Pages

Showing posts with label Berita. Show all posts
Showing posts with label Berita. Show all posts

Friday, 20 September 2013

Lomba Baca Puisi Piala Rendra 2013

Lomba Baca Puisi Piala Rendra 2013 


Sebagai salah satu upaya pendidikan sastra kepada masyarakat, kami menghadirkan suatu bentuk lomba apresiasi sastra dalam membaca puisi. Selain itu, program ini juga dimaksudkan untuk memberikan penghargaan kepada masyarakat yang bergelut dalam pembacaan puisi dengan piala yang dirancang khusus oleh W.S Rendra sebagai sosok tokoh sastrawan yang luar biasa bagi Indonesia.

Nama Acara    : Lomba Baca Puisi Piala Rendra (Kategori Pelajar)
Tema Acara     : Membaca Jati Diri Bangsa Melalui Sajak Rendra
Hari, Tanggal    : Jumat, 1 November 2013
Pukul               : 08.00 s.d. selesai WIB
Tempat            : Gedung Auditorium PKM UPI
Peserta            : Pelajar (SMP,SMA atau sederajat) se-Indonesia
Biaya               : Rp 45.000,-

Narahubung: Shela Augustine (08997200422)

Nama Acara    : Lomba Baca Puisi Piala Rendra (Kategori Umum)
Tema Acara    : Membaca Jati Diri Bangsa Melalui Sajak Rendra
Hari, Tanggal   : Kamis, 31 Oktober 2013
Pukul               : 08.00 s.d. selesai WIB
Tempat           : Gedung Auditorium PKM UPI
Peserta           : Umum (Perwakilan universitas, himpunan mahasiswa, komunitas, dan perorangan) se-Indonesia
Biaya              : Rp 45.000,-

Narahubung: Nais Ambarsari (085624541402)
Ketentuan Pendaftaran:
1.  Pendaftaran 19 September s.d. 18 Oktober 2013
2.  Mengisi formulir di stand pendaftaran Gedung PKM UPI Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Bandung dan menyelesaikan administrasi pendaftaran secara langsung atau registrasi via sms seperti dibawah ini
    
-   Kategori Umum
Registrasi via sms ke nomor 085624541402 (Nais Ambarsari) dengan format :                        LBPPR_NAMA_KATEGORI UMUM_ASAL(Universitas/Alamat)

-   Kategori Pelajar
Registrasi via sms ke nomor 08997200422 (Shela Augustine) dengan format :
LBPPR_NAMA_KATEGORI PELAJAR_ASAL(Sekolah/Komunitas)

3.   Menyelesaikan administrasi pendaftaran melalui rekening BNI 0262436764 atas nama Hilda Fauziah
4.   Setelah membayar biaya pendaftaran konfirmasi kembali via sms

UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia) 2013

UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia) 2013

Kegiatan ini diselenggarakan berdasarkan kebutuhan mahasiswa untuk mengukur seberapa jauh kemampuan dasar kebahasaannya. Sehingga, memang program ini sangat diminati baik itu oleh mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia maupun mahasiswa jurusan kebahasaan lainnya. Selain itu, kegiatan ini juga menyediakan ruang bagi masyarakat umum untuk dapat mengukur kemampuan berbahasa Indonesianya.

Nama Acara    : Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI)
Hari, Tanggal   : Rabu, 30 Oktober 2013
Pukul               : 08.00 s.d. selesai WIB
Tempat            : Gedung Auditorium B FPBS UPI
Peserta            : Pelajar, mahasiswa, dan umum se- Indonesia
Biaya               : Rp 45.000,-

Ketentuan Pendaftaran:


1.   Pendaftaran 19 September s.d. 18 Oktober 2013
2.   Mengisi formulir di stand pendaftaran Gedung PKM UPI Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Bandung dan menyelesaikan administrasi pendaftaran secara langsung atau Registrasi via sms ke nomor 085722552230 (Kahfi) dengan format UKBI_NAMA_SESI_ASAL(Sekolah/Universitas/Alamat)
3.   Menyelesaikan administrasi pendaftaran melalui rekening BNI 0262436764 atas nama Hilda Fauziah
4.   Setelah membayar biaya pendaftaran konfirmasi kembali via sms

Narahubung: Kahfi (085722552230)

Lomba Tulis Esai Sastra Piala Balai Bahasa 2013

Lomba Tulis Esai Sastra Piala Balai Bahasa 2013 


Media tulisan adalah salah satu media yang efektif untuk menuangkan daya nalar seseorang dalam menyorot berbagai macam persoalan salah satunya adalah sastra.  Oleh karena itu, lomba tulis esai ini mengacu terhadap permasalahan yang terjadi dalam bahasa Indonesia. Sebagai salah satu bentuk dari kreativitas berbahasa, sastra tentu saja akan merasakan permasalahan tersebut. Bagaimana sudut pandang masyarakat menyikapi permasalahan tersebut.

