Pages

Thursday, 17 May 2012

Memopulerkan Sastra Jawa Secara Populer


Memopulerkan Sastra Jawa Secara Populer
Posted by PuJa on May 17, 2012
PRIYAYI ABANGAN, Dunia Novel Jawa Tahun 1950-an
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Penerbit : Bentang, 2000
Peresensi : Faruk
http://majalah.tempointeraktif.com/

SASTRA Jawa modern adalah sastra terjepit. Begitulah kira-kira salah satu kesimpulan Sapardi Djoko Damono dalam bukunya, Priyayi Abangan: Dunia Novel Jawa Tahun 1950-an, yang baru saja terbit.
Keterjepitan sastra Jawa itu setidaknya dilihat oleh penulis buku ini dari tiga segi, yaitu dari segi pengarang Jawa yang beralih ke bahasa Indonesia, dari segi minat pembaca yang beralih juga ke bahasa Indonesia, dan dari segi potensi bahasa Jawa yang masih tertahan di dalam sastra klasik. Pandangan mengenai keterjepitan sastra Jawa modern ini sebenarnya bukan pandangan baru. Hampir dalam setiap diskusi mengenai sastra Jawa modern, pandangan demikian selalu muncul. Bahkan, sebuah buku dari George Quinn berjudul The Novel in Javanese, yang terbit pada 1980-an, sudah perlu membahas persoalan tersebut. Dengan kata lain, buku ini merupakan semacam imbauan yang kesekian kalinya, yang selalu muncul berulang-ulang dan diulang-ulang, mengenai nasib malang yang mengibakan dari sastra Jawa modern, mengenai perlunya barang yang bernasib malang ini memperoleh perhatian.
Tapi, benarkah keterjepitan berarti bencana atau nasib yang malang? Bukankah banyak juga orang yang suka terjepit atau dijepit-jepit? Bukankah banyak sastrawan membuahkan karya-karya bermutu justru ketika mereka berada dalam posisi yang terjepit, misalnya di penjara? Tampaknya, dalam pandangan Sapardi, keterjepitan itu ternyata benar-benar menjadi bencana bagi sastra Jawa modern karena mengakibatkan mereka tidak terangsang menjadi lebih kreatif. Sastra Jawa modern, menurut dia, tetap terpenjara oleh sejarahnya sendiri, yaitu sebagai sastra populer.
Banyak faktor yang membuat sastra Jawa modern mengalami keadaan yang demikian. Pertama, keterikatannya pada penerbit komersial dan pemerintah membuat sastra Jawa berusaha keras menjangkau jumlah pembaca yang sebesar-besarnya. Kedua, pengarangnya, yang sudah terlepas dari pengayom khusus, menggantungkan diri pada pasar, di samping berusaha mendidik massa rakyat. Ketiga, pembacanya terkait dengan rakyat kecil yang baru saja belajar membaca atau mengalami melek huruf.
Di hadapan berbagai faktor tersebut, sifat populer sastra Jawa modern tidak terelakkan. Dan hal itu membuatnya kehilangan daya kreatif. Sastra populer, menurut Sapardi, berusaha menghibur pembacanya, menempatkan mereka dalam wilayah kehidupan yang aman. Karena itu, di dalam sastra Jawa modern, hal yang menggelisahkan dihindari, makna ganda diharamkan, perumitan masalah dan alur hanya semu, pola karakter, alur, dan latar cenderung formulaik, stereotipikal.
Tapi, menurut guru besar UI ini, kepopuleran sastra Jawa modern tidak membuatnya tenggelam sepenuhnya pada cerita-cerita yang sensasional dan berselera rendah. Karya-karya sastra Jawa modern yang ditelitinya, yaitu yang hidup di tahun 1950-an, termasuk karya-karya sastra populer berselera sedang. Di samping berusaha melayani selera pembaca, menghibur mereka, karya-karya itu juga berusaha mendidik pembaca, memberi nasihat, memberi pengetahuan. Dengan kata lain, karya-karya itu tergolong dalam karya-karya yang mengikuti sebuah diktum Barat yang terkenal mengenai karya sastra, yaitu dulce et utile, “menyenangkan dan sekaligus berguna”. Karena itu, karya-karya sastra Jawa modern juga mengandung banyak pengetahuan, terutama pengetahuan mengenai kebudayaan Jawa, kebudayaan priayi dan abangan. Pandangan hidup yang terkandung di dalamnya adalah pandangan hidup priayi dan abangan, bukan santri.
Sifat karya-karya sastra Jawa yang kemudian ini, menurut Sapardi, setidaknya terkait pada dua hal. Pertama, secara historis karya-karya itu dibuahkan juga oleh penerbit pemerintah, yang bertujuan menyediakan bahan bacaan bagi rakyat agar mereka terdidik dan mengalami kemajuan. Kedua, secara kultural karya-karya itu masih pula terpengaruh oleh sastra tradisional, terutama wayang dan dalang. Dalam analisisnya, Sapardi menunjukkan betapa kuat pengaruh cara bercerita dalang di dalam karya-karya sastra Jawa modern. Karya-karya itu hampir dengan setia menerapkan konsep-konsep estetis wayang, yaitu banyol, nges, sem, dan gereget.
