Pages

Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Sunday, 5 August 2012

Ingat Soekarno, Ingat Indonesia!


Ingat Soekarno, Ingat Indonesia!
Posted by PuJa on August 5, 2012
Soekarno: Arsitek Bangsa
Bob Hering
Penerjemah: Mien Joebhaar
Kompas, 2012
viii + 136 hlm
Peresensi: Bandung Mawardi *
Lampung Post, 29 Juli 2012

INDONESIA memang negeri ganjil. Soekarno (6 Juni 1901—21 Juni 1970) selaku penggerak sejarah Indonesia justru belum mendapatkan legitimasi sebagai pahlawan. Pelbagai kalangan dan institusi mulai melantunkan seruan agar Soekarno lekas mendapatkan gelar pahlwan dari negara. Kita terlambat memberi pengakuan disebabkan rezim Orde Baru intensif mencipta stigmatisasi atas sosok Soekanro. Tokoh moncer ini lahir untuk mengisahkan Indonesia. Detik-detik hidup dan embusan napas menghendaki semaian ide-imajinasi Indonesia. Soekarno pun menjelma arsitek negara-bangsa Indonesia.
Bob Hearing mengakui Soekarno memicu emosi dan kontroversi. Jalan politik memang terjal dan keras. Soekarno menempuhi jalan itu berkeringat tanpa putus asa. Penjara dan pembuangan oleh pemerintah kolonial tak bisa membungkan seruan nasionalisme. Soekarno justru lantang dan garang. Kita mengingat kebandelan Soekarno dalam pledoi bersejarah: Indonesia Menggugat (1930). Indonesia tak mau lengah dan terlena oleh represi kolonial.
Soekarno tampil sebagai pembawa suluh untuk negeri terjajah.
Soekarno mengusung takdir perubahan di Indonesia. Kita bisa mengutip pengakuan Soekarno saat mengingat pesan ibu, “Jangan, jangan pernah kau lupakan bahwa anak fajar. Kau akan menjadi pemimpin besar bangsa ini karena ibumu melahirkan dirimu pada waktu fajar.” Soekarno mengantarkan Indonesia dari gelap menghampiri terang. Indonesia bergerak. Soekarno ibarat “penggugah” kala Indonesia terluka dan terbisukan selama ratusan tahun oleh arogansi kolonial.
Gairah politik Soekarno mengeras saat menjalani studi di HBS Surabaya. Soekarno saat itu turut menumpang hidup di rumah HOS Tjokroaminoto. Rumah itu menjelma “sekolah politik” untuk mengolah sengatan politik di tubuh kolonial. Soekarno pun intensif membaca referensi-referensi kunci dengan mengembuskan gagasan Islam, nasionalisme, demokrasi, marxisme, sosialisme. Buku Sun Yat Sen bertajuk San Min Chui diakui oleh Soekarno sebagai resep manjur bagi agenda melawan kolonial. Soekarno mendapati percikan permenungan itu saat berusia 18 tahun. Seruan politik Soekarno mulai menentukan arah sejarah Indonesia.
Soekarno sebagai manusia politik memang menimbulkan gentar di mata kolonial. Geliat Soekarno menebar benih-benih utopia Indonesia. Pidato dan tulisan menjadi modal Soekarno dalam mengikat diri ke kalbu rakyat. Bahasa Soekarno menggugah, provokatif, meledak. Politik memerlukan bahasa perlawanan. Bara bahasa ala Soekarno telah mengabarkan keberanian mengubah nasib Indonesia. Kita pun mafhum bahwa Indonesia bergerak oleh bahasa. Soekarno adalah pembentuk bahasa politik untuk Indonesia.
Sosok Soekarno semakin menebar aura perlawanan. Gairah berpolitik bersama Partai Nasional Indonesia (1927) mengawali pencanggihan politik. Partai politik adalah rujukan mendedah dan merealisasikan ide-ide politik. Soekarno menganggap ikhtiar EFE Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, Soewardi Soerjaningrat melalui pendirian Indische Partij (1912) memicu rasionalitas politik modern di Hindia Belanda. Mereka mengajarkan politik radikal tanpa jera atas hukuman kolonial. Soekarno mengafirmasi sekian gagasan para penggerak bangsa dengan ejawantah politik berhaluan nasionalisme.
Perjalanan Soekarno adalah perjalanan Indonesia. Soekarno mengumumkan Pancasila sebagai modal ideologis Indonesia: 1 Juni 1945. Kita mewarisi Pancasila sampai hari ini. Tanggal 17 Agustus 1945 menjadi momentum proklamasikan kemerdekaan Indonesia. Perlawanan atas kolonialisme telah menguatkan kehendak memartabatkan negeri. Soekarno di masa 1940-an mesti lihai berpolitik saat meladeni Jepang. Godaan dan siksa Jepang menimbulkan derita di kalangan rakyat. Kondisi akut merangkum narasi kolonialisme. Soekarno tak berputus asa mengarsiteki politik demi kemerdekaan. Janji suci untuk negeri adalah kaharusan. Soekarno memenuhi janji tanpa pamrih.
Biografi politik Soekarno memang dramatik. Situasi politik 1960-an adalah latar keberakhiran kekuasaan Soekarno. Kecemburuan dan perseteruan politik menimbulkan prahara. Soekarno ada dalam dilema kekuasaan. Tragedi 1965 memicu resistensi atas agenda politik Soekarno. Detik-detik keruntuhan Orde Lama semakin kentara. Soekarno pun merana. Soekarno menjelang senjakala. Misi sebagai “putra sang fajar” telah terpenuhi kendati mengandung tragedi. Soekarno tak selesai mengisahkan Indonesia meski kematian menghampiri kala pagi: 21 Juni 1970. Soekarno adalah ingatan tak paripurna untuk Indonesia. Begitu.
*) Bandung Mawardi, pengelola Jagat Abjad Solo

Tuesday, 29 May 2012

Puisi Kritik Kehidupan


Puisi Kritik Kehidupan
Posted by PuJa on May 27, 2012
Judul : SELENDANG BERENDA JINGGA
Penulis : Zulkarnain Siregar
Penerbit : Jejak Publishing, Yogjakarta 2011
Jenis : Sastra
Tebal : XXIX + 148
ISBN : 978.979.19552.4.9
Peresensi: Ali Soekardi
http://www.analisadaily.com/

DULU, seorang penyair akan merasa begitu gembira dan bahagia jika karya-karyanya (baik yang telah dipublikasi lewat media massa atau belum), dikumpulkan dan diterbitkan dalam bentuk buku. Ya, semacam antologi puisi. Namun sekarang berkat kemajuan dan kecanggihan tehnologi di bidang komunikasi, atau lebih dikenal sebagai dunia maya, maka sarana publikasi karya sastra itu menjadi lebih banyak dan lebih luas penyebarannya yang berarti juga pembaca atau peminatnya bertambah banyak pula.
Dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh penyair Zulkarnain Siregar. Penyair yang produktif ini telah menulis sekian banyak puisi yang semuanya dipublikasikannya lewat dunia maya, atau tepatnya lewat facebook. Ada sekitar limapuluhan puisi karyanya yang telah dipublikasikannya, dan kini telah lahir pula dalam bentuk buku yang diberinya judul Selendang Berenda Jingga (Himpunan Puisi Facebook).
Buku kumpulan puisi yang berjudul puitis ini (juga merupakan judul salahsatu puisinya-hal. 10) diberi prologue oleh Irwansyah Hasibuan dan pengamatan puisi oleh Antilan Purba (Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan), pengantar oleh MJA Nashir (penulis dan pejalan kaki) ser-ta epilogue oleh Prof.Dr.Ikhwanuddin Nasution,M,Si (Guru Besar pada Departemen sastra Fakultas Sastra USU Medan), terasa agak unik.
Apa itu – Setiap puisi yang ditulisnya dan disiarkan lewat facebook selalu disertai komentar pembacanya, dan ini semua dikutip dan dihadirkan dalam bukunya yang dicetak indah dengan cover berwarna kuning dan coklat yang menarik. Selama ini hal seperti ini belum pernah ada, kecuali resensi, atau juga komentar atau pembahasan oleh para kritikus sastra puisi atau prosa.
Penyair ini terasa begitu “mahir” bermain kata-kata. Namun bukan sekedar kata kosong, tapi kata yang dilahirkannya dalam bentuk puisi itu mempunyai makna tersendiri. Justru inilah yang menimbulkan kesulitan bagi pembacanya (apalagi yang awam) untuk bisa mengerti atau memahami maknanya dengan cepat.
Perlu berulang-ulang membacanya, menyerap dan merenungkannya, hingga timbul penafsiran yang tentu saja penafsiran pembaca yang satu akan berbeda dengan pembaca lainnya. Meskipun ada beberapa yang sebenarnya agak mudah untuk menemukan maknanya, seperti Euforia (84), Kalau Esok Masih Ada (13), atau Tak Lagi Jadi Elegi (133).
Jelas ini berbeda dengan karya-karya penyair Taufik Ismail, yang meskipun bermain kata-kata penuh makna dan kritik terhadap suasana dan lingkungan, masih teramat mudah untuk dimengerti oleh pembaca awam. Hal ini dikemukakan bukan untuk membanding, tapi masing-masing penyair itu mempunyai ciri dan kekuatan masing-masing yang saling berbeda dalam menyampaikan rasa hatinya.
Dan Zulkarnain Siregar dalam kumpulan Selendang Berenda Jingga ini ter-nyata mempunyai rasa hati yang beragam kegelisahan, kekecewaan, kemarahan, pemberontakan, tapi juga rasa iman, cinta, gagasan, kerinduan, dan juga harapan.
Jika di negeri kita sekarang ini tumbuh perasaan tidak puas bahkan kecewa di hati rakyat melihat perkembangan situasi, rasa ketidakpercayaan terhadap bapak-bapak pemimpinnya yang dulu telah diberinya suara ketika Pemilu/Pilkada lewat Tak Lagi Jadi Elegi (buat capres dan cawapres RI) penyair telah mengingatkan yang antara lain katanya :
andaikan tuan-tuan dan nyonya terpilih
jangan sangka berutang ke luar negeri
sumber penyelesaian bencana
negeri berbagai pulau ini
sebab kami pun tak tau, untuk apa ?
yang kami tau hutan kami gundul
yang kami tau sawah kami jadi realestat
yang kami tau ladang kami jadi ruko
tanah bukan milik kami
bahkan diri kami pun
bukan milik kami lagi
Hati ini ikut sakit membacanya. Tapi jadi lebih terluka membaca Euforia yang menggambarkan kegeraman terhadap suasana yang selalu menuntut bebas lalu menodainya sendiri :
kemarin kaugugat kuasa
dan bebas kaujadikan perisai
demi vested interest
hari ini kelakuanmu semena-mena
kaugadai, tanah dan air ini
demi untuk kerajaanmu
di negeri orang
esok anarkimu menjadi-jadi
kaujual, seluruh isi negeri ini
agar kau bisa nyaman bersama makelar begundal
Itulah sekedar cuplikan dari begitu banyak puisi yang terkumpul dalam Himpunan Puisi Facebook Zulkarnain Siregar, Namun dari secuil cuplikan sudah sangat terasa kritik yang terkandung di dalamnya terhadap kehidupan kita berpemimpin, bernegara, dan bermasyarakat, bahkan juga mengenai lingkungan alamnya. Penyair menumpahkan kekesalan, kejengkelan dan kemarahannya, namun masih dalam susunan kata puisi yang wajar dan sopan.
Di sinilah terasa keutamaan penyair yang tidak calak mengumbar kata tapi mengena !
23 Nov 2011

Membaca Suara Hati Rakyat di Buku Kumpulan Puisi “Jejak Mata Pena”


Membaca Suara Hati Rakyat di Buku Kumpulan Puisi “Jejak Mata Pena”
Posted by PuJa on May 29, 2012

