Pages

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Thursday, 26 July 2012

Narasi Hujan


Narasi Hujan
Posted by PuJa on July 20, 2012
Fandrik Ahmad
http://www.lampungpost.com/

MUSIM hujan memasuki awal tahun. Aku mengintip. Langkahku ringan mendekati gorden jendela. Kusibak kain tipis itu cukup kasar serupa anak muda memberikan surprise kepada kekasihnya. Kamar yang kurang pencahayaan membuat cahaya melesat kilat. Sementara di luar, hujan tak tentu arah menghindari tatapanku.
Bulir-bulir hujan tempias di lantai. Kaca jendela buram berembun. Apakah kau juga menikmati hujan, batinku. Bila anganku berwujud di sini, di tempatku berdiri, aku yakin, kau akan mengatakan, “Di mana pun, aku suka hujan.”
Jendela kusibak. Kisinya berderet. Angin meruap menghempas bulu kuduk. Instingku begerak cepat ingin menutup kembali jendela. Dingin. Tetapi tekad dan perlawananku untuk mengetahui hujan di pagi ini, menahan kedua tangan menarik gagang jendela serta menutupnya rapat-rapat.
Ya, aku ingin memastikan hujan apa ini! Seperti yang telah kau ajarkan!
Serasa kau mengajakku, menjulurkan kedua tangan ke depan, merasakan bulir air jatuh di tangan. Persis yang pernah kau ajarkan. Aku cukup hati-hati karena hanya, cukuplah hujan menjamah tangangku. Tidak untuk bagian lain dari tubuhku. Seperti kau pernah menjamah bibirku di bawah ciuman hujan. Kupejamkan mata. Hujan apa ini? Curahnya begitu lembut namun deras.
Rinduku cair, serupa bisik air yang berjatuhan di bibir genting. Januari tiada indah tanpa hujan. Hujan tiada indah tanpamu. Hujan adalah kau. Kau adalah hujan. Kau hadir! Aku mencium aroma hujan seperti yang kau katakan. Mencium aromamu.
Apakah kau juga sedang menikmati hujan?
***
SEPULANG dari kantor, aku terjebak hujan di sebuah halte. Kau juga. Selain kau dan aku, tiga orang tengah duduk di sana. Kau menatapku sehingga aku terpaksa menatapmu. Begitulah, keterpaksaan menatapmu membuatku tahu bahwa pakaianmu lebih basah ketimbang pakaianku. Bibirmu lebih lembap ketimbang bibirku. Kau memperkenalkan diri dan aku menyebut itu hanya basa-basi.
Hujan akan segera usai. Hanya menyisakan rintik kecil. Angkutan Lin yang aku—atau juga kau—tunggu, sembari mendekapkan tangan pada dada, belum tiba. Mendadak kulitku terasa mengerut. Aku tak menduga. Tiba-tiba kau menarik tanganku, menembus rajutan basah itu.
“Indekosku dekat dari sini,” tanganku kau seret paksa, memasuki gang cukup sempit sebelum tiba di indekosmu.
Segelas cappucino—yang kau buat sendiri—menemani perdebatan kita tentang hujan. Kataku hujan bikin becek, banjir, dan macet. Hujan hanya merisaukan awak kapal. Hujan hanya membuat burung-burung bosan bertengger. Dan hujan hanya membuatku kedinginan. Bikin pusing dan sakit kepala. Kau tersenyum mendengar kataku—yang mungkin bila orang lain turut mendengarkan pembicaraan kita, penyampaianku ini dibilang ocehan. Katamu hujan itu indah, hujan itu romantis, hujan itu menyegarkan, hujan itu beraroma, hujan itu anugerah.
Aku bisa mengamini pendapatmu yang terakhir kalau hujan itu anugerah. Selain alasan daripada itu, aku tak bisa menerimanya. Hujan kok dibilang indah, hujan kok dibilang romantis, hujan kok dibilang menyegarkan, apalagi hujan beraroma. Aku benar-benar tidak bisa menerima pendapatmu.
Lalu, aku memberikanmu kesempatan untuk merasionalisasikan pendapatmu.
“Apakah kau tahu kalau serakan hujan tampak berkilau di ujung lancipnya rerumputan?”
Aku menggeleng. Kau tersenyum. Yang jelas, kau bukan menarasikan hujan atau mendeskripsikan hujan sebagimana pendapatmu. Berpuisikah? Absurd.
“Deskripsikan tentang hujanmu!”
Kupandang lekat parasmu yang putih kekuningan. Bibirmu yang basah mulai melafalkan kata hujan diulang sampai tiga kali sebelum memojokkanku pada tatapanmu. Selalu begitu kau memenjaraiku.
“Banyak ragam tentang hujan,” kau tercekat cukup lama. “Kau benar-benar ingin tahu?”
“Tentu.”
“Kenalilah hujan maka kau akan mengenali kehidupan. Hujan hampir memiliki sifat yang sama dengan manusia, denganmu dan denganku. Ada hujan jahat dan baik, ada hujan yang tergesa-gesa, ada hujan yang romantis, ada hujan yang pemalu….”
“Cukuplah kau mendeskripsikan apa yang kau sebutkan tadi,” potongku. Aku rasa kau tak lebih dari orang yang mengulur-ulur waktu. Aku mulai bosan.
“Hujan yang jahat adalah hujan yang kau sebutkan tadi: bikin becek, banjir, dan macet. Curah hujan sangat deras disertai kilat. Maka, bila hujan seperti itu turun, bersegeralah tidur. Hilangkan ketakutanmu di hari itu. Bila kau tak tidur, kau hanya akan mengutuk-ngutuk hujan dan perbuatan itu akan tampak seram sendiri kepadamu. Namun, percayalah, bahwa sebenarnya kau hanya dibayangi oleh ketakutan. Tidakkah kau lupa bahwa dalam ilmu astronomi kilat sebagai penebal lapisan ozon?”
“Kau menyalahkanku?”
Kau tak menjawab. Suatu kesempatan untuk mengalihkan topik lain. Apa pun. Tapi jangan hujan. Bagaimana kalau tentang negara? Ya! Negara dan politik. Aku suka itu. Namun, mulutmu lincah meliuk, seakan tak suka kalau topik kita dialihkan ke situ.
“Apabila kau mendapati sebentar hujan dan sebentar panas, itulah hujan yang tergesa-gesa. Itulah hujan lebih membahayakan ketimbang banjir bandang. Badan bisa panas dingin karenanya,” kau tertawa kecil. Deskripsimu berhasil. Sayang, aku tak tertarik.
“Hujan yang pemalu. Hem, ya, bagaimana bila kau melihat tingkah orang yang pemalu?”
Tak penting untuk kujawab. Kini, aku rasa kau hanya seorang pembual. Tak lebih dari sebuah pertunjukan sirkus yang menakjubkan tetapi pias sampai di luar.
“Hujan yang pemalu adalah hujan yang selalu datang diam-diam serta datang dengan lembut. Apabila ditatap, hujan itu akan menghindar. Dan….”
“Cukupkan ceritamu. Aku mau pulang saja. Aku tak mau kena hujan lagi. Aku bukan manusia hujan sepertimu. Tubuhku tak sekuat tubuhmu.”
“Aku belum menuturkan kalau hujan beraroma tanah, rerumputan, bunga, dan juga beraroma tubuhmu.”
“Aku sudah bosan!”
“Selalulah bersamaku. Akan aku tunjukkan kalau hujan itu indah. Akan aku tunjukkan kalau hujan itu romantis. Akan aku tunjukkan kalau hujan itu sepertimu….” nadamu tenang. Aku kembali duduk. Kita kembali sehadapan.
Aku tidak mengerti kenapa kau begitu tergila-gila pada sebuah musim yang hanya bisa menjanjikan basah. Hanya aku tahu, mengajakku berlama di ruangan yang berukuran 5 x 8 meter karena sedang menunggu hujan, bukan?
***
TIADAKAH ada yang lebih romantis daripada hujan? Aku mulai bosan berhubungan denganmu, manusia hujan, karena aku selalu merasa tubuhku selalu basah dan menggigil. Aku ingin jalan-jalan, berbelanja pakaian atau mendaki gunung.
Hujan datang. Hujan menyambangi. Aku menghela nafas. Berat. Kau tersenyum. Kau mendekatkan diri pada video player-mu. Dalam sekejap Winter Sonata from The Beginning Until Now menyesaki ruang hati kita. Lagu itu sungguh romantis. Lagu itu sungguh indah, katamu. Lagu yang paling kau suka. Nyalang matamu menembus dinding kaca….
“Aku ingin bersamamu. Hujan selalu mengingatkanku padamu!” Oh, ada mendung di matamu. Tanganmu mulai nakal meremas tanganku. Aku diam. Aku beku. Aku kaku. Semoga kata-katamu selanjutnya sama dengan yang kupikirkan.
Tapi kau memindahkan matamu kepada hujan. Kau berlari. Terpaksa aku menyusul, berusaha menghentikan tubuhmu yang meluncur deras serupa burung dadali yang berbasahan. Berkejaran.
“Apa yang kau inginkan di hujan ini?”
“Aku ingin kita segera kembali. Aku tak ingin hujan-hujanan begini.”
“Ayolah….”
“Aku bukan manusia hujan sepertimu. Aku manusia rapuh. Kurus dan pesakitan.”
“Aku tak ingin kau lebih sakit lagi.” Matamu sayup. Suaramu surup…
“Apa?”
“Bersamalah denganku.”
“Kau.”
“Pejamkan matamu! Biarkan air hujan mencium dan menyentuh hatimu,” katamu setengah berteriak.
Kau menuntunku. Di bawah hujan, satu kecupan mendarat. Aku merasakan basah namun hangat. Dingin tapi indah. Romantis! Kekuatan hujan telah memengaruhiku. Ini cinta. Sumpah, ini cinta. Aku melayang. Aku terbang. Dan, aku serasa menjadi hujan!
Siapa yang tidak tahu kalau bulir air hujan mengandung sifat asam? Kita tolol sendiri. Gemeretak gigimu sangat kuat. Hem, ternyata manusia hujan juga rapuh, sanggah batinku. Kau menggigil dengan hidung dan kepala udang rebus. Suatu kesempatan bagiku menertawaimu karena hujan. Suatu kesempatan untuk mengejekmu karena hujan. Suatu kesempatan mengomelimu karena hujan. Hujan yang sangat kau gandrungi mempersempit pembuluh darah dan mengurangi kekebalan tubuhmu. Tetapi kau benar-benar manusia hujan! Sampai, When I Need You mengalun dari suara Julio Iglesias, aku menghangatkanmu.
“Aku ingin menikahimu saat hujan beraroma tubuhmu,” nadamu tak lebih dari memohon. Tapi cukup membuatku beku.
***
PAGIKU terasa bising melenting denting di dalam hening. Hujan. Telapak kaki terasa dingin. Sedingin ketika kita usai menendang buih di tepi pantai. Atau sedingin mata dan tanganmu ketika menelanjangi air mataku. Ah, rasanya tubuhku kian letih. Kulurut selimutku hingga dingin tak lagi menjamahi kaki. Entah, sudah keberapa kalinya hujan kunikmati sendiri. Entah pula, keberapa kalinya hujan menyembunyikan air mataku. Aku merinduimu.
Aku mulai menyukai hujan. Kenapa aku tolol? Apakah karena rindu atau karena hujan? Berapa kali hujan menjamahku? Aku tak tahu persis. Yang jelas, hatiku basah dan berusahan menyembunyikan air mataku pada hujan. Aku mendekap dalam selimut. Aku tahu, cappucino atau teh sepat hangat tak akan lagi terhidangkan di atas meja. Kali ini, aku tak ingin hujan melihat air mataku. Aku tak ingin hujan merampas air mataku. Maka, kubuat sendiri hujan itu di bawah selimutku.
“Hidup bukan perjuangan menghadapi badai. Tetapi bagaimana agar tetap bisa menari di tengah hujan,” suaramu yang seperti daun kering diremukkan angin, kembali melenting. Lebur bersama rintihan sakitmu yang kini menjadi sakitku.
Kenapa kau tak pernah bercerita kalau kau manusia rapuh seperti hujan? Kenapa kau tak pernah memberitahuku kalau rekam jejak hidupmu lebih cepat dari hujan? Kau tahu, kebohonganmu selalu menghadirkan hujan di wajahku.
Tapi, aku tetap ingin menikahi hujan, sebagai gantimu.
Annuqayah, 2012
(Terkenang seorang guru; Lan Fang)

Tuesday, 5 June 2012

Rumah di Tepi Lumpur (MENGENANG TRAGEDI LUMPUR LAPINDO)


Rumah di Tepi Lumpur (MENGENANG TRAGEDI LUMPUR LAPINDO)
Posted by PuJa on June 2, 2012
Yusri Fajar
_Koran Surya, 2008

