Pages

Showing posts with label Novel. Show all posts
Showing posts with label Novel. Show all posts

Wednesday, 18 April 2012

Download Novel Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari


BEKISAR MERAH
Ahmad Tohari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan keempat th.2001, 309 halaman

Dalam perjalanan saya bersama isteri dari Jakarta – Semarang – Yogyakarta – Jakarta dengan VW kodok kami, kami mampir di sebuah toko buku. Kami membeli beberapa buku, di antaranya sebuah novel karya Ahmad Tohari, Bekisar Merah, yang pernah dimuat di harian Kompas tahun 1993 yang lalu. Meski sudah lebih dari limabelas tahun lalu, namun novel ini masih merupakan salah satu novel bagus dari Tohari, di samping triloginya yang terkenal: Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari dan Jentera Bianglala.

Buku ini mengisahkan tokoh-tokoh yang hidup di desa kecil Karangsoga, yang kebanyakan penduduknya bekerja sebagai penderes nira kelapa untuk dibuat gula merah. Karena nafkah utama berasal dari penderesan nira dan pembuatan gula kelapa saja, maka mayoritas
penduduknya hidup dalam kemiskinan. Pasangan Darsa dan Lasi (Lasiyah) menjadi tokoh utama dalam novel ini. Darsa yang penderes, beristerikan Lasi yang cantik dan berkulit putih, yang mempunyai nilai fisik di atas rata-rata isteri-isteri para penyadap lain. Ternyata Lasi merupakan keturunan campuran antara mbok Wiryaji dengan seorang tentara Jepang yang setelah pernikahannya, tidak pernah kembali ke desa dan hilang tidak tentu rimbanya – kabarnya ditahan Belanda.

Kemiskinan penduduk digambarkan dengan sangat menyentuh oleh Tohari. Pemahaman kondisi sosial masyarakat miskin, yang erat kaitannya dengan struktur perdagangan gula yang tidak pernah adil, digambarkan dengan sangat rinci. Kekuatan lain dari novel-novelnya adalah pemaparan yang sangat artikulatif tentang alam pedesaan. Pembaca seolah dibawa ke alam pedesaan hingga dapat merasakan angin sejuk pagi hari yang semilir, menyaksikan burung jalak yang memberi makan anak-anaknya, kelentang-kelentung bunyi pongkor (bambu untuk menadah getah nira), ataupun gemericik sungai Kalirong yang jernih yang airnya mengalir lewat batu-batu berlumut. Pemahaman tentang masalah sumberdaya alam juga sangat dalam, misalnya tentang perusakan hutan tutupan oleh penduduk setempat karena faktor kemiskinan mereka. Tidak ada alternatif untuk memperoleh keuntungan sedikit lebih, dengan ‘mencuri’ kayu sebagai bahan bakar membuat tengguli, bahan gula merah.

Musibah yang sering terjadi di kalangan para penderes nira adalah jatuh dari pohon kelapa. Demikian juga nasib Darsa. Karena jatuh, yang dalam kebiasaan masyarakat disebut sebagai “kodok melompat” (pantang untuk menyebut jatuh dari pohon kelapa – sebagai pengingkaran rasa takut komunal), Darsa sempat menderita kelainan di sekitar alat reproduksinya, lemah pucuk. Diapun, karena miskin, hanya dirawat oleh seorang dukun bayi, Bunek. Lasi dengan setia tetap menemani suaminya meski dalam kondisi lemah dan selalu ngompol. Lama kelamaan, karena pengobatan intensif yang dilakukan Bunek terutama pada sekitar selangkangan Darsa, diapun bisa pulih kembali. Pada malam “kebangkitan kembali” si Darsa, Bunek minta agar dicobakan pada Sipah, perawan tua anak Bunek sendiri. Meski mengalami kebimbangan luar biasa karena pergulatan seru antara nilai-nilai kesetiaan, norma sosial, nafsu berahi, serta utang budi, akhirnya (dalam keputusan yang lebih banyak impulsif) Darsapun memenuhi permintaan Bunek. Sipah pada akhirnya minta untuk dikawin. Pengkhianatan Darsa membuat jagat kecil Lasi bergoncang dengan hebat. Dia lalu nekat minggat dari desanya dengan menumpang truk pengangkut gula, menuju Jakarta.

Cerita lalu banyak membedah batin Lasi. Sebagai perempuan desa yang cantik yang telah terbiasa hidup dengan segala kemiskinannya selama dua puluh empat tahun, secara tiba-tiba dihadapkan dengan norma-norma kehidupan kota besar yang amat sangat asing baginya. Dia yang ditampung sementara oleh ibu Koneng, pengelola warung tempat para sopir truk mampir yang juga menjadi tempat berpangkalnya para perempuan “pacar” para sopir truk, menyaksikan nilai-nilai sosial yang teramat sulit dipahami oleh seorang perempuan desa yang sederhana dengan tingkat pendidikan yang rendah. Misalnya, keintiman lelaki dan perempuan yang selama ini dipahami sebagai perilaku yang didasari oleh percikan jiwa dan cinta, di warung itu bisa terjadi dengan begitu gampang, oleh siapa saja, dengan dasar beberapa lembar uang kertas.

Singkat cerita, Lasi, yang mempunyai kelebihan bentuk tubuh dan wajah yang indah, menjadi “barang dagangan baru” yang langka dan sangat berharga bagi ibu Koneng, yang lalu diserahkan ke Ibu Lanting, mucikari tingkat tinggi yang melayani para pejabat, dengan imbalan sebentuk cincin berlian. Para pejabat pemerintah saat itu diceritakan mempunyai kebiasaan mencari “pacar” atau isteri kesekian yang mempunyai wajah mirip orang Jepang. Ini akibat dari perilaku latah birokrat karena Pemimpin Besar-nya memasukkan seorang geisha ke istana dan akhirnya menjadi ibu negara. Klop sudah, dengan Lasi. Dia yang mempunyai wajah seorang perempuan Jepang, menjadi incaran para pejabat. Diapun lalu ditukar dengan sebuah mobil Mercedes dan beberapa puluh juta rupiah oleh ibu Lanting kepada Pak Handarbeni, seorang overste purnawira yang menjadi pejabat, berumur hampir enampuluh lima tahun, gemuk, dan sudah mempunyai dua isteri. Lasi-pun menjadi seekor
bekisar yang menjadi pajangan di rumahnya yang baru dan mewah di Slipi. Bekisar adalah peranakan ayam hutan dan ayam kampung yang mempunyai keindahan bentuk, bulu, dan kokoknya. Biasanya jenis ayam ini untuk hiasan dalam kandang indah oleh para orang kaya.

Lasi, yang akhirnya dikawini Pak Handarbeni (perkawinan main-main menurut istilah Lasi), menikmati segala kemewahan materi yang tidak pernah terbayangkan oleh bekas seorang isteri penderes nira dari desa Karangsoga. Namun di balik segala kemewahan materi, penderitaan batin Lasipun amat berat. Dia merindukan desanya, emaknya, dan Kanjat, teman sepermainannya waktu sekolah yang sekarang sudah menjadi mahasiswa dan hampir lulus. Pertemuan-pertemuan dengan tokoh-tokoh lama dalam hidupnya membuat Lasi makin linglung karena berdiri di antara dua nilai kehidupan yang dipisahkan oleh jurang yang teramat dalam.

Saya selalu menikmati tulisan Tohari, karena keakrabannya dengan alam pedesaan, dengan penggambaran pergulatan dalam jagat kecil tokoh-tokoh dalam ceritanya, cengkeraman struktur politik negara yang selalu tidak adil bagi rakyat kecil, bahkan pemaparan tentang titik nadir terendah dalam kemiskinan seseorang di mana yang ada hanyalah kepasrahan total. Tidak ada alternatif. Kemarahan karena perlakuan yang tidak adil dalam hidup tidak tahu harus ditumpahkan kepada siapa. Kepekaan Tohari dengan kehidupan masyarakat miskin membuat kita (sebagai orang Jakarta metropolitan) berhenti sejenak. Membuat kita berpikir dan merasakan, betapa ada jenis kehidupan lain yang berbeda dengan jenis kehidupan kita. Betapa masih ada jagat dengan seluruh tatanan nilai yang sangat asing bagi kerangka pikir dan tatanan nilai kita. Namun, tatanan nilai asing tersebut selalu mampu mengajak kita untuk mengasah lagi pisau nurani kita yang barangkali telah tumpul oleh kenikmatan materi dalam hidup sehari-hari. Hidup yang kering dari kesejukan nurani.


