahasa ilmu pengetahuan.
Perkembangan bahasa Melayu Jawi sejak Kerajaan Samudera Pasai sampai saat berdiri negara Nasional Republik Indonesia tentu telah melewati waktu yang berabad-abad lamanya. Dr. Teuku Iskandar mengatakan :”Kesusteraan Melayu yang dimulai di Kerajaan Pasai dan dilanjutkan di Kerajaan Aceh berkembang selama lebih dari enam ratus lima puluh tahun, dan berpengaruh sampai sekarang.
Dalam hal itu, Syed Muhammad Naquib al-Attas antara lain mengatakan, bahwa pengaruh jejak ke penyairan Hamzah Fansuri terus berlanjut hingga abad ke-20. Kesimpulan itu diakui oleh seorang ahli tentang Hamzah Fansuri (Hamzah Fansurilog), yakni Abdul Hadi W.M. ia berpendapat, pengaruh Hamzah Fansuri terlihat pada beberapa karya penyair “Pujangga Baru” seperti Sanusi Pane dan Amir Hamzah. Bagi Sanusi Pane pengaruh itu nampak pada sajaknya “Dibawa Gelombang”, sedangkan untuk Amir Hamzah terlihat dalam sajak yang berjudul “Sebab Dikau”.
Selain Sanusi Pane dan Amir Hamzah, masih banyak pula para penyair “Angkatan Pujangga Baru” yang terpengaruh dengan sastra sufi yang bersumber dari aliran Tasawul Hamzah Fansuri, diantara mereka adalah Hamka, Ali Hasjmy, Asmara Hadi, OE Mandank, Yoesoef Sou’yb dan Sutan Takdir Alisjahbana. Dalam kajian Abdul Hadi W.M lainnya pada periode 1970-an juga didapati, bahwa aliran tasawuf Hamzah Fansuri terus berpengaruh kepada beberapa penyair masa itu, bahkan hingga masa kini, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, Acep Zamzami Noor dan Ahmadun Y Herfanda.
**) Penulis adalah budayawan dan peminat Sastra Melayu dan Indonesia, tinggal di Banda Aceh.
*) Artikel ini saya tulis dalam rangka menyambut “Pekan Peradaban Melayu Raya, Banda Aceh, 20 – 25 Agustus 2008.
Dijumput dari: http://tambeh.wordpress.com/2012/04/14/sumbangan-aceh-bagi-bahasa-melayu-dan-bahasa-nasional-indonesia/

Media Katarsis, Manfaat Pendekatan Resepsi Sastra


Media Katarsis, Manfaat Pendekatan Resepsi Sastra
Posted by PuJa on May 30, 2012
Wemmy Alfadhli
http://www.kompasiana.com/wem

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil menyantap makanan yang lezat-lezat, sambil seluruh anggota keluarganya melahap sepuas-puasnya semua hidangan yang serba nikmat, sang koruptor berbicara panjang lebar tentang perbuatan korupsi yang dilakukannya; yang bagaimanapun itu demi kesejahteraan dan kemakmuran keluarga. Yang bagaimanapun untuk itu ia bersedia menanggung semua dosanya. Demi modal hidup baik-baik anak cucunya kelak. Sementara acara makan-makan yang serba lezat terus berlangsung dengan sangat nikmat. Tulang belulang segala macam daging berserakan di piring-piring. Sehabis itu giliran puding, karamel, dan berbagai rupa pencuci mulut meluncur ke meja makan. Sementara di luar hujan turun dengan derasnya. Dari Aceh hingga Jakarta.
Di Aceh, di tengah-tengah derasnya hujan, di antara suara guntur dan halilintar yang bersambung-sambungan, orang-orang sedang bekerja keras membongkar sebuah kuburan massal yang baru ditemukan. Satu per satu tengkorak-tengkorak dan tulang belulang tersebut diangkat ke permukaan. Pada waktu yang sama, di Jakarta, sang koruptor dengan sangat nikmat sedang menyedot otak gulai kepala ikan bumbu aceh. Sedotannya bagai sedotan kilang-kilang minyak di tengah lautan yang bergelora.
Cuplikan pada para paragraf di atas saya ambil dari sebuah cerpen karangan sastrawartawan Seno Gumiro Ajidarmo berjudul Telepon Dari Aceh. Sungguh teramat memikat gaya ironik yang dihadirkan Seno pada cerpen yang pernah dimuat dalam buku kumpulan cerpen terbaik KOMPAS tahun 2000 ini. Dengan mengontraskan secara paralel suasana acara bersantap dengan hidangan serba nikmat yang terjadi di Jakarta–di rumah sang koruptor–dengan kejadian pembongkaran kuburan–bisa kita tafsirkan sebagai korban DOM–di Aceh, cerita ini telah berhasil menghadirkan kesan miris pada pembacanya. Paling eksplisit bisa kita lihat pada korelasi oposisional yang mungkin timbul antara tulang belulang segala macam daging santapan keluarga sang koruptor tersebut dengan tulang belulang mayat-mayat yang ditemukan di Aceh. Seno tepat sekali sama-sama menggunakan pilihan kata tulang belulang bagi kedua hal yang sebetulnya berbeda tersebut. Apabila hal ini kita hubungkan dengan pemaknaan yang bisa hadir bahwa sang koruptor Orde Baru tersebut adalah simbol dari Jakarta atau Pemerintah Pusat yang dianggap menindas daerah–dalam hal ini rakyat Aceh–maka bisa saja timbul metafor yang sangat sadistik di benak pembaca: sang koruptor dan keluarganya tersebut sebetulnya sedang menikmati tulang belulang korban DOM di Aceh dengan sangat nikmatnya dan tanpa rasa bersalah.
Banyak sekali fakta-fakta tekstual dalam cerpen ini yang bisa lebih dikupas lagi untuk menunjukkan kesan ironistiknya; yang akan mengakibatkan sentuhan estetik pada sisi emosi pembaca. Daya sentuh terhadap emosi pembaca inilah yang diharapkan akhirnya berujung pada efek katarsis pada setiap pembacanya. Sebuah pencerahan yang didapatkan setelah melewati tahapan kemuakan terhadap apa yang terjadi. Tentang bagaimana efek katarsis bekerja dalam “dunia sastra”, Profesor Budi Darma pernah memberi contoh pada peristiwa “banjir darah” dalam pertunjukkan sebuah drama tragedi. Pertunjukan tersebut pada akhirnya “mendidik” penonton agar tidak melakukan hal apa-apa yang baru saja mereka saksikan di atas panggung.
Pada sekira akhir tahun 70-an model pendekatan dalam kritik sastra ikut diramaikan oleh teori estetika resepsi; atau dalam posisinya di antara berbagai macam pendekatan lain dalam analisis teks sastra lebih umum dikenal dengan istilah resepsi sastra. Ada dua tokoh yang pertama kali secara sistematis dan metodologik merumuskan model pendekatan ini, yakni Jauss dan Iser; keduanya dari Jerman. Setelah tulisan-tulisan mereka dikenal oleh dunia, mulailah terlihat bagaimana model analisis teks dan teori-teori sastra mendapatkan kesegaran dan sudut pandang baru. Pengaruh paling radikal setidaknya terlihat pada sebuah buku yang berjudul Kritik Sastra Subjektif (David Bleich) yang dikomentari Selden sebagai sebuah argumen canggih; yang setuju pergeseran paradigma kritik sastra objektif ke kritik yang bersifat subjektif. Apalagi jika hendak dibicarakan bagaimana pengaruhnya pada aliran dekonstruksionisme yang sedang hangat-hangatnya disoroti pada zaman paskamodernisme ini.
