Pages

Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Wednesday, 15 October 2014

Puisi Usman Nurdiansyah

Kepada Malala

Engkau berjalan sendiri di atas bongkahan besi dan mesin waktu
Sambil membawa tas helo kity membela mimpi
Dan jika bertemu senjata kau ucapkan salam dan senyum manismu

Ketika debu dan peluru di matamu
tak ada lagi buku atau permainan anak masa lalu
Lagu-lagu kegembiraan kini diiringi percikan api di setiap langkah kaki
Adzan berubah menjadi jebakan kematian

Sedang kepalamu adalah sarang bagi orng-orang terlarang.

2014

Tuesday, 23 October 2012

Sajak-sajak Willy Fahmy Agiska



Willy Fahmy Agiska


Nyiar Lumar

Persis seperti empat tahun yang lalu.
Di mana malam lebih gaib dari biasanya.
Segelintir orang beramai-ramai dikepung
sekomplot kelelawar yang lari terpencar-pencar.
Merangsak masuk lewat sela-sela pintu dan jendela
Seperti membawa mimpi buruk atau semacam
perburuan sesuatu.

“Sungguh ! Aku tak akan mencuri buah di meja makan.
 Aku hanya ingin lumar yang kini sudah hilang itu.
 Lumar yang senantiasa memancarkan sesuatu dari dalam dadanya.
 Penjaga malam yang paling kelam ”

2012


Di Dalam Bis

Di dalam bis
aku duduk berdampingan dengan getar tubuhmu
juga bersaing sengit dengan kota yang
beranjak meninggalkan ingatanku lebih cepat.

Namun bayang-bayang kematian di matamu itu
terasa begitu lambat bahkan tak beranjak.
Terperangkap di kaca gedung-gedung kota.
Menyekap setiap gerak gerik tubuhku.

Bahkan kini kusaksikan
jalan itu seperti mengirim jarum-jarum jam panjang,
kunang-kunang, pesawahan, hutan lebat
atau semacam tikungan tajam

:
dimana, segala bisa tiba-tiba saja begitu berbahaya.

Di dalam bis
sebenarnya kita sedang berhadapan
dengan rasa kehilangan.
Kemana arah untuk  pulang.

2012


Layang-Layang 

Oh, ia si kecil mungil. Petualang ulung.
Melayari batu-batu apung, laut yang lepas.
Menjaring angin, mengulur pancing yang panjang.
Jauh ke dalam pikiranku. Mengambang dan terkekang.

2012


Penari

Sepuluh anak sungai di tanganmu,
tiba-tiba saja seperti akan meloloskan laut.
Laut yang senantiasa dibentuk oleh
gerak-gerik ombak juga ikan-ikan.
Atau dari yang karam dan tenggelam.

Sebab, kamu juga tercipta
dari segala yang bergerak.

2012


Jln. Gayam No 28 

Demi bising kereta api
yang selalu meredam suara lembutmu
Demi lantai keramik
yang menyimpan kaki mungilmu
Dan demi segelas air putih
yang pandai menangkap bayang wajahmu

Biarkanlah aku pergi
menyusuri trotoar ini
membuang potong demi potong puzzle
semacam penanda arah untuk pulang.
Tapi kita malah kebingungan
siapa yang akan memberi hadiah kejutan.

Ada banyak kemungkinan
Kau mengintaiku dari deretan tanggal,
kalkulator, atau dari balik kerudungmu.

Dan ada selalu siang
ketika diam-diam aku kehilangan alir nadiku.
Astaga ! Aku lupa. Kau sedang mengejutkan.

2012

Biodata Penulis :
Willy Fahmy Agiska, lahir di Ciamis 28 Agustus 1992. Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia. Bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI

Tuesday, 29 May 2012

Sajak-Sajak Gendhotwukir


Sajak-Sajak Gendhotwukir
Posted by PuJa on May 27, 2012
http://www1.kompas.com/3 April 2010

Gagak-gagak Liar

Gagak-gagak liar bertengger di menara gereja
Sejak ada gaung requem
Gagak-gagak hitam legam liar mata
Tua. Kaku terdiam
Di paruhnya tumbuh wajah garang serigala
Hendak menerkam-rajam menikam
Air ludahnya melelehkan darah penghina
Pengganggu mimpi dan nyenyak malam
Ujung kakinya berkukukan kilau pedang. Emas bercahaya
Senjata pemangku dogma. Tajam
Penghojat dibungkam dengan ujar sabda
Pergilah ke dunia kelam
Bukan di gereja
Tapi di ujung neraka

Belanda, 2006-2010

Perousia

Jika waktunya datang
Tubuh menjadi bintang
Terbang
Menggenang
; Dan terapung
Tidak sedih, tidak gembira
Tenang
Terayun di bentangan gelombang
Pada hari-hari tak berbatas bentang
Pusaran waktu menggelandang
Tidak ada
Hari kemarin
Hari ini
Atau pun hari mendatang
Yang ada
Kehidupan tenang
Dayu – memanjang

Jerman, 2005-2010

Jika Musim Dingin Tiba

Jika musim dingin tiba
Segera saja aku ingin menyimpan kata
Berdiri di kota tua
Seraya mengenang masa
Membaca dan mengerti celah mantra
Bersama angin dingin
Yang hendak membawamu
Merapat di Tembok Berlin
Juga di pucat kakimu
Yang telah lelah berkelana
Karena setelah itu meringkuk malu
Terpana sebagai pengelana
Di selembar untaian bir dan bibir memudar
Jika musim dingin tiba
Segera saja aku ingin membaca salju
Alunan jazz tersayat
Menganganku pada malaikat
Yang enggan jatuh ke bumi
Bersama angin dingin
Menghembus
Pupus
Karena ada bulan kembar
Tepat di selembar untaian bir
Dan bibir yang telah kacir

Berlin, 2005-2010

Kota Tua

1./
Angin saling berebut. Mencari ketiak kotamu
Berpacu di atas roda-roda kereta yang gelayutan. Seiring
anak-anak berteriak kegirangan. Akar-akar
bercengkrama dengan tebing-tebing tinggi. Mencakar batu-batu
Menanak pohon-pohon perdu dan mengirimnya ke pusar matahari
Kita dibuatnya sempoyongan. Entah sampai kapan
Mungkin hingga senja terbakar dan terperosok ke jurang
Langit begitu kosong. Saat kita memperebutkan amarah
Amarah yang tertinggal di atas sajadah. Terus menggerayah
Di setiap kita yang tak pernah berziarah
Ziarah diri dan sakit hati. Melemparkannya di bara abadi
Yang dikirim oleh dua malaikat
2./
Hamparan gedung-gedung pencakar tak berzakar. Menggeliat
Tapi enggan bicara dan terus membisu. Memendam sejarah kota
Kaki-kaki debu gentayangan mencari mangsanya. Berpencar
Kolam-kolam biru mengitari sungai panjang. Membelah dua pulau
Dan kaki-kaki petualang riuh berkereta di bawahnya. Di antara semak
Dan jalan-jalan setapak. Kita menyaksikan
Orang-orang yang mengutuki nasibnya. Terjun dari apartemennya
Lubang jendela dihancurkannya. Terjun bebas mengakhiri
Begitu sempitkah dunia. Tega menerjang batas hidupnya
Dunia begitu kecil.tak tertata. Namun, betapa besar dan berarti
Setiap setia. Melangsungkan kelana hari dengan harap
Bangkit berdiri. Seiring tanah-tanah keronta yang terus berguguran
Kita tidak bosan dengan cercaan dan umpatan
Dari setiap gedung tinggi yang terus belepotan
3./
Debarmu menjatuhkan batang-batang kering. Dingin dan punah begitu saja
Melongsor di atas roda-roda besi dan lolong anjing-anjing sunyi
Musim berganti. Seiring tangan-tangan terkatub mengaji
Hibur diri dan akrapi bunga-bunga sakura
Meluluhkan dendam di kelopaknya dan seketika
Dibawa pergi kumbang-kumbang petaka. Ke kuil tua
Di sana berpesta bersama sekumpulan naga dan sekawanan singa
Bangku-bangku onar. Pantat-pantat panas menggelepar
Kita menanam benih-benih persahabatan. Dari waktu purba
Dan tereja dalam gelak-tawa. Waktu itu kita hanya bisa membacanya
Sebagai perjalanan senja di sebuah kota. Terkenang dan tidak binasa

Hong Kong – RBKM, 2010
* Gendhotwukir lahir di Magelang, 7 Januari 1978. Saat ini sedang mendalami sastra secara otodidak sambil bertani di desanya di lereng Gunung Merapi. Sajak, cerpen dan esainya tersiar di sejumlah media di Indonesia dan di luar negeri seperti Hongkong, Belanda dan Jerman.Tim Pendiri Rumah Baca Komunitas Merapi (RBKM) dengan alamat blog http://rumahbacakommerapi.multiply.com ini pernah mengenyam pendidikan di Philosophisch-Theologische Hochschule Sankt Augustin Jerman.