Download

Download Novel Di Kaki Bukit Cibalak karya : Ahmad Tohari


Judul : Di Kaki Bukit Cibalak
- Pengarang : Ahmad Tohari
- Tahun : Cetakan ketiga, Agustus 2005
- Tebal buku : 176 hlm.
- Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Ringkasan Cerita
Novel ini menceritakan mengenai kecurangan-kecurangan politik di sebuah desa, Tangir namanya. Berawal dari penggambaran Kaki Bukit Cibalak, dimana tempat tersebut dulunya sangat alami, dan syarat akan suasana pedesaan kemudian berubah menjadi suasana yang kacau, bising kendaraan bermotor dan traktor-traktor pembajak sawah, dan sebagainya.
Setelah itu terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam bidang politik, ketika salah satu calon lurah menggunakan cara kotor agar dapat memenangkan dirinya menjadi seorang lurah di daerahnya. Dari situlah sosok Pambudi muncul sebagai tokoh yang sangat menentang adanya tindakan kotor tersebut.
Pambudi yang terpojokkan karena adanya penyimpangan-penyimpangan tersebut di atas, merasakan keresahan: di desa yang sekecil Tanggir, di tengah infrastruktur yang seminim di Tanggir, dihadapkan pada pilihan yang sesedikit di Tangir. Tak pelak lagi, kota menjadi tanah terjanji bagi Pambudi si anak desa. Pertama kali Pambudi menunjukkan keberhasilannya di kota melalui kecakapannya. Dia merangkul sebuah harian lokal untuk mencari dana pengobatan tetangganya yang mengidap kanker. Semenjak itulah Pambudi sangat disegani dan dihormati karena kebaikan luhur budinya.
Kejadian tersebut membuat Pak Dirga—lurah Desa Tanggir—merasa terusik dan berusaha untuk menjatuhkan nama seorang Pambudi. Ia menebarkan berita kalau Pambudi menyelewengkan dana koperasi. Akan tetapi, Pambudi tetap tenang dalam mengatasi persoalan tersebut. Ia lebih memilih mengikuti anjuran orang tuanya untuk pergi ke kota atau kemanapun, yang penting jauh dari Desa Tanggir. Apapun yang ia lakukan disana terserah, yang penting ia lekas pergi dari desanya yang banyak menyimpan kepahitan. Dan dia pun berhasil hidup tenang di Yogya. Setelah lama berada di Yogya ia memutuskan untuk kuliah atas anjuran temannya. Selain kuliah, ia juga bekerja pada Harian Kalawarta yang pernah menerimanya. Ia hidup dengan tenang di Yogya sampai akhirnya memperoleh gelar sarjana. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, ayahnya telah meninggal dunia terlebih dahulu sebelum ia sempat pulang kembali ke Tanggir.
Sejak saat itulah ia kembali bertemu dengan Mulyani—anak gadis mantan majikannya dan adik kelasnya di kampus. Pertemuan itu kemudian berlanjut menjadi kisah cinta antara mereka berdua. Pambudi hendak meminangnya sebagai istrinya.

Download

Download Novel Kubah karya Ahmad Tohari

Judul : Kubah
- Pengarang : Ahmad Tohari
- Tahun : Cetakan ketiga,    2005
- Tebal buku : 189 hlm.
- Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Ringkasan Cerita
Novel kubah menceritakan tentang seorang aktivis politik yang sempat terjerumus ke jalan yang salah. Berawal dari pembebasannya dari pulau B, ia bermaksud pulang ke kampung halamannya, Pegaten. Namun, keraguan menghinggapi dirinya, sehingga ia urung pulang kembali ke keluarganya.
***
Sewaktu kecil, hidup Karman sangat sederhana setelah ditinggal ayahnya untuk selamanya. Hidupnya serba susah. Sampai-sampai ia hanya bisa menamatkan sekolah SMP, itupun atas bantuan dari Hasyim—pamannya. Semasa kecilnya ia sudah diajarkan bekerja keras. Untuk makan sehari-harinya ia harus bekerja membantu setiap pemanen yang hendak memanen sawahnya. Ia juga bekerja pada Haji Bakir, ia disuruh menjaga dan menemani Rifah—anak bungsu Haji Bakir—bermain.
Ketika dewasa ia dikenal sebagai sosok yang cerdas dan sangat berpotensi dalam bidang politik. Meskipun demikian, ia memiliki sifat mudah terpengaruh oleh orang lain. Hal tersebut menjadikannya terjerumus kejalan yang salah. Ia menjadi salah satu anggota PKI.
Setelah kejadian G30S/PKI, dimana para anggota PKI menculik dan membunuh perwira-perwira tinggi negara, Indonesia mengadakan pembersihan paham komunis. Siapapun yang bergabung dan berhubungan dengan PKI ditangkap dan dijebloskan ke penjara, termasuk Karman. Di dalam penjara tersebut Karman benar-benar mengakui kalau selama ini dia telah masuk ke dalam faham yang salah. Ia mulai mengerti bahwa ajaran PKI itu salah.
Setelah keluar dari penjara, ia tidak lagi hidup bersama istrinya. Karena istrinya sudah menikah lagi dengan laki-laki lain. Akan tetapi, hal tersebut tidak berlangsung lama, Marni—mantan istri Karman—akhirnya kembali kepelukan Karman. Mereka menjalani hidup normal. Hingga pada suatu ketika, Karman melihat masjid milik Haji Bakir telah usang dan terlihat sangat tua. Ia ingat dengan pendidikan keterampilan bertukang saat dia berada dipenjara. Ia lalu menemui Haji Bakir, dan menawarkan diri untuk membangun kubah asalkan materialnya disediakan, dan Haji Bakir menyetujuinya. Dan akhirnya proses pembuatan kubah dan perbaikan masjid itu selesai. Karman beserta yang lainnya sangat puas sekali. Setelah itu, Karman menjadi sangat dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hingga akhirnya ia menadi rajin beribadah.

Download

Friday, 6 April 2012

Download Novel Laila dan Majnun

Sebuah Kisah tentang Qais yang berwajah tampan dan Laila yang terkenal akan kecantikannya, Dimana Akhirnya cinta mereka kandas karena adat melarang mereka,untuk mengekspresikan gelora cinta Mereka Yang terlarang,Maka,ditumpahkanlah segala rasa rindu dan cinta Mereka yang ada dalam bentuk syair dan puisi yang mengalir menentang takdir mereka.

Download

Wednesday, 7 March 2012

Download Novel "Kearifan Pelacur"

SINOPSIS BUKU - Kearifan Pelacur : Kisah Gelap di Balik Bisnis Sek dan Narkoba
The Wisdom of Whores adalah sebuah buku mengenai hidup dan mati, seks dan narkoba, yang ditulis oleh seorang wartawati dan ahli epidemiologi asal Inggris yang pernah lama menetap di Jakarta. Dalam buku yang berani dan 'berbahaya' ini tergambar kehidupan dalam dunia HIV/AIDS internasional yang berputar di sekeliling hotel-hotel dan pusat-pusat konvensi yang mewah, maupun di jalanan kumuh kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya di dunia. Ditulis dengan renyah dan amat menarik, buku ini mengungkap seluk beluk permasalahan AIDS yang berkelindan di antara meja birokrasi, kamar-kamar rumah bordil, dan transaksi bisnis bernilai milyaran dolar. Buku ini juga berkisah tentang harapan dan kekecewaan. Sebuah buku mengejutkan dan kontroversial yang akan membuka mata dan hati Anda.

***

"Bagiku, ada persamaan antara Indonesia dan virus HIV, yaitu, keduanya bisa merasuki darah Anda dan akan tetap bercokol di sana seumur hidup. Untung saja, akibat dari tertular 'virus Indonesia' tidaklah sedemikian menghancurkan seperti halnya HIV … Buku ini bukanlah sebuah buku mengenai Indonesia, tetapi memang banyak dari apa yang diceritakannya terjadi di Indonesia, negeri yang telah paling banyak mengajariku mengenai seks, ilmu, dan kehidupan."
—Elizabeth Pisani

Download

Sunday, 4 March 2012

Memahami Sejarah Muhammad Lewat Novel

Memahami Sejarah Muhammad Lewat Novel

Judul Buku     : Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan
Penulis           : Tasaro GK
Penerbit         : Bentang Pustaka
Cetakan         : Ketujuh, 2011
Tebal              : 546 Halaman

Tak seorang pun yang meragukan kiprah Nabi Muhammad dalam menyebarkan agama Islam dengan pemeluk terbesar di dunia itu. Bahkan, Michael H. Hart dalam bukunya Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, menempatkan Muhammad pada urutan pertama sebagai tokoh berpengaruh dalam sejarah.

Alasan pokok yang jadi pegangan Michael H. Hart mengapa dia menempatkan Muhammad pada urutan pertama dalam bukunya, karena Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen (sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme).

Lazimnya, buku Shirah Nabawiyah (sejarah Nabi) ditulis dalam bentuk ilmiah populer. Seperti Haekal dengan buku Sejarah Hidup Muhammad, atau Martin Lings dengan Muhammad. Tapi kali ini, Tasaro GK, mencoba menghadirkan sejarah Muhammad dalam bentuk novel. Dalam buku ini, Muhammad menjadi sosok yang “dicari”, “diperbincangkan”, dan “diburu” oleh para pejalan spiritual dari berbagai penjuru dunia.

Bagaimana mereka menemukan Muhammad? Bagaimana mereka bernegosiasi dengan kenyataan, bahwa, Nabi yang dijanjikan tidak berasal dari kaum mereka, dari agama mereka, tapi membawa sebuah agama baru: Islam.
Inilah novel yang akan mengajak kita menemukan kisah lain di sekeliling Muhammad. Novel yang akan membukakan cakrawala dan perspektif baru tentang sosok Muhammad. Novel yang akan membawa kita berselancar mengarungi sebuah “pengalaman tentang Muhammad”.

Novel Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan berkisah tentang sepak terjang Muhammad Saw., sejak beliau menerima wahyu, proses legendaris Fath al-Makkah (penaklukkan Makkah), hingga beberapa peristiwa peperangan yang melibatkan banyak tokoh seperti Hamzah, Abu Thalib, Umar ibn Al-Khattab dan sahabat-sahabat lainnya.

Selain peristiwa peperangan, novel ini juga mengisahkan romantisme Nabi Muhammad bersama istri-istrinya; Khadijah, dan juga Aisyah. Kisah yang heroik dan romantis mendominasi novel Tasaro GK yang fenomenal ini.
Tidak hanya kisah cinta Muhammad dan Aisyah. Dalam novel ini kita juga akan berjumpa dengan tokoh fiktif bernama Kasvha yang pergi dari Suriah, meninggalkan Khosrou, sang penguasa Persia, tempatnya mengabdikan hidup demi menemukan lelaki itu: Muhammad. Yang kelahirannya akan membawa rahmat bagi semesta alam, pembela kaum papa, penguasa yang adil kepada rakyatnya.

Novel ini menjadi pengantar sekaligus jalan mempelajari dan memahami kisah-kisah heroik seorang Muhammad. Menyelami peristiwa demi peristiwa bahwa perjuangan Muhammad menyebarkan ajaran Islam tidaklah mudah.
Menikmati kisah demi kisah dalam novel ini kita seakan-akan hadir dan turut serta dalam rangkaian peristiwa yang terjadi di sekitar Nabi Muhammad Saw. Bahwa perjuangannya dalam membela kaum tertindas pada zamannya patut dijadikan contoh. Bahwa seperti dialah pemimpin sejati yang pantas dijadikan suritauladan, hingga abad ini.

