Pages

Showing posts with label Lain-lain. Show all posts
Showing posts with label Lain-lain. Show all posts

Friday, 20 September 2013

Lomba Tulis Esai Sastra Piala Balai Bahasa 2013

Lomba Tulis Esai Sastra Piala Balai Bahasa 2013 


Media tulisan adalah salah satu media yang efektif untuk menuangkan daya nalar seseorang dalam menyorot berbagai macam persoalan salah satunya adalah sastra.  Oleh karena itu, lomba tulis esai ini mengacu terhadap permasalahan yang terjadi dalam bahasa Indonesia. Sebagai salah satu bentuk dari kreativitas berbahasa, sastra tentu saja akan merasakan permasalahan tersebut. Bagaimana sudut pandang masyarakat menyikapi permasalahan tersebut.

Nama Acara   : Lomba Tulis Esais Sastra Piala Balai Bahasa
Tema Acara    : Masyarakat Sastra, Sastra Masyarakat
Peserta           : Umum se- Indonesia
Pendaftaran    : 19 September s.d. 18 Oktober 2013
Pengumuman  : 31 Oktober 2013
Biaya              : Rp 35.000,-


1.  Tema : "Masyarakat Sastra, Sastra Masyarakat"
    *Deskripsi tema : Seiring perkembangan zaman, konvensi bahasa pun ikut menyesuaikan.mengingat sastra adalah produk dari bahasa, tentu, hal itu juga berpengaruh terhadap dinamika kesusastraan.  bagaimana seharusnya peran dan sikap masyarakat menanggapi persoalan tersebut?
2.  Peserta; Umum Se-Indonesia
3.  Biaya pendaftaran RP 35.000,- / judul karya
4.  Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul
5.  Naskah yang dilombakan harus asli, bukan jiplakan, dan belum permah dipublikasikan
6.  Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik, benar, dan indah (literer)
7.  Ketentuan naskah:
     a.  Ditulis di atas kertas ukuran kuarto atau A4, diketik berjara spasi 1,5 spasi, huruf 12 Pt Time New    Roman, margin kanan-kiri rata maksimal 3 cm
     b.  Tidak mencantumkan nama pengarang dalam naskah
     c.   Panjang naskah empat sampai lima halaman
     d.   Naskah diprint 4 (empat) rangkap disertai biodata singkat penulis secara terpisah
     e.   Menyertakan fotokopi KTP atau Kartu Pelajar/Mahasiswa (pilih salah satu)
     f.    Menyertakan fotokopi tanda bukti pembayaran
     g.   File disertakan pula dalam bentuk CD
     h.   Naskah yang dilombakan beserta lampirannya dimasukkan ke dalam amplop tertutup, cantumkan tulisan PESERTA LTESPBB GBSI 2013 pada bagian kanan atas amplop
      i.   Setiap judul karya yang dilombakan membayar biaya sebesar Rp 35.000,- melalui BNI 0262436764 atas nama Hilda Fauziah
      j.   Naskah dan persyaratan (butir d,e,f) dikirim ke alamat:
Panitia Gebyar Bahasa dan Sastra Indonesia (GBSI) 2013
Gedung PKM Lantai 3 Nomor 96 UPI Jalan Dr. Setiabudhi 229 Bandung 40154 Jawa Barat
Atau
      - Mengisi formulir pendaftaran di stan pendaftaran GBSI 2013 di Gedung PKM UPI Jalan Dr. Setiabudhi 229 Bandung
      - Menyelesaikan biaya pendaftaran secara langsung
      - Membawa serta naskah yang akan dilombakan 4 (empat) rangkap disertai biodata penulis secara terpisah dan disertakan pula dalam bentuk CD
Atau
      - Mengirim naskah dan persyaratan (butir d,e,f) ke alamat email gbsihimasatrasia@gmail.com

8.  Pengunguman pemenang akan disampaikan pada tanggal 31 Oktober 2013

Narahubung: Siti Wahyuni (089639411898)

Friday, 27 July 2012

La Galigo, Sastra Epik Islamisasi Bugis


La Galigo, Sastra Epik Islamisasi Bugis
Posted by PuJa on July 26, 2012
Gusti Grehenson *
http://www.ugm.ac.id/

Karya sastra tidak hanya dinikmati sebagai bentuk dialektik antara teks dan pembacanya. Lebih dari itu, ia menjadi bagian penyampaian kondisi sebuah masyarakat di masa lampau dengan perubahan dari pertemuan kebudayaan. La Galigo ialah salah satu karya sastra teks Bugis kuno berbentuk epik yang ditulis pada abad ke-13. Dari naskah La Galigo ini akhirnya dapat diketahui kondisi pada masa-masa awal masuknya Islam di tanah Bugis. “Sastra La Galigo tidak hanya dinikmati sebagai sastra, tapi juga sebagai sarana islamisasi bagi orang Bugis,” kata dosen Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, Andi Muhammad Akhmar, S.S., M.Hum., dalam ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Ilmu Budaya UGM, Rabu (5/6).
Ditambahkannya bahwa islamisasi yang memanfaatkan sastra dilakukan tanpa menyingkirkan unsur-unsur lama orang Bugis, tetapi menyesuaikan unsur Islam dengan sistem kebahasaan Bugis yang menjadikan Islam dapat diterima dengan baik. Padahal, sebelum menerima agama Islam, orang Bugis di Sulawesi Selatan telah menganut sebuah kepercayaan kuno, yakni kepercayaan terhadap Dewata Seuwae (Tuhan Yang Tunggal). “Orang Bugis biasa menyebutnya Dewata Sisinae,” kata Akhmar. Sisa-sisa kepercayaan pada Dewata Seuwae ini dapat dilihat dalam masyarakat To Lotang di Amparita, Kabupaten Sidenreng Rappang.
Dewa-dewa dalam kepercayaan Bugis Kuno sebagaimana dikisahkan dalam La Galigo berdiam di dunia atas (Boting Langiq) dan dunia bawah (Buriq Liu). Namun, seiiring dengan masuknya Islam dari Asia Barat, kepercayaan kepada Dewata Sisinae tergeser dengan konsep Allah Swt. melalui ajaran-ajaran tauhid. Pengucapan doa-doa dan ayat Quran pun juga disesuaikan dengan pengucapan bahasa Bugis. Dalam praktik ibadah, seperti mandi, berwudhu, shalat, dan zikir dimasukkan sebagai bagian mantra Bugis. “Strategi yang bersifat akomodatif ini menyebabkan Islam mudah diterima dengan warna tersendiri di kalangan orang Bugis,” terangnya.
Hingga kini, naskah La Galigo diyakini masyarakat Bugis sebagai kitab sakral yang tidak boleh dibaca tanpa didahului dengan sebuah ritual tertentu, seperti menyembelih sapi. Pada umumnya naskah dibaca dengan cara dilagukan pada saat akan membangun rumah, musim tanam, pesta perkawinan atau doa tolak bencana.
*) Humas UGM/ 2012-06-06

Thursday, 26 July 2012

Pelajaran Sastra, Kuncinya Kualitas Guru


Pelajaran Sastra, Kuncinya Kualitas Guru
Posted by PuJa on July 20, 2012
Lusia Kus Anna
_Kompas.com

Keberhasilan pembelajaran sastra di sekolah sangat bergantung kepada kualitas guru dalam mengajarkan sastra secara baik kepada peserta didiknya. Tidak hanya mengajarkan sastra secara teoritis guru juga dituntut mempraktikkan cara dan teknik bersastra secara baik.
“Kurikulum di sekolah saat ini sudah bertumpu pada terbangunnya keahlian bersastra dari peserta didik. Artinya, kurikulum kita sudah mendukung tercapainya aspek aksiologi pembelajaran sastra,” kata ketua program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia (PBSI) IKIP PGRI Semarang, Nanik Setyawati, di Semarang, Rabu (30/5).
Dalam pembelajaran sastra, guru tidak mungkin hanya mengajarkan sastra dengan menyampaikan ceramah teori di hadapan siswa, namun mempraktikkan kepada siswa bagaimana cara dan teknik untuk bersastra secara baik.
“Banyak guru yang masih mengajarkan sastra dengan membacakan teori bersastra, misalnya melakukan pembelajaran puisi dengan membacakan teori-teori berpuisi, atau mengajarkan teori menulis cerita pendek,” katanya.
Kurikulum pembelajaran sastra menuntut munculnya siswa yang mampu bersastra, bukan siswa yang menghapal teori-teori sastra sehingga guru sastra tak boleh lagi sekadar mengajarkan materi secara teori.
“Semakin bagus kualitas guru dalam menyampaikan pembelajaran sastra, semakin bagus pula kemampuan siswa dalam bersastra. Kuncinya, pada kualitas guru,” kata Nanik.
Berkaitan dengan rendahnya kualitas guru dalam pembelajaran sastra, ia mengatakan sebenarnya tidak bisa disalahkan bahwa guru kurang kreatif dalam mengajarkan sastra, namun faktor penyiapan dari perguruan tinggi turut memengaruhi.
“Artinya, perguruan tinggi yang mendidik dan mencetak calon-calon guru harus mampu memberikan modal kemampuan bersastra yang mumpuni, sebelum mereka diterjunkan menjadi guru yang mengajar di sekolah,” katanya.
Ia mencontohkan sistem pembelajaran sastra yang diterapkan di IKIP PGRI Semarang sebagai lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) yang mengajarkan mahasiswa untuk terlibat langsung dalam pembuatan karya sastra.
“Contohnya dalam mata kuliah drama, mahasiswa tidak hanya dibekali bagaimana cara bermain drama, namun diajari tentang manajemen pertunjukan. Selain bisa bermain drama, mereka juga mampu menyiapkan pertunjukan drama,” kata Nanik. (ANT)
/Kamis, 31 Mei 2012

Tuesday, 5 June 2012

Sudarto, Rasa Cintanya pada Gamelan

Sudarto, Rasa Cintanya pada Gamelan
Posted by PuJa on June 2, 2012
Padli Ramdan
http://www.lampungpost.com/

TIDAK ada darah seni yang mengalir di tubuh Sudarto. Dia pun tidak begitu mahir memainkan alat musik Jawa.
Berawal dari kecintaan pada seni karawitan, dia membuat sendiri alat musik jawa, kemudian mendirikan Paguyuban Seni Karawitan Ngesthi Budhoyo. Hampir semua alat musik yang digunakan dalam paguyuban adalah buatan Sudarto.
Sejak membentuk paguyuban seni tahun 1994, Sudarto membeli beberapa alat musik Jawa bekas. Alat musik itu tidak lengkap sehingga ditambah dengan buatan tangan sendiri. Mulai dari pemotongan kayu hingga penghalusan perunggu dikerjakan sendiri oleh mantan Kepala SMAN 2 Bandar Lampung ini.
Dia menyebut beberapa alat musik yang dibuat sendiri, seperti ketoksaron, demon, gender, dan slentem. ”Nadanya saya selaraskan sendiri,” kata dia.
Kini semua pemain di Paguyuban Ngesthi Budhoyo menggunakan alat musik yang dibuat oleh Sudarto. Dia mengakui memang ada beberapa teman yang membantu dalam pembuatan alat musik tersebut.
Menurut kakek dua cucu ini, kemampuannya dalam membuat alat musik karena didasari rasa cinta pada kesenian. Rasa cinta pada seni membuat dirinya paham untuk men-setting, nada alat musik Jawa. ”Saya sering dengar musik Jawa, jadi tahu bagaimana nadanya,” ujar Sudarto.
Uang yang dipakai untuk membuat alat kesenian berasal dari kantong pribadi Sudarto. Meskipun tidak sebagus alat musik perunggu yang asli, bunyi dan nada yang dihasilkan tetap merdu dan enak didengar. Buktinya paguyuban ini sering diminta tampil untuk mengisi acara perkawinan. ”April dan Juni mendatang kami sudah diminta untuk pentas di daerah,” kata dia.
Sudarto memang lahir dari keluarga Yogyakarta yang kental dengan kesenian Jawa, seperti wayang dan karawitan. Namum, dari pihak keluarganya tidak ada satu pun yang terlibat langsung dalam kesenian. Dia pun suka mendengarkan dan melihat kesenian Jawa.
Suami dari Suryatmi ini mengaku belajar kesenian secara autodidak, lewat buku, kaset, dan melihat pertunjukan kesenian secara langsung. Latar belakang pendidikan pun tidak berhubungan dengan seni. Dia menyelesaikan strata satu di FKIP Universitas Islam Indonesia (UII).
Bagi pria kelahiran 26 Agutus 1951 ini kesenian adalah obat stres. Lewat kesenianlah orang mengekspresikan diri. Stres disebabkan karena perasaaan tidak bisa diekspresikan.
Lewat seni, perasaan itu diekspresi. Sudarto masih terlihat segar bugar. Meskipun sudah pensiun dari dunia pendidikan, dia masih memiliki segudang aktivitas. Selain kesenian, masih aktif di kegiatan sosial, seperti pramuka.
Paguyuban seni yang dia pimpin masih rutin latihan setiap minggu di rumah Sudarto, di Jalan Nusa Indah I, Sukarame. Latihan yang dilakukan hingga pukul 01.00 ini bisa dihadiri ratusan anggota paguyuban. Beberapa tetangga sekitar rumahnya pun turut menyaksikan latihan karawitan yang dilakukan tiap malam Selasa ini.
Dia mengatakan seni bisa menjadi sarana orang untuk bersilaturahmi dan berkumpul. ”Siapa yang mau hanya kumpul ramai-ramai tidak ada kegiatan. Lewat seni karawitan dan wayang, orang pun tertarik duduk bersama sambil menikmati kesenian,” ujarnya.
Apa yang dilakukan Sudarto tidak lepas dari rasa untuk melestarikan seni dan budaya Jawa. Kesenian Jawa, lewat gamelannya, sudah diakui oleh dunia sehingga harus dilestarikan. ”Seni dan budaya merupakan bagian dari jati diri bangsa dan harus terus dirawat,” katanya.
Sudarto sebagai wakil dari kaum tua sudah melakukan aksi nyata untuk melestarikan karawitan dan wayang. Namun, langkah itu tidak diikuti kaum muda. Menurutnya, anak muda kurang tertarik pada kesenian Jawa. Anak muda tertarik pada musik Barat yang dia nilai instan dan tidak ada apa-apanya dengan musik tradisional Jawa.
Menurutnya, kesenian Jawa terus ada selama masih ada yang meminati. Orang yang tinggal di kota besar memang hanya berminat pada tari dan seni campursari. Sedangkan orang di daerah lebih memilih pertunjukan wayang kulit.
Sudah hampir semua kabupaten dan kota di Lampung dia kelilingi untuk menampilkan kesenian karawitan dan wayang. Terutama pada pemilihan gubernur tahun 2009, paguyuban dikontrak untuk tampil di beberapa daerah selama masa kampanye.
Sudarto memiliki keinginan agar seni dan budaya warga pendatang di Lampung bisa berkembang bersama dengan seni warga pribumi. Banyak sekali orang luar Lampung yang tinggal di Provinsi Sang Bumi Ruwa Jurai ini. Hal ini menjadi kelebihan bahwa Lampung bisa menjadi Indonesia mini. Perpaduan antara seni pendatang dan seni pribumi akan menjadi perekat alat pembauran di masyarakat.
Meskipun tanpa bantuan anggaran dari pemerintah daerah, Sudarto masih tetap melestarikan paguyuban seninya. Seni akan makin meriah bila ada andil pemerintah, Dia berharap agar kesenian Jawa bisa diajarkan di sekolah-sekolah.
Muridlah yang nantinya memilih untuk mendalami kesenian yang sesuai dengan keinginannya. Seni sangat universal dan tidak dibedakan mana Jawa dan bukan Jawa. ”Syukur-syukur bila semua kesenian bisa diajarkan di sekolah,” kata Sudarto.
11 March 2012

Merayu Mahasiswa lewat Tetabuh Gamelan


Merayu Mahasiswa lewat Tetabuh Gamelan
Posted by PuJa on June 2, 2012
Binti Quryatul Masruroh *
http://surabaya.tribunnews.com/