Senja berhias debu beterbangan dari jalanan yang tergilas roda kendaraan. Beberapa truk berjalan beriringan, datang silih berganti memuntahkan tanah keras bercampur batu di atas tanggul penahan luapan lumpur. Karman, lelaki berumur empat puluh lima tahun, menatap hamparan mega dari atas salah satu sudut tanggul yang memanjang. Telah setahun rumahnya tenggelam dalam lumpur yang keluar deras dari perut bumi. Rumah hasil jerih payahnya itu kini tinggal kenangan.
Karman datang ke atas tanggul itu bukan untuk menangisi nasib. Ia hanya ingin mengenang hari, tanggal dan bulan ketika dulu batu pondasi rumahnya diletakkan pertama kali. Semangat perjuangan saat rumah itu didirikan masih membekas dan terus berkobar. Karman ingat bagaimana dulu ia harus pergi ke bank untuk meminjam sejumlah uang untuk membangun rumah secara bertahap hingga empat bulan. Tapi belum lunas cicilan hutangnya ke bank, kini rumahnya terbenam lumpur. Rasa marah menggumpal dalam hatinya. Ia tahu pengeboran yang bocor adalah biang keladinya. Tapi ia tak ingin larut dalam dendam dan kesedihan. Kini harapan mendapatkan ganti rugi dan segera membawa istri dan kedua anaknya pindah dari lokasi pengungsian yang lekat dalam pikiran Karman.
Waktu Karman berangkat dari lokasi pengungsian menuju tanggul lumpur, ia melihat kedua anak lelakinya yang masih SD sedang bermain bola bersama teman-temannya. Dulu mereka biasanya bermain bola di tanah kosong dekat rumahnya yang kini terkubur lumpur. Tapi sekarang permainan dilakukan di halaman pasar tempat mengungsi. Mereka juga harus rela pindah ke sekolah dekat pengungsian karena gedung sekolah dasar di desanya lenyap.
Karman masih tertegun menatap lautan lumpur. Ia teringat orang tuanya yang telah almarhum. Kuburan mereka di pinggiran desa juga tak luput dari terjangan lumpur. Keluarganya kini tak bisa lagi berziarah ke makam kedua orang tua yang telah membesarkannya. Karman juga memperkirakan nisan petanda kubur orang tuanya mungkin telah rusak atau hilang karena lumpur.
Karman berandai-andai dan bertanya. Jika lumpur bisa surut apakah ia masih akan melihat rumahnya kokoh berdiri dan menyisakan beberapa bagian bangunannya yang tentu menyimpan jejak sejarah hidup keluarganya? Andai lumpur sirna apakah ia masih bisa mengenali lokasi kuburan kedua orang tuanya untuk kemudian dengan khusyu menaburkan bunga di atasnya. Karman menerawang. Dilihatnya asap tebal masih mengepul dari pusat semburan. Lumpur masih terus menyembur. Senja terus merayap. Maghrib segera tiba. Dari atas tanggul, Karman juga bertanya dalam hati apa secercah asa untuk membangun rumah baru masih tersisa.
Tiba-tiba terdengar suara memanggil dari arah belakang. Karman tersentak dari diam.
“Pak, ibu minta bapak kembali ke pengungsian,”teriak anak pertama Karman sambil berjalan mendekat.
“Ada apa? Sebentar lagi bapak juga pulang.”
“ Ibu nafasnya sesak, dari tadi batuk-batuk.”
“Pasti sakitnya kambuh lagi.”
“Makanya, pak, kita pindah dari pengungsian. Bangun rumah lagi, pak. Biar ibu, aku, dan adik tidak kedinginan kalau malam.”
“Bapak belum punya uang, nak. Sabar. Nanti kalau uang ganti rugi sudah diberikan kita akan bikin rumah lagi. Ayo kita pulang. Nanti ibu menunggu.”
Karman dan anaknya berjalan menyusuri tanggul lumpur kemudian menuruni tangga dari batu. Wanti, istri Karman memang sering sakit setelah tinggal di pengungsian. Kehidupan yang jauh dari bersih dan memadai serta beban pikiran telah membuat wanti sakit. Sesampai di pengungsian Karman menghampiri Wanti yang tengah berbaring di atas kasur tua yang terletak di atas lantai.
“Aku bawa ke dokter di posko, ya? Biar nanti diperiksa dan diberi obat,” kata Karman sambil mengusap kening Wanti.
“Nggak usah. Nanti juga sembuh. Mungkin tadi siang aku kena debu sehingga batuk dan sedikit sesak.Tolong buatkan aku teh hangat saja”
“Kamu harus banyak istirahat. Jangan terlalu capek dan kena angin berdebu,” kata Karman sambil menatap wajah Wanti yang sedikit pucat.
Karman lalu berdiri dan bermaksud membuatkan teh. Tapi belum sampai Karman menyibak kelambu, Wanti bertanya,” Kapan kita akan pindah dari sini?” Suara Wanti agak terdengar parau tapi ia melanjutkan bicara. “Lambat laun aku tidak tega melihat anak-anak kita hidup begini. Mereka terus-menerus protes karena dulu biasanya belajar di rumah.”
“Aku juga kasihan mereka, “Karman terdiam sebentar. “Mudah-mudahan kita bisa segera pindah. Besok kan jadwal pembagian ganti rugi.”
“Benar besok pembagiannya? Nanti ditunda-tunda lagi. Berapa kali kita dibohongi. Sampai lelah. Sudah berkali-kali menuntut tapi tetap nihil hasilnya. Kita telah berbulan-bulan terlunta.”
“Sabar,” kata Karman datar
“Justru kesabaran itu yang sering dimanfaatkan orang.”
“Mudah-mudahan besok ganti rugi akan diberikan. Setelah ada dana, kita segera pikirkan untuk memiliki tempat tinggal permanen. Jangan terus marah dan bersedih. Nanti kondisimu malah tidak kunjung membaik. Aku buatkan teh dulu ya. Setelah itu aku akan ke posko, mengambil jatah makan untuk kita dan anak-anak.”
“Jangan lupa diperiksa dulu sebelum dibawa pulang. Takut nasi dan lauknya sudah basi. Seperti kemarin.”
Karman bergegas ke belakang memasak air dan membuatkan teh untuk Wanti. Malam mulai merayap. Istri dan kedua anak Karman memang tak henti menanyakan waktu pindah dari pengungsian. Sementara Karman tak mampu berbuat banyak. Meski bersama korban lumpur lainnya ia telah sampai ke ibu kota menemui para pejabat negara untuk menggantungkan asa, namun harapannya masih belum kunjung tiba.
***
Matahari telah tinggi saat Karman berada dalam antrian panjang pengambilan ganti rugi. Deru angin menabur-naburkan debu ke pepohonan yang telah mengering di sisi-sisi tanggul lumpur. Penantian Karman yang lama tak sia-sia. Akhirnya ia mendapatkan ganti rugi juga. Hatinya cukup lega. Sambil berjalan pulang Karman membayangkan sebuah rumah yang sederhana berhias senyum istri dan kedua anaknya. Sampai di lokasi mengungsi Karman tidak melihat istrinya di atas tempat tidur. Kedua anaknya juga tidak ada. Melihat tas dan seragam sekolah yang tergeletak di atas tikar di depan kelambu ia yakin kedua anaknya telah pulang sekolah.
Lalu kemana istri dan kedua anaknya? Karman bertanya-tanya. Teringat Wanti, istrinya, yang semalam masih sakit, ia bergegas keluar memeriksa sudut-sudut lokasi pengungsian. Tak juga Karman menemukan istri dan anaknya. Ia bertanya kepada beberapa pengungsi lain tapi mereka tidak tahu. Kegelisahan Karman menjadi-jadi. Tapi tak lama karena beberapa saat kemudian ia melihat Wanti, dan kedua anaknya berjalan melewati gerbang pasar tempat mereka mengungsi.
“Aku baru membelikan anak-anak kue di toko depan pasar. Tadi para tetangga memberitahu kalau ganti rugi telah diberikan semua.”
“Ya, benar. Tapi belum seratus persen,” jawab Karman sambil mengajak wanti dan kedua anak mereka masuk dalam bilik tempat mereka mengungsi.
“Kamu sudah sehat?”
“Ya. Sudah membaik. Sepertinya harapan kita untuk mendirikan rumah secara perlahan akan jadi kenyataan.”
“Tapi kapan, pak?” anak mereka yang nomor dua bertanya.
“Secepatnya, nak.” Jawab Karman seraya mengelus kepala bocah kelas enam SD itu.
Siang semakin panas. Setelah memperoleh jatah makan, Karman, Wanti dan kedua anak mereka tampak melahap makanan bersama-sama. Tak lama kemudian kedua anak mereka pamit bermain sepak bola. Karman dan Wanti tampak duduk di dalam bilik pengungsian. Mereka berdiskusi tentang rencana mendirikan rumah. Karman ingin mempunyai rumah yang lokasinya masih dekat dengan kota. Tak jauh dari pusat keramaian. Ia ingin memulai lagi usaha berjualan pakaian yang telah lama berhenti sejak musibah lumpur.
Sementara Wanti ingin membangun rumah di atas tanah pemberian orang tuanya di pinggiran kota. Ia ingin menjauh dari lokasi-lokasi pengeboran dan daerah pusat pengembangan kota. Ia ingin menghapus trauma atas musibah yang menimpa keluarganya. Dulu Karman dan Wanti sebenarnya ingin menempati tanah itu. Tapi karena lokasinya sangat jauh dari tempat Karman berjualan, mereka memutuskan membangun rumah di lokasi yang sekarang terendam lumpur.
Lokasi tanah pemberian orang tua Wanti itu masih sepi. Di sisinya nampak hamparan sawah yang membentang luas.
“Kamu mantap tinggal di atas tanah itu?” tanya Karman pada Wanti.
“Mantap. Daripada mengungsi? Dan lagi uang ganti rugi kan belum semua diberikan. Hanya cukup untuk dana awal membangun dan melunasi cicilan hutang kita yang dulu. Mana mungkin membeli tanah lagi,” kata Wanti berusaha meyakinkan. Melihat Karman terdiam, Wanti bertanya,”Bagaimana? Bukankah kamu ingin secepatnya membawaku dan anak-anak pindah dari pengungsian?”
Karman tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali. Matanya menerawang teringat istrinya yang berkali-kali menangis ketika lumpur mulai menenggelamkan rumah mereka. Terbayang juga anaknya yang lapar di pengungsian karena bantuan makanan yang belum tiba.
Yusri Fajar
Dijumput dari: http://www.facebook.com/notes/yusri-fajar/rumah-di-tepi-lumpur-mengenang-tragedi-lumpur-lapindo/10150194577803061

Bumi dan Langit Melindungiku


Bumi dan Langit Melindungiku
Posted by PuJa on June 2, 2012
Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Wayan berjalan tersaruk-saruk di tanah becek menuju tanah tegalan yang ditumbuhi batang-batang kelapa yang sudah tua buahnya. Walau kakinya terasa sakit, dia terus melangkah sebab ingin segera memanjat batang-batang kelapa itu dan memetik buahnya. Sudah waktunya dia memetik buah kelapa, dan hasilnya harus segea dijual dan uang penjualannya diserahkan pada Gusti Made yang tinggal di rumah besar di kota. Hampir tidak pernah Gusti Made datang menengok kebun kelapanya, dan mungkin juga tak peduli mengenai hal itu. Anak-anak Gusti Made juga tak ada yang tinggal di kota itu, kebanyakan sudah merantau ke Surabaya dan Jakarta. Yang paling dekat tinggal di Denpasar.
Di antara batang-batang kelapa itu dia menanam batang pisang, puluhan batang jumlahnya, atau mungkin ratusan, dan batang pisang itu gampang tumbuh dan tak perlu dipelihara. Setelah dipetik buahnya yang sudah tua, batang pisang dirobohkan, dan batang yang baru sudah siap bergegas tumbuh untuk memberikan buah. Bunganya pun laku dijual, dimasak menjadi sayur yang digemari. Namun dia sering memberikan bunga itu pada tetangga-tetangganya yang memerlukannya.
Bilamana tiba musim panen seperti ini, para pemetik datang tanpa mendapat komando, seolah mereka sudah tahu kapan saatnya memanen butir kelapa. Bukan itu saja, anak-anak dari sekitar situ ikut berdatangan dan saat butir kelapa itu jatuh ke tanah, mereka dengan memelas minta sebutir, dan tentu saja dia memberikannya pada mereka. Entah berapa puluh butir kelapa yang berpindah ke tangan mereka, namun dari ribuan butir kelapa, jumlah itu sepertinya memang harus diikhlaskan untuk diberikan pada mereka. Terkadang ada yang minta setandan pisang yang sudah tua, dan dia tak bisa menolak permintaan itu.
Seusai saat panen dan butir-butir kelapa telah terkumpul, seseorang yang datang dengan sebuah truk menghitung hasil panen itu dan menyerahkan sejumlah uang pada Wayan. Para pemetik kelapanya sudah bersiap untuk menerima upahnya. Wayan masih menyisihkan beberapa butir kelapa yang akan diolah istrinya menjadi minyak goreng.
Disamping itu, mereka masing-masing telah membawa beberapa butir kelapa dan beberapa sisir pisang. Di rumah Gusti Made di kota, Wayan duduk bersimpuh di lantai menikmati secangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas dan sepiring pisang goreng. Dia telah menyerahkan hasil penjualan kepala dan pisang, dan membawa pula setandan pisang yang sudah hampir masak, dan tiga botol minak goreng yang dibuat dari santan kelapa murni. Sambil mengepulkan asap rokoknya, Gusti Made berkata sambil tersenyum:
“Kok hanya segini, Yan?”
“Maaf Gusti. Sudah dipotong ongkos petik sepuluh orang.”
“Oh, gitu.”
Nampaknya Gusti Made tidak bermaksud menuntut mendapat bagian lebih banyak. Dia saat masih muda sering ikut menangani pemetikan kelapanya. Dan dia juga tahu bahwa memetik kelapa berarti membagi-bagi rejeki dengan orang sedesanya. Kelapa adalah milik bersama orang-orang selingkungannya. Dia juga tahu bahwa di luar musim panen pun mereka kadang memanjat pohon kelapa dan memetik beberapa butir untuk keperluan sehari-hari. Apalagi Wayan pasti tahu kebiasaan itu. Belum lagi dengan tanaman pisang yang sering “tidak sengaja” dirobohkan dan diambil bunganya, kemudian diambil buahnya.
Sehari-hari Wayan menjaga kebun kelapa luas itu, empat hektar luasnya bersama keluarganya. Kebun kelapa itu terbentang antara tepi jalan raya yang membujur ke timur-barat sampai menjilat bibir pantai di utara. Sering Wayan berjalan di bawah batang-batang kelapa itu sampai ke pantai dan di sana dilihatnya pantai yang berpasir lembut, dan ombak di laut membiru yang tenang. Beberepa perahu nelayan nampak di laut agak ke tengah.
Istri dan dua orang anaknya berteduh di bawah gubuk yang dibangun dengan dinding batako setinggi orang dna bagian atasnya dinding gedek, dan atapnya daun kelapa yang sudah tua. Tanah mereka mungkin seluas lima are ( 500 m2) terpisah dari ladang kelapa dengan jalan raya. Tanah mereka terletak di sebelah selatan jalan raya. Eantah, katanya dulu Gusti Made punya tanah sekitar dua hektar di situ, namun semuanya sudah terjual kecuali tanah yang ditempati Wayan. Wilayah itu sudah berkembang menjadi sebuah desa yang makin meluas. Terkadang seorag dua turis manca negara melintas di desa itu dengan mengendarai sepeda. Mungkin mereka menginap dihotel besar beberapa kilomeyer jauhnya ke arah barat dari desa itu.
Istrinya memanfaatkan tanah yang tersisa dengan membuat kolam ikan dan menanam sayuran, sekedar untuk mereka makan sehari-hari. Di atas tanah itu juga tumbuh tiga atau empat batang kelapa yang sudah dapat dipetik buahnya.
Selain itu, istri Wayan mengolah pisang menjadi kripik pisang. Wayan sengaja menyisihkan sejumlah batang pisang untuk keperluan dirinya sendiri, namun tidak mencolok mengurangi jatah pisang yang harus dia setor pada Gusti Made. Untuk jenis pisang manis, diunduh ketika sudah tua benar, lalu dikupas dan ditaruh di atas tampah, dilapisi dengan lembaran plastik agar tidak dicari lalat. Tampah-tampah itu dijemur beberapa hari sampai pisang-pisang itu menjadi pisang salai.
Sesekali seseorang dari kota datang dan membeli kripik pisang dan pisang salai itu untuk dijual kembali di kota dengan harga berlipat. Walaupun Wayan tahu makanan itu mahal bila dijual di kota, dia tidak pernah berusaha menjualnya langsung ke kota. Andaikata saja dia tahu, dia dapat memasok toko kue dengan pisang salai dan kripik pisang, mungkin dia tertarik menjualnya ke kota.
“Ah, bagi-bagi rejeki,” katanya pada istrinya, dan setuju dengan pendapat itu. Mereka sudah bersyukur telah mendapat rejeki itu, dan tidak lupa memanjatkan doa setiap hari di tempat sembahyang kecil di sudut pekarangan rumah mereka.
Musim petik sudah tiba kembali. Kaki Wayan masih terseok-seok namun dia tetap datang ke tempat memetik. Bahkan dia kali ini ingin ikut memanjat batang kelapa. Setelah hujan, batang kelapa agak licin. Ketut salah seorang pemetik memperingatkan:
“Hati-hati Yan. Belik.”
Wayan hanya tersenyum dan mulai memanjat pohon yang dipilihnya. Sabit diselipkan di pinggangnya dan dengan cekatan dia menapak pada batang kelapa yang sudah dicukil untuk tempat kaki berpijak. Namun, malang tak dapat ditolak.
Belum sampai setengah tinggi batang, kaki Wayan tergelincir, dia kehilangan keseimbangan dan meluncur ke bawah. Untung sabitnya jatuh lebih dahulu jadi tidak melukai dirinya dan dia jatuh berdebum ke tanah. Teman-temannya berlarian ke arah Wayan jatuh, lalu menggotongnya pulang. Wayan tak mampu bangkit, dan mereka membawanya ke dukun ahli patah tulang. Di rumah dukun, tubuh Wayan dibungkus dengan pasir hangat dan dia harus berbaring diam selama beberapa hari. Istri Wayan hanya bisa menangis. Wayan berbisiik lirih:
“Coba kamu lapor ke Gusti Made.”
Para pemetik kelapa itu meneruskan pekerjaannya sampai selesai, sampai truk yang mengambil kelapa itu datang dan sampai ongkos memetik kelapa dibagikan dan sampai mereka semua pergi membawa pisang, beberapa butir kelapa dan uang tunai untuk membeli beras.
Gusti Made tidak segera datang menengok sampai Wayan sembuh, bisa berjalan walau harus dibantu dengan tongkat. Hari itu sebuah mobil sedan datang dan diparkir di depan gubuk Wayan. Turun dari mobil Gusti Made dan tiga orang lelaki berpakaian perlente, yang segera diperkenalkan pada Wayan yang menyambut mereka.
“Ini Pak Wayan, penyakap 2 tanahku,” katanya. Mereka hanya tersenyum dan mengangguk padanya. Tanpa basa basi, Gusti Made meminta Wayan mengantar para tamu itu berkeliling kebun kelapa sampai ke bibir pantai, dan mereka semua mengangguk-angguk, dan akhirnya Gusti Made berkata pada Wayan:
“Mereka membeli kebun kelapa kita.”
“Maksud Gusti Ajie? Saya harus keluar dari gubuk saya?”
“Oh, tidak. Nanti aku suruh urus surat-uratnya agar tanah itu resmi menjadi milikmu.”
Dalam hati Wayan bersyukur tidak kehilangan tempat tinggal yang sudah dia tempati semenjak dengan almarhum ayahnya dulu.
Dan, tak sampai beberapa lama, sejumlah batang kelapa ditebang, namun beberapa lagi yang masih muda dibiarkan tegak, bersama sebuah hotel yang terdiri dari pondok-pondok wisata yang indah.Di tengah-tengahnya dibangun sebuah kolam renang dengan air jernih membiru. Untunglah Wayan masih diberi pekerjaan sebagai tukang kebun. Wilayah itu sekarang ramai dikunjungi wisatawan asing.***
* Singaraja, 18-19 Maret 2012