Saturday, 26 May 2012

Sajak Usman Nurdiansyah


Setelah setahun lalu
 :Arni Yanti

setelah setahun lalu
aku mencintaimu dengan penuh perih
juga rasa sakit
atas jarak berarak begitu lambat

kau tak tahu
bahwa semestinya
aku cemburu engkau sendiri
dengan rasa hambar
atau menungguku lapar
dengan perasaan yang semestinya aku ucapkan
meski gagal berulangulang                                                                                  
walau rentang musim pongah di tengah kesedihan
aku masih cemburu engkau sendiri
 
jangan anggap aku tidak hormat
aku mencintaimu terlalu cepat
sebab setahun yang lalu
aku pernah mencintaimu begitu lambat
hingga sayu matamu
tak sampai pada hari haru yang layu
masih saja mengenang diingat ikat
juga masih mengepung di musim rampung

setelah setahun lalu
aku mencintaimu
dan barangkali rinduku tak semulus tandus
airmata mematahkan cuaca
atau wajahmu pemalu menahan langit sendu
aku tetap cemburu kau sendiri

dan ketika kau tak mencintaiku
setelah satu tahun lalu
aku pun tak begitu.

2012



25 Juni
: Arni yanti

hari ini angin lebih lincah
dari ciuman yang menangkap pikiran
sebab lidah tak terkendali menari
berzikir mendoakan izroil
agar ia memperlambat waktu
dan mengambil kesempatan
memperpanjang rambutmu
dan kesetianmu padaku

kekasih, aku tak menuntut apapun darimu
sekalipun menuliskan 21 sajak dari bau ketiakmu
sebab epitaf masih berjarak dari kenangan
juga ucapan selamat akan menjadi paling keramat

kekasih, aku pun tak bisa memberikan apaapa
seperti laut yang engkau harapkan acap kali
rasanya ingin sekali menikahimu sebagai gelombang
agar rindu senantiasa menggulung merampung
pada usiamu yang agung

dan jika nyala lilin masih setia dengan musim
yang kau janjikan
pada detik-detik yang lambat
bersiaplah
aku akan datang sebagai laki-laki yang menantang
langkah usia.

2012



Lembang: Pucuk Teh 
dan Nyala Kenangan
: Arni Yanti

2 jam sebelum langit marun
di bawah pilar jembatan
orang-orang bergerak lambat
seperti ingin menyebrangkan kesedihan
pada detik-detik yang telah kita sepakati
untuk mengasingkan masa lalu

engkau masih tetap sayu
tahi lalat di pipi dan lipstik merah jambumu itu
adalah isyarat untuk kita bertemu:
tentu keduanya akan mengganggu bibirku

di kota ini
pucuk-pucuk teh bulan mei
lebih muda dari cinta kita
tetapi ujungnya tak lebih runcing
dari peristiwa yang akan kita hadapi

Arni, kenangan kita seperti gerimis
menetes di antara ingatan dan kesetiaan
dan kupastikan tak ada isyarat perpisahan
yang tak benar-benar kita inginkan

pada saat itu pula
aku ingin menjadi bros di dadamu
yang mengikatkan tilawah dan silsilah
yang senantiasa lesat dan tersesat
di bawah lampu kota dan bundar matamu

lebih lama, mungkin selamanya
kita adalah sepasang kekasih ajaib
mengibarkan bendera galib
dan pada saat itu pula
engkau dan aku menjelma cahaya

menyala-nyala.


Juni-Juli 2012



Sepanjang jalan Moh Toha
: Arni Yanti

di sepanjang jalan Mohamad Toha
narasi kita diciptakan dari lintas lampu merah
yang sabar
dari terpal yang membentangkan alamatmu
untuk engkau berteduh
juga dari asap tipis
setipis luka kita

engkau setia duduk dibelakangku
sambil memeluk erat tubuh
sedang aku mengendari kenangan
dari rindu yang tak sia-sia mengebul

peluklah lebih erat
kelak parfummu akan memanjakan
dan menguapkan kembali kenangan di pungugungku

di sepanjang jalan Mohamad Toha
narasi kita dibentuk dari lampu-lampu hijau
seperti mengajak kita
untuk segera saling melingkarkan cincin
atau dari lampu kuning
yang senantiasa mengingatkan
agar engkau dan aku
benar-banar saling memahahi perjalanan


2012

Friday, 11 May 2012

Puisi-Puisi Ayu Diah Cempaka


Puisi-Puisi Ayu Diah Cempaka
Posted by PuJa on May 10, 2012
http://www.suarakarya-online.com/

Gulali Merah untuk Adikku
Pagi hari bulan putih mengintip resah membiarkan
jalan-jalan basah Seorang gadis kecil
bermain dengan payungnya
Di taman tak ada burung berebut pakan adikku berlari,
menyaksikan debu yang terbang menanti kawan yang hilang
“Sudah senja, dik” adikku berpangku di bangku taman
“Penjual gulali akan datang
sebentar lagi” Ia berlari ke tengah taman berputar –
putar riang memainkan gambar gulali merah
yang dilukisnya sembarang
Jalan Malam Bentara
Aku mulai hafal cahaya malam
Jauh di tikungan sebelum dua candi
gusar menatap buyar pada mereka yang berdatangan
Ku kenali kedai-kedai malam
sepanjang jalan entah di kiri atau
di kanan dua perempuan duduk
diam diam adakah mereka mengenal
bahwa mungkin saja satu dari
laki-laki yang datang
adalah kawan lama?
Seperti seorang kawan lama
yang lama tak ku dengar tegur sapanya
Apakah setiap penyair
selalu begitu, kawan?
Sebentar datang, sekejap jadi bayang
Entah berapa kali angin
turut membuntuti
Mungkin ia ingin mampir sesekali
ketika tak seorang pun menyadari ada bait
yang melekat dalam diri
Cemas
Sayangku, hujan belum juga reda
aku membayangkan kau terjebak dingin
gelisah menunggu pelukan
atau malah kau tak ingin pulang
sebab tak ada lagi
yang menunggumu di ruang tamu juga tak bisa lagi
kusiapkan segelas susu untukmu
Aku tidak menunggu siapa siapa
barangkali aku menunggu hujan reda
sambil menghitung tiap rintik
yang jatuh di jendela mengapa orang
masih berlalu lalang mengapa mereka bergegas pulang
jika aku adalah hujan maka akulah yang paling bersedih
semua orang berlari, berdalih
Sayangku, akan kumatikan
tiap lampu di sudut jalan
hingga tak bisa kulihat
siapapun yang datang sebab pintu dan jendela
takut hujan
maka jangan kau ketuk
sebelum pagi menjelang
Sayangku, berhentilah menikmati hujan
ia takan mengembalikan masa silam pulanglah, berpeluklah
sebelum hujan semakin deras sebelum muram menikammu
lebih lekas
Catatan Redaksi:
Dewa Ayu Diah Cempaka Dewi, mahasiswi Sastra Perancis, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, lahir di Gianyar, Bali, 18 Juli 1993. Menulis puisi disela waktu istirahatnya dan dipublikasikan di berbagai media lokal dan nasional. Salah satu puisinya “Karena Aku Tak Lahir dari Batu” dibukukan dalam antologi 100 Puisi.

Wednesday, 9 May 2012

Sajak-Sajak Usman Arrumy


Sajak-Sajak Usman Arrumy
Posted by PuJa on May 9, 2012


DENDAM TERDALAM

berkelabat kabutku kaurekahkan rindu paling sembilu, menjulur panjang seluhur lelaku kasih sayang, dengan leluasa renungku meruang menafsir cinta serupa sihir.
aku bermukim di rahim terdalam tempat kau melesakkan dendam, aku terdiam di redam ranum ronamu yang dulu selalu kukulum, kuibaratkan kau api yang rindu di dalam tungku, melepas hawa hangat di lelubuk kalbu.
seperti helai hunian sewaktu malam, terbenam oleh cumbuan gelap menjelujur senyap, kuhasratkan rinduku berarus di tengkorak benakmu, agar padam dirimu dari lebam sesiul dendam,
kau akan kembali tergurat ketika aku nyungsep ke liang gurit, selengang erang burung elang, kusepuh lelayu bayu berjingkat di rumbing rindu.
cinta adalah ketika nadimu berdetak mengeja namaku, butuh kaurengkuh lalu rekah di jalur ruh, mengurai reruntuk rindu di kedalaman dendam yang semayam di ceruk cinta
17042012 demak

ANGIN

dari mana angin yang kali pertama kuhela?
hembus ke seluruh semesta
memasukiku bertubi-tubi – menari di sepanjang urat nadi
aku butuh kau sentuh bila ruhku hendak luruh
Di mana kau yang dulu rela terhirup demi hidup berdegup, kini ?
halus menjadi humus masa lalu.
dambaku, ingin sekali lagi diriku kau masuki
sebelum aku mati di koyak sepi.
kemana kau yang kali terakhir jatuh di jejurang jantungku?
lepas dan hempas entah kemana
bergerak tanpa jejak saat diriku baru mulai berdetak
beranjak ke jarak yang membikinku tak lagi mampu merindu
kearah mana kau yang dulu berdebum merengkuhku saat mula hidupku terbuka?
bagai musafir, kau ngalir sejak masa paling purba
kau pergi, sendiri, tanpa bunyi di ruang sunyi
melenggang, seperti terbang ke awang-awang
sampai kapan kau berkelana di luar sana?
mencari hening setelah lelah menjadi nafasku.
di jantungku, kau lembut, hanyut merangkai denyut
sampai aku takjub pada dirimu yang tak berwujud
kau cinta yang kali pertama kuhela
kuhirup semauku sebelum aku di jamah maut
14 april 2012 demak