Jelang petang di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga Surabaya. Ketika semua orang disibukkan dengan aktivitasnya, kuliah, rapat keorganisasian, bersantai di kantin, pulang karena lelah mungkin, dari dalam ruang perkuliahan sayup-sayup terdengar rangkaian musik gamelan Jawa. Sungguh hal yang tidak biasa!
Dari balik pintu masuk fakultas, tampak pertunjukan seni gamelan digelar badan semi otonom FIB, Pakar Sajen. Di atas selembar tikar yang digelar di lantai, satu set gamelan Jawa dijajar rapi, lengkap dengan para niyaga (penabuh), lengkap dengan sindennya. Pertunjukan dimaksudkan mengenalkan karawitan sekaligus mengenalkan anggota mereka dari mahasiswa angkatan termuda. Suguhan sore itu adalah kemahiran mereka.
Memang, tangan-tangan mereka belum selincah para ahli yang sering dijumpai di berbagai pertunjukan besar. Namun dari gurat wajah mereka dapat ditangkap kesungguhan dan semangat untuk bermain secara sempurna. Pertunjukan semakin terlihat iramanya ketika para pemain diganti oleh mahasiswa angkatan lama. Permainan mereka terlihat lebih matang, pukulan gamelan lebih mantab, cengkok sang sindennya pun terdengar lebih memiliki nada dan terarah.
Sungguh, perpaduan musik yang sangat kalem, santun, sekaligus unik. Perpaduan antara suara gong, kenong, kendang, bonang, peking, dan masih beberapa macam yang lainnya. Berada di tengah mereka, bisa menikmatinya, kala itu penonton terasa berada di daerah terpencil yang sangat melekat dengan kebudayaan lokal dan nilai kejawen.
Yang paling mencuri perhatian mata adalah ketiga sinden yang duduk simpuh dideret paling depan dengan lenggak-lenggik suara dan gerak tubuh serta ekspresi mimik dan cengkok suara yang sedikit genit menggoda, membuat hati ikut mengikuti cengkok nada mereka. Perpaduan itu bisa jadi akan tambah lengkap jika dibalut dengan kebaya yang mengidentikkan sosok perempuan Jawa seutuhnya.
*) Mahasiswi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya. /15 Mei 2012

Friday, 1 June 2012

Sastrawan yang Lihai Mengolah Kata


Sastrawan yang Lihai Mengolah Kata
Posted by PuJa on May 30, 2012
Sri Rahayu
http://www.surabayapost.co.id/

Setelah lama digerogoti kanker hati, novelis Lan Fang akhirnya menyerah pada suratan takdir. Minggu (25/12) aktivis Tionghoa itu menghembuskan nafas terakhir di RS Mount Elizabeth Singapura. Kelihaian Lan Fang dalam setiap karyanya adalah mengubah kata sederhana menjadi indah. Surabaya benar-benar kehilangan sastrawan perempuan yang sangat produktif menuliskan karya-karyanya itu.
Sebelum dirujuk ke RS Mount Elizabeth Singapura dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada hari Minggu (25/12) siang, novelis perempuan Surabaya bernama Go Lan Fang sempat dirawat di RS Katolik St.Vincentius A Paulo Surabaya, namun kemudian dipindah lagi ke RS Adi Husada. Barulah hari Jumat (23/12) ia dirujuk ke RS Mount Elizabeth Singapura.
“Saat dirujuk ke Singapura, Lan Fang sudah tak tertolong lagi. Hari ini (Senin, 26/12) jenazah akan dibawa ke Surabaya dan langsung dibawa ke Adiyasa,” ungkap Guru Besar Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Budi Darma, BA, MA.
Budi Darma mengatakan, jebolan Fakultas Hukum Universitas Surabaya itu merupakan salah satu sastrawan nasional yang unggul dengan alur cerita dan setting tempat. “Setiap karyanya selalu memiliki alur yang unik, dan setting cerita yang dibuatnya seolah nyata dan hidup. Sehingga pembaca pun menikmati setiap karyanya,” tutur Budi Darma yang sekaligus guru Lan Fang belajar menulis sastra.
Dia mengakui bahwa Lan Fang adalah sosok yang terbuka terhadap siapa saja meski ia keturunan etnis Tionghua, termasuk dengan tokoh Islam.“ Ia (Lan Fang) dikenal sebagai Gus Durian atau pengikut Gus Dur. Jangan heran, jika selama ini dia banyak dekat dengan sejumlah tokoh ulama dari kalangan Nahdlatul Ulama,” tuturnya.
Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), A. Fauzi mengatakan bagi para seniman Jatim, Lan Fang merupakan sastrawan perempuan yang piawai mengolah bahasa sederhana menjadi indah.”Kebanyakan karyanya memang sastra popular. Namun, ia mampu menciptakan gaya bahasa unik yang indah,” tutur Fauzi.
Bagi keberlanjutan dunia sastra di Jatim, Fauzi mengaku sangat kehilangan sosok ibu tiga anak itu. “Tahun ini, Jatim telah kehilangan 2 sastrawan perempuan. Beberapa bulan lalu, Mbak Ratna, sastrawan asal Malang, juga telah berpulang,” tutur Fauzi. Pada tanggal 28 Maret 2011, sastrawan feminis Ratna Indraswari Ibrahim meninggal dunia.
Ia mengungkapkan bahwa 2 tokoh sastrawan perempuan tersebut merupakan tonggak berkembangnya sastra di Jatim. “Mbak Ratna dengan ide feminisnya dan Lan Fang dengan keindahan tutur bahasa mampu mewarnai sastra nasional, sebagai sastrawan perempuan,” tutur Fauzi.
Mengenai penyebab meninggalnya Lan Fang, Fauzi menuturkan karena kanker hati yang sudah lama menggerogotinya. “Ia (Lan Fang) memang pekerja keras. Ia tak merasakan kanker hati yang dideritanya, dengan tetap beraktivitas. Hingga akhirnya parah dan tidak bisa disembuhkan,” tutur Fauzi.
Diakui Fauzi, perempuan kelahiran Banjarmasin, 5 Maret 1970 itu aktif membimbing para pelajar dalam berbagai penulisan kreatif secara rutin di berbagai sekolah di Surabaya. Lan Fang telah melahirkan berbagai karya, seperti Reinkarnasi (2003), Pai Yin (2004), Kembang Gunung Purei (2005), Laki-laki Yang Salah (2006), Yang Liu (2006), Perempuan Kembang Jepun (2006), Kota Tanpa Kelamin (2007), dan Lelakon (2007). Namun, novelnya yang paling terkenal yakni ‘Perempuan Kembang Jepun’ yang mengambil setting tempat di Kya-kya Surabaya. Novel berjudul Lelakon, pernah menjadi nominee Khatulistiwa Award 2008. Tak hanya novel, cerpen karya Lan Fang pun masuk 20 Cerpen Terbaik Indonesia versi Anugrah Sastra Pena Kencana 2008 dan 2009.
26/12/2011

Nasib Malang Sastra Indonesia


Nasib Malang Sastra Indonesia
Posted by PuJa on May 30, 2012
JILFest 2008
Triyanto Triwikromo
http://www.suaramerdeka.com/

NASIB sastra Indonesia masih malang dan terlunta-lunta. Setidaknya itulah simpulan yang bisa dipetik dari seminar yang berlangsung dalam Jakarta International Literary Festival (JILFest) 2008 di The Batavia Hotel Jakarta, 11-14 Desember.
Dalam seri seminar bertema ”Sastra Indonesia di Mata Dunia” (Dr Katrin Bandel, Prof Dr Koh Young Hun, Prof Dr Abdul Hadi WM), ”Prospek Penerbitan Sastra Indonesia di Mancanegara” (Prof Dr Nikihiro Moriyama, Jamal Tukimin MA, Dr Naria Emilia Irmler, Putu Wijaya), dan ”Politik Nobel Sastra” (Prof Dr Henry Chambert-Loir, Dr Stevan Danarek, Prof Dr Budi Darma), sastra Indonesia kurang mendapat perhatiaan dari penerbit apalagi pembaca luar negeri.
Katrin Bandel, kritikus asal Jerman yang kini tinggal di Yogyakarta, bahkan berani menyatakan betapa orang-orang luar negeri, terutama Eropa, tidak peduli pada sastra Indonesia. ”Jika ada buku yang diterbitkan, penerbitnya kecil dan pembacanya tidak banyak.”Karena itu, menurut pendapat penulis Sastra, Perempuan, Seks ini, para sastrawan (Indonesia) tidak perlu terlalu memburu pembaca luar negeri. ”Memangnya kalau tidak dibaca oleh mereka mengapa sih?” tanya dia.
Putu Wijaya menyepakati pendapat Bandel. Kata dia, ”Harus diakui para pengarang Indonesia masih belum banyak dikenal, meskipun di kampus-kampus mereka dibicarakan. Semua ini karena karya sastra kita belum diterjemahkan dalam bahasa asing.” Meskipun demikian Jamal Tukimin dari Singapura memberikan data lain. Buku Ayat-ayat Cinta (Habiburrahman El-Shirazy) dan Laskar Pelangi (Andrea Hirata) laris di Singapura. ”Hampir semua toko buku menjual buku-buku, terutama bertema Islam terbitan Indonesia. Jumlahnya mencapai 75% dari buku yang beredar.”
Hadiah Nobel
Adapun di Korea sebagaimana diungkapkan oleh Koh Young Hun, kecuali karya-karya Pramoedya Ananta Toer dan Mochtar Lubis, belum muncul lagi terbitan karya sastra (besar) lain. Di Jepang, setidaknya sebagaimana dicatat oleh Moriyama, baru karya-karya Mochtar Lubis, Ahmad Tohari, Pramoedya Ananta Toer, YB Mangunwijaya, Rendra, Ajip Rosidi, Ayu Utami, Eka Kurniawan, Yudhistira ANM Massardi, dan Seno Gumira Ajidarma yang diterbitkan. Karena itu pula memang tidak perlu diherankan jika di Portugal karya sastra Indonesia baru sebatas ”dikolaborasikan” dengan penerbitan teks lain. ”Tetapi ini merupakan awal yang baik,” kata Maria Emilia Irmler pembicara dari Portugal.
Bertolak dari kenyataan semacam itu, lalu muncul pertanyaan, bagaimana karya sastra Indonesia bisa meraih hadiah nobel sastra? ”Hadiah terakhir abad ke-20 seharusnya dibagi untuk Gunter Grass dan Pram,” ungkap Danerek, kritikus asal Swedia yang dalam setahun ini mukim di Jakarta.
Apakah syarat mendapatkan nobel sastra sulit? ”Syarat itu tidak terlalu sulit. Hanya, Indonesia terasa jauh sekali dari Stockholm dari segi geografi, sejarah, budaya, dan agama,” ujar Heni Chambert-Loir dari Prancis. ”Diperlukan seratus tahun untuk menemukan sastra Tionghoa, berapa tahun akan diperlukan untuk menemukan sastra Indonesia?”
Jika demikian, tanya seorang peserta seminar, perlukah membuat semacam hadiah nobel sastra sendiri? ”Kita bisa membuat penghargaan semacam itu, tetapi tidak akan diperhatikan dunia,” ungkap Budi Darma. Oh, sungguh malang nasib sastra Indonesia.
17 Desember 2008

Saturday, 26 May 2012

Perempuan Sastrawan, Tren atau Proses Kebangkitan?


Perempuan Sastrawan, Tren atau Proses Kebangkitan?
Posted by PuJa on May 26, 2012
Rukardi
http://www.suaramerdeka.com/

MUNCULNYA perempuan sastrawan dalam ranah kesusastraan Indonesia dalam kurun sepuluh tahun belakangan, menjadi fenomena yang kerap diperbincangkan. Nama-nama Ayu Utami, Dewi ”Dee” Lestari, Djenar Maesa Ayu, Linda Cristanty, Herlinatiens, Nukila Amal, hingga artis tersohor macam Rieke Dyah Pitaloka menyita perhatian kritikus dan pengamat sastra dengan karya ”sastra wangi”-nya.
Banyak pendapat yang mengemuka, terkait fenomena kemunculan perempuan sastrawan. Sapardi Djoko Damono misalnya, memandang hal itu sebagai titik balik dari sebuah proses kebangkitan. Sastrawan kawakan ini bahkan memprediksi perempuan akan menjadi pewarna dunia kesusastraan Indonesia masa mendatang.
Dalam Seminar Nasional Sastra ”Menguak Heboh Sastra Perempuan: Laki-laki Pengarang Telah Mati?” di Gedung Prof Soemarman, Undip Pleburan, Rabu (1/3), pendapat itu kembali ia lontarkan.
”Kita harus jujur bahwa karya-karya yang paling banyak dihebohkan akhir-akhir ini adalah milik perempuan. Dalam segi jumlah, mereka juga jauh lebih banyak. Menurut saya, kondisi ini akan semakin terteguhkan pada masa mendatang.”
Berkebalikan dengan Sapardi, sastrawan Sitok Srengenge menganggap kemunculan perempuan sastrawan, tak lebih sebagai sebuah tren belaka. Menurutnya, heboh yang terjadi kebanyakan bukan oleh kualitas yang mereka tunjukkan. Melainkan oleh faktor-faktor lain yang berada di luar kesusastraan. Sitok mencontohkan Ayu Utami dengan karyanya Saman.
Novel itu bisa demikian kondang, justru karena ditulis oleh perempuan. ”Orang penasaran, kok ternyata penulisnya perempuan. Belum lagi ditambah rumor adanya ghost writer. Jadilah Saman banyak diperbincangkan.
Secara berkelakar, Sitok mengatakan bahwa keberdayaan perempuan sastrawan di Indonesia sejatinya masih bergantung pada kaum Adam. Industri penerbitan, kata dia, didominasi oleh laki-laki, dari editor sampai direkturnya. ”Coba, kalau mereka tidak mau menerbitkan karya penulis perempuan, mampuslah mereka, ha ha ha.”
Perspektif Perempuan
Seminar yang diselenggarakan dalam rangka ulang tahun III Magister Ilmu Susastra Undip itu juga menghadirkan Kritikus Saut Situmorang, Pengajar Magister Susastra Undip IM Herdrarti, dan pesohor yang pernah menerbitkan karya novelnya, Tamara Geraldine.
Saut Situmorang menyorot soal pandangan feminisme yang menempatkan laki-laki sebagai penulis yang tidak diinginkan. Mereka selalu dianggap menerapkan aturan-aturan dari suatu tatanan representasi simbolik yang memamerkan ide-ide perempuan dengan cita rasa vulgar.
Sementara itu, IM Hendrarti banyak mengupas pembacaan perempuan terhadap teks yang diciptakan perempuan. Menurutnya, pembaca perempuan, perlu mewaspadai pemaknaan tunggal yang diusung ideologi patriarkis. Seorang perempuan akan mampu membaca dengan perspektif perempuan dengan cara memproduksi makna dari sistem pemaknaan yang berasal dari pengalamannya sendiri.
Lantas, apa kata Tamara Geraldine sebagai seorang perempuan penulis? ”Saat menulis tentang perempuan, saya akan menulis lebih baik dari yang ada pada diri saya. Perempuan akan saya tampilkan sebagai sosok yang seindah-indahnya”.
02 Maret 2006

Friday, 25 May 2012

Peran Kebudayaan Gus Dur Banyak Terlupakan


Peran Kebudayaan Gus Dur Banyak Terlupakan
Posted by PuJa on May 25, 2012
Qomarul Adib
http://nu.or.id/

Banyak orang secara sepotong-sepotong memandang mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dianggap hanya sebagai aktor politik. Sehingga peran Gus Dur dalam hal gerakan kebudayaan dan keseniannya menjadi terlupakan.
Demikian dinyatakan oleh putri bungsu Gus Dur, Inayah wulandari saat menghadiri kenduri budaya mengenang guru bangsa yang diselenggarakan pegiat seni dan budaya Kudus di rumah makan Bambu Wulung Jl. Kudus-Pati km. 5 Kudus, Jum’at (6/1) malam.
Karena bertajuk kebudayaan, mbak Ina sapaan akrabnya, menyampaikan orasi mengenang Gus Dur dalam perspektif budaya. Bukan hanya itu, ina juga membacakan sebuah puisi karyanya sendiri.
“Gus Dur memiliki visi kemanusiaan dan pandangan humanisme dikarenakan suka kesenian dan kebudayaan. Kegemarannya dengan buku-buku bacaan, lagu-lagu maupun wayang telah menciptakan dirinya sebagai sosok yang kuat,” ujar Ina di depan ratusan seniman, pejabat dan tokoh masyarakat setempat.
Dikatakan, tanpa adanya seni dan budaya sosok presiden keempat ini tidak akan memperoleh kesempurnaan. Melalui kiprah kebudayaan, Gus Dur mengajak manusia membuka diri dan berlatih sebagai pejuang humanisme.
Ia mencontohkan kalimat khasnya ‘gitu aja kok repot’ tidak hanya sebatas lelucon melainkan mengandung makna filosofis yang luar biasa. Menurut ina, filosofinya pada sikap kesederhanaan Gus Dur yang hanya bersandar pada Allah SWT.
“Gus Dur membiarkan dirinya dibela Allah dan dirinya bukanlah siapa-siapa, hanya bersandar pada Allah saja. Inilah filosofisnya,” jelas Inayah.
Gus Dur, kata Ina, menjadi humanis melalui proses membaca dan berkarya. “Makanya kami berharap anak-anak muda mau berproses seperti beliau dengan buku-buku maupun karya puisi-puisi,” harapnya.
Dalam mengakhiri orasinya, ina membacakan sebuah puisi karyanya berjudul “indonesiaku’. Menurutnya, puisi yang dibaca ini menggambarkan indonesia yang diidam-idamkan mendiang KH Abdurrahman wahid.
Meski diguyur hujan, kegiatan yang digawangi dewan kesenian Kudus (DKK) itu berlangsung semarak. Diawali tahlilan untuk Gus dur dilanjutkan testimoni tentang Gus Dur dari sejumlah tokoh dan pejabat yang hadir. Kemudian pementasan-pementasan kesenian mulai terbang papat, band, bacaan puisi seniman solo oleh sosiawan leak dan teater yang dimainkan gabungan dari komunitas teater di kudus.
Menurut ketua DKK Aris Junaidi, acara kenduri ini diadakan secara spontan untuk mengenang sosok Gus dur melalui apresiasi budaya.
“Alhamdulillah banyak tokoh mulai pejabat, pengurus aktivis NU dan muhammadiyah serta seniman hadir disini. Ini membuktikan sosok Gus Dur memang diterima semua kalangan.” Jelas Aris Junaidi yang pernah menjadi orang dekat Gus Dur.
Dijumput dari: http://majelisfathulhidayah.wordpress.com/2012/01/08/peran-kebudayaan-gus-dur-banyak-terlupakan/