Tuesday, 28 February 2012

Download Novel "Reofilia" Usman Nurdiansyah dan Amran Halim

Thursday, 9 February 2012

Download Kumpulan Novel AA Navis

Kisah ini diawali dengan menceritakan latar belakang kehidupan keluarga seorang gadis yang mengalami kecacatan sejak lahir. Karena musibah yang menimpa keluarganya menyebabkan ia menjadi hidup sebatang kara. Seluruh keluarganya tewas akibat kecelakaan lalulintas. Mobil yang ditumpangi keluarganya masuk jurang karena dihadang pemberontak. Sementara ia (si gadis) pada waktu itu tidak ikut karena ia sakit bersama pembantunya. Kabar kematian keluarganya baru diketahui beberapa hari kemudian, itu pun dari pamannya, setelah pamannya menerangkan dengan susah payah karena si gadis sulit mengerti karena ia bisu tuli.
Semenjak anggota keluarga yang dicintainya telah tiada, ia mengalami kesedihan yang tiada tara, ia selalu terkenang akan saat-saat keluarganya masih ada. Sungguh adanya keanehan perasaan yang dialami ketika merenungi semua yang pernah ia alami beserta saudara-saudaranya. Tampak jelas kasih sayangnya kepada si gadis. Sayang, mereka telah tiada.
Ia masih ingat hanya satu hal yang tidak diberikan ayahnya. Ia tidak disekolahkan ayahnya seperti saudara-saudaranya karena waktu itu belum ada sekolah untuk orang bisu tuli. Sebelum kejadian yang menimpa keluarganya, si gadis termasuk keluarga yang cukup berada pada waktu itu. Ayahnya bekerja di pemerintahan dengan kedudukan tinggi dengan selalu membawa mobil dinas dengan penghasilan yang memadai.
Dengan terjadinya musibah bisu dan tulinya itu, ia harus rela mengikuti keputusan keluarga yang lain. Ia harus kembali ke Padang Panjang meninggalkan kota Jakarta yang telah memberi tempat cinta kasih sayang keluarganya.
Ia dijemput oleh pamannya yang bernama paman Angah. Di atas kapal yang menuju ke Padang Panjang, ia mendapatkan pengalaman yang menyakitkan. Di geladak kapal rupanya ada pula penumpang  bisu yang menjadi bahan cemoohan penumpang lain. Karena melihat tingkah dan gerak-geriknya yang menjadi bahan tertawaan. Bahkan orang bisu itu melecehkan si gadis. Ia menangis karena nasibnya telah dimalangkan oleh lingkungannya. Pengalaman di kapal telah membangkitkan keinginan untuk menjadi orang bisu tuli yang hebat.
Tibalah di rumah Angah. Keluarga Angah terdiri dari empat orang yaitu istrinya, Busro serta adiknya Bisri. Mereka menyambut kedatangan si gadis dengan ramah begitu juga tetangganya.
Mulailah ia menyesuaikan diri dengan keluarga Angah. Mula-mula untuk mengisi waktu dengan cara ikut menggembalakan itik. Namun cobaan pertama datang dari anak kecil yang suka mengganggu bila bertemu menggembalakan itik. Mereka kadang-kadang melempari si gadis bahkan sampai berdarah. Namun karena kesulitan untuk melaporkan, kejadian yang sebenarnya ia pendam sendiri. Suatu ketika ia diganggu kembali oleh anak-anak sampai kepalanya berdarah dan jatuh pingsan, ingat-ingat ia sudah ada di rumah serta banyak orang menungguinya.

Download


Robohnya Surau Kami


SINOPSIS


Sewaktu saya duduk di bangku SMA dulu, guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, ibu Sri Murtiningsih pernah membacakan sebuah cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis. Cerpen ini bercerita tentang kisah seorang kakek penjaga surau yang merasa sedih dan murka, sehingga akhirnya bunuh diri karena cerita seorang tokoh bernama Ajo Sidi tentang Surga dan Neraka. Bagi yang belum pernah baca, bisa klik disini dan bisa juga datang ke toko buku terdekat untuk membeli atau sekedar numpang baca. :p

Di cerpen ini, saya tertarik dengan tokoh Ajo Sidi. Saat duduk di kelas 1 SMA dulu, saya berpendapat bahwa Ajo Sidi adalah tokoh antagonis yang secara tidak langsung menyebabkan kematian kakek. Apalagi, diceritakan juga bahwa Ajo Sidi adalah seorang pembual. Tokoh “aku” yang marah pada Ajo Sidi juga mau tak mau mempengaruhi penilaian saya.

Setelah 9 tahun saya tidak membaca cerpen “Robohnya Surau Kami”, kemarin saya berkesempatan untuk membacanya kembali. Saya kembali tertarik dengan tokoh Ajo Sidi. Namun kali ini penilaian saya berubah. Saya tidak lagi menganggap Ajo Sidi sebagai tokoh antagonis, seperti anggapan saya pada saat usia saya masih muda alias masih ababil. Menurut saya, cerita Ajo Sidi tentang Haji Saleh bukanlah bualan belaka. Ia hanya menceritakan kisah yang memang sungguh terjadi. Kisah tentang orang-orang yang menganggap dirinya suci dan rajin namun kurang peduli pada sesamanya.

Meskipun cerita Ajo Sidi tentang Haji Saleh cukup menampar batin si kakek, bukan salah Ajo Sidi jika akhirnya kakek memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan menggorok leher menggunakan pisau yang diasahnya sendiri. Menurut saya, justru si kakek yang salah karena bukannya sadar setelah mendengar cerita Ajo Sidi, tapi malah tersinggung. Bukankah akan lebih baik jika si kakek merenungkan cerita tentang Haji Saleh dan kemudian mengambil keputusan untuk mengubah sikapnya selama ini dan menjadi lebih peduli pada sesama.

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita menjumpai orang-orang seperti Haji Saleh dan kawan-kawannya. Orang “suci” yang memahami kitab suci, rajin beribadah dan selalu berdoa sepanjang hari hingga akhirnya lalai mempedulikan sesama manusia. Sebagai umat Kristen, saya pun sering menjumpai hal semacam itu. Orang-orang yang rajin beribadah, rajin pelayanan dari Senin sampai ketemu Senin lagi. Pulang sekolah, pulang kuliah atau pulang kerja langsung ke gereja untuk mengerjakan berbagai macam kegiatan. Dari latihan paduan suara, rapat natalan, ibadah pemuda, persiapan ibadah, hingga doa semalam suntuk hingga akhirnya keesokan harinya suntuk seharian gara-gara ngantuk.

Kegiatan semacam itu memang bukan hal yang salah. Tetapi ketika kita lebih fokus dalam kegiatan-kegiatan gerejawi yang seolah-olah suci dan kita kurang peka pada kebutuhan orang-orang di sekitar kita, maka sia-sialah semua yang kita kerjakan. Dalam alkitab terdapat 2 hukum yang menjadi pedoman orang Kristen.

“Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

(Matius 22:37-39)

Bukan hanya kegiatan-kagiatan “rohani” yang dapat kita lakukan. Pelayanan kepada Tuhan lebih daripada itu. Lebih dari sekedar berdoa, beribadah dan melayani. Mengasihi sesama kita, peduli pada setiap persoalan yang sedang dihadapi teman kita bisa menjadi bentuk nyata dari beribadah kepada Tuhan. Memang bukan hal yang mudah untuk peduli pada sesama, apalagi kepada bangsa den negara kita. Namun kita bisa memulainya dari hal-hal kecil seperti sapaan pada teman, perhatian pada saat teman berulang tahun, ataupun membayari makan teman saat kita sedang diberkati. Untuk bangsa dan negara, bisa kita mulai dengan membuang sampah pada tempatnya, menjadi orang tua asuh dan sebagainya.

Jika memang kita masih belum bisa melakukan hal besar, jangan lantas kita mengambil tindakan seperti kakek yang mengakhiri hidupnya sendiri. Selalu ada kesempatan kedua, ketiga, keempat dan seterusnya jika kita mau untuk mulai berusaha. Kehidupan yang seimbang dalam mengasihi Tuhan dan sesama tentu akan membuat hidup kita lebih bermakna dan berguna.


Download


Zaim Penyair yang ke istana


SINOPSIS




Di suatu tempat ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk. Hanya karena seseorang yang datang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat, surau itu hingga kini masih tegak berdiri. Orang itulah yang merawat dan menjaganya. Kelak orang ini disebut sebagai Garin.


Meskipun orang ini dapat hidup karena sedekah orang lain, tetapi ada yang paling pokok yang membuatnya bisa bertahan, yaitu dia masih mau bekerja sebagai pengasah pisau. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais rejeki, apakah itu berupa uang, makanan, kue-kue atau rokok.


Kehidupan orang ini agaknya monoton. Dia hanya mengasah pisau, menerima imbalan, membersihkan dan merawat surau, beribadah di surau dan bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. Dia tidak ngotot bekerja karena dia hidup sendiri. Hasil kerjanya tidak untuk orang lain, apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah terpikirkan.
Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau itu. Lalu keduanya terlibat perbincangan yang mengasyikan. Akan tetapi, sepulangnya Ajo Sidi, penjaga surau itu murung, sedih, dan kesal. Karena dia merasakan, apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya.


Dia memang tak pernah mengingat anak dan istrinya tetapi dia pun tak memikirkan hidupnya sendiri sebab dia memang tak ingin kaya atau bikin rumah. Segala kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhannya. Dia tak berusaha mengusahakan orang lain atau membunuh seekor lalat pun. Dia senantiasa bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada Tuhannya. Apakah semua ini yang dikerjakannya semuanya salah dan 
dibenci Tuhan ? Atau dia ini sama seperti Haji Saleh yang di mata manusia tampak taat tetapi dimata Tuhan dia itu lalai. Akhirnya, kelak ia dimasukkan ke dalam neraka. Penjaga surau itu begitu memikirkan hal ini dengan segala perasaannya. Akhirnya, dia tak kuat memikirkan hal itu. Kemudian dia memilih jalan pintas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau cukur.