Friday, 1 June 2012

Khidmat


Khidmat
Posted by PuJa on May 30, 2012
Budi Saputra
http://www.lampungpost.com/

MEREKALAH yang tunduk kepada para pendakwah yang berhati baik. Yang ijtihad, bersungguh-sungguh dalam memerangi hawa nafsu yang membelit. Tiap hembusan napas, setan dan bala tentaranya memukul tabuh genderang perang kepada lawan abadinya sejak berada di tempat yang sangat-sangat jauh sebelum masehi. Sebelum adanya Habil dan Qabil, para nabi, kaum Tsamud, kaum Luth, bangsa Romawi dan Persia, bahkan para hobbit Flores yang dikemukakan oleh para ilmuwan. Dan merekalah, yang begitu tunduk pada makhluk yang sempurna dan utama yang diciptakan dari air mani yang busuk, dan berkesudahan kembali menjadi yang berbau busuk: bangkai dalam kubur.
Merekalah, yang dimaksud oleh Syekh Hasan pada para muridnya, adalah makhluk-makhluk yang senantiasa berzikir pada Tuhannya. Seperti halnya sayap burung yang mengepak di udara tanpa ada penghalang, sayap itu juga senantiasa berzikir mulai dari kobar matahari timur hingga terbenam di ufuk barat. Begitu jernih, begitu tampak nyala kesungguh-sungguhan dari Syekh Hasan saat menyampaikan ceramah pencerah pada para muridnya. Dengan sorban putih, gamis putih, dan janggut putih, Syekh Hasan tampak berwibawa dan rendah hati. Hidup dengan kesederhanaan bercermin pada orang-orang terdahulu. Orang-orang suci yang senantiasa menghidupkan malam dengan penuh khusyuk pada Tuhannya.
Ilmu yang dikuasai Syekh Hasan adalah imu-ilmu yang baik. Baik sanad dan baik tujuannya. Syekh Hasan banyak menguasai kitab-kitab hadist dan kitab kuning. Pun butir-butir hikmah yang berisikan kisah-kisah pendakwah, begitu jernih, begitu tampak nyala kesungguh-sungguhan pada mata Syekh Hasan.
Butir-butir hikmah itu, memang, selalu ada rasa takjub tercipta. Antara percaya dan tak percaya. Bahwa dalam kisah-kisah tak sembarangan itu, memang ada keistimewaan di dalamnya. Apakah pada jin, iblis, ataupun pada hewan-hewan masuk surga? Ya, sungguh tak bisa mengatakan bahwa tak ada sangkut pautnya dengan mereka. Merekalah, atau pada mereka yang lain yang tak punya akal dan nafsu seperti manusia. Hanya sebagai makhluk Tuhan yang berkhidmat kepada manusia dan kepada para pendakwah yang berhati baik. Semacam karomah. Ya, karomah yang memang tak sembarangan orang yang mendapatkannya. Hanya orang-orang tertentu sebagai wali. Orang-orang yang bersih wajahnya, baik amalannya, dan selalu menjunjung surga dan neraka di kepalanya.
***
SUATU pagi di Amazon, dua orang pendakwah tampak mandi dan mencuci di sungai yang banyak ditumbuhi ikan-ikan pemakan daging. Mereka itu adalah pendakwah dari negeri jauh yang datang melihat para saudara mereka. Membawa bekal secukupnya, melihat dunia dengan sangat hati-hati. Sangat hati-hati dan tak panjang angan-angan. Sementara di jidatnya, tanda pengabdian itu, sangat jelas terlihat.
“Hah, kenapa mereka tak dimakan oleh ikan?” Dalam bahasa mereka, orang suku setempat seketika terheran melihat pendakwah yang mandi dan mencuci di sungai tulang itu. Sungai yang apabila ada burung yang jatuh dari pepohonan atau bangkai mamalia yang hanyut, maka seketika akan menjadi tulang. Daging-dagingnya ludes seketika di makan oleh piranha, hewan karnivora yang ganas di perairan Amazon.
Sungguh ajaib, pikir mereka. Tapi adalah bisa diterima oleh akal sehat. Amalan-amalan yang begitu ikhlas, membuat ikan-ikan buas itu khidmat kepada pendakwah itu. Sebagaimana halnya orang-orang yang berjalan di atas air saat berdakwah, tanah yang berubah menjadi burung, atau lahar panas yang diusir oleh seorang saleh dengan sorbannya pada zaman terdahulu. Sungguh kadang sulit dipercaya. Tapi begitulah keistimewaan yang didapat para pendakwah yang berhati baik dan menunaikan adab. Keistimewaan yang salah satunya pernah didapat Nabi Sulaiman yang menguasai bala tentaranya dari bangsa jin, manusia, angin, dan juga binatang. Atau pada keistimewaan dari seorang khalifah. Sungai Nil yang pernah suatu ketika tak mengalir, akhirnya kembali mengalir hanya dengan selembar surat yang membuat Sungai Nil taat dan patuh.
Sungguh ajaib. Pemandangan yang mereka lihat itu, membuat mereka terpikat.
“Tuan, kami bersedia mengikuti amalan-amalan Tuan.” Dalam bahasa mereka, orang suku setempat menyatakan ketertarikan dengan ajaran pendakwah itu. Dengan mendengar kebesaran-kebesaran Tuhan di bumi dan di langit, mereka begitu takjub dibuatnya.
“Kami amat bersyukur sekali. Semoga saudara sekalian selamat sampai tujuan sesungguhnya.”
Maka, pendakwah itu dengan rasa syukur atas usahanya berbincang banyak hal dengan orang suku setempat. Berbaur dengan kerendahan hati. Selain bercerita tentang perjalanan dari negeri jauh dan tujuannya di daerah orang suku setempat (tujuan yang mulia di muka bumi yang fana, seperti orang-orang terdahulu yang begitu gigih meski harus korban harta benda, terluka, hingga mati sebagai pendakwah), tentu yang utama sekali mengajari mereka cara berpegang teguh kepada kebenaran. Membekali mereka dengan ilmu-ilmu yang baik sebagai bekal yang amat panjang.
Di suatu kesempatan, pendakwah itu juga bercerita tentang negeri jauh yang lain. Di sebuah celah bumi, di sebuah desa kecil di Jepang, pendakwah ini bertemu dengan seorang penduduk setempat. Awalnya, pendakwah ini tak heran saat dibawa menuju ke sebuah lahan. Namun, saat melihat dereta kuburan, maka bertanyalah mereka.
“Kenapa Tuan membawa kami ke sini?” Pendakwah ini heran saat dibawa ke kuburan. “Ini bukankah kuburan, Tuan. Orang-orang yang telah mati dan tak bisa diajak bicara lagi?”
“Tuan betul. Tapi begitulah, Tuan. Di sini ayah saya, ibu saya, dan saudara-saudara saya dikuburkan. Mereka mati sebelum Tuan datang. Tuan memang terlambat datang terlambat ke sini. Saat negara saya terus-menerus mengirim benda-benda teknologi ke negeri Tuan, seharusnya Tuan juga datang ke sini. Melihat saudara-saudara Tuan yang sama bumi dan sama langit ini. Tapi Tuan, meskipun begitu, saya sangat bersyukur sekali. Datang dari negeri jauh? Oh, sungguh tak terpikirkan oleh saya, Tuan. Jalan yang aneh. Jalan yang tentu sangat mulia bagi Tuan.”
Ya, begitulah para pendakwah dengan mereka. Mereka dalam artian lain merupakan makhluk-makhluk yang memang diciptakan untuk khidmat pada manusia. Di muka bumi, bukankah manusia diciptakan untuk menjadi khalifah? Dulunya, gunung-gunung tak sanggup menerima amanah yang Tuhan ajukan pada mereka.
***
SYEKH Hasan, dengan cara sedemikian halus itu, mengajari para muridnya dengan butir-butir hikmah. Sehingga ceramah pencerah yang disampaikan memang menghujam dalam ke dalam dada para muridnya. Ceramah pencerah yang didengar dengan baik-baik. Tak ada saling berbisik, tak ada yang tidur-tiduran, ataupun memasang wajah seperti meremehkan. Semua begitu hormat mendengarkan sambil memandang wajah Syekh Hasan dengan penuh keseriusan. Karena begitulah adab. Adab yang apabila tak ditunaikan, maka ilmu pun hanya masuk dari telinga kiri dan keluar di telinga kanan. Berkah tak didapat, dan seolah tersisih dan berada di luar bongkahan cahaya terang benderang, yang terhubung dengan langit jauh yang paling jauh.
Dan selalu saja. Selalu saja butir-butir hikmah yang disampaikan Syekh Hasan membuat para muridnya mengucapkan kalimat-kalimat langit yang suci lagi mulia. Ada rasa takjub. Yang membuat hati mereka tertanam semangat yang melimpah-limpah hingga begitu membara. Begitu membara memerangi diri sendiri, hawa nafsu, dan musuh terkutuk sepanjang abad manusia.
Setiap Syekh Hasan memberikan ceramah pencerah pada para muridnya, maka tentang kisah-kisah karomah dan kisah lain yang seakan tak masuk akal memang kerap menjadi sebuah pemantik iman. Sebagaimana Syekh Hasan menceritakan tantang sebuah negeri yang diberkahi. Di negeri itu, penduduknya hanya sekali seminggu melaut. Tapi, meskipun hanya sehari melaut, hasil yang didapat bisa tahan selama seminggu. Konon, ikan-ikan di sana sangat patuh dan mendekat begitu saja untuk ditangkap karena kekuatan amalan-amalan yang ikhlas penduduk sana.
Memang, selain rasa takjub, terkadang kisah-kisah karomah dan kisah lain yang seakan tak masuk akal itu, membuat para murid Syekh Hasan ingin juga merasakan dan menyaksikan secara langsung bagaimana kisah itu terjadi. Sungguh mulianya manusia, pikir mereka. Derajat manusia yang lebih tinggi dari makhluk-makhluk lain yang diciptakan. Betapa di majelis itu. Di majelis yang selalu tumpah ruah dihadiri. Selalu kata-kata itu diucapkan berulang-ulang oleh Syekh Hasan. “Bicarakanlah kebesaran Allah. Bicarakanlah keagungan Allah. Karena itu akan membuat iman kalian menjadi naik.”
Padang, 2012 //27 May 2012

Tuesday, 29 May 2012

Mbah Mar


Mbah Mar
Posted by PuJa on May 27, 2012
Yulizar Fadli
http://www.lampungpost.com/