Tosa Poetra
Seminggu yang lalu, setelah lelah dari pagi sampai sore kerja di bengkel, saya langsung pulang. Biasanya saya jalan-jalan dulu sebelum pulang. Ya, hari itu memang diharuskan saya segera pulang, karena hari itu di rumah ada acara genduri setahun Yudistira, anak laki-laki saya yang kecil. Sampai di rumah, saya melihat ada paket di meja belajar saya, kiriman dari saudari saya yang bekerja di Hongkong. Seusai acara genduri saya membukanya, berisi buku berjudul “Jejak Mata Pena”, yang memuat kumpulan puisi karyanya dan kawan-kawannya sesama pekerja di Hongkong, saudari-saudari saya juga. Buku setebal 172 halaman yang diterbitkan oleh penerbit Abatasa, Pekalongan-Jateng pada bulan April kemarin. Buku itu memuat 102 judul puisi yang terbagi atas 6 tema yang digarap bersama oleh delapan putri Kemboja. Sedari itu “Jejak Mata Pena”, menemani kemanapun saya dan menghibur saya di sela kepusingan meneliti Karya WS Rendra. Kadang saya jadi tersesat sehingga tidak dapat keluar dari buku itu untuk kembali ke note-book karena terlalu asik membacanya.
Sungguh indah para putri Kemboja menyusun tiap larik kata, semua tema yang disuguhkan menarik dan sungguh menggoda ingin untuk menulis dan mengatakan ketertarikan saya dengan memberikan apresiasi dengan cara dan pemahaman saya. Namun karena terbatasnya waktu, dalam kebingungan saya memilih mau menulis tentang yang mana, saya akhirnya memilih mengapresiasi dengan tema “Suara Hati Rakyat”, karena ada satu hal yang lebih saya kagumi. Pada tema tersebut mereka, para putri Kemboja, di tengah kesibukannya bekerja, masih sempat menulis, menyuarakan hatinya, suara-suara hati rakyat, yang itu sungguh menunjukkan keperdulian mereka pada Bumi Pancasila. Saya dapat mengira-ngira betapa sibuk mereka bekerja, dan hanya menulis itu hiburan mereka, yang tentunya dilakukan dengan mencuri-curi waktu dari majikannya, sebab dari cerita seorang saudari di sana, majikan ada yang tidak memperkenankan mereka memakai HP, sehingga mereka terpaksa menyembunnyikan HP.
Memang ada juga majikan yang memberikan kemudahan, memperbolehkan pakai HP bahkan memakai laptop, selama dapat mengatur waktu dan tidak mengganggu pekerjaan. Saya dapat membayangkan betapa susah perjuangan hidup mereka di sana. Seorang menceritakan pada saya kalau pagi dia cuma cuci muka, mandi sehari sekali, itu pun mandi tengah malam sambil membersihkan kamar mandi seusai majikannya mandi. Ya karena katanya di sana susah air, air mahal. Tidur mereka di sana pun susah, tak ada kamar kusus buat mereka, memang disediakan dipan sederhana, tapi tempatnya di ruang tamu, maklum karena di sana rumah kecil-kecil karena sempitnya tanah, itu pun di apartemen. Bahkan dari salah satu puisi di dalam buku “Jejak Mata Pena”, saya melihat ketika “Babu Mencubit Presiden”, dan menanyakan pada Presidenya, apakah akan tega jika anak yang di sayanginnya tidur di sudut ruangan, berbantal sapu dan berselimut kain pel. Oh, sungguh memilukan perjuangan mereka, namun mereka iklas melakukannya untuk orang-orang yang disayanginya di kampung halaman, untuk masa depan.
Satu hal yang menggelitik saya, mereka saja yang jauh di sana, yang seakan terpenjara, masih dapat menyuarakan suara hatinya, suara hati rakyat? Bagaimana dengan kita yang bebas di negeri yang katanya telah merdeka sejak tahun 45? Tidakkah kita juga bisa memiliki kepedulian seperti mereka? Apakah pemimpin negeri ini perduli pada mereka? Pada suara mereka? Dan tidak cuma sibuk menghitung devisa.
Saya mendengar. Minggu, 20 Mei nanti, buku tersebut akan diloncing di Victoria, sebuah taman di Hongkong. Louncing tersebut di-isi dengan bincang-bincang sastra dan baca puisi. Ah sungguh menarik sekali, dapat bertemu para pejuang dan penyair, dapat mendengar penuturan proses kreatifnya dalam menulis, dapat menjabat tangan mereka yang halus, melihat wajahnya yang cantik-cantik dan senyumnya yang sumringah. Mungkin jika saya ada di sana saya juga akan berpartisipasi membacakan dua atau tiga judul puisi, memberikan komentar sederhana, kemudian meminta tanda tangan dan foto bersama. Sayang terlalu mahal bagi jazad seorang kuli untuk menjangkau Victoria, untuk menjangkau jemari para putri Kemboja yang suci. Ya mungkin suara saya dapat menjangkau pesta mereka, setidaknya tulisan saya ini dapat menjangkau kesucian hati mereka, sebagaimana suara hati mereka telah menjangkau jiwa saya dan sebagaimana pena mereka telah meninggalkan jejak di hati saya.
Mungkin baiknya saya tidak terlalu ngelantur kemana-mana, sudah hampir dua halaman saya cuma berkelakar, padahal 17 suara hati rakyat harus saya baca dan ceritakan ulang dengan gaya bahasa saya. Tuhan menciptakan segalanya berpasangan, siang-malam, matahai-bulan, lelaki-perempuan, demikian pula baik-buruk. Dari 17 judul yang ada pada suara hati rakyat, jika kita mencari kekurangan, pasti ditemukan kekurangan itu entah sekecil apa, tapi bukankah kita hendaknya memandang orang lain dari segi positifnya, bukan dari negatifnya saja? Toh kesempurnaan hanya milik-Nya. Ya mungkin kekurangan itu juga harus dikatakan, tetapi bukan untuk menjatuhkan, melainkan memberikan masukan untuk periode yang akan datang agar dapat lebih baik. Ah rupanya dua halaman A4 sepasi 1,5 Timesnewroman 12, telah benar-benar saya habiskan cuma untuk berkelakar, ya semoga tidak menjadikan bosan membaca tulisan saya ini, seperti saya juga tidak pernah bosan membaca karya kalian.
17 suara hati rakyat itu dimulai pada halaman 71, cukup unik dan filosofis. Apakah jumlah 17 itu merupakan simbol kemerdekaan sebagaimana negara Pancasila merdeka pada angka 17, simbol ketaatan sebagaimana jumlah rekaat dalam sehari semalam yang wajib kita tunaikan. Apakah angka 71 merupakan pernyatan bahwa mereka bertujuan satu. Sungguh indah dan tentu hal itu sudah dirancang dengan mapan. Ah, mari melangkah saja membaca surat pertama, surat pada Presiden yang ditulis Rahma. Di sana dia mengatakan dia bukan srigala rimba yang mencari mangsa, dia tidak se-elok kepala kelinci, juga bukan peri, dia hanya kucing rumahan, hanya babu, hanya marmut kecil tapi tidak takut mengingatkan Presidennya agar melihat berapa jumlah TKI yang mati digantung dan menderita disiksa, agar tidak hanya menghitung devisa, agar mau melakukan pembelaan. Pada halaman kedua Rahma mengajak berjuang untuk merebut keadilan dari para manusia bertopeng, manusia bertopeng tentunya adalah para pemimpin yang berkedok baik, mengatakan bermaksud baik, tapi untuk memudahkan dirinya sendiri menumpuk kekayaan.
Pada halaman 73, saya melihat Luluk mendengar rintihan kelam dari lorong sepi di ruang tunggu yang berkata ”Aku adalah sampah, najis dan tiada guna”, kemudian Luluk mencari tahu dan bertanya, siapakah itu? (Mungkin itu adalah aku dan dia Luk!). Di halaman 73 Luluk melihat genduri di ruang diskusi, dan menanyakan apa yang terjadi? Ah kurasa kau tahu pa yang terjadi Luk!. He he he, kritik pedas pada bapak DPR yang tidur, yang melamun saat sidang. Pada halaman 75, Luluk melihat tumbal kedudukan? Ah, memang harus ada tumbal Luk! Harus ada korban, sayangnya yang jadi korban anak-anak kecil, rakyat kecil dan para pemimpin telah lupa ketika mereka mengais suara dari tempat-tempat kumuh untuk mendapatkan kedudukannya (seperti yang kau katakan).
Pada halaman 77, saya melihat bagaimana para pahlawan devisa menggenggam erat sekeping rasa dan jiwanya yang gersang berkelana, sementara para serigala negeri mencari kepuasannya sendiri, kenyang perutnya sendiri, lidah meraka basi, cuma obral janji. Dan, pada halaman 76, Asrti mengatakan tentang kobar kebebasan, bahwa pada bulan Desember telah berpulang Sondang Hutagalung, mengharumkan nama bangsa, tetapi para pemimpin negeri sibuk menghitung aset. Sayangnya saya belum sempat mencari tahu siapa sondang Hutagalung, dan lupa peristiwa yang terjadi di Jakarta akhir tahun lalu. Pada halaman 79 saya melihat penderitaan Yulia yang demi meraup dolar, mendapatkan cacian dari majikan setiap hari, tapi dia rela demi pelita jiwanya. Pada halaman 80, Yulia menceritakan tentang negeri badut, yang dipimpin badut-badut berdasi, negeri dagelan-negeri fantasi, dimanakah negeri itu? Tentu di negeri yang pemimpinnya hanya mengobral janji.
Pada halaman 81, Adhe memberikan kritikan pada pengadilan yang dapat direkayasa dengan uang, ketika penguasa yang bersalah hukumannya tak seberapa, tapi ketika rakyat kecil yang bersalah hukumannya melimpah. Adhe menuntut pada pemerintah agar menghentikan pembangunan gedung bertingkat tanpa manfaat, saya ingat Desember tahun lalu, pemerintah sibuk memikirkan pembangunan toilet gedung dewan. Adhe mengingatkan bahwa pembangunan jalan lebih penting, gedung sekolah lebih penting, banyak sarana dan prasarana lain yang rusak karena bencana bertubi-tubi di negeri ini, mulai Merapi, Mentawai, Gempa bumi dan sunami. Adhe menuntut pembangunan jalan, jembatan dan sekolah, agar dapat kesekolah lancar, agar anak-anak dapat pintar, sebab anak-anakk yang akan meneruskan perjuangan bangsa.
Pada halamman 84, Lintang mencubit Presiden, sebelunya dia mencubit dengan puisi, kemudian mencubit dengan aksara yang ditulis di selembar tisu dapur. Dia menceritakan bahwa para BMI rela meninggalkan anak, suami dan orang tua dan sebaliknya untuk masa depan, terakhir dia ingin melanjutkan luahan hatinya, tapi dia masih mau mengelap panci dan wajan, agar besok dapat memasak untuk majikan yang memberi makan, makan untuknya dan keluarganya di kampung. Pada halaman 85, Lintang menyuruh melihat dan mendengarkan teriakannya yang siap mencabik kebohongan, dan jika masih saja berdusta dia akan meninggalkan bisa demi membela nasib. Mengingatkan pemimpin agar berlaku jujur, juga mengingatkan para pembaca berlaku jujur. Ya, tak baik menyimpan dusta, kejujuran harus dikatakan walau menyakitkan, kita harus berkata jujur walau harus hancur.
Pada halaman 87, Lentera mengatakan kemarahannya melihat keserakahan para pemimpin, Lentara menanyakan: dimana mata para pemimpin? Tidakkah melihat rakyat sekarat dan melarat, sementara mereka cuma duduk manis ketika rapat. Dan pada halaman 88, Lentera mengawali suratnya dengan menceritakan dirinya yang mencari rezeki jauh dari keluarga, tapi para penguasa bagaikan lintah yang terus menghisap darah rakyat tak perduli rakyat semakin terkapar dan lapar. Kemudian menanyakan dimana nurani mereka? Dan Lintang mengingatkan bahwa kelak semua akan diperhitungkan dan mendapat balasan.
Pada halaman 89, Mei menulis surat untuk tuan budiman, yang berbaju mewah dan berdasi, tinggal di rumah mewah, bermobil mewah dan uangnya melimpah yang itu didapat dari menguras keringat rakyat, kemudian Mei mengingatkan pada janji mereka, bahwa mereka adalah pemimpinnya, penghulu birokrasi dan penentu nasib rakyat, kemudian Mei menanyakan tentang kehormatan bangsa yang dihina bangsa lain. Lalu mengajak bekerjasama agar dapat terlaksana apa yang diamanahkan. Dan terakhir berpesan agar tidak membiarkan hati bersifat jahanam. Ya, semoga hati pemimpin kita tidak jahanam dan hati kita juga tak jahanam, sebab jahanam tinggalnya kelak di neraka jahanam. Pada halaman 91, halaman terakhir dari suara hati rakyat, Mei menuliskan suara rakyat, mengingatkan pada para penjilat harta negeri bahwa kelak akan datang karma.
Demikan apa yang dapat saya baca, saya mengerti dan saya raba secara sederhana. Dan sebuah karya yang berkualitas adalah karya yang meskipun berulang kali di baca, di kaji akan di dapatkan temuan-temuan baru. Karya-karya pada Jejak Pena menyediakan berbagaimacam tema dan hal lain untuk dikaji, baik dari segi struktural maupun isi. Dari gaya bahasa, rima, citraan, religiusitas, nilai-nilai agama, nilai pendidikan, cinta kasih, pemberontakan dan sebagainya. Terakhir saya katakan bahwa saya membenarkan bahwa penulis pada Jejak Pena Telah berhasil menulis sebagaimana hal yang saya tahu: penulis akan menulis dengan hal yang tidak jauh dari dirinya, mereka dekat dengan lap dan panci maka hal itulah yang mereka jadikan sebagai diksi. Dan mereka telah berhasil menyuarakan suara hatinya, suara rakyat, suara untuk para pemimpin, untuk keluarga, untuk orang-orang tercinta juga untuk masyarakat, agar dapat diambil hikmah, pelajaran dan manfaat.
Dengan membaca Jejak Mata Pena karya para puteri Kemboja, kita juga dapat banyak tahu dan merasakan penderitaan yang mereka rasakan, menjadikan kita dapat semakin mendewasakan pikir dan lebih arif serta bijak dalam meniti jalan kehidupan yang kita pijak. Mohon maaf atas kesalahan, baik penulisan, maupun penafsiran. Lima halaman telah saya habiskan. Terakhir, izinkan saya memetik dari hal yang ada pada pena. “di negeri badut, tak kan pernah terhenti tarian mata pena selaras retas harap wujudkan asa sebab api itu masih menyala, dan terus menyala”. Sukses buat Jejak Mata Pena. Salam sastra budaya.
Surabaya, 18 Mei 2012

Thursday, 24 May 2012

Absurditas yang Menggairahkan


Absurditas yang Menggairahkan
Posted by PuJa on May 24, 2012
Firman Venayaksa
http://www.jurnalnet.com/