Thursday, 24 May 2012

Persoalan Kemanusiaan dalam karya A.A. Navis


Persoalan Kemanusiaan dalam karya A.A. Navis
Posted by PuJa on May 18, 2012
Herton Maridi
http://www.kompasiana.com/hertonmaridi

Pada Kamis sore tepatnya 05 April 2012 16.30 FAS (Forum Alternatif Sastra) dan HMJ Aqidah Filsafat bekerja sama menyelenggarakan bedah film dokumenter sastrawan Indonesia “A.A Navis” acara ini dihadiri oleh berbagai komunitas dan beragam mahasiswa (jurusan) lainnya. Sekilas tentang A.A Navis yang dilahirkan di di Kampung Jawa, Padang, Sumatra Barat, 17 November 1924 meninggal 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun. Ia pernah berkuliah di salah satu universitas di belanda. Di universitasnya dia termasuk orang yang pintar ia selalu dipuji oleh teman-temannya karena kepintarannya akan tetapi ketika waktu ujian datang ia tidak pernah bisa lulus. Hal itu kemudian menjadikan beliau untuk memutuskan berhenti kuliah dan kembali ke kampung halamannya di Indonesia dan membangun Taman Siswa di dekat rumahnya. Semua anak-anak yang bersekolah di sana diajarkan semua ilmu seni dan sastra, seperti menulis, melukis dan memahat dan yang paling penting adalah di sekolahnya semua siswa bebas berekspresi melakukan apapun yang mereka suka. Karena bagi A.A Navis suatu sekolah/instansi pendidikan bukan hanya untuk menjadikan siswanya mempunyai pengetahuan tapi menjadikan sekolah adalah tempat untuk menuangkan kreatifitas dan gagasan. Karena dengan kebebasan eksistensi kita semakin tinggi. Ketimbang hanya belajar lalu menghapal pelajaran seni dan lainnya yang tingkat kebenarannya tergantung pada tingkat keakuran antara jawaban kita dengan jawaban si pengajar.
Setelah menyaksikan film dokumenter A.A Navis (selanjutnya akan saya sebut Navis) yang berdurasi 23 menit. Manfaat kita menonton fim dokumenter ini adalah agar kita terangsang dan merasakan gairah untuk menulis. Kita akan mengetahui beberapa proses kreatif dari seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia. Hal yang disinggung oleh beliau adalah bahwa modal utama untuk menulis adalah kita belajar filsafat, kenapa harus filsafat? Karena yang dituliskan dalam sastra itu bukan peristiwa kehidupan manusia tetapi persoalan-persoalan manusia dan persoalan-persoalan hanya bisa secara kritis dirasakan oleh orang yang menggunakan filsafat sebagai pisau bedah. Pada “Datangnya Dan Perginya” karya A.A Navis, tokoh ayah dipecundangi oleh perasaannya sendiri. Sikap pengecut yang hadir dalam diri tokoh ayah adalah bentuk apresiasi Navis dalam sindiran terhadap tokoh agama. Orang yang paham dengan agama malah menjadi orang begok dan buta hati. Hanya satu ketidaksengajaan ketika takdir membawanya pada suatu pilihan yang menyebabkan terjadinya krisis iman dalam diri tokoh ayah. Betapa bejat moral seorang tokoh ayah dalam cerpen “Datangnya Dan Perginya” membiarkan sebuah kehidupan menjadi satu keluarga dalam ikatan pernikahan yang dilandasi oleh perkawinan sedarah. Di sini ada persoalan kemanusiaan yang diangkat. Jadi Navis tidak menginginkan penulisan cerpen atau puisi itu selalu berbicara cinta, rembulan, sunyi, kota dan yang lainnya.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Bambang Q Anees “Karya yang mengangkat persoalan manusia itu karya yang berumur panjang tapi kalau karya yang mengangkat persoalan pribadi saja akan berumur pendek”. Masalah kita sebagai penulis pemula itu pasti adalah berkarya dalam rangka menyuburkan imajinasi saja atau menuliskan keinginan menjadi sesuatu. Padahal yang ditawarkan oleh Navis berkaryalah anggaplah persoalan kemanusiaan, berdasarkan apa yang kita lihat.
Maka penyair atau sastrawan bukan orang yang tinggal di dalam kamar tapi dia hidup berhubungan dengan masyarakat dia harus tahu apa persoalan kemanusiaan yang sedang terjadi di luar. Navis berkata “kita menulis untuk tergantung kepada siapa yang mau kita tuju”. Kalau menulis untuk anak kecil berbeda dengan menulis untuk sebaya. “Apa yang tidak mungkin dituliskan dalam cerita bisa kita tulis dalam makalah, puisi atau yang lainnya” tutur Navis. Dengan kata lain menulis itu mengemukakan apa yang ada di dalam diri kita ihwal persoalan kemanusiaan yang sedang terjadi.
Salam sastra, mari berkarya!
Dijumput dari: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/04/06/persoalan-kemanusiaan-dalam-karya-aa-navis/

Ali Akbar Navis, Sang Pencemooh yang Dicintai (17 Nov 1924 – 22 Maret 1993)


Ali Akbar Navis, Sang Pencemooh yang Dicintai (17 Nov 1924 – 22 Maret 1993)
Posted by PuJa on May 18, 2012
M. Rifan Fajrin
_Majalah Lingkar FLP Semarang – dari berbagai sumber
Dia adalah salah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia. Haji Ali Akbar Navis, atau yang lebih dikenal dengan nama A.A Navis, di kalangan sastrawan dia digelari sebagai kepala pencemooh. Gelar yang lebih menggambarkan kekuatan satiris tidak mau dikalahkan sistem dari luar dirinya.
Sang Pencemooh kelahiran Kampung Jawa, Padang Panjang, 17 November 1924, ini adalah salah seorang tokoh yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih.
Navis memulai menulis sejak tahun 1950. Hasil karyanya mendapat perhatian dari pimpinan media cetak sekitar tahun 1955 dan telah menghasilkan sebanyak 65 karya sastra dalam berbagai bentuk. Menulis 22 buku, ditambah lima antologi bersama sastrawan lainnya dan delapan antologi luar negeri serta 106 makalah yang ditulisnya untuk berbagai kegiatan akademis di dalam maupun di luar negeri, dihimpun dalam buku “Yang Berjalan Sepanjang Jalan”.
Sosoknya menjadi simbol energi sastrawan yang menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi agar hidup lebih bermakna. Dia seorang seniman yang perspektif pemikirannya jauh ke depan. Karyanya Robohnya Surau Kami, juga mencerminkan perspektif pemikiran ini. Yang roboh itu bukan dalam pengertian fisik, tapi tata nilai. Hal yang terjadi saat ini di negeri ini. Dia memang sosok budayawan besar, kreatif, produktif, konsisten dan jujur pada dirinya sendiri. Sepanjang hidupnya, dia telah melahirkan sejumlah karya monumental dalam lingkup kebudayaan dan kesenian. Dia bahkan telah menjadi guru bagi banyak sastrawan.
Ia seorang penulis yang tak pernah merasa tua. Hingga usia senja, ia terus saja berkarya, karena baginya menulis harus dijadikan kebiasaan dan kebutuhan dalam hidupnya. Pada 17 November 1999, AA Navis genap berusia 75 tahun. Di usia segaek itu, sastrawan dan budayawan kondang hasil didikan Mohammad Sjafei di INS Kayutaman (1932-1942) ini masih tetap produktif. Ia masih tetap menulis, menulis, dan terus menulis.
Bagi Navis, menulis itu alat. Namun bukan alat pokok untuk mencetuskan ideologinya. Ia mengaku tak termasuk orang yang menulis cerpen mirip mesin.
“Bila sedang mood menulis cerpen, ya tulis cerpen. Bila mood menulis novel, ya tulis novel. Kadang dalam setahun, ambo hanya mampu menulis dua-tiga cerpen,” kata Navis.
“Menulis adalah panggilan hati. Menulis adalah tantangan dan untuk melatih otot-otot otak. Senjata ambo hanya menulis. Dengan menulis ambo bisa membela orang atau pihak yang tertindas. Ambo menulis dengan satu visi, tetapi bukan mencari ketenaran. Ada pikiran yang ingin ambo tuangkan melalui karya sastra,” jelas penerima Hadiah Seni dari Departemen P dan K, tahun 1988 itu.
Dalam konteks kesusastraan ia mengemukakan pandangannya bahwa kurikulum pendidikan nasional saat itu, mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi siswa ataupun mahasiswa hanya diajarkan untuk menerima, tidak diajarkan untuk mengemukakan pemikiran. Dalam hal ini, siswa tidak diajarkan agar pandai menulis, karena menulis itu membuka pikiran. Siswa tidak diajarkan membaca, karena membaca itu memberikan perbandingan-perbandingan. Di perguruan tinggi, mahasiswa tidak pandai membaca dan menulis. Oleh karena itu terjadi pembodohan terhadap generasi penerus akibat tingkah-polah kekuasaan. Oleh karena itu, strategi pembodohan itu harus dilawan dan dibenahi. Menurutnya, salah satu caranya adalah dengan memfungsikan pelajaran sastra dalam kurikulum pendidikan nasional. Pelajaran sastra adalah pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir kritis dan memahami konsep-konsep tentang kehidupan. Membaca sebuah karya manapun yang baik, itu berarti meyuruh orang berpikir berbuat betul.
Sebagai seorang sastrawan, sejumlah penghargaan pernah diterimanya, antara lain pemenang pertama dan menerima hadiah Kincir Emas dari Radio Belanda (1975), dan anugerah sastra South East Asia Writer Award dari Thailand (1992). Cerpennya juga telah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing: Inggris, Jerman, dan bahasa Perancis.
Penulis ‘Robohnya Surau Kami’ dan menguasai berbagai kesenian seperti seni rupa dan musik, ini meninggal dunia dalam usia hampir 79 tahun, sekitar pukul 05.00, Sabtu 22 Maret 2003, di Rumah Sakit Yos Sudarso, Padang. []
Karya :
Robohnya Surau Kami (1955)
Bianglala (1963)
Hujan Panas (1964)
Kemarau (1967)
Saraswati, Si Gadis dalam Sunyi (1970)
Dermaga dengan Empat Sekoci (1975)
Di Lintasan Mendung (1983)
Alam Terkembang Jadi Guru (1984)
Hujan Panas dan Kabut Musim (1990)
Jodoh (1998).
Penghargaan :
Hadiah seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1988),
Lencana Kebudayaan dari Universitas Andalas Padang (1989),
Lencana Jasawan di bidang seni dan budaya dari Gubernur Sumbar (1990),
Hadiah sastra dari Mendikbud (1992),
Hadiah Sastra ASEAN/SEA Write Award (1994),
Anugerah Buku Utama dari Unesco/IKAPI (1999),
Dijumput dari: http://kamarberisik.blogspot.com/2011/05/aa-navis.html
Satya Lencana Kebudayaan dari Pemerintah RI.

Memasuki Dunia Sapardi


Memasuki Dunia Sapardi
Posted by PuJa on May 20, 2012
Ilham Khoiri
Kompas, 29 Maret 2009

Kami pun setiap malam berada dalam ruangan itu: dia main piano dan aku mendengarkannya. Yang selalu dimainkannya adalah Fur Elise, salah satu mahakarya Beethoven yang selalu membuatku seperti mengambang dalam keheningan untuk kemudian lenyap menjelma butir-butir udara yang dihirup dan dihembuskannya… Kami tak pernah bersentuhan. Hanya kadang memandang, mungkin itu tanda bahwa kami saling mengajukan pertanyaan, atau saling menyodorkan jawaban…
Cerita sangat pendek berjudul Untuk Elisa karya penyair Sapardi Djoko Damono itu berdenyut-hidup dalam gaya monolog aktris Niniek L Karim. Sambil mengucapkan kata-kata lembut, sesekali perempuan awet muda itu berhenti sejenak, lalu menatap Jubing Kristianto. Gitaris itu sendiri tengah asyik memetik senar yang mendentingkan alunan nada Fur Elise: tung tang tung tang tung… ting ting tung tung… ting ting tung…
”Huh… Ingin sekali saya menjadi gadis itu,” ujar Niniek yang mengaku terhanyut dalam cerita pendek itu.
Begitulah salah satu pementasan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono dalam pertunjukan ”Sihir Hujan” di Newseum, gedung tua di kawasan Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Jumat (27/3) malam. Tampil sebagai pengisi utama, duet Ari Malibu dan Reda Gaudiamo yang menampilkan musikalisasi puisi. Ada juga model Maudy Kusnaedi yang berdeklamasi, serta komunitas Soca asal Tasikmalaya dengan dua film pendek yang dibuat berdasar tafsir atas puisi Sapardi.
Sapardi juga tampil membaca dua puisi pendek. Pada pentas itu, penyair itu meluncurkan antologi puisi terbarunya, Kolam, dan revisi buku puisi Mantra Orang Jawa. Kedua buku itu dicetak terbatas.
Apa yang menarik dari pentas ”Sihir Hujan”? Terasa sekali, pentas itu semakin membuktikan, betapa fleksibelnya puisi-puisi Sapardi. Karya sastra itu terasa begitu kenyal dan terbuka sehingga bisa ditafsir untuk menjadi bermacam pertunjukan baru, seperti menjadi musik, film, atau dimainkan dalam monolog.
Dengar saja musikalisasi Ari-Reda yang terkenal sejak tahun 1990-an itu. Meski sebagian kita kerap mendengarnya, penampilan duet itu tetap saja menggugah. Lagu Hujan Bulan Juni, Gadis Kecil, Akulah Si Telaga, Di Restoran, atau Sihir Hujan seperti menyihir penonton yang memenuhi ruangan Newseum. Komposisi musik yang mengalun bersahaja, diksi puisi mengena, dan dentingan gitar Ari (kadang diiringi Jubing), semuanya bersinggungan untuk menciptakan suasana yang bikin dada terenyuh.
Peristiwa di atas panggung itu menarik penonton untuk masuk dalam dunia yang begitu romantis, sublim, dan intim: hujan, gerimis, gadis kecil, telaga, jembatan, kabut, gunung… Itulah dunia yang berjeda dari rutinitas sehari-hari, berjarak dari hiruk-pikuk kampanye partai politik, atau segenap krisis yang mendera negeri ini.
”Saya selalu terenyuh mendengar musikalisasi puisi Hujan Bulan Juni. Saya hafal liriknya,” kata I Wibowo, pengamat budaya China dari Universitas Indonesia (UI), yang khusyuk menonton malam itu. Saat masih kuliah di London, dia mengaku kerap menyetel kaset Hujan Bulan Juni yang membuatnya rindu pada Tanah Air.
Terbuka
Kenapa puisi Sapardi cukup lentur untuk ditafsirkan menjadi musik, monolog, atau film?
”Puisi saya itu terbuka untuk interpretasi. Mau diapain saja bisa, dan hasilnya bisa bagus, malah kadang mengejutkan,” kata Sapardi.
Menurut guru besar dan mantan Dekan Fakultas Sastra UI itu, puisinya tidak menggunakan kata yang neko-neko, apalagi gagah-gagahan. Puisinya tidak menggurui dengan petuah-petuah, melainkan menciptakan dunia yang terbuka. ”Dengan begitu, semua orang bisa masuk dan menemukan dirinya sendiri.”
Pengamat sastra UI, Maman S Mahayana, menilai puisi Sapardi itu punya kesederhanaan bahasa sehingga hampir semua kalangan mudah mengikutinya. Namun, di balik diksi yang sangat terjaga itu tersimpan makna yang dalam. Pembaca bisa menikmati puisi itu, tetapi juga tak pernah selesai saat mencoba memahami maknanya.
Puisi-puisi penyair kelahiran Solo, 20 Maret 1940, itu punya citraan kuat sehingga berhasil menghadirkan suasana tertentu. Diksinya menciptakan rima seperti bebunyian lagu. Dengan tema sehari-hari yang akrab dengan banyak orang, siapa pun mudah tersentuh oleh puisinya.
”Dalam kesederhanaan, puisinya kaya tafsir. Itulah yang membuat puisi itu bisa melahirkan pentas baru, entah dalam bentuk lagu, musik, atau monolog,” kata Maman.
Bagi Jubing, kata-kata puisi Sapardi memang menciptakan ruang terbuka. Dalam ruang itu, dia leluasa menggali kekayaan petikan gitar untuk membuat iringan musikalisasi Ari-Reda. ”Kata-kata puisi itu menuntun irama, tetapi juga memberikan ruang kebebasan improvisasi,” katanya.
Terbatas
Sapardi mengaku, musikalisasi yang dilantunkan Ari-Reda telah membuat puisinya lebih populer bagi banyak kalangan. Apresiasi sastra pun makin luas. Soal hasilnya bagaimana, itu diserahkan pada tafsir masing-masing orang yang menggarapnya jadi pertunjukan lain.
Bicara soal hasil, komposer dan pengamat musik Franki Raden punya pendapat berbeda. Bagi dia, tak semua musikalisasi puisi Sapardi oleh Ari-Reda berhasil. Pada beberapa karya, memang lagu dan puisi muncul sama-sama kuat. Namun, beberapa karya lain justru membuat musik dan puisi malah hanya tampil setengah-setengah.
Dengan pendekatan terbatas, beberapa puisi yang berbeda digarap dengan musik serupa. Padahal, masing-masing puisi punya kekuatan bahasa, konteks, isi, dan pesan unik—yang semestinya menuntut eksplorasi musik lebih kompleks. ”Dengan pendekatan musik pop yang begitu-begitu saja untuk semua puisi, ruh puisi itu bisa hilang.”
Menurut etnomusikolog itu, sebenarnya musikalisasi puisi sudah mentradisi dalam sastra tutur di Nusantara. Tembang di Jawa, misalnya, adalah lagu yang dinyanyikan secara mocopatan tanpa iringan musik atau bisa dilantunkan sebagai lagu yang menyatu dengan gamelan. Hal serupa juga terjadi pada banyak sastra tutur di daerah lain.
”Tradisi kita punya sejarah musikalisasi puisi dengan pendekatan yang kaya dan berbeda-beda. Semestinya musikalisasi puisi sekarang juga ditangani dengan berbagai pendekatan lebih terbuka, tak hanya mengandalkan musik pop standar yang terbatas itu,” katanya.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/03/puisimemasuki-dunia-sapardi.html