RINDU SEHENING BATU

demi paru-paru yang menampung seluruh rindu
aku mengalir di dalam waktu – bergulir sehening batu
aku bergerak nuju jarak – ruang istirah untuk nulis sajak.
di hatimu, seluruh damba, rusuk rinduku yang selalu kupeluk bila dirimu tiada.
di jantungmu, seluruh denyut, di situ aku berdegup – mengharap dirimu segera nguncup.
kubebaskan diriku mengembara di dalam renungmu ketika rindu adalah sedu yang mengusik hidupmu.
kubiarkan diriku khusuk mengeja rindumu ketika fajar mulai tergetar.
dan aku hafal seluruh lafal yang tersusun di sudut kebun tempat kau di sentuh embun
di kota itu, mula aku mengenal biru matamu
kubisikkan cinta paling mawar terhadap hidupmu
seperti kali terakhir kau-aku temu –kini aku masih tersedu
dan gema cinta senantiasa bergaung di situ
Aku bersimpuh di dalam dirimu yang selalu luruh
tersedu di bekap rindu, sepasrah geliat tanah liat.
aku mencintaimu
seperti tanah menjamah jasad di liang lahat
setulus angin yang menjadi nafasmu
12 april 2012, demak malam jum’at

DI BISIKI CINTA

kau, hening yang merentang di sekujur ruang
aku, hampa yang menghampar di dalam kenang
di ronggaku kautiup udara yang terjelma dari cinta
kau nyusup memasukiku rinduku mengembara
di bisiki nafasmu endapkan resah denyutku menderu
seluruh lakumu di sepanjang waktu adalah rindu
kauhela hirup aku jantungmu berkidung
aku terkurung di dalam jantung denyutmu bersenandung
harpa harap yang meruap itu jatuh ke dalam ruh
dan riap renjanamu menumbuh sebelum luruh
di rasuki nafasmu doaku meluap jadi gemuruh
di bisiki cintamu
nafasku hempas menjelma dirimu
di bisiki cintamu
hidupku bergerak menujumu
2 april 2011. demak

Thursday, 26 April 2012

Sajak-Sajak Imamuddin SA


Sajak-Sajak Imamuddin SA
Posted by PuJa on April 26, 2012


TADARUS JARAN GOYANG
membuka sebuah kitab dan merapalnya
dalam tanda-tanda
pada jalan gaib yang diselimuti kabut-kabut waktu
bermula dari bisikan hasrat
dalam satu ruang keramat
kau tiupkan ruhmu
pada hati yang kemarin beku
di muara sepi dan sunyi
sajakmu
maka seperti kutub terbakar matahari
aku menghilir nafas ke sungaimu
dan menenggelamkan segala keakuanku:
di mataku hanya ada kau dan kata-katamu

Lamongan, Maret 2012


PERCIK BATU


lupakan saja kata-kata yang aku bisikkan
di daun-daun hatimu kemarin,
kata-kata yang kuukir dengan api
dari percikan batu yang kau lempar padaku
pagi itu
maka jangan biarkan panas membakar
menjadikan tubuhmu hangus dalam abu
adlah ini kesempurnaan
yang tak dapat aku abaikan di atas tanah,
berjalan bersama bara
dalam jantung tak berarah
maka sabar adalah jawaban
dan perhitungan jadi perhatian ucapan:
“air yang kau tumpahkan di rahim istrimu
tak kan jauh dari alir sungaimu”
Lamongan, Pebruari 2012

MEMUNGUT SAJAK DALAM GELOMBANG

pungutlah sajak-sajakku
di tengah samudra
dalam diam gelombang
dalam bening air yang tak asin
inilah hujan yang dijanjikan
membasahgemburkan tanahmu
dan memberi nafas
pada jentik-jentik di dasar sungaimu
yang sempat kering oleh panas waktu
namun, jangan biarkan rahimnya menjadi bah
oleh sebutir picis yang erat tergenggam di tanganmu
sebab wajahnya hanya sebatas jalan yang tak harus ditinggalkan
maka melangkah pada tiap ruasnya
adalah seberkas keniscayaan
seperti darah yang membawa hawa
dalam panas wajah
Lamongan, Pebruari 2012

DI SISI GEDUNG LAMONGANKU

malam yang berselimut mendung waktu itu
kini tak lagi menampakkan wajahnya
hanya sesabit bulan tertanggal di mataku
dalam sunyi nyaris membatu
tak ada lambaian paling puitis
yang dapat aku tulis di lembar hatiku
ketimbang lenggang jari penjual nasi boran
yang bercerita tentang lapar, perjuangan, dan pengorbanan
sepanjang malam
sejauh batas trotoar
kau berjajar di ambang penantian
dalam sepi, dalam sunyi
dalam cerita buah hati
ada yang terurai dari kisahmu;
lelap dan usiamu
masih setia di ujung waktu
di sisi gedung lamonganku
…?
Lamongan, Oktober 2011


GEGER PINANGAN
: Laras-Liris

dari bisikan ayam jago
yang mengelana langkahmu
sampai pada tanah singgah
hingga terukir sejarah
tentang tradisi
tentang lelaki dan seorang putri
dalam ikatan suci
ada persembahan mengalir dalam nadi
membiarkan hati larut terpasung mimpi;
andansari merajut janji
setapak demi setapak membawa sembah sendiri,
wirosobo sebagai fajar meniti
seperti sepi ditelan petir
lamongan-kediri terendam banjir;
luka, darah, dan wibawah
jadi tumbal prahara yuda
kala janji tercabik lati
tak dipuji
Lamongan, Oktober 2011

KISAH WAKTU
: Maskarebet

sigro milir
sang getek sinonggo bajol
sekawandoso kang nyanggeni
ngarso tuwin ing bungkur*
semilir angin dan ricik sungai mengiring tembangmu
membawa kisah waktu
tentang luka, tanah, dan ketenangan jiwa
ada yang tertahan;
batinmu
dalam sengketa
dalam perang buaya
di atas rakit
dari maghrib hingga masyrik
kau memasung riuh air
jiwamu
menyujudkan musuh
sebagai isyarah laku
dan kau temukan tanah istirahmu
di muara waktu;
kusapa dalam pahatan batu
pringgoboyo dan nisanmu
Lamongan, Oktober 2011


SYAHADAH

bagaimana aku
bisa membagi-bagikan syahwatku
selain kepadamu
dan bagaimana caranya, kau
sanggup ajarkan aku
merapal syahadat cinta untukmu;
hanya namamu
dan aku
harus dengan apa aku
merayumu, agar muhammad
kau lahirkan kembali dari rahim hatiku;
shalatku
zakatku
puasaku
segalanya telah kupersembahkan untukmu
sementara kau hanya melempar senyum sinis
di wajahku
membiarkan luka rindu
menghimpit batinku
dadaku sesak
hanya untaian nafas terpenggal
dalam gerimis tangisku yang masih tersisa,
ingin rasanya kuteguk secawan demi secawan air mataku
biar tak ada lagi duka di bening telagaku
tak ada lagi kegaiban mataku
dan aku terbangun
dari malam-malam jahilku
setelah sekian lama meringkuk
dalam selimut tahmidku
samar aku melihat jari-jari manismu
perlahan memainkan hasrat
menyalakan lilin di tanah gelap
aku pun bangkit
dari sajadah kumalku
merangkak, menguntit cahayamu
berkata dalam kealpaan nyaris membatu;
jangankan shalat, syahadat pun aku tak mampu
bagaimana caranya, kau
sanggup ajarkan aku
merapal syahadat cinta untukmu;
hanya namamu
dan aku
Lamongan, Ramadhan 2009
__________________
Imamuddin SA, lahir di Kendalkemlagi, Karanggeneng, Lamongan, Indonesia. Bertepatan pada tanggal 13 Maret 1986. Penulis bernama lengkap Imam Syaiful Aziz. Saat ini ia menjadi pengajar di SMA NU 1 Model, PP. Tanwirul Qulub Sungelebak dan MA. Matholi’ul Anwar Simo. Bergiat dalam Komunitas Sastra Teater Lamongan (Kostela), Forum Sastra Lamongan, Komunitas Teater Jati, dan Pustaka Pujangga. Karya-karyanya sempat terpublikasi di beberapa media, di antaranya: Majalah Gelanggang Unisda Lamongan, Majalah Intervisi, Tabloid Telunjuk, Jurnal Kebudayaan The Sandour, dan Majalah Indupati. Terantologi dalam antologi bersama Lanskap Telunjuk, Absurditas Rindu, Memori Biru, Khianat Waktu, Kristal Bercahaya Dari Surga, Gemuruh Ruh, Laki-Laki Tak Bernama, Kamasastra, Tabir Hujan, dan Sehelai Waktu. Sempat menjadi juara ke-3 lomba menulis esai sastra tingkat nasional tahun 2010. Kini tinggal di RT 005, RW 003, Ds. Balun, Kec. Turi, Kab. Lamongan. Phone; 085731999259. Email: imamsyaifulaziz@gmail.com