Nama Acara   : Lomba Tulis Esais Sastra Piala Balai Bahasa
Tema Acara    : Masyarakat Sastra, Sastra Masyarakat
Peserta           : Umum se- Indonesia
Pendaftaran    : 19 September s.d. 18 Oktober 2013
Pengumuman  : 31 Oktober 2013
Biaya              : Rp 35.000,-


1.  Tema : "Masyarakat Sastra, Sastra Masyarakat"
    *Deskripsi tema : Seiring perkembangan zaman, konvensi bahasa pun ikut menyesuaikan.mengingat sastra adalah produk dari bahasa, tentu, hal itu juga berpengaruh terhadap dinamika kesusastraan.  bagaimana seharusnya peran dan sikap masyarakat menanggapi persoalan tersebut?
2.  Peserta; Umum Se-Indonesia
3.  Biaya pendaftaran RP 35.000,- / judul karya
4.  Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul
5.  Naskah yang dilombakan harus asli, bukan jiplakan, dan belum permah dipublikasikan
6.  Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik, benar, dan indah (literer)
7.  Ketentuan naskah:
     a.  Ditulis di atas kertas ukuran kuarto atau A4, diketik berjara spasi 1,5 spasi, huruf 12 Pt Time New    Roman, margin kanan-kiri rata maksimal 3 cm
     b.  Tidak mencantumkan nama pengarang dalam naskah
     c.   Panjang naskah empat sampai lima halaman
     d.   Naskah diprint 4 (empat) rangkap disertai biodata singkat penulis secara terpisah
     e.   Menyertakan fotokopi KTP atau Kartu Pelajar/Mahasiswa (pilih salah satu)
     f.    Menyertakan fotokopi tanda bukti pembayaran
     g.   File disertakan pula dalam bentuk CD
     h.   Naskah yang dilombakan beserta lampirannya dimasukkan ke dalam amplop tertutup, cantumkan tulisan PESERTA LTESPBB GBSI 2013 pada bagian kanan atas amplop
      i.   Setiap judul karya yang dilombakan membayar biaya sebesar Rp 35.000,- melalui BNI 0262436764 atas nama Hilda Fauziah
      j.   Naskah dan persyaratan (butir d,e,f) dikirim ke alamat:
Panitia Gebyar Bahasa dan Sastra Indonesia (GBSI) 2013
Gedung PKM Lantai 3 Nomor 96 UPI Jalan Dr. Setiabudhi 229 Bandung 40154 Jawa Barat
Atau
      - Mengisi formulir pendaftaran di stan pendaftaran GBSI 2013 di Gedung PKM UPI Jalan Dr. Setiabudhi 229 Bandung
      - Menyelesaikan biaya pendaftaran secara langsung
      - Membawa serta naskah yang akan dilombakan 4 (empat) rangkap disertai biodata penulis secara terpisah dan disertakan pula dalam bentuk CD
Atau
      - Mengirim naskah dan persyaratan (butir d,e,f) ke alamat email gbsihimasatrasia@gmail.com

8.  Pengunguman pemenang akan disampaikan pada tanggal 31 Oktober 2013

Narahubung: Siti Wahyuni (089639411898)

Monday, 8 July 2013

JABAR AWARD 2013


JABAR AWARD 2013
Posted on July 5, 2013   

Jabar Award lahir atas inisiatif beberapa penulis muda Jawa Barat yang sedikit-banyak punya kepedulian terhadap kesusasteraan Indonesia. Akhir-akhir ini, khususnya di Jawa Barat, banyak sekali penulis muda bermunculan dengan kualitas menjanjikan tetapi tidak terfasilitasi oleh media-media serta minimnya penghargaan dari beberapa pihak, termasuk pemerintah.