Kematiannya sungguh mengejutkan masyarakat di sana. Semua orang berusaha mengurus mayatnya dan menguburnya. Kecuali satu orang saja yang tidak begitu peduli atas kematiannya. Dialah Ajo Sidi, yang pada saat semua orang mengantar jenazah penjaga surau dia tetap pergi bekerja.




Download


Tamu yang datang di hari lebaran
Download

Si Bangkak
Download

Angin Dari Gunung
Download

Bayang-bayang
Download

Download Novel "40 Days in Europe"

Sinopsis 

40 Days in Europe menceritakan tentang perjuangan 35 pelajar asal Indonesia yang berambisi menyebarluaskan salah satu budaya Indonesia yaitu Angklung. Dengan misi Expand the Sound of Angklung, pelajar-pelajar tersebut melakukan perjalanan mengelilingi negara-negara yang ada di Eropa untuk menebar pesona Angklung agar orang asing lebih mengetahui kekayaan budaya Indonesia.
Walaupun didera masalah finansial, kelompok pelajar ini pantang menyerah untuk menyelesaikan misinya. Di setiap negara yang disinggahi, mereka berusaha untuk tampil di festival-festival yang diadakan di negara tersebut.
Lebih dari sepuluh kota di berbagai negara di Eropa mereka jelajahi, dan di festival yang mereka ikuti, merekapun berhasil mendapat berbagai penghargaan.
Buku ini menceritakan pengalaman yang menarik sekaligus inspiratif bagi pembacanya, juga memberi pesan moral pada kita agar terus berusaha dalam mengerjakan sesuatu walaupun hanya tersedia sedikit peluang. Buku yang dramatis tapi menghibur !

Download

Tuesday, 7 February 2012

Download Koleksi Novel Pramoedya Ananta Toer

BIOGRAFI SINGKAT PRAMOEDYA ANANTA TOER

Pramoedya dilahirkan di Blora, di jantung Pulau Jawa, pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya ialah guru dan ibunya ialah pedagang nasi. Ia meneruskan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya dan bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.
Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan seringkali ditempatkan di Jakarta di akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen dan buku sepanjang karir militernya dan dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia sanggup tinggal di Belanda sebagai bagian program pertukaran budaya, dan saat kembalinya ia menjadi anggota Lekra, organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno.
Hoakiau di Indonesia
Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, dan pada saat yang sama mulai berhubungan erat dengan para penulis di China. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia. Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Chinanya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau-pulau di sebeluah timur Indonesia.
Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan: 13 Oktober 1965 - Juli 1969, Juli 1969 - 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan, Agustus 1969 - 12 November 1979 di Pulau Buru, November - 21 Desember 1979 di Magelang .
Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun tetap mengatur untuk menulis serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, serial 4 kronik novel semi-fiksi sejarah Indonesia. Tokoh utamanaya Minke, bangsawan kecil Jawa, dicerminkan pada pengalamannya sendiri. Jilid pertamanya dibawakan secara oral pada para kawan sepenjaranya, dan sisanya diselundupkan ke luar negeri untuk dikoleksi pengarang Australia dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.
Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S, tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.
Selama masa itu ia menulis Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995).
Kontroversi
Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsasay Award, 1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat 'protes' ke yayasan Ramon Magsasay. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai "jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang" di masa demokrasi terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.
Tetapi beberapa hari kemudian, Taufik Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu. Katanya, bukan menuntut 'pencabutan', tetapi mengingatkan 'siapa Pramoedya itu'. Katanya, banyak orang tidak mengetahui 'reputasi gelap' Pram dulu. Dan pemberian penghargaan Magsasay dikatakan sebagai suatu kecerobohan. Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsasay yang dianugerahkan padanya di tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama.
Lubis juga mengatakan, HB Yassin pun akan mengembalikan hadiah Magsasay yang pernah diterimanya. Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Yassin malah mengatakan yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis.
Dalam berbagai opini-opininya di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Dan mereka menuntut pertanggungan jawab Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran 'tidak terpuji' pada 'masa paling gelap bagi kreativitas' pada jaman demokrasi terpimpin. Pram, kata Mochtar Lubis, memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya.
Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya di masa pra-1965 itu tidak lebih dari 'golongan polemik biasa' yang boleh diikuti siapa saja. Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang 'kelewat jauh'. Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala. Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya.
Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran.
Multikulturalis
Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang. Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, mengakhiri tinggal di sana daripada kembali ke Jawa. Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.
Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Ia memperoleh Hadiah Ramon Magsaysay untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memenangkan hadiah dari Universitas Michigan.
Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan sedang dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas dan jantungnya melemah.
Pada 6 Februari 2006 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki diadakan pameran khusus tentang sampul buku dari karya Pramoedya. Pameran ini sekaligus hadiah ulang tahun ke-81 untuk Pramoedya. Pameran bertajuk Pram, Buku dan Angkatan Muda menghadirkan sampul-sampul buku yang pernah diterbitkan di mancanegara. Ada sekitar 200 buku yang pernah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.

Berikut beberpa koleksi Novel Pramoedya Ananta Toer:
Arok Dedes

SINOPSIS

Arok Dedes menceritakan sejarah perlawanan dan pemberontakan Ken Arok terhadap pemerintahan akuwu Tumampel, Tunggul Ametung.
Dalam buku ini, Pram secara jelas mengungkap kondisi sosial politik pada masa itu. Novel ini mencoba memberikan suatu perspektif baru terhadap sejarah dengan menggambarkan Ken Arok bukan hanya seorang berandalan pemberontak ,seperti yang banyak dikatakan buku pelajaran sejarah, tetapi disini diceritakan bahwa Ken Arok adalah seorang pemimpin rakyat yang tidak puas dengan pemerintahan yang menindas.
Novel ini juga menggambarkan kondisi pemberontakan yang terjadi di dalam suatu negara atau kerajaan yang sarat dengan intrik politik.


Download





Manggir (Naskah Drama)





SINOPSIS

Ketika Majapahit runtuh (1527), Jawa menjadi daerah yang tidak bertuan dan tidak mengenal satu kekuasaan tunggal. Pada saat yang bersamaan pula, Wali Sanga mulai menyebarkan Islam melalui pesisir Utara dan Portugis telah datang ke Sunda Kelapa.

Kekuasaan tak berpusat tersebar praktis di seluruh Jawa, menyebabkan keadaan kacau balau. Perang yang terus menerus untuk merebut kekuasaan tunggal membuat Pulau Jawa bermandikan darah. Sehingga yang muncul di Jawa adalah daerah-daerah kecil (desa) yang berbentuk Perdikan (desa yang tidak mempunyai kewajiban membayar pajak kepada pemerintah penguasa) dan menjalankan sistem demokrasi desa, dengan penguasanya yang bergelar Ki Ageng. Adalah Ki Ageng Pamanahan menguasai Mataram dan mendirikan Kota Gede pada 1577. Kemudian Panembahan Senapati, anak Ki Ageng Pamanahan naik menjadi Raja Mataram.

Saat bersamaan muncul pula sebuah daerah Perdikan Mangir dengan pemimpinnya yang bernama Ki Ageng Mangir Wanabaya. Seperti layaknya daerah-daerah lain di Jawa, pertempuran perebutan kekuasaan pun tidak terelakkan, demikian pula antara Mangir dan Mataram. Hal ini sangat dimungkinkan karena letak Perdikan Mangir dan Mataram yang sangat berdekatan, sekitar ± 30 km. Maka persaingan antara dua kekuasaan tersebut menjadi tidak terelakkan lagi, terlebih dengan usaha penggenapan janji Ki Ageng Pamanahan kepada Joko Tingkir (Sultan Hadi Wijaya) untuk menguasai sepenuhnya Mataram.

Pada akhirnya Mangir kalah setelah Ki Ageng Mangir mati di tangan Panembahan Senapati sewaktu menghadap bersama Sekar Pembayun dalam sebuah perkawinan rekayasa yang dibuat oleh Mataram dalam rangka menghancurkan kekuasaan Mangir dan daerah-daerah lain yang turut membantu Mangir, dan pada 1581 Ki Ageng Pamanahan berhasil menguasai Mataram (dan sekitarnya).


Download


Gadis Pantai




SINOPSIS

Buku ini menceritakan nasib seorang wanita yang lahir di sebuah kampung nelayan di pantai utara Jawa, dekat kota Rembang.
Pada umur 14 tahun dia dinikahkan dengan seorang pembesar asal Bima. Pembesar itu Bendoro, tidak menghadiri upacara pernikahan sendiri, hanya diwakili sebilah keris. Gadis itu tidak mau pindah ke rumah mewah di kota itu, tapi terus diantarkan orang tuanya yang berpikir Gadis Pantai akan hidup berbahagia dan nyaman di sana. Di rumah Bendoro tersebut ada seorang pembantu tua yang mengajarkan kepada Gadis Pantai segalanya yang harus dia tahu dan lakukan untuk memelihara kenangan suaminya. Gadis pantai yang namanya diganti jadi Mas Nganten, dan pembantu tua itu saling menyukai. Selain dia tidak ada orang pun di rumah itu yang peduli pada Mas Nganten yang merasa sangat sendirian. Suaminya mengunjungi dia jarang saja. Sesudah pembantu mengkritik anak-anak yang ada di rumah, dia diusir walaupun sudah bekerja di rumah itu bertahun-tahun. Pembantu berikutnya ternyata sangat sombong dan jahat dan Mas Nganten merasa terancam.
Akhirnya dia sadar bahwa pernikahan dia hanya percobaan saja dan bahwa suaminya akan menikah lagi dengan wanita segolongan. Gadis pantai mendapat ijin untuk mengunjungi orang tuanya di kampung. Disitu dia mengalami perubahan perilaku orang kampung terhadap dirinya. Dia dianggap Bendoro, priyayi bukan orang kampung lagi. Itu merupakan hal yang sangat menyedihkan dan menyakitkan buat Gadis Pantai. Waktu dia sudah tinggal di kota selama tiga tahun, dia melahirkan bayi perempuan. Beberapa saat kemudian dia diusir dari rumah Bendoro. Bayinya tertingal disana. Begini berakhir kisah si Gadis Pantai.
Kisah berlangsung pada awal abad ke-20 dan menggambarkan hal-hal masyarakat pada saat itu. Memang masih ada perbedaan antara golongan-golongan sekarang juga, tetapi pada waktu itu orang biasa tidak punya hak apapun dan diperlakukan secara tidak manusiawi.
Pramoedya Ananta Toer melukiskan keadaan dan suasana baik kota baik kampung dengan tajam. Penjelasan sifat dan pikiran-pikiran tokoh dan lingkungannya membuat pembaca sempat mengenal mereka seolah-olah dalam kenyataan.
Bahasanya deskriptif, namun buku ini tidak sulit untuk dibaca karena ada banyak dialog dan ceritanya menggairahkan. Saya sudah membaca beberapa karya Pramoedya Ananta Toer, tapi Gadis Pantai adalah yang paling enak dan menarik, menurut pendapat saya.