Poin paling penting dalam pendekatan resepsi sastra adalah bagaimana peran (setiap) pembaca–dengan segala persamaan dan perbedaan tipikalnya–dalam menafsirkan teks (sastra) mulai diperhitungkan. Antara Jauss dan Iser sebetulnya terdapat perbedaan konsepsi tentang analisis resepsi ini. Jauss lebih membicarakan tentang penerimaan aktif–pembacaan yang diikuti oleh penciptaan karya baru oleh pembaca tersebut–sehingga membentuk garis kesinambungan sejarah penerimaan; lebih jauh tentang ini bisa dilihat pertemuannya dengan pendekatan dan teori intertekstualitas. Sedang Iser lebih menekankan model analisisnya pada kemampuan atau cara teks (dan penulis) mempengaruhi (penafsiran) pembaca; atau dirumuskan oleh Iser dengan konsep tentang efek (wirkung, dalam bahasa Jerman). Sebab pembicaraan tentang pembaca (yang mahaluas) inilah barangkali yang mengakibatkan kemandegan usaha pengembangan model pendekatan ini. Sesuatu yang cukup “beresiko”, untuk menjelaskan (secara ilmiah) sebuah objek yang sangat besar macam variabelnya, dan tambah pula, sangat tinggi tingkat mobilitasnya. Objek tersebut iaitu manusia; yang hidup, berpikir, mempengaruhi, dan dipengaruhi. Upaya generalisasi sepertinya juga sulit untuk diterapkan. Berbeda dengan kajian-kajian sosial lainnya, kajian sastra memiliki tuntutan tersendiri yang berupa “penghargaan besar” terhadap “segala keunikan satuan estetiknya”.
Jauss sebetulnya juga telah berusaha menghindari kesemerawutan identifikasi pembaca tersebut dengan memfokuskan penelitiannya pada penerimaan yang bersifat aktif–sehingga ada pembuktian secara interteks. Begitupun Iser, ia mengemukakan klasifikasi tentang pembaca dengan membedakan antara pembaca sebenarnya (real reader) dengan pembaca yang disarankan oleh teks (implied reader). Yang terakhir ini dapat kita temui pada pembaca ahli–yang bagaimanapun dengan segala keterbatasannya pula–sebab seorang ahli melakukan penafsiran teks telah dibekali oleh seperangkat alat analisis; tidak sekedar sudut pandang impresi dan latar belakang subjeksinya. Sehingga dengan itu diharapkan sudut pandang yang dihadirkan oleh teks–barangkali untuk kali ini perlu dipisahkan dari “niat semula” pengarangnya–dapat ditangkap dengan sebaik-baiknya.
Dengan sangat terbatas, apa yang dilakukan Iser tersebutlah yang coba saya terapkan pada cerpen di atas. Sehingga saya berani mengambil kesimpulan tentang efek katarsis (pencerahan) yang mungkin dihadirkan oleh teks cerpen tersebut pada pembaca; dengan penyesuaian pada segala variabel pembaca untuk menentukan intensitas pengaruh teks tersebut. Ada benarnya, dalam analisis sudut pandang atau skema yang dihadirkan oleh teks cerpen tersebut perlu dilakukan sebuah kajian semiotik; sebab upaya pengorelasiannya terhadap referensi peristiwa dan hal-hal real di luar teks juga secara terbatas memasuki lingkup kajian sosiologi sastra. Namun, seperti yang dikatakan oleh Dr. Faruk (UGM) bahwa resepsi sastra adalah bagian dari teori semiotik, saya kira semiotik pun adalah hanya salah satu pendekatan “tambahan” yang dibutuhkan dalam rangka analisis estetika resepsi yang menekankan efek karya (baca: cara karya yang memproduksi efek) ini.
Saya melihat masih banyak karya-karya sastra lain–yang secara feeling dianggap menyentuh emosi dan kesadaran seorang pembaca–bisa digarap dengan teori wirkung-nya Iser ini. Salah satunya–yang saat menulis ini tiba-tiba terlintas di kepala saya–adalah naskah drama Orang Malam karangan Soni FM. Menarik jika kita menyimak sudut pandang dalam pengangkatan sebuah tema pada drama itu dibandingkan dengan kecenderungan tematik karya-karya sastra dalam sebuah rubrik mingguan yang diasuh Soni. Apalagi jika hendak dihubungkan dengan latar sosiologisnya. Dan lebih apalagi lagi, jika dihubung-hubungkan dengan niat membentuk watak kebudayaan masyarakat sebagai upaya pembuktian bahwa karya sastra berperan dalam membentuk nilai-nilai pada masyarakatnya. Perlu saya tambahkan di sini bahwa ada sebuah buku menarik, karangan George W. Burns, yang memperlihatkan bagaimana cerita (metafora) bisa dimanfaatkan sebagai sarana psikotherapi (terapi psikis). Bahkan, seperti yang pernah dilansir Subagyo Sastrowardoyo, di Amerika sana telah ada yang dinamakan Psikopoetry sebagai sebuah alternatif terapi kejiwaan.
Barangkali ini memang upaya yang mulai bergerak ke arah pragmatisme; ke pemikiran yang mulai membicarakan peran sastrawan dan karya sastra di tengah-tengah masyarakatnya. Tetapi apa salahnya kukira. Kita bisa melihat betapa keringnya teks-teks sastra maupun analisis-analisis teks sastra yang tidak memiliki wawasan di luar “sastra untuk sastra”. Apalagi dalam analisis wacana teks media–yang tak seprismatik teks sastra–juga telah berkembang analisis yang mulai memperhitungkan peran penafsiran pembaca; meninggalkan kekakuan tradisi analisis formalistik dan positivistik. Contohnya adalah upaya pengklasifikasian unsur analisis teks media oleh Sara Mills yang dikenal dengan kritik feminisnya. Apa yang coba saya lakukan pada cerpen Seno tadi masih sangat awal dari upaya “ambisius” pendekatan resepsi sastra; masih tidak terlalu memperhitungkan tingkat variasi pembaca. Dan tulisan saya kali ini pun sangat bertendenz untuk memancing tanggapan reseptik berikutnya. Walau begitu, walau dengan baru “dikit-dikit” kenal semantik dan semiotika, saya memberanikan diri sedikit berbeda pendapat dengan GM–dalam kata pengantarnya pada halaman depan buku KOMPAS ini–tentang efek horor karya Seno tersebut. Bukankah kita sama-sama pembaca, sekaligus merupakan pembaca yang berbeda, Pak Goen?
Dijumput dari: http://sosbud.kompasiana.com/2010/03/08/media-katarsis-manfaat-pendekatan-resepsi-sastra/