Mimpi Mbah Udju, Pustakawan Kampung


Mimpi Mbah Udju, Pustakawan Kampung
Posted by PuJa on May 20, 2012
Her Suganda *
Kompas, 27 Maret 2009

IBARAT batu karang, Djudju Djunaedi atau Mbah Udju, selama 20 tahun lebih tak pernah surut dari mimpinya. Setiap hari sepulang bekerja di Perkebunan Karet Gunung Hejo, PT Perkebunan Nusantara VIII, ia berkeliling kampung-kampung di Kecamatan Darangdan, Purwakarta, dengan berjalan kaki. Dengan sabar ia menyambangi penduduk desa, menawarkan jasa meminjamkan buku dan majalah dari rumah ke rumah.
Hasilnya? Ada orang yang mau membaca buku dan majalah yang dibawanya saja sudah untung. Namun, sebagian besar orang desa yang didatangi malah menolak tawarannya dengan berbagai alasan.
”Kayak orang gedean saja membaca buku dan majalah,” ia menirukan salah satu alasan warga.
Bagi mereka membaca bukan kebutuhan. Membaca buku atau majalah dianggap kemewahan, hanya menjadi milik orang kaya di perkotaan. Padahal, Mbah Udju tak menentukan tarif untuk buku dan majalah yang dipinjamkan.
”Asal orang mau membaca saja saya sudah senang,” katanya.
Walau hanya mengenyam pendidikan formal di sekolah rakyat (kini sekolah dasar) dan bekerja sebagai karyawan rendahan, ayah dua anak ini memulai kegiatan dengan meminjamkan buku dan majalah yang sudah dibaca anak sulungnya, Edi Rohman. Sejak umur empat tahun, Edi gila membaca.
”Kalau saya pulang dari mana-mana, yang ditanyakan bukan ole-ole, tetapi buku,” katanya.
Buku dan majalah mula-mula dipinjamkan kepada anak-anak yang ayahnya bekerja sebagai karyawan di lingkungan perkebunan. Mereka diajari membaca oleh istrinya, Heni Saeni. Dua tahun kemudian ia meluaskan wilayah kegiatan ke lingkungan penduduk lain yang masih sekampung.
Desa Gunung Hejo, tempat keluarga ini tinggal, terdiri atas 17 rukun tetangga. Dengan sabar dan tak kenal lelah, selama dua tahun, satu per satu penduduk didatangi. Mimpinya menjadi pustakawan kampung mengalahkan rasa lelah. Dengan menyelendang kantong besar berisi majalah dan buku, ia mendatangi warga Desa Darangdan, tetangga Desa Gunung Hejo.
Desa itu sebenarnya pusat kecamatan. Namun, tak mudah mengubah sikap penduduknya. Selama dua minggu ia mendatangi warga desa, tak seorang pun yang mau meminjam buku dan majalah.
Bahkan, di Desa Sawit, tetangga Desa Darangdan, selama dua bulan Mbah Udju menyambangi warga, juga tak seorang pun yang mau meminjam buku dan majalah. ”Tapi, saya tidak pernah putus asa,” ujarnya.
Tak kenal lelah
Macam-macam cara ditempuh Mbah Udju agar warga desa di sekitar tempat tinggalnya punya minat baca. Ia pernah memberikan majalah, malah diacak-acak, diguntingi untuk kliping salah seorang murid SMP.
”Walau sebelumnya saya sering datang ke desanya, anak itu tidak pernah meminjam buku atau majalah,” katanya.
Untuk majalah yang ”dirusak” itu pun Mbah Udju tak meminta ganti rugi sepeser pun. Sebagai imbalan, ia hanya mengajukan syarat agar anak itu datang lagi dengan membawa teman-teman.
Kiat lainnya dilakukan dengan kerja sama mahasiswa beberapa universitas di Bandung yang sedang melaksanakan kuliah kerja nyata dan praktik kerja lapangan di desanya. Lewat lomba membaca, kegiatan itu diharapkan bisa menumbuhkan minat baca pada anak-anak.
”Hadiahnya seadanya, disediakan secara patungan oleh para mahasiswa,” katanya.
Kecamatan Darangdan terdiri atas 17 desa, tetapi hanya delapan desa yang menjadi daerah operasinya. Desa-desa itu dikunjungi secara rutin. Letak antara satu desa dan desa lain berjauhan. Tak jarang ia harus melewati daerah-daerah sepi yang merupakan perkebunan teh rakyat. Kecamatan Darangdan merupakan salah satu pusat perkebunan teh rakyat. Setiap hari ia menempuh jarak puluhan kilometer dengan berjalan kaki.
Pengalamannya yang tak terlupakan terjadi pada akhir 1996. Pulang dari Desa Nangewer, hujan turun rintik-rintik. Mbah Udju bergegas karena hari sudah senja. Buku dan majalah disimpan dalam buntelan kain, kemudian diselendangkan di bahunya. Tanpa rasa takut, ia berjalan seorang diri melewati tempat sunyi dan jauh dari perkampungan penduduk. Tiba-tiba dari arah belakang muncul sepeda motor yang dikendarai tiga orang berbadan tegap.
Salah seorang di antaranya turun lalu menodongkan senjata tajam. Bungkusannya direbut dan uang Rp 6.500 dirampas. Namun, setelah beberapa ratus meter, bungkusan buku dan majalah itu dilemparkan. Isinya berserakan. Mbah Udju sedih. Mungkin bungkusan itu mereka kira berisi kain atau bahan pakaian yang biasa dijajakan ke kampung-kampung.
Sejak itu Mbah Udju memutuskan, dua desa dia lepaskan.
Hasil sumbangan
Bekerja sampai menjelang malam dan pulang dengan keringat bercucuran, penghasilannya setiap hari Rp 8.000, paling banyak Rp 15.000.
”Kadang-kadang hanya Rp 3.000,” kata istrinya, Heni Saeni.
Pendapatannya yang tak seberapa itu jauh dari memenuhi kebutuhan. Apalagi, anak bungsunya masih kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Maka, ketika ada wartawan setempat seusai mewawancara meminta biaya publikasi sebesar Rp 300.000, Mbah Udju menjawab, ”Uang pensiun saya dalam sebulan saja tak sebesar itu.”
Sejak tahun 2006 Mbah Udju menjalani pensiun. Setiap bulan ia menerima Rp 232.000. ”Hanya cukup untuk beli beras dan bayar listrik,” istrinya menimpali.
Hidup sederhana, tetapi tetap memiliki optimisme menumbuhkan minat baca penduduk desa, sejak 1992 perpustakaannya dinamakan Perpustakaan Saba Desa yang artinya keliling desa. Bangunannya menempati salah satu ruangan rumahnya yang hanya bisa dicapai dengan berjalan setapak di Kampung Ngenol RT 10 RW 3. Di tempat ini buku dan majalah tersimpan rapi dalam rak. Sebagian buku dan majalah masih ditumpuk begitu saja.
Ratusan buku dan majalah itu adalah sumbangan penerbit dan masyarakat setelah mereka membaca permohonan Mbah Udju yang disampaikan lewat surat pembaca. Salah seorang di antaranya, Ny Made Hidayat dari Jakarta, menjadi penyumbang setia sejak 1992.
Mbah Udju mengirimkan surat-surat itu dengan tulisan tangan. ”Boro-boro dengan komputer, mesin ketik saja tak ada,” katanya.
*) Her Suganda, Pengurus Forum Wartawan dan Penulis Jawa Barat.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/03/sosok-mimpi-mbah-udju-pustakawan.html

Merawitkan Naskah, Membaca Sejarah


Merawitkan Naskah, Membaca Sejarah
Posted by PuJa on May 20, 2012
Bre Redana, Ardus M Sawega
Kompas, 22 Maret 2009

”BU Nancy, tamunipun sampun rawuh…” begitu kata petugas resepsionis hotel di Solo melalui telepon kepada tamunya, Nancy K Florida, yang menginap di situ. Nancy, Indonesianis dari Universitas Michigan, Amerika Serikat, peneliti naskah-naskah kuna Jawa, fasih dan suka berbahasa Jawa halus dalam pergaulan sehari-hari di Solo. Kehalusan bahasanya kontras tajam dengan cara pandangnya tentang kebudayaan Jawa, berikut gempurannya terhadap sarjana-sarjana, baik Belanda maupun Indonesia, dengan filologi yang dikecamnya keras.
Sekitar dua bulan sampai sekitar pertengahan Maret ini, pengajar cultural studies itu berada di Solo. Kali ini—setelah penelitian-penelitiannya terdahulu terhadap teks Jawa kuna—ia melakukan penelitian atas karya-karya Ronggawarsita. Dari pergulatannya dengan naskah-naskah kuna, salah satu yang penting dari pandangan Nancy adalah gugatannya terhadap para filolog Barat—atau tepatnya filologi kolonial— yang banyak memberi pengaruh pada cara pandang orang terhadap ”kebudayaan tradisional Jawa”.
Filologi kolonial memberi gambaran atas sastra Jawa, yang dianggap mencapai zaman keemasan dengan ditulisnya teks-teks kakawin oleh para pujangga keraton Jawa pada zaman klasik, yaitu abad ke-9 sampai abad ke-14. Teks-teks itu merupakan puncak dari kebudayaan Hindu-Buddha. Menurut gambaran itu, zaman emas tersebut diakhiri oleh kedatangan Islam pada akhir abad ke-15 (risalah ini bisa dibaca dalam buku Membaca Postkolonialitas (di) Indonesia, editor Budi Susanto, SJ, Penerbit Kanisius, 2008).
Melalui pergulatannya dengan naskah-naskah Jawa kuna, Nancy sampai pada satu titik, filologi kolonial berada dalam suatu struktur yang disebutnya ”tidak-akan-melihat” kenyataan lain di antara manusia Jawa yang mereka kuasai. Filologi Barat yang menjadi bagian dari proyek kolonial ia anggap gagal ”melihat” (karena berada dalam struktur ”tidak-akan-melihat” itu) signifikansi Islam dalam teks-teks Jawa, bahkan Jawa yang dikategorikan dalam zaman keemasan. Dengan merawitkan naskah (bukan meruwetkan), Nancy sebenarnya bukan hanya melihat gambaran kebudayaan sastra Jawa, tetapi juga sejarah.
Berikut cuplikan dari percakapan dengan Nancy malam itu, beberapa hari sebelum ia bertolak kembali ke Amerika.
Babad Jaka Tingkir
Anda mengajar cultural studies selain studi Asia dan Indonesia di Michigan. Seberapa jauh atau adakah hubungan cultural studies dengan, misalnya, subyek pengajaran mengenai Indonesia?
Derida misalnya. Yang saya dapat dari situ adalah close reading, sangat close.
Apakah itu memberi sumbangan saat Anda membaca babad-babad di Jawa?
Ya, tetapi jangan hanya menjadi budak teori. Anggaplah suatu teori itu hanya sebagai cara mengasah otak. Bagaimana dengan itu kita bisa mendalami materi yang kita teliti. Soalnya, saya termasuk yang tidak mau banyak ”kutipan” atau tanda kurung, tetapi harus berupa fakta langsung.
Pada buku Anda, Writing the Past, Inscribing the Future (di buku ini diungkapkan Babad Jaka Tingkir) seolah-olah ada tantangan di dalam masyarakat Jawa bahwa terjadi proses pencarian akan keaslian, indigenousity….
Buku saya sebenarnya tidak mengangkat itu. Dalam buku saya yang mengungkapkan Babad Jaka Tingkir yang paling menarik bagi saya bahwa Jaka Tingkir tidak muncul di sana. Jadi, tidak ada Jaka Tingkir. Itu bermakna suatu imbauan untuk memperbarui kehidupan atau pola hidup orang Jawa atau orang Indonesia.
Bagi yang menulis sejarah kembali—saya rasa penulis babad ini Paku Buwana VI—mau menulis babad baru yang tidak lazim seperti Jawa sebelumnya. Kita melihat, Jaka Tingkir yang melahirkan suatu dinasti (Mataram), tetapi berakhir dengan pembuangan PB VI di Ambon.
Babad ini agaknya bermaksud melahirkan suatu pemikiran tentang Jaka Tingkir dengan cara beda. Babad Jaka Tingkir yang tidak ada Jaka Tingkir-nya. Seperti Satria Piningit, tetapi tidak ada sosok satrianya. Dengan kata lain, kekuatan baru yang piningit, masih belum muncul. Dan, itu tidak selalu harus dari kalangan elite, tetapi bisa rakyat biasa, atau dalam bentuk kekuatan rakyat.
Konteksnya apa penulis menulis seperti itu?
Perang Dipanegara (1825- 1830). Obsesi terhadap pencarian keaslian dan obsesi itu layak dalam kolonialisme. Ini (obsesi terhadap pencarian keaslian) adalah sesuatu yang sangat modern.
Tasawuf
Perang Dipanegara dengan dukungan kiai-kiai di pesantren yang tersebar di pedesaan dan berkobar menjadi perang besar, mempertegas siasat kebudayaan Belanda, yang ”tidak-akan-melihat” kekuatan Islam di keraton. Dengan kata lain, sebuah politik kolonial yang mencoba membelokkan pandangan atas signifikansi Islam dalam kebudayaan tradisional Jawa.
Dalam buku Membaca Postkolonialitas tadi Nancy menulis, ”Saya ingin merenggang gambaran fiksi yang melukis tembok keraton sebagai benteng kukuh (seolah-olah tanpa pintu) yang melestarikan di baliknya suatu kebudayaan asli Hindu-Buddha yang bertentangan dengan Islam. Waktu tembok keraton itu didirikan (lengkap dengan pintunya), dunia intelektual keraton dan dunia intelektual pesantren tidak hidup dalam pertentangan binaris.”
Jadi, sebenarnya di mana pengaruh Hindu pada suluk ataupun wirid? Selama ini selalu ada pandangan pengaruh Hindu sangat kuat pada Jawa?
Ajaran tasawuf yang berbentuk puisi itu disebut suluk, sedangkan yang dalam bentuk prosa disebut wirid. Dalam Jawa lebih banyak suluk. Banyaknya karya suluk itu menandakan bahwa pengajaran sastra Jawa amat kuat sejak abad ke-16.
Artinya juga pengajaran tasawuf?
Ya. Pengajaran tasawuf sangat kuat dan sophisticated di abad ke-18 dan ke-19. Suluk itu lebih kuat karena pengaruh Islam, bukan Hinduisme. Tetapi, terus terang saya belum paham betul. Saya baru tertarik pada konsep bahwa antara badan dan jiwa itu menyatu.
Kenapa tasawuf sangat kuat?
Karena jodoh….
Bagaimana dengan wayang? Bagaimana dengan ritual-ritual Jawa yang dianggap Hindu itu?
Kalau kita lihat wayang, wayang itu telah disambung-sambungkan dengan dunia Islam. Kita lihat juga Ajisaka. Menarik sekali, itu awal tanah Jawa. Ajisaka kan belajar ke Mekkah, itu yang mendirikan Hindu Jawa…. Yang dianggap Hindu itu tasawuf Islam. Tidak seperti Islam dipraktikkan sekarang.
Jadi, ada suatu politik kolonial yang mencoba mengorting pengaruh Islam terutama setelah Perang Dipanegara?
Menurut saya begitu. Dari 500 naskah di Keraton Surakarta, hanya 17 yang berbau Hinduisme. Selebihnya Islam. Ini kan menarik. Jadi, kalau keraton di Jawa, terutama diwakili Keraton Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, selama ini dicitrakan Hinduistik, itu sama sekali salah. Kalangan berpengaruh di dalam keraton, termasuk para penasihat spiritual dan pujangga bahkan umumnya mendapatkan pendidikan agama di pondok pesantren. Di masa lalu, Islam (di keraton) lebih fleksibel karena lebih cenderung pada tarekat, sedangkan sekarang cenderung menekankan syariat.
Dengan itu bagaimana Anda meramal masa depan Indonesia?
Saya tidak bisa meramal. Ini hanya saran. Dengan tradisi yang kuat itu ada harapan, ya harapan, apalagi kalau diklaim dengan keaslian diri. Jadi, ini bukan hanya untuk kepentingan akademis, tetapi harapan kemanusiaan.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/03/persona-merawitkan-naskah-membaca.html