Jabar Award adalah penghargaan yang diberikan kepada para penulis muda Jawa Barat, yang diselenggarakan secara berkala demi memberikan rangsangan berkarya serta menciptakan regenerasi penulis di Jawa Barat.



Ketentuan Umum

-Peserta maksimal usia 45 tahun

-Peserta adalah warga Jawa Barat (dibuktikan oleh KTP)

-Peserta hanya boleh mengirim satu manuskrip

-Manuskrip tidak sedang diikut-sertakan dalam sayembara serupa

-Manuskrip ditulis dalam bahasa Indonesia

-Tema manuskrip bebas

-Manuskrip adalah karya asli, bukan jiplakan atau saduran

-Manuskrip dibuat 4 (empat) rangkap

-Pengiriman manuskrip dibuka mulai tanggal 14 Februari 2013



Ketentuan Khusus

Kategori Puisi

-Judul manuskrip ditulis di halaman depan

-Puisi yang disertakan minimal sebanyak 40 judul

-Peserta menuliskan kata pengantar sendiri

-Peserta tidak boleh menuliskan nama di dalam manuskrip (header atau footer)

-Menyertakan biodata lengkap pada lembar terpisah serta photocopy KTP

-Print-out manuskrip ditik rapi dengan format font Times New Roman 12 spasi 1 (rangkap 4) dan soft file manuskrip dan foto disimpan dalam CD (format Ms. Word)

Kategori Cerpen

-Judul manuskrip ditulis di halaman depan

-Cerpen yang disertakan minimal sebanyak 10 judul

-Peserta menuliskan kata pengantar sendiri

-Peserta tidak boleh menuliskan nama di dalam manuskrip (header atau footer)

-Menyertakan biodata lengkap pada lembar terpisah serta photocopy KTP

-Print-out manuskrip ditik rapi dengan format font Times New Roman 12 spasi 1,5 (rangkap 4) dan soft file manuskrip dan foto disimpan dalam CD (format Ms. Word)

Kategori Novel

-Judul manuskrip ditulis di halaman depan

-Novel yang disertakan minimal sebanyak 100 halaman

-Peserta menuliskan kata pengantar sendiri

-Peserta tidak boleh menuliskan nama di dalam manuskrip (header atau footer)

-Menyertakan biodata lengkap pada lembar terpisah serta photocopy KTP

-Print-out manuskrip ditik rapi dengan format font Times New Roman 12 spasi 1,5 (rangkap 4) dan soft file manuskrip dan foto disimpan dalam CD (format Ms. Word)

Manuskrip dikirim ke:

PANITIA JABAR AWARD 2013 – YAYASAN KOMUNITAS MALAIKAT

Ahmad Faisal Imron

Baitul Arqom, Jalan Raya Pacet Km. 09 Ciparay

Bandung 40385.

paling lambat Jumat, 16 Agustus 2013 (cap pos).



Lain-lain

-Pemenang penghargaan akan diumumkan pada Malam Anugerah Jabar Award 2013, Sabtu 21 Desember 2013 – di Yayasan Pusat Kebudayaan: Jl. Naripan 3-5 Bandung*

-Pengumuman nominator sebulan sebelum Malam Anugerah Jabar Award 2013

-Pemenang Jabar Award 2013 hanya satu orang

-Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat

-Hadiah berupa piagam dan uang tunai sebesar Rp. 5.000.000,-

-5 Nominasi Jabar Award 2013 akan mendapatkan paket buku dan uang saku

-Manuskrip pemenang akan dibukukan panitia

-Hak penerbitan manuskrip sepenuhnya ada pada panitia

-Dewan juri terdiri dari kalangan sastrawan dan akademisi sastra

*dalam konfirmasi



Contact Person

Heri Maja Kelana (081312833858)

Zulkifli Songyanan (085659282090)

Tuesday, 23 October 2012

Mo Yan Raih Nobel Sastra

Penulis China raih Nobel sastra
Jakarta (ANTARA News) - Penulis asal China, Mo Yan, meraih penghargaan Nobel bidang sastra tahun 2012.