Mengungkap Makna Ta’dib al-Attas bagi Pendidikan


Mengungkap Makna Ta’dib al-Attas bagi Pendidikan
Posted by PuJa on May 30, 2012
Yudhi Fachrudin
http://www.kompasiana.com/peradaban

Pendidikan menjadi benteng harapan terakhir dalam mengatasi solusi permasalahan-permasalahan bangsa ini. Di sisi lain, begitu kompleknya permasalahan-permasalah yang terjadi pada lingkungan sosial kerap memasuki dunia pendidikan. Ketimpangan sosial, berlakunya budaya kekerasan, sifat-sifat individualis, hedonis matrealis serta perilaku-perilaku penyimpangan lainnya yang terjadi di lingkungan sosial masyarakat turut serta mempengaruhi dunia pendidikan. Pilihan antara terlebih dahulu memperbaiki dunia pendidikan agar hadir menjadi solusi bagi masyarakatnya atau memperbaiki lingkungan sosial agar tidak menjadi “virus” bagi pendidikan.
Pendidikan menjadi kian urgen karena berurusan langsung dengan manusia. Manusialah yang berkepentingan mulai dari input, proses sampai output pendidikannya. Manusia menjadi nilai, nilai-nilai kemanusiaan yang berlaku universal tanpa terikat perbedaan bangsa, bahasa, agama untuk mencipta pendidikan berlandaskan manusia. Pendidikan yang memanusiakan. Sekolahnya manusia. Kearah sana manusia berupaya lewat pendidikannya mencipta pemahaman baru yang lebih manusiawi. Sebuah pemahaman akan pendidikan yang mampu menghadirkan manusia-manusia yang baik.
Permasalahan-permasalahan yang terjadi sekarang bisa jadi karena pemahaman yang kurang akan pemahaman arti dan makna dari pendidikan itu sendiri. Kekerasan dalam pendidikan, tawuran antar pelajar, bisa jadi manusia produk mesin yang dapat diperjual belikan. Mengungkap makna pendidikan. Upaya pemahaman pendidikan yang lebih memanusiakan mengharuskan pengerahan segala potensi, akal, pikiran, pengamatan, pengalaman serta penelitian yang teruji sehingga dari sana timbul sebuah makna dan pemahaman yang dapat menjadi inspirasi dan motivasi baru untuk bisa lebih proporsional, objektif, serta ilmiah dalam mencermati dan melakukan perilaku-perilaku yang mencerminkan makna pendidikan yang dikehendaki. Upaya pemahaman tentang pendidikan telah melewati catatan sejarah yang panjang. Berbagai teori pendidikan muncul antara pandangan idealism dan realism, antara keturunan hereditas dan lingkungan, antara tabularasa dan pengalaman. Tak pelak lagi pemahaman makna pendidikan dapat merujuk ranah agama. Terlebih Islam sebagai worldview, keuniversalitas ajarannya solusi bagi manusia guna mewujudkan kehidupan bahagia dunia dan akhirat. Banyak para cendekiawan muslim merumuskan konsep pendidikan Islam.
Dalam Islam, istilah pendidikan sering digunakan Tarbiyah dan Ta’lim. Perguruan tinggi Islam yang membuka jurusan keguruan, familiarnya dengan Fakultas Tarbiyah. Penggunaan istilah Tarbiyah dan Ta’lim dirasa kurang mewakili makna pendidikan yang sejatinya, salah seorang ilmuan muslim Syed Naquib al-Attas lebih menyukai penggunaan Ta’dib untuk pendidikan Islam.
Menurut Syed penggunaan Ta’dib untuk pendidikan ini timbul karena dengan berbekal pemahaman yang utuh, komprehensif, tentang pendidikan. Terlebih pemahaman pendidikan yang selaras dengan Islam, dari sana segala hal yang terkait tentang pendidikan, baik Tujuan, strategi, metode dan unsur-unsur pendidikan lainnya mencerminkan pandangan pendidikan yang lebih pas dan sesuai seharusnya pendidikan. Dengan penggunaan istilah Ta’dib, Syed Naquib al-Attas berupaya merekonstruksi pemahaman pendidikan yang selama ini terabaikan.
Konsep Ta’dib Naquib al-Attas
Syed Muhammad al Naquib bin Ali bin Abdullah bin Muhsin Al Attas lahir 5 September 1931 di Bogor, Al-Attas sebagai guru besar di International Institute of Islamic Thoughts and Civilization (ISTAC) yang berbasis di Malaysia. Al-Attas salah satu tokoh agamawan yang berakar pada ilmu-ilmu Islam tradisional juga kompeten dalam teologi, filsafat, metafisika, sejarah sastra sehingga tidak ayal lagi dia telah menulis dua puluh tujuh karya otoritatif tentang berbagai aspek pemikiran Islam dan peradaban, terutama pada tasawuf, kosmologi, metafisika, filsafat dan bahasa Melayu dan sastra.
Gagasan-gagasannya tentang pendidikan Islam dapat kita baca lewat buku Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas karya Wan Mohd Nor Wan Daud. Sebuah buku tentang konsep pendidikan yang ideal. Syed al-attas menekankan Maksud dan tujuan pendidikan bahwa Negara atau pekerja yang baik dalam sebuah Negara sekuler tidak sama dengan manusia yang baik; sebaliknya manusia yang baik sudah pasti seorang pekerja dan warga Negara yang baik. Tujuan pendidikan Islam tiada lain menciptakan manusia yang baik.
Penekanan pendidikannya adalah nilai-nilai manusia sebagai manusia sejati, sebagai warga kota, sebagai warga Negara dalam kerajaannya yang mikro, dan sebagai sesuatu yang bersifat spiritual. Pendidikan bukan semata berdasarkan kegunaannya bagi masyarakat, Negara, dan dunia. Nilai manusia yang bukan sebatas entitas fisik yang diukur dalam konteks pragmatis dan utilitarian berdasarkan kegunaannya bagi Negara, masyarakat dan dunia.
Al-Attas mengatakan bahwa orang yang terpelajar adalah orang baik. Dalam artian baik yang menyeluruh, yang meliputi kehidupan spiritual dan material seseorang, yang berusaha menanamkan kualitas kebaikan yang diterimanya. Al-attas menyebut orang yang benar-benar terpelajar menurut persfektif Islam didefinisikan sebagai orang yang beradab.
Dalam uraiannya yang lebih dalam pendidikan menciptakan manusia yang beradab ada dalam pengertian yang komprehensif yang menekankan pada adab. Adab adalah cakupan suatu pengenalan dan pengakuan mengenai tempat secara benar dan tepat, dalam pencapaian kualitas, sifat-sifat, dan perilaku yang baik untuk mendisiplinkan pikiran dan jiwa.
Adab mensyaratkan ilmu pengetahuan dan metode mengetahui yang benar agar mampu menjaga mansuia dari kesalahan. Ilmunya adalah yang dapat mendorong lahirnya perilaku mulia ini adalh kebijaksanaan (hikmah) yang menghasilkan keadilan pada diri individu dan masyarakat serta Negara.
Dengan merujuk kepada sebuah hadis, “Tuhan telah mendidikku (addabini), maka sangat baiklah mutu pendidikan ku”. Addabani secara literal berarti telah menanamkan adab pada diriku. Sehingga arti hadis tersebut, “Tuhan telah mendidikku dan menjadikan pendidikanku sebaik-baik pendidikan”. Dalam artian hadis yang lebih luas lagi, “Tuhanku telah membuat aku mampu mengenal dan mengakui, dengan adab yang ditanamkan-Nya dalam diriku, tempat-tempat yang tepat bagi segala sesuatu dalam susunan penciptaan, sehingga adab tersebut membawa kepada pengenalan dan pengakuan terhadap tempat-Nya yang sebenarnya dalam susunan being dan eksistensi dan dengan ini Dia menjadikan pendidikan sesuatu yang sangat baik”.
Selanjutnya al-Attas mendefinisikan, Adab adalah pengenalan dan pengakuan terhadap realitas bahwasanya ilmu dan segala sesuatu yang ada terdiri dari hirarki yang sesuai dengan kategori-kategori dan tingkatan-tingkatannya, dan bahwa seseorang itu mempunyai tempatnya masing-masing dalam kaitannya dengan realitas tersebut dan dengan kapasitas serta potensi fisik, intelektual dan spiritual.
Al-Attas menggunakan konsep ta’dib sebagai konsep yang tepat untuk pendidikan Islam, ia lebih lanjut mengatakan, “Struktur konsep ta’dib sudah mencakup unsure-unsur ilmu (‘ilm), instruksi (ta’lim), dan pembinaan yang baik (tarbiyah), sehingga tidak perlu lagi dikatakan bahwa konsep pendidikan Islam itu adalah sebagaimana yang terdapat dalam tiga serangkai konotasi tarbiyah-ta’lim-ta’dib”.
Menurutnya terminology Ta’dib sendiri sebagai istilah pendidikan telah dipakai oleh para tokoh sufi. Para tokoh sufi yang menonjol dalam pengembangan pribadi Islam melalui pengembangan indera, akal, dan moral. Menggunakan Ta’dib dengan menekankan sebagai bagian daripada proses pendidikan, adab seorang pelajar muslim dan kelompok professional seperti hakim, jaksa, politisi, perwira militer, musikus, guru, dan pelajar menjadi kesatuan yang tak terpisahkan.
Naquib al-Attas mengatakan, setidaknya ada tujuh konsep dalam pendidikan. Pertama, konsep din (agama). Kedua, konsep insan (manusia). Ketiga, konsep ilmu dan makrifat. Keempat, konsep hikmah (kebijakan). Kelima, konsep keadilan. Keenam, konsep amal dan adab. Ketujuh, konsep kuliyyah jami’ah (perguruan tinggi).
Dalam Metodologi pendidikan menurutnya memiliki satu tujuan, yakni Islamisasi dari tubuh, pikiran dan jiwa yang berpengaruh pada kehidupan pribadi dan kolektif Muslim serta yang lain, termasuk spiritual dan lingkungan non-fisik manusia.