PENGALAMAN membaca Payudara memang sungguh menggairahkan. Apalagi dengan kesadaran di depan bahwa yang kita baca merupakan karya sastra yang berdimensi filsafat, tentu akan menambah gairah kita dalam menyelami simbol-simbol filosofis yang memang banyak sekali menyapa kita di dalam novel tersebut. Pertama-tama gairah itu muncul ketika kita langsung disergap oleh kejutan-kejutan absurd dalam setiap fragmen. Di situ, mau tak mau, kita langsung berfantasi dalam cerita, sebab kita akan segera memasuki sastra fantasi dari Chavchay Syaifullah. Seterusnya kita dipancing untuk serius menafsirkan muatan-muatan filsafat di dalamnya.
Payudara dimulai dengan kisah Sakti, tokoh utama novel, yang berusaha keras untuk menyatakan cintanya pada Payudara, dokter jiwa si Sakti sendiri. Namun, usaha menyatakan cinta itu tak kunjung terjadi atau dengan kata lain bahwa cinta Sakti tak terbalas, entah karena memang faktor eksternal yaitu bahwa tak mungkin bagi Payudara mencintai pasiennya sendiri, ditambah bahwa dia sudah punya suami dan empat anak, atau karena faktor internal yaitu bahwa Payudara sendiri memang tidak cinta sama Sakti. Akhirnya Sakti jatuh gila!
Potret kegilaan novel filsafat Payudara terlukiskan bahwa peristiwa ketaksadaran manusia bisa terjadi secara menegangkan, namun bisa juga penuh dengan humor. Chavchay Syaifullah di sini sungguh lincah memainkan dan menghubungkan kisah-kisah unik yang tidak masuk akal, sampai kemudian kita bisa menerimanya sebagai cerita yang membawa hikmah maupun ajaran-ajaran filosofis.
Selain Sakti dan Payudara, tokoh lain yang tak kalah menariknya adalah Bayu, seorang mantan dokter jiwa yang menjadi gila dan Isabela, setan perempuan cantik, yang kemudian menikah dengan Bayu. Pertemuan antara Bayu dan Isabela dimulai ketika Bayu dan Sakti mencoba mencari makan malam, namun tersesat di dalam perkuburan umum tanpa nama. Di tengah ketakutan yang berlebihan itu, Sakti berhasil lari, sedangkan Bayu tertangkap oleh Kubri, si penjaga kubur yang dalam Payudara ternyata mampu berdialog secara mendalam tentang soal-soal filsafat dengan Bayu.
Ada hal-hal menarik dalam novel ini. Pada bab-bab sebelumnya, novel ini memakai sudut pandang orang ketiga, namun ketika menginjak bab ke-6 tiba-tiba hadir sudut pandang orang pertama, aku, sang pengarang cerita yang biasanya sembunyi di balik gaya tuturnya, secara tiba-tiba ikut nimbrung: “Sebenarnya aku tak tega juga melihat orang yang sudah begitu ketakutan. Tapi apa daya, aku tak pernah bisa menolong orang lain, apalagi orang yang dalam kesusahan. Aku hanyalah seorang pengarang. Sang pengarang cerita!”
Pernyataan ini tentu saja layak untuk kita perhatikan. Sebagai seorang pengarang cerita, sang novelis adalah sang pencipta seperti halnya tuhan, atau seperti dalang dalam setiap laku yang diperankan oleh tokoh-tokohnya. Namun, ditilik dari pernyataan tersebut, rupanya sang pengarang cerita pun tak berdaya upaya menolong tokoh yang ia ciptakan sendiri. Di sini menjadi jelas bagi kita, bahwa Chavchay Syaifullah rupanya melepaskan tokoh-tokoh ciptaannya dalam Payudara itu dengan cara begitu liar, hingga ia pun tak sanggup untuk mengontrol perkembangan watak atau karakter dari tokoh-tokohnya tersebut. Tapi justru dengan begitulah Chavchay Syaifullah mampu menghadirkan wajah eksistensialisme yang utuh, sebab pemberontakan nilai-nilai dalam Payudara pun bisa terjadi, meski harus melanggar aturan-aturan main formalisme dan rasionalisme.
Kejutan lainnya yang penting kita perhatikan adalah leburnya antara manusia dan setan. Kisah ini dimulai dengan ikatan pernikahan Bayu (mewakili manusia) dan Isabela (mewakili setan), yang berujung pada meledaknya Revolusi Kebudayaan di mana mereka hendak mendirikan negara baru bernama Saiba. Sungguh proses penceritaan Chavchay Syaifullah di sini terhitung menyentak hati dan pikiran kita. Sesekali kita dibuat tegang, sesekali kita diajak tertawa. Maka dengan itu pula, seperti pernah dikatakan A Teeuw, bila pembaca dihadapkan pada ketegangan yang dimunculkan dari kenyataan yang dikenalnya dan yang tidak dikenalnya, maka di situlah sesungguhnya rasa keingintahuan pembaca muncul, dan dengan demikian muncullah potensi kenikmatan pembaca.
Setelah panjang lebar kita diajak memasuki dunia ketaksadaran Sakti, di akhir cerita Chavchay Syaifullah memenuhi janjinya sebagai penulis handal, yaitu memberi kesan yang mendalam atas problem kesadaran manusia. Dua sampai tiga bab terakhir, penceritaan menitikberatkan pada nilai kesadaran. Sakti yang lama larut dalam kegilaan pun sadar bahwa kemanusiaan harus dibela. Karena itu Sakti meneriakkan kata “TIDAK!” dengan penuh daya kemanusiaannya. Sejak saat itu pula Sakti menolak segala daya di luar dirinya sendiri. Sakti hanya ingin menjadi diri sendiri yang sejati, meski ia harus menjadi tukang sampah!
Pernyataan keras Sakti dengan kata “TIDAK!” merupakan titik tolak kembalinya segumpal kesadaran dalam diri Sakti yang selama ini ia cari. Keputusannya untuk menjadi tukang sampah adalah kelihaian Chavchay Syaifullah untuk menciptakan simbol tanpa mengurangi esensi makna yang ingin disampaikannya kepada pembaca. Hanya menurut dugaan saya tukang sampah di situ bisa saja berarti wartawan atau relawan pada sebuah LSM, sebab dilukiskan di situ bahwa kerja tukang sampah yang diperankan Sakti adalah mencatat korban-korban keganasan politik negerinya, seperti terungkap di bukit-bukit tengkorak, di bumi Aceh sana.
Novel Payudara diakhiri dengan pertemuan antara Sakti dan Payudara. Namun pada pertemuan itu Payudara tidak lagi berprofesi sebagai dokter jiwa, sebab memang profesi itu sudah dibuangnya jauh-jauh. Payudara sudah tidak lagi percaya pada kekuatan teori-teori yang berpangku pada rasio. Dari pertemuan itu, Sakti dan Payudara bersepakat untuk menikah. Karena kerinduan dan rasa cinta keduanya tak terperikan lagi, akhirnya upacara pernikahan Sakti dan Payudara hanya terjadi di dalam hati yang dingin, di atas sebuah kapal laut, di tengah perjalanannya menuju bumi Aceh.
Payudara karya Chavchay Syaifullah ini, menurut hemat saya, begitu hebat dalam menampilkan nilai-nilai kebaruan yang eksotis, setidaknya ketika kita diajak untuk melihat dunia dengan sudut pandang yang sama sekali berbeda. Selain itu, Chavchay Syaifullah harus dikatakan berhasil dalam menjalin kejutan-kejutan yang mengguncang pikiran kita, agar kita mau selalu berpikir ulang tentang eksistensi kita sebagai manusia. Selamat membaca! ***
- Penerbit : Melibas, Jakarta
- Cetakan : Pertama, Agustus 2004
- Tebal : 235 hlm (termasuk Pengantar Penerbit)
*) Firman Venayaksa, Mahasiswa Pascasarjana UI, Depok, pada Fakultas Ilmu Budaya. /23/11/2004

Memotret Aceh dengan Logika


Memotret Aceh dengan Logika
Posted by PuJa on May 18, 2012
Judul : Aceh; Sejarah, Budaya, dan Tradisi
Penulis : Prof. Dr. Amirul Hadi, MA
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tahun terbit : Desember 2010
Ketebalan : xviii+319 halaman
Peresensi : Sehat Ihsan Shadiqi *
http://blog.harian-aceh.com/

ADA seorang teman mengatakan, Aceh adalah ladang ilmu sosial. Konflik, Syariat Islam, Tsunami, perdamaian dan kebangkitan pemerintahan adat, menjadi topik yang tidak habis-habisnya untuk diteliti. Namun ternyata tidak hanya itu, Aceh juga ladang ilmu Sejarah.
Meskipun sudah muncul ratusan buku mengenai Aceh dalam sejarah, namun ketika dibaca ulang, ditulis lagi, ditampah berspektif baru, data baru, logika baru, sejarah Aceh semakin hidup dan menjadi sangat menarik. Bahkan ia menjadi sangat relevan dengan kehidupan Aceh kontemporer. Nah, inilah yang dilakukan oleh Prof. Dr. Amirul Hadi, MA. dalam buku terbarunya: Aceh; Sejarah, Budaya dan Tradisi, terbitan Yayasan Obor Indonesia, Desember 2010.
Berbeda dengan banyak buku sejarah Aceh yang merunut Aceh dari masa ke masa secara periodik, atau mengambil satu tema penting saja dalam sejarah, dalam buku setebal xviii+319 halaman ini, Prof. Amir memetakan sejarah Aceh dalam tema-tema besar utama. Ia memilih beberapa isue kunci dalam sejarah Aceh yang kemudian ketika dielaborasi mampu menunjukkan kondisi historis Aceh pada masa tersebut.
Kondisi historis ini kemudian dijelaskan dengan memasukkan perspektif logika sejarah sehingga pembaca mendapatkannya sangat hidup dan logis. Pokok-pokok sejarah tersebut ketika dihubungkan menjadi sebuah periodesasi sejarah Aceh yang terjadi sejak 500 tahun yang lalu.
Saya membagi buku yang memiliki sepuluh bab pokok ini ke dalam tiga periode sejarah Aceh; Aceh klasik, perang Aceh, dan Aceh kontemporer. Dalam bagian pertama, Prof. Amir menyuguhkan enam topik sejarah yang menurut saya adalah tonggak-tonggak utama dalam memahami sejarah Aceh. Ia memulai dengan dampak pendudukan Postugis di Malaka terhadap kebangkitan kerajaan Aceh Darussalam.
Berbeda dengan banyak daerah lain di Nusantara yang justru hancur di tangan Portugis, atau setidaknya tunduk di bawah pemerintahan Postugis, Aceh justru menjadikan kehadiran Portugis sebagai momen untuk bangkit. Berbagai persaingan dengan bangsa penjajah ini menjadikan Aceh lebih tegar dan kuat, menyiapkan diri dalam berbagai bidang untuk menghadapi konfrontasi dengan penjajah. Prof. Amir melihat kehadiran Portugis adalah stimulus penting untuk bangkit dan bersatunya kerajaan-kerajaan kecil di Aceh dalam sebuah kerajaan besar yaitu Aceh Darussalam.
Topik yang tidak kalah penting dalam melihat Aceh klasik adalah sosok “Rumi Melayu” yang semi misterius; Hamzah Fansuri. Dalam 23 halaman Prof. Amir menunjukkan bagaimana dialektika pembicaraan sejarawan mengenai Hamzah Fansuri, dan bagaimana Hamzah menempatkan diri dalam kerajaan Aceh Darussalam. Masalah paling penting adalah, kapan Hamzah hidup? Pada masa iskandar muda atau sebelumnya? apakah ia pernah menjadi “Syaikhul Islam” di istana kerajaan Aceh?
Meskipun dalam konklusi akhir bagian ini Prof. Amir tidak memberikan sesuatu yang baru dibandingkan apa yang sudah ditulis beberapa sejarawan lain, namun dari dialektika pembahasannya pembaca akan lebih paham mengenai Hamzah Fansuri. Ada sejumlah kontroversi yang terjadi di kalangan ilmuan, dan Prof. Amir menatanya dengan apik dengan logika sejarah hingga Hamzah benar-benar menjadi makhluk historis.
Lalu dari mana kita mengetahui berbagai peristiwa dalam sejarah kerajaan Aceh? Ini pernting agar sejarah tidak sama dengan mitos dan tahayul. Untuk ini Prof. Amir menunjukkan salah satu sumber penting sejarah Aceh yaitu Tajussalatin. Meskipun Tajussalatin bukan sepenuhnya karya sejarah, namun ia telah memberikan informasi kunci mengenai berbagai peristiwa historis yang kemudian dapat dielaborasi dengan menggunakan karya-karya sejarah yang lain.
Dalam Tajussalatin misalnya dijelaskan mengenai perayaan hari besar Islam di kalangan istana Aceh, bagaimana raja datang dan apa yang ia lakukan di Mesjid Raya Baiturrahman. Dengan melakukan elaborasi yang lebih panjang, jelas kita bisa masuk ke dalam kehidupan masa klasik Aceh tersebut.
Sebuah topik lain yang saya yakin tidak akan habis-habisnya dibincangkan sepanjang masa adalah masalah kontroversi pemerintahan perempuan di kerajaan Aceh Darussalam. Hal ini terkait dengan hegemoni ulama Makkah yang saat itu menjadi sentral fatwa perkara yang terjadi dalam masyarakat Islam di Nusantara.
Dengan mengizinkan kepemimpinan perempuan pada abad XVII, sesungguhnya ulama Aceh telah membangun tradisi fiqh politik sendiri. Namun demikian ulama pula yang menjadikan kepemimpinan perempuan di Aceh jatuh. Prof. Amir menduga di sini ada faktor “kewibawaan” ulama. Abdurrauf As-Singkili (Syiah Kuala) yang mendukung perempuan menjadi sultan mampu mempertahankan pendapat itu selama 49 tahun.
Namun setelah beliau wafat, ulama-ulama lain tunduk pada mazhab Mekkah dan tidak mampu berkutik. Akhirnya kepemimpinan perempuan dihentikan, dan diganti dengan sultan laki-laki meskipun mereka memiliki track record yang buruk.
Bagian lain yang sangat menarik dari buku ini adalah pembahasan mengenai Tradisi Intelektual di Aceh tempoe doeloe. Hal ini terkait dengan posisi Aceh sebagai negara kosmopolit yang menjadi center for islamic studies. Banyak sarjana luar yang datang ke Aceh untuk membina karir di sana. Ini menyebabkan wacana keilmuan sangat dinamis dan kaya. Apalagi pemerintah Aceh memberikan dukungan yang kuat untuk kemajuan pengembangan keilmuan tersebut. Sesuatu yang sangat berbeda dengan apa yang kita saksikan di Aceh saat ini.
Bagaimana dengan aspek hukum islam? Ini adalah pertanyaan yang penting. Di tengah klaim kebanyakan masyarakat Aceh saat ini bahwa Islam pernah jaya dalam sejarah Aceh, Prof. Amir -berdasarkan data-data sejarah- justru mengatakan bahwa hukum yang dilaksanakan di Aceh pada abad XVII adalah komposite, dalam arti terdiri dari berbagai elemen.
Oleh sebab itu hampir tidak bisa dibedakan antara hukum yang ada dalam fiqih Islam dengan hukumm adat. Namun jelas dari sisi kenegaraan secara resmi Aceh menggunakan hukum Islam, namun raja sebagai law maker sering juga membuat hukum sendiri yang dapat kita kategorikan sebagai hukum adat. Bahkan tidak jarang hukum yang dibuat oleh raja sama sekali tidak ada dalam fiqh Islam.
Dalam dua bab selanjutnya Prof. Amir membahas mengenai perang Aceh dengan Belanda dan kontroversi mengenai peran penting Christiaan Snouck Hurgronje di Aceh. Perang melawan Belanda dalam sejarah Aceh merupakan perang melawan kafir, dan hal ini dikategorikan sebagai jihad fi sabilillah.
Awalnya jihad ini dikomandoi ulama dan pemerintah. Namun ketika kekuasaan kerajaan di Aceh melemah, maka yang terjadi adalah perang rakyat dan munculnya raja-raja ke kecil di berbagai wilayah. Perang rakyat ini membuat Belanda tidak pernah benar-benar bisa berkuasa dengan aman di Aceh. Hurgronje adalah salah seorang yang penting dalam masa perang rakyat ini.
Sebagai seorang antropolog yang tahu banyak mengenai Islam, ia telah menjadi agen yang sangat cerdas untuk membantu pemerintah Belanda memecah-belah pertahanan masyarakat Aceh. Bahkan pembunuhan massal di Gayo Luwes yang dilakukan Van Dallen tidak terlepas dari peran Hurgronje.
Bagaimana dengan Syariat Islam dalam sejarah Aceh? Prof. Amir dengan tegas mengatakan Syarat Islam memiliki akar sejarah yang kuat dalam sejarah Aceh. Namun, ia mengingatkan bahwa Islam yang ada di Aceh masa lalu adalah perpaduan antara dimensi keislaman, keacehan dan kesadaran kawasan. Dimensi terakhir ini memungkin Aceh tumbuh sebagai sebuah inperium di kawasan Melayu.
Namun kondisi ini berubah saat terjadi perang Belanda hingga Aceh menjadi bagian dari Republik Indonesia. Syariat Islam yang sejatinya memiliki dimensi lokal dan global direduksi pada tatanan formalitas fiqh yang kaku sehingga jelas tidak memberikan dampak bagi penyelesaian persoalan sosial di Aceh.
Apa yang menjadi tesis akhir dari rangkaian tulisan Prof. Amir adalah, sejarah Aceh saat ini lebih banyak berupa sebuah “ingatan sosial” dibandingkan dengan “kesadaran sejarah”. Dengan kenyataan ini maka sejarah di Aceh berubah menjadi sebuah romantisme dan menjadi ajang bernostalgia bagi mereka yang tidak kreatif. Kondisi ini tentu saja menjadi presenden buruk dari sisi pengembangan keilmuan dan pengambangan masyarakat di Aceh. Mereka akan terbuai dengan mistifikasi masa lalu yang sama sekali tidak mendorong untuk proses perkembangan peradaban Aceh masa depan.
Maka dalam konteks ini pula Prof. Amir menekankan pentingnya “Kesadaran Sejarah” diletakkan di atas “Ingatan Sosial” sebab hanya dengan begitu fakta sejarah mampu meberikan kontribusi positif dalam kehidupan kita saat ini. Dalam kontkes ini pula buku ini menjadi bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin mengenal Aceh dengan baik.[]
*) Sehat Ihsan Shadiqi, Mahasiswa Doktor Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta /30 January 2011