Mo merupakan warga China pertama yang meraih penghargaan Nobel bidang sastra. Pria yang lahir di Gao Xingjian itu mendapat penghargaan tahun 2000, tapi sebagai warga Prancis.
Mo adalah peraih Nobel Sastra ke-109, penghargaan yang tahun lalu dimenangkan oleh pujangga Swedia, Tomas Transtroemer.
Penulis produktif berusia 57 tahun yang telah memublikasikan lusinan cerita pendek itu pertama menerbitkan karyanya tahun 1981.
The Swedish Academy memuji karyanya sebagai "cerita rakyat dengan gabungan halusinasi dan realisme, sejarah dan kontemporer."
"Dia memiliki gaya penulisan yang unik. Jika Anda baca pasti sudah tahu kalau itu karya dia," kata Kepala The Swedish Academy Peter Englund seperti dikutip BBC. 
Mo mulai menulis saat menjadi tentara People Liberation Army (PLA) dan namanya mulai dikenal masyarakat internasional pada 1987 dengan novelnya yang berjudul "Red Sorghum: A Novel of China."
Novel yang difilmkan dan memenangkan penghargaan Golden Bear di Berlin Film Festival tahun 1988 itu berkisah tentang kekerasan yang terjadi di  pedesaan bagian timur China dimana dia tumbuh sepanjang tahun  1920-an dan 1930-an.
Kebanyakan novel karya Mo lebih banyak berkisah tentang China pada masa lalu dengan latar masa revolusi 1911 dibanding isu-isu kontemporer, juga masa invasi Jepang dan Revolusi Budaya Mao Zedong.
"Dia punya karya yang sangat impresif," kata Professor sejarah China dari University of London Michel Hockx. 
"Dia punya banyak pembaca dan dia menyampaikan kondisi manusia dengan cara yang disukai Komite Nobel," katanya.
Karya-karya Mo lain yang terkenal antara lain "Republic of Wine," "Life and Death Are Wearing Me Out" dan "Big Breast and Wide Hips." 
Buku terakhirnya yang diterbitkan 1995 menimbulkan kontroversi karena mengandung muatan seksual dan menggambarkan perjuangan kelas melawan Partai Komunis China. Mo dipaksa menarik bukunya dari peredaran. 
Buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris satu dekade kemudian dan membawa Mo menjadi nominasi penghargaan sastra Asia, Man Asian Literary Prize. 
"Seorang penulis harus mengekspresikan kritik dan kemarahan di sisi gelap masyarakat dan wajah buruk sifat manusia," kata Mo saat berpidato di Frankfurt Book Fair tahun 2009.
"Beberapa mungkin ingin berteriak di jalan, tapi kita harus mentoleransi mereka yang bersembunyi di ruang mereka dan menggunakan tulisan untuk menyampaikan pendapat," katanya.
Novel terakhir Mo yang berjudul "Frog," yang bercerita tentang kebijakan pengendalian populasi China, memenangkan penghargaan Mao Dun Literature Prize - salah satu penghargaan sastra bergengsi di China- tahun lalu.
Mo dan penerima hadiah Nobel untuk pengobatan, fisika, kimia dan perdamaian akan menerima penghargaan dalam upacara formal di Stockholm dan Oslo tanggal 10 December - hari peringatan kematian penggagas Nobel, Alfred Nobel, tahun 1896.

Papua Dinilai Minim Penulis Sastra


Papua Dinilai Minim Penulis Sastra
Senin, 22 Oktober 2012 | 21:34 WIB


JAYAPURA, KOMPAS.com--Staf dari Kantor Balai Bahasa Jayapura, Provinsi Papua, Ummu Fatimah RL, menyatakan di provinsi paling timur Indonesia itu masih minim penulis novel atau karya sastra lainnya.

"Berdasarkan pengamatan kami, dan saya secara pribadi. Di Papua, masih kurang penulis novel atau sastra yang asli orang Papua," kata Ummu yang juga novelis itu dalam diskusi Ko’Sapa (Komunitas Sastra Papua) di Jayapura, Senin.

Menurut dia, penulis novel atau pun karya sastra lain yang asli orang Papua hanya bisa dihitung dengan jari, dan itupun mulai ada sejak tahun 2000-an.

Ia menyebut Aprilia RA Wayar yang pada Juni 2009 menulis novel Mawar Hitam Tanpa Akar, kemudian ada sejumlah nama lainya. "Kebanyakan yang menulis bukan orang asli Papua," katanya.