Al-Attas menulis dalam bukunya Risalah untuk kaum Muslimin, “Orang yang baik itu adalah orang yang menyadari sepenuhnya akan tanggung jawab dirinya kepada Tuhan yang haq, yang memahami dan menunaikan kewajiban terhadap dirinya sendiri dan orang lain yang terdapat dalam masyarakatnya, yang selalu berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kearah kesempurnaan sebagai manusia kearah kesempurnaan sebagai manusia yang beradab”.
Konsep ta’dib yang diusung oleh Naquib al-Attas ini dapat mudah kita pahami jika kita merujuk pada gagasannya secara keseluruhan. al-Attas satu diantara para cendekiawan muslim terkemuka dalam upayanya, Islamisasi ilmu pengetahuan. Baginya Islamisasi sebenarnya berangkat dari asumsi bahwa ilmu pengetahuan itu tidak bebas dari nilai atau netral, sehingga pemahama ta’dib mengajak kita memahami islamisasi ilmu pengetahuan. Al-Attas mengenalkan ta’dib ini sebagai konsep yang asli, integral, komprehensif dan merupakan framework yang kokoh bagi teori dan praktek pendidikan Islam kita.
Islamisasi ilmu pengetahuan
Istilah Islamisasi ilmu dalam bahasa Arab disebut “Islamiyyat al-Ma’rifat”, dalam bahasa Inggrisnya “Islamization of Knowledge”. Upaya Islamisasi ilmu pengetahuan dilakukan para tokoh ilmuwan Islam seperti Syed Hussein Nasr, Syed Muhammad Naquib al-Attas, Jaafar Syeikh Idris, Ismail Raji Al-Faruqi, Fazlur Rahman, dan beberapa ilmuwan Islam di Indonesia yang telah berjasa, meletakan dasar-dasar islamisasi ilmu di zaman modern.
Penganjur Islamisasi ilmu pengetahuan lainnya yang terkenal adalah Syed Muhammad Naquib al-Attas. Menurut Al-Attas, Islamisasi ialah “pembebasan manusia, mulai dari magic, mitos, animisme dan tradisi kebudayaan kebangsaan, dan kemudian dari penguasaan sekuler atas akal dan dan bahasanya”. Al-Atas menegaskan bahwa Islamisasi diawali dengan Islamisasi bahasa dan ini dibuktikan oleh al-Qur’an ketika diturunkan kepada orang Arab. Dalam proses Islamisasi ilmu melibatkan dua langkah utama: Pertama, proses mengasingkan unsur-unsur dan konsep-konsep utama Barat dari ilmu tersebut; Kedua, menyerapkan unsur-unsur dan konsep-konsep utama Islam kedalamnya.
Para penggagas islamisasi ilmu pentahuan lainnya, Syed Husein Nasr, tokoh pertama dalam pembicaraan wacana baru tentang ilmu pengetahuan dan Islam, seorang sarjana falsafah dan sarjana sains Islam kelahiran Teheran, Iran, tahun 1933. Ia mengutarakan perlunya usaha Islamisasi ilmu modern. Beiau meletakan asas untuk konsep sains Islam dalam aspek teori dan pratikal melalui karyanya Science and Civilization in Islam (1968) dan Islamic Science (1976).
Sementara Ismail Raji al-Faruqi pendiri International Institute of Islamic Thought (IIIT) di Washington tahun 1981 dalam bukunya yang terkenal, “Islamization of Knowledge”, (1982) menganjurkan pendekatan perbandingan antara sains modern dengan khazanah Islam. Lembaga yang didirikannya yakni IIIT aktif mempromosikan program-program Islamisasi pengetahuan ke berbagai belahan dunia.
Maurice Bucaille melalui bukunya “La Bible, le Coran et la Science” (Bibel, Qur’an dan Sains Modern) turut serta menambahkan dalam wacana Islamisasi ilmu pengetahuan. Maurice Bucaille melakukan apa yang disebut I’jazul Qur’an yakni mencari kesesuaian penemuan ilmiah dengan ayat Al-Qur’an. Namun mengingat penemuan ilmiah yang mengalami perubahan di masa depan, cara Maurice Bucaille kerap mendapatkan kritikan, yang bila terjadi perubahan pada penemuan itu berarti Al-Qur’an juga bisa berubah.
Naquib al-Attas yang pertama kali mampu memberi penjelasan yang sistematik secara konseptual tentang islamisasi pendidikan. Islamisasi sains dan Islamisasi Ilmu. Al-Attas telah melahirkan ide-ide beliau pada satu persidangan pendidikan yang sangat penting dalam sejarah umat Islam kontemporer, yaitu Persidangan Pertama Pendidikan Islam Sedunia di Makkah pada 1977. Persidangan itu berhasil mengumpulkan 313 sarjana dan pemikir Islam dari seluruh pelosok dunia
Dengan konsep Ta’dib sebagai konsepsi islamisasi pendidikan dalam rangka mempertemukan integrasi yang lebih baik antara ilmu agama dan ilmu umum. Sebuah konsepsi dan prakteknya oleh ummat Islam. Ta’dib menunjukkan sebuah konsep pendidikan yang terbaik dapat memecahkan beberapa krisis yang terjadi pada pendidikan barat modern. Karakter-karakter manusia di dalamnya.
Ta’dib dan Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter mengemuka menjadi isu utama di dunia pendidikan saat ini, terlebih di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional. Merujuk UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas disebutkan bahwa fungsi pendidikan adalah membentuk watak serta peradaban bangsa, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia. Hal ini bisa jadi sebagai reaksi dan kekhawatiran bersama atas kondisi pendidikan di Indonesia yang justru banyak melahirkan manusia cerdas namun bermoral rendah.
Pendidikan yang menghargai keunikan individu, serta menekankan kesadaran karakter dirinya sebagai manusia. Hal ini sesuai yang ditegaskan Al-Attas dalam Filsafat pendidikannya sangat jelas menekankan kepada pengembangan individu. Individu yang kebersamaan dengan itu sebagai bagian dari sosial dalam upaya pengembangan dirinya.
Lebih lanjut al-Attas mengatakan, “Ketika kami menyatakan bahwa tujuan dari pada ilmu pengetahuan adalah melahirkan manusia yang baik, bukanlah berarti bahwa kami tidak bermaksud untuk melahirkan masyarakat yang baik, sebab masyarakat adalah terdiri daripada individu, maka melahirkan seseorang akan melahirkan masyarakat yang baik. Pendidikan adalah –pembuat- struktur masyarakat”.
Al-Attas menekankan pendidikan dalam rangka manusia beradab adalah invidu yang sadar sepenuhnya akan individualitasnya dan sadar akan hubungannya yang tepat dengan dirinya, tuhannya dengan masyarakat dan dengan alam yang nampak maupun yang ghaib.
Al-Attas selanjutnya memberikan ilustrasi betapa Adab hadir dalam berbagai tingkat pengalaman manusia. pertama, Adab terhadap diri sendiri. Bermula ketika seseorang itu mengakui bahwa dirinya terdiri dari dua unsure, yaitu akal dan sifat-sifat kebinatangannya, maka ia sudah meletakkan keduanya pada tempat yang semestinya dan oleh sebab itu dia telah meletakkan dirinya pada tempat yang benar. kedua, adab dalam kontek ilmu, berarti ketertiban budi yang mengenal dan mengakui hirarki ilmu berdasarkan kriteria tentang tingkat-tingkat keluhurusan dan kemulian. Kita mengenal fardhu ‘ayn (kewajiban bagi dirinya) dan fardhu kifayah (kewajiban bagi masyarakat) yang berarti bahwa segala sesuatu yang berisi petunjuk kehidupan jauh lebih mulia dari segala sesuatu yang yang dipakai dalam kehidupan. Sebagai konsekuensinya adab terhadap ilmu pengetahuan akan menghasilkan cara-cara yang tepat dan benar dalam belajar dan penerapan berbagai bidang sains bagi kehidupan. Dengan kerangka ini maka rasa hormat terhadap guru sebagai salah satu wujud langsung dari adab terhadap ilmu pengetahuan. ketiga, adab berkaitan dengan alam, berarti pendisiplinan akal dalam berhubungan dengan susunan tingkatan yang menjadi karakter alam semesta sehingga seseorang itu bisa membuat keputusan yang tepat tentang nilai-nilai yang sejati dari segala sesuatu baik dalam kontesnya sebagai tanda-tanda Tuhan, sumber ilmu pengetahuan dan segala sesuatu yang berguna untuk perkembangan rohani dan jasmani manusia. Adab pada alam dan lingkungan berarti pula bahwa seseorang itu melettakkan tumbuh-tumbuhan, batu-batuan, gunung, sungai, lembah dan danau, binatang dan habitat-habitatnya pada tempat-tempat yang sebenarnya. Keempat, adab terhadap bahasa, berarti pengenalan dan pengakuan adanya tempat yang benar dan tepat untuk setiap perkataan, baik tulisan maupun percakapan sehingga tidak menimbulkan kerancauan dalam makna, bunyi dan konsep. Keempat, adab pada alam spiritual, adab berarti pengenalan dan pengakuan terhadap tingkat-tingkat keluhuran yang menjadi sifat alam spiritual, pengenalan dan pengakuan terhadap berbagai maqam spiritual berdasarkan ibadah, disiplin spiritual dengan benar memprioritas spiritual dan akal dari pada fisik.
Tak ayal lagi, Konsep ta’dib dalam kontek pendidikan yang baik tidak bisa dilepaskan kemanfaatannya dan sangat berhubungan dengan kata-kata kunci dalam pandangan hidup Islam, seperti kebijaksanaan (hikmah) dan keadilan (adl), realitas dan kebenaran (haqq). Ta’dib sebagai konsep Pendidikan Islam, pendidikan karakter manusia-manusianya, agar lebih beradab dan manusiawi.
Gagasan-gagasan Naquib al-Attas tentang Ta’dib tiada lain konseptualisasi pendidikan Islam. Mempraktikkan gagasan Islamisasi Ilmu pengetahuan dalam pendidikan. Manusia-manusia baik yang layak menghuni bumi. Sebuah upaya mengungkap makna ta’dib bagi pendidikan agar menjadi arah dan bahan dalam rangka membangun pendidikan karakter manusia Indonesia.
Dijumput dari: http://edukasi.kompasiana.com/2011/04/08/mengungkap-makna-tadib-al-attas-bagi-pendidikan/