Sastra Religius dan Kearifan Agamawan


Sastra Religius dan Kearifan Agamawan
Posted by PuJa on May 18, 2012
Judul buku : Sastra dan Agama: Tinjauan Kesusastraan Indonesia Modern Bercorak Islam
Penulis : Marwan Saridjo
Penerbit : Yayasan Ngali Aksara bekerjasama penerbit Penamadani, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2006
Tebal buku : xxiv + 314 halaman
Peresensi : N. Mursidi *
Jawa Pos, 25 Feb 07

SASTRA dan agama adalah dua entitas yang berbeda. Tetapi dua entitas itu –tak bisa ditepis– membawa misi dan pesan yang sama. Keduanya, boleh dikatakan sama-sama membawa misi kebenaran, kebajikan dan keadilan. Tak pelak, ketika kedua entitas itu “bersinergi” dalam satu derap langkah yang kemudian terangkum dalam sastra religius, maka akan berkelindan dan memainkan peran yang tak saja meneguhkan keimanan, melainkan juga membangun harmonisasi ulama dan sastrawan.
Tapi kelindan misi sastra dan agama dalam “panggung sejarah” kesusastraan Indonesia –juga kesusastraan dunia- ternyata tidak selamanya suci dari centang perantang. Tak sedikit sastra kemudian dijadikan alat (wahana) untuk menghujat dan mengolok-olok agama tertentu, semisal Islam. Kasus yang menghebohkan setelah terbitnya cerpen Langit Makin Mendung karya Kipanji Kusmin setidaknya menjadi bukti akan perbedaan sudut pandang dalam melihat prinsip-prinsip agama pada satu sisi, dan kebebasan berkreasi dalam “menggelontorkan” imajinasi pada sisi yang lain.
Dengan kerangka hermeneutika, Marwan dalam buku Sastra dan Agama ini berusaha merekam pergumulan antara prespektif sastra pada satu sisi dan prespektif dogmatis- normatif (agamawan) pada sisi yang lain. Tak salah, jika dengan pendekatan itu Marwan tak menggegam dogmatisme yang fanatik meski ia dikenal sebagai pemimpin sebuah pesantren, melainkan berposisi sebagai pengkaji yang tidak berusaha menempatkan agama (Islam) dan sastra sebagai dua kenyataan yang terpisahkan.
Dalam kaca mata Marwan, sejak tahun 60-an, sastra keagamaan yang bercorak Islam tak saja mendapat perhatian besar dari kritikus, melainkan juga kerap kali mengundang polemik (kontroversi). Salah satu karya yang cukup heboh karena dianggap menghina Islam (karya profan) adalah Langit Makin Mendung (Kipanji Kusmin). Karena tuntutan Deparemen Agama, yang menilai Langit Makin Mendung itu menghina Islam, maka HB. Jassin (sebagai penanggung jawab) yang menerbitkan cerpen itu dihadapkan di pengadilan. Meski tak seheboh Langit Makin Mendung, karya “profan lain” yang masuk dalam buku ini bisa disebut; Asrar al-Arifin (Hamzah Fansuri), Man Rabbuka (AA. Navis), Midah Si Manis Bergigi Emas dan Sekali Peristiwa di Banten Selatan (Pramoedya), Si Kampeng, Si Sapar, dan Sayang, Ada Orang Lain (Utuy Tatang Santani).
Menurut Marwan, kurangnya wawasan (apresiasi) ulama tentang sastra, membuat ulama kerap melihat negatif terhadap sastra. Karena itu ia menyesalkan karya Hamzah Fansuri yang diartikan syirik. Adapun untuk Langit Makin Mendung, Marwan menilai karya itu bukan menghina Islam, hanya cara yang dipakainya cukup vulgar. Hal itu berbeda dengan Man Rabbuka, juga karya “dua pengarang Lekra” (Pram dan Utuy) yang menurut Marwan jelas bernuansa komunis (anti-Islam).
Selain sastra profan, “sastra religius” lain yang mengundang polemik adalah sastra bertemakan adat yang dipertentangkan dengan nilai-nilai Islam. Meski Marwan melihat roman-roman sebelum perang lebih didominasi tema adat (kawin paksa), semisal Siti Nurbaya (Marah Rusli), “Memutuskan Pertalian” dan Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Nan Sati), Pertemuan (Abbas Pamundjak), Salah Pilih (Sutan Nur Iskandar), tapi pengarang buku Bulan Sabit di atas Kening (2003) ini melihat keberhasilan Hamka yang cerdas melakukan “perombakan adat”. Berbeda dengan pengarang lain yang berusaha merombak “adat” dengan pemikiran Barat, Hamka –melalui Tenggelamnya Kapal Van de Wijck, serta Di Bawah Lindungan Ka`bah– dilihat Marwan menilik “syarak” yang berdasarkan kitabullah sehingga bercorak Islam.
Sedang polemik lain dari sastra religius dalam buku ini bisa dilihat dari spirit pembaruan Islam dalam melawan paham ortodok. Robohnya Surau Kami, dan Kemarau (AA. Navis), Perjalanan ke Akherat (Djamil Suherman) dan Persetujuan dengan Iblis (Muhammad Ali), dinilai Marwan bukanlah karya sastra menggugat agama, tapi lebih pada “gugatan paham keagamaan” yang semata-mata lebih mementingkan ibadah semata. Padahal, Islam juga menganjurkan umat untuk shaleh secara sosial.
Selain menelaah karya sastra keagamaan yang mengundang pelemik seperti cerpen, drama dan novel, Marwan mengulas juga puisi-puisi religius. Dalam telaah Marwan, ada dua sastrawan yang cukup representatif, Taufik Isma`il dan Bahrum Rangkuti. Karena dalam puisi Taufiq, di mata Marwan, terlihat sebagai refleksi dzikir. Meski kuat nuansa pemberontakan yang dihembuskan Taufiq (melaui Tirani dan Benteng), tetapi pemberontakan itu mengajak kebajikan, menentang kemungkaran –dan hal itu sejalan dengan moral Islam.
Lain dengan Taufiq, di mata Marwan, Bahrum Rangkuti (melalui puisi) berusaha menampakkan wajah Tuhan di muka bumi. Kerja sosial Bahrum yang memungut orang di pinggir jalan kemudian diasuh –seperti yang dikisahkan dalam puisinya– adalah refleksi sosial amal sebagai bentuk belas kasih Tuhan yang ia bumikan sebagaimana ditulis Bahrum dalam puisi “Lebaran di Tengah Gelandangan”.
Sebagai catatan, buku ini adalah “ulasan cukup komprehensif” tentang sastra keagamaan yang memang belum banyak ditulis. Karena itu, buku ini akan menambah khazanah sejarah kesusastraan kita apalagi belum ada penulis yang secara khusus memusatkan perhatian peranan sastrawan Islam. Padahal, sejak masa Balai Pustaka sampai kini, sudah banyak sastrawan yang mengangkat tema-tema Islam.
Meskipun buku ini menfokuskan pada ulasan sastra keagamaan yang bercorak Islam tetapi ada satu bagian yang tak memiliki kaitan dengan tema yang diangkat penulis. Bagian itu adalah “puisi gelap” (atau yang penulis sebut puisi tuna rungu). Mungkin, karena ketidaksetujuan penulis yang antipati puisi gelap, menjadikan bahasan ini masuk, meski tak memiliki relevansi. Kendati demikian, pemasukan itu, tentu akan melengkapi wawasan dan apresiasi pembaca apalagi bagi mereka yang belum tahu lebih jauh tentang puisi gelap.***
*) N. Mursidi, cerpenis asal Rembang, Jawa Tengah.
Dijumput dari: http://etalasebuku.blogspot.com/2007/11/sastra-religius-dan-kearifan-agamawan.html

Perempuan Dalam Tradisi Mongondow


Perempuan Dalam Tradisi Mongondow
Posted by PuJa on May 23, 2012
Jurnal : Tijdschrift Voor Indische Taal- Land-En Volkenkunde. Deel LXXVIII
Judul Tulisan : De Plechtigheid “Waterscheppen” in Bolaang Mongondow Monajoek Polat Monondeaga
Pengarang : W. Dunnebier
Penerbit : Koninklijk Bataviaasch Genootschap Van Kunsten en Wetenschapen
Tahun Terbit : 1938

Peresensi : Rahmi Hattani
“Tonga’ adi’ bobai noloendoe-loendoek-mai i oekoe-oekoed, mangalenja: tajoekan, boeongan, tobokon, le’adan, lamba’an, boeligan
bo tombajangan in toemogogopat’) (bajang in tajoek, bajang in tobok, bajang i le’ad bo bajang i lamba’)” (W.Dunnebier).
Menjelaskan posisi perempuan dalam sejarah Mongondow, mesti dilihat dalam konteks bagaimana budaya Mongondow “mengkultuskan” perempuan, terutama pada prosesi ritual-ritual adat yang dilakukan masyarakat Bolaang Mongondow dahulu kala. Tulisan ini, merupakan sebuah tulisan etnografi yang cukup menarik, dari seorang misionaris yang ditugaskan Belanda di Bolaang Mongondow sekitar tahun 1903. W. Dunnebier yang namanya tidak lagi asing dalam kamus para akademisi Bolaang Mongondow, hampir semua tulisan mengenai Bolaang Mongondow selalu merujuk pada karya-karyanya. Kali ini Dunnebier menuliskan sebuah laporan tentang prosesi upacara adat kuno yaitu Monayuk dan Monondeaga. Tulisan berbahasa Mongondow lampau ini, berlatar tahun 1919. Jika merujuk pada sejarah dinasti-dinasti Bolaang Mongondow, maka tahun 1919 adalah masa dinasti Raja Datu Cornelis Manoppo (H. M. Taulu, 1961).
Kedua upacara adat ini (Monayuk dan Monondeaga) merupakan sebuah upacara adat yang dilaksanakan secara bersamaan pada waktu itu. Saat ini, sebagian kalangan masyarakat Bolaang Mongondow, menganggap bahwa ritual adat Monayuk dilakukan untuk mengobati orang sakit, namun dalam tulisan ini, Monayuk merupakan sebuah upacara yang harus dilakukan oleh orang tua untuk membersihkan jiwa anak-anaknya, demikian halnya dengan Monondeaga, upacara ini bertujuan menegaskan kepada diri seorang anak perempuan bahwa ia telah dewasa, dan untuk itu segala tingkah laku serta ucapannya harus senantiasa berada dalam aturan-aturan adat yang telah ditetapkan. Selain itu, kedua upacara ini dilaksanakan untuk menghormati pesan leluhur, karena dengan upacara adat inilah setiap keluarga di Bolaang Mongondow merasa telah menjaga keturunan nenek moyang mereka dengan baik.
Dunnebier, tidak menyajikan makna-makna atau penafsiran dengan menggunakan cara pandang atau teori-teori tertentu dalam tulisan ini. Tetapi Dunnebier menarasikan dengan apa adanya, mengenai, sebuah keluarga yang bukan berasal dari kalangan bangsawan yang melaksanakan kedua prosesi upacara adat Monayuk dan Monondeaga. Manoe (seorang kepala keluarga) yang pada waktu itu memiliki beberapa orang anak (laki-laki dan perempuan) berkeinginan untuk menyelenggarakan kedua upacara tersebut.
„E, akoeoi naa pinomaja’ kami toloe inta inojod, biniagmai doman ing goejanga boga’, tonga’ oempaka tonga’ totoeoe oekoed in takit i moena, eda’ kinooendaman-bi’ ing goejanga.
Sebab nion, mani’ pokioendam-pa i adi’ minta dodoejoenja nion” (hal. 3).
Demikian Dunnebier menuliskan, dalam konteks ini Manoe merasa memiliki tanggung jawab menjaga keturunannya dengan cara melakukan kedua upacara itu sebagaimana yang dilakukan para leluhurnya. Akhirnya setelah membayar denda kepada Mayor (pihak Belanda) serta Guhanga dan Bobato, ritualpun dilaksanakan. Mengingat biaya yang dikeluarkan cukup besar, maka diperoleh kesepakatan bahwa upacara tersebut dilaksanakan bersama saudaranya yang lain.
Prosesi yang memakan waktu paling lama dalam upacara ini adalah Monondeaga, sesuai namanya, upacara ini dikhususkan bagi anak perempuan yang telah memasuki masa dewasa pertama. Berbeda dengan laki-laki yang baginya hanya dilakukan upacara Monayuk saja, bagi perempuan selain Monayuk, juga disertai dengan Monondeaga. Ritual menarik selama berlangsungnya upacara ini (Monondeaga) adalah “Tobokon” atau “Monobok”, dalam tulisan ini, Monobok (tindik telinga) merupakan tahapan pertama dari Monondeaga, ritual Monobok adalah ritual memberi lubang/menindik pada telinga anak perempuan yang dilakukan oleh dua orang perempuan yang duduk disamping kiri dan kanan anak tersebut. Namun sebelum ritual tersebut dilakukan, sang anak terlebih dahulu, Ompoe-an (semacam doa dalam bahasa Mongondow).
„Ompoe’! dia’-don doman mokohaat ko inimoe, dia’-don
doman mokotongkekeb, dia’-don doman mokotombitoel, dia’-don
doman mokoboengom-boengoi ko inimoe, dia’-don doman mokonoeka-
noeka.Mokoroemba-don kom bobiagmoe,mokononoi-don
doman kong kobobiagmoe, mokolanggo’-don kong kamangmoe,
si aindon pinodoedoei nai ina’moe bo nai ama’moe kon takit i moena, atorang doengkoelon, oea’ nongkon Doemoga.” (hal. 10).
Dari salah satu ritual tersebut, kita bisa menafsirkan bagaimana masyarakat Bolaang Mongondow dimasa lalu memperlakukan perempuan. Penghargaan kepada perempuan yang tercermin dalam prosesi-prosesi adat Monondeaga ini, merupakan salah satu bukti, bahwa dalam perjalanan sejarah Bolaang Mongondow, perempuan diposisikan sebagai manusia yang keberadaannya mesti dijaga dan dihargai. Prosesi Monobok tersebut memberi pesan kepada kita bahwa setiap perempuan dalam tradisi Mongondow tidak sembarangan dalam menghias diri (fungsi dari telinga yang dilubangi/ditindik adalah untuk memakai perhiasan).
Selain Monobok, prosesi selanjutnya adalah Le’ad (meratakan gigi), saat ini prosesi Le’ad lebih sering dilaksanakan menjelang pernikahan, namun dalam tulisan ini Le’ad merupakan salah satu tahapan dalam upacara adat Monondeaga. Tradisi serupa juga terdapat pada masyarakat Bali. Sebelum prosesi ini dilangsungkan, doa-doa (Ompoe-an) tradisionalpun kembali dipanjatkan.
„Ompoe’ ! dia’ doman mokoïmbaloian
dia’ doman mokopoïmponik mokopoïmponag, dia”
doman mokodara-darag, dia’ doman mokoboengom-boengoi pinomaja’
dia’ doman mokotoïngkekeb, si aindon dinoegoe’, aindon
inoekoed podoedoei in takit i moena.”(hal. 12).
Dalam doa tersebut, kita menemukan sekaligus memahami bahwa perempuan Mongondow, mesti senantiasa menjaga tindakannya sebagai seorang perempuan yang telah memasuki masa dewasa. Sebagai perempuan yang telah disempurnakan dengan dilaksanakannya upacara tersebut. Memperhatikan prosesi upacara adat Monondeaga, yang dalam tulisan ini dilangsungkan dalam beberapa tahapan (Monobok, Le’ad, Lamba’an dan Buligan), memberi pengetahuan tersendiri bagi kita, mengenai perempuan Mongondow. Setidaknya dengan adanya upacara adat ini, semakin menegaskan bahwa tradisi Mongondow memposisikan perempuan sesuai dengan keberadaan dirinya sebagai makhluk yang memiliki peran tersendiri dalam kehidupannya. Karena itu, wajib diadakan sebuah ritual khusus untuk menyambut masa kedewasaannya.
Pada substansinya, ritual Monondeaga bisa menjadi basis kajian utama mengenai konsep gender yang kini banyak mendasarkan teorinya pada fatwa-fatwa ilmu pengetahuan modern. Bagaimanapun, ritual ini patut dikaji kembali pemaknaannya dimasa kini, ketika kaum perempuan makin melupakan pentingnya menghargai kearifan tradisi masa lalu yang begitu kaya dengan nilai-nilai kehidupan, moral, dan spiritual. Bolaang Mongondow, memiliki tokoh perempuan yang berperan penuh dalam sejarah perjalanan tanah ini. Inde’ Dou’, seorang Bogani perempuan yang berasal dari timur Bolaang Mongondow, yang oleh sebagian kalangan keberadaannya masih dianggap sebagai mitos, posisinya mesti dikaji kembali dan dijadikan spirit bagi semua kaum perempuan Mongondow, Ba’i Sopina yang dalam cerita lisan digambarkan sebagai sosok pemberani yang memimpin pasukan (menggantikan suaminya) dalam perang Pontodon juga wajib di telusuri kembali perjalanan hidupnya, demikian pula dengan Ny. Nurtina Gonibala yang perannya tak akan pernah terlupakan dalam tubuh PPI Laskar Banteng Bolaang Mongondow setidaknya pantas menjadi inspirasi bagi siapapun yang ingin membangun Bolaang Mongondow.
Untuk itu, sekali lagi basis pengetahuan perempuan Mongondow, mesti diawali dari tradisi Mongondow dan tokoh-tokoh perempuan Mongondow, dan selanjutnya direpresentasikan dalam konteks kehidupan bernegara, hingga perempuan Mongondow mampu menegaskan keberadaannya dalam peta sejarah nasional dan global tanpa kehilangan jati dirinya sebagai orang Mongondow, yang dilahirkan dari leluhur yang menghargai kaum perempuan sesuai dengan posisi dan aturan adat yang ditetapkan. Basis pengetahuan tersebut digunakan sebagai analisa untuk membaca konsep gender dan keberadaan perempuan masa kini. Dengan demikian perempuan Mongondow memiliki paradigma sendiri dalam mendefinisikan situasi kehidupan modern (yang cenderung memarginalkan perempuan) dimana ia menemui segala tantangan dalam menegaskan posisinya sebagai perempuan.
Tulisan Dunnebier ini, bisa menjadi referensi utama bagi semua kalangan yang ingin sepenuhnya mendalami tradisi dan budaya Bolaang Mongondow. Sekalipun kedua upacara yang terdapat dalam tulisan ini tidak atau jarang sekali ditemui dalam kehidupan masyarakat Bolaang Mongondow saat ini, namun Dunnebier telah menyajikan satu informasi penting kepada kita tentang kekayaan tradisi masa lalu, yang dimiliki oleh leluhur kita.
Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150818686166215