Dia mengutarakan, menulis bukanlah hal yang mudah dan gampang, tetapi membutuhkan semangat dan kerja keras.

"Mengubah budaya bercerita menjadi seorang penulis itu bukan pekerjaan yang gampang. Tetapi jika dimulai dengan membaca buku apa saja, saya kira itu bisa menarik minat untuk menulis tentang apa yang ada di lingkungan kita, atau yang kita lihat dan alami," kata penulis novel ’Lelaki Januari’ itu.

Ia menyarankan untuk menjadi seorang penulis ataupun sastarawan apa saja, agar banyak membaca buku.

Andi Tagimahu, Koordinator Ko’Sapa, juga mengakui hal itu. "Kami membentuk Komunitas Ko’Sapa agar semakin banyak anak-anak Papua yang tertarik untuk menjadi penulis," katanya.

Andi yang pernah menjadi presenter Tabea di PapuaTV mengatakan saat ini komunitas yang dibentuk oleh pihaknya berupa grup di salah satu jejaring sosial telah memiliki anggota sebanyak 1.300 orang lebih. "Dan kami berharap mereka, bisa menyumbangkan karya-karya asli Papua yang kurang mendapatkan perlindungan dan perhatian dari pemerintah," katanya.

Sementara Aprilia RA Wayar ketika diminta pendapat tentang bagaimana ia bisa menulis sebuah novel dengan judul yang menarik mengatakan bahwa menulis itu dimulai dari banyak memabaca novel-novel terkenal.

"Saya sejak kecil sudah gemar membaca, dan novel yang saya tulis itu mengalir begitu saja. Saya tertantang untuk menulis setelah membaca novel "Sali" karya Dewi Linggasari. Sebagai orang Papua saya harus bisa menulis," katanya.

"Saya sependapat dengan kakak Ummu, bahwa di Papua masih minim penulis novel atau sastra," katanya.