ANGIN kalem. Mata Mbah Mar melek-merem. Kambing-kambing gembalaannya juga tampak ayem mengunyah rumput gemuk yang tumbuh di Balai Pertanian—para penduduk menyebutnya balitan. Balitan milik pemerintah itu terbentang luas dan ditanami beragam ubi, bunga, sampai padi berkualitas tinggi. Yang terang, sekeliling kawasan itu dipagari kawat berduri.
Dulu, hanya Mbah Mar dan Mbah Kirut yang boleh menggembalakan hewan ternak di tempat itu, karena pasangan suami-istri ini memang dekat dengan pimpinan Balai Pertanian. Misalnya saja Mbah Kirut, setiap bulan ia tak pernah absen membersihkan parit rumah dan kebun pribadi milik sang pimpinan. Kalau ada orang lain yang nekat atau diam-diam menggembalakan hewan ternak di sana, maka Pak Wayan, pimpinan balitan, bertubuh tambun, berkepala botak, dan berjenggot tebal, tak akan segan-segan membawa senapan burung untuk mengusir mereka semua.
Satu orang yang pernah sial terkena pelor burung Pak Wayan, ditembak dari jarak sepuluh meter dan mengena tepat di bagian kanan kakinya. Orang itu blingsatan. Ia lari terbirit-birit membawa sabit sambil mencangklongkan karung plastik berisi rumput ke bahunya yang tinggal tulang.
Sejak setahun setelah kepala negara baru didapuk di negeri ini, Pak Wayan meninggal akibat kecelakaan beruntun. Opel Blazer yang ia kendarai hancur tak keruan. Ada sekitar tiga atau empat kendaraan yang beruntun bertabrakan. Tak tahu pasti menelan berapa korban, yang terang, Pak Wayan meninggal di tempat kejadian. Sejak itulah, orang-orang jadi merasa bebas menggembalakan atau mencarikan rumput untuk hewan ternaknya di balitan.
“Udah enggak ada lagi yang bawa senapan burung sambil berteriak lantang,” ujar penggembala kepada penggembala lainnya.
Tapi hal itu berbeda buat Mbah Mar. Mbah kesayanganku itu merasa kehilangan bosnya. Mbah Mar yang paling kencang menangis saat orang-orang datang melayat di rumah duka. Mbah memelukku waktu menangis. Saat itu, aku iseng mengintip dari celah ketiak Mbah, kulihat Bu Wayan dan Mas Agung menangis sewajarnya. Tak berlebihan seperti Mbah Mar. Ibuku juga biasa saja, menghapus air matanya dengan ujung kerudung tanpa suara. Padahal kalau dipikir-pikir, ibulah yang setiap hari tinggal di rumah itu. Sebab Ibu adalah seorang pembantu. Mbah Mar dipanggil hanya jika Pak Wayan atau istrinya minta dipijat atau dikerik.
Mbah adalah dukun pijat paling andal dan terkenal di kampungku. Ada yang menjulukinya dukun serbabisa. Malah Mbah pernah dipanggil sebagai pawang hujan waktu ada hajatan pernikahan. Mbah andal menyembuhkan kaki orang yang keseleo, tapi Mbah tak berdaya menghilangkan nyeri di kaki kiriku yang pincang ini. Tapi, walaupun begitu, aku tetap dibawa ke mana pun Mbah pergi. Meskipun jalanku lambat, Mbah tak pernah marah. Ia tetap menuntunku ke tempat orang yang minta diobati. Mbah lebih senang mendatangi daripada didatangi pasiennya.
Mengenai upah, Mbah tak pernah mematok harga. Ia terima berapa pun jumlahnya. Kalau tidak memberi uang, biasanya mereka memberi barang. Beras dan gula yang paling sering Mbah terima. Dulu, orang juga sering memberi sebungkus rokok kretek semasa Mbah Kirut hidup. Tapi sejak suami tercintanya itu meninggal karena penyakit asma, tak ada lagi sebungkus rokok yang Mbah Mar terima.
***
“REJEKI itu sudah ditaker, jadi enggak mungkin ketuker. Gusti Allah Mahaadil, Tin. Walaupun Mbah Kirut sudah meninggal, tapi buktinya Mbah tetap tegar. Ibumu juga begitu. Bu Wayan kan sudah pindah ke Yogya. Pimpinan pertanian juga sudah diganti. Mau tidak mau ibumu harus cari usaha sendiri,” Mbah berkata panjang lebar sambil menghapus air mata di pipiku. Aku mendongak dan melihat wajah Mbah yang sudah keriput. Mbah tersenyum dengan bibirnya yang sumbing.
Aku tak boleh minder. Tak boleh marah dan tersinggung. Itu semua garisan takdir, Mbah menasihatiku waktu anak Pak Bawir mengejekku habis-habisan.
Aku memang cacat dari lahir. Aku tak mau sekolah lantaran teman-teman sekolah selalu menghinaku. Itu yang membuat sekolahku hanya bertahan sampai kelas III. Padahal sebenarnya aku ingin sekolah sampai tinggi seperti Mas Kandar. Dia sekolah di jurusan psikologi. Malah sudah sampai tingkat S-2. Aku dengar cerita itu dari Bapak Mas Kandar sendiri. Ia bercerita waktu dipijat oleh Mbah Mar. Pendengaranku masih baik, meskipun mulutku tak bisa bicara.
Aku tak tahu kenapa aku bisu. Dulu, waktu aku masih dalam perut ibu, kata Mbah Mar, ibuku pernah memukul ular sampai mati. Ibu kena tulah. Kena karma. Mana boleh perempuan hamil tua membunuh seekor ular!
Kupercayai mitos itu. Mitos yang menjadi sedemikian hidup di kepalaku. Aku jadi sangat percaya bahwa kecacatanku ini memang karena ulah ibu. Tapi, walaupun begitu, sedikit pun aku tak pernah membencinya.
Ibu juga mengajariku menembang Jawa, meski sebetulnya ia tahu aku tak bisa bicara. Kudengar suara ibu sangat merdu. Ia selalu menembangkan lagu Lingsir Wengi menjelang aku tidur. Aku mengangguk-angguk saja saat ibu mengajariku menembang—anggukan yang sama saat Mbak Manise mengajariku mengaji.
Ibu juga berkisah, sebelum menikah dulu, ia bergabung dengan salah satu kelompok campur sari bernama Ojo Dumeh. Di situlah ibu bertemu dan jatuh cinta dengan bapak. Bapak adalah pimpinan dalam kelompok itu. Ia yang mengajari ibu menembang. Katanya, suara bapak lebih merdu ketimbang ibu.
Kelompok mereka terkenal di seluruh kampung dan sering diundang kalau ada hajatan. Tapi sejak ada kelompok orkes baru di kampung itu, campur sari jadi terpinggir. Campur sari dilupakan. Mereka kehilangan periuk rezeki. Tapi untunglah, kata ibu, ia diminta jadi pembantu di rumah Bu Wayan—dan itu juga berkat Mbah Mar yang waktu itu diminta untuk mengeriknya.
Itulah sebabnya, kata Ibu, sejak usiaku tiga tahun, bapak memutuskan merantau ke tanah Jawa. Bapak tak pernah pulang. Tapi ibu terlihat sabar menunggu bapak pulang. Mungkin juga tidak, sama seperti aku yang merasa bahagia meskipun sebenarnya juga tidak. Bahagia tak bahagia tetap wajib berterima kasih pada yang memberi hidup, pesan ibu setiap ia selesai menembang.
Mbah sudah sering melarang ibu menyanyikan lagu itu. Katanya, kalau dinyanyikan di malam hari, lagu itu bisa mengundang hantu perempuan. Mbah menyebutnya kuntilanak. Tapi mitos itu seperti tak penting buat ibu. Tetap saja ia menembangkannya untukku tiap malam.
Aku tak tahu isi lagu itu. Ibu juga tak pernah bercerita tentang riwayatnya. Padahal aku ingin sekali melontarkan pertanyaan untuk sekadar tahu apa artinya. Tapi sayang, pertanyaanku itu tak dapat kulontarkan.
Ibu berhenti menembang saat usiaku 14 tahun. Tepat saat Bu Wayan kehilangan suaminya tercinta, bertepatan juga saat ibu harus kehilangan pekerjaannya. Karena pimpinan Balai Pertanian yang baru pasti mencari pembantu yang juga baru. Ibu harus mencari ranting rezeki lain. Gaji bulanan yang ia kumpulkan dari Bu Wayan menjadi modal berjualan di pasar. Dari jual tembakau, kue, sampai akhirnya menjual sayuran.
Masih di usia 14, saat kampungku sudah tak ramai membicangkan pemimpin baru di negeri ini, saat itu pulalah bapakku pulang dari Jawa. Aku lupa wajah bapakku. Aku baru tahu kalau ia bapakku setelah diberitahu oleh Mbah Mar dan ibuku. Aku kaku saat Bapak memelukku.
Bapak berperawakan kurus-tinggi. Pantas saja aku juga kurus seperti itu, pikirku dalam hati. Aku juga berpikir sekaligus ingin tahu, apa sebetulnya pekerjaan bapakku. Tapi sayang, aku tak sempat mendengar percakapan tentang pekerjaannya.
Oh ya, kata ibu, bapak yang memberiku nama Suprihatin. Tak tahu juga kenapa aku diberi nama itu. Kalau kata Mbah Mar, agar aku ini jadi perempuan yang penuh rasa prihatin, wajar, pandai bersyukur, dan tidak berlebihan dalam menjalani hidup. Ada-ada saja jawaban Mbah Mar.
Mbah Mar sendiri tidak memanggilku Suprihatin. Ia memanggilku, Gotin. Tak perlu kutanya kenapa. Karena aku suka dipanggil begitu.
Bapak tak lama tinggal di rumah. Mungkin hanya sepuluh hari. Setelah itu ia pamit pergi ke Jawa lagi. Aku sempat mendengar Bapak berjanji pada Ibu bahwa ia akan segera kembali. Bapak juga berpamitan padaku sambil menyentuh daguku setelah sebelumnya berpamitan dan mencium tangan Mbah Mar.
***
RUMAH berfondasi bata merah kini hanya ditinggali tiga penghuni. Aku, Mas Nalis, dan Mbah Mar. Ibuku meninggal pertengahan April lalu. Aku dan Mbah menemukannya tergeletak di atas amben. Mulutnya berbuih. Kata Mbah Mar, ia minum racun serangga. Bapak tak pernah tahu kalau ibu sudah meninggal. Sama halnya aku, tak pernah tahu apa gerangan nasib bapakku, sebab ia tak sekalipun pulang setelah pamit pergi ke Jawa enam tahun lalu.
Aku tengah hamil tua. Usiaku 20 tahun sekarang. Aku membuka usaha menjahit setelah setahun sebelumnya mengikuti kursus di Penjahit Perintis. Di sanalah aku mendapat keahlian sekaligus bertemu dengan jodohku, Mas Nalis. Aku menikah di usia 19, dan Mas Nalis empat tahun lebih tua dariku. Meskipun pendengaranya tak berfungsi, ia adalah suami yang sabar dan penyayang. Kami dinikahkan di KUA. Tanpa pesta. Hanya ijab-kabul biasa. Aku bersyukur. Karena kehadiran Mas Nalis mengingatkanku pada ucapan Mbah Mar, rezeki sudah ditaker, jadi enggak mungkin ketuker.
***
SORE begini Mbah pasti sedang menggembalakan kambingnya di Balai Pertanian. Mas juga pasti belum akan pulang dari pasar, kataku dalam hati. Aku khawatir. Perutku mulai sakit. Ada yang menendang-nendang di dalam perut. Aku pergi ke dapur mengambil minum. Kupikir sakitnya berkurang kalau aku minum air.
Belum sempat sampai di dapur, aku melihat seekor ular di dekat pintu. Kontan saja aku takut. Aku melompat belakang. Berusaha menjerit, tapi tak bisa. Entah kenapa tiba-tiba aku mengambil sapu, kayu, atau apa saja yang ada di dekatku untuk memukul ular itu. Ular itu jadi melawan. Sebagian badannya tegak sempurna. Ia mencoba mematuk, aku menghindar. Aku memukul, ia menghindar. Akhirnya, dalam waktu yang tak lama, aku berhasil memukul kepalanya.
Setelah berkali-kali kupukuli, akhirnya ular itu mati. Kurasakan perutku semakin sakit. Aku tak kuat berjalan. Aku bersandar pada meja kayu di sebelahku, mencoba menarik napas panjang—kemudian duduk sambil memandangi ular yang sudah mati itu. Aku menunduk dan memohon pada Tuhan, agar mitos yang kupercaya itu tak menimpa bayi yang sedang kukandung ini.
Gunungterang, Mei 2012

Di Balik Gorden Jendela

Di Balik Gorden Jendela
Posted by PuJa on May 27, 2012
RR Miranda
http://www.suarakarya-online.com/