Sastra Menyimpang di Taman Eden


Sastra Menyimpang di Taman Eden
Posted by PuJa on May 24, 2012
Chavchay Syaifullah
_Media Indonesia, 6 Nov 2005

Muhidin M Dahlan kembali menunjukkan jalur kepengarangannya dengan novel Adam Hawa. Stamina menulisnya masih tetap terjaga, seperti cara berbahasanya yang tetap lugas dan mencekau bahasa prosa-puitis. Saya menduga novel ini kelak impresif bagi pembacanya karena sanggup ‘menuntaskan’cerita-cerita yang indah terbayangkan.
Dalam proses baca sastra, kenyamanan pertama justru sejauh mana sangpengarang sanggup menyandingkan spirit ceritanya dengan daya bahasa yangdihamparkan. Baru kemudian jatuh pada teknik penceritaan, isi cerita, dan (iniyang jauh lebih penting) visi. Poin akhir inilah yang kelak memegang peran kuatbagaimana cerita dalam novel bisa mengharu biru perasaan dan pikiran pembaca.
Adam Hawa dan novel Muhidin yang lain, Tuhanku, Izinkan Aku Menjadi Pelacur, dari segi capaian bahasa bisa jadi berada di bawah Kabar Buruk dari Langit–tampaknya novel gemuk ini ditulis dengan kesadaran leksikologi yang intens.
Namun, saya berani bertaruh dari sisi-sisi selain capaian bahasa, Adam Hawa lebih layak mewarisi prestasi sastra bermutu, tentu dalam kategori “sastra menyimpang”.
Seperti umumnya novel yang ditulis Muhidin adalah novel yang mengganggu pemahaman terberi atau juga status quo, novelnya Adam Hawa dengan telak memasuki wilayah sentral yang menjadi tanda tanya besar dalam sejarah peradaban manusia, yaitu tragedi awal penciptaan.
Seperti kita ketahui bahwa sejarah awal penciptaan adalah wilayah yang sulit ditembus dengan data-data yang kiranya mudah memuaskan kebutuhan manusia modern. Awal penciptaan seakan menjadi monopoli sejarah kitab-kitab suci. Tak ada data selain sumber itu, bahkan penelitian arkeologis sekalipun. Hanya dengan kepasrahan iman (dari penjelasan-penjelasan dalam kitab-kitab suci), kenyataan itu bisa kita rujuk.
Namun, Muhidin menolak untuk menerima secara cuma-cuma monopoli sejarah itu, sambil melangsungkan kenyataan status quo di mana manusia yang dirancang Tuhan sebagai makhluk yang lebih baik dari iblis, jin, dan malaikat ternyata lebih buruk kelakuannya dari binatang. Muhidin pun enggan pula langsung menunjuk Tuhan sebagai yang salah.
Karena itu, ia berusaha sekeras mungkin menelusuri proses-proses awal penciptaan dengan imajinasi yang luar biasa nakalnya. Inilah prestasi gigantik Muhidin dalam Adam Hawa. Adam Hawa membangun satu konstruksi sejarah baru dalam banyak dimensi konsekuensi.
Simaklah tafsir unik penciptaan bahwa Tuhan Yang Mahaperancang patung menyuruh Malaikat Pesolek agar dapat merayu kaum gipsi untuk membuat patung sebagaimana dirancang Tuhan dalam gulungan gambar: “Dahulu kala, segala makhluk di Negeri Kabut tahu bahwa Tuhan adalah pematung yang lihai. Juru lempung mandraguna. Darinyalah gambaran pertama sosok yang kelak dinamai Adam dibentuk pertama kali. Gambar itu lantas diserahkan kepada budak-budak gipsi untuk dikerjakan. Kaum budak gipsi adalah ciptaan Tuhan yang kurang memuaskan, yang sudah hidup ribuan tahun lamanya.” (hlm 14)
Ketika satu malaikat lengah mendengar titah Tuhan tentang penciptaan ini maka Tuhan pun berang dengan tangannya yang panjang mahapanjang meraih telinga malaikat itu dan memutarnya hingga putus. Terang saja peristiwa jewer Tuhan itu diikuti oleh erangan mengerikan, hingga malaikat-malaikat lain pun cepat tanggap dan kembali meneruskan titah Tuhan itu. Belum lagi cerita versi lain yang menceritakan kalau Adam dilahirkan dari ketiak kanan Tuhan, sampai cerita pun berisiko ekstrem.
“Baiklah, ternyata kau, ciptaanku, pilih keluar lewat ketekku yang kanan. Uh, hahahahaha. Aduh, gatal. Aduh, eh kakimu jangan kau gesek-gesekan di situ. Geli, tahu!” Tuhan lalu berjingkrak-jingkrak seperti sedang mengalami kesurupan mahakesurupan. (hlm 27)
Begitulah Tuhan menjadi kian “baru”, sebab ia berkali-kali digambarkan secara antromoforsis yang ekstrem, lewat dimensi ketubuhan yang manusiawi. Muhidin entah ia sekadar membangun kompleksitas cerita yang tak kabur, karena Tuhan di situ sudah disesuaikan dengan struktur cerita, yang karenanya tak sepenuhnya kuasa, ataukah karena Muhidin merasa perlu memprofankan Tuhan agar kebebasan manusia tetap dituntut pertanggungjawabannya sendiri, di luar Tuhan.
Lewat perspektif ini, maka Adam Hawa di mata saya mampu menghamparkan dengan amat baik misteri kehidupan sunyi di Taman Eden. Buah Khuldi, Hawa, Khabil, Munah, Maia, Idris, Marfu’ah menjadi anasir-anasir baru yang menjelaskan bagaimana manusia kelak hanya tumpukan lembar kehidupan licik-picik, dendam kesumat tanpa akhir. Novel yang sangat mengharu biru pikiran dan perasaan ini benar-benar menguji keilmuan dan keimanan kita. Inilah gangguan Muhidin atas posisi keberimanan kita atas kisah-kisah termaktub dalam kitab suci. Apalagi bila kita telusuri konflik per konflik cerita Adam Hawa.
Dengan ketangkasannya, Muhidin meletakkan konflik cerita sejak penciptaan Adam, asal usul pohon Khuldi di Taman Eden yang tak lain merupakan pikiran licik Malaikat Pesolek kepada kaum gipsi, hingga datangnya perempuan pertama di sisi Adam.
Di usianya yang kian dewasa, Adam dikejutkan oleh kedatangan sesosok makhluk yang setelah ditelisiknya secara detail memiliki 3 perbedaan darinya: memiliki payudara berputing, memek, dan leher yang indah. Maia nama perempuan itu. Muhidin menuliskannya sebagai perempuan pertama sebelum Hawa di Taman Eden. Kehausan berahi Adam sebagai pemangku kekuasaan Tuhan di kesunyian Taman Eden membuat ia berlaku habis-habisan memerkosa Maia, yang digambarkan sebagai perempuan cantik, padat, menggairahkan, namun tak pasrah di bawah kekuasaan lelaki, khususnya dalam pencapaian kenikmatan seksual. Maia tak mau disamakan dengan persetubuhan ala menjangan (rusa). Ia minta gaya persetubuhan lain, gaya persetubuhan perempuan di atas.
Tapi Adam menolak dengan alasan tak ada hukumnya perempuan dapat menyetir gaya seks lelaki. Maia berontak. Ia lari setelah meninggalkan luka di pelipis Adam dengan kaki kirinya. Dalam pengembaraannya, dendam Maia atas Adam dimulai. Adam adalah pemerkosa, putra Tuhan yang telah bertindak semena-mena. Kehadiran Maia sebagai perempuan pertama sebelum Hawa bukan saja gugatan menohok atas kitab suci, tapi sekaligus meruntuhkan semua bangunan konsep penciptaan kitab suci.
Kenakalan pengarang ternyata tak berhenti di sini saja, sebab semua detail yang dihamparkannya tak memiliki sandaran tekstual di teks mana pun, termasuk Alquran dan Perjanjian Lama.
Novel ini coba membangun konflik yang keras dan kompleks di antara dua keluarga yang dibangun oleh dua motif perempuan tanpa pretensi Tuhan. Maia yang bersuamikan Idris (adik Adam yang diusir paksa Adam) membangun keluarganya di Taman Kiram dengan dendam untuk menghabisi Adam, sedangkan Hawa membangun keluarga di Taman Eden dengan motif melangsungkan kehidupan. Maia melahirkan Marfu’ah, sedangkan Hawa melahirkan kembar Khabil dan Munah.
Hadirnya tokoh-tokoh ini bukan kebetulan belaka, tapi mempertegas rumusan cerita bagaimana pangkal masalah coba diletakkan di pundak Adam. Bagi Hawa, Adam adalah lelaki putra Tuhan yang telah berbaik hati menghadirkan dirinya di dunia (dengan tulang rusuknya), sedangkan bagi Maia penciptaan Adam adalah bukti kecerobohan terbesar Tuhan.
Tapi bagi Munah, Khabil, maupun Marfu’ah, Adam adalah putra Tuhan sekaligus musuh bersama yang wajib dimusnahkan dengan motif yang berlainan. Khususnya bagi Khabil dan Munah, Adam adalah ayah yang membosankan dan seumur hidup belum pernah mereka temukan tersenyum. Bahkan, Munah ketakutan setengah mati berdekatan dengan Adam karena takut diperkosa Adam. Beberapa kali Khabil dan Adam benturan fisik hingga Khabil terusir dari Taman Eden, yang membuat Munah menggigil kesepian.
Sementara itu, Marfu’ah yang sejak lahir dibimbing Maia dengan dendam hidup dengan tujuan tunggal; bagaimana menghabisi Adam di Taman Eden. Dendam itu makin menggumpal setelah Marfu’ah dan Maia bertemu Khabil yang kemudian menjalin percintaan aneh dan perselingkuhan purba. Hingga Maia mengetahui bahwa Khabil ternyata adalah anak Adam, dan Maia diketahui Khabil sebagai perempuan sebelum ibunya Hawa. Maia menceritakan ulang kebrutalan Adam di hadapan Marfu’ah dan Khabil, hingga diambil keputusan bersama bahwa Adam harus dibunuh dengan cara tercantik yang telah lama dirumuskan Maia. Di Taman Eden Marfu’ah memergoki Adam sedang menggantung jasad Munah setelah dua hari sebelumnya disekap dan dicekiknya.
Di Taman Eden itulah Marfu’ah merayu dan membanting Adam dengan sangat halus. Adam yang putra Tuhan mata keranjang dan haus seks itu dengan mudah menerima ajakan bersetubuh di bawah Khuldi, yang tak dinyana Adam bahwa sebilah batu runcing dipersiapkan Marfu’ah di balik pakaiannya. Di puncak berahi, Marfu’ah menikam lambung Adam. Adam mati terduduk, mengutuk sejadinya, sambil meremas perutnya yang bocor.
Inilah novel dengan ketangkasan bercerita yang baik. Impresif. Mengganggu. Berlatar sejarah. Tapi terserah Anda, sebab di mata saya, novel ini kemudian hanyalah bagian dari sebuah parodi panjang tentang awal penciptaan manusia, ketika imajinasi harus menembus batas akar sejarah umat manusia yang tak bisa mengakhiri sejarah dendamnya sendiri. Dengan mengembalikan kisah sejarah dendam ini kepada sejarah di Taman Eden, maka novel ini menjadi sebutir tafsir dari misteri tak bertuan.
Judul Buku: Adam Hawa
Penerbit: ScriPtaManent, 2005
Tebal: 166 halaman
* Chavchay Syaifullah, alumnus rabithah ali Alamsyah (arab saudi) dan sekolah tinggi filsafat driyarkara (jakarta)
Dijumput dari: http://akubuku.blogspot.com/2007/07/chavchay-syaifullah-muhidin-m-dahlan.html