Sastrawan Santri Menatap Realitas Nusantara


Sastrawan Santri Menatap Realitas Nusantara
Posted by PuJa on May 24, 2012
A Khoirul Anam
http://nu.or.id/

Bebeberapa kelompok Islam semakin tidak antusias terhadap khasanah dan realitas Nusantara. Mereka seperti orang asing di negeri sendiri. Entah mulai kapan ini bermula. Padahal para penyebar Islam dikenal sangat dekat-hati dengan negeri ini. Kita bisa saja berkata, semua itu karena mereka semakin jauh dari dunia sastra, sastra pesantren.
Diskusi bulanan NU Online kali ini imengambil topik “Sastrawan Santri Menatap Realitas Nusantara.” Diskusi dikerjakan bersama dengan Pusat Dokumentasi Sastra Pesantren Ciganjur, Jum’at (30/6) besok di ruang rapat NU Online. Diskusi terbatas ini dipandu oleh penyair muda usia Binhad Nurrohmat dan menghadirkan pembicara utama novelis KH. Ahmad Tohari.
“Saat-saat ini, di negeri ini, ada yang telah sering melakukan propaganda dan gerakan yang tak bertoleransi terhadap sejumlah khazanah realitas Nusantara yang dihuni beragam manusia, suku, tradisi, maupun agama sejak lama. Kelompok Islam ini tak tolelir tradisi Islam nusantara. Bagaimanakah sastrawan santri memandang hal ini?” kata Binhad. Ya, bagaimana?
Soal bagaimana juga mendefinisikan sastrawan santri, dengan cekatan Binhad menjawab, sastrawan pesantren itu pernah hidup di pesantren, pernah berada secara sosial di lingkungan pesantren. Ada yang paten, katanya, sastra adalah produk cara pandang, dan cara pandang dibantu oleh lingkungan. Kali ini kita bicara lingkungan pesantren.
“Kalau juga ada yang masih bertanya sastra pesantren itu apa ya itu yang tanya suruh masuk fakultas teknik aja. Sekarang apa ada definisi yang pas untuk “sastra Indonesia”, pasti tidak akan ada, soalnya yang ada itu sastra berbahasa Indonesia,” kata Binhad.
Secara ideal, lanjut alumni pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta itu, sedianya sastra pesantren menaruh komitmen pada soal nilai-nilai. “Pokoknya sastra pesantren itu tidak sekedar estetisme,” katanya.
Lain halnya dengan Danarto yang akhir-akhir ini lebih sering bergulat dengan dunia sufi. Menurutnya definisi sastra pesantren terlalu problematik. “Sastra sufistik itu sudah jelas dan contohnya sudah ada. Saya punya itu. Kalau sastra pesantren itu apa?” kata Danarto. Yah, terserah bagaimana baiknya para satrawan.
Diskusi NU Online kali ini mengundang beberapa sastrawan dan pengamat sastra seperti Jamal D Rahman, Edy S Supadmo, Wowok Hesti Prabowo, Chavchay Syaifullah, Firdaus Muhammad, Farahdiba, Feby Indirani, Imam Muhtarom, Ahmad Baso, M. Dienaldo, Enceng Sobirin, Nuruddin Ayshadie, Masduki Baidlawi, Arief Mudatsir Mandan.
Ada juga Rukmi Wisnu Wardhani, Parto Li, Imam Maarif, Eka Kurniawan dan Ratih Kumala, Damhuri Muhammad, Muhidin M Dahlan, Rahmat Ali, Sofa Ihsan, Danarto, Mir’atul Hayat, Satrouw El-Ngatawi, Amtsar Dulmanan, dan kru Pusat Dokumentasi Sastra Pesantren Ciganjur.
29/06/2006