SEJAK mengenal lelaki itu Mirna selalu bangun pagi, dan matanya sembab karena susah tidur. Dadanya selalu berdetak dalam kecemasan. Entah kenapa, yang pasti ia sungguh tersiksa menanti pagi yang ditandai dengan ruap cahaya mentari. Mirna merasa perputaran waktu begitu lamban, serupa keong yang menyusuri tanggul-tanggul panjang di persawahan. Begitu lamban, sehingga membuat jantungnya selalu berdetak kencang.
Ah, kalau saja ia dapat memutar kendali waktu, tentu perasaan yang belakangan mengganggu tidak mungkin terjadi. Karena ia akan menghadirkan pagi lebih awal dari perputaran waktu yang sesungguhnya. Begitupula, ia akan memperlambat jalannya pagi menuju siang. Dengan begitu, ia selalu punya kesempatan duduk lama di beranda depan rumah. Atau, sekedar menyapu pekarangan yang sebenarnya tidak kotor. Satu lagi, ia tak akan lupa menyirami hot lady agar makin memikat di pot beranda.
Kebiasaan yang ganjil itu datang begitu saja. Bermula sejak ia mendapati sosok lelaki muda penghuni rumah di seberang. Rumah mereka hanya dipisahkan jalan kecil yang jarang dilalui oleh kendaraan. Sebab, jalan itu akan berakhir kira-kira limaratus meter saja di ujung perkampungan. Lokasi pemakaman umum di pinggir kebun jati, adalah batas akhir jalan yang memisahkan rumahnya dengan rumah yang dihuni oleh lelaki itu.
Lelaki itu mulai menghuni rumah tersebut sekitar satu bulan lalu. Dan sejak itulah awal tumbuhnya perasaan aneh yang selalu mengusik hari-hari Mirna. Waktu tidurnya menjadi terganggu karena setiap pagi ia selalu bangun kepagian, sebelum fajar meruapkan cahayanya yang lemah. Semula ia merasa agak risih juga dengan kebiasaan barunya itu. Tapi lama-lama ia terbiasa, meski semua itu selalu berakhir dengan kecewa.
Lelaki itu selalu berada di pekarangan rumah pada waktu pagi. Ketika matahari mulai beranjak siang, dia akan kembali menghilang ke balik pintu tebal yang terbuat dari pokok pohon jati, dan menutupnya rapat. Pintu itu akan selalu tertutup hingga sore hari. Hanya sesekali saja ia dapati pintu rumah itu terbuka di waktu siang. Begitulah yang ia lihat sejak kehadiran lelaki itu di rumah seberang jalan. Mirna tak pernah tahu apa yang sedang dia kerjakan di dalam sana.
Lelaki itu menyukai bunga. Dia memelihara bermacam tanaman hias di pekarangan rumahnya. Anggrek, adenium, aglaunema, hot lady, dan suflir melengkapi jenis tanaman hias koleksi miliknya. Rumah seberang jalan itu dalam waktu sekejap berubah menjadi sebuah taman bunga nan-asri, sejak dihuni oleh lelaki itu.
Setiap pagi, dia menyirami bunga-bunga yang segar dan merimbun. Mirna selalu menanti kesempatan itu. Ia berusaha mencuri pandang apa saja yang sedang dilakukan oleh lelaki itu. Tak ubahnya seperti sedang menonton film bisu, karena ia tak pernah mendengar senandung kecil disertai lengking siulan keluar dari mulutnya. Tapi, Mirna suka memperhatikannya dalam aroma kebisuan. Biasanya yang banyak menaruh perhatian kepada tanaman hias adalah para perempuan. Namun, lelaki itu rupanya juga menyukai bunga. Barangkali, dia juga memiliki perasaan lembut, serupa perasaan perempuan, pikirnya. Selembut dan seharum aroma bunga-bunga itu.
Dan memang, ia tak pernah menemukan garis bengis tampak di raut mukanya. Ia begitu yakin, meski waktu itu belum pernah menatapnya dari jarak yang lebih dekat. Ia hanya mengira-ngira saja, dan berusaha mempercayai bahwa perasaan tak mungkin berdusta! Bukankah lelaki itu tak pernah lupa melempar senyum, ketika kebetulan bertatapan mata? Ah, dadanya selalu berdesir setiap kali ditikam sorot mata lelaki itu. Mirna merasa sekujur tubuhnya bagaikan sedang ditelanjangi, ketika ketahuan sedang memperhatikan lelaki itu secara sembunyi-sembunyi. Tak ubahnya serupa kucing yang ketahuan sedang mengutil sepotong ikan asin di atas meja makan. Meskipun, lelaki itu barangkali tidak merasa dirinya sedang diperhatikan olehnya.
Kalau sudah begitu, dengan sedikit kikuk Mirna akan balas tersenyum pula. Lalu buru-buru mengayunkan sapu lidi ke atas rerumputan di ujung kakinya. Melibas butir-butir embun bening yang masih setia menempel di rerumputan. Sebenarnya, hanya ada beberapa helai daun pohon mangga milik tetangga saja yang jatuh ke halaman.
Tidak memerlukan waktu lama untuk membersihkannya. Bahkan, kadang-kadang ia berharap tamparan angin pada setiap malam akan merontokkan daun-daun pohon itu lebih banyak lagi, agar ia memiliki kesempatan lebih lama ketika membersihkannya. Ketika halaman itu sudah terlihat bersih, Mirna akan bergegas masuk ke rumahnya, ia merasa malu apabila diketahui oleh lelaki itu dalam keadaan bengong tanpa melakukan sesuatu.
Tapi dari balik gorden jendela ia kembali mengamati gerak lelaki di rumah seberang. Dari sana ia tak lagi takut ditikam tatapan mata lelaki itu. Lelaki itu tidak mungkin melihat bayang dirinya yang terlindung di balik gelap kaca jendela. Inilah tempat paling aman saat sedang menguntit aktivitas lelaki yang baru saja menempati rumah itu. Namun, setelah lelaki itu kembali ke balik pintu rumahnya, maka ia pun kecewa. Bagaikan seorang anak kecil yang baru saja kehilangan mainannya yang sungguh mengasyikkan. Meski besok pagi ia akan mendapatinya kembali saat melakukan rutinitas serupa.
* * *
LELAKI itu bernama Thomas. Mirna mengenalnya dalam sebuah perkenalan ringkas yang tak diduga-duga, apalagi direncanakan, pada suatu pagi-meski sudah lama ia menanti kesempatan seperti itu-. Awalnya, Mirna masih sangsi dengan kemunculan lelaki itu, yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Apakah hanya bayang-bayang pikirannya? Tapi itu nyata adanya, dan ini adalah kesempatan untuk pertama kali ia melihat Thomas dari jarak lebih dekat. Dadanya berdesir aneh, entah kenapa!
“Kau yang tinggal di rumah seberang?”
Lelaki itu menjawab dengan anggukan. Mirna memperhatikannya dengan penasaran. Kenapa lelaki itu mendatanginya. Apakah dia dapat mendengar ramai bisik-bisik di hatinya, yang selalu berharap bisa bercakap-cakap barang sebentar dengannya? Wajah Mirna serentak memerah, ia merasa malu jika saja lelaki itu dapat mendengar semua bisik-bisik itu. Jangan-jangan dia juga mendengar, ah, Mirna tak mampu melanjutkan lamunannya sendiri. Semakin membuatnya merasa dipermalukan saja.
“Thomas!” kata lelaki itu. “Mirna!” balasnya. “Gunting saya patah, boleh pinjam gunting bungamu?” Raut mukanya keruh. Begitu berharganya sebatang bunga baginya. Sehingga, gunting bunga yang patah saja membuatnya seperti baru saja tertimpa sebuah musibah. Tapi, tentu saja Mirna tak perlu merasa keberatan meminjamkan gunting bunga miliknya kepada lelaki itu. Bahkan dengan amat senang hati ia akan meminjaminya.
“Saya bawa dulu.” Lelaki itu bergegas ke rumahnya sambil menenteng gunting bunga. Keruh di wajahnya sedikit memudar. Begitulah awal perkenalan Mirna dengan Thomas. Perkenalan sederhana yang serba singkat pula.
Mirna masih menatap tubuh di balik dedaunan bunga itu dari beranda rumahnya. Bukankah lebih aman duduk di beranda sambil pura-pura membaca koran pagi? Dan itu lebih bermartabat daripada mengintip di balik kaca gelap. Ia seperti menemukan kedamaian di sana sambil menatap lelaki itu bergelut dengan tanaman bunganya. *** TIGA hari lalu Thomas datang menemuinya. Apakah dia mau pinjam gunting lagi, atau ada keperluan lain? Pikiran Mirna berkecamuk saat melihat Thomas melintas di jalan yang memisahkan rumah mereka. Di kedua tangan dia memangku sebuah pot bunga yang warna kemerahan. Cantik sekali, apalagi ketika tersepuh sinar matahari pagi yang membuat warna daunnya tambah memikat. “Hot lady ini sengaja kubeli untukmu.”
“Tapi, aku tidak telaten merawat tanaman, Thomas.” “Kamu pasti menyukai bunga ini.” “Harganya pasti mahal,”
“Tidak apa-apa, sebagai kenang-kenangan,” Sungguh, betapa senangnya Mirna menerima bunga pemberian Thomas itu. Dalam hati ia berjanji akan merawatnya dengan telaten dan sepenuh hati. “Mungkin ini adalah pertemuan kita yang terakhir kali. Besok sore saya sudah harus pulang ke kampung, dan kemungkinan tidak kembali lagi.” “Kenapa secepat itu?” “Ibu sakit keras, tak ada yang merawat.” Mirna terdiam dengan lidah terasa kelu. Entahlah, ia merasa sangat kehilangan jika Thomas benar-benar pergi dan tidak kembali. Perasaan aneh itu semakin membuatnya tersiksa. Padahal baru beberapa hari saja mereka saling mengenal. Tapi tak mungkin pula ia melarang Thomas untuk pergi.
“Salam saja buat ibu, semoga cepat sembuh!”
“Terimakasih!”
Begitulah, perpisahan itu terjadi seperti dalam mimpi saja. Seperti halnya dengan perkenalan mereka yang juga tak pernah diduga sebelumnya. Tapi, menyesalkah Mirna karena pernah mengenal lelaki itu? Entahlah.
* * *
Embun pagi masih menggelayuti dedaunan yang menari-nari disibak angin. Cericit burung-burung kecil di luar sana membangunkan Mirna dari tidurnya yang pulas. Mirna masih belum dapat menghilangkan kebiasaannya bangun lebih awal pada setiap pagi, meski ia tahu lelaki itu sudah pergi dan tidak kembali. Bergegas ia melangkah ke beranda depan dengan wajah kusut dan kesadaran yang belum sempurna betul. Seperti pagi yang sudah-sudah, Mirna kembali menatap lurus ke rumah di seberang jalan. Namun, tidak ada siapa-siapa di rumah itu. Sepi, dan pintunya tampak tertutup rapat. Semilir angin dengan lembut menyibak rambut Mirna yang panjang sebahu, sejenak menghalangi tatapan matanya menembus kabut tipis yang membungkus rumah itu. Tapi, lagi-lagi ia merasa kecewa karena sosok Thomas yang ia harap akan muncul dari balik pintu jati tak juga melintas.
Kau sedang jatuh cinta Mirna! Sebuah bisikan menyelusup di telinganya. “Tidak mungkin! Aku tidak semudah itu mencintai orang yang baru saja kukenal.” Kau tak bisa menipu perasaanmu sendiri. Kenapa kau merasa kehilangan, jika tidak menyukainya? Mirna diam karena bisikan itu sungguh memojokkan dirinya. Kembali ia menatap lurus ke rumah di seberang jalan. Oh, tidak. Dia tak akan pernah kembali lagi.
Mirna beralih menatap hot lady yang tampak segar di pojok beranda. Dan tiba-tiba saja ia seperti melihat Thomas sedang memperhatikannya, tentu sambil melempar senyum, senyum yang tajam serupa belati. Mula-mula wajah itu hanya satu, lalu bertambah jadi dua, tiga, empat, dan semakin banyak. Di mana-mana Mirna seakan melihat wajah yang telah pergi itu. Ah, tidak mungkin! Mirna mengerjapkan mata berulang-ulang sambil menyeret langkah lebih dekat, namun secepat itu pula senyum Thomas raib dari tatap matanya. Yang tersisa hanyalah lambaian daun-daun bunga pemberian Thomas yang masih dibasahi oleh air bening sisa hujan semalam.
Masihkah kau akan membohongi dirimu sendiri, Mirna? Bisik itu kembali membuatnya bungkam. Dadanya bedesir. Pagi itu Mirna kembali menjumpai kekecewan seperti hari-hari sebelumnya, sejak lelaki itu pergi dan tidak kembali. Sebelum menutup daun pintu dan menguncinya rapat, sekali lagi ia menatap ke rumah di seberang jalan. Tak ada siapa-siapa!
* Surabaya, 10 Oktober 2011

Thursday, 24 May 2012

Selaksa Celurit Menggantung di Sebalik Dinding


Selaksa Celurit Menggantung di Sebalik Dinding
Posted by PuJa on May 19, 2012
Mahwi Air Tawar
http://cerpenkompas.wordpress.com/