Monday, 16 April 2012

Puisi-Puisi Syaifuddin Gani


Puisi-Puisi Syaifuddin Gani
Posted by PuJa on April 16, 2012
_Kedaulatan Rakyat, 20 Des 2009


RINDU MEREBUS SEMBAHYANG
1
laut lengang
karang diam
ombak hentikan buih-buihnya bercumbu di tepian
nun, perahu bersayap zikir, tafakur
menghikmati ikan-ikan pulang.
jemari-jemari angin bergelantungan di urat-urat bakau
cis-cis butir air menyelam ke karam
jatuh dari camar yang terbang
tak ada kasidah hujan yang biasa mengelana
di birahi-birahi gelombang
dan anak-anak hitam, ayah-ayah karang
berlibur di ranjang berselimutkan gerimis cahaya
yang menembus dinding lontar.
2
wahai Kekasih
rindu merebus sembahyang dan tualang
menjelma bianglala dan cahaya lila yang cebur ke air.
laut lengang.
rindu dan galau bergelora
seumpama gelombang ini
memburuMu ke langit ke cakrawala
tiada kira.
zikirku, takbirku
mereka-reka Engkau yang tak terkira.
sementara tasbih mencair bersama gelombang.

Kendari, 24 Mei 2006


SURAT JULIET


seteguk racun
setikam belati
kuburkan riwayat kita
tapi di altar pemakaman durja
kabut subuh gundah
tanggalkan sehelai rambutmu kirmizi
menjelma cakrawala sepanjang Italy
telah melapuk dinding montague dan capulet
yang kaudaki aku di puncak renjana
dan menembakkan kesumat di sembab ranjang
tapi badan dan ranjang pun membangkai.
lambaian dan lolongan orang-orang
yang berkabung di kota verona
melukis bibirmu menyihir.
dan airmatamu mengalir
kan diziarahi para pelancong
kesejatian cinta
kemolekan luka.
kita pun
tak pernah mati.
romeo.
Jakarta-Kendari, Juni-Desember 2005

SERIBU BULAN

awan-awan bergerak perlahan menggandeng rembulan
mata-mata bintang dirundung diam
pepohonan lengang, daun-daun rindang
merunduk mendekap rumputan
malam apa gerangan
sandingkan seribu bulan.
angin hentikan perjalanan, lafadzkan ayat-ayat tuhan
gelombang tiada bergerak
seperti perahu layar mematung di tengah lautan
seribu iblis diringkus di penjara tuhan
seribu malaikat melanglang,
adakah si fulan mengeja tasbih dan zikir.
pintu surga disibak seribu lapis
bersama pintu jahanam dibungkam seribu lapis
rumah siapa diarak malaikat tengah malam
semburatkan cahaya dan aroma kesturi.
tujuh belas bidadari berlendang
sembilan puluh sembilan merjan
terbujur di setiap pintu dan jendela
berlayar ke negeri tuhan.
bulir-bulir hujan yang subtil berguguran
menanggalkan kalam ilahi yang basah
lesap ke jantung bumi.
Kendari, 18 Oktober 2005


SURAT DARI MATAHARI

pagi gugur
matahari tampak kabur
disongsong keranda laut
anak-anak berdatangan menuju kubur.
tak sempat kuhantarkan doa-doa
sebelum engkau
melesak ke terminal tuhan.
airmata langit
dan gerimis yang jatuh bersuara parau
mengguyur serambi ini
yang tinggal batu-batu
dan sebiji peluru.
pabila malam pulang
hanya udara yang datang sempoyongan
bercerita tentang sepucuk surat dari matahari
yang berlabuh di meulaboh.
Bekasi, 13 Juni 2005

Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=240040006642

Tuesday, 27 March 2012

Puisi-Puisi Nunung S. Sutrisno


Puisi-Puisi Nunung S. Sutrisno
Posted by PuJa on March 25, 2012
http://www.lampungpost.com/

di sepanjang jalan di sebuah kota tak bernama

angin melambat lamat lamat mengucap lelaku bebayang pada pohon
hujan kian menggeliati tubuhnya
lampu padam sekitar sejam yang lalu
mencakar kenangan merah jambu yang begitu masygul bersemu biru
tak ada catatan yang kau buat di dinding dinding kota hari ini
hanya sisa cemas yang terus menggelantung di bibirmu
lemas kerlip mripatmu menjuntai seribu tanya
kita pun terdiam berkhianat pada tubuh sendiri.
2011_2012

gerimis jam 1 malam
masih dan terus melangkah gerimis di ayun statusmu sore tadi
hingga malam ini sudah sebungkus rokok dan tiga gelas kopi sudah kubantai
nampak wajahmu semu sangsi
pun kalimatku seperti tertinggal di ujung bibirmu
dan tahukah kamu perempuanku
aku selalu inginkan apa yang kau inginkan
seperti dingin yang selalu saja menguntit kita
merelakan dingin mencecap tubuh kita perlahan lirih
mengucap di musim yang basah.
2011—2012

kejujuran

di rabu pagi
di kuncup-kuncup bunga
yang enggan membuka kelopaknya
cuacanya di penuhi warna warna
di lekang cerita lama
sejauh pandang mata membaca
sedekat hati yang semakin melupa
bersama segala sangka
kita tumbuh subur tanpa doa dan makna
derainya ngucap jujur di lentur lidah dan lakumu
di tengah kota kita menjelma manusia manusia
tanpa ayah dan bunda.
2011—2012

keluarga

seperti biasanya ketika matahari mulai kuncup
aku bergegas pulang nuju rumah
di sepanjang jalan pohon pohon munggur
semakin terpekur nantiin lelampu
yang sebentar lagi ngecupin tubuhnya
sesampai di rumahku
kuucap salam
istriku pun menjawab sembari mencium tanganku
ia pun bergegas membuatkan sekopi hangat
lalu bertanya tentang kerjaku hari ini
malam berkunjung ke rumah kami
yang telah begitu renta di seret angin
anak anak masih setia di depan tivi
kami duduk di samping mereka
di beranda rumah
melupakan tubuh meluntakan cerita
mengayuh malam menyandarkannya
agar pagi bisa kami beli
bersama kasih-Mu Gusti.
2011_2012
___________________
Nunung S. Sutrisno, lahir di Yogyakarta 23 Agustus 1976. menyelesaikan studi di Fakultas Teknik Industri Universitas Malahayati. Kini bekerja di sebuah perusahaan consumer good. Belajar berkesenian di Teater Satu, Bandar Lampung. Karya-karya dimuat di beberapa media.

Friday, 16 March 2012

Sajak-Sajak Denny Mizhar


Sajak-Sajak Denny Mizhar
Posted by PuJa on March 14, 2012

Memapah Kota Yang Dibangun Dari Harum Tubuh
:Untuk Gadis Banyuwangi


Adinda, masihkah kau mengelilingi
danau rindu tempat Surati bersemayam.
Harum Surati menebar wewangian
pada malam ganjil aku mengenang wajahmu.
Mata yang ditumbuhi bunga-bunga kenanga
pada kota yang di bangun dari tubuhnya.
Maut yang lahir dari rasa sesal atas laku diri
dan cinta menjadi duka.
Adinda, kenapa kau tak lagi bisa
menggambar wajah dengan warna
wangi atas kematian Surati. Apakah kau
diam-diam membalaskan dendamnya.
Menenggelamkan Raden Banterang
Di danau tempatmu bersemayam.
:Saat kau mengenal laki-laki, kau singkap tabirnya
dengan kealpaan atas muasalnya.
Mengulang kisah mengulang rindu.
Membangun kembali kota harum dari kematian.
Berulang dari haru memburu masa lalu yang terlupa.
Harum menghilang dengan bangkai terbaca.
Dupa-dupa tak lagi menyala.
Rintik hujan mengakhirinya.
Air membasuh tubuh bersetubuh
dengan kembang kamboja.
Wangi kembali wangi kecipraknya
ketika rambutmu tak mampu terdekati.
Persinggahan pada kota yang dibangun
dari air yang harum pada kisahnya.
:Adinda, kemana memapah wangi kotamu
Jika matamu menutup rona-rona rindu.
Malang, 2011


Malang-Surabaya

Malang aku tinggalkan
saat subuh berkumandang
kabut pagi membelaiku
mengantarkan pada kepergian
dingin memelukku temani perjalanan
Laju kendaraan berebutan di depan.
aku mencari sela menghirup asap-asap knalpot
dadaku sesak berdesakan dengan waktu
Aku hirup aroma lumpur di tengah perjalanan
porong-lapindo. Ah, sampai kapan akan usai
derita di tanah yang bertanggul. kini jadi tontonan
Buruh-buruh pabrik berjejeran di jalan
lonceng hidup segera dibunyikan
cerobong-cerobong menghembuskan nafas
Surabaya, aku disambutnya dengan kemacetan
sebentar lagi, panas mengajak dansa denganku
Surabaya aku datang. mencari semangat pahlawan

Surabaya, 2011

Sajak-Sajak Imron Tohari


Sajak-Sajak Imron Tohari
Posted by PuJa on March 14, 2012

KATARSIS

:/Hadi Napster
Apa itu kehidupan ? Kehidupan itu kematian yang merintih
saat ianya, kematian tahu
doa adalah kandil
kepedihan serupa semangat
seperti dedaun gugur, jatuh
di tanah jadi humus.
Lalu apa itu kematian? Kematian itu kehidupan yang nyanyi
sajak keabadian di dalam jiwa
serupa bakung di rawa-rawa
hidup tumbuh
ke Engkau
22 January 2012
Katarsis n (Kris) 1 penyucian diri yang membawa pembaruan rohani dan pelepasan dari ketegangan; 2 (Psi) cara pengobatan orang yang berpenyakit saraf dengan membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dengan bebas; 3 (Sas) kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis.