Thursday, 17 May 2012

REPRESENTASI IDEOLOGI FEMINISME DALAM MASYARAKAT SENTANI


REPRESENTASI IDEOLOGI FEMINISME DALAM MASYARAKAT SENTANI
Posted by PuJa on May 16, 2012
(Kritik Sastra Feminis terhadap Cerita Rakyat Asal Usul Marga Ongge)
Siswanto
http://sastralisanpapua.blogspot.com/
Abstrak
Perempuan Sentani memiliki peran yang sangat kompleks dalam hidup ini. Oleh karena itu ia dijuluki sebagai bumi (kani). Peran tersebut antara lain peran domestik yang berupa peran reproduksi dan produksi sedangkan peran publik berupa peran adat. Dalam beberapa hal perempuan Sentani tidak diperbolehkan berperan dalam tatanan adat, namun dalam cerita Asal Usul Marga Ongge perempuan Sentani memiliki peran yang signifikan. Sehingga peran ini mampu menepis anggapan bahwa perempuan tidak bisa berperan dalam tatanan adat dan juga merupakan suatu penghargaan atas jasa kaum perempuan Sentani berperan dalam berbagai aspek kehidupan.
Kata Kunci: ideologi feminisme, peran perempuan, adat.
1. Pendahuluan
Apa tanggapan kita ketika mendengar kata perempuan? Dalam benak kita akan segera muncul kosep kecantikan, kelembutan, keibuan, kelemahan, kemanjaan, perlu dibantu, di bawah bayang-bayang laki-laki dan sebagainya. Bagi masyarakat umum hal ini dapat dimaklumi sebagai sesuatu yang bersifat kodrati bagi seorang perempuan. Seluruh komponen masyarakat sepakat dan bahkan mendukung bahwa atribut-atribut yang melekat dalam konsep seorang perempuan adalah sesuatu yang kodrati atau alamiah dikarenakan faktor biologis sebagai perempuan itu sendiri.
Tetapi benarkah konsep yang berlaku pada seorang perempuan ini diakibatkan oleh keadaan fisiknya yang memiliki rahim? Apakah kita pernah membayangkan ketika seorang balita laki-laki diasuh layaknya kita mengasuh seorang balita perempuan dengan memakaikannya rok atau memberikan perlakuan secara feminim, apakah ia akan tetap memenuhi konsep seorang laki-laki ketika ia dewasa? Baik kita sadari atau tidak, tumbuh kembang manusia menjadi seseorang yang memenuhi konsep perempuan atau laki-laki adalah hasil bentukan konstruksi yang berlaku dalam masyarakat. Konsep bahwa seorang laki-laki harus rasional, kuat, tegar, dan seterusnya, dibangun oleh masyarakat dengan memberikan didikan bahwa anak laki-laki tidak boleh menangis dan mainan seperti mobil-mobilan atau permainan tradisional lain yang bersifat maskulin. Sebaliknya, ketika masyarakat kita mendidik seorang perempuan, ia akan dididik sebagai seorang anak yang lembut dan manja serta diizinkan menangis hanya karena ia perempuan.
Lebih jauh lagi, cerita rakyat kita juga turut mendukung dan membuktikan bahwa konsep perempuan telah dibentuk oleh masyarakat sejak dulu. Di nusantara, kita mengenal cerita rakyat bawang merah dan bawang putih yang menceritakan tentang dua perempuan beda karakter. Bawang merah dikisahkan sebagai seorang perempuan yang malas dan tidak pernah menurut pada perintah orang tua. Sedangkan bawang putih adalah seorang perempuan yang rajin membersihkan rumah, pintar memasak, mencuci, dan penurut akan semua perintah orang tua. Pada cerita rakyat Papua juga terdapat beberapa tokoh perempuan yang mendukung konsep perempuan sebagai makhluk yang feminim dan berada dalam bayang-bayang budaya maskulin. Dengan adanya konsep bahwa perempuan adalah makhluk feminim dan lemah maka ia akan ditempatkan pada posisi kedua setelah laki-laki. Perempuan tidak didudukkan sebagai bagian yang penting dalam sebuah keluarga. Perempuan hanya merupakan pelengkap saja.
Seharusnya laki-laki dan perempuan merupakan pasangan maka satu sama lain bukan bersaing dan tuntut menuntut, tetapi saling melengkapi, saling membantu, saling mendorong ke arah kemajuan, saling mengasihi, mencintai, menghormati, dan tolong-menolong. Jika laki-laki dan perempuan bisa menempatkan diri pada porsi masing-masing tidak akan terjadi saling menuntut persamaan hak dan derajat. Kekerasan dan ketidakadilan dalam keluarga yang bersifat kulturalpun tidak akan terjadi.
Salah satu jenis kekerasan yang tidak mudah diidentifikasi adalah kekerasan kultural. Pelaku kekerasan kultural kerap kali tidak menyadari kekerasan yang dilakukannya. Sebabnya, kekerasan ini sudah dilestarikan dalam budaya dan turun menurun. Demikian pula dengan kekerasan terhadap perempuan dalam budaya masyarakat di Papua. Nilai-nilai kekerasan diimplementasikan dalam berbagai aturan, norma dan pantangan terhadap kondisi dan keberadaan perempuan. Kaum perempuan sendiri merasakannya sebagai hal yang biasa, sudah takdir dan tidak merasa terpaksa melakukan segala aktivitasnya. Namun, bila dilihat menggunakan kacamata hak asasi manusia, maka akan ditemukan banyak sekali praktek yang mengarah pada pelanggaran hak-hak asasi manusia atau hak-hak asasi perempuan.
Dalam tulisan ini, penulis akan memberikan gambaran singkat tentang representasi ideologi feminisme dalam cerita rakyat Sentani. Tulisan ini memberikan gambaran tentang peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan yang biasanya hanya dilakukan oleh kaum lelaki dikarenakan adanya peraturan adat. Cerita rakyat Sentani yang berjudul Asal Usul Marga Ongge memberikan wawasan baru bahwasanya kaum perempuan Sentani juga dapat berberan dalam kegiatan adat dan hanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Hal ini merupakan suatu bentuk penghargaan terhadap kaum perempuan yang telah banyak berjasa dalam segala aspek kehidupan masyarakat Sentani.
2. Landasan Teori
2.1 Feminisme dan Sastra
Perjuangan emansipasi wanita saat ini masih aktif diperjuangkan oleh sebagian wanita. Mereka memperjuangkan emansipasi wanita karena masih merasakan ketidakadilan gender dengan kaum laki-laki. Gerakan perjuangan ketidakadilan gender ini sering disebut dengan gerakan feminisme.
Ratna (2007, 184) berpendapat bahwa feminisme adalah gerakan kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun dalam kehidupan sosial pada umumnya.
Feminisme dalam dunia sastra menghasilkan representasi mengenai perbedaan gender yang memberi sumbangan pada pandangan sosial bahwa laki-laki dan perempuan memiliki nilai yang berbeda. Perempuan sering menjadi feminis dengan menjadi sadar akan, dan mengkritik, kekuasaan misrepresentasi simbolis atas perempuan. Jackson & Jones (2009: 332).
Karya sastra berupa novel, puisi, maupun cerpen dapat dikaji menggunakan pendekatan feminisme, asalkan ada tokoh wanitanya. Kita akan mudah menggunakan pendekatan ini jika tokoh wanita itu dikaitkan dengan tokoh laki-laki. Tidaklah menjadi soal apakah mereka berperan sebagai tokoh utama atau tokoh protagonis, atau tokoh bawahan (Djajanegara, 2000: 51).
Dalam proses pengkajian sastra feminis, ada beberapa pendekatan feminisme yang dapat digunakan untuk menunjang penelitiannya. Gross menguraikan lima hal yang membuat teori-teori tentang persamaan sebelumnya. Pertama, Wanita menjadi subyek dan objek ilmu pengetahuan. Dengan menciptakan ilmu pengetahuan menjadi absah. Kedua, semua metode, prosedur, anggapan, dan teknik teori-teori sebelumnya dipertanyakan. Ketiga, dengan mempergunakan teori otonomi, kaum feminis tidak Cuma mengembangkan perspektif-perspektif mengenai wanita dan isu-isunya, tetapi juga tentang sederet topik yang luas, dengan memasukkan teori-teori lain. Keempat, teori-teori feminis tidak hanya menegaskan alternatif-alternatif, tetapi berkarya melalui teks-teks patriarkis. Teori-teori itu tidak lagi menyalahkan atau menerima tulisan-tulisan yang disampaikan. Tulisan-tulisan yang ada tersebut kini dianalisis, diuji, dan dipertanyakan. Pada akhirnya, teori feminis menekankan institusi-instistusi sosial dan tindakan sosial, dengan memberikan kerangka-kerangka alternatif (Gross dalam Jane & Helen, 2002: 20-21).
2.2 Sosiofeminis
Dalam Sofia (2009: 22), kritik sastra sosiofeminis menekankan peran-peran yang diberikan untuk perempuan di masyarakat. Hal ini dapat dipahami bahwa perempuan memiliki peran-peran tertentu dalam kehidupan bermasyarakat di berbagai bidang. Soekamto (2002:243) menjelaskan bahwa hubungan-hubungan sosial pada masyarakat, merupakan hubungan antara peranan-peranan individu dalam masyarakat. Setiap masyarakat, kaum pria dan wanita memiliki peran gender yang berbeda. Terdapat perbedaan pekerjaan yang dilakukan mereka di dalam masyarakat disebabkan oleh berbagai macam faktor, mulai dari lingkungan alam, hingga cerita dan mitos-mitos yang digunakan untuk memecahkan teka-teki perbedaan jenis kelamin. Mengapa perbedaan itu tercipta dan bagaimana dua orang berlainan jenis dapat berhubungan baik satu dengan yang lainnya dan dengan sumber daya alam sekitarnya.
Penelitian peranan perempuan ini merupakan penerapan dari wacana images of women (citra perempuan). Images of women merupakan suatu jenis sosiologi yang menganggap teks-teks sastra dapat digunakan sebagai bukti adanya berbagai jenis peranan perempuan. Penelitian images of women dilakukan untuk dua kegunaan yang berbeda. Di satu pihak penelitian images of women digunakan untuk mengungkap hakikat representasi stereotipe yang menindas yang diubah ke dalam model-model peran serta menawarkan pandangan yang sangat terbatas dari hal-hal yang diharapkan oleh seorang perempuan. Di pihak lain, penelitian images of women digunakan untuk memberikan peluang berpikir tentang perempuan untuk membandingkan bagaimana perempuan telah direpresentasikan dan bagaimana seharusnya perempuan dipresentasikan (Ruthven dalam Sofia, 2009:22-23).
Peranan perempuan dapat dilihat melalui pencitraan. Citra merupakan sebuah gambaran pengalaman indra yang diungkapkan lewat kata-kata, gambaran berbagai pengalaman sensoris yang dibangkitkan oleh kata-kata. Sementara itu, pencitraan merupakan kumpulan citra (the colection of images) yang dipergunakan untuk melukiskan objek dan kualitas tanggapan indra yang dipergunakan dalam karya sastra, baik dengan deskripsi harfiah maupun secara kias ( Abrams dalam Sofia, 2009:24).
2.3 Peranan Perempuan
Soekamto dalam Handayani mengungkapkan bahwa perempuan harus punya peran ganda yaitu dalam lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat, kedua peran wanita tersebut harus dijalankan secara seimbang. Hal tersebut tidak bisa lepas dari kodrat dan kultur yang ada. Saat ini pekerjaan tidak lagi didominasi oleh laki-laki, namun kaum perempuan sudah banyak yang merambah pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki.
Tiga hal yang mencakup peranan, yaitu:
a. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.
b. Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.
c. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.
2.4 Kedudukan Perempuan dalam Masyarakat
Meski perempuan pada dasarnya memiliki fisik yang lemah dan lembut, namun ia memiliki perasaan dan naluri yang kuat, yang diciptakan oleh Tuhan mengemban tugas pendidikan dan pengajaran masyarakat untuk menghantarkan umat manusia kepada kesempurnaan. Tuhan menciptakan perempuan, yang merupakan manifestasi keindahan Ilahi, yang juga tempat kaum lelaki memperoleh ketenangan dan ketentraman, dalam rangka menghiasi rumah dan keluarga dengan pancaran kasih sayang dan kelemah lembutannya.
Masalah gender/jender muncul dari pemikiran orang-orang di dunia Barat. Pemikiran jender adalah pemikiran yang muncul dengan asumsi bahwa laki-laki dan perempuan dua jenis makhluk yang berbeda, berdiri sendiri-sendiri, yang masing-masing selalu menuntut hak dan kewajiban, saling menuntut kesetaraan, bahkan persaingan dalam status, pekerjaan dan berbagai bidang kehidupan.
Konsep Al Quran menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan adalah pasangan (zaujatun, azwaja), Allah SWT berfirman dalam Surat Ar Rum ayat 21 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
Karena laki-laki dan perempuan merupakan pasangan maka satu sama lain bukan bersaing dan tuntut menuntut, tetapi saling melengkapi, saling membantu, saling mendorong ke arah kemajuan, saling mengasihi, mencintai, menghormati, dan tolong-menolong. Karena itu, dengan kedatangan Islam Kaum perempuan pada waktu itu diangkat dalam kedudukan tinggi dan mulia. Bahkan dalam hubungannya dengan anak Islam menempatkan perempuan (ibu) tiga kali lebih tinggi daripada laki-laki.
Jadi, Islam tidak pernah membedakan derajat laki-laki dan perempuan. Jika laki-laki bisa sekolah setinggi mungkin, maka perempuan juga bisa. Dalam bekerja, jika laki-laki bisa jadi direktur, komisaris, presiden, dan lain-lain. Perempuan pun bisa memperoleh kedudukan seperti itu. Yang penting baik laki-laki maupun perempuan harus bisa menjaga jangan sampai terjadi fitnah dalam kedudukan itu.
3. Pembahasan
3.1 Kedudukan Perempuan Sentani dalam Masyarakat
Masyarakat Sentani sangat menghormati perempuan. Segala bentuk pelecehan akan berakibat pada dikenakannya denda adat bagi yang melakukannya. Perempuan sangat dijaga karena peran reproduktif dan produktifnya. Namun demikian praktek di lapangan tidak sejalan dengan peraturan adat yang ada. Perempuan Sentani sering mendapatkan perlakuan yang kurang adil dalam hidup bermasyarakat dengan dalih menaati peraturan adat tadi.
Aturan adat telah menempatkan perempuan Sentani pada posisi yang sangat tidak berdaya, sehingga tidak wemiliki otonomi bagi dirinya, baik sewaktu dalam kekuasaan orang tua, ketika masih berstatus sebagai anak maupun setelah menjadi istri yang berada dalam kekuasaan suami. Kondisi itu dimungkinkan karena adanya sistem mas kawin dalam perkawinan adat yang berlaku hingga saat ini, dan masih harus berperan dalam wilayah publik untuk berkebun dan bejualan di pasar. Dengan demikian, beratnya beban kerja, kemiskinan yang berakar, serta kurangnya kemauan para suami untuk mengerjakan pekerjaan domestik.
3.2 Peran Perempuan Sentani sebagai Kani (Bumi)
Peran perempuan Sentani yang begitu kompleks sehingga ia dijuluki sebagai kani (bumi). Peran perempuan sentani mencakupi seluruh aspek kehidupan masyarakat sentani mulai dari peran domestik (rumah tangga) hingga peran publik (sosial kemasyarakatan dan adat).