Bulan, selaksa celurit menggantung di dinding, bilik-bilik kandang. Segaris cahaya menelusup, rebah di halaman. Bayang-bayang pohon siwalan memanjang. Terang, di belakang rumah serupa gubuk, tempat tinggal Madrusin, sepetak ladang rimbun ilalang pucuknya turut bergoyang diayun angin. Cericit tikus, decak cicak, krik-jangkrik, kecipak air dari padasan. Lenguh sapi menggaung, kemerisik angin menyisir pelepah janur pohon berayun, melambai menimbulkan komposisi bunyi dan gerak; saling berpaut. Serupa tarian rombongan seronen; beriringan, menuju arena kerapan sapi.
Bulan sabit sepadan celurit itu kian susut, bergerak diarak angin mengantarkan lelaki yang sedang duduk di sisi lincak pada serajut pertalian kenangan manis yang tanggal. Bulan, perlahan redup, menepikan bayang. Garis-garis cahaya kian menipis di seruas jalan hingga pematang. serupa pengembara letih; tak sanggup melanjutkan perjalanannya hingga tujuan. Begitu pun, Madrusin. Tatap matanya lelap. Ia terdiam. Diam-diam arakan awan yang terus bergerak, bulan yang terus redup dan menepi mengantarkannya pada sebuah kenangan yang kadang menyakitkan. Pada Asnain, calon istrinya yang telah raib. Pada Gani, yang belum lama ini, hampir memisahkan kepala dan tubuhnya. Beruntung, Madrusin bisa mengelak, sabetan celurit Gani disebuah pematang sawah selepas lotreng[1] sapi senja hari.
Ya, ketika itu, Madrusin, baru saja pulang dari lotreng kerapan sapi. Sengaja, waktu itu, ia tidak langsung menuju rumahnya. Memang tidak pulang. Ia tunggui Asnain calon istrinya yang ikut nonton lotrengan. Namun entah. Nasib tak bisa ditimang, jodoh pun tak bisa ditebak datang dan pulang. Di benaknya, terus terngiang kalimat-kalimat yang diucapkan Gani, di tempat yang sama, di pematang sawah tak jauh dari tempat tinggalnya. Gani, bersama Luki, Mail, Musdar, kala itu, tanpa sebab-musabab jelas, Gani langsung memutuskan hubungan pertunangan Asnain dan Madrusin.
”Kamu, tidak pantas jadi suami Asnain. Eppak-Embukmu[2]…” Madrusin tergagap, atas keputusan Gani.
”Bagaimana mungkin. Cobalah sedikit sopan. Hubunganku dengan Asnain. Tak ada hubungannya dengan kekalahan sapi kerapan, Paman. Hubungan kami berdua tak bisa begitu saja Paman, campuri. Kami tak ada masalah. Kok, tiba-tiba…” Gani seperti dipecundangi oleh ponakannya. ”Dulu, paman, merebut dan merampas tanah dari Eppak-Embuk, yang sudah jelas-jelas oleh kae[3] diwariskan kepada, eppak-embuk. Dan sekarang, Paman, mau merampas hak kami, mencintai dan dicintai. Kalau, Paman, kecewa kepada eppak-embuk. Kenapa mesti dihubung-hubungkan dengan hubungan kami berdua, yang tidak bersalah apa-apa?!” Beberapa kanca Gani, hanya bergidik menyaksikan pertengkaran dua lelaki sefamili itu.
”Lancang benar mulutmu.” Gani mengeluarkan sebilah celurit dari balik pinggang yang sungging, menyabitkannya ke arah perut Madrusin. Madrusin segera menghindar, tak menyia-nyiakan kesempatan, dilepaslah baju hitam Madrusin. Beruntung, beberapa kanca Gani, memegang tangan, merampas dan segera menyeret keduanya. Lalu, masing-masing dibawa pulang. ”Bilang sama eppakmu, Gani belum kalah.” Gani geram, berontak.
Langit tampak lebih cerah. Madrusin pun gairah. Ia nikmati secangkir kopi, sebelum akhirnya berangkat menyabit rumput untuk pakan sapi kerapannya. Bahkan, bisa dibilang, baginya pagi tanpa kopi kurang lengkap. Entahlah, apa maksud dari semua itu. Yang jelas baginya dan bagi warga kampung kami, secangkir kopi tak ubahnya sebuah spirit untuk bekerja, menyabit rumput sebagai pakan sapi. (Tapi tidak.) Sepagi ini, Madrusin tidaklah segairah seperti hari-hari kemarin. Madrusin benar-benar gelisah. Raut wajahnya yang hitam legam seperti sedang dihinggapi sesuatu yang membuatnya tak nyaman untuk tidak terus menggerakkan jemarinya; mengusap, menggaruk. Sesekali, berjalan mengitari sekitar halaman panjang rumahnya.
Terasa, sepanjang ruas jalan kampung menuju ladang, kandang dan pematang, lengang. Hijau daun-daun, ilalang bagi Madrusin, sepagi ini, tak ubahnya seperti seseorang yang hendak berkabar tentang sesuatu yang mesteri. Samar terdengar kicau burung dari sela rerimbun pelepah pohon siwalan. Madrusin terpaku, ingatannya kembali pada beberapa tempo lalu; di sela rerimbun pelepah pohon dan ilalang itu pernah tercipta sebuah tali ikat kasih asmara. Pertengkaran. Keputusan sepihak. Ya, sebuah tali ikat kasih bersama seorang gadis yang kini raib tak bisa diharap lagi untuk dirajut kembali sebagaimana dulu. Asnainkah, yang membuatnya gelisah sepagi ini?
Angin pagi menyisir rambutnya yang tidak tertata, mengantarkannya pada masa kanak-kanak, bersama seorang gadis yang telah menjadi tunangannya, semenjak ia berusia sepuluh tahun. Asnain, bunga desa yang pernah menjadi calon istrinya? Kini, raib dari harap untuk dijadikan seorang istri. (sebagaimana kebanyakan orang- orang kampung kami; tunangan adalah hal pasti untuk menjadi seorang istri). Atau, Madrusin, sepagi ini gelisah lantaran pesan dari Paman Asnain, yang mesti disampaikan kepada Eppaknya; perihal kerapan sapi?
Pagi yang cerah. Madrusin yang gelisah. Ia mengernyitkan dahi, mengingat pesan dari Gani, beberapa tempo lalu yang harus disampaikan kepada bapaknya: Bilang, kepada Eppakmu. Kalau Gani, belum kalah! Gani memalingkan muka. Kita bertemu beberapa bulan lagi. Siapkan sapi-sapi andalannya, kalau perlu sekalian dengan dukun-dukunnya!
Kenapa Gani sekasar itu? Eppak, salah apakah Eppak? Tak puaskah ia menyakiti, eppak-embuk, aku? Madrusin duduk terpaku tak beranjak.
Ya, seumur hidup baru kali ini, bapak Madrusin dipanggil untuk menemui Gani, di belakang kandang yang penuh rerimbun ilalang, tepat pada tanggal lima belas saat bulan purnama. Atau jangan-jangan Gani berkehendak menyambung kembali pertunangan kami yang telah putus? Madrusin tersenyum simpul. Tapi benarkah? Bukankah bapak ibu Madrusin dengan keluarga Gani tidak begitu rukun lantaran sengketa tanah. Hubungan Madrusin? Pertunangan Madrusin dengan Asnain yang diputus lantaran Gani kecewa perihal kekalahan sapinya. Masih dendamkah Madrusin sebagaimana peristiwa dipetang sawah hingga kedua pihak terjadi pertengkaran hebat. Terang, Gani kala itu berang. Dikeluarkannya sebilah celurit yang diselinapkan di balik pinggang yang sungging lalu disabitkan celurit yang keperakan itu hingga merunduklah serimbunan ilalang.
Untunglah, Madrusin, cepat menghindar. Karuan celurit itu luput sasaran, segeralah Madrusin melepas bajunya yang berwarna hitam lalu dikibaskan ke arah tangan Gani. Baju itu menggulung celurit Gani hingga celurit lepas dari tangan Gani. Kontan Madrusin tak menyiakan kesempatan, dijemputlah celurit.
Madrusin duduk terpaku di sisi lincak, apa gerangan yang membuat Gani, memanggil Eppak? Menemuinya saat bulan purnama? Bisik, Madrusin penuh tanya.
Almanak di pojok dinding yang tak jauh berjejer dengan sebilah celurit lekat ditatap. Madrusin mendesis di antara kebingungannya, ingatannya menerawang pada ibunda tercinta yang mati sebab ditabrak sepasang sapi Gani, ketika hendak dikerap di lapangan Trunojoyo. Pada Asnain mantan tunangannya. Sementara, kegetiran menemui Gani lebah di antara pori-pori, menjalar pada saluran darah yang berkejaran dengan angka almanak: tanggal lima belas bulan purnama. Kapan?
Madrusin seperti diburu rasa takut. Tidak. Bukannya ia takut dibunuh, tapi Madrusin khawatir ikatan kekeluargaan antara Gani dan keluarganya yang sudah tidak rukun lagi selama bertahun-tahun sejak duel, akan lebih berkepanjangan dan tak kunjung usai untuk berukun kembali sebagaimana tahun-tahun silam. Ia gugup bagaimana nanti kalau Gani, Paman Asnain akan menyambung kembali hubungannya.
Ah, kenapa musti tanggal lima belas dan saat bulan purnama tiba? Bukankah tanggal lima belas adalah waktu yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga, saling meminta maaf, mengadakan acara ritual sekeluarga? Bisik, Madrusin. Selang beberapa saat, tiba-tiba, di sela kegelisahannya, terdengar suara Imron yang fals dari luar pagar: ”Sin, cepat ditunggu kakek.” Madrusin tergagap.
”Asytaga,” desisnya. ”Waktunya sekarang?” teriak Madrusin dari dalam.
”Ya,” imbuh Imron.
Tentu saja Madrusin tak ingin, Gani menunggu terlalu lama, apalagi sampai ia kecewa, meski sebenarnya ia ragu dan curiga, namun tak membuatnya menyalakan api dendamnya untuk membalas kekecewaannya kepada Gani. Madrusin segera mengambil celurit yang menggantung di dinding, lalu ia selipkan ke balik pinggangnya. Sebagaimana tradisi di kampung kami. Ia kenakan peci dan baju hitam, celana komprang berlapis sarung.
Senja beringsut dari bibir awan yang menawan, langsat warnanya keemasan, orang-orang berjalan bersama, beriringan menuntun sapi, ada pula yang memasukkan anggas dan jerami ke dalam karung, di antara mereka sudah akrab dengan alam.
Beberapa ekor sapi dari dalam kandang Luki melenguh. Kunang-kunang berkelabat hanya sesaat, bulan menancapkan cahayanya pada hamparan ilalang, pada batang pohon dan buah siwalan, sesaat terdengar lenguh sapi dari sebrang yang tak jauh dari sekitar. Anak-anak seusia sepuluh tahunan berjalan bersama, berjejer sepanjang jalan dengan sangat rapi tanpa ada yang memandu. Sebagian di antara mereka membawa obor, ditangan kirinya sebuah kitab didekap dan pada barisan belakang terlihat bapak ibunya mengiring mengantarnya ngaji ke langgar.
Lampu teplok menyala remang, menggantung pada batang bambu atap kandang. Terlihat seorang lelaki seperti tengah menunggu sesuatu, ia duduk, tubuhnya agak bungkuk, separuh wajahnya yang keriput terkipas cahaya bulan.
”Itu, Kakek, menunggumu,” ujar Imron.
Sesaat tubuh Madrusin tersentak, melihat Gani, barangkali sudah lama menunggu. Tentu ia akan marah-marah. Beribu tanya berdesak dalam benak Madrusin.
”Sebenarnya, ada apa, Ron?”
”Barangkali, ada yang perlu dibicarakan denganmu.”
”Tentang, Asnain?”
”Tidak mungkin, Asnain sudah ada yang meminang.” Mendadak, Madrusin tergagap. Sepoi angin menyisir luka masa lalunya. Ranting-ranting pohon menggantung, tak kunjung jatuh. ”Tapi, tenang, Sin. Asnain tak suka kepada tunangannya. Ia masih ingin kamu jadi suaminya,” imbuh, Imron.
Mata Madrusin nanar, wajahnya berkerut, menampakkan seseorang yang sedang patah hati. Tidak, ia harus tenang. Tenang menghadapi seseorang menyebabkan hubungannya bersama Asnain putus. Pelan, Madrusin mendekati Gani, yang tengah duduk menunggu. Terbesit dalam benak Madrusin: Tanggal lima belas saat bulan purnama? Bimbang; benarkah Asnain sudah ditunangkan kembali? Bisiknya dalam hati. Ah, tidak. Madrusin, seraya meminta maaf didekatinya Gani.
”Maaf, terlambat,” suara Madrusin ramah.
”Tak apa-apa.” jawabnya.
”Ada yang perlu kubantu, Man?”
”Ya, sapi kita.”
”Ada apa dengan sapi, kita?”
”Bulan depan, tanggal lima belas akan ada pertandingan besar-besaran.”
”O, ya?”
”Kita nego, saya berharap, kau dapat membujuk Eppakmu, agar tidak mengikutkan sapinya dalam pertandingan kerapan bulan depan,”
Sejenak Madrusin, bernafas lega. Diliriknya Gani yang sedang menggulung kelobot.
”O, kalau soal itu maaf, Man.”
”Memang kenapa?”
”Asnain.” desis Gani. Madrusin tergagap.
”Kenapa dengan, Asnain?”
”Taruhannya.”
”Eppak, tak bakal mau. Beliau, sangat kuat dengan prinsipnya, dia tak ingin dalam pertandingan ada kongkalikong dikhawatirkan akan terjadi pertandingan yang tidak sehat. Apa artinya sebuah permainan?” Gani menatap Madrusin, tajam. ”Naif benar. Kalau Asnain harus menjadi taruhan permainan.”
”Bukankah sekarang setiap permainan harus dinegosiasi? Apalagi sekedar kerapan sapi, yang hanya sisa tradisi.”
Madrusin, naik pitam, ingin menampar mulut Gani. Namun, Madrusin terus menjaga dirinya, mengendalikan emosi. Tak seperti biasa, Madrusin yang selalu bersikap ramah:
”Maaf, Man.”
”Sin. Lancang benar kamu. Dasar tidak tahu tata krama”
”Siapa yang mengajari?!”
Mendengar jawaban Madrusin yang singkat, Gani pun naik pitam. dikeluarkan sebilah celurit dari pinggangnya yang sungging, lalu ditodongkan kearah perut Madrusin, untung saja Madrusin segera menghindar. Secepat kilat ia segera menangkap tangan Gani, dan merubuhkannya ke tanah sembari ia mengucapkan satu kalimat. Asnain tetaplah akan menjadi istriku, Paman. Percayalah.
Jogja 2004-2006
Catatan:
[1] Lotreng sapi, uji coba pertandingan kerapan sapi.
[2] Eppak Embuk. Bapak Ibu.
[3] Kae. Kakek
Dijumput dari: http://cerpenkompas.wordpress.com/2006/04/30/selaksa-celurit-menggantung-di-sebalik-dinding/

Sehelai Kain Kafan


Sehelai Kain Kafan
Posted by PuJa on May 20, 2012
Mahwi Air Tawar
http://cerpenkompas.wordpress.com/