TENTANG KEDUKAAN

beratus tanya lelah kudengar, di pikiran
himpitan hidup demikian mudah mengubur suka
petang pun berjalan tergesa-gesa ke pagi
di celahnya, mimpi terjebak tak tahu mesti bagaimana
maka, di reranting kering, daun-daun melayuk
cuaca kian tak tentu, angin bergemuruh
lembar-lembar kalender mudah robek
sungguh, alam berseakan menjerit
perlihatkan jalan ke muara sepi, kita
sibuk berdagang nasib
tanpa ning
lupa Tuhan, untuk apa menjadikan insan hidup
25 Feb 2012


Jiwa Abadi Puisi

Maka ianya, serupa bunga lili
di rawa-rawa

27 Februari 2012

Puisi-Puisi Imron Tohari


Puisi-Puisi Imron Tohari
Posted by PuJa on March 15, 2012


TELAGA RINDU *

Berperahu di tenang telaga, meniup suling dengan nada merdu
Langit biru yang indah, di pinggir telaga kebun buah-buahan subur
Adalah nyanyian kalbu diam-diam melukis wajah kekasih
Berbantal cincin hati kemala
Bekerja, terpisah jarak dengan keluarga
Di kota akhir-akhir ini pesona koin bak mandi madu kibasan bulu merak
Ketika sulit untuk menemukan bahwa masih ada segelas itikad baik.
Di matamu. Cahaya bintang kemerlab bersih
Duhai wahai yang menjadikan aku rindu, ketika kita kembali bersua nanti
Itulah saatnya hatiku berasa luahan kasih, dan ingin aku mengajakmu
Memetik ranum buah rindu, di kebun subur dekat tenang telaga
4 Maret 2012
Judul* : Erha Limanov

JIKA KITA SALING MENGUATKAN, ITULAH CINTA

Ketika aku merasa kian memahami tentang apa itu cinta
Pertanyaanmu padaku membuatku terkesiap
Iakah cinta itu diantara perasaan dan ruang sunyi?
Di pantai, aku tulis tebal huruf-huruf cinta
Angin menerbangkan pasir–pasir
Di ruang kamar kubuka lemari
Senyap. Pakaian juga perhiasan sebisunya batu
Kutatap jam di dinding kamar
Runcing jarum adalah kekosongan yang bunyi
Pikiran dan perasaan yang berjalan di lorong hening
Jika aku kini memilihmu, itu karena aku percaya perasaanku
Mencintaimu. Seperti lebah membuat sarang madu, dan
Tempat menetasnya anak-anak
12 March 2012


DI EMPER TOKO

Bersandar mak tua, tak peduli lalu lalang di jalan
Apalagi ngomongi Malinda Dee yang diganjar delapan tahun
Mungkin ianya juga lebih tak peduli
Jikalau pak Sby bilang, Indonesia bebas korupsi
“Mak, lima belas ribu kita dapat hari ini, tapi
BBM dan tarif listrik katanya akan naik, pasti
sembako tentunya naik juga, mak ” suara anak kecil di sebelahnya
—Sudahlah nak gak usah didenger, toh percuma saja
”Terus yang mesti kita denger apa,mak ?”
—Ya suara perut kita,nak
Jawab mak tua enteng
2008,2010, rev Maret 2012

Perjalanan


Perjalanan
Posted by PuJa on March 15, 2012
Denny Mizhar
I
di lintasan waktuMu terlarut dalam tanya takdirMu.
memecahkan tubuh yang tumbuh dalam kota tua.
kerapuhan lahir dari masa lalu yang ditetaskan ingatan
pada jalan hitam membaca tanda-tanda.
keberlarian menjadi ingin.
sembunyi dari kenyataan
bahwa hidup adalah
keyakinan.
Malang, Januari 2011
II
di kota tua ini tereja garis nasib yang tak menemui takdirNya
sepi masih saja bertandang dengan gempita di setiap hirupan nafas.
jalan mana harus terlewati mananggalkan tubuh yang rapuh.
hiruk pikuk klakson kendaraan yang berebut celah menuju garis finis.
lampu berkerlipan ketika malam mengetuk pintu waktu
dan orang-orang sibuk mencari celana dalam di mall-mall
yang dibangun dengan menumbangkan pohon-pohon
dan mengusir kunang-kunang. aku tersudut di pojok jalan
yang bersimpang. mengaduh gaduh pada tuan kota tua
dan tak ada jawabnya. sangsi aku pada diriku.
pada Tuhan yang katanya bersemayam didekat urat leherku.
aku masih manyembut namaMu. walau kesangsian berkelindan
menyusuri pertanyaan-pertanyaan keraguanku.
Malang, Januari 2011
III
aku telah memilih jalan. tapi aku takut berjalan. jalan yang menikung tajam. tajamnya seperti mata pisau yang baru saja terasah. bila aku tak berjalan. aku mati dalam angka. bila aku berjalan kakiku akan luka, karena tikungan kian membuatku gelisah. apakah aku harus diam dalam angka yang tak berubah atau berjalan melewati luka. dilema dalam ketakutan. apakah Tuhan bersama bersama orang takut. seketika itu, cahaya berpendar-pendar menuntunku melewati luka. kakiku berdarah. aku menahan dengan keyakinan. aku akan merubah angka. angka akan terus bertambah. bertambah dalam gerak. terus bergerak. kakiku patah dalam angka.
Malang, Februari 2011
IV
aku kalah dengan gerak fikir yang berjalan menjumpaiku
hingga daya tahan akan keyakinan tergedor roboh seketika
masihkah ada hati yang bersijingkat memeluknya, aku harap.
hanya ia yang tertinggal ketika kerapuhan menjumpai,
ketika Tuhan yang aku bunuh tak dapat mati.
keabadiannya ada selalu
aku hanyalah rangka tak berdaya
dan daya itu hanya Tuhan yang punya
Malang, Februari 2011

Sajak-Sajak Syukur A. Mirhan

Sajak-Sajak Syukur A. Mirhan
Posted by PuJa on March 15, 2012
http://oase.kompas.com/

MANCING

-melamun di atas jembatan madiun 1,
Melempar senar tafakur. Jauh dan dalam
Ke kedung renung. Memancing ilham
Di pucuk malam, luruh serpih perasaan
Hanyut di arus bengawan ketiadaan
Jemari dinihari Januari yang tiris
Menyawer embun dan gerimis
Antara garis bentang bantaran
Dan baris bebatu yang menisan
Di reriak air detik mengalir
Menyisir tepi-tepi sesunyi
Kali hati pemancing terakhir
Sebelum tanggal denyut nadi
Madiun, 2012
tiris (Sunda): dingin

YANG MENANGIS OLEH GERIMIS

Yang menangis oleh gerimis hatinya pun ngungun
Menyisiri tepi-tepi sesepian malam-malam alun-alun
Cerlang matanya redup dijalang sorot-sorot lampion
Tasbihnya bulir-bulir embun digugur angin monoton
Foto narsis gadis reklame dan senyum Bapak & Ibu walikota
Melahirkan warna senada: Madiun tak berrasa tiada berjiwa
Untung masih ada rasaduka yang mencairkan adipura airmata
Dan serak suara Kaze mengenangkan lirih lirik letih kawih jawa
Gerimis mampir dan menyelusup di selonjor kaki ibu pengemis
Di sampingnya seorang bapak –yang tak berkeluarga– meringis
Menjeritkan batinnya yang sunyi ke julang menara masjid agung
Seakan ingin mengembalikkan nasibnya kepada Yang Maha Agung
Sampai pucuk dinihari Februari di alun-alun tinggal tiga hamba
Ibu pengemis dan seorang bapak –yang tak berkeluarga–
Dan yang menangis oleh gerimis yang cuma bisa menitipkan kata
: Allah tidak pernah tidur menunggu seribu satu doa kita!
Madiun, 2012