Perburuan


SINOPSIS

Ini novel Pramoedya yang pertama. Kemunculan Perburuan dalam arena persuratan Melayu (bermaksud : Indonesia dan Malaysia) satu kejutan menurut A Samad Said, Sasterawan Negara Malaysia. Pak Samad menyamakan fenomena ini sama seperti munculnya Atheis (Achjadiat), Merahnya Merah (Iwan Simatupang), dan kemudiannya Ayat-Ayat Cinta (Habiburrahman El-Syirazy). Cuma saya menyahlis kan Ayat-ayat Cinta untuk memberi laluan kepada Tetralogi Laskar Pelangi (Andrea Hirata).

Perburuan ialah kisah seorang anak muda, Hardo, yang diburu tentera Jepun kerana terlibat dengan pemberontakan.

Perburuan dibangunkan di atas empat babak yang mewakli empat plot. Novel ini pendek, hanya sedikit lebih panjang dari Bukan Pasar Malam. Namun, saya teruja dengan daya dan gaya Pram mengungkapkan perasaan diburu dan semangat untuk berjuang melalui watak Hardo.
‘Plot novel ini menggabungkan bermacam pertentangan : cinta dan benci, setia dan belot, gembira dan sedih’.

Membaca novel ini terasa seperti ditipu pada babak pertama. Hardo yang diajak pulang, enggan walau dipujuk berkali-kali. Ternyata pujukan itu hanya satu muslihat untuk menangkapnya.

Sama seperti Amilah dalam Keluarga Gerilya yang memahari anak daranya kerana tidak pandai menjaga harta (pakaian) sehingga hilang. Dihujung cerita barulah pembaca faham, bukan pakaian itu hilang, sebaliknya telah dilelong oleh Amilah yang sudah nyanyuk.

Sekali lagi kredit buat Pram, yang ternyata bukan sahaja berjaya mengangkat tema yang besar (manusia dan kebebasan), bahkan seni bercerita Pram juga sangat halus dan tinggi.



Download format untuk membuka file DJVU
Drag file yang akan dibuka

Download Koleksi Novel PRAMOEDYA ANANTA TOER


BIOGRAFI SINGKAT PRAMOEDYA ANANTA TOER

Pramoedya dilahirkan di Blora, di jantung Pulau Jawa, pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya ialah guru dan ibunya ialah pedagang nasi. Ia meneruskan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya dan bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.
Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan seringkali ditempatkan di Jakarta di akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen dan buku sepanjang karir militernya dan dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia sanggup tinggal di Belanda sebagai bagian program pertukaran budaya, dan saat kembalinya ia menjadi anggota Lekra, organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno.
Hoakiau di Indonesia
Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, dan pada saat yang sama mulai berhubungan erat dengan para penulis di China. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia. Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Chinanya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau-pulau di sebeluah timur Indonesia.
Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan: 13 Oktober 1965 - Juli 1969, Juli 1969 - 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan, Agustus 1969 - 12 November 1979 di Pulau Buru, November - 21 Desember 1979 di Magelang .
Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun tetap mengatur untuk menulis serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, serial 4 kronik novel semi-fiksi sejarah Indonesia. Tokoh utamanaya Minke, bangsawan kecil Jawa, dicerminkan pada pengalamannya sendiri. Jilid pertamanya dibawakan secara oral pada para kawan sepenjaranya, dan sisanya diselundupkan ke luar negeri untuk dikoleksi pengarang Australia dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.
Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S, tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.
Selama masa itu ia menulis Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995).
Kontroversi
Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsasay Award, 1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat 'protes' ke yayasan Ramon Magsasay. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai "jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang" di masa demokrasi terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.
Tetapi beberapa hari kemudian, Taufik Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu. Katanya, bukan menuntut 'pencabutan', tetapi mengingatkan 'siapa Pramoedya itu'. Katanya, banyak orang tidak mengetahui 'reputasi gelap' Pram dulu. Dan pemberian penghargaan Magsasay dikatakan sebagai suatu kecerobohan. Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsasay yang dianugerahkan padanya di tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama.
Lubis juga mengatakan, HB Yassin pun akan mengembalikan hadiah Magsasay yang pernah diterimanya. Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Yassin malah mengatakan yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis.
Dalam berbagai opini-opininya di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Dan mereka menuntut pertanggungan jawab Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran 'tidak terpuji' pada 'masa paling gelap bagi kreativitas' pada jaman demokrasi terpimpin. Pram, kata Mochtar Lubis, memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya.
Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya di masa pra-1965 itu tidak lebih dari 'golongan polemik biasa' yang boleh diikuti siapa saja. Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang 'kelewat jauh'. Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala. Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya.
Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran.
Multikulturalis
Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang. Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, mengakhiri tinggal di sana daripada kembali ke Jawa. Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.
Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Ia memperoleh Hadiah Ramon Magsaysay untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memenangkan hadiah dari Universitas Michigan.
Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan sedang dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas dan jantungnya melemah.
Pada 6 Februari 2006 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki diadakan pameran khusus tentang sampul buku dari karya Pramoedya. Pameran ini sekaligus hadiah ulang tahun ke-81 untuk Pramoedya. Pameran bertajuk Pram, Buku dan Angkatan Muda menghadirkan sampul-sampul buku yang pernah diterbitkan di mancanegara. Ada sekitar 200 buku yang pernah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.

Berikut beberpa koleksi Novel Pramoedya Ananta Toer

Arok Dedes


SINOPSIS

Arok Dedes menceritakan sejarah perlawanan dan pemberontakan Ken Arok terhadap pemerintahan akuwu Tumampel, Tunggul Ametung.
Dalam buku ini, Pram secara jelas mengungkap kondisi sosial politik pada masa itu. Novel ini mencoba memberikan suatu perspektif baru terhadap sejarah dengan menggambarkan Ken Arok bukan hanya seorang berandalan pemberontak ,seperti yang banyak dikatakan buku pelajaran sejarah, tetapi disini diceritakan bahwa Ken Arok adalah seorang pemimpin rakyat yang tidak puas dengan pemerintahan yang menindas.
Novel ini juga menggambarkan kondisi pemberontakan yang terjadi di dalam suatu negara atau kerajaan yang sarat dengan intrik politik.


Download

Monday, 6 February 2012

Download Novel "Negara Kelima"


Pernahkah anda mendengar bahwa kepulauan Indonesia adalah salah satu lokasi yang mungkin sebagai sisa-sisa dari Atlantis kuno? Pernahkah anda menyimak cerita Tambo dari Minang, yang mengatakan bahwa orang Minang adalah keturunan Iskandar Agung? Dan pernahkah anda mendapati orang-orang yang yakin akan adanya kekuatan dari leluhur Nusantara yang suatu saat akan membangkitkan kembali kejayaan Nusantara?

Hal-hal yang berbau mitos yang ada dan menyebar di masyarakat itu menjadi latar belakang utama yang membentuk cerita novel "Negara Kelima" terbitan Serambi ini. Tapi tidak lantas novel ini menjadi kisah fantasi penuh mistis. Ini adalah novel tentang kriminalitas dan radikalisme yang dilatarbelakangi oleh interpretasi baru terhadap sejarah Nusantara.

"Es Ito, lahir pada tahun seribu sembilan ratus delapan puluh satu. Ibunya seorang petani, bapaknya seorang pedagang". Hanya itu yang tertulis pada profil penulis novel ini. Singkat, tidak berlebihan, tidak ingin menonjolkan apapun selain kesederhanaan. Tidak berusaha memberikan pretensi apapun sebelum pembaca tuntas mengikuti kisah yang ia tuturkan di novel ini.


Download

Sunday, 29 January 2012

Download Novel Samurai (1550 - 1600)

Sinopsis


Dalam buku ini kita akan melihat kebudayaan, persenjataan, serta latihan kaum samurai dalam Zaman Pertempuran (1550-1600). Periode ini sangat menentukan peta geopolitik dan taktik peperangan di Jepang masa itu, menyusul masuknya senjata api.
Buku ini menampilkan dampak masuknya senapan api pada kebudayaan samurai sampai ke kehidupan mereka sehari-hari. Ditambah foto-foto dan ilustrasi penuh warna, buku ini memberi informasi kepada siapa saja yang ingin menyingkap kabut misteri seputar samurai.


Download

Download Novel Ramayana Mahabrata

Sinopsis

Ramayana dan Mahabarata, tergolong ke dalam epos besar dunia yang berusia sangat tua. Berasal dari India, kedua kisah ini melanglang hingga ke berbagai kawasan asia, termasuk Indonesia. Persinggungan dengan berbagai kebudayaan justru semakin memperkaya versi tentangnya. RK Narayan, penulis terkemuka asal India, menuliskan kembali kedua epos ini dalam versi aslinya. Sesuai dengan gaya penulisannya, kisah Ramayana dan Mahabarata disajikan secara sederhana dan memikat. Lebih menarik lagi karena kedua karya ini bisa dinikmati sekaligus dalam satu buku saja.