Sastrawan yang Lihai Mengolah Kata


Sastrawan yang Lihai Mengolah Kata
Posted by PuJa on May 30, 2012
Sri Rahayu
http://www.surabayapost.co.id/

Setelah lama digerogoti kanker hati, novelis Lan Fang akhirnya menyerah pada suratan takdir. Minggu (25/12) aktivis Tionghoa itu menghembuskan nafas terakhir di RS Mount Elizabeth Singapura. Kelihaian Lan Fang dalam setiap karyanya adalah mengubah kata sederhana menjadi indah. Surabaya benar-benar kehilangan sastrawan perempuan yang sangat produktif menuliskan karya-karyanya itu.
Sebelum dirujuk ke RS Mount Elizabeth Singapura dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada hari Minggu (25/12) siang, novelis perempuan Surabaya bernama Go Lan Fang sempat dirawat di RS Katolik St.Vincentius A Paulo Surabaya, namun kemudian dipindah lagi ke RS Adi Husada. Barulah hari Jumat (23/12) ia dirujuk ke RS Mount Elizabeth Singapura.
“Saat dirujuk ke Singapura, Lan Fang sudah tak tertolong lagi. Hari ini (Senin, 26/12) jenazah akan dibawa ke Surabaya dan langsung dibawa ke Adiyasa,” ungkap Guru Besar Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Budi Darma, BA, MA.
Budi Darma mengatakan, jebolan Fakultas Hukum Universitas Surabaya itu merupakan salah satu sastrawan nasional yang unggul dengan alur cerita dan setting tempat. “Setiap karyanya selalu memiliki alur yang unik, dan setting cerita yang dibuatnya seolah nyata dan hidup. Sehingga pembaca pun menikmati setiap karyanya,” tutur Budi Darma yang sekaligus guru Lan Fang belajar menulis sastra.
Dia mengakui bahwa Lan Fang adalah sosok yang terbuka terhadap siapa saja meski ia keturunan etnis Tionghua, termasuk dengan tokoh Islam.“ Ia (Lan Fang) dikenal sebagai Gus Durian atau pengikut Gus Dur. Jangan heran, jika selama ini dia banyak dekat dengan sejumlah tokoh ulama dari kalangan Nahdlatul Ulama,” tuturnya.
Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), A. Fauzi mengatakan bagi para seniman Jatim, Lan Fang merupakan sastrawan perempuan yang piawai mengolah bahasa sederhana menjadi indah.”Kebanyakan karyanya memang sastra popular. Namun, ia mampu menciptakan gaya bahasa unik yang indah,” tutur Fauzi.
Bagi keberlanjutan dunia sastra di Jatim, Fauzi mengaku sangat kehilangan sosok ibu tiga anak itu. “Tahun ini, Jatim telah kehilangan 2 sastrawan perempuan. Beberapa bulan lalu, Mbak Ratna, sastrawan asal Malang, juga telah berpulang,” tutur Fauzi. Pada tanggal 28 Maret 2011, sastrawan feminis Ratna Indraswari Ibrahim meninggal dunia.
Ia mengungkapkan bahwa 2 tokoh sastrawan perempuan tersebut merupakan tonggak berkembangnya sastra di Jatim. “Mbak Ratna dengan ide feminisnya dan Lan Fang dengan keindahan tutur bahasa mampu mewarnai sastra nasional, sebagai sastrawan perempuan,” tutur Fauzi.
Mengenai penyebab meninggalnya Lan Fang, Fauzi menuturkan karena kanker hati yang sudah lama menggerogotinya. “Ia (Lan Fang) memang pekerja keras. Ia tak merasakan kanker hati yang dideritanya, dengan tetap beraktivitas. Hingga akhirnya parah dan tidak bisa disembuhkan,” tutur Fauzi.
Diakui Fauzi, perempuan kelahiran Banjarmasin, 5 Maret 1970 itu aktif membimbing para pelajar dalam berbagai penulisan kreatif secara rutin di berbagai sekolah di Surabaya. Lan Fang telah melahirkan berbagai karya, seperti Reinkarnasi (2003), Pai Yin (2004), Kembang Gunung Purei (2005), Laki-laki Yang Salah (2006), Yang Liu (2006), Perempuan Kembang Jepun (2006), Kota Tanpa Kelamin (2007), dan Lelakon (2007). Namun, novelnya yang paling terkenal yakni ‘Perempuan Kembang Jepun’ yang mengambil setting tempat di Kya-kya Surabaya. Novel berjudul Lelakon, pernah menjadi nominee Khatulistiwa Award 2008. Tak hanya novel, cerpen karya Lan Fang pun masuk 20 Cerpen Terbaik Indonesia versi Anugrah Sastra Pena Kencana 2008 dan 2009.
26/12/2011

Manunggaling Ilmu dan Laku


Manunggaling Ilmu dan Laku
Posted by PuJa on May 30, 2012
Bandung Mawardi
Kompas, 3 Januari 2oo9

Seorang bocah pribumi telaten dan fasih membaca buku-buku tentang kesusastraan dan keagamaan dalam bahasa Jawa, Melayu, Belanda, Jerman, dan Latin. Bocah ini sanggup melafalkan dengan apik puisi-puisi Virgilius dalam bahasa Latin. Ketelatenan belajar mengantarkan bocah ini menjadi sosok fenomenal dalam tradisi intelektual di Indonesia dan Eropa. Bocah dari Jawa itu dikenal dengan nama Sosrokartono.
Harry A. Poeze (1986) mencatat bahwa Sosrokartono pada puncak intelektualitas di Eropa menguasai 9 bahasa Timur dan 17 bahasa Barat. Kompetensi intelektualitas itu dibarengi dengan publikasi tulisan dan pergaulan dengan tokoh-tokoh kunci dalam lingkaran intelektual di Belanda. Sosrokartono pun mendapati julukan “Pangeran Jawa” sebagai ungkapan untuk sosok intelektual-priyayi dari Hindia Belanda.
Biografi intelektual pribumi pada saat itu memang tak bebas dari bayang-bayang kolonial. Sosrokartono pun tumbuh dalam operasionalisasi kolonialisme dalam wajah ambigu pendidikan dan peradaban. Kehadiran institusi pendidikan Barat pada masa kolonial dengan kentara hendak mengantarkan orang pribumi untuk mencecap dan menerima dunia dalam konstruksi pemikiran Barat. Sosrokartono melakoni pola itu tapi sadar untuk melakukan proteksi dan distansi dalam identitas dan ikhtiar menjadi manusia.
* * *
Sosrokartono menemukan pengesahan intelektual pada tahun 1908 dengan penerimaan gelar Doctorandus in de Oostersche Talen dalam bidang bahasa dan sastra. Kebangkitan adalah ancaman untuk kolonialisme. Sosrokartono gagal secara akademik untuk mencapai gelar doktor oleh kebencian dan dendam dari juru bicara kolonialisme dan orientalisme Prof. Dr. Snouck Hurgronje. Sosrokartono mendapati tuduhan sebagai simbol kebangkitan-intelektual pribumi.