DI SEBUAH LIKU PERTIGAAN TARIKAT

Malam ini puisi merambu-rambu tanda
Di perempatan-perempatan kehidupan
Lampu merahkuninghijau lalulintas tanya
Di antara ketakpastian yang berseliweran
Seorang pejalan tertatih-tatih dalam pencarian
Menyeret-nyeret hati menuju alun-alun tujuan
Tempat kedatangan-keberangkatan diterminalkan
Dan pusat penantian pertemuan tanpa perpisahan
Tak ada yang dikangeninya, kecuali gerimis
Dan embun yang mengilau lampion hias
Mencercah wajah bergores miris
Menembus gelap gang cemas
Sedangkan kelam-kehampaan terus berserikat
Menyandera sekerlip cahaya tiang hakikat
Di sebuah liku pertigaan tarikat
Persimpangan antara tol maksiat
Dan makadam makrifat
Madiun, 2012
*Makadam (Jawa): jalan batu-batu belum beraspal

MAGETANMU JANUARI, SEPERTI KOTAKU SENJA HARI
Magetanmu Januari, seperti kotaku senja hari
Basah oleh hatimu yang gerimis
Setiap kali menyusun kepingan puisi
Dari kristal-kristal nur tangis
Perasaan yang tercecer
Di emper pagar gedung DPR
Mengentalkan serpihan perih
Yang berserakan di lirik-lirik lirih
Di pelupuk mata dinihari alun-alun yang kuyu
Sehabis menemani wargakota wisata kuliner malam
Tergesa-gesa kautitipkan sekilat tatap sendu
Sebelum rembulan terpelanting dari pelukan palem
Tak kukenal lagi perempatan, terminal, halte, stasiun
Andong, angkot, bus, dan kereta pulang ke kota lama
Bentangan aspal jalanan menghalimun lamun
700 kilometer rel besi meleleh oleh api tresna
Magetan, 2012

DI TENGGARA SUHUNAN KOTA

atawa Sampai Kehidupan Kita Karatan di Pinggiran Rel Kereta,
Di tenggara suhunan kota. Rembulan yang purnama bertahta. Selangkang cahayanya mengangkangi tetaman istana negara. Selendang bayangnya menggorden pintujendela kebun raya. Dan sepasang rusa menanti buah pelita jatuh dari angkasa
Itulah latar cinta pertama kita. Dua remaja enam belas tahun yang lahir dari Sepasang Mata Bola di Rayuan Pulau Kelapa. Disusui Kolam Susu. Ditidurkan Nina Bobo.Diasuh Garuda Pancasila. Diayunambing Galang Rambu Anarki. Dimanjakan Hati yang Luka. Dibesarkan Always Somewhere. Di penggalan remang kota yang tubuhnya basah
Pagar-pagar besi, jeruji, gerbang, tembok, trotoar, gapura, dan tugu yang menggigil dan suara malam tinggal krik cengkrik yang tercekik brangkal galian kabel listrik. Juga matatelinga para penjaga makin waspada mengintai kita. Curiga pada desah napas dan bisik-bisik kita
Namun dini hari masih aman kita lewatkan. Karena kencan kita berasas Pancasila dengan cinta yang tidak pernah subversif kepada negara
Di tenggara suhunan kota. Sayang kini, rembulan yang purnama entah kemana. Sejak bapak tiri kita, Presiden Indonesia itu, mengundang Paman Sam yang biaya keamanan dan jamuannya bisa untuk membeli kerupuk dan ikan asin tujuh belas turunan. Padahal si Mamang datang bukan mau memberi hati. Tetapi mau mencuri harga diri
Malam menjadi sedikit seram oleh sisa amukan hujanangin tadi siang dan cerita tukang cat yang tersambar petir ketika mengecat dinding istana negara. Juga oleh kedatangan tentara berseragam dan berpakaian preman yang membuat tukang becak dan tukang ojek di warteg tidak khusyuk menyimak siaran semalam suntuk wayang golek
Di tenggara suhunan kota. Rembulan yang purnama bertahta. Selangkang cahayanya mengangkangi tetaman istana negara. Selendang bayangnya menggorden pintujendela kebun raya. Dan sepasang rusa menanti buah pelita jatuh dari angkasa. Itulah latar cinta pertama kita. Siapa saja tak boleh menghapusnya
sampai kehidupan kita karatan di pinggiran rel kereta.
Bogor, 2011

DI STASION BUITENZORG

Hingga aku menjadi tinggal hanya sebulir debu
Pada koper, kresek oleh-oleh, koran bekas, sepatu
dan pantat celanaku. Dan musim-musim melapuk di keriput waktu. Tak pernah beranjak aku dari bangku tunggu
Tak kuingat lagi ribuan pagi dan senja. Jam berangkat dan jam tiba. Juga geletar rel dan roda besi. Dari selatan dan utara. Kian gemuruh dan riuh. Dari atau ke Jakarta. Kereta demi kereta entah mendekat atau menjauh
Sejak rindumu tanggal dari surat merah jambu. Justru senyum dan lesung pipitmu tumbuh seperti jabotabek. Makin mendekat dan merapat. Bahkan menggeliat-geliat. Membuat gairah cinta awet muda di uzur usia. Meski karenanya kesepian memegapolitan
Sampai tubuh Bogor sudah bau Ibukota. Anak-anak asing kepada hujan petir, angin, dedaunan, dan buah-buahan yang berjatuhan dari pohonan. Tidak seperti gerbong, lori, gembok gudang, plang PJKA, dan gubuk seng kaum urban. Di Stasion Buitenzorg. Sampai 23 lebaran. Seluruh perasaan yang akan kucurahkan
tak pernah karatan.
Bogor, 2011

DI TENGGARA SUHUNAN KOTA

atawa Sampai Kehidupan Kita Karatan di Pinggiran Rel Kereta,
Di tenggara suhunan kota. Rembulan yang purnama bertahta
Selangkang cahayanya mengangkangi tetaman istana negara
Selendang bayangnya menggorden pintujendela kebun raya.
Dan sepasang rusa menanti buah pelita jatuh dari angkasa
Itulah latar cinta pertama kita. Dua remaja enam belas tahun yang lahir dari Sepasang Mata Bola di Rayuan Pulau Kelapa. Disusui Kolam Susu. Ditidurkan Nina Bobo.Diasuh Garuda Pancasila. Diayunambing Galang Rambu Anarki. Dimanjakan Hati yang Luka. Dibesarkan Always Somewhere. Di penggalan remang kota yang tubuhnya basah
Pagar-pagar besi, jeruji, gerbang, tembok, trotoar, gapura, dan tugu yang menggigil dan suara malam tinggal krik cengkrik yang tercekik brangkal galian kabel listrik. Juga matatelinga para penjaga makin waspada mengintai kita. Curiga pada desah napas dan bisik-bisik kita
Namun dini hari masih aman kita lewatkan. Karena kencan kita berasas Pancasila dengan cinta yang tidak pernah subversif kepada negara
Di tenggara suhunan kota. Sayang kini, rembulan yang purnama entah kemana. Sejak bapak tiri kita, Presiden Indonesia itu, mengundang Paman Sam yang biaya keamanan dan jamuannya bisa untuk membeli kerupuk dan ikan asin tujuh belas turunan. Padahal si Mamang datang bukan mau memberi hati. Tetapi mau mencuri harga diri
Malam menjadi sedikit seram oleh sisa amukan hujanangin tadi siang dan cerita tukang cat yang tersambar petir ketika mengecat dinding istana negara. Juga oleh kedatangan tentara berseragam dan berpakaian preman yang membuat tukang becak dan tukang ojek di warteg tidak khusyuk menyimak siaran semalam suntuk wayang golek
Di tenggara suhunan kota. Rembulan yang purnama bertahta. Selangkang cahayanya mengangkangi tetaman istana negara. Selendang bayangnya menggorden pintujendela kebun raya. Dan sepasang rusa menanti buah pelita jatuh dari angkasa. Itulah latar cinta pertama kita. Siapa saja tak boleh menghapusnya
sampai kehidupan kita karatan di pinggiran rel kereta.
Bogor, 2011

Syukur A. Mirhan. Lahir di Bogor, 8 Mei 1971. Alumnus FPBS UPI Bandung (1997). Melanjutkan studi S-2 di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP PGRI Madiun. Pernah mengembara ke Singapura, Thailand, dan Malaysia. Bergiat di Masyarakat Litera Magetan (MSM), Majelis Sastra Madiun (MSM), dan Sanggar Lingua IKIP PGRI MADIUN. Puisi-puisinya pernah dimuat di media nasional dan daerah. Antologi puisi terbarunya Rembulan pun Melapuk di Reranting Perak telah diterbitkan Penerbit Leutika Jogya (2012). Sedang mempersiapkan antologi puisi Dua Penyair IKIP PGRI Madiun bersama penyair Panji Kuncoro Hadi.