Download

Download Novel My Name is Red- Orhan Pramuk

Sinopsis

Sebuah misteri pembunuhan yang menegangkan … sebuah perenungan mendalam tentang cinta dan kegigihan artistik … Namaku Merah Kirmizi bermula di Istanbul simbol tonggak kejayaan-Islam yang terakhir di ujung abad keenam belas, saat Sultan secara diam-diam menugaskan pembuatan sebuah buku tak biasa untuk merayakan kejayaannya, yang dihiasi ilustrasi para seniman terkemuka saat itu. Ketika seorang seniman dibunuh secara misterius, seorang lelaki muram dengan masa silam sekelam namanya ditugasi untuk mengungkap misteri pembunuhan yang pada akhirnya menguak jejak benturan peradaban Timur dan Barat dua cara pandang dunia yang berbeda, berkaitan dengan kebudayaan, sejarah, dan identitas yang memicu konflik tak berkesudahan. Melalui karya cemerlang ini, yang diramu dengan intrik seni dan politik, dongeng-dongeng klasik, serta kisah cinta bercabang yang getir, Orhan Pamuk pemenang Hadiah Nobel Sastra mengukuhkan dirinya sebagai salah satu novelis terbaik dunia saat ini. Novel ini paling tidak telah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa dan memenangkan sejumlah hadiah sastra internasional terkemuka, antara lain Prix du Meilleur Livre Etranger 2002 (Prancis), Premio Grinzane Cavour 2002 (Italia), dan International IMPAC Dublin Literary Award 2003 (Irlandia) Bintang baru telah terbit di Timur: Orhan Pamuk. New York Times. Wonderful. Spectator. Magnificent. Observer. Unforgettable Guardian. Penulis novel Turki yang paling terkemuka dan salah seorang tokoh sastra yang paling menarik … Seorang pendongeng kelas satu. Times Literary Supplement
Resensi:
Masterpiece Sastra Rekonsiliasi
Yudhiarma
Meski hanya kisah fiksi, buku ini seolah-olah menguak akar tesis Samuel P Huntington tentang potensi “benturan antarperadaban”. Ramalan guru besar ilmu politik Universitas Harvard ini-bahwa masa depan dunia pasca Perang Dingin diwarnai konflik kebudayaan Barat-Timur-kian dipertegas Orhan Pamuk dengan mendeskripsikannya dalam novel ber-setting abad ke-XVI. Kisah yang banyak mengandung renungan filsafat ini mengangkat cerita era Dinasti Ottoman (Utsmaniyyah) yang menjadi episode pamungkas kejayaan imperium Islam di Turki.
Meski demikian, maha karya ini justru dipersembahkan sang penulis untuk membangun kesadaran bahwa perbedaan apa pun tak boleh dijadikan alasan untuk bertikai dan saling menumpahkan darah. Maka, lahirlah sebuah masterpiece sastra untuk tujuan-tujuan rekonsiliasi dua kultur besar dunia (Barat-Timur).
Novel “Namaku Merah Kirmizi”, menyuguhkan misteri pembunuhan yang menegangkan dan kontemplasi mendalam tentang cinta dan kegigihan artistik. Bermula di Istanbul-kota yang menjadi simbol peradaban Islam klasik-saat Sultan secara diam-diam menugaskan penulisan buku tentang riwayat kekuasaannya yang berhias ilustrasi para seniman terkemuka kala itu.
Ketika seorang seniman dibunuh secara misterius, lelaki muram bernama Hitam dengan masa silam sekelam namanya ditugasi untuk mengungkap kejahatan itu. Aksi heroik sang ksatria pada akhirnya menguak jejak “clash of civilization” Timur dan Barat-rivalitas destruktif akibat kesalahpahaman karena perbedaan budaya, sejarah dan identitas yang memicu konflik tak berkesudahan. Sepanjang petualangan Hitam, pembaca digiring ke lorong berliku-liku dalam mengungkap rahasia tersembunyi di balik kematian seniman istana.
Kepiawaian Pamuk dalam bertutur, seakan-akan mampu menghidupkan makhluk-mahkluk di lembah kematian seperti sosok mayat, hewan, warna (merah), setan sampai kuda yang berbicara sebagaimana manusia. Sejak awal (“Aku Adalah Sesosok Mayat”) hingga akhir cerita, Pamuk menyihir pembaca dengan keahlian bertutur yang cerdas, berani dan mengundang penasaran ala dongeng 1001 malam.
Dalam novel yang disiapkan selama enam tahun ini, Pamuk mampu menembus batas fiksi dan nonfiksi, dia sanggup membawa pembaca ke alam cerita yang seolah-olah nyata. Pamuk telah menunjukkan reputasi sastra yang memukau, menarik sekaligus fenomenal.
Melalui karya cemerlang ini, yang diramu dengan intrik seni dan politik, dongeng-dongeng klasik, serta kisah cinta bercabang yang getir, Orhan Pamuk pun meraih Nobel Sastra 2006 hingga ia dikukuhkan sebagai salah satu novelis terbaik dunia. (Yudhiarma)
Sumber: http://www.suarakarya-online.com/
My Name is Red (Namaku Merah Kirmizi)
Sumber: h_tanzil
Sejarah mencatat, Sultan Ustmaniyah Murat III (1571-1595) dikenal sebagai sultan yang paling tertarik pada buku dan seni miniatur. Di masa kekuasaannya ia memerintahkan para miniaturis (pembuat ilustrasi buku) kenamaan di negerinya untuk membuat Kitab Keterampilan, Kitab Segala Pesta dan Kitab Kemenangan yang dikerjakan di Istanbul. Para miniaturis Ustmaniyah yang paling menonjol, termasuk Osman sang Miniaturis dan murid-muridnya, ikut andil dalam pengerjaan buku ini.
Penggalan sejarah inilah yang oleh Orhan Pamuk (54 thn) – peraih nobel sastra 2006 asal Turki dijadikan sebagai ide utama novel My Name is Red . Dikisahkan saat itu Sultan menugaskan Enisthe Effendi salah seorang miniaturis terkenal untuk membuat sebuah buku rahasia yang dihiasi ilustrasi-ilustrasi indah untuk merayakan kejayaannya. Tindakan sultan ini diluar kewajaran karena biasanyaTuan Osman selaku Iluminator Kepala Istanalah yang diberi wewenang untuk mengerjakan buku-buku Sultan. Dalam mewujudkan proyek sultan ini Enisthe dibantu oleh empat miniaturis lainnya yang masing-masing dikenal dengan julukan ; Elok, Zaitun, Bangau, dan Kupu-kupu.
Novel ini diawali dengan terbunuhnya Elok , salah satu dari keempat miniaturis yang bekerja dibawah pimpinan Enisthe Effendi. Pembunuhan ini menimbulkan keresahan diantara para miniaturis lainnya karena mereka mennganggap hal ini ada kaitannya dengan proyek pengerjaan buku Sultan yang dibuat dengan gaya Eropa yang pada masa itu dianggap sebagai penistaan terhadap ajaran Islam.
Lalu dikisahkan Hitam, salah satu murid dan keponakan Enisthe kembali ke rumah pamannya sepulang dari pengelanannya ke berbagai tempat selama dua belas tahun. Sejak lama Hitam telah menaruh hati pada Shekure, putri “Enisthe”-nya. Sepulang dari pengelanaannya pun ia masih menyimpan cintanya pada Shekure. Sayangnya Shekure telah menikah dan mempunyai dua orang anak. Namun belum pulangnya suami Shekure selama bertahun-tahun dari peperangan membuka peluang bagi Hitam untuk merebut Shekure ke pelukannya.
Di tengah usaha Hitam merebut cinta Shekure dan belum terungkapnya siapa pembunuh Elok, Enisthe terbunuh secara mengenaskan. Namun hal ini tak menghalangi niat Hitam untuk menikahi Shekure. Dengan siasat liciknya akhirnya Hitam berhasil menikahi Shekure, namun Shekure belum mengijinkan Hitam untuk tidur seranjang dengan dirinya hingga Hitam berhasil menemukan siapa pembunuh ayahnya.
Ketika kematian Elok dan Enisthe sampai ke telinga Sultan. Ia memerintahkan Hitam selaku murid Enisthe dan Tuan Osman selaku kepala bengkel miniaturis Istana mengungkap siapa pembunuhnya. Mereka diberi waktu 3 hari untuk menemukan pembunuhnya, jika gagal nyawa mereka dan para miniaturis lainnya akan jadi gantinya.
Satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pembunuhnya adalah gambar seekor kuda dengan hidung yang terpotong. Hal ini menyeret ketiga miniaturis lainnya (Bangau, Zaitun, Kupu-kupu) menjadi tersangka utama. Untuk memperkaya penyelidikannya Hitam dan Tuan Osman juga diizinkan untuk masuk kedalam jantung Istana dimana terdapat ruang penyimpanan harta yang juga berisi buku-buku berilustrasi indah termasuk buku legendaris Kitab Para Raja yang dibuat dalam rentang waktu dua puluh lima tahun yang berisi lukisan-lukisan menakjubkan, yang diimpikan bisa dilihat sekali saja oleh para miniaturis selama seumur hidupnya
Novel karya peraih Nobel Sastra 2006 Orhan Pamuk My Name is Red ini bisa dikatakan novel yang kaya akan perspektif. Novel ini bisa dibaca sebagai novel sejarah peradaban islam, misteri, intrik sosial, dan teka-teki filosofis. Pamuk mengemas kisah dalam novel ini dengan sangat menarik. Narator dalam novel ini berganti-ganti dalam setiap babnya, masing-masing diberi judul sesuai dengan naratornya seperti : Aku Adalah Sesosok Mayat, Aku Akan Disebut Seorang Pembunuh, Aku Dinamai Hitam, bahkan benda-benda matipun menjadi narator dalam novel ini seperti : Aku adalah Sekeping Uang Emas, Aku Adalah Merah. dll. Masing-masing narator bertutur, bercerita dan berargumen mengenai peristiwa pembunuhan dan keadaan di sekelilingnya menurut sudut pandangnya masing-masing. Ada yang realis ada pula yang surealis. Uniknya walau si pembunuh turut menjadi narator, identitas si pembunuh tetap tak terduga hingga bab-bab terakhir.
Di halaman-halaman awal pembaca seolah diajak mengambil kesimpulan bahwa novel ini adalah novel misteri karena Pamuk membukanya dengan bab “Aku Adalah Sesosok Mayat”. Kalimat permbuka novel inipun memikat dan mengundang penasaran pembacanya karena dinarasikan oleh tokoh yang telah meninggal.
Kini aku hanyalah sesosok mayat, sesosok tubuh di dasar sebuah sumur. Walau sudah lama sekali aku menghembuskan napas terakhirku dan jantungku telah berhenti berdetak, tak seorang pun tahu apa yang terjadi padaku, selain pembunuh keji itu. (hal 17)
Namun Pamuk tak hanya mengajak pembacanya untuk larut dalam cerita misteri pembunuhan, di bagian berikutnya pembaca diajak beralih ke kisah percintaan yang membara antara Hitam dan Shekure, lalu pembaca juga akan disuguhkan debat filosofis yang menarik akibat benturan budaya Timur dan Barat khususnya dalam hal gaya melukis dimana di jaman itu melukis dengan gaya kaum Frank (Eropa) yang menggunakan metode perspektif tiga dimensi dimana benda digambar sebagaimana terlihat oleh mata telanjang dianggap penistaan terhadap agama islam yang hanya boleh membuat gambar/lukisan dengan teknik dua dimensi saja.
Namun yang mengejutkan dari semua itu – sebuah akibat yang wajar dalam memperkenalkan pemahaman Frank dalam lukisan kita – adalah menggambarkan potret sultan kita dengan ukuran sesungguhnya, dan wajahnya dilukiskan dengan semua detailnya! Tepat seperti yang dilakukan para pemuja berhala. (hal 684)
Hal ini menimbulkan pro dan kontra, sebagian miniaturis khususnya mereka yang ditugaskan membuat buku Sultan mau tak mau harus membuat lukisan dengan gaya barat sesuai dengan arahan Enishte, namun sebagian miniaturis senior menolak melukis dengan gaya ini dan rela membutakan matanya sendiri agar tak terpengaruh oleh lukisan gaya Eropa.
Selain kisah misteri, roman, debat budaya dan filosofis, pembaca juga akan disuguhkan detail-detail menarik tentang estetika seni hias buku sehingga keeksotisan buku-buku berilustrasi yang dibuat di abad 16 dimana semua buku  diberi ilustrasi oleh tangan-tangan terampil para miniaturis terungkap secara indah. Tak ketinggalan beberapa kisah dongeng klasik dunia Timur juga terceritakan di novel ini.
Kesemua elemen di atas membentuk novel ini menjadi rangkaian cerita yang menarik dan enak dibaca. Semua itu diramu secara puitis dan romantis dengan cinta, seks, dan drama.
Beragamnya tokoh-tokoh yang masing-masing menjadi narator dalam buku ini walau awalnya tampak berdiri sendiri, kelak Pamuk akan menyatukan tokoh-tokoh dalam ceritanya dan memberikan kejutan yang tak terduga di akhir ceritanya.
Satu hal yang mungkin akan menjadi pertanyaan pembacanya adalah judul buku ini “My Name is Red (Namaku si Merah Kirmizi), siapa dan apa sebenarnya yang dimaksud si “Merah” dalam judul buku ini ? Memang ada bab tersendiri dimana si Merah ini digambarkan sebagai warna dalam arti yang sesungguhnya. Namun rasanya tak cukup menjelaskan apa dan siapa Merah yang dimaksud dalam judul buku ini. Tampaknya Pamuk sengaja mengajak pembacanya untuk menafsirkan sendiri apa, siapa dan mengapa novel ini diberi judul My Name is Red ?
Rasanya membaca sekali saja novel ini tidaklah cukup, banyak detail-detail menarik yang tetap mengasyikan untuk dibaca berkali-kali. Dan lagi novel ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi, tak ditemukan kejanggalan dalam alih bahasanya. Salut untuk kerja keras penerjemah dan editor novel ini (Atta Verin & Anton Kurnia) yang tampaknya telah berhasil mengalih bahasakan novel tebal yang menarik ini dengan baik.
Sedikit yang mungkin dapat menjadi halangan terbacanya novel ini adalah harganya yang relatif mahal (Rp. 89.900,-). Mungkin penerbit perlu lebih menyiasati agar novel yang kaya akan perspektif ini dapat dijual dengan harga yang lebih bersahabat sehingga dapat terjangkau dibeli dan dibaca oleh semua pecinta sastra.
Novel yang berjudul asli Benim Adim Kirmizi yang dikerjakan oleh Orhan Pamuk (penulis asal Turki) selama 6 tahun ini terbit pada tahun 1998. Pada tahun 2001 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Erdgar M. Goknar sebagai My Name is Red. Tampaknya novel ini diapresiasi dengan baik oleh khalayak sastra dunia, setidaknya novel ini telah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa dan dianugerahi berbagai penghargaan sastra internasional, antara lain Prix du Meilleur Livre Etranger 2002 (Perancis), Premio Grinzane Cavour 2002 (Italia), dan IMPAC Dublin Literary Award 2003 (Irlandia). Dan sebagai puncaknya novel ini pula yang turut mengantar Pamuk sebagai peraih nobel Sastra 2006.