Absurditas yang Menggairahkan


Absurditas yang Menggairahkan
Posted by PuJa on May 24, 2012
Firman Venayaksa
http://www.jurnalnet.com/

PENGALAMAN membaca Payudara memang sungguh menggairahkan. Apalagi dengan kesadaran di depan bahwa yang kita baca merupakan karya sastra yang berdimensi filsafat, tentu akan menambah gairah kita dalam menyelami simbol-simbol filosofis yang memang banyak sekali menyapa kita di dalam novel tersebut. Pertama-tama gairah itu muncul ketika kita langsung disergap oleh kejutan-kejutan absurd dalam setiap fragmen. Di situ, mau tak mau, kita langsung berfantasi dalam cerita, sebab kita akan segera memasuki sastra fantasi dari Chavchay Syaifullah. Seterusnya kita dipancing untuk serius menafsirkan muatan-muatan filsafat di dalamnya.
Payudara dimulai dengan kisah Sakti, tokoh utama novel, yang berusaha keras untuk menyatakan cintanya pada Payudara, dokter jiwa si Sakti sendiri. Namun, usaha menyatakan cinta itu tak kunjung terjadi atau dengan kata lain bahwa cinta Sakti tak terbalas, entah karena memang faktor eksternal yaitu bahwa tak mungkin bagi Payudara mencintai pasiennya sendiri, ditambah bahwa dia sudah punya suami dan empat anak, atau karena faktor internal yaitu bahwa Payudara sendiri memang tidak cinta sama Sakti. Akhirnya Sakti jatuh gila!
Potret kegilaan novel filsafat Payudara terlukiskan bahwa peristiwa ketaksadaran manusia bisa terjadi secara menegangkan, namun bisa juga penuh dengan humor. Chavchay Syaifullah di sini sungguh lincah memainkan dan menghubungkan kisah-kisah unik yang tidak masuk akal, sampai kemudian kita bisa menerimanya sebagai cerita yang membawa hikmah maupun ajaran-ajaran filosofis.
Selain Sakti dan Payudara, tokoh lain yang tak kalah menariknya adalah Bayu, seorang mantan dokter jiwa yang menjadi gila dan Isabela, setan perempuan cantik, yang kemudian menikah dengan Bayu. Pertemuan antara Bayu dan Isabela dimulai ketika Bayu dan Sakti mencoba mencari makan malam, namun tersesat di dalam perkuburan umum tanpa nama. Di tengah ketakutan yang berlebihan itu, Sakti berhasil lari, sedangkan Bayu tertangkap oleh Kubri, si penjaga kubur yang dalam Payudara ternyata mampu berdialog secara mendalam tentang soal-soal filsafat dengan Bayu.
Ada hal-hal menarik dalam novel ini. Pada bab-bab sebelumnya, novel ini memakai sudut pandang orang ketiga, namun ketika menginjak bab ke-6 tiba-tiba hadir sudut pandang orang pertama, aku, sang pengarang cerita yang biasanya sembunyi di balik gaya tuturnya, secara tiba-tiba ikut nimbrung: “Sebenarnya aku tak tega juga melihat orang yang sudah begitu ketakutan. Tapi apa daya, aku tak pernah bisa menolong orang lain, apalagi orang yang dalam kesusahan. Aku hanyalah seorang pengarang. Sang pengarang cerita!”
Pernyataan ini tentu saja layak untuk kita perhatikan. Sebagai seorang pengarang cerita, sang novelis adalah sang pencipta seperti halnya tuhan, atau seperti dalang dalam setiap laku yang diperankan oleh tokoh-tokohnya. Namun, ditilik dari pernyataan tersebut, rupanya sang pengarang cerita pun tak berdaya upaya menolong tokoh yang ia ciptakan sendiri. Di sini menjadi jelas bagi kita, bahwa Chavchay Syaifullah rupanya melepaskan tokoh-tokoh ciptaannya dalam Payudara itu dengan cara begitu liar, hingga ia pun tak sanggup untuk mengontrol perkembangan watak atau karakter dari tokoh-tokohnya tersebut. Tapi justru dengan begitulah Chavchay Syaifullah mampu menghadirkan wajah eksistensialisme yang utuh, sebab pemberontakan nilai-nilai dalam Payudara pun bisa terjadi, meski harus melanggar aturan-aturan main formalisme dan rasionalisme.
Kejutan lainnya yang penting kita perhatikan adalah leburnya antara manusia dan setan. Kisah ini dimulai dengan ikatan pernikahan Bayu (mewakili manusia) dan Isabela (mewakili setan), yang berujung pada meledaknya Revolusi Kebudayaan di mana mereka hendak mendirikan negara baru bernama Saiba. Sungguh proses penceritaan Chavchay Syaifullah di sini terhitung menyentak hati dan pikiran kita. Sesekali kita dibuat tegang, sesekali kita diajak tertawa. Maka dengan itu pula, seperti pernah dikatakan A Teeuw, bila pembaca dihadapkan pada ketegangan yang dimunculkan dari kenyataan yang dikenalnya dan yang tidak dikenalnya, maka di situlah sesungguhnya rasa keingintahuan pembaca muncul, dan dengan demikian muncullah potensi kenikmatan pembaca.
Setelah panjang lebar kita diajak memasuki dunia ketaksadaran Sakti, di akhir cerita Chavchay Syaifullah memenuhi janjinya sebagai penulis handal, yaitu memberi kesan yang mendalam atas problem kesadaran manusia. Dua sampai tiga bab terakhir, penceritaan menitikberatkan pada nilai kesadaran. Sakti yang lama larut dalam kegilaan pun sadar bahwa kemanusiaan harus dibela. Karena itu Sakti meneriakkan kata “TIDAK!” dengan penuh daya kemanusiaannya. Sejak saat itu pula Sakti menolak segala daya di luar dirinya sendiri. Sakti hanya ingin menjadi diri sendiri yang sejati, meski ia harus menjadi tukang sampah!
Pernyataan keras Sakti dengan kata “TIDAK!” merupakan titik tolak kembalinya segumpal kesadaran dalam diri Sakti yang selama ini ia cari. Keputusannya untuk menjadi tukang sampah adalah kelihaian Chavchay Syaifullah untuk menciptakan simbol tanpa mengurangi esensi makna yang ingin disampaikannya kepada pembaca. Hanya menurut dugaan saya tukang sampah di situ bisa saja berarti wartawan atau relawan pada sebuah LSM, sebab dilukiskan di situ bahwa kerja tukang sampah yang diperankan Sakti adalah mencatat korban-korban keganasan politik negerinya, seperti terungkap di bukit-bukit tengkorak, di bumi Aceh sana.
Novel Payudara diakhiri dengan pertemuan antara Sakti dan Payudara. Namun pada pertemuan itu Payudara tidak lagi berprofesi sebagai dokter jiwa, sebab memang profesi itu sudah dibuangnya jauh-jauh. Payudara sudah tidak lagi percaya pada kekuatan teori-teori yang berpangku pada rasio. Dari pertemuan itu, Sakti dan Payudara bersepakat untuk menikah. Karena kerinduan dan rasa cinta keduanya tak terperikan lagi, akhirnya upacara pernikahan Sakti dan Payudara hanya terjadi di dalam hati yang dingin, di atas sebuah kapal laut, di tengah perjalanannya menuju bumi Aceh.
Payudara karya Chavchay Syaifullah ini, menurut hemat saya, begitu hebat dalam menampilkan nilai-nilai kebaruan yang eksotis, setidaknya ketika kita diajak untuk melihat dunia dengan sudut pandang yang sama sekali berbeda. Selain itu, Chavchay Syaifullah harus dikatakan berhasil dalam menjalin kejutan-kejutan yang mengguncang pikiran kita, agar kita mau selalu berpikir ulang tentang eksistensi kita sebagai manusia. Selamat membaca! ***
- Penerbit : Melibas, Jakarta
- Cetakan : Pertama, Agustus 2004
- Tebal : 235 hlm (termasuk Pengantar Penerbit)
*) Firman Venayaksa, Mahasiswa Pascasarjana UI, Depok, pada Fakultas Ilmu Budaya. /23/11/2004

Thursday, 17 May 2012

Perjalanan Menyatu dengan Tuhan


Perjalanan Menyatu dengan Tuhan
Posted by PuJa on May 17, 2012
Danarto *
http://majalah.tempointeraktif.com/

MUSYAWARAH BURUNG: Faridu’d-Din Attar
Penerbit: PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, 1983, 253 halaman
MAKA, berkumpullah segala macam burung, baik yang dikenal maupun tldak, di dunia ini. Burung-burung itu – menyelenggarakan musyawarah. Makhluk yang bisa terbang ini sadar bahwa ternyata kerajaan burung tak memiliki raja. Pada hal, menurut keyakinan mereka, tidak ada negeri di dunia ini yang tak beraja. Dan tak ada suatu negeri yang mampu menyelenggarakan pemerintahannya dengan baik tanpa raja.
Keadaan kerajaan burung yang demikian tak boleh dibiarkan terus. Lalu tampillah Hudhud, burung kesayangan Nabi Sulaiman, memimpin mereka. “Aku memiliki pengetahuan tentang Tuhan dan rahasia-rahasia ciptaan,” kata Hudhud di tengah majelis. Ia bercerita bahwa sebenarnya mereka mempunyai raja sejati, Simurgh namanya, yang tinggal di Pegunungan Kaukasus. Ia raja segala burung.
Raja burung yang perkasa ini dekat dengan mereka. Tapi mereka jauh darinya. Tempat persemayamannya tak dapat dicapai, dan tiada lidah yang dapat mengucapkan namanya. Di muka Simurgh tergantung seratus ribu tabir cahaya dan kegelapan. Dan dalam kedua dunia itu tak ada yang dapat menyangsikan kerajaannya. Simurh raja berkekuasaan mutlak di sebentang semesta. Ia bermandikan kesempurnaan, keagungan, dan kesucian. Ia tak membukakan diri sepenuhnya meski di tempat persemayamannya sendiri. Dan tentang ini tak ada pengetahuan dan kecerdasan yang dapat meraihnya.
Uraian Hudhud memikat burung-burung itu. Dengan bersemangat, musyawarah itu membicarakan keagungan raja mereka. Lalu mereka tak sabar lagi, ingin segera berangkat bersama-sama mencarinya. Tapi ketika menyadari betapa jauh dan pedihnya perjalanan nanti, mereka jadi ragu-ragu. Lalu mereka keberatan untuk berangkat dengan dalihnya masing-masing. Bulbul, misalnya, tak mungkin meninggalkan tempat karena begitu besar hasratnya untuk menyebarkan senandung cinta. Merak enggan meninggalkan kemewahannya. Rajawali tidak mau berpisah dengan para raja di dalam istana. Namun, Hudhud mampu meyakinkan mereka. Perjalanan menuju Simurgh satusatunya tujuan dalam hidup, meskipun amat sukar ditempuh. Dan hanya dengan cinta segala kesukaran dapat diatasi. Mereka pun berangkat.
Akhirnya, tinggal 30 ekor saja yang sampai di balairung Simurgh. Dan ketika mereka bertatap muka dengan Raja, mereka tak berbeda dengan-Nya. Tiga puluh (si-murgh) burung adalah Simurgh, dan Simurgh adalah tiga puluh burung itu sendiri.
Puisi alegoris Faridu’d-Din Attar (1110-1230), Musyaarah Burung, merupakan salah satu monumen kesusastraan sufi di samping Masnawi karya Jalaluddin Rumi (1217-1273). Diterjemahkan oleh Hartojo Andangdjaja dari The Conference of the Birds terjemahan C.S. Nott dari Mantiqu’t Thair.
Attar – yang waktu mudanya suka mengembara ke Mesir, Syria, Arab Saudi, India, dan Asia Tengah lahir di Nishapur (di Iran sekarang), sekota dengan Pujangga Omar Khayyam. Ditilik dari namanya, Attar, mistikus besar ini dianggap turun-temurun bergerak dalam usaha apotek, kedokteran, dan wangi-wangian.
Awal kesufian Attar, menurut cerita, yaitu ketika pada suatu hari di depan kedai parfumnya ia mengusir seseorang yang disangkanya pengemis. Ternyata, pengemls itu seorang sufi. Ia menjawab bahwa tak ada kesukaran baginya untuk pergi. Sebaliknya bagi Attar. Apakah ia sanggup pergi begitu saja sambil meninggalkan kekayaannya yang berbau wangi itu? Sindiran sufi ini mengena di hati Attar. Ia serta-merta meninggalkan kekayaannya. Faridu’d-Din Attar, yang tewas dipenggal prajurit Jenghis Khan ketika berusia 110 tahun, mendapat julukan Sauthus Salikin – cemeti orang yang mengerjakan suluk.
Musyawiarah Burung, yang ditulis Attar selama tiga tahun (1184-1187), didahului puji-pujian kepada Allah Yang Maha suci dan utusan-Nya, Nabi Muhammad, serta ucapan selamat kepada burung-burung. Buku yang mirip dongeng ini menggambarkan pemikiran Attar – pelajaran sufisme dengan tujuh jenjang (maqam) Lembah Pencarian, Lembah Cinta Lembah Keinsafan, Lembah Kebebasan dan Kelepasan, Lembah Keesaan, Lembah Keheranan dan Kebingungan, serta Lembah Keterampasan dan Kematian. Sedangkan Seyyed Hossein Nasr, dalam Sufi Essays, mencatat adanya 40 tingkatan berdasarkan ajaran sufisme Abu Sa’id ibn Abi’l-Khayr.
Kekatan Musyawarah Burung sebagai karya adalah kemampuan menghadirkan lambang secara sempurna. Burung sebagai lambang manusia sangat lentur bagi penggambaran roh yang setiap saat siap melesat dari dalam tubuh. Diselang-selingnya kisah para nabi dan para sufi, menghadirkan Musyawarah Burung sebagai karya yang “modern”, sejauh struktur dan bentuk penyuguhan menjadi bagian penting pengucapan seorang sastrawan.
Bagi seorang sufi, nomor satu adalah Allah. Nomor dua adalah Allah. Dan nomor tiga adalah Allah. Setiap jengkal perjalanan mistik seorang sufi adalah ujian. Dan ujian itu dapat berupa apa saja, termasuk keluarga dan harta. Karena tujuan hidup adalah untuk kembali menyatu dengan Allah, dengan sendirinya semuanya dikesampingkan.
Ibnu Arabi (1102-1240), yang mempunyai paham wihdatul wujud (kesatuan wujud), meyakini bahwa Wujud (Yang Ada) itu hanya Satu. Dalam tiap-tiap yang berwujud itu terdapat sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan. Jika ada perbedaan antara yang tampak dan tidak, maka perbedaan itu hanya rupa dan ragam dari hakikat Yang Esa.
Arabi menulis puisi: Hamba adalah Tuhan, dan Tuhan adalah hamba Demi syu’urku, siapakah yang mukallaf? Kalau engkau katakan Hamba, padahal ia Tuhan Atau engkau kata Tuhan, yang mana yang diperintahkan? (terjemahan Hamka dalam Tasauf, Perkembangan, dan Pemurniannya). Jalaluddin Rumi juga menulis puisi Orang Tuhan yang menerangkan pandangannya yang Serba-dalam-Illahi.
Bahwa “beragam jenis burung yang terlihat di dunia ini hanyalah bayang-bayang Simurgh” (Musyawarah Burung, halaman 60), mendudukkan Attar, Arabi, dan Rumi sebagai mata rantai yang berurutan. Dan sebagaimana para sufi lainnya, bagi Attar hanya cinta yang dapat menghantarkan kita ke haribaan Allah. Lalu penyatuan pun berlangsung: Hamba tak tahu apakah Engkau hamba atau hamba Engkau, hamba telah menjadi tiada dalam Engkau dan keduaan pun lenyaplah.
*) Danarto, Sastrawan yang banyak mempelajari sufisme /10 Maret 1984
Dijumput dari: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1984/03/10/BK/mbm.19840310.BK42424.id.html

