Pages

Wednesday, 9 May 2012

Sajak-Sajak Usman Arrumy


Sajak-Sajak Usman Arrumy
Posted by PuJa on May 9, 2012


DENDAM TERDALAM

berkelabat kabutku kaurekahkan rindu paling sembilu, menjulur panjang seluhur lelaku kasih sayang, dengan leluasa renungku meruang menafsir cinta serupa sihir.
aku bermukim di rahim terdalam tempat kau melesakkan dendam, aku terdiam di redam ranum ronamu yang dulu selalu kukulum, kuibaratkan kau api yang rindu di dalam tungku, melepas hawa hangat di lelubuk kalbu.
seperti helai hunian sewaktu malam, terbenam oleh cumbuan gelap menjelujur senyap, kuhasratkan rinduku berarus di tengkorak benakmu, agar padam dirimu dari lebam sesiul dendam,
kau akan kembali tergurat ketika aku nyungsep ke liang gurit, selengang erang burung elang, kusepuh lelayu bayu berjingkat di rumbing rindu.
cinta adalah ketika nadimu berdetak mengeja namaku, butuh kaurengkuh lalu rekah di jalur ruh, mengurai reruntuk rindu di kedalaman dendam yang semayam di ceruk cinta
17042012 demak

ANGIN

dari mana angin yang kali pertama kuhela?
hembus ke seluruh semesta
memasukiku bertubi-tubi – menari di sepanjang urat nadi
aku butuh kau sentuh bila ruhku hendak luruh
Di mana kau yang dulu rela terhirup demi hidup berdegup, kini ?
halus menjadi humus masa lalu.
dambaku, ingin sekali lagi diriku kau masuki
sebelum aku mati di koyak sepi.
kemana kau yang kali terakhir jatuh di jejurang jantungku?
lepas dan hempas entah kemana
bergerak tanpa jejak saat diriku baru mulai berdetak
beranjak ke jarak yang membikinku tak lagi mampu merindu
kearah mana kau yang dulu berdebum merengkuhku saat mula hidupku terbuka?
bagai musafir, kau ngalir sejak masa paling purba
kau pergi, sendiri, tanpa bunyi di ruang sunyi
melenggang, seperti terbang ke awang-awang
sampai kapan kau berkelana di luar sana?
mencari hening setelah lelah menjadi nafasku.
di jantungku, kau lembut, hanyut merangkai denyut
sampai aku takjub pada dirimu yang tak berwujud
kau cinta yang kali pertama kuhela
kuhirup semauku sebelum aku di jamah maut
14 april 2012 demak

RINDU SEHENING BATU

demi paru-paru yang menampung seluruh rindu
aku mengalir di dalam waktu – bergulir sehening batu
aku bergerak nuju jarak – ruang istirah untuk nulis sajak.
di hatimu, seluruh damba, rusuk rinduku yang selalu kupeluk bila dirimu tiada.
di jantungmu, seluruh denyut, di situ aku berdegup – mengharap dirimu segera nguncup.
kubebaskan diriku mengembara di dalam renungmu ketika rindu adalah sedu yang mengusik hidupmu.
kubiarkan diriku khusuk mengeja rindumu ketika fajar mulai tergetar.
dan aku hafal seluruh lafal yang tersusun di sudut kebun tempat kau di sentuh embun
di kota itu, mula aku mengenal biru matamu
kubisikkan cinta paling mawar terhadap hidupmu
seperti kali terakhir kau-aku temu –kini aku masih tersedu
dan gema cinta senantiasa bergaung di situ
Aku bersimpuh di dalam dirimu yang selalu luruh
tersedu di bekap rindu, sepasrah geliat tanah liat.
aku mencintaimu
seperti tanah menjamah jasad di liang lahat
setulus angin yang menjadi nafasmu
12 april 2012, demak malam jum’at

DI BISIKI CINTA

kau, hening yang merentang di sekujur ruang
aku, hampa yang menghampar di dalam kenang
di ronggaku kautiup udara yang terjelma dari cinta
kau nyusup memasukiku rinduku mengembara
di bisiki nafasmu endapkan resah denyutku menderu
seluruh lakumu di sepanjang waktu adalah rindu
kauhela hirup aku jantungmu berkidung
aku terkurung di dalam jantung denyutmu bersenandung
harpa harap yang meruap itu jatuh ke dalam ruh
dan riap renjanamu menumbuh sebelum luruh
di rasuki nafasmu doaku meluap jadi gemuruh
di bisiki cintamu
nafasku hempas menjelma dirimu
di bisiki cintamu
hidupku bergerak menujumu
2 april 2011. demak

Reactions:

0 comments:

Post a Comment