Sosrokartono terus menjadi nama, fenomena, dan problema di Eropa. Mohammad Hatta (1982) menjuluki Sosrokartono sebagai manusia jenial. Hatta mengisahkan tentang perjamuan makan kaum etis (Mr. Abendanon, Mr. van Deventer, Prof. Dr. Snouck Hurgronje, dan Prof. Hazeu). Sosrokartono hadir dalam perjamuan makan sebagai sosok intelektual mumpuni. Kaum etis itu ingin menanggung utang Sosrokartono dengan kompensasi Sosrokartono sanggup merampungkan disertasi. Sosrokartono menjawab dengan satire: “Maaf Tuan-tuan yang terhormat, utang itu adalah satu-satunya harta saya. Harta saya satu-satunya itu akan Tuan ambil juga dari saya?”
Satire itu merupakan hantaman keras untuk Politik Etis. Motif kolonial untuk mengembalikan utang materi dan utang budi tak mungkin kelar dengan edukasi, irigasi, dan migrasi. Operasionalisasi Politik Etis justru mengandung dilema untuk mengantarkan pada pintu emansipasi atau westernisasi melalui sihir pemikiran-intelektual.
Sosrokartono pada tahun 1925 pulang ke rumah (Indonesia) setelah lelah kelana di Eropa sebagai mahasiswa dan wartawan The New York Herald Tribun. Kegagalan untuk mencapai gelar doktor tidak mematikan spirit intelektual. Sosrokartono justru mendaki pada puncak sintesis intelektualitas-spititualitas Timur. Sosrokartono pun menabur sekian pemikiran dan pengaruh untuk memberi kontribusi pada Jawa dan Indonesia.
Sosrokartono pulang untuk mengabdi pada negeri dengan menjadi pemimpin Nationale Middlebare School di Bandung. Pemerintah kolonial curiga dengan ulah itu lalu membuat represi politik. Sosrokartono sadar dengan godaan politik tapi memilih menempuh jalan lain untuk mengabdi sebagai manusia bebas. Sosrokartono memutuskan untuk membuka praktik pengobatan dan menempuh laku spiritual. Pilihan aneh untuk intelektual mumpuni tapi mengesankan kearifan Timur.
Pilihan itu tak menutupi kontribusi Sosrokartono untuk konstruksi Indonesia. Solichin Salam (1987) mencatat bahwa sekian tokoh kunci dalam pergerakan politik dan kebudayaan memiliki interaksi dengan Sosrokartono. Soekarno dan Ki Hajar Dewantoro memberi penghormatan besar untuk pemikiran dan praksis Sosrokartono dalam lakon spiritualitas untuk menopang lakon politik. Wejangan-wejangan Sosrokartono pun menjadi bekal untuk menggerakan roda politik dan kebudayaan di Indonesia.
* * *
Wejangan penting dari Sosrokartono: Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake (Kaya tanpa harta, sakti tanpa azimat, menyerbu tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan lawan). Filosofi ini merangkum lakon ekonomi, politik, sosial, dan etika. Filosofi ini relevan dengan fragmen-fragmen politik Indonesia tapi kerap terabaikan karena kerakusan, keangkuhan, dan kegenitan pemain-pemain politik untuk urusan kekuasaan dan harta.
Misteri besar dalam laku Sosrokartono adalah alif dalam pengobatan dan pengajaran hidup. Alif adalah huruf awal dalam sistem huruf hijaiyah (Arab). Alif itu simbol kunci dan menentukan. R. Mohamad Ali (1966) mengisahkan bahwa pemasangan alif pada suatu tempat pilihan Sosrokartono harus dilakukan dengan upacara khidmat. Alif mengandung pengertian sebagai pusat kekuatan Illahi. Alif adalah Sosrokartono dalam laku spiritual untuk menebar cinta kemanusiaan. Huruf alif merupakan simbol untuk laku mengurusi kondisi lahir-batin manusia.
Sosrokartono lebur dalam Islam dan spiritualitas Timur. Pilihan dan pemahaman alif memiliki acuan dalam doktrin Islam sebagai ekspresi lahir-batin. Huruf dalam Islam itu mengandung rahasia dan kesucian. Ja’far Ash-Shadiq (Schimmel, 1996: 230) mengungkapkan: “Tuhan membuat huruf sebagai induk segala benda; indeks dari segala sesuatu yang bisa dilihat; kriteria dari semua hal yang sulit. Segala sesuatu bisa diketahui melalui huruf.” Huruf-huruf hijaiyah diakui mengandung makna batiniah dari estetika sampai peramalan.
Ajaran terkenal Sosrokartono adalah ilmu kantong kosong, ilmu kantong bolong, dan ilmu sunyi. Mohamad Ali (1966) mengungkapkan bahwa ilmu kantong bolong ada dalam ungkapan etis-filosofis: Nulung pepadane, ora nganggo mikir wayah, waduk, kantong. Yen ana isi lumuntur marang sesami (Menolong sesama tanpa memerhatikan waktu, perut, kantong. Bila ada sesuatu itu untuk sesama manusia). Ungkapan itu ditulis Sosrokartono pada 12 November 1931. Apakah masih ada relevansi dengan fakta sosial dan kemanusiaan kita hari ini? Pelbagai tindakan manusia hari ini cenderung tak bisa bebas dari pamrih mulai dari uang sampai kekuasaan.
Ilmu kantong kosong merupakan laku cinta-kasih pada manusia dan Tuhan. Cinta-kasih sempurna adalah antusiasme dan empati untuk menolong sesama manusia dalam mengatasi derita, sakit, dan duka. Cinta-kasih ekspresi pengabdian pada Tuhan. Ilmu sunyi adalah puncak laku spiritual dengan mengosongkan diri-pribadi dari sifat pemujaan diri dengan mempertaruhkan diri secara lahir-batin untuk menolong sesama manusia. Sosrokartono dengan kalem mengungkapkan: “Saya adalah manusia. Oleh sebab itu sesuatu kemanusiaan tidak asing bagi saya.”
* * *
Sosrokartono (1877-1952) adalah sisi lain intelektual pribumi dalam bayang-bayang kolonial dan spirit nasionalisme-humanisme. Biografi Sosrokartono adalah bab penting dalam sejarah Indonesia modern. Sosrokartono merepresentasikan keganjilan dari jalan besar intelektual pribumi abad XX dengan sintesis laku intelektualitas-spiritualitas. Jalan ini memberi efek besar untuk pengabdian diri pada negeri dan kemanusiaan. Sosrokartono tak betah mengurusi politik karena kerap menemukan lakon-lakon kotor.
Kompetensi intelektualitas Sosrokartono ketika di Eropa membuat pelbagai kalangan kagum dan takjub. Pilihan untuk laku spiritual ketika pulang di Indonesia membuat publik terkejut dan takjub. Inikah fase puncak dari ilmu dan laku hidup: manunggaling intelektualitas-spiritualitas?
Dijumput dari: http://kabutinstitut.blogspot.com/2009/01/manunggaling-ilmu-dan-laku.html