Sumber :ANT
Editor :Jodhi Yudono

Monday, 15 October 2012

Konser Musikalisasi Puisi Asas Zenith

PROFIL ASAS UPI Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) adalah sebuah unit kegiatan mahasiswa yang bergerak dalam bidang kesusastraan di Universitas Pendidikan Indonesia.Berangkat dari kekhawatiran lesunya gairah kesusastraan di IKIP Bandung (sekarang UPI) khususnya dan nusantara umumnya, maka para pemerhati dan penikmat sastra melontarkan sebuah gagasan untuk mendirikan sebuah wadah yang dapat menampung dan mengembangkan minat dan bakat kesusastraan mahasiswa IKIP Bandung.Gagasan tersebut terwujud saat Unit Kegiatan Mahasiswa Arena Studi Apresiasi Sastra “Zenith” didirikan pada tanggal 12 Desember 1991. Pada mulanya, ASAS Zenith merupakan metamorphosis dari sebuah wadah yang bernama Teater Zenith HMJ Diksastrasia FPBS IKIP Bandung. Namun, mengingat akan eksistensi dan tujuan ASAS dalam mengembangkan dan mewadahi potensi-potensi kesusastraan mahasiswa IKIP Bandung, maka pada Musas ke dua tahun 1993 kata Zenith dihilangkan sebagai ciri bahwa ASAS adalah dari, milik dan untuk mahasiswa IKIP Bandung tanpa dibatasi oleh jurusan disiplin ilmu pengetahuan apapun. Perubahan dan perkembangan ASAS tersebut menjadi pemicu untuk terus bergulir mengembangkan kesusastraan Nusantara.Tidak hanya itu, ASAS juga menjadi salah satu ibu yang banyak melahirkan banyak sastrawan, penulis, kritikus sastra, dan ahli-ahli sastra di Indonesia.Sebut saja (alm.)Moh. Wan Anwar (redaktur Horison), Lukman A. Sya, Widzar Al-Ghifary, Rudi Ramdhani, Dian Hardiana, Yopi Setia Umbara, Heri Maja Kelana dan lain-lain. Karya-karya berupa puisi, essai, cerpen dan novel pun sering menghiasi koran-koran nasional maupun lokal, bahkan sampai ke negeri Jiran dan Belanda. ASAS sebagai organisasi yang bergerak di tengah-tengah mahasiswa UPI.Dengan seabrek kegiatan yang dapat menampung aspirasi mahasiswa dan mampu menjadi wadah untuk menyalurkan bakat mahasiswa, ASAS senantiasa meningkatkan eksistensinya baik secara internal maupun eksternal kampus. Dengan demikian, ASAS mampu menjadi fasilitator akan kebutuhan warga dan sebagai media aspirator untuk merealisasikan apa yang menjadi cita-cita, khususnya memasyarakatkan sastra di semua lapisan masyarakat. Sejauh ini, kegiatan yang sering dilaksanakan adalah diskusi, Apresiasi, kajian, seminar dan materi akademis lainnya, baik secara internal maupun secara eksternal. Salah satu kegiatan yang mencakup semua hal tersebut adalah Tour Sastra yang merupakan momentum bagi anggota ASAS untuk mengembangkan sastra di sekolah-sekolah dengan cara menjadi tutor bagi siswa-siswa di sekolah bekerja sama dengan ekstrakurikuler yang bergerak pada dunia sastra. Selain itu, ASAS memiliki kegiatan yang berskala nasional, yaitu Fokus Sastra.Acara ini mengundang sastrawan-sastrawan muda se-nusantara.Selain menjalin silaturahmi antara sastrawan muda se-nusantara, acara ini juga bertujuan untuk memperluas jaringan ASAS sebagai suatu komunitas sastra.Jaringan sangat penting bagi sebuah organisasi atau komunitas.Semakin luasnya suatu jaringan, semakin leluasa suatu organisasi atau komunitas bergerak untuk terus maju. Dalam hal prestasi, ASAS memiliki banyak prestasi yang membanggakan, baik dalam tataran kampus (regional) maupun nasional bahkan internasional.Pada bulan Juli tahun ini ASAS berhasil diundang menjadi peserta dalam acara Temu Sastrawan Indonesia II (TSI) di Bangka Belitung.Bulan September ASAS diundang dalam acara Ubud Writer Festival—suatu acara yang berskala internasional.Pada bulan Oktober lalu ASAS berhasil memborong piala (Juara I, II, III Lomba Baca Puisi Piala Taufik Ismail, Juara I Lomba Cipta Puisi, Juara I Lomba Cipta Cerpen) dalam acara Semarak Bulan Bahasa 2009—suatu acara berskala nasional yang dilaksanakan di Serang, Banten.Bulan November lalu ASAS diundang juga dalam acara Temu Penyair Nusantara di Kuala Lumpur, Malaysia.Tahun 2011 ASAS kembaldi undang dalam acara Tem Penyair Nusantara di Palembang.Banyak prestasi yang diraih ASAS dalam enam belas tahun perjalanannya dan tentunya ASAS mampu menjadi bagian dari sejarah sastra negeri ini, Indonesia. Selain melahirkan banyak penulis, ASAS juga melahirkan banyak apresiator khusunya di bidang musikalisasi puisi. Salah satunya group musikalisasi Hajar Aswad, Paretere, Rudi Ramdani. Pada tahun 2007 grop musikalisasi puisi Asas Zenit dibentuk sekaligus pada acara fokus sastra 2007 dimeriahkan dengan konser musikalisasi puisi Asas Zenit. Karya-karya mereka tidak pernah berhenti. Dalam acara fokus sastra yang akan diselenggrakan pada tanggal 15 Desember 2012. Asas Zenit kembali menggelar konser kedua kalinya dalam rangka reuni konser bertujuan mempererat silaturahmi dan mengenalkan karya-karya musikalisasi terbaru.  

Friday, 5 October 2012

Praiseworthy poets at Summit County Library



Praiseworthy poets at Summit County Library
A selection of great books for the poetry-inclined
By Mary Snook
Special to the Daily


It's a snowy winter evening. There's a power outage, leaving my television, computer and CD player out of commission, and me at a loose end for something to do. I scan my bookshelves by flashlight and select a volume of poetry. I stoke the wood stove, set out some candles and settle into an armchair to keep company with Walt Whitman, whose presence seems to occupy my room just beyond the circle of candlelight.

You don't have to wait for a power failure to fall under the spell of poetry, however. The Summit County Library houses the works of a host of classical and contemporary poets from around the world, including a selection of Spanish language and bilingual editions.