1/
Ia bergegas. Tangan kirinya menyingkap ujung sarungnya hingga beberapa inci dari mata kaki. Layaknya seorang penari memainkan satu komposisi. Berlenggak. Pinggulnya bergoyang ke kanan ke kiri, melangkah pasti sambil menjejaki jalan setapak perkampungan. Sementara lentik jemari tangan kanannya mengapit sisi bundelan kain agar tak tergelincir dari kepalanya.
”Tukang bendring datang….”
Begitulah dulu. Kami. Anak-anak saat melihatnya dari jauh. Serentak kami meninggalkan permainan. Menyambutnya dengan gegap gempita sambil berharap ia akan menoleh. Kadang kala, kami membuntuti dari belakang, membayangkan sebuah baju baru. Tak jarang, ketika berpapasan, di antara kami berdesakan membisikinya, agar ia mau membujuk ibu untuk membeli baju dagangannya. Seperti biasa, ia hanya mengangguk disertai sungging senyum penuh harap. Ketika itulah, kami langsung menggiringnya masuk ke halaman rumah. Meski sebenarnya, sering ibu kami menyambutnya dengan wajah cemberut. Tak terkecuali ibuku, yang selalu takut. Bahkan, untuk menyambut.
Tukang bendring itu mendatangi kampung kami ketika pagi menjelang siang, saat bapak-bapak kami sedang berada di tegalan. Dan ia, bagi kami serupa seorang istimewa, yang selalu kami tunggu kehadirannya. Tetapi, sekali lagi, tidak bagi ibuku.
Ya. Bagi ibuku, ia tak lebih dari sesosok hantu, yang selalu membuat ibuku ketakutan setiap mendengar suara sumbangnya melengking parau dari balik pintu. Entah, setiap kali ia datang, senantiasa menjadi ancaman bagi ibuku. Barangkali, karena utang ibu belum lunas hingga membuat ibu waswas. Atau ibu khawatir keinginan untuk berutang baju baru lagi tak terkendali.
Untuk menghindari kedatangan, dan teriakannya yang sumbang itu. Banyak cara ibu lakukan. Kadang, ibu segera mengunci pintu halaman dari luar hingga ia mengira, ibu sedang bepergian. Kadang, ibu segera mengemasi baju-baju basah dari atas jemuran, serta sandal hingga suasana rumah terkesan sudah lama ditinggal bepergian oleh penghuninya. Kadang juga, ibu menandai bayangan tubuhnya saat berjalan menuju rumah kami. Biasanya, bentuk bayangannya lebih panjang. Dan yang khas, kalau bayangan itu adalah bayangan tukang bendring, adalah dari bentuk bayangan kepalanya yang lebih panjang dan lebar.
Semua itu ibu lakukan karena semata-mata ibu malu lantaran tak bisa menepati janji untuk membayar utang. Pernah juga, pada suatu ketika, saat tiba pada waktu tagihan, dan ibu tak ada cara lain untuk menghindarinya ke rumah. Pagi-pagi, ketika dari jauh terdengar lengking anak-anak meneriaki tukang bendring, tanpa ragu-ragu ibu keluar, dan aku mengira, ibu mau menghindar, namun ternyata tidak. Di depan pintu ibu berdiri dengan gelisah.
”Ibu mau ke mana?” tanyaku.
”Menunggu tukang bendring,” jawabnya tegas.
”Ibu punya uang?”
”Tidak.”
Aneh, bisikku. Bukannya selama ini ibu selalu menghindar? Dan ketika perempuan tukang bendring itu sampai di pertigaan jalan kampung, wajah ibu tiba-tiba pias dan tampak murung. Mungkin ia segera bergegas pulang. Tetapi tidak, ibu tetap berdiri di situ, dan ketika perempuan tukang bendring itu mulai mendekat, persis di pertigaan, perempuan itu berbelok ke arah kiri, seketika ibu merasa lega, sontak mengajakku masuk.
Namun tak lama berselang, tiba-tiba dari luar halaman terdengar suara sumbang seseorang. Pada mulanya suara itu samar-samar, tetapi setelah beberapa saat suara itu kian lantang. Dengan muka pucat dan gemetar, ibu mengintip dari sela lubang pintu. Di luar, tampak seseorang mondar-mandir.
”Ju, utangmu!”
”Sialan,” umpat ibu.
Selarik cahaya tipis menyelinap masuk lewat celah-celah jendela.
”Kenapa, Bu?”
”Baju lebaranmu belum lunas.”
”Ju, buka pintu,” teriaknya lagi.
Ketika ia sudah berteriak-teriak, biasanya ibu tak bisa mengelak. Khawatir kalau-kalau para tetangga lainnya keluar, lalu mendatangi rumah kami, dan mencibir. Untuk menghindari semua itu, dengan malu-malu ibu terpaksa membukakan pintu. Dan ia, dengan galak, membentak. Melampiaskan kekecewaannya, yang barangkali sudah memuncak. Sementara ibu, hanya mengangguk.
2/
Dan kini, sebagaimana dulu, tukang bendring itu terus bergegas, menapaki jalan setapak. Kemudian masuk ke sebuah gang sebelum akhirnya dengan ragu memasuki pekarangan rumah seseorang. Sekilas sungging senyum terkembang.
Di halaman, orang-orang berkerumun. Mungkin sedang bergunjing. Sementara di tempat yang lain, di beranda, beberapa perempuan duduk memanjang saling menisik rambut. Dan ia? Perempuan dengan bundelan sarung di kepalanya tanpa ragu-ragu segera masuk.
”Baju baru…,” teriaknya, menawarkan barang dagangannya. Sontak perempuan-perempuan itu menyambutnya.
”Harga?”
”Dijamin.”
Mata perempuan yang berkerumun terbelalak saat melihat aneka ragam baju baru tergelar di depannya. Menggoda mata untuk segera memiliki. Tak penting, alasan tak ada uang. Toh, perempuan yang kini menyajikan baju-baju baru itu dengan gayanya yang khas memberi mereka kelonggaran, bayaran bisa dicicil seminggu sekali. Meski tak pasti.
”Murah.” Intonasi suaranya ditekan. Adalah Lastri, salah satu di antara para perempuan itu, segera mengambil satu baju berwarna hijau. Sebelumnya, Lastri melirik kepada para ibu, seakan minta pendapat perihal baju yang dipegangnya hingga membuat mereka heran. Bagaimana mungkin. Bukannya diam-diam belakangan Lastri juga menjadi tukang bendring, pedagang baju keliling?
”Las, bukannya….”
”Ini, Bu. Harganya?” Lastri memotong. Barangkali Lastri cari perbandingan harga.
”Itu baju sudah ada yang pesan.” Sepasang matanya kembali menatap catatan-catatan tagihan yang belum lunas. Mengerut dan berucap sinis, Lastri belum melunasi utang-utang baju sebelumnya. Orang-orang melirik tak senang.
”Sudahlah. Sesama pedagang, berapa harga baju ini?” ketus Lastri. Perempuan itu tak menjawab. Ia tahu, Lastri memang belakangan menjadi tukang bendring, meski tidak di kampungnya sendiri. Bahkan, tak jarang ia mendapatkan laporan bahwa diam-diam Lastri tak keberatan jika ada seorang lelaki ingin membayar tubuhnya daripada baju dagangannya.
3/
”Ini hanya cerita,” bisik ibu, sambil mengintip mereka dari balik jendela. ”Lastri, dan tukang bendring yang sudah renta itu. Kamu masih ingat namanya, Nak?” tanya Ibu.
”Markoya,” jawabku.
”Ya, Markoya.”
Ia, tukang bendring itu, Markoya, namanya. Sebagaimana juga dulu, ketika kami masih asik bermain di belakang rumahnya hingga sore menjelang malam. Kami sambil menunggunya datang. Tentu, yang tak dapat kulupa sampai sekarang, sejak dua puluh dua tahun silam—aku meninggalkan kampung halaman. Sepulang dari berkeliling sebagai pedagang baju bendring, ia suka membawakan kami oleh-oleh jajanan pasar, kemudian dibagi-bagikan secara rata, sebelum akhirnya menyuruh kami pulang, agar tidak telat pergi mengaji.
”Besok lagi mainnya. Sebentar lagi petang,” begitu katanya. Ah, alangkah bijaknya perempuan itu.
***
Dan kini, bersama ibu, aku hanya mengintipnya dari balik jendela. Ia tampak tergesa-gesa. Melewati jalan setapak yang teramat terik. Sesekali ia menoleh. Barangkali kesal dengan sikap Lastri, yang sudah berjanji akan melunasi utang bendring. Atau dengan ibuku?
”Tak sembarang orang sekarang boleh mengambil barang dagangannya.”
”Termasuk Lastri?” Kusingkap jendela, perempuan tukang bendring itu sudah mulai menjauh. ”Kenapa dengan Lastri, Bu?”
”Senok.” Astaga, desisku tak percaya dengan ucapan ibu tentang Lastri. Tidak percaya di kampungku yang sekecil ini ada seorang senok, pelacur. Entah sejak kapan. Tiba-tiba tanpa ditanya ibu menambahkan.
”Sudah lama ia berpisah dengan Madrihmah. Lalu, ia menjadi tukang bendring, tapi tidak di sini.”
”Lantaran?”
”Senok!”
”Dan Markoya itu tak mau ngasih utang kepada senok?”
”Mungkin ia takut, bajunya dipakai ngelonte.”
Ya, rasanya sulit dipercaya kabar, yang baru saja kudengar dari ibuku itu. Bagaimana mungkin, dalam tempurung kampung sekecil ini hidup seorang senok, dan itu Lastri, teman sepermainanku dulu. Bukannya ia juga pedagang baju?
***
Sudah setengah hari Markoya berkeliling. Melewati jalan setapak perkampungan, yang kondisi tanahnya kelewat gersang. Lelehan keringat tak membuatnya merasa gerah, namun sebaliknya, ia umpamakan lelehan keringat itu sebagai air peneduh setelah berjam-jam berkeliling dari kampung ke kampung. Berkunjung dari rumah ke rumah.
Sebagai tukang bendring, meski kadang hasilnya tak sebanding. Tak membuatnya putus asa. Menyerah. Bertemu banyak orang jauh lebih penting, begitu ia menjawab setiap pertanyaan orang tentang pekerjaannya.
”Dagang hanya sampingan,” ujarnya sambil mengikat antara ujung kain.
Hari sudah menjelang sore. Tentu, masih banyak orang mesti ia temui. Banyak rumah mesti ia kunjungi. Ke Brudin, salah satunya, yang tempo hari memesan kain kafan. Kasihan, desisnya, sambil memelankan langkahnya. Setelah melewati perbatasan kampung. Kini, ia tiba di sebuah pekarangan rumah Lastri. Ia pun tak heran ketika di beranda tak terlihat seseorang. Bukannya ini hari sudah sore?
Maka, sebagaimana sering Markoya lakukan setiap memasuki rumah seseorang, ia berucap salam, lalu tanpa menunggu jawaban ia bergegas masuk, dan menuju langgar yang terletak di ujung barat, samping rumah utama.
Markoya duduk bersandar pada salah satu tiang penyangga. Tak lama berselang, Lastri dengan tubuh hanya dibaluti sarung hingga setinggi dada. Tampak pada lekuk-lekuk tubuhnya pasir putih masih melekat, begitu saja datang menyamperi Markoya. Dan Markoya, dengan berat hati menyambutnya dengan senyum. Satu hal yang tak boleh dilupakan oleh seorang pedagang.
”Baju baru?” tanyanya.
”Beberapa.” Lastri mengambil salah satu baju, bermotif batik.
”Utangmu belum lunas.” Markoya membuka buku catatan.
”Minggu depan,” ujarnya, kemudian masuk, dan tak lama berselang Lastri muncul dengan membawa secangkir kopi. ”Minum dulu.” Markoya tersenyum simpul. ”Sudah ketemu Ke Brudin?” Markoya menyeduh kopi hangat. ”Tadi Ke Brudin pesan, kalau sampean datang suruh ke sana.”
”Guru mengaji itu?” tanya Markoya.
”Ya. Beliau ingin pesan baju baru untuk dipakai hari Jumat. Kasihan, bajunya cuma satu.”
”Ke Brudin juga pesan kain kafan,” desisnya lirih.
”Dengan apa ia akan membayar?”
”Dengan doa.”
”Ngawur. Doa tak membuat orang kenyang.”
”Buktinya, Ke Brudin sampai sekarang masih segar bugar.” Seketika Markoya tercengang. Diam-diam ia membenarkan pernyataan Lastri, meski ucapan itu terasa janggal. Dalam bimbang ia terusik. Bagaimana mungkin, bisiknya.
”Kenapa?”
”Ke Brudin…,” desisnya.
”Sudah tua. Tak mungkin gitu-gituan.”
”Maksudmu, Las?”
”Ngamar,” selorohnya.
”Mulutmu.”
”Lalu?”
”Kain kafan,” suara Markoya, serak dan serasa berat.
Sore hari di halaman. Pasir-pasir berhamburan. Pelepah nyiur dan janur seperti malas berayun. Selarik cahaya senja membentuk garis tipis masuk lewat celah-celah bilik langgar tempat ia duduk bersandar pada tiangnya, yang miring. Sesekali cahaya senja bergetar samar, sesamar gerakan kedipan matanya. Dan tak lama berselang, sebuah bisikan tanpa ia jelang datang, menggiringnya pada sesosok lelaki tua renta. Ke Brudin, desisnya. Ia hanya menghabiskan waktunya untuk anak-anak, mengajari mengaji, ilmu dunia dan akhirat, suara Markoya lirih. Mungkin tak lama lagi ajal juga menjemputku.
”Ah, sudah lama, saya tak membawakan anak-anak oleh-oleh. Mereka belajar mengaji kepada Ke Brudin.”
”Betul,” spontan Lastri menyahut.
”Saya harus segera ke sana,” lekas mengikat ujung kain sarungnya. Dan segera bergegas. Tapi sesaat ia kembali dan bertanya.
”Baju koko?”
”Baju koko untuk shalat,” Lastri menahan tawa.
”Ya. Saya segera ke sana. Utangmu minggu depan.” Dan Lastri. Entah, seperti mukjizat lain muncul mengusik. Selepas Markoya, tukang bendring itu menghilang di pekarangan, tiba-tiba Lastri merasakan sesuatu yang aneh, dan teringat, pernah menjanjikan Ke Bruddin kain kafan.
Yogyakarta,
Desember 2008-2011
Dijumput dari: http://cerpenkompas.wordpress.com/2011/12/04/sehelai-kain-kafan/

MENUNGGU CALLING NANA


MENUNGGU CALLING NANA
Posted by PuJa on May 22, 2012

Sri Wintala Achmad
Fajar hari. Ponsel berdering. Winarko terbangun dari tidur. Menuju meja kerja. Di mana ponsel itu berada. Mengangkatnya. Melihat sejenak nomer pengirim di layar yang belum tercatat di dalam phone book. Memencet key ‘Yes’. Hatinya bergetar. Winarko menempelkan erat ponsel itu di telinganya. “Hallo!”
“Wintala?”
“Bukan.”
“02746623372?”
“Bukan.”
“Maaf. Salah sambung!”
Winarko memencet key ‘No’. Kesal. Meletakkan ponsel di meja. Di samping PC Pentium 2-nya. Kembali ke kamar. Tidak bisa tidur. Gelisah, Menunggu calling dari seorang gadis yang berjanji semalam untuk memutuskan apakah ia menerima atau menolak cintanya.
Bangkit Winarko dari ranjang yang kusut spreinya. Menuju meja kerja. Duduk di kursi. Bukan menghidupkan power PC-nya. Mengaktifkan program microsoft word buat menulis. Winarko hanya mengambil sigaret dari bungkusnya. Menyalakan korek api. Menyulut ujung sigaret. Mengisapnya kuat-kuat. Menghempaskan asapnya lewat lubang hidung dan mulutnya. Winarko semakin gelisah. Menunggu ponsel berdering.
Matahari merangkak. Winarko belum beranjak dari kursi. Pikirannya melambung serupa balon terombang-ambingkan angin di langit lepas. Dadanya bergetar. Ponsel berdering. Bergegas Winarko memungut ponsel itu. Menempel-eratkan di telinga. “Hallo.”
“Menulis?”
“Menunggu kepastian.”
“Tentang?”
“Cinta.”
“Dari siapa?”
“Bukankah kamu Nana?”
“Lina.”
“Penyair?”
“Novelis.”
“Ada apa?”
“Sekadar tanya.”
Winarko memencet key ‘No’. Misuh. Bukan pertanyaan yang dibutuhkan. Pernyataan. Bukan Lina. Tapi, Nana. Janda yang tidak suka novel. Tapi kisah hidupnya menarik dinovelkan. Mantan suaminya berselingkuh dengan perempuan lain. Anak gadisnya hamil dengan kawan sekelasnya. Hingga Nana minggat dari rumah kontrakannya di Jemberan No 20. Dekat POM bensin. Depan terminal lama.
Beranjak Winarko dari kursi. Menuju pintu yang diketuk. Kasar sekali. Di teras, Winarko melihat seorang lelaki bertampang gali. Berkumis tebal. Tatapannya setajam mata harimau mengintai kijang muda. Tato srigala terlihat di lehernya. Di samping bekas luka goresan senjata tajam. Mungkin clurit, pedang, atau pisau lipat.
“Anda Winarko?”
“Benar. Anda?”
“Jonet. Kenal Nana?”
“Nana yang mana?”
“Janda. Berbibir tipis. Wajahnya menyiratkan dendam. Suka melirik saku lelaki. Tai lalat di bawah bibirnya. Rambutnya lurus sebahu. Berkulit sawo matang. Kontrak rumah di Jemberan 20.”
“Anda mantan suaminya?”
“Bukan. Korban.”
“Maksud anda?”
“Aku telah ditipunya. Pelacur itu telah membawa uang dan ponselku. Sesudah semalam tidur denganku di losmen murahan di pantai selatan.”
“Mengapa anda mencari ke sini?”
“Karena anda calon pacarnya. Bukankah semalam Nana calling anda?”
“Mengapa tidak mencari di rumah kontrakannya?”
“Nihil. Kata orang-orang di sana, kontrakannya sudah habis dua bulan silam.”
“Lapor saja ke polisi!”
“Benar. Terima kasih.”
Winarko menghirup nafas. Menghempaskannya. Tanpa berfikir panjang, Winarko membuka phone book. Mencari nomer calling Nana tadi malam. Nomer ponsel lelaki bertampang gali yang telah meninggalkan rumahnya. Sesudah nomer itu ditemukan, Winarko memencet key ‘Yes’. Sial. Tidak ada jawaban. Hanya suara: “Anda terhubung dengan mail box. Silakah tinggalkan pesan.”
Kata babi, anjing, brengsek, pelacur meluncur tidak terkendali dari mulut Winarko. Wajahnya terbakar. Tangannya mencengkeram. Hasratnya seperti rajawali yang ingin mencabik-cabik ular tangkapannya. Iblis berlidah cabang yang menghancurkan jiwanya dengan janji-janji kosong. Tanpa melihat nomer pengirim, Winarko meletakkan ponselnya di meja. Benda itu dibiarkan hingga deringnya tidak terdengar lagi.
Serupa patung garnit, Winarko terpaku di kursi. Di depan PC-nya. Winarko bertanya pada Tuhan. Penguasa semesta yang tersingsal di lipatan sajadah: “Benarkah Kau tidak menciptakan perempuan berhati zamrud, selain Astuti? Gadis belia. Kawan sekuliah filsafatku yang aku tolak cintanya sepuluh tahun silam? Lantaran dia sering melarangku makan sambil jalan? Mengingatkanku untuk selalu berdoa?”
Tidak ada jawaban Tuhan. Hanya dering ponsel yang bergetar dahsyat di meja. Benda itu menggelepar-gelepar seperti ayam yang disembelih. Winarko memungut ponsel. Jantungnya berdegup saat melihat nomer di layar ponsel. Nomer yang dipakai Nana semalam. Winarko memencet key ‘Yes’. “Hallo!”
“Anda Winarko?”
“Benar. Bapak?”
“Polisi. Anda ditangkap.”
“Apa salah saya.”
“Anda terlibat kasus Nana yang melarikan uang Jonet. Nana mengaku, anda menyuruhnya untuk mentransfer uang itu ke rekening anda.”
“Demi Tuhan, aku tidak menyuruhnya.”
“Saya tidak mau tahu. Jangan coba-coba lari. Polisi sudah menjemput anda.”
Winarko menggebrak meja. Bersama pintu yang didobrak dari luar. Dua orang perwira polisi memasuki rumah. Menuju ruang kerja. Di mana Winarko nampak berang di kursi. “Mengapa saya ditangkap?”
“Anda akan dibebaskan. Kalau terbukti, rekening anda tidak mendapatkan transfer uang dari Nana. Sekarang juga, kami akan membawa anda ke bank. Tempat anda menyimpan uang.”
Seperti pesakitan, Winarko naik mobil patroli yang diparkir tidak jauh dari rumahnya. Wajahnya awan menggantung pekat di langit. Ketika melihat tetangga kiri-kanannya melemparkan senyum sinis. Tubuhnya seringan kapas di langit lepas.
Mobil patroli tiba di ruang parkir depan bank. Dua orang polisi bertampang gali itu menyeret Winarko dari kursi mobil patroli. Di dalam ruangan bank itu, pandangan Winarko berkunang-kunang. Melihat rekeningnya telah mendapatkan transfer uang dari Nana. Menjelang pingsan, Winarko mengumpat anjing.
Sanggar Gunung Gamping, 2009
Dijumput dari: http://pondoknaskahcilacap.blogspot.com/2012/04/menunggu-calling-nana-cerpen-sri.html