Khidmat


Khidmat
Posted by PuJa on May 30, 2012
Budi Saputra
http://www.lampungpost.com/

MEREKALAH yang tunduk kepada para pendakwah yang berhati baik. Yang ijtihad, bersungguh-sungguh dalam memerangi hawa nafsu yang membelit. Tiap hembusan napas, setan dan bala tentaranya memukul tabuh genderang perang kepada lawan abadinya sejak berada di tempat yang sangat-sangat jauh sebelum masehi. Sebelum adanya Habil dan Qabil, para nabi, kaum Tsamud, kaum Luth, bangsa Romawi dan Persia, bahkan para hobbit Flores yang dikemukakan oleh para ilmuwan. Dan merekalah, yang begitu tunduk pada makhluk yang sempurna dan utama yang diciptakan dari air mani yang busuk, dan berkesudahan kembali menjadi yang berbau busuk: bangkai dalam kubur.
Merekalah, yang dimaksud oleh Syekh Hasan pada para muridnya, adalah makhluk-makhluk yang senantiasa berzikir pada Tuhannya. Seperti halnya sayap burung yang mengepak di udara tanpa ada penghalang, sayap itu juga senantiasa berzikir mulai dari kobar matahari timur hingga terbenam di ufuk barat. Begitu jernih, begitu tampak nyala kesungguh-sungguhan dari Syekh Hasan saat menyampaikan ceramah pencerah pada para muridnya. Dengan sorban putih, gamis putih, dan janggut putih, Syekh Hasan tampak berwibawa dan rendah hati. Hidup dengan kesederhanaan bercermin pada orang-orang terdahulu. Orang-orang suci yang senantiasa menghidupkan malam dengan penuh khusyuk pada Tuhannya.
Ilmu yang dikuasai Syekh Hasan adalah imu-ilmu yang baik. Baik sanad dan baik tujuannya. Syekh Hasan banyak menguasai kitab-kitab hadist dan kitab kuning. Pun butir-butir hikmah yang berisikan kisah-kisah pendakwah, begitu jernih, begitu tampak nyala kesungguh-sungguhan pada mata Syekh Hasan.
Butir-butir hikmah itu, memang, selalu ada rasa takjub tercipta. Antara percaya dan tak percaya. Bahwa dalam kisah-kisah tak sembarangan itu, memang ada keistimewaan di dalamnya. Apakah pada jin, iblis, ataupun pada hewan-hewan masuk surga? Ya, sungguh tak bisa mengatakan bahwa tak ada sangkut pautnya dengan mereka. Merekalah, atau pada mereka yang lain yang tak punya akal dan nafsu seperti manusia. Hanya sebagai makhluk Tuhan yang berkhidmat kepada manusia dan kepada para pendakwah yang berhati baik. Semacam karomah. Ya, karomah yang memang tak sembarangan orang yang mendapatkannya. Hanya orang-orang tertentu sebagai wali. Orang-orang yang bersih wajahnya, baik amalannya, dan selalu menjunjung surga dan neraka di kepalanya.
***
SUATU pagi di Amazon, dua orang pendakwah tampak mandi dan mencuci di sungai yang banyak ditumbuhi ikan-ikan pemakan daging. Mereka itu adalah pendakwah dari negeri jauh yang datang melihat para saudara mereka. Membawa bekal secukupnya, melihat dunia dengan sangat hati-hati. Sangat hati-hati dan tak panjang angan-angan. Sementara di jidatnya, tanda pengabdian itu, sangat jelas terlihat.
“Hah, kenapa mereka tak dimakan oleh ikan?” Dalam bahasa mereka, orang suku setempat seketika terheran melihat pendakwah yang mandi dan mencuci di sungai tulang itu. Sungai yang apabila ada burung yang jatuh dari pepohonan atau bangkai mamalia yang hanyut, maka seketika akan menjadi tulang. Daging-dagingnya ludes seketika di makan oleh piranha, hewan karnivora yang ganas di perairan Amazon.
Sungguh ajaib, pikir mereka. Tapi adalah bisa diterima oleh akal sehat. Amalan-amalan yang begitu ikhlas, membuat ikan-ikan buas itu khidmat kepada pendakwah itu. Sebagaimana halnya orang-orang yang berjalan di atas air saat berdakwah, tanah yang berubah menjadi burung, atau lahar panas yang diusir oleh seorang saleh dengan sorbannya pada zaman terdahulu. Sungguh kadang sulit dipercaya. Tapi begitulah keistimewaan yang didapat para pendakwah yang berhati baik dan menunaikan adab. Keistimewaan yang salah satunya pernah didapat Nabi Sulaiman yang menguasai bala tentaranya dari bangsa jin, manusia, angin, dan juga binatang. Atau pada keistimewaan dari seorang khalifah. Sungai Nil yang pernah suatu ketika tak mengalir, akhirnya kembali mengalir hanya dengan selembar surat yang membuat Sungai Nil taat dan patuh.
Sungguh ajaib. Pemandangan yang mereka lihat itu, membuat mereka terpikat.
“Tuan, kami bersedia mengikuti amalan-amalan Tuan.” Dalam bahasa mereka, orang suku setempat menyatakan ketertarikan dengan ajaran pendakwah itu. Dengan mendengar kebesaran-kebesaran Tuhan di bumi dan di langit, mereka begitu takjub dibuatnya.
“Kami amat bersyukur sekali. Semoga saudara sekalian selamat sampai tujuan sesungguhnya.”
Maka, pendakwah itu dengan rasa syukur atas usahanya berbincang banyak hal dengan orang suku setempat. Berbaur dengan kerendahan hati. Selain bercerita tentang perjalanan dari negeri jauh dan tujuannya di daerah orang suku setempat (tujuan yang mulia di muka bumi yang fana, seperti orang-orang terdahulu yang begitu gigih meski harus korban harta benda, terluka, hingga mati sebagai pendakwah), tentu yang utama sekali mengajari mereka cara berpegang teguh kepada kebenaran. Membekali mereka dengan ilmu-ilmu yang baik sebagai bekal yang amat panjang.
Di suatu kesempatan, pendakwah itu juga bercerita tentang negeri jauh yang lain. Di sebuah celah bumi, di sebuah desa kecil di Jepang, pendakwah ini bertemu dengan seorang penduduk setempat. Awalnya, pendakwah ini tak heran saat dibawa menuju ke sebuah lahan. Namun, saat melihat dereta kuburan, maka bertanyalah mereka.
“Kenapa Tuan membawa kami ke sini?” Pendakwah ini heran saat dibawa ke kuburan. “Ini bukankah kuburan, Tuan. Orang-orang yang telah mati dan tak bisa diajak bicara lagi?”
“Tuan betul. Tapi begitulah, Tuan. Di sini ayah saya, ibu saya, dan saudara-saudara saya dikuburkan. Mereka mati sebelum Tuan datang. Tuan memang terlambat datang terlambat ke sini. Saat negara saya terus-menerus mengirim benda-benda teknologi ke negeri Tuan, seharusnya Tuan juga datang ke sini. Melihat saudara-saudara Tuan yang sama bumi dan sama langit ini. Tapi Tuan, meskipun begitu, saya sangat bersyukur sekali. Datang dari negeri jauh? Oh, sungguh tak terpikirkan oleh saya, Tuan. Jalan yang aneh. Jalan yang tentu sangat mulia bagi Tuan.”
Ya, begitulah para pendakwah dengan mereka. Mereka dalam artian lain merupakan makhluk-makhluk yang memang diciptakan untuk khidmat pada manusia. Di muka bumi, bukankah manusia diciptakan untuk menjadi khalifah? Dulunya, gunung-gunung tak sanggup menerima amanah yang Tuhan ajukan pada mereka.
***
SYEKH Hasan, dengan cara sedemikian halus itu, mengajari para muridnya dengan butir-butir hikmah. Sehingga ceramah pencerah yang disampaikan memang menghujam dalam ke dalam dada para muridnya. Ceramah pencerah yang didengar dengan baik-baik. Tak ada saling berbisik, tak ada yang tidur-tiduran, ataupun memasang wajah seperti meremehkan. Semua begitu hormat mendengarkan sambil memandang wajah Syekh Hasan dengan penuh keseriusan. Karena begitulah adab. Adab yang apabila tak ditunaikan, maka ilmu pun hanya masuk dari telinga kiri dan keluar di telinga kanan. Berkah tak didapat, dan seolah tersisih dan berada di luar bongkahan cahaya terang benderang, yang terhubung dengan langit jauh yang paling jauh.
Dan selalu saja. Selalu saja butir-butir hikmah yang disampaikan Syekh Hasan membuat para muridnya mengucapkan kalimat-kalimat langit yang suci lagi mulia. Ada rasa takjub. Yang membuat hati mereka tertanam semangat yang melimpah-limpah hingga begitu membara. Begitu membara memerangi diri sendiri, hawa nafsu, dan musuh terkutuk sepanjang abad manusia.
Setiap Syekh Hasan memberikan ceramah pencerah pada para muridnya, maka tentang kisah-kisah karomah dan kisah lain yang seakan tak masuk akal memang kerap menjadi sebuah pemantik iman. Sebagaimana Syekh Hasan menceritakan tantang sebuah negeri yang diberkahi. Di negeri itu, penduduknya hanya sekali seminggu melaut. Tapi, meskipun hanya sehari melaut, hasil yang didapat bisa tahan selama seminggu. Konon, ikan-ikan di sana sangat patuh dan mendekat begitu saja untuk ditangkap karena kekuatan amalan-amalan yang ikhlas penduduk sana.
Memang, selain rasa takjub, terkadang kisah-kisah karomah dan kisah lain yang seakan tak masuk akal itu, membuat para murid Syekh Hasan ingin juga merasakan dan menyaksikan secara langsung bagaimana kisah itu terjadi. Sungguh mulianya manusia, pikir mereka. Derajat manusia yang lebih tinggi dari makhluk-makhluk lain yang diciptakan. Betapa di majelis itu. Di majelis yang selalu tumpah ruah dihadiri. Selalu kata-kata itu diucapkan berulang-ulang oleh Syekh Hasan. “Bicarakanlah kebesaran Allah. Bicarakanlah keagungan Allah. Karena itu akan membuat iman kalian menjadi naik.”
Padang, 2012 //27 May 2012