Sunday, 19 February 2012

Sajak-sajak Will Azhari Sastra Digital


Daun Luka

     -buat Istiana-

Kau menyimpan luka di liuk urat daun yang jatuh
Kau tahu benar betapa lugu pohon jambu itu
hari-hari padam di punggungmu
dan di telapak tanganmu yang basah
telah kau persembahkan hujan bagi hutan-hutan
saban sore, aku menjemputmu
dengan mendung di tulang wajahku
engkau yang gamang, menelentangkan kesedihan
pada dahan dan suara anak burung kehausan.

2011


Menjadi Hujan

Menyaksikan sepasang burung di atas bentangan kabel
tiba-tiba suaramu tajam, memintaku menjadi hujan
yang memandikan sepasang burung itu
kemudian aku jatuh di atas tikar daun ketapang
dirayakan sungai yang santun
atau tanah yang menugar.

Lalu, kembali engkau memintaku menjadi hujan
diam-diam melumat bau tanah
menyisakan warna pelangi
yang bias mencium danau
dihampiri liuk burung jalak.

Barangkali, aku harus menjadi hujan
Menebar wewangian bunga
Yang tumbuh dari benih matamu
Atau menyirami biji anggur dari jari-jarimu
Lantas rerumputan itu menjelma pagar di kebun.

Seperti dua tahun yang lalu
Kita tak sempat bertukar apapun
Selain cemas atas musim-musim rindu.

2011



Di Pinggir Sungai

Aku menari di pinggir sungai
digiring irama air
dengan kerling mata ikan
dan angin yang dipantulkan batu-batu.
Lipatan air, buih- buih itu
seperti berloncatan di dadaku.

Segala yang jatuh ke pinggir sungai
tak pernah kembali
ditinggal hujan atau arus ke hilir matamu
mengabaikan kepulangan daun
menyeret detak jantung
menghempas nafas
batu-batu digaris muka sungai

Aku menggambar jembatan
ketika jarum jam kubayangkan
memutar tubuhnya lebih cepat
meninggalkan angka-angka
juga bagi usia yang renta.

2011


Will Azhari, lahir di Karawang 31 Juli 1991 kuliah di UPI jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, menulis puisi dan bergiat di ASAS UPI (Arena StudiApresiasiSastra).

Info: http://www.sastradigital.net/#!vstc9=will-azhari/vstc1=edisi-bulan-ini

Sajak-sajak La Ode Gusman Nasiru Sastra Digital


Menukik Ilalang

seorang perempuan
memungut bungabunga di tepi pekuburan
ia bersajak seiring napas rembulan
kepada arwah embun
dan malam berkabut lalu menerbangkan
doadoa untuk kekasihnya yang tengah terbang melintasi ilalalang

lalu tibatiba doanya menukik
berubah belatung dan lalatlalat
menderasi ngarai pelupuk
ia menangisi air mata
yang pecah untuk kekasih
-sesederhana rintih ritual kematian

Dalam malam, 03 05 11



Mendaki puncak Amarilis

sejauh pendakian
reranting puisi wukuf ke tepi senja
kunangkunang mematangkan suhu malam
cuaca berkelana sepanjang langit
dan hujan tak berkecipak
bilakah petir membakar kabut?

di punggung, ransel disesaki ambisi dan anganangan
kita lantas menanak jiwa di puncak perapian
bernyanyi bersama pekat napas perbukitan

di kejauhan, rumahrumah, bioskop, kafe,
kapalkapal merapati dada pelacur
dan laut pucat membisu dalam
kemuraman paripurna

mari memasang tenda lalu kita
menghitung jumlah puisi di utara
sebelum fajar menetas di pucuk dermaga

Terkenang pendakian pada 2008

Kendari, 05 05 11


La Ode Gusman Nasiru, lahir di Bau-Bau, 18 Juni 1989. Karya-karyanya pernah dimuat di: Dinamika (Bandar Lampung), Batam Pos (Batam), Harian Global (Medan), Kendari Pos (Kendari), Timur Merdeka (Kendari), Fajar Online (Makasar), Tabloid Oase (Kendari), Kedai Estetik (media online), dan blog sastra Sulawesi Tenggara. Pernah menjadi Juara I Sayembara Cerpen Antinarkoba Provinsi Sulawesi Tenggara (2008) dan juara II dalam lomba baca puisi se-Sulawesi Tenggara III (2009).

Wednesday, 15 February 2012

Puisi-Puisi Akhiriyati Sundari


Puisi-Puisi Akhiriyati Sundari
Posted by PuJa on February 14, 2012

Kabut di Trowulan

Kesiur angin ketuk malammalam paripurna
Bulan Juli mengering
Singgah di pucukpucuk tunas
Trowulan yang menulis ingatan
Halimun berkerubung, ngungun
Mendekatkan aku pada wajahwajah masa lalu
Mahapatih Gadjahmada– Dyah Ayu Pitaloka
Sepasang kekasih prahara
Yang menitikkan cinta
Di antara nguar harum melati
Meski tanpa puisi
Kau lihatlah telapak tanganku yang kusam
Wahai kota dengan sejuta elok cerita
Tatkala kepalaku runduk membaca riwayatmu diamdiam
Geliat kotamu, molek
Mematung di cermin peradaban
Tak usaiusai berdandan
Entah apa yang kini tengah berkelindan
Kau tataplah ceruk mataku penuh isyarat peristiwa
Wahai kota dengan sejarah jelita nusantara
Jiwaku haru di depan jagad ketakmengertian
Saat aku lihat orang-orang
Bergegas menyulut masa depan
Maka,
Kumohon tak kau halau hadirku dengan putih kabutmu
Namun antarkanlah aku
Menaiki angin yang menipiskan bayangan dan kenyataan
Akan aku sibak rekah tanahtanah
Yang tak lapuk memuntahkan sejarah
Hingga buram mataku benarbenar tak lagi mampu menjamah

STIT Raden Wijaya Mojokerto, 11 Juli 2010

Perempuan yang Mencemaskan Hujan


buat AriZur Ea
Tibatiba kau menaiki hujan
hujan umpatan
Menera rindu meski patahpatah
[Pada selembar senja
Yang tak kunjung jingga
Terendap di cangkir kopimu]*
Lalu kau melarikan diri ke laut
Mencaricari sunyi yang karam
Di antara gulungan ombak dan hempasan
bijibiji kenangan
Kau akui sebagai harapanmu yang hilang
: harapan yang jahat, karena hanya memperpanjang usia kesengsaraan
Kenapa hujan kau cemaskan
Jika hanya memandu sajakmu tentang
Kekasihmu yang asu..
Tidakkah rencana kerja
Peta tak jelas penghuninya
Sampah bodoh di ruang rapat serta
Kertaskertas berkeringat
Lebih mencemaskan bagi kita?
Hanya di hadapan purnama kau
tampak bertenaga
Mengutuk rindu yang penghabisan
Rindu yang sempurna
bungkuslah
dan bawa pulang!

Ngestiharjo-Wates, 2009

*] dari Sajak AriZur EA dalam “Seorang Gadis, Sesobek Indonesia” (Lumbung Aksara, 2006)

Monday, 13 February 2012

Sajak-sajak Faisal Syahreza Jurnal Nasional


http://www.jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=Puisi&rbrk=&id=106803&detail=Puisi


Puisi Faisal Syahreza
by : Arie MP Tamba
Puisi Faisal Syahreza

Sajak-Sajak Faisal Syahreza

Kepada Emosi

datanglah padaku
ke dalam puisi yang ditulis sepi ini

aku ingin engkau bangunkan rumah
di dadaku yang kosong
engkau tata segala ruangnya
kamar tempat kebahagian terlelap
ruang tamu penyambut kesedihan
meja makan tempat berbagi kesepian
kursi-kursi diduduki cemas
sebuah dinding biru bagi haru
dan halaman luas, tempat
segala rasa berbaur bercampur di situ

isikan dengan kasih sayang
lagu kasmaraan menjatuhkan ketenangan
lagu patah hati dihapus cinta yang baru lagi

datanglah padaku
aku akan menerimamu
apa adanya, dengan berbagai keadaanmu
baik kupahami ataupun menggelisahkanku.

2009


Dalam Sepi

dalam sepi
bayanganmu menari
memejamkan mataku perlahan
lantas kemudian kau pergi
ditinggalkanya bulan, bintang dan kolam
malam yang sendiri

aku menolak masa lalu
meruntuhkan kata-kata
dalam sajak-sajakku
hati yang menoleh ke belakang
tak pernah sampai di tujuan
hati yang tak merelakan
tak pernah mengenal kegembiraan

dalam sepi
kata-kata bergeming
bulan, bintang dan kolam
serupa pertengkaran besar
dalam diam yang kekal.

2009



Petanda

aku tak pandai membacamu
sesederhana apapun dihadapanku
mulut, mata dan telinga
hanya mampu menangkap seadanya saja

aku tak pandai mendampingimu
sedekat apapun kau di sampingku
darah, angkasa dan alam semesta
bukan isyarat masa
juga ramalan yang menyembunyikan tuhan

kita jadikan sunyi sebagai kawanan
yang digembalakan setiap malam
kesedihan yang memahat berupa luka
juga kegembiraan berlumuran di gua-gua kegelapan

apa yang dilewati hanya direkam kenang
nama-nama dihapal untuk diucapkan
doa-doa terbang lantas harapan

tapi kita, tak kunjung paham
hanya menyaksikan
pergantian segala rupa
dari yang ada menjadi tiada
dari yang awal menjadi akhir.