MENUNGGU CALLING NANA


MENUNGGU CALLING NANA
Posted by PuJa on May 22, 2012

Sri Wintala Achmad
Fajar hari. Ponsel berdering. Winarko terbangun dari tidur. Menuju meja kerja. Di mana ponsel itu berada. Mengangkatnya. Melihat sejenak nomer pengirim di layar yang belum tercatat di dalam phone book. Memencet key ‘Yes’. Hatinya bergetar. Winarko menempelkan erat ponsel itu di telinganya. “Hallo!”
“Wintala?”
“Bukan.”
“02746623372?”
“Bukan.”
“Maaf. Salah sambung!”
Winarko memencet key ‘No’. Kesal. Meletakkan ponsel di meja. Di samping PC Pentium 2-nya. Kembali ke kamar. Tidak bisa tidur. Gelisah, Menunggu calling dari seorang gadis yang berjanji semalam untuk memutuskan apakah ia menerima atau menolak cintanya.
Bangkit Winarko dari ranjang yang kusut spreinya. Menuju meja kerja. Duduk di kursi. Bukan menghidupkan power PC-nya. Mengaktifkan program microsoft word buat menulis. Winarko hanya mengambil sigaret dari bungkusnya. Menyalakan korek api. Menyulut ujung sigaret. Mengisapnya kuat-kuat. Menghempaskan asapnya lewat lubang hidung dan mulutnya. Winarko semakin gelisah. Menunggu ponsel berdering.
Matahari merangkak. Winarko belum beranjak dari kursi. Pikirannya melambung serupa balon terombang-ambingkan angin di langit lepas. Dadanya bergetar. Ponsel berdering. Bergegas Winarko memungut ponsel itu. Menempel-eratkan di telinga. “Hallo.”
“Menulis?”
“Menunggu kepastian.”
“Tentang?”
“Cinta.”
“Dari siapa?”
“Bukankah kamu Nana?”
“Lina.”
“Penyair?”
“Novelis.”
“Ada apa?”
“Sekadar tanya.”
Winarko memencet key ‘No’. Misuh. Bukan pertanyaan yang dibutuhkan. Pernyataan. Bukan Lina. Tapi, Nana. Janda yang tidak suka novel. Tapi kisah hidupnya menarik dinovelkan. Mantan suaminya berselingkuh dengan perempuan lain. Anak gadisnya hamil dengan kawan sekelasnya. Hingga Nana minggat dari rumah kontrakannya di Jemberan No 20. Dekat POM bensin. Depan terminal lama.
Beranjak Winarko dari kursi. Menuju pintu yang diketuk. Kasar sekali. Di teras, Winarko melihat seorang lelaki bertampang gali. Berkumis tebal. Tatapannya setajam mata harimau mengintai kijang muda. Tato srigala terlihat di lehernya. Di samping bekas luka goresan senjata tajam. Mungkin clurit, pedang, atau pisau lipat.
“Anda Winarko?”
“Benar. Anda?”
“Jonet. Kenal Nana?”
“Nana yang mana?”
“Janda. Berbibir tipis. Wajahnya menyiratkan dendam. Suka melirik saku lelaki. Tai lalat di bawah bibirnya. Rambutnya lurus sebahu. Berkulit sawo matang. Kontrak rumah di Jemberan 20.”
“Anda mantan suaminya?”
“Bukan. Korban.”
“Maksud anda?”
“Aku telah ditipunya. Pelacur itu telah membawa uang dan ponselku. Sesudah semalam tidur denganku di losmen murahan di pantai selatan.”
“Mengapa anda mencari ke sini?”
“Karena anda calon pacarnya. Bukankah semalam Nana calling anda?”
“Mengapa tidak mencari di rumah kontrakannya?”
“Nihil. Kata orang-orang di sana, kontrakannya sudah habis dua bulan silam.”
“Lapor saja ke polisi!”
“Benar. Terima kasih.”
Winarko menghirup nafas. Menghempaskannya. Tanpa berfikir panjang, Winarko membuka phone book. Mencari nomer calling Nana tadi malam. Nomer ponsel lelaki bertampang gali yang telah meninggalkan rumahnya. Sesudah nomer itu ditemukan, Winarko memencet key ‘Yes’. Sial. Tidak ada jawaban. Hanya suara: “Anda terhubung dengan mail box. Silakah tinggalkan pesan.”
Kata babi, anjing, brengsek, pelacur meluncur tidak terkendali dari mulut Winarko. Wajahnya terbakar. Tangannya mencengkeram. Hasratnya seperti rajawali yang ingin mencabik-cabik ular tangkapannya. Iblis berlidah cabang yang menghancurkan jiwanya dengan janji-janji kosong. Tanpa melihat nomer pengirim, Winarko meletakkan ponselnya di meja. Benda itu dibiarkan hingga deringnya tidak terdengar lagi.
Serupa patung garnit, Winarko terpaku di kursi. Di depan PC-nya. Winarko bertanya pada Tuhan. Penguasa semesta yang tersingsal di lipatan sajadah: “Benarkah Kau tidak menciptakan perempuan berhati zamrud, selain Astuti? Gadis belia. Kawan sekuliah filsafatku yang aku tolak cintanya sepuluh tahun silam? Lantaran dia sering melarangku makan sambil jalan? Mengingatkanku untuk selalu berdoa?”
Tidak ada jawaban Tuhan. Hanya dering ponsel yang bergetar dahsyat di meja. Benda itu menggelepar-gelepar seperti ayam yang disembelih. Winarko memungut ponsel. Jantungnya berdegup saat melihat nomer di layar ponsel. Nomer yang dipakai Nana semalam. Winarko memencet key ‘Yes’. “Hallo!”
“Anda Winarko?”
“Benar. Bapak?”
“Polisi. Anda ditangkap.”
“Apa salah saya.”
“Anda terlibat kasus Nana yang melarikan uang Jonet. Nana mengaku, anda menyuruhnya untuk mentransfer uang itu ke rekening anda.”
“Demi Tuhan, aku tidak menyuruhnya.”
“Saya tidak mau tahu. Jangan coba-coba lari. Polisi sudah menjemput anda.”
Winarko menggebrak meja. Bersama pintu yang didobrak dari luar. Dua orang perwira polisi memasuki rumah. Menuju ruang kerja. Di mana Winarko nampak berang di kursi. “Mengapa saya ditangkap?”
“Anda akan dibebaskan. Kalau terbukti, rekening anda tidak mendapatkan transfer uang dari Nana. Sekarang juga, kami akan membawa anda ke bank. Tempat anda menyimpan uang.”
Seperti pesakitan, Winarko naik mobil patroli yang diparkir tidak jauh dari rumahnya. Wajahnya awan menggantung pekat di langit. Ketika melihat tetangga kiri-kanannya melemparkan senyum sinis. Tubuhnya seringan kapas di langit lepas.
Mobil patroli tiba di ruang parkir depan bank. Dua orang polisi bertampang gali itu menyeret Winarko dari kursi mobil patroli. Di dalam ruangan bank itu, pandangan Winarko berkunang-kunang. Melihat rekeningnya telah mendapatkan transfer uang dari Nana. Menjelang pingsan, Winarko mengumpat anjing.
Sanggar Gunung Gamping, 2009
Dijumput dari: http://pondoknaskahcilacap.blogspot.com/2012/04/menunggu-calling-nana-cerpen-sri.html

Amanat Bunda


Amanat Bunda
Posted by PuJa on May 23, 2012
Ahmad Zaini
_Radar Bojonegoro, 13 Mei 2012

Tak ada pilihan lain bagi Ila kecuali hanya satu. Dia harus tetap di rumah menjaga adiknya. Dia harus memandikan, mengganti pakaian, menyuapi makan adiknya ketika sudah waktunya makan.
“Glodak!” suara benda jatuh.
Ila bergegas menuju ke ruang dapur. Ia menjumpai adiknya melempar piring dari rak dapur. Ila segera mengambil piring yang tergeletak di lantai tanah.
“Adik tidak apa-apa?” tanya Ila kepada adiknya.
Si adik hanya tersenyum. Dia dia hanya merasakan puas karena telah melempar piring. Dia tidak menghiraukan pertanyaan kakaknya yang mengkhawatirkan dirinya.
Dengan rasa kasih sayang, Ila menggendong adiknya ke ruang depan. Di ruang tersebut berserak berbagai macam mainan.
“Nah, adik di sini dulu, ya, jangan ke mana-mana. Kakak mau mencuci baju.” Ila segera ke kamar mandi untuk mencuci baju yang semalam diompoli adiknya. Sementara itu adiknya senang sekali karena berbagai macam mainan tersedia di depannya.
Hari telah beranjak siang. Baju yang telah dicuci sudah kering. Ila segera mengambil baju itu dari penjemuran. Dia melipat baju-baju itu dengan rapi kemudian dimasukkan ke dalam almari.
“Ibu!” rengek adiknya.
“Sabar, ya, Dik! Ibu segera pulang,” jawab Ila untuk menenangkan adiknya. Setelah mendengar jawaban itu adiknya kembali bermain-main di ruang tamu.
Sudah tiga hari ini, kalau siang Ila harus menjaga dan merawat adiknya karena ditinggal ibunya bergiliran menjaga nenek yang sedang terbaring sakit di rumah sakit. Ibunya baru pulang kalau menjelang malam. Jadi, selama tiga hari ini Ila tidak bisa masuk ke sekolah karena melaksanakan amanat yang telah dibebankan ibunya kepadanya. Ila tidak mau jika dikatakan sebagai anak yang tidak bertanggung jawab. Makanya dia meminta izin kepada gurunya tidak masuk sekolah demi membuktikan kepada ibunya kalau dia mampu menjaga dan merawa adiknya.
Adik Ila memang luar biasa. Dia banyak tingkah. Ia selalu merepotkan kakaknya yang masih duduk di bangku kelas 3 SD. Kemarin lusa, buku Ila yang tertata rapi di rak buku diporak-porandakan adiknya. Bahkan tidak jarang buku sekolah Ila disobek adiknya yang masih belum mengerti tentang buku. Ila tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menangis lalu melaporkan kejadian itu kepada ayah atau ibunya. Ila tidak membalas perbuatan adiknya itu dengan menyakitinya. Dia mengerti bahwa apa yang dilakukan adiknya itu tanpa pertimbangan apa-apa. Dia belum mengerti bahwa buku itu sangat penting bagi kakaknya.
“Adik, ayo, mandi!” ajak Ila.
Si adik tetap asyik bermain-main di ruang tamu.
“Adik, cepat!”
“Nggak!” adiknya menolak.
“Kalau Adik tidak mau mandi, Adik nanti malam tidak boleh tidur dengan kakak dan ibu!” rayunya.
Adiknya bergeming. Dia tidak menggubris segala bentuk rayuan kakaknya. Dia tetap asyik melajutkan permainan robot-robotan yang dibelikan ayahnya dua minggu yang lalu.
“Adik, lihatlah!” Ila memperlihatkan kapal-kapalan kepada adiknya, tetapi adiknya tidak mau melihat apa yang dibawanya.
Ila tetap sabar. Ia tidak memaksa adiknya harus melihat kapal-kapalan yang dibawanya. Ia khawatir kalau dipaksa, adiknya pasti akan menangis. Jika sudah menangis, urusan bisa menjadi tambah rumit.
Ila tidak putus asa. Ia mencari cara yang lain untuk membujuk adiknya agar mau ikut mandi bersamanya.
“Ayo bermain air sambil berenang-renang!” mendengar ajakan kakaknya, kali ini dia menurut.
“Ayo, Kak!”
Mereka segera menuju kamar mandi. Ila dengan cekatan membersihkan kotoran-kotoran yang ada di lantai kamar mandi. Setelah dipastikan bersih, Ila menyumbat lubang pembuangan air kamar mandi dengan sandal jepitnya agar air yang ditumpahkan dari bak mandi bisa tergenang tidak merembes keluar. Satu dua timba air ia tumpahkan. Dalam sekejap kolam renang mini terbentuk. Adiknya pun berkecipak riang di kolam renang buatannya. Ia senang sekali bisa bermain air.
Lama mereka di kamar mandi. Tubuh adiknya yang masih mungil terlihat membiru. Ia kedinginan. Ila segera menyuruh adiknya agar segera menyudahi mandinya. Adiknya menolak. Ia tetap berkecipak di genangan air kamar mandi.
“Ayo, Dik! Lekas kemari!” seru Ila sambil membawa handuk buat adiknya.
Dasar anak kecil. Kalau sudah bermain dengan air sehari pun ia tetap betah. Ia tidak akan memedulikan kondisi tubuhnya yang semakin menggigil kedingin. Bibir adik Ila bergetar. Giginya gemeretak. Namun sekali lagi, ia tetap bergeming tak mau mentas dari tempatnya bermain air.
Ila tidak memaksakan kehendak kepada adiknya agar segera keluar dari kamar mandi. Ia menunggu adiknya hingga usai mandi. Ila ingat kalau adiknya suka naik kereta kelinci yang setiap hari berkeliling di kampungnya. Ia akhirnya menggunakan jurus pamungkas itu agar adiknya keluar dari kamar mandi.
“Adik, ayo cepat keluar! Kakak sudah menyiapkan handuk dan pakaian baru ini. Kalau sudah berpakaian baru, nanti kuajak naik kereta kelinci.”
Mendengar kata kereta kelinci, sang adik terperanjat. Ia serta merta menyudahi mandinya di kolam renang dadakan. Ia muncul dari balik pintu kamar mandi lalu mendekat kepada kakaknya, Ila. Dengan rasa kasih sayang dan demi melaksanakan amanat bunda, Ila segera mengeringkan sekujur tubuh adiknya dengan handuk. Adiknya diam tak bergerak. Ia menggigil kedinginan. Setalah kering semua, Ila memakaikan baju baru adiknya. Si adik senang sekali karena ia dijanjikan akan diajak naik kereta kelinci.
“Mana, Kak kereta kelincinya?”
“Sabar dulu, Dik! Nanti juga akan muncul.”
Kakak dan adik itu berjalan ke pinggir jalan kampung. Mereka berdiri di pinggir jalan itu sambil menanti ada kereta kelinci yang lewat. Hampir sejam mereka menanti, tetapi kereta kelinci tak kunjung datang. Sementara hari sudah semakin senja. Ibunya sudah waktunya datang dari rumah sakit menunggu neneknya yang masih terbaring sakit.
Sehari penuh Ila menjaga adiknya. Ini sudah hari ketiga ia berhasil menjaga adiknya tidak menangis mencari-cari ibunya. Walaupun usianya masih bau kencur, akan tetapi dia mampu menjalankan amanat bundanya dengan baik.
“Din, din!” suara klakson motor.
Ila dan adiknya menoleh ke arah suara tersebut. Betapa riang hati mereka karena yang mengklakson tadi adalah bunda tercinta yang baru pulang dari rumah sakit. Wanita berhati lembut itu tersenyum dengan rasa kasih pada kedua buah hatinya. Ia segera mengajak kedua anaknya naik ke sepeda motor. Dalam suasa bergembira karena ketiga jiwa telah berkumpul, motor itu melaju mengangkut mereka ke rumah yang berdiri kokoh di tepi jalan.
Lamongan, Mei 2012
Dijumput dari: http://www.facebook.com/notes/ahmad-zaini/amanat-bunda-baca-di-radar-bojonegoro-edisi-minggu-13-mei-2012/10150764875462470