Tentang Perempuan, Kasih Sayang dan Perjuangannya


Tentang Perempuan, Kasih Sayang dan Perjuangannya
Posted by PuJa on May 30, 2012

Tosa Poetra
Budaya patriarki menyebabkan stereotipe terhadap perempuan sehingga perempuan yang menyebabkan marginalisasi perempuan, eksploitasi perempuan maupun tindak kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan sehingga perempuan merasa diperlakukan tidak adil. Para sastrawan dan tokoh publik menggambarkan tentang perempuan baik pemberontakan kaum perempuan maupun penindasan yang dialami perempuan baik melalui karya tulis sastra (novel dan puisi) maupun karya tulis non sastra( esai).
Linus Suryadi AG dalam prosa liriknya “Pengakuan Pariem”, menggambarkan sosok perempuan dalam diri tokoh pariem yang penuh dengan kepasrahan dan kesumarahan. Pramudya Ananta Toer, menggambarkan perempuan dalam diri Nyai Ontosoroh dalam karyanya “Bumi Manusia”. YB Mangunwijaya dalam novelnya “Burung-burung Rantau” menggambarkan sosok perempuan dalam diri tokoh Marieneti Dianwidhi. Ayu Utami dalam novelnya yang berjudul “SAMAN” menggambarkan sosok perempuan dalam diri tokoh Cok. (http://sastra-indonesia.com/2008/12/empat-citra-perempuan-dalam-sastra-kita, diakses 24 Februari 2012).
Di dalam puisi-puisinya WS Rendra nampak perempuan dicitrakan sebagai manusia yang tereksploitasi, rentan menjadi objek kesewenang-wenangan, sebagai manusia pelengkap (Subordinat), sebagai objek sek laki-laki, sebagai manusia yang dependen dan tidak berdaya, sebagai makluk yang juga mendambakan kehidupan normal namun memiliki posisi tawar rendah. (Eti Nurhayati, 2010: 54-82)
“Masyarakat Indonesia masih berpandangan semi Feudal dan berpandangan bahwa wanita sebagai second sexs” (Nurani Soyomukti, 2008: 120). Dengan berbagai kekurangan dan kelemahannya perempuan seringkali mendapat perlakuan tidak adil baik dalam kehidupan berumah tanggga maupun menjalani kariernya.
“Terdapat enam hambatan yang menjadi penghalang utama bagi perempuan dalam berkiprah diantaranya: hambatan fisik, hambatan teologis/ perempuan adalah pendamping laki-laki, hambatann sosial budaya/ berupa stereotiip turun temurun terhadap perempuan, hambatan psikologis, hambatan sistem kemasyarakatan, hambatan historis”. (Marwah Daud Ibrahim dalam Sumjati AS, 2001: 148-149)
“Mansour Fakih dalam bukunya Analisis Gender dan Transformasi Sosial menegaskan bahwa ketidak adilan gender menyebabkan marginalisasi, subordinat, kekerasan dan beban kerja berlipat”.(Mufidah CH, 2004: 126). Peran utama perempuan dalam hidupnya dipandang masyarakat hanya sebagai istri dan ibu atau perannya mengasuh anak, rumah dan keluarga. “Masyarakat mempunyai pandangan yang berbeda atas peran perempuan dan peran laki-laki dalam kehidupan”.(Nawal El-Saadawi, 2002: 57). Di negara Eropa perjuangan perempuan dalam menyetarakan haknya sampai melahirkan falsafah feminisme dan neo feminisme, namun bangsa Eropa sendiri belum merasa puas dengan hal tersebut dan masalah-masalah keperempuanan juga tak terselesaikan, malah semakin menjadi rumit.
“ Henritte Roland Holst menyatakan bahwa feminisme atau neo feminisme tak mampu menutup keretakan yang ada dalam jiwa dan perikehidupan kaum perempuan, sejak kaum perempuan mencari nafkah dengan menjadi buruh, keretakan antara perempuan sebagai ibu dan istri dan perempuan sebagai pekerja masyarakat. Jiwa perempuan rindu kebahagiaan sebagai istri dan ibu, tetapi dengan menjadi pekerja masyarakat tidak dapat memberi waktu yang cukup kepada perempuan untuk bertindak sempurna sebagai ibu atau istri. Pergerakan feminisme dan neo-feminisme ternnyata tidak mampun menyembuhkan keretakan ini”.(Sukarno, 1963: 10).
Pada jaman jahiliyah perempuan dianggap makluk hina dan diperbudak, bahkan dianggap makluk tidak berguna Pada masa Jahiliyah Islam melakukan berbagai revisi terhadap tradisi jahiliah yang hal tersebut merupakan konsep penetaraan jender dalam hukum Islam.
“Ahmad Khayyarat mengemukakan sedikitnya ada tujuh refisi Islam pada tradisi Jahiliyah: Perempuan dalam Islam adalah orang yang dilindungi hak-haknya oleh undang-undang, perempuan memiliki hak memilih pasangan hidup secara mandiri, perempuan memiliki hak melepaskan ikatan perkawinan(talak), perempuan memiliki hak mengasuh anak, perempuan mempunyai hak mengatur/ membelanjakan harta karena merupakan simbol kemerdekaan dan kehormatan perempuan bagi setiap orang, perempuan memiliki hak hidup dengan caramennetapkan larangan melakukan pembunuhan terhadap anak perempuan yang menjadi tradisi bangsa Arab” .(Mufidah CH, 2004: 59).
Islam juga telah banyak berbicara dan mengatur tentang perempuan, membela perempuan, memuliakan perempuan dan bagaimana posisi perempuan. Allah telah menciptakan perempuan sebagai pasangan laki-laki sebagaimana disampaikan dalam QS AL Dzariyat: 49 “segala sesuatu Kami ciptakan berpasangan agar kamu menyadari kebesaran Allah”. Lebih lanjut disampaikan dalam QS Albaqoroh: 228 “Bagi perempuan (istri) ada hak yang sepadan dengan kewajiban atau beban yang dipikulnya, yang harus dipenuhi dengan cara yang makruf”. Dengan demikian dalam islam perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki sesuai kodratnya, islam membebaskan perempuan dari penindasan dan kekerasan. Islam mewajibkan laki-laki untuk melindungi perempuan sebagaimana dalam QS Albaqoror; 223 : ”di atas pundak ayah terletak tanggung jawab memberikan nafkah dan perlindungan bagi ibu anak-anaknya secara makruf”.
Dalam QS An nisa : 34 “ Kaum laki-laki (suami) itu pemimpin bagi kaum perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (suami) atas sebagiann lain (istri), karena mereka (suami) telah menafkahi (istri) dengan sebagian dari harta mereka( suami). Hal tersebut kadang kala ada yang menganggap sebagai dalil patriarki sehingga menganggap laki-laki serba lebih dari perempuan namun hakikatnya perempuan dan laki-laki adalah sama, hanya pada sifat kodratinya yang berbeda yaitu kodrat wanita sebagai tempat lahirnya generasi baru/ penerus keturunan sehingga wanita dikodratkan dapat menstruasi, hamil dan menyusui sedangkan laki-laki hanya dapat memberikan benih pada rahim perempuan.
Islam memuliakan perempuan lebih dari laki-laki sebagaimana tercantum dalam hadist berikut: Dari Abu Huraira r.a, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rosululah SAW, lalu bertanya: “Siapa orang yang pertama berhak memperoleh kebaktian?” Rosullulah menjawab:”Ibumu”, orang tersebut bertanya lagi: “lalu siapa lagi?”, Rosullulah menjawab:”Ibumu”, orang tersebut bertanya lagi: “lalu siapa lagi?, Rosullulah menjawab:”Ibumu”, orang tersebut bertanya lagi: “lalu siapa lagi? Rosullulah menjawab:”Ayahmu”.
Lain hal di atas perempuan dicitrakan memiliki perjuangan yang kuat dalam kehidupan-nya. Freud mencitrakan perempuan memiliki sifat masokhism yaitu cenderung lebih kuat bertahan dalam penderitaan dan kesakitan. (Ety Nurhayati, 2012: xxvii).Lebih lanjut perempuan dicitrakan memiliki kasih sayang dan keibuan.Psikologis perempuan dipandang dependen, berwatak mengasuh dan merawat. (Eti Nurhayati, 2012: xxviii).
Bertolak hal tersebut di atas saya melihat bagaimana ibu saya dulu semasa saya kecil berjuang mati-matian untuk menghidupi saya karena rasa kasih sayangnya. Kini pun banyak saya melihat perempuan-perempuan bekerja dan berjuang dalam kehidupan, demi dirinya sendiri dan demi anak-anak maupun keluarga, juga cita-cita. Seperti yang dialami beberapa kenalan saya yang bekerja di Hongkong, diantaranya Mei Tri Wahyuni, Dinda Ardiana, Nurul Rahma Yanti, Yulia Kadam, Adhe, Luluk Andrayani, Astry Manies, Lintang Panjer Sore, Qania Tiana, Umy Syarofah, Wild Dove,Titik Mundari dan masih banyak lainya yang susah untuk saya sebutkan satu demi satu. Dan yang menjadikan saya lebih salut lagi pada mereka selain rasa perjuangan dan kasih sayang yang tinggi mereka juga memiliki kemampuan dalam berkarya sastra. dan mereka terus berkarya dengan semangat yang tinggi, beberapa buku mereka telah terbit dan tersebar baik di Indonesia maupun di luar negeri. Hidup Perempuan-perempuan Indonesia.
24 April 2012

Nasib Malang Sastra Indonesia


Nasib Malang Sastra Indonesia
Posted by PuJa on May 30, 2012
JILFest 2008
Triyanto Triwikromo
http://www.suaramerdeka.com/

NASIB sastra Indonesia masih malang dan terlunta-lunta. Setidaknya itulah simpulan yang bisa dipetik dari seminar yang berlangsung dalam Jakarta International Literary Festival (JILFest) 2008 di The Batavia Hotel Jakarta, 11-14 Desember.
Dalam seri seminar bertema ”Sastra Indonesia di Mata Dunia” (Dr Katrin Bandel, Prof Dr Koh Young Hun, Prof Dr Abdul Hadi WM), ”Prospek Penerbitan Sastra Indonesia di Mancanegara” (Prof Dr Nikihiro Moriyama, Jamal Tukimin MA, Dr Naria Emilia Irmler, Putu Wijaya), dan ”Politik Nobel Sastra” (Prof Dr Henry Chambert-Loir, Dr Stevan Danarek, Prof Dr Budi Darma), sastra Indonesia kurang mendapat perhatiaan dari penerbit apalagi pembaca luar negeri.
Katrin Bandel, kritikus asal Jerman yang kini tinggal di Yogyakarta, bahkan berani menyatakan betapa orang-orang luar negeri, terutama Eropa, tidak peduli pada sastra Indonesia. ”Jika ada buku yang diterbitkan, penerbitnya kecil dan pembacanya tidak banyak.”Karena itu, menurut pendapat penulis Sastra, Perempuan, Seks ini, para sastrawan (Indonesia) tidak perlu terlalu memburu pembaca luar negeri. ”Memangnya kalau tidak dibaca oleh mereka mengapa sih?” tanya dia.
Putu Wijaya menyepakati pendapat Bandel. Kata dia, ”Harus diakui para pengarang Indonesia masih belum banyak dikenal, meskipun di kampus-kampus mereka dibicarakan. Semua ini karena karya sastra kita belum diterjemahkan dalam bahasa asing.” Meskipun demikian Jamal Tukimin dari Singapura memberikan data lain. Buku Ayat-ayat Cinta (Habiburrahman El-Shirazy) dan Laskar Pelangi (Andrea Hirata) laris di Singapura. ”Hampir semua toko buku menjual buku-buku, terutama bertema Islam terbitan Indonesia. Jumlahnya mencapai 75% dari buku yang beredar.”
Hadiah Nobel
Adapun di Korea sebagaimana diungkapkan oleh Koh Young Hun, kecuali karya-karya Pramoedya Ananta Toer dan Mochtar Lubis, belum muncul lagi terbitan karya sastra (besar) lain. Di Jepang, setidaknya sebagaimana dicatat oleh Moriyama, baru karya-karya Mochtar Lubis, Ahmad Tohari, Pramoedya Ananta Toer, YB Mangunwijaya, Rendra, Ajip Rosidi, Ayu Utami, Eka Kurniawan, Yudhistira ANM Massardi, dan Seno Gumira Ajidarma yang diterbitkan. Karena itu pula memang tidak perlu diherankan jika di Portugal karya sastra Indonesia baru sebatas ”dikolaborasikan” dengan penerbitan teks lain. ”Tetapi ini merupakan awal yang baik,” kata Maria Emilia Irmler pembicara dari Portugal.
Bertolak dari kenyataan semacam itu, lalu muncul pertanyaan, bagaimana karya sastra Indonesia bisa meraih hadiah nobel sastra? ”Hadiah terakhir abad ke-20 seharusnya dibagi untuk Gunter Grass dan Pram,” ungkap Danerek, kritikus asal Swedia yang dalam setahun ini mukim di Jakarta.
Apakah syarat mendapatkan nobel sastra sulit? ”Syarat itu tidak terlalu sulit. Hanya, Indonesia terasa jauh sekali dari Stockholm dari segi geografi, sejarah, budaya, dan agama,” ujar Heni Chambert-Loir dari Prancis. ”Diperlukan seratus tahun untuk menemukan sastra Tionghoa, berapa tahun akan diperlukan untuk menemukan sastra Indonesia?”
Jika demikian, tanya seorang peserta seminar, perlukah membuat semacam hadiah nobel sastra sendiri? ”Kita bisa membuat penghargaan semacam itu, tetapi tidak akan diperhatikan dunia,” ungkap Budi Darma. Oh, sungguh malang nasib sastra Indonesia.
17 Desember 2008