Download

Download Novel MUSASHI karya EIJI YOSHIKAWA

Sinopsis

Miyamoto Musashi atau biasa disebut Musashi saja, adalah seorang samurai dan ronin yang sangat terkenal di Jepang pada abad pertengahan. Ia diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1584, dan meninggal tahun 1645. Nama aslinya adalah Shinmen Takezo. Kata Musashi merupakan lafal lain dari “Takezo”. Musashi memiliki nama lengkap Shinmen Musashi No Kami Fujiwara No Genshin.
Musuh pertama Musashi ditemuinya ketika ia baru berusia 13 tahun. Ia adalah Arima Kihei, samurai perguruan Shinto Ryu bidang seni militer yang terampil bermain pedang dan tombak. Musashi mengalahkannya dengan cara melemparnya ke tanah dan memukulnya dengan tongkat, sehingga musuhnya tersebut mati berlumuran darah.
Ketika ia berusia 16 tahun, Musashi mengalahkan lawan berikutnya, dan sejak itu ia kabur dari rumah dan terlibat dalam berbagai kontes pertarungan dan peperangan sampai ia berusia 50 tahun. Musashi mengembara keliling Jepang dan menjadi legenda. Berbagai musuh terkenal pernah dikalahkannya, antara lain samurai-samurai keluarga Yoshioka di Kyoto, jagoan ilmu tongkat kondang Muso Gonosuke di Edo, bangsawan Matsudaira di Izumo, dan Sasaki Kojiro di Bunzen.
Batu peringatan Musashi di Ichijoji, Kyoto.
Batu peringatan Musashi di Ichijoji, Kyoto.
Pertempuran lain adalah pertempuran melawan salah satu perguruan bela diri terkenal di Jepang pada masanya di Ichijoji. Musashi bertempur melawan sekitar 50 samurai, dan pertempuran tersebut dimenangkan oleh Miyamoto Musashi dengan teknik dua pedangnya. Hingga saat ini, bekas pertempuran Musashi di Ichijoji dijadikan monumen oleh masyarakat Jepang.
Salah satu peperangan terkenal yang sering dikatakan melibatkan Musashi adalah Pertempuran Sekigahara di tahun 1600, antara pasukan Tokugawa Ieyasu dan pasukan pendukung pemerintahan Toyotomi Hideyori, dimana ribuan orang tewas terbantai dalam peperangan itu sendiri dan pembantaian sesudahnya oleh tentara pemenang perang. Saat itu Musashi memihak pasukan Toyotomi Hideyori (anak dari Toyotomi Hideyoshi).

Download

Download Novel Dee-Supernova Edisi Akar

Supernova : Akar merupakan novel kedua yang ditulis oleh Dee ( Dewi Lestari). Novel ini merupakan sequel dari novel serial Supernova yang dibesut oleh Dee, sekaligus sebagai seri pertama dari plot besar seri kedua Supernova yang bertajuk Inteligensi Embun Pagi. Seri Inteligensi Embun Pagi ini akan terdiri dari 4 buku.

Berbeda dari Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, novel ini menggunakan bahasa yang lebih awam dan tidak menggunakan banyak istilah-istilah ilmiah lagi. Gaya berceritanya juga sedikit berbeda dari novel pertamanya. Kalau dalam novel pertamanya Dee menggunakan gaya bercerita yang melompat-lompat antar dimensi beberapa individu, dalam novel keduanya ini, Dee menggunakan plot yang cenderung maju, meskipun banyak diselingi dengan dimensi cerita dari benak sang tokoh.

Download Novel Layar Terkembang-Sutan Takdir Alisjahbana

Sinopsis

Novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana adalah novel roman lama yang menjadi saksi sejarah dan perkembangan Bahasa Indonesia, sekaligus jejak pemikiran modern Indonesia.