Lesbumi Tak Mati Suri


Lesbumi Tak Mati Suri
Posted by PuJa on May 17, 2012
Judul : Lesbumi: Strategi Politik Kebudayaan
Penulis : Choirotun Chisaan
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan : I, Maret 2008
Tebal : xvi+247 halaman
Peresensi : Ahmad Khotim Muzakka
http://www.ruangbaca.com/

Digawangi tiga orang berpengaruh pada masa itu–Djamaluddin Malik, Usmar Ismail, dan Asrul Sani–, Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) didirikan. Tahun 1962 tepatnya. Lembaga kesenian ini lahir guna merespon perkembangan zaman.
Di bawah naungan “partai politik” Nahdlatul Ulama (NU), Lesbumi mencoba menandingi gaung Lekra dari Partai Komunis Indonesia (PKI) yang mendominasi warna berkesenian masyarakat pada masa itu. Namun, kita juga tak dapat menafikan bahwa kelahiran Lesbumi merupakan hasil dari gumpalan kegelisahan penghuninya, yang dicap sebagai pemegang tahta tradisonalisme.
Supaya gamblang, marilah kita mengingat-ingat kembali sejarah yang telah tumpah. NU sebagai “bapak-ibu” Lesbumi sendiri berdiri pada 1926. Seiring berjalannya waktu organisasi keagamaan ini mulai memperlihatkan kepeduliannya terhadap seni dan budaya. NU sendiri secara kultural merupakan tangan panjang pesantren yang notabene pada saat itu masih ndesa, ketinggalan zaman.
Pesantren yang identik dengan kultur Timur dan pedesaan dihadapkan dengan Hollands-Indische School (HIS) dan Europeesche Lagere School (ELS) yang berporos pada kultur Barat dan berkarakteristik kekotaan. NU dipandang tradisonalis, sedangkan HIS dan ELS diagungkan sebagai pemilik kemodernan dan kemajuan.
Maka, segala upaya pun ditunaikan guna menghilangkan prasangka tersebut. Salah satu langkah jitu yang diambil adalah memodernkan terlebih dulu benihnya: pesantren. Pengotaan pesantren ini dimulai ketika organisasi NU dirintis di Surabaya pada 31 Januari 1926. Upaya lain yang dilakukan adalah mendirikan lembaga pendidikan bernama madrasah di kota-kota besar, utamanya di Pulau Jawa.
Singkat kata, setelah Lesbumi dilahirkan, NU terlihat lebih berwarna. Corak yang disuguhkan tak melulu urusan doktrin keagamaan, tapi merambah ke aspek yang lebih luas dan membumi. Kepedulian NU terhadap seniman dan budayawan memperlihatkan tanda-tanda positif. Ini wajar saja karena suatu organisasi akan ditanggalkan penghuninya tatkala ia tak mampu menyediakan ladang berkreasi dan berekspresi.
Secara terang-terangan penulis buku ini menegaskan bahwa penempatan pesantren di kota-kota besar tak dimaksudkan untuk menentang kehadiran Barat. Namun, kehadiran pesantren sendiri secara nyata didengung-dengungkan guna membendung arus Barat yang mewabah di segala lini kehidupan. Ia muncul untuk menguatkan pondasi Timur supaya tak tergerus habis oleh arus budaya baru tersebut.
Selain itu, gencarnya PKI dalam mengibarkan paham komunis yang “menggerahkan” pun ikut andil dalam memberi batasan cita rasa seni-budaya yang sama sekali melepaskan agama. Hal ini ditanggapi dengan seni-budaya yang agamis oleh Lesbumi. Ini bukan berarti mengaburkan batas antara dunia seni-budaya dan agama, tapi justru memberikan cita rasa baru kepada masyarakat.
Berkaitan dengan PKI ada baiknya kita menyimak apa yang dikatakan Saifudin Zuhri bahwa, “Pada tahun 1960-an PKI sedang meningkat kejayaannya, terutama di kota Surabaya. Hari-hari diwarnai oleh bendera-bendera palu arit dalam warna merah membara. Suasana dipanaskan oleh berbagai gejolak dan sesumbar seolah-olah PKI unggul di mana-mana. Tetapi PKI terbentur oleh perlawanan orang-orang Islam, khususnya NU di Jawa Timur.”
Ini bisa dilihat dari pelbagai fenomena yang terjadi pada masa itu. Sejarah mencatat tak ada kiprah PKI yang tidak ditandingi oleh NU. Saat PKI membanggakan massanya, NU mengerahkan jamaahnya. Ketika Gerwani dipropagandakan, Muslimat menjadi tandingan. Pun ketika muncul Pemuda Rakyat selaku pasukan pelopor mereka, Gerakan Pemuda Ansor mulai bergerak.
PKI menggerakkan Barisan Tani Indonesia (BTI), NU mengaktifkan Pertanu. Di tubuh PKI ada Sobsi, Sarbumusi menghiasi NU dengan corak tersendiri. Terakhir, PKI memilki Lekra, NU mempunyai Lesbumi sebagai punggawa kebudayaan warga Islam.
Pokoknya, tiap terobosan yang diciptakan NU merupakan niatan perlawanan. Gerak langkah PKI wajib dicegah, kalau tidak bisa mewabah. Jika ini tak dilakukan, maka tamatlah riwayat umat Islam.
Melihat kondisi yang demikian, ke mana gaung Lesbumi sekarang ini? Kenapa tak terdengar lagi pergulatannya? Bahkan, di buku-buku sejarah pun kiprah Lesbumi tak mendapatkan perhatian. Benarkah pernyataan penulis bahwa Lesbumi “mati suri”?
Amien Rais dalam buku Agenda-Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia! menyebutkan siklus sejarah akhirnya patah dan sejarah akhirnya berakhir. Sejarah akan mati. Tak salah jika Amien berujar demikian. Toh, sejarah memang tak akan lagi berulang. Ia akan menjadi sebentuk nostalgia yang kadang harus menerima koksekuensi terpahit: dilupakan.
Kehadiran Lesbumi merupakan respon terhadap Lekra, meskipun tak seutuhnya, mengingat terdapat dua momen historis, yakni momen politik dan momen budaya. Maka, mati surinya Lesbumi beriringan dengan melemahnya gaung organisasi kebudayaan PKI ini. Kematian Lekra seolah-olah mengakhiri tugasnya.
Terlepas dari itu semua, testimoni Misbach Yusa Biran yang menjadi landasan buku ini patut kita perhatikan. Ketika Misbach mengajukan pertanyaan kepada Abdurrahman Wahid, apakah NU tidak akan menghidupkan lagi Lesbumi, beliau diam saja. Pada masa hangat-hangatnya Lesbumi berjuang, para kia juga bersikap “pura-pura tidak tahu”. Kalau ditanya bagaimana hukumnya di bidang kesenian, jawabnya: “Lebih baik ente jangan tanya.” Lho, kok?
Pada suatu kesempatan, karena tertarik dengan sejarah Lesbumi, saya bertanya kepada sesepuh desa perihal keberadaan Lesbumi di tanah pertiwi. Kegelisahan akan mati surinya Lesbumi terobati karena orang tua berusia 60-an tahun itu dengan semangat bercerita demikian:
“Tiap tahun, bertepatan dengan perayaan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus di Lengkong, sebuah desa di Pati, digelar pertunjukkan hebat. Di sana beberapa lembaga kebudayaan beradu ambil posisi: Lekra, Lesbumi, dan LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional). Mereka menarik perhatian masyarakat. Tapi, yang paling semarak itu Lesbumi. Pengunjungnya banyak. Sebelum Lesbumi lahir, Lekralah yang paling terkenal. Lambat-laun posisinya digeser oleh Lesbumi. Tapi, sayang, sekarang zaman telah berubah. Saat perayaan kemerdekaan tiba, yang ada hanyalah hura-hura. Semangat perjuangan sudah luntur. Pemudanya tak lagi punya semangat seperti pemuda pada zaman bapak dulu.”
Mendengar pernyataan tersebut kekhawatiran yang diajukan penulis buku ini tertepis, karena Lesbumi masih lekat di hati para sesepuh ini. Permasalahan yang muncul, bukankah mereka juga mempunyai batasan umur. Lalu, siapakah yang akan terus mengabadikan sekaligus mengenang Lesbumi nantinya? Buku ini setidaknya akan mengingatkan orang akan perjuangan Lesbumi itu.
*) Ahmad Khotim Muzakka, Pegiat pustaka Pesanggerahan Kalamende, Replika.com, Semarang /31 Agustus 2008

Memopulerkan Sastra Jawa Secara Populer


Memopulerkan Sastra Jawa Secara Populer
Posted by PuJa on May 17, 2012
PRIYAYI ABANGAN, Dunia Novel Jawa Tahun 1950-an
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Penerbit : Bentang, 2000
Peresensi : Faruk
http://majalah.tempointeraktif.com/