Buku ini berasal dari disertasi penulisnya. Sebagai sebuah disertasi, buku ini tentu saja berusaha mempunyai orisinalitas di satu pihak, dan kerangka konseptual yang sudah ditentukan sebelumnya di lain pihak. Dalam hal yang pertama, disertasi ini dimaksudkan sebagai sebuah cara pandang baru terhadap sastra Jawa modern yang diharapkan akan membuahkan hasil yang baru pula. Dalam hal yang kedua, disertasi ini mendasarkan kerangka konseptualnya pada dua teori yang sudah ada sebelumnya. Teori yang digunakan adalah teori sistem sastra makro dari Tanaka dan teori estetika sastra populer dari Kaplan. Dengan teori yang pertama, Sapardi mencoba memahami karya sastra dalam konteks makronya, konteks sosiologisnya, terutama kaitannya dengan sistem pengarang, sistem penerbit, dan sistem pembaca. Sedangkan dengan teori kedua, ia mencoba memahami pola-pola estetis sastra populer secara intrinsik.
Dalam usahanya membangun orisinalitas, disertasi ini membandingkan dirinya dengan berbagai penelitian atau pembicaraan sebelumnya mengenai hal yang sama. Dalam hal ini, Sapardi tidak memaparkan sebuah diskusi yang tajam dan terfokus mengenai hasil-hasil penelitian yang lain itu. Amat disayangkan bahwa Sapardi tidak mendiskusikan secara serius disertasi George Quinn. Ia membicarakannya hanya dalam konteks materi yang dibahas oleh Quinn, bukan perspektif yang digunakan oleh ahli tersebut. Padahal, perspektif Quinn dalam memahami sastra Jawa modern amat penting dan juga terarah pada usaha memahami pola estetis sastra Jawa modern.
Kerangka konseptual yang digunakan oleh Sapardi pun dirumuskan dengan tidak begitu tajam, sangat mengambang. Karena itu, akhirnya Sapardi cenderung bekerja lebih atas dasar intuisi pribadinya sendiri daripada kerangka konseptual yang sudah dipilihnya. Pekerjaan secara intuitif itu, dalam beberapa hal, membuahkan suatu temuan yang menarik, misalnya analisis mengenai cara bercerita cerita bersambung Kramaleya. Tapi, intuisi itu membuat cara kerja Sapardi menjadi amat mengambang, dapat beralih cara pandang dengan seenaknya, dan akhirnya membingungkan pembaca. Konsep pembaca Tanaka, misalnya, sangat tidak jelas dan akhirnya menjadi kacau antara pembaca nyata, pembaca tersirat, dan pembaca ideal.
Selain itu, dalam analisisnya, Sapardi juga menggunakan konsep lain yang diperlakukannya secara taken for granted, yaitu konsep sastra konvensional seperti latar, alur, penokohan, dan sebagainya. Karena tidak dirumuskan, teori ini pun mengambang dan bergeser-geser, bergantung pada kesan pribadi Sapardi mengenai karya sastra yang diteliti. Lebih jauh, teori ini menjadi rancu pula dengan teori Kaplan, karena teori yang kemudian ini juga berbicara mengenai struktur intrinsik karya sastra.
Dengan kecenderungan tersebut, disertasi Sapardi ini menjadi terkesan lebih sebagai karya ilmiah populer mengenai sastra populer. Karena itu, di dalamnya berlaku juga kecenderungan yang ada pada sastra populer yang ditelaahnya. Ada kesan bahwa disertasi ini berusaha membuat dirinya rumit dengan mendiskusikan teori yang beraneka tetapi sebenarnya tetap dalam sebuah bingkai yang sederhana. Teori-teori yang lain sama sekali tidak menjamah Tanaka dan Kaplan. Ada kecenderungan untuk melihat sastra dalam perspektif yang baru, walaupun ternyata alat analisis yang digunakan masih tetap perspektif yang konvensional.
Maka, hasil yang diperoleh menjadi seperti pengulangan dari apa yang sudah umum, membuat pembaca tetap merasa aman di dalam dunianya. Pernyataan mengenai sastra modern Jawa sebagai sastra terjepit sungguh merupakan pernyataan yang ritualistis belaka. Begitu juga soal orang Jawa yang priayi dan abangan, yang dekat dengan Tuhan tanpa menjadi santri, sesuatu yang akhir-akhir ini digugat oleh Kuntowijoyo dan kita alami dalam rezim santri Abdurrahman Wahid.
Faruk, pengamat sastra /27 November 2000

Reactions:

0 comments:

Post a Comment