Fakih (2001:11) memaparkan bahwa kaum perempuan memiliki peran gender dalam mendidik anak, merawat dan mengelola kebersihan dan keindahan rumah tangga adalah konsruksi cultural dalam suatu masyarakat tertentu. Oleh karena itu, boleh jadi urusan mendidik anak dan merawat kebersihan rumah tangga bisa bisa dilakukan oleh kaum laki-laki. Oleh karena jenis pekerjaan itu bisa dipertukarkan dan tidak bersifat universal, apa yang sering disebut sebagai “kodrat wanita” dalam kasus mendidik anak dan mengatur kebersihan rumah tangga, sesungguhnya adalah gender.
Menurut kondisi normatif, pria dan wanita mempunyai status atau kedudukan dan peranan (hak dan kewajiban) yang sama, akan tetapi menurut kondisi objektif, wanita mengalami ketertinggalan yang lebih besar dari pada pria dalam berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. Kondisi objektif ini tidak lain disebabkan oleh norma sosial dan nilai sosial budaya yang masih berlaku di masyarakat. Norma social dan nilai sosial budaya tersebut, di antaranya di satu pihak, menciptakan status dan peranan wanita di sektor domestik yakni berstatus sebagai ibu rumah tangga dan melaksanakan pekerjaan urusan rumah tangga, sedangkan di lain pihak, menciptakan status dan peranan pria di sektor publik yakni sebagai kepala keluarga atau rumah tangga dan pencari nafkah.
3.2.1 Peran Reproduktif
Pada zaman dahulu, ketika masih sering terjadi perang suku, sering jatuh korban yang gugur di medan perang. Pada saat itulah peran perempuan sangat dibutuhkan untuk menganti korban perang dengan cara melahirkan anak sebanyak mungkin. Oleh karena itu, untuk menghindarkan jatuhnya korban di pihak perempuan, perempuan tidak diperkenankan adat untuk ikut berperang.
Yektiningtyas-Modouw mengemukakan bahwa para ibu Sentani memelihara kandungan agar selalu sehat mendapat tantangan yang keras karena mereka tatap bekerja keras ketika mengandung. Hamil bukan alasan untuk tidak menunaikan tugas-tugas seperti menangkap ikan, berkebun, dan mengolah sagu.
3.2.2 Peran Produktif
3.2.2.1 Perempuan sebagai Tenaga Kerja
Tanggung jawab perempuan Sentani yang utama, selain melahirkan anak-anak (peran reproduktif) adalah bekerja giat (melifoi). Menunaikan melifoi (peran produktif) tidaklah mudah. Oleh karena itu, seorang lelaki secara sadar menginginkan seorang perempuan yang berfisik kuat dan giat bekerja sebagai istrinya.
Perempuan yang giat bekerja merupakan harapan dan kebanggaan masyarakat Sentani secara keseluruhan. Oleh karena itu, orang tua sering menasihati anak-anak laki-laki Sentani untuk mendapatkan calon istri yang baik.
3.2.2.2 Perempuan sebagai Penghasil Makanan
Perempuan Sentani berusaha untuk menyiapkan makanan yang terbaik bagi anak-anaknya. Menyiapkan makanan memerlukan proses yang panjang bagi seorang ibu. Ibu jugalah yang bertanggungjawab untuk menanam, menyiangi, kebun, memanen, membawa hasil kebun ke rumah, memasak, dan menyajikan makanan. Di lapangan ditemukan bahwa walaupun seorang ibu yang menyiapkan makanan, dia akan makan pada giliran terakhir setelah seluruh anggota keluarganya makan. Hal ini juga terjadi pada saat-saat acara adat atau acara sosial lainnya. Menurut Küs Ongge, hal ini merupakan bentuk penghormatan terhadap keluarga dan laki-laki.
Babi dipotong dan dimasak oleh kaum perempuan, setelah itu dibagikan kepada seluruh keluarga yang ada di rumah besar itu. Kaum lelaki dan anak-anak dipersilahkan makan terlebih dahulu, sedangkan kaum perempuan makan setelah kaum lelaki dan anak-anak telah selesai.
Tiba-tiba, sayup-sayup ia mendengar percakapan yang berasal dari ibu-ibu kampung Waena yang sedang hilir mudik mendayung perahu dari kebun sambil mencari ikan di danau. Dari percakapan mereka Marlau mendengar tentang babi yang sering merusak tanaman mereka. Mereka tidak dapat membawa hasil kebun karena telah habis dimakan oleh babi.
Dari kutipan cerita ini dapat diketahui bahwa kaum perempuanlah yang bekerja di kebun dan mencari ikan di danau. Dengan kata lain kaum perempuan Sentani memiliki peran produktif yang lebih dominan dibandingkan dengan kaum lelaki.
a. Berkebun
Biasanya, pembukaan kebun dilakukan atas izin ondofolo dan ondofolo pula yang menunjuk tanah yang dapat dikelola mejadi kebun. Pembukaan kebun ini kadang-kadang juga melibatkan pemangku adat yang dipercayai mampu memberikan kesuburan tanah.
Kegiatan berkebun dilakukan masyarakat dengan sistem ladang berpindah-pindah (shifting cultivation). Unit kerja kegiatan berkebun adalah keluarga inti, namun pekerjaan pembukaan kebun baru dilakukan secara bersama-sama oleh anggota-anggota kelompok kekerabatan klen kecil yang sama. Adapun pekerjaan menebas belukar, menebang pohon dan membuat pagar pelindung keliling kebun merupakan tugas laki-laki, sedangkan kaum perempuan bertugas untuk membakar dahan dan ranting yang sudah kering. Selanjutnya pekerjaan menanami kebun yang sudah siap dilakukan oleh kaum perempuan keluarga pemilik kebun tersebut. Di samping itu tugas perempuan adalah menyiangi rumput yang tumbuh di kebun sebelum masa panen tiba.
b. Mengolah Sagu
Dalam pengolahan sagu, terjadi pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Biasanya pekerjaan menebang pohon sagu, menguliti batang sagu dan menokok empulur sagu menjadi serat-serat terlepas dilakukan oleh kaum laki-laki. Sedangkan pekerjaan yang menyangkut membuat alat berupa bak untuk mencuci serpihan sagu dan menampung endapan tepung sagu serta menganyam wadah (holobei) dari daun sagu untuk membawa pulang hasil produksi ke rumah, dilakukan oleh kaum perempuan.
Seperti halnya pembagian lahan untuk berkebun, lahan untuk menanam sagu pun diatur oleh adat. Tiap-tiap klen mempunyai dusun sagu sendiri-sendiri. Letak dusun sagu dipilih yang dekat dengan sungai atau sumber air lainnya karena air sangat diperlukan untuk mengolah empulur menjadi tepung sagu.
Masyarakat yang dipimpin ondofolo hidup sejahtera karena alam telah menyediakan kebutuhan hidup yang berasal dari dusun-dusun sagu yang berada di sekitar danau Sentani. Kaum lelaki yang menebang dan membersihkan sagu sedangkan kaum perempuan mengolahnya menjadi sagu.
c. Menangkap Ikan
Pekerjaan menangkap ikan di air danau menurut Mansoben merupakan aktivitas yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan pekerjaan meramu sagu dan bercocok tanam. Hal ini disebabkan karena ikan merupakan lauk pauk yang terpenting dalam menu orang Sentani. Oleh karena itu kegiatan menangkap ikan tetap dilakukan secara terus menerus sepanjang tahun. Adapun aktivitas menangkap ikan dilakukan terutama oleh kaum perempuan. Merekalah yang membuat berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk menangkap ikan, mulai dari memanah sampai menjadi alat yang siap pakai, misalnya jaring yang berbentuk tangguk (perpere), jaring kantong (bel) dan sero. Juga kaum wanitalah yang menggunakan peralatan tersebut untuk menangkap ikan.
Tidak seperti halnya tanah yang digunakan untuk berkebun yang dibagi-bagi menurut klen, menangkap ikan di danau dapat dilakukan di bagian danau mana saja, tanpa dibatasi.
Danau Sentani juga memberikan asupan gizi yang tinggi karena dalam danau itu terdapat berbagai jenis ikan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Kaum perempuanlah yang bekerja untuk mencari ikan di danau.
3.3 Peran Perempuan Sentani dalam Area Publik
Disamping menunaikan peran domestik yang kompleks, perempuan Sentani juga memerankan peran publik yang dititik beratkan pada kemampuannya menjaga hubungan sosial di masyarakat. Perempuan Sentani terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, misalnya bersama kelompok perempuan lain mengumpulkan makanan untuk menyediakan keperluan adat, memasak untuk keperluan adat, membantu proses persalinan, menolong orang sakit dengan memberi makanan dan obat-obatan, menyantuni orang yang berkekurangan dan sebagainya. Kemampuan seorang istri untuk terlibat dalam kegiatan sosial akan membaut keluarga, terutama suami, dihormati dan diperhitungkan olah masyarakat (Yektiningtyas-Modouw, 2008: 530)
3.4 Peran Perempuan Sentani dalam Adat
3.4.1 Peran sebagai Penasihat
Seorang ondofolo mempunyai perangkat pembantu khusus yang disebut abu-afa. Peranan perangkat tersebut adalah sebagai penasihat utama bagi ondofolo dalam hal memberikan nasihat dan pertimbangan kepada ondofolo sebelum membuat suatu keputusan penting. Di samping itu abu-afa juga berperan sebagai juru bicara ondofolo. Peranan-peranan ini menyebabkan abu-afa selalu mendampingi ondofolo dalam setiap pertemuan resmi. Kedudukan ini menuntut pengetahuan yang amat dalam dan luas tentang seluk beluk adat dari seseorang yang menjadi abu-afa. Selain itu seorang abu-afa harus setia serta sanggup menyimpan rahasia, sebab ia mengetahui semua kekayaan dan segala kerahasiaan pemerintahan ondofolo (Mansoben, 1995: 173)
Dalam struktur adat masyarakat sentani jabatan abu-afa dipegang olah seorang laki-laki. Namun dalam cerita Asal Usul Marga Ongge, yang menjabat sebagai penasihat putra ondofolo adalah perempuan, seorang nenek. Dengan demikian perempuan juga memiliki peran adat yang cukup signifikan dalam masyarakat adat sentani.
Ada seorang nenek yang merasa prihatin terhadap perilaku Marlau, kemudian nenek ini memberi nasihat kepada Marlau.
“Semua orang di rumah besar ini membicarakan tentang dirimu. Kelakuanmu yang tidak baik membuat mereka tidak suka padamu. Mereka mengatakan bahwa dirimu tidak pantas untuk menjadi ondofolo menggantikan ayahmu. Engkau harus merubah sikap dan membuktikan bahwa engkau layak menjadi ondofolo”.
3.4.2 Peran sebagai Pengajar
Di bidang pendidikan anak, sang ibu terutama, bertanggung jawab terhadap pendidikan anak perempuan karena anak laki-laki setelah berusia sekitar tujuh tahun menjadi tanggung jawab sang ayah. Sedini mungkin sang ibu memperkenalkan tugas-tugas perempuan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Namun dalam cerita Asal Usul Marga Ongge, ada seorang nenek yang berusaha memberikan pelajaran atau pendidikan terhadap anak laki-laki ondofolo yang harusnya dilakukan oleh kaum lelaki.
Mula-mula, nenek mengajari Marlau membuat busur kecil dan anak panah yang dipergunakan untuk berlatih berburu burung dan ikan. Setelah membuat perlengkapan berburu yang sederhana, Marlau pergi berburu burung dan ikan yang hasil buruannya nanti akan diserahkan kepada ondofolo. Dengan ini ia berusaha untuk mengambil hati ondofolo. Lalu ia bersama nenek membuat busur yang lebih besar yang dapat digunakan untuk berburu babi.
3.4.3 Peran sebagai Pemegang Harta Pusaka/Kekuatan Supranatural
Perempuan tidak diizinkan oleh adat untuk memegang kekuatan supranatural karena beratnya resiko yang diemban oleh pemegang kekuatan ini, yang dapat menyebabkan kematian. Sama dengan alasan sebelumnya, kematian perempuan sangat disayangkan karena mengurangi penyandang peran reproduksi masayarakat Sentani. Küs Ongge (ww 15 November 2011) menjelaskan bahwa hanya perempuan tua yang sudah tidak mungkin melahirkan lagi yang dapat diberi tugas mengemban kekuatan supranatural.
“Aku menyampaikan pesan lewat angin kepada cucu Ondofolo Eluai Kending untuk mengambil benda-benda pusaka yang berada di Kheleijomo”, suara nenek terdengar jelas oleh Marlau.
Mansoben mengemukakan bahwa abu-afa memiliki dua perangkat yaitu pembantu sayap kanan (ayafo nolofo) yang bertugas sebagai wakil dan pelindung ondofolo dan pembantu sayap kiri (meakhban nolofo) yang mempunyai tugas khusus untuk menyimpan dan merawat semua barang pusaka dan harta perbendaharaan kampung termasuk benda-benda atribut ondofolo. Kedudukan tersebut menurut ketentuan adat harus diemban oleh seorang anggota dari klen/marga kecil dari mana ondofolo berasal. Biasanya adik laki-laki tertua dari ondofolo yang memangku jabatan tersebut.
Akan tetapi jika kita simak dari petikan cerita rakyat ini yang menyimpan harta pusaka sebelum diserahkan kepada seorang ondofolo adalah seorang nenek. Jadi perempuan tua yang sudah tidah dapat mengandung lagi dalam hal ini dapat juga dipercaya untuk memegang harta pusaka.
4. Penutup
Perempuan Sentani dimitoskan sebagai kani (bumi) karena mempunyai peran yang sangat kompleks. Peran ini dipengaruhi oleh pandangan adat masyarakat Sentani serta kedudukan mereka dalam masyarakat. Perempuan mengerjakan sebagian besar aspek kehidupan, yaitu mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, mendidik anak, dan menunaikan tugas utama sebagai penghasil makanan melalui bekerja di kebun, di danau dan dusun sagu. Selain itu, dalam cerita Asal Usul Marga Ongge perempuan tua Sentani juga berperan dalam tatanan adat yang biasanya hanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Peran adat ini meliputi peran penasihat, peran pengajar, dan peran pemegang harta pusaka atau pemegang kekuatan supranatural. Peran dalam tatanan adat ini bukan hanya ada dalam cerita rakyat saja, akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari juga nyata dan ada.
Dapat disimpulkan pula bahwa perempuan Sentani lebih banyak bekerja dibandingkan laki-laki, karena laki-laki lebih dituntut menunaikan pekerjaan yang sifatnya kolektif yang tidak berlangsung setiap hari, sedangkan perempuan bekerja setiap hari, sejak pagi hingga malam.
5. Referensi
Cerita Rakyat Asal Usul Marga Ongge, Nara Sumber Küs Ongge, diwawancari pada hari Selasa, 15 November 2011.
Djajanegara, Soenarjati. 2003. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka.
Fakih, Dr. Mansour. 2003. Analisis Gender & Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
Handayani, Tri. 2006. Peranan Tokoh “Candi” dalam Novel Biru Karya Fira Basuki (Kajian Feminisme). Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: JBSI UNESA.
Jackson, Stevi dkk. 1998. Pengantar Teori-teori Feminis Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra.
Mansoben, Johsz R. 1995. Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya. Jakarta : LIPI-RUL
Ollenburger, C. Jane dkk. 2002. Sosiologi Wanita. Jakarta: Rineka Cipta.
Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sofia, Adib. 2009. Aplikasi Kritik Sastra Feminis, Perempuan dalam Karya-karya Kuntowijoyo. Yogyakarta: Citra Pustaka.
Yektiningtyas-Modouw, Wigati. 2008. Helaeehili dan Ehabla: Fungsinya dan Peran Perempuan dalam Masyarakat Sentani Papua. Yogyakarta: Adicitra Karya Nusa.
Dijumput dari: http://sastralisanpapua.blogspot.com/2011/12/representasi-ideologi-feminisme-dalam.html