SASTRA Jawa modern adalah sastra terjepit. Begitulah kira-kira salah satu kesimpulan Sapardi Djoko Damono dalam bukunya, Priyayi Abangan: Dunia Novel Jawa Tahun 1950-an, yang baru saja terbit.
Keterjepitan sastra Jawa itu setidaknya dilihat oleh penulis buku ini dari tiga segi, yaitu dari segi pengarang Jawa yang beralih ke bahasa Indonesia, dari segi minat pembaca yang beralih juga ke bahasa Indonesia, dan dari segi potensi bahasa Jawa yang masih tertahan di dalam sastra klasik. Pandangan mengenai keterjepitan sastra Jawa modern ini sebenarnya bukan pandangan baru. Hampir dalam setiap diskusi mengenai sastra Jawa modern, pandangan demikian selalu muncul. Bahkan, sebuah buku dari George Quinn berjudul The Novel in Javanese, yang terbit pada 1980-an, sudah perlu membahas persoalan tersebut. Dengan kata lain, buku ini merupakan semacam imbauan yang kesekian kalinya, yang selalu muncul berulang-ulang dan diulang-ulang, mengenai nasib malang yang mengibakan dari sastra Jawa modern, mengenai perlunya barang yang bernasib malang ini memperoleh perhatian.
Tapi, benarkah keterjepitan berarti bencana atau nasib yang malang? Bukankah banyak juga orang yang suka terjepit atau dijepit-jepit? Bukankah banyak sastrawan membuahkan karya-karya bermutu justru ketika mereka berada dalam posisi yang terjepit, misalnya di penjara? Tampaknya, dalam pandangan Sapardi, keterjepitan itu ternyata benar-benar menjadi bencana bagi sastra Jawa modern karena mengakibatkan mereka tidak terangsang menjadi lebih kreatif. Sastra Jawa modern, menurut dia, tetap terpenjara oleh sejarahnya sendiri, yaitu sebagai sastra populer.
Banyak faktor yang membuat sastra Jawa modern mengalami keadaan yang demikian. Pertama, keterikatannya pada penerbit komersial dan pemerintah membuat sastra Jawa berusaha keras menjangkau jumlah pembaca yang sebesar-besarnya. Kedua, pengarangnya, yang sudah terlepas dari pengayom khusus, menggantungkan diri pada pasar, di samping berusaha mendidik massa rakyat. Ketiga, pembacanya terkait dengan rakyat kecil yang baru saja belajar membaca atau mengalami melek huruf.
Di hadapan berbagai faktor tersebut, sifat populer sastra Jawa modern tidak terelakkan. Dan hal itu membuatnya kehilangan daya kreatif. Sastra populer, menurut Sapardi, berusaha menghibur pembacanya, menempatkan mereka dalam wilayah kehidupan yang aman. Karena itu, di dalam sastra Jawa modern, hal yang menggelisahkan dihindari, makna ganda diharamkan, perumitan masalah dan alur hanya semu, pola karakter, alur, dan latar cenderung formulaik, stereotipikal.
Tapi, menurut guru besar UI ini, kepopuleran sastra Jawa modern tidak membuatnya tenggelam sepenuhnya pada cerita-cerita yang sensasional dan berselera rendah. Karya-karya sastra Jawa modern yang ditelitinya, yaitu yang hidup di tahun 1950-an, termasuk karya-karya sastra populer berselera sedang. Di samping berusaha melayani selera pembaca, menghibur mereka, karya-karya itu juga berusaha mendidik pembaca, memberi nasihat, memberi pengetahuan. Dengan kata lain, karya-karya itu tergolong dalam karya-karya yang mengikuti sebuah diktum Barat yang terkenal mengenai karya sastra, yaitu dulce et utile, “menyenangkan dan sekaligus berguna”. Karena itu, karya-karya sastra Jawa modern juga mengandung banyak pengetahuan, terutama pengetahuan mengenai kebudayaan Jawa, kebudayaan priayi dan abangan. Pandangan hidup yang terkandung di dalamnya adalah pandangan hidup priayi dan abangan, bukan santri.
Sifat karya-karya sastra Jawa yang kemudian ini, menurut Sapardi, setidaknya terkait pada dua hal. Pertama, secara historis karya-karya itu dibuahkan juga oleh penerbit pemerintah, yang bertujuan menyediakan bahan bacaan bagi rakyat agar mereka terdidik dan mengalami kemajuan. Kedua, secara kultural karya-karya itu masih pula terpengaruh oleh sastra tradisional, terutama wayang dan dalang. Dalam analisisnya, Sapardi menunjukkan betapa kuat pengaruh cara bercerita dalang di dalam karya-karya sastra Jawa modern. Karya-karya itu hampir dengan setia menerapkan konsep-konsep estetis wayang, yaitu banyol, nges, sem, dan gereget.
Buku ini berasal dari disertasi penulisnya. Sebagai sebuah disertasi, buku ini tentu saja berusaha mempunyai orisinalitas di satu pihak, dan kerangka konseptual yang sudah ditentukan sebelumnya di lain pihak. Dalam hal yang pertama, disertasi ini dimaksudkan sebagai sebuah cara pandang baru terhadap sastra Jawa modern yang diharapkan akan membuahkan hasil yang baru pula. Dalam hal yang kedua, disertasi ini mendasarkan kerangka konseptualnya pada dua teori yang sudah ada sebelumnya. Teori yang digunakan adalah teori sistem sastra makro dari Tanaka dan teori estetika sastra populer dari Kaplan. Dengan teori yang pertama, Sapardi mencoba memahami karya sastra dalam konteks makronya, konteks sosiologisnya, terutama kaitannya dengan sistem pengarang, sistem penerbit, dan sistem pembaca. Sedangkan dengan teori kedua, ia mencoba memahami pola-pola estetis sastra populer secara intrinsik.
Dalam usahanya membangun orisinalitas, disertasi ini membandingkan dirinya dengan berbagai penelitian atau pembicaraan sebelumnya mengenai hal yang sama. Dalam hal ini, Sapardi tidak memaparkan sebuah diskusi yang tajam dan terfokus mengenai hasil-hasil penelitian yang lain itu. Amat disayangkan bahwa Sapardi tidak mendiskusikan secara serius disertasi George Quinn. Ia membicarakannya hanya dalam konteks materi yang dibahas oleh Quinn, bukan perspektif yang digunakan oleh ahli tersebut. Padahal, perspektif Quinn dalam memahami sastra Jawa modern amat penting dan juga terarah pada usaha memahami pola estetis sastra Jawa modern.
Kerangka konseptual yang digunakan oleh Sapardi pun dirumuskan dengan tidak begitu tajam, sangat mengambang. Karena itu, akhirnya Sapardi cenderung bekerja lebih atas dasar intuisi pribadinya sendiri daripada kerangka konseptual yang sudah dipilihnya. Pekerjaan secara intuitif itu, dalam beberapa hal, membuahkan suatu temuan yang menarik, misalnya analisis mengenai cara bercerita cerita bersambung Kramaleya. Tapi, intuisi itu membuat cara kerja Sapardi menjadi amat mengambang, dapat beralih cara pandang dengan seenaknya, dan akhirnya membingungkan pembaca. Konsep pembaca Tanaka, misalnya, sangat tidak jelas dan akhirnya menjadi kacau antara pembaca nyata, pembaca tersirat, dan pembaca ideal.
Selain itu, dalam analisisnya, Sapardi juga menggunakan konsep lain yang diperlakukannya secara taken for granted, yaitu konsep sastra konvensional seperti latar, alur, penokohan, dan sebagainya. Karena tidak dirumuskan, teori ini pun mengambang dan bergeser-geser, bergantung pada kesan pribadi Sapardi mengenai karya sastra yang diteliti. Lebih jauh, teori ini menjadi rancu pula dengan teori Kaplan, karena teori yang kemudian ini juga berbicara mengenai struktur intrinsik karya sastra.
Dengan kecenderungan tersebut, disertasi Sapardi ini menjadi terkesan lebih sebagai karya ilmiah populer mengenai sastra populer. Karena itu, di dalamnya berlaku juga kecenderungan yang ada pada sastra populer yang ditelaahnya. Ada kesan bahwa disertasi ini berusaha membuat dirinya rumit dengan mendiskusikan teori yang beraneka tetapi sebenarnya tetap dalam sebuah bingkai yang sederhana. Teori-teori yang lain sama sekali tidak menjamah Tanaka dan Kaplan. Ada kecenderungan untuk melihat sastra dalam perspektif yang baru, walaupun ternyata alat analisis yang digunakan masih tetap perspektif yang konvensional.
Maka, hasil yang diperoleh menjadi seperti pengulangan dari apa yang sudah umum, membuat pembaca tetap merasa aman di dalam dunianya. Pernyataan mengenai sastra modern Jawa sebagai sastra terjepit sungguh merupakan pernyataan yang ritualistis belaka. Begitu juga soal orang Jawa yang priayi dan abangan, yang dekat dengan Tuhan tanpa menjadi santri, sesuatu yang akhir-akhir ini digugat oleh Kuntowijoyo dan kita alami dalam rezim santri Abdurrahman Wahid.
Faruk, pengamat sastra /27 November 2000

Wednesday, 16 May 2012

Cerita Unik dari ”Negeri Terong”


Cerita Unik dari ”Negeri Terong”
Posted by PuJa on May 15, 2012
Judul : The Terong Gosong; Ketawa Secara Serius
Penulis : Yahya C. Staquf
Penerbit : Mata Air Publishing
Cetakan : I, Juli 2011
Tebal : xx + 156 hal
Harga : Rp. 30.000,00
ISBN : 978-979-18405-4-5
Peresensi : Fathurrahman Karyadi *
__Majalah Terbuireng edisi XIV Jan-Feb 2012

Cerita Unik dari ”Negeri Terong”

Di Inggris, buah terong sering disebut eggplant dan di Jerman (die) Aubergine. Di sana terong banyak di jumpai di toko-toko Asia, sedangkan di supermarket ada meski agak jarang. Ternyata terong juga dimasak layaknya sayur-sayur lainnya, ia menjadi sayur lodeh hanya kuahnya agak sedikit. Warga Turki yang banyak tinggal di Jerman juga menjadikan terong sebagai salah satu menu favorit mereka. Petani terong memang jarang dijumpai, tapi banyak sayur dan buah yang diimpor dari negeri tetangga seperti Spanyol dan Itali.
Agak berbeda dengan Eropa, di Korea terong sering digunakan sebagai ramuan obat-obatan khususnya penyakit jantung. Konon, Rasulullah Muhammad SAW juga pernah bersabda terkait kasiat terong (al-batinjan) sayangnya hadits itu tidak popular karena diklaim dhaif alias lemah kevaliditasannya oleh mayoritas ulama (jumhur).
Nah, di Indonesia ”terong” sudah tak asing lagi. Bentuknya yang oval panjang—ada juga yang bulat, berwarna hijau dan ungu cerah menjadi santapan idaman bagi rakyat nusantara. Di samping ada yang digoreng, disayur dan disambal, tak kalah gurihnya ia bisa langsung dimakan sebagai lalapan bersama daun kemangi, mentimun, kubis dan kacang panjang.
Yang membuat lebih menarik ialah nama ”terong” ternyata menjadi sebuah komunitas besar yang digemari belasan ribu orang, lebih lengkapnya ”Terong Gosong”. Ia adalah group di situs jejaring sosial Facebook (http://www.facebook.com/TerongGosong) yang pertama kali diliris pada 13 Mei 2009 oleh KH. Yahya Cholil Tsaquf atau lebih akrab disapa Gus Yahya. Group tersebut senantiasa meng-upload catatan-catatan unik seputar dunia pesantren dan hiruk-pikuk negeri ini lewat humor khas kaum sarungan. Sudah pasti cerita yang disuguhkan orisinil dan nyata bukan sekedar fiktif atau lelucon belaka. Banyak yang mengaku mendapat pelajaran berharga (expensive knowledge) dari notes tersebut karena memang nila-nilai kearifan terasa betul di dalamnya.
Catatan Gus Yahya memiliki karakteristik tersendiri. Di awal tulisan, pembaca disuguhi sejarah masa lalu, potret keteladanan seorang pemimpin serta fenomena hangat di negeri ini, kemudian pada ending cerita ada saja kalimat-kalimat yang membuat semua pembaca tertohok untuk tertawa. Hingga tak heran, ketika resensi ini ditulis member yang bergabung di group dirian putra KH. Moh. Cholil Bisri yang juga mantan juru bicara Presiden KH. Abdurrahman Wahid itu sudah mencapai lebih dari 13.0000 orang. Uniknya lagi, mereka terdiri dari berbagai macam kalangan seperti kiai dan santri, dosen dan mahasiswa, dokter dan pasien, sampai pejabat dan rakyat yang berasal dari dalam maupun luar negeri di antaranya Arab, Mesir, Libya, Amerika, Kanada, Taiwan dan Jepang.
Karena desakan para penggemar, akhirnya Gus Yahya terdorong untuk menjadikan catatan-catatannya itu sebagai buku kompilasi. Maka pada bulan Juli 2011 buku yang berjudul ”The Terong Gosong” itu terbit dengan jumlah 156 halaman.
Nama ”Terong Gosong”
Banyak yang bingung dan bertanya-tanya mengapa nama komunitas yang begitu banyak penggemarnya itu bernama Terong Gosong? Sampai bukunya pun bernama demikian? Apa tidak ada nama lain yang lebih familiar agar visi dan misinya terasa memiliki wibawa besar?
Susah untuk menjawabnya. Gus Yahya sendiri—sebagaimana yang tertulis dalam pengantar buku tersebut—mengaku bahwa dinamai ”Terong Gosong” nyaris tanpa alasan tertentu, apalagi filosofi yang mulia-mulia. Satu-satunya yang bisa disebut sebagi sumber inspirasi bagi nama itu adalah bahwa terong telah menjadi makanan yang paling populer sepanjang sejarah di lingkungan santri-santri pesantren. Biasanya, terong dibakar hingga gosong, untuk kemudian dikupas dan dipecelkan sambal terasi, selanjutnya disebut ”sambal terong”, untuk dijadikan lauk makan sehari-hari.
Karena alasan itulah Gus Yahya lebih memilih nama Terong Gosong daripada nama-nama lain yang terlalu muluk-muluk. Menurut hemat penulis pribadi—yang agak sering bergelut bahasa Arab—Terong Gosong bisa diimplementasikan sebagai ”taraw ghadan” yang bermakna melihat masa depan. Ini sebuah pengejahwantahan firman Allah SWT dalam surat al-Hasyr ayat 18 yang berbunyi wal tanzhur nafsun ma qaddamat lighad—[Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok].
Inilah yang menjadi tujuan utama sejarah. Tidak hanya sekedar dikaji dan diteliti secara mendalam, tetapi juga dipraktikkan sehingga keburukan tempo dahulu tidak kembali terjadi di masa kini dan mendatang. Begitu pula kejayaan yang telah dicapai bisa terulang kembali atau bahkan melebihi yang telah lampau.
Dalam antologi syair al-Qashidah al-Haiyyah, Syaikh Syihabuddin al-Suhrawardi menuturkan, ”Jika kalian bukan orang hebat maka tirulah kesuksesan serta keteladanan para tokoh pendahulu, karena meniru langkah mereka adalah suatu kebanggaan tersendiri.”
Humor dan Urgensinya
Humor adalah kebutuhan manusia, bagi yang merasa manusia pasti membutuhkannya, demikian ungkap Mudhfar Maruf penulis buku Guyon Cak Jahlun. Ia menambahkan, banyak ahli kesehatan dan psikolog yang percaya kalau tertawa sangat baik untuk kesehatan dan bikin awet muda. Sekali saja seseorang tertawa maka akan menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) sebesar 26%. Jadi, jika ingin awet muda dan panjang umur, maka tertawalah sebelum anda ditertawakan!
Ada sebuah slogan ”Senyum itu Sehat”. Ini bukan sekedar bualan belaka, tetapi benar-benar nyata. Rasulullah SAW pun pernah bersabda bahwa senyum termasuk dari pada sedekah. Dengan begitu, humor memiliki porsi penting dalam kehidupan ini. Sehingga bukan hanya emosi, kecewa, cemas, tangis dan sedih saja yang tergambar di wajah semua orang, tawa dan senyum pun harus ada.
Di manapun dan kapanpun seseorang berada di situlah ia dapat tertawa, karena yang menjadi objek untuk ditertawakan sangat universal dan kompleks. Pada umumnya, humor terjadi karena interaksi secara langsung, seperti kejadian “salah sapa” yang banyak dialami setiap orang. Di terminal seorang suami tiba-tiba saja menggandeng tangan seorang gadis yang dikira itu istrinya ternyata bukan. Akibatnya sarapan berupa tamparan terpaksa mampir di muka orang itu. Atau kisah seorang santri yang berteriak tak sabar meminta orang yang di dalam kamar mandi segera keluar untuk bergiliran, eh ternyata orang di dalam itu adalah kiainya sendiri.
Ada juga humor yang terjadi karena bukan interaksi secara langsung, seperti melihat ulah orang lain di seberang jalan, menonton tayangan lawak maupun membaca buku humor. Lebih ekstrim lagi, saya pernah menerima pesan singkat dari seorang kawan. Bunyinya demikian ”Menu buka puasa hari ini: Mienya Megawati, Esnya SBY, jusnya Gus Dur, Susunya Soeharto, pesan mana?”
Dengan bijaksananya, Gus Yahya memberi selogan komunitas Terong Gosong dengan kalimat ”ketawa secara serius”. Lebih lanjut beliau memberi ilustrasi bukunya itu dengan prolog ”(Buku) The Terong Gosong itu tentang dunia pesantren. Murid-murid dan guru-gurunya. Gagasan-gagasan dan canda tawa. Kearifan dan kesalahpahaman. The Terong Gosong itu tentang proses belajar, memetik pelajaran adalah tujuannya. Tapi namanya proses, kadang mendapatkan hasil kadang tidak.The Terong Gosong itu tentang ketawa. Bisakah belajar melalui ketawa? Kalau beruntung, bisa. Kalau tidak, ketawa saja sudah meyenangkan toh?”
Di bulan Ramadhan kemarin, Terong Gosong cukup gencar meng-upload status-status humornya di Facebook. Seperti ”Bagaimana pun keadaannya, Syukur tetap harus dipanjatkan. Karena Syukur nggak bisa manjat sendiri!” Tak kalah kocaknya, di hari berikutnya mucul lagi ”Apa pengaruh Ramadan pada diri kita? Di bulan istimewa ini, bertambah kuat rasa rindu kita dan bertambah menggelora penantian kita; adzan Magrib!”
*) Fathurrahman Karyadi, Bergiat di Pustaka Tebuireng
Dijumput dari: http://hiburan.kompasiana.com/humor/2012/02/16/cerita-unik-dari-%E2%80%9Dnegeri-terong%E2%80%9D/