2009

Mencintaimu Sangat Mudah

aku begitu mudah mencintaimu
membayangan kata-kata adalah tubuhku
lucu-lucu dan mengerumunimu

segala rupa menjadi tanda
waktu adalah tangan menujumu

cinta tak diucapakan musim
rindu tak dikabarkan angin

kutulisa sajak-sajakku
pada lembar ingatan
kukenangkan pada kesunyian
kupeluk erat-erat dengan gemetaran

malam mengasuhku di kegelapan
bintang-bintang mengerling
dari angkasa yang jauh
sampaikah cahaya itu padamu?

atau kau mau dengar pernyataanku?

-aku begitu mudah mencintaimu

2009



Kepada Hatimu

aku tak ingin punah
di kedalamanmu itu
meski hari berlanjut hari
mengubur yang lalu

meski pendatang menyesakkan
mengusik yang bertapa diam

aku tak ingin punah
di hatimu yang lapang
kau bersabar pada kenang
aku coba bersandaran dalam temaram

kita saling mengasingkan ruang
untuk dihuni yang tak terjamah
membuat duka nyaman tersimpan
merelakan kegembiraan tinggal di luar

aku tak ingin punah
karena keyakinanmu goyah
kita berbagi tempat yang ramah
aku di hatimu akan berkemah
kau di dalam hatiku kutunggu sampai betah

2009

Taman Partere

partere, aku adalah denyut jantungmu,
mengenang yang tak pernah berhenti
mengalir dari sungai masa lalunya sendiri

aku menyaksikan angin berhembus
dari arah yang tak tentu
menabuh segala pilu.

pohon, batu dan kolam diam
kubaca kalian dalam sajak-sajakku
yang tak kekal itu.

aku duduk menyapa mereka
mengira-ngira di mana luka sembunyi
dan sesekali daun-daun terjatuh
membawa peristiwa dari yang jauh
ranting-ranting tua patah
perlambang usia digerakan tuhan semesta

lantas semua rupa waktu
tak mampu meninggalkanku.
mereka bisu dan akan tetap seperti itu.

2009

Nyanyian Kekosongan

musim mengitari raga semesta
hari menandai mereka yang pergi
doa mengantarnya terkubur ingatan

perpisahan resiko pertemuan
rindu airmata memabukan
kenangan sumpah tak terucapkan

hujan kata-katamu tuhan
lautan melabuhkan kepada sayang
bumi dan langit pelukan panjang

sampai mereka menghilang
dalam gelap malam
sampai mereka saling
menghancurkan dalam kiamat
sampai mereka saling melunasi
dendam dan kebencian

aku tak pernah berhenti
melantunkan nyanyian ini,
kembalilah semua pada kekosongan belaka

2009



Larut Malam
- wia tatistika

mata hanya menangkap cahaya belaka
tempat segala warna berkumpul ada

suka, duka, gembira dan luka
beradu lalu mengaduh di malam buta

kedatanganmu aku terima
wajahmu mengetuk pintu yang terbuka

doa-doaku surat tak berlamat
biarlah kata-kata mengutus dirinya sendiri

kujamu kau dengan penuh gelisah
tangan tak sampai kemudian gemetar
jantung memanggilmu berdenyar

aku jaga kau dari kehancuran
puing kenangan kedukaan

tapi lamat-lamat tak tertahankan
engkau larut ke dalam hati

meski di hatimu sendiri
cinta menolak bersenyawa lagi.

2009

Sajak-sajak Syahreza Faisal Seputar Indonesia


Sajak-sajak Syahreza Faisal
Kepada Kesenangan

aku tak bisa menggenggammu
seerat daun pada rerantingan
atau akar pada tanah
engkau akan datang
bagiku bagai malam
menutup segala pandangan
menghitam memelas diam

juga engkau akan menghilang
bagiku bagai bulan
menyisakan auman di dada kekosongan

aku persembahkan waktuku
untuk membangunmu dengan hidup
aku korbankan keyakinanku
untuk membujuk kehadiran sosokmu

tapi engkau masih saja liar
sejenak enggan bermukim
aku begitu menangkapmu
sekelebat kau nyata, lantas
kembali menjadi bayangan.

2009



Kepada yang Bermuram

lebih indah ketimbang puisi
adalah senyuman tak kekal
yang disimpan di hati abadi
mimpi-mimpi menjadi obat
di kala sakit karena gelap

padamu aku kecewa
tanah, api dan cahaya
selalu mempermainkan kita
dan kita ramu kata jadi duka

berhala-berhala airmata
seakan menakuti kita
dari jendela-jendela terbuka

keesokan yang buta
bukan fana
masa lalu yang lewat
adalah peta
rupa bagi peristiwa

kemana engkau tiba
di sana kau harus bahagia
tanah, api dan udara
mereka hanya bagian kecil
dari penciptaan kita

2009


Sajak Cinta

aku dan engkau menyukai peluk
tangan melingkar di badan
dada saling bertemu jadi waktu

degup jantungmu
berdenyut jadi nadiku
perasa pada kulitmu
menjadi hati beribu pintu

aku dan engkau menyukai peluk
menjadikan dunia jadi satu
surga-surga dijanjikan tuhan terlupa

tatapan matamu
jadi sejarah baruku
suara tertangkap telingamu
bernyanyi di lubuk jiwaku

aku dan engkau kini peluk
tak terpisah jarak dan waktu
dan akan selalu bersentuhan
di alam raya mana pun

aku dan engkau kini satu
tak terpecahkan batas dan ruang
dan akan selalu bertemu
di maut yang kapan pun

2009



Kepada Penakut

meski kau bukan penakluk maut
kau bisa berteman dengan ketakutan
kau akan menemukan
hari-hari panik menembusmu
sia-sia yang menjadi mimpi panjang
dan harapan berdengus membencimu

tapi aku paham
setiap perasaan
menduduki ruang
setiap hati
bersetia dan sabar

penantian bukan kecemasan
dan merindukan bukan dendam

apalagi yang kau anggap kengerian
bila sudah berhadapan
segera lunasi
kebahagian kalian
musnahkan setiap
gejala hidup
beban-beban kiriman
dengan menjamu baik
rasa takut itu

2009

Sajak-sajak Faisal Syahreza Suara Pembaruan


http://suarapembaruan.com/News/2009/07/26/index.html

Puisi Faisal Syahreza


tentang ciuman itu


sering kali hujan
tak pernah
mengenangkan padamu.
bagaimana gigil daunan
dihunjam titik titik air
dari celah langit.

itulah bibirku, yang gemetar.
yang kini lepas
dari pagutan waktumu.


jakarta, 2009


pesta pernikahan

nyala mata kita,
ialah jalan menuju
perpisahan yang panjang.
lemparan bunga, atau
foto bersama. memeram luka
dan peristiwa. bersiaplah
tuhan, aku datang
mengajakmu berdansa.

anggur dan kue yang menganga.
mengujimu dengan setia.


hotel mulia-jakarta 2009


sebab engkau luka

tuhan, sebab engkau
menganga bagai luka
aku kuncup bunga
yang menoreh dasamuka
di semesta
yang buram di gelap
mata, matahari tak
pernah benar benar berjarak
dengan kita

hotel mulia-jakarta 2009


lemparan bunga

lewat lemparan bunga
aku intip wajahmu memerah, tuhan.
api apa yang sedang aku nyalakan?
keyakinan yang goyahkah,
karena kekayaan begitu menggairahkan
untuk kupersemayamkan
dalam keringat dan
tetes ibadah angan?

hotel mulia-jakarta 2009


pada sebuah pernikahan

tuhan, bolehkah
engkau kugantikan dengan
gedung gedung tinggi menjulang,
berkas berkas penggusuran, lampu
kristal dan putih punggung perempuan.
semua itu

menjalar dalam darah perkotaan
sampai aku pada muara pertikaian
antara iman, dan pernikahan
yang disalib anggur
dan sea food yang menawan
bagai anyir darah dari keningmu, tuhan?

senayan, 2009


mi ayam

aku dan engkau menikmatinya
senja itu. terasa mengulur perpisahan,
mengaduk aduk waktu.
kukulum minya seperti
menggulung perih. sebab aku tahu
kini engkau mungkin
menikmatinya dengan bibir
yang entah dicium oleh siapa.

namun kini sendirian, kurebus
nyeri. dan seakan mengembang
mi dalam tubuhku, helai
demi helai kasih sayang berlepasan.
dan ketika aku sadar, tak ada
lagi saus pedas, hanya ada darah
yang mengalirkan kedukaan yang panjang.
tak ada sendok garpu yang
mampu menggali kenangan indah itu.

semenjak aku kenali
hidup serupa semangkuk mi ayam, dengan
berkuah airmataku.

karangtengah, 2009