Novel ini mengisahkan perjuangan wanita Indonesia dalam mencapai cita-citanya. Roman ini termasuk novel modern disaat sebagian besar masyarakat Indonesia masih dalam pemikiran lama (1936). Novel ini banyak memperkenalkan masalah wanita Indonesia dengan benturan-benturan budaya baru, menuju pemikiran modern. Hak-hak wanita, yang banyak disusung oleh budaya modern dengan kesadaran gender, banyak diungkapkan dalam novel ini dan menjadi sisi perjuangannya seperti berwawasan luas dan mandiri. Didalamnya juga banyak memperkenalkan masalah-masalah baru tentang benturan kebudayaan antara barat dan timur serta masalah agama.

kisah bermulai dari sosok kakak beradik yang berpengarai berbeda, Tuti dan Maria. Tuti seorang kakak yang selalu serius dan aktif dalam berbagai kegiatan wanita. Ia bahkan aktif dalam memberikan orasi-orasi tentang persamaan hak kaum wanita. Pada saat itu, semangat kaum wanita sedang bergelora sehingga mereka mulai menuntut persamaan dengan kaum pria. Sedangkan Maria adalah adik yang lincah dan periang sehingga semua orang yang berada di dekatnya pasti akan menyenangi kehadirannya. Di tengah-tengah dua dara jelita ini, muncullah Yusuf, seorang mahasiswa kedokteran, yang pada masa itu lebih dikenal dengan sebutan Sekolah Tabib Tinggi. Sejak pertemuannya yang pertama di gedung akuarium Pasar Ikan, antara Maria dan Yusuf timbul kontak batin sehingga mereka menjadi sepasang kekasih.

Sementara itu, Tuti yang melihat hubungan cinta kasih adiknya sebenarnya berkeinginan pula untuk memiliki seorang kekasih. Apalagi setelah ia menerima surat cinta dari Supomo, seorang pemuda terpelajar yang baik hati dan berbudi luhur.. Namun, karena pemuda itu bukanlah idamannya, ia menolak cintanya. Sejak itu hari-harinya semakin disibukkan dengan kegiatan organisasi dan melakukan kegemarannya membaca buku sehingga ia sedikit melupakan angan-angannya tentang seorang kekasih.

Setelah melalui tahap-tahap perkenalan, pertemuan dengan keluarga, dan kunjungan oleh Yusuf, diadakanlah ikatan pertunangan antara Maria dan Yusuf. Tetapi sayang, ketika menjelang hari pernikahan, Maria jatuh sakit. Penyakitnya parah, malaria dan TBC, sehingga harus dirawat di Sanatorium Pacet. Tidak lama kemudian, Maria menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sebelum ajal datang, Maria berpesan agar Tuti, kakaknya bersedia menerima Yusuf. Tuti tidak menolak dan dimulailah pertunangan antara Tuti dan Yusuf. Akhirnya tak lama kemudian keduanya menikah dan hidup selamanya.


Download

Download Novel "Cinta di Tengah Gejolak Revolusi 1965"

Sinopsis

Tahun 1965, sebuah masa yang dikenal sebagai “Vivere Pericoloso”, Hidup Penuh Bahaya, yang membelokkan arah hidup bangsa Indonesia. Pemerintahan Sukarno membawa Indonesia ke tengah ketidakpastian. Dalam kondisi ekonomi Indonesia yang lemah, Presiden menghabiskan uang untuk membangun monumen-monumen megah, seraya menyulut api kebencian terhadap Barat dan mengobarkan semangat konfrontasi dengan negara tetangga: Ganyang Malaysia! Inggris kita linggis, Amerika kita setrika!

Sementara itu, di Jakarta yang penuh gejolak—tempat intrik politik bergolak dan bahaya senantiasa terendus seperti bau rokok kretek—terjebak Guy Hamilton, seorang wartawan Barat, Billy Kwan, juru kamera bertubuh kate keturunan Cina-Australia, dan Jill Bryant, perempuan Inggris yang sama-sama mereka cintai.

Inilah sebuah drama penuh liku tentang revolusi, cinta segi tiga, kesetiaan, dan pengkhianatan. Selain itu, novel ini membeberkan berbagai peristiwa politik sepanjang tahun penuh pergolakan sampai hari-hari terakhir kekuasaan Presiden Sukarno setelah digulingkan oleh kudeta militer Jenderal Soeharto menyusul Gerakan 30 September.

Setelah lewat 40 tahun, ingatan tentang rangkaian tragedi 1965—ketika ratusan ribu rakyat sipil yang dituduh komunis dibantai menyusul pembunuhan para jenderal di Jakarta—mulai luntur bagi banyak orang. Koch, novelis dan wartawan kawakan Australia, menghidupkan kembali peristiwa itu dengan detail mencekam dalam novel yang dilarang beredar di Indonesia oleh rezim Ode Baru sejak 1978 ini.

Sedemikian menariknya novel ini sehingga diangkat ke layar perak pada 1982 dengan dibintangi para aktor terkemuka Hollywood: Mel Gibson, Sigourney Weaver, dan Linda Hunt. Seperti novelnya, filmnya pun dilarang diputar di Indonesia walaupun mendapat sambutan hangat di seluruh dunia. Tak pelak, novel ini sungguh layak dibaca oleh khalayak luas untuk lebih memahami sejarah kita sendiri.


Download

Download Novel Ahmad Tohari-Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk


Sinopsis

Ronggeng Dukuh Paruk adalah sebuah novel yang ditulis oleh Ahmad Tohari. Novel ini terdiri atas tiga buku yang mungkin bisa kita sebut sebagai trilogi. Buku pertama berjudul ‘Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan buat  Emak’, buku kedua berjudul ‘Lintang Kemukus Dini Hari’ dan buku ketiga berjudul ‘Jantera Bianglala’.

dalam buku pertama, ‘Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan buat  Emak’ fokus pada pengenalan tokoh dan setting novel. tokoh yang menjadi pusat utama pembaca disini ialah Srintil, seorang perempuan yang dipercaya menitisi roh seorang ronggeng. Srintil dilahirkan di sebuah kampung miskin di daerah gersang yang bernama Dukuh Paruk. di dukuh ini, kehadiran ronggeng sangat diharapkan. karena kesenian ini merupakan primadona di Dukup Paruk dan setelah sekian lama kesenian tayub dan ronggeng ini menghilang hingga akhirnya muncul kembali Srintil yang membawa roh titisan ronggeng dengan bakat yang luar biasa. dalam buku satu ini disisipkan pula kisah romantika antara Srintil dan Rasus, teman masa kecilnya yang dicintai dan mencintainya.

buku kedua, ‘Lintang Kemukus Dini Hari’, mengisahkan Dukuh Paruk setelah peninggalan Rasus yang bekerja pada tentara. dikisahkan Srintil tidak suka meronggeng lagi karena memikirkan cintanya pada Rasus yang pergi begitu saja tanpa pamit. sementara itu, situasi politik simpang siur menimpa Dukuh Paruk. salah satu bencana datang ketika seorang bernama Bakar menghampiri Dukuh Paruk dengan berbagai teori persama-rataan hak. Bakar mulai menjadikan Dukuh Paruk sebagai basecamp pergerakan komunis dan mulai menjadikan Ronggeng dan Tayub sebagai alat kampanye PKI. warga Dukuh Paruk yang tidak mengerti apa-pun senang dengan perlakuan Bakar yang selalu melibatkan kesenian Ronggeng di berbagai pertemuan. dan ketika komunis kalah dan harus diberanguskan, orang-orang Dukuh Paruk dituduh sebagai antek-antek komunis sehingga dukuh mereka harus dibakar dan orang-orang mereka dipenjara tak terkecuali Srintil yang mendapat jatah penjara lebih lama.

buku ketiga, ‘Jantera Bianglala’, bercerita tentang kehidupan Srintil pasca penahanan selama dua tahun. ketika itu perasaan Srintil pada Rasus tetap tidak berubah. perempuan itu masih mencintai Rasus dan selalu bermimpi akan menikah, melahirkan dan mengurus keluarga dengan status sebagai istri yang baik. walau Rasus lama tak kembali ke Dukuh Paruk dan Srintil masih mencintainya, namun hal ini tidak menutup kemungkinan Srintil membuka hubungan dengan laki-laki selain Rasus dengan terus berharap bisa mencapai cita-citanya yakni sebagai istri dan ibu yang baik. hingga akhirnya ia harus dibohongi oleh laki-laki yang akan menjadi suaminya, Srintil merasa putus asa dan mengalami depresi yang sangat berat. depresi ini menyebabkan Srintil harus memiliki penyakit jiwa yang kemudian mengantarkannya ke sebuah kamar jeruji di Rumah Sakit Jiwa.

banyak hal yang bisa diambil dari novel ini. mulai dari sisi budaya, yakni Tayub dan Ronggeng yang punah karena pendudukan komunis. kemudian dilihat dari sisi sejarah dengan menampilkan kelamnya kisah politik komunis. tapi saya suka melihatnya dari sisi perasaan seorang perempuan yang harus berkorban banyak demi warga Dukuh Paruk dan laki-laki yang dicintainya. jujur, dalam novel ini saya sempat sebal dengan tokoh Rasus yang berlagak tidak mencintai Srintil dan harus memendamnya hingga perempuan itu menjadi depresi dan gila. saya mengerti ketika seseorang mencintai orang lain, akan ada saat dimana mereka tidak mau mengakui perasaannya. mungkin ada sesuatu yang harus ditutupi dan tidak ingin diketahui orang lain. ini yang disebut keangkuhan cinta saya rasa, jiah. hehe…

tapi sebenarnya esensi dari novel ini, seperti yang pernah seorang teman blogger katakan, adalah kebodohan yang sangat merugikan manusia. penulis Ahmad Tohari jelas menyampaikan pesan itu kepada kita. Dukuh Paruk di dalam novel dijelaskan sebagai dukuh yang miskin, cabul dan bodoh. mereka melakukan hal-hal yang kurang senonoh di mata masyarakat luar dukuh karena memang mereka tidak mengerti dan tidak memiliki pengetahuan. sehingga wajar saja ketika dibodohi orang lain mereka bagai kerbau yang dicocok hidungnya. saya suka ketika adegan Rasus yang berjanji akan menempa Dukuh Paruk untuk menjadi dukuh yang lebih maju dan tidak terbelakang seperti sebelumnya.

Ronggeng Dukuh Paruk
Download
Lintang Kemukus Dini Hari
Download 
Jantera Bianglala
Download