KEBUDAYAAN LOKAL VERSUS KEBUDAYAAN GLOBAL: HIDUP ATAU MATI? *


KEBUDAYAAN LOKAL VERSUS KEBUDAYAAN GLOBAL: HIDUP ATAU MATI? *
Posted by PuJa on May 16, 2012
Dr. Dewi Yuliati M.A.[1]
http://staff.undip.ac.id/

Abstract
This article presents the discussion about the position of Indonesian local culture among the global culture. The Indonesian local culture was always developed by the influences of global culture which entered Indonesia since the pre-history times until the modern era. The conclusion is that that there were many threats to the existence of the local culture, so the Indonesian people should strengthen their self confidences and national character.
Key words: budaya lokal, pengaruh global
1. Pendahuluan
Untuk membahas kebudayaan, ada suatu cakupan pengertian wujud dan isi kebudayaan yang telah dipaparkan secara jelas oleh Koentjaraningrat. Dalam menjelaskan isi kebudayaan, Koentjaraningrat merujuk pada konsepsi B. Malinowski[2] tentang unsur-unsur budaya universal (cultural universals), sebagai berikut: (1) bahasa, (2) teknologi, (3) sistem mata pencarian hidup atau ekonomi, (4) organisasi sosial, (5) sistem pengetahuan, (6) religi, dan (7) kesenian. Menurut Koentjaraningrat setiap unsur kebudayaan itu dapat mempunyai tiga wujud, yaitu:
(1) wujud kebudayaan sebagai kompleks gagasan, konsep, dan pemikiran manusia. (2) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas.
(3) wujud kebudayaan sebagai benda.
Sebagai contoh, bahasa dapat berwujud sebagai sistem budaya (tata bahasa, norma-norma ujaran, dan aturan-aturan pemakaiannya); dapat berwujud sebagai suatu kompleks aktivitas (aktivitas manusia untuk bercakap-cakap, berkomunikasi dengan alat-alat komunikasi); dan dapat berwujud sebagai benda (tulisan di atas lontar, tulisan di atas kertas, di atas mikrofis, di atas mikrofilm, dan sebagainya).[3]
Untuk menulis artikel ini, saya terinspirasi oleh suatu buku berjudul Suicide or Survival? The Challenge of The Year 2000, yang diterbitkan oleh UNESCO pada tahun 1978. Buku tersebut telah diterjemahkan oleh Lembaga Studi Ilmu-ilmu Kemasyarakatan Yayasan Bhinneka Tunggal Ika dan diterbitkan oleh PT GUNUNG AGUNG, Jakarta, 1982.
Dengan membaca buku tersebut di atas, orang dapat memahami bahwa pada perempat terakhir abad ke-20, masyarakat intelektual di dunia telah merasa khawatir tentang ketidakmampuan masyarakat di negara-negara berkembang untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan lokal dalam konteks perluasan kebudayaan negara-negara maju, terutama Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni (IPTEKS).
Para cendekiawan Indonesia pun ikut mewaspadai pengaruh negatif kemajuan IPTEKS global itu terhadap eksistensi kebudayaan lokal. Di satu sisi, kemajuan IPTEKS memang telah mendorong masyarakat untuk memasuki suatu kondisi yang menyediakan kemudahan dan kenikmatan-kenikmatan tertentu. Akan tetapi di sisi lain, kemajuan IPTEKS itu juga telah menghimpit dan merusak kebudayaan lokal.[4]
Perkembangan teknologi komunikasi, informasi, dan jaringan transportasi, telah memperlancar kedatangan arus budaya global di Indonesia, dan kita pun sampai pada persoalan “apakah masyarakat Indonesia membiarkan kebudayaannya mati karena dilindas oleh budaya asing (luar negeri) atau mempertahankan serta mengembangkannya?” dan “bagaimana keluar dari himpitan budaya global yang tidak mengenal batas ruang dan waktu itu”?.
2. Globalisasi Tak Mengenal Ruang dan Waktu
Kedatangan arus kebudayaan global di Indonesia dapat dikatakan “tidak mengenal waktu dan ruang.” Kehadiran pengaruh-pengaruh kebudayaan global di Indonesia dapat ditelusuri dari masa ke masa sejak dari zaman pra sejarah sampai kedatangan pengaruh kebudayaan Barat.
Jika ditinjau dari segi waktu, dapat dikatakan bahwa pengaruh kebudayaan bangsa-bangsa lain di dunia sudah masuk di Indonesia sejak ribuan tahun sebelum Masehi.
Penelitian Madeleine Colani, seorang ahli prasejarah Perancis, menunjukkan bahwa di pegunungan Bacson dan daerah Hoabinh di Tonkin, terdapat pusat kebudayaan mesolithikum di Asia yang berupa pebbles (kapak Sumatera dan kapak pendek). Kebudayaan ini menyebar sampai ke Indonesia melalui Thailand dan Malaysia Barat.
Kebudayaan mesolithikum berlanjut dengan suatu masa kebudayaan yang disebut neolithikum yang masuk ke Indonesia kira-kira pada 2.000 sebelum Masehi. Von Heine Geldern menamakan kebudayaan pada zaman neolithik itu kebudayaan kapak persegi.Selain ditemukan di Indonesia (Sumatera, Jawa, dan Bali), kebudayaan kapak persegi juga terdapat di Malaysia Barat, India, sehingga disimpulkan bahwa kebudayaan tersebut berasal dari daratan Asia.
Zaman neolithik disusul oleh zaman logam atau perunggu yang meninggalkan warisan budaya berupa alat-alat yang dibuat dari perunggu. Kebudayaan perunggu di Asia Tenggara disebut juga kebudayaan Dongson, sesuai dengan nama tempat penyelidikan pertama di daerah Tonkin, Vietanam. Berdasarkan penyelidikan Von Heine Geldern, kebudayaan Dongson atau kebudayaan perunggu di Indonesia berasal dari tahun 300 sebelum Masehi.
Zaman pra sejarah disusul dengan zaman sejarah, yaitu suatu masa yang telah meninggalkan kebudayan tertulis. Bukti tertua tentang keberadaan kerajaan di Indonesia adalah tujuh buah prasasti yang berbentuk yupa (tugu peringatan upacara korban) di Kutei, Kalimantan Timur. Prasasti-prasasti yang berasal dari kira-kira tahun 400 Masehi itu menunjukkan bahwa pengaruh kebudayaan India telah nyata di Indonesia. Huruf yang digunakan dalam prasasti tersebut adalah huruf Pallawa dengan bahasa Sanskerta. Rajanya pun bergelar dengan nama India, Mulawarman, padahal ia adalah cucu dari seorang asli Kutei yang bernama Kundungga.
Masa pengaruh kebudayaan India di Indonesia berlangsung cukup lama, dari abad ke-5 sampai dengan abad ke-15. Pada akhir abad ke-15 sudah muncul kerajaan yang bercorak Islam di Jawa, Kerajaan Demak. Meskipun Demak baru berdiri pada akhir abad ke-15, pengaruh Islam sudah masuk di Indonesia sejak akhir abad ke-11. Ini dapat dibuktikan dengan melihat keberadaan makam seorang perempuan bernama Fatimah Binti Maimun di Leran, dekat Gresik, yang berangka tahun 1082 Masehi. Keterangan yang lebih nyata dapat diketahui dari catatan Marco Polo, seorang penjelajah yang berasal dari Italia. Ketika mengunjungi Perlak di Sumatera Utara pada tahun 1292, ia menjumpai banyak penduduk yang beragama Islam dan pedagang-pedagang Islam dari India yang aktif menyebarkan agama Islam. Marco Polo juga mengunjungi Samodra. Di daerah ini ia menjumpai batu nisan Sultan Samodra yang bernama Malik Al Saleh. Tulisan pada batu nisan itu menunjukkan bahwa Sultan Samodra telah wafat pada bulan Ramadhan tahun 676 sesudah Hijrah atau 1297 Masehi.
Pada abad ke-16, mulai muncul pengaruh kebudayaan Barat di Indonesia. Raja Mataram meniru cara berpakaian ala Belanda dengan memakai jaket kulit dan topi berbulu, kemudian juga diikuti oleh para kerabat istana. Inovasi teknik dalam bidang pengecoran logam untuk pembuatan senjata api juga merupakan bukti masuknya pengaruh kebudayaan Barat. Perubahan cepat terjadi sejak awal abad ke-20 yang ditandai dengan perluasan pendidikan ala Barat, khususnya di kalangan kaum muda di perkotaan. Baik dalam tingkah laku maupun dalam kehidupan spiritual, kaum muda Indonesia telah meniru model kehidupan Barat. Rasionalisme, individualisme, dan kebebasan berbicara diasimilasikan oleh kaum muda Indonesia secara mudah. Kemampuan berbahasa Belanda dan pengetahuan Barat dinilai sebagai prestise sosial yang tinggi, karena merupakan jembatan bagi mereka untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik dalam pekerjaan di lingkungan pemerintahan dan swasta.[5]
Mulai awal abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda juga mengadakan perombakan sistem pemerintahan di Indonesia, dengan pembentukan gemeente (Kota praja), residentie (keresidenan), dan provintie (provinsi). Sampai sekarang, bangsa Indonesia masih melanjutkan sistem pemerintahan bentukan Belanda itu.
Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, kehadiran arus kebudayaan global semakin tak terbendung. Perluasan pengaruh kemajuan IPTEKS yang berasal dari Barat, Korea, dan Jepang memperoleh ladang subur di Indonesia. Pengaruh itu dapat disaksikan terutama pada penggunaan teknologi modern dalam bidang informasi, komunikasi, dan transportasi. Dengan pemanfaatan internet dan Hand phone, orang bisa memperoleh berbagai informasi di dunia dan bisa berkomunikasi antarbangsa. Semua itu bisa dilakukan pada jam berapa saja dan di mana saja. Dengan kemajuan teknologi dalam bidang transportasi (sepeda motor), banyak orang Indonesia berpaling dari kebiasaan naik sepeda, naik becak, atau berjalan kaki untuk kemudian mengganti kebiasaan itu dengan naik sepeda motor. Banyak orang menganggap bahwa naik sepeda motor lebih efisiensi waktu, ngirit, dan lebih bergengsi. Kondisi ini merupakan akses bagi perkembangan budaya membeli dengan sistem cicilan, karena kondisi pendapatan yang pas-pasan.
Jika ditinjau dari segi ruang, kepulauan Indonesia merupakan suatu wilayah yang terbuka untuk kedatangan pengaruh unsur-unsur kebudayaan dari seluruh penjuru dunia; dari arah utara, selatan, barat, timur, barat laut, timur laut, barat daya, dan tenggara. Selain itu, tanah di kepulauan ini menyediakan berbagai komoditi (pertambangan dan pertanian) yang dicari oleh pasar internasional. Oleh karena itu, Indonesia menjadi tempat berkumpulnya hampir semua agama di dunia yang datang bersamaan dengan proses perdagangan. Agama Hindu dan Budha adalah pendatang yang paling awal, kemudian diikuti oleh Islam, Katolik, dan Protestan. Kong Fu Tse sebetulnya datang bersamaan dengan pendatang Cina ke Indonesia, tetapi paham ini tidak mendapat banyak pengikut di kalangan penduduk pribumi. Agama-agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha telah mengakar secara kuat di kalangan penduduk kepulauan Indonesia. Oleh Karena itu, dalam tingkatan tertentu sistem-sistem budaya agama tersebut telah kehilangan identifikasinya sebagai sistem budaya asing, meskipun tidak hilang sama sekali. Sebagai contoh, pada sistem budaya agama Islam terdapat pemakaian bahasa Arab sebagai alat komunikasi keagamaan, yang dihubungkan dengan peradaban Arab di negara-negara Timur-Tengah; sistem budaya agama Katolik masih berkaitan dengan Roma; sistem budaya Protestan masih berhubungan dengan Palestina Kuno dan negara-negara Protestan seperti Belanda, Jerman, dan Amerika; sistem budaya Hindu dan Budha masih berasosiasi dengan India.
Selain sistem kebudayaan agama, sistem kebudayaan keduniawian masuk juga ke Indonesia. Unsur-unsur kebudayaan keduniawian Belanda, Inggris, Amerika, Cina , Korea, Jepang, dan lain-lain tetap dikenal sebagai sistem budaya asing. Namun demikian, beberapa unsur dalam sistem budaya asing ini telah menjadi bagian dari sistem budaya nasional Indonesia, contohnya: Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni.
2. Pengikisan Rasa Bangga Terhadap Kebudayaan Indonesia
Seperti telah diterangkan di atas, kebudayaan memiliki pengertian yang sangat luas. Oleh karena itu, pembahasan difokuskan pada kebudayaan dalam pengertian yang lebih sempit, yaitu bahasa dan kesenian. Kedua unsur kebudayaan itu diambil sebagai fokus pembahasan, karena mempunyai fungsi penting sebagai identitas kebudayaan lokal.[6] Berikut ini dibahas kondisi unsur-unsur kebudayaan itu dalam kaitannya dengan desakan arus kebudayaan global.
2.1. Pengikisan Rasa Bangga Untuk Berbahasa Daerah dan Indonesia
Kedatangan bangsa-bangsa asing di Indonesia yang telah berlangsung sejak puluhan abad silam, telah berpengaruh terhadap kehidupan bahasa-bahasa daerah di Indonesia serta terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Ketika bangsa India datang dengan sistem kebudayaan agamanya, para raja atau pemegang kekuasaan politik di suatu wilayah tertentu merasa perlu untuk menggunakan nama yang berkarakter India, seperti: Mulawarman, raja Kutei, tidak menggunakan nama asli Kutei, padahal ia keturunan Kundungga, orang asli Kutei. Ketika sistem kebudayaan agama Islam datang, Suta Wijaya, raja Kerajaan Mataram I, menggunakan gelar Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama, dan sebagainya. Gejala ini menunjukkan bahwa pada waktu itu terjadi suatu anggapan bahwa nama asli daerahnya tidaklah cukup untuk berposisi sejajar dengan mitra pergaulan antarbangsa, sehingga identitas diri perlu dirubah agar komunikasi menjadi setara. Demikian juga, ketika pengaruh kebudayaan Barat dengan sistem kebudayaan agama Kristennya masuk ke Indonesia, banyak orang Indonesia yang mengambil nama atau nama baptis yang bernuansa Barat atau Kristen, seperti: Angelina, Tabita, Maria, Johanes, Christian, dan lain-lain.
Pada era tahun 1970-an, di kalangan etnis Jawa muncul fenomena baru dalam ranah bahasa. Banyak keluarga mendidik putera-puterinya untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia sejak mereka belajar berbicara. Fenomena ini merupakan salah satu bentuk proses demokratisasi dan modernisasi yang nota bene berasal dari Barat. Bahasa Jawa dianggap berkonotasi feodal dan kuno. Sikap feodal ini antara lain tercermin dalam komunikasi berbahasa Jawa yang mengandung stratifikasi penggunaan terhadap siapa seseorang berbicara, yaitu: Kromo Inggil untuk berbicara dengan orang-orang yang harus dihormati, Kromo madya untuk berbicara dengan orang-orang yang berstatus sejajar; dan ngoko untuk berbicara dengan orang-orang yang statusnya sejajar atau lebih rendah.
Gejala perlawanan terhadap feodalisme dan keinginan untuk menjadi modern itu memunculkan pengingkaran terhadap bahasa Jawa, contohnya:
(1) komunikasi antara pembantu dan majikan tidak lagi menggunakan bahasa Jawa, tetapi dengan bahasa Indonesia.
(2) Sikap demikian juga terjadi pada komunikasi antara orang tua dan anak; Sebutan papa dan mama atau papi dan mami menggantikan sebutan bapak dan ibu. Gejala ini juga terjadi di kalangan rakyat jelata yang sebelumnya menggunakan sebutan simbok dan pakné untuk menyebut ayah dan ibunya. Sebutan papa dan mama atau papi dan mami menunjukkan bahwa pemakai sebutan itu ingin menjadi modern, tidak terkesan kuno dan ndeso. Gejala ini sekaligus menunjukkan bahwa bahasa-bahasa Barat (Inggris dan Belanda) dianggap lebih modern dan bergengsi.
(3) Bahasa Jawa kromo inggil dan kromo madya hampir tidak lagi dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari, kecuali bahasa Jawa ngoko, karena dianggap demokratis dan menunjukkan kesejajaran.
(4) Banyak orang Jawa yang tidak lagi menggunakan nama-nama Jawa, karena lebih memilih nama-nama yang bernuansa Islam atau Arab, Kristen atau Barat, dan Hindu atau India.
Meskipun bahasa Jawa mengandung nuansa feodal, sesungguhnya juga berisi nilai-nilai positif untuk memperkuat kualitas hidup, contohnya: tata krama kepada orang tua dan orang-orang yang harus dihormati, kehalusan budi, sopan-santun, serta identitas etnis.
Sebagai akibat dari globalisasi dewasa ini, bahasa Indonesia juga mengalami pengingkaran. Banyak orang sering mengganti kata-kata bahasa Indonesia dengan kata-kata serapan dari bahasa Inggris, ketika mereka sedang berbicara dengan bahasa Indonesia, meskipun sering terjadi kesalahan ucapan, contohnya: mawas diri diganti dengan intropeksi (seharusnya: introspeksi), perundingan diganti dengan negoisasi (seharusnya: negosiasi), bersifat wanita diganti dengan feminim (seharusnya: feminin), dan lain-lain. Salah ucap ini justru sering dilakukan oleh public figure, sehingga sebagian masyarakat yang melakukan kesalahan serupa justru mendapat pembenaran dari contoh-contoh itu. Ada kesan bahwa kemampuan menggunakan bahasa asing dianggap lebih intelek dan bergengsi dari pada hanya menggunakan bahasa sendiri.
2.2. Pengikisan Kebanggaan terhadap Seni Arsitektur Lokal
Gejala pengikisan kebanggaan masyarakat Indonesia terhadap seni arsitektur lokal dapat disimak antara lain pada pernyataan Totok Roesmanto yang dimuat pada Semarang Metro, tanggal 4 Mei 2007, sebagai berikut:
Kehidupan konsumerisme masyarakat bisa menimbulkan kecenderungan menyukai model baru. Hal itu berlaku dalam banyak hal, termasuk pemilihan desain bangunan. Seiring perkembangan informasi, masyarakat juga makin mudah mengikuti perkembangan arsitektur dunia. Di satu sisi, hal itu membawa dampak positif, karena pengetahuan yang dimiliki bisa berkembang. Tapi tidak menutup kemungkinan itu justru akan menggeser potensi arsitektur lokal. Saat ini kecenderungannya seperti itu, sehingga menyebabkan makin menipisnya pemahaman dan kebanggaan terhadap potensi arsitektur Indonesia. Masyarakat pun sering kurang peduli terhadap potensi lokal daerahnya.[7]
Pernyataan Totok Roesmanto itu mencerminkan keprihatinan yang mendalam akan kepunahan kebudayaan lokal, terutama dalam bidang seni arsitektur. Sekarang, sangat sulit untuk melihat bangunan-bangunan baru yang bernuansa lokal. Banyak bangunan yang bercorak lokal tradisional rusak atau punah, sedangkan bangunan baru sudah bernuansa global (terutama arsitektur Barat). Sebagai contoh, Kota Semarang memiliki warisan arsitektur tradisional lokal berupa rumah tradisional Semarang yang terletak di kampung-kampung di sekitar Kota Lama (Kampung Kulitan, Kampung Malang, Kauman, Mertojoyo, dan sebagainya). Karena tidak ada pemahaman dan pengetahuan penduduk atau penghuni tentang nilai historis dan budaya, banyak rumah tradisional yang sudah sirna atau dibangun kembali dengan arsitektur modern, padahal nilai-nilai tradisional itu memiliki arti penting sebagai identitas budaya dan aset kepariwisataan.
3. Keluar dari Himpitan Kebudayaan Global
Sebagai akibat proses pembangunan, masyarakat mengalami peningkatan dinamika dengan gejala-gejala yang menyertainya, seperti mobilitas penduduk, media komunikasi modern (media cetak, televisi, komputer), peningkatan jumlah komoditi sebagai hasil teknologi mutakhir, peningkatan pelayanan dan kemudahan, dan lain-lain. Semua gejala itu menimbulkan perubahan sosial budaya. Dalam masa perubahan itu, individu sering kehilangan orientasi, dan bahkan sering pula mengalami krisis identitas. Untuk mengatasi persoalan identitas tersebut, diperlukan upaya-upaya yang serius untuk memperkuat kebudayaan nasional.
Sartono Kartodirdjo menyatakan bahwa di antara unsur-unsur kebudayaan, bahasa memiliki fungsi yang penting untuk memperkuat identitas nasional, karena beberapa alasan, yaitu: (1) bahasa mencerminkan gaya dan etos peradaban; (2) bahasa mengekspresikan jiwa kebudayaan, serta mengungkapkan kepribadian bangsa; (3) bahasa berfungsi sebagai media komunikasi; (4) bahasa dapat mengungkapkan perasaan estetis; (5) bahasa merupakan media untuk membangun ide, kesadaran, pikiran, memori, dan imaginasi manusia.[8]
Mengingat pentingnya fungsi bahasa itu, upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk keluar dari “pengikisan bahasa lokal” (bahasa Indonesia dan bahasa daerah) adalah sebagai berikut:
(1) Meningkatkan kualitas dan intensitas komunikasi dalam keluarga dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah.
(2) Meningkatkan kualitas kemampuan guru-guru dan dosen-dosen pengajar Bahasa Indonesia serta bahasa daerah masing-masing secara rutin dan berkesinambungan, misalnya: menyelenggarakan pelatihan-pelatihan atau kursus-kursus yang berkaitan dengan pengajaran bahasa Indonesia dan bahasa daerah.
(3) Meningkatkan kualitas para siswa dan mahasiswa untuk mengekspresikan kemampuan berbahasa Indonesia dan berbahasa daerah, baik secara lisan maupun tertulis.
(4) Mempergiat penelitian terhadap bahasa-bahasa daerah agar dapat dihasilkan lebih banyak tata bahasa, kamus, dan buku pelajaran bahasa daerah.
(5) Menyelenggarakan sayembara penulisan dan pembacaan puisi, drama, dan penulisan karya sastra serta ilmiah, baik berbahasa Indonesia maupun berbahasa daerah di tingkat nasional dan daerah.
(6) Meningkatkan kualitas komunikasi antara guru dan siswa atau antara dosen dan mahasiswa dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah berdasarkan kaidah-kaidah bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang benar.
(7) Mengajarkan bahasa-bahasa daerah di kampus-kampus atau di sekolah-sekolah dalam muatan lokal.
Selain bahasa, kesenian juga merupakan unsur budaya yang memiliki potensi penting sebagai identitas kebudayaan nasional. Baik Sartono Kartodirdjo[9] maupun Koentjaraningrat[10] menyatakan bahwa kesenian merupakan unsur kebudayaan yang paling dapat menunjukkan sifat khas dan mutu kepada masyarakat global, dan sekaligus dapat menunjukkan karakter atau kepribadian bangsa, serta menjadi media pemersatu bangsa-bangsa. Melalui berkesenian (seni tari, seni busana, seni suara, seni pahat, seni rupa, dan seni arsitektur), orang dapat mengekspresikan rasa, karsa, dan cipta yang sesuai dengan kepribadian individu, identitas budaya masyarakat atau daerahnya masing-masing. Melalui penikmatan kesenian, dapat tumbuh rasa kagum, gembira, bahagia, dan apresiasi terhadap karya seni. Bahkan, melalui berkesenian, dapat juga digalang persahabatan antarbangsa.
Mengingat nilai penting kesenian dalam lingkup kebudayaan global itu, perlu selalu diupayakan pengembangan kesenian-kesenian daerah dan penguatan nilai-nilai lokal dalam kesenian, dengan cara-cara sebagai berikut:
(1) Pemerintah memberikan fasilitas atau subsidi secara rutin dalam jumlah tertentu kepada perkumpulan-perkumpulan kesenian yang memerlukannya dan cukup bermutu. Bantuan ini dimaksudkan untuk meningkatkan prestasi para pengelola kesenian dalam penciptaan karya seni dan untuk merangsang inovasi ke arah pengembangan kesenian nasional yang meliputi seni tari, seni musik, sepi drama, seni busana, seni rupa, seni bangunan (arsitektur), dan sebagainya.
(2) Semua pemangku kepentingan (stake holders: pemerintah, seniman/seniwati, pengelola kesenian, masyarakat peminat seni, dan media massa) dapat melakukan diseminasi karya-karya seni melalui media elektronik, media cetak, dan pertunjukan-pertunjukan atau pameran-pameran.
(3) Semua pemangku kepentingan (stake holders) harus giat untuk meningkatkan gerakan apresiasi kesenian, contohnya melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah dan di kampus-kampus, mengadakan berbagai lomba kesenian di sekolah-sekolah, di kampus-kampus, dan di lingkup kelurahan, kecamatan, dan seterusnya, pada acara-acara tertentu.
(4) Semua pemangku kepentingan dapat melakukan gerakan revitalisasi dan pembudayaan kembali kesenian yang kini sudah hampir punah atau sudah punah, contohnya: pertunjukan wayang orang, wayang kulit, ketoprak, ludruk, seni kerawitan, musik kulintang, musik angklung, Kesenian Gambang Semarang, seni bangunan (arsitektur) lokal, dan sebagainya.
4. Simpulan
Sepanjang sejarah, bangsa Indonesia tidak pernah luput dari pengaruh kebudayaan asing, dan kini banyak pihak sering meratapi kepunahan kebudayaan lokal sebagai akibat desakan kebudayaan global.
Kecemasan akan kemunduran kebudayaan lokal oleh kebudayaan global itu tidak perlu terjadi, jika diperhatikan dan dilaksanakan prinsip-prinsip sebagai berikut.
Tiap kebudayaan yang akan diwariskan kepada generasi penerus tidak bisa dibiarkan hidup secara pasif.
Nilai-nilai lama suatu kebudayaan yang diwariskan itu harus dikaji, dianalisis, dan diberi spirit baru yang sesuai dengan jiwa zaman, sehingga tetap dapat bertunas serta hidup subur di tengah-tengah masyarakat pendukungnya. Untuk itu, diperlukan kegiatan mencipta yang dapat memberi jiwa baru kepada suatu kebudayaan sesuai dengan keadaan masyarakat yang telah berubah dengan nilai-nilai serta ukuran-ukuran baru.
Jika tidak ada kegiatan mencipta seperti itu, niscaya kebudayaan akan “hidup segan mati pun tak hendak” atau bahkan benar-benar mati.
DAFTAR PUSTAKA
Malinowski, B., A Scientifcis Theory of Culture and Other Essays , Chapel Hill: University of North Caroline Perss, 1944.
Alfian (ed.), Persepsi Masyarakat Tentang Kebudayaan, Jakarta: PT Gramedia, 1985.
Darmanto JT dan Sudharto PH, Mencari Konsep Manusia Indonesia Suatu Bunga Rampai , Jakarta: Penerbit Erlangga, 1986.
Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan , Jakarta: PT Gramedia, 1974.
Sartono Kartodirdjo, Kebudayaan pembangunan dalam Perspektif Sejarah, Yogyakarta: Gadjah Mada Univerity Press, 1987.
SEMARANG METRO Suara Merdeka, Jumat, 4 Mei 2007.
Wertheim W.F., Masyarakat Indonesia dalam Transisi, Kajian Perubahan Sosial, terjemahan dari Indonesian Society in Transition, A Study Of Social Change, Yogya: PT Tiara Wacana, 1999.
[1] Dewi Yuliati adalah dosen di Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro.
[2] B. Malinowski, A Scientifcis Theory of Culture and Other Essays (Chapel Hill: University of North Caroline Perss, 1944).
[3] Koentjaraningrat, “Persepsi tentang Kebudayaan Nasional”, dalam Alfian (ed.), Persepsi Masyarakat Tentang Kebudayaan (Jakarta: PT Gramedia, 1985), hlm. 100-105.
[4] Satjipto Rahardjo, “Gambaran Tentang Manusia dari Sudut sosialogi”, dalam Darmanto JT dan Sudharto PH, Mencari Konsep Manusia Indonesia Suatu Bunga Rampai (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1986), hlm. 69.
[5] W.F. Wertheim, Masyarakat Indonesia dalam Transisi, Kajian Perubahan Sosial, terjemahan dari Indonesian Society in Transition, A Study Of Social Change, (Yogya: PT Tiara Wacana, 1999),hlm.230, 236, 237.
[6] Koentjaraningrat, 1985, op. cit., hlm. 114.
[7] SEMARANG METRO Suara Merdeka, Jumat, 4 Mei 2007.
[8] Sartono Kartodirdjo, Kebudayaan pembangunan dalam Perspektif Sejarah (Yogyakarta: Gadjah Mada Univerity Press, 1987), hlm. 17-18.
[9] Sartono Kartodirdjo, op. cit., hlm. 19.
[10] Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan (Jakarta: PT Gramedia, 1974), hlm. 107-108.
*) Disajikan dalam Dialog Budaya Daerah Jawa Tengah, diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Pariwisata, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, di Semarang tanggal 9-10 Mei 2007.
Dijumput dari: http://staff.undip.ac.id/sastra/dewiyuliati/2010/07/30/kebudayaan-lokal-versus-global/