For starters, “An Invitation to Poetry: A New Favorite Poem Project Anthology” and “The Language of Life: A Festival of Poets” both offer an enticing smorgasbord of poems for readers to sample. The CD entitled “Poetry Speaks, Expanded” features poets from Tennyson to Plath reading their own work.

Aspiring poets can consult “Ordinary Genius: A Guide to the Poet Within,” “The Rhythm Method, Razzmatazz, and Memory: How to Make Your Poetry Swing” and “Poet Power! The Practical Poet's Complete Guide to Getting Published.”

Kids are naturals when it comes to poetry, for they are constantly improvising with vocal variations even before meeting up with Mother Goose. Our Summit County Library shelves at all three locations (Frisco, Breckenridge and Silverthorne) are well-stocked with children's books and audios such as “Poetry Speaks to Children,” a selection of world poetry with accompanying CD, “A Family of Poems: My Favorite Poetry for Children" by Caroline Kennedy and “If Not for the Cat: Haiku” by Jack Prelutsky.

The electricity comes back on, and the refrigerator starts humming. But I don't get up to turn on the light. Instead I nestle down deeper into the easy chair and linger over my book of poetry while the snow falls outside.

Info: http://www.summitdaily.com/article/20121005/AE/121009925/1078&ParentProfile=1055

Wednesday, 3 October 2012

Textbook Poem By President's Daughter Causes Kerfuffle In Azerbaijan


Textbook Poem By President's Daughter Causes Kerfuffle In Azerbaijan
October 2, 2012 - 10:22am Azerbaijan
A EurasiaNet Partner Post from:  RFE/RL

Whatever your opinion of Azerbaijan's first daughter, Leyla Aliyeva, you have to admit that she is pretty prolific. Indeed, when it comes to her artistic, social, and cultural interests, the eldest child of authoritarian President Ilham Aliyev has far more pies than she has fingers to put in them. Besides being vice president of her mother's charitable Heydar Aliyev Foundation as well as one of the main players in Azerbaijan's aviation and telecommunications industries, she also somehow finds the time to carry out her duties as editor in chief of the "Baku" style magazine. According to Aliyeva's own snazzy website, her other accomplishments include being a business guru, friendship ambassador, and environmental campaigner. Throw in the fact that Aliyeva is also a visual artist, movie producer, and poet, it seems that she is quite the Renaissance woman (or at least a pretty enthusiastic dilettante). Her literary talents were recognized recently when one of her poems was included in a school reader for fifth-graders. Aliyeva's "Elegy" for her late grandfather and former Azerbaijani President Heydar Aliyev appears in the textbook alongside the work of revered Azeri writers such as Cafar Cabbarli. As this brief excerpt illustrates, it's a heartfelt tribute to the third president of independent Azerbaijan and expresses Aliyeva's sadness at his passing: I wish I was a bird flying to the stars And that the moon illuminated my way And I wish I met you there And we turned together toward Earth Listen to the whispers of my grief – I know well what separation is! I wish the winds would spread the cry of my heart To the whole universe The poem, however, (which carries on in the same vein for another six stanzas) is not universally appreciated and there are even people who have criticized its inclusion in an official school reader. Some have actually suggested that the poem's publication in the book might have more to do with Aliyeva's status in Azerbaijan than with her literary talent. "Maybe the girl [Aliyeva] herself doesn't know about this," prominent writer Akram Aylisli told RFE/RL's Azerbaijani Service. "Flattery is so widespread in this country that maybe somebody just took this poem and included it in the book. Schoolbooks have been never been as bad as they are now." Opposition blogger and activist Zaur Qurbanli went even further. "This is the poetry of the daughter of the dictator Ilham Aliyev," he wrote on September 25. "Look what we are coming to. This is the method of poisoning our children. We should protest as much as we can." Unfortunately, Qurbanli didn't get much of a chance to participate in any demonstrations. He was detained on September 29 in connection with illicit drug operations and "illegal documents and objects" that were found in his office. The authorities have tried to play down any controversy over "Elegy." The head of the Schoolbooks Department of the Azerbaijani Ministry of Education, Faiq Shahbazly, simply described the inclusion of the work in a school anthology as "normal." "It has not been included in a main textbook; it's a complementary reader" he said. "And the poem itself is very nice.

Info: http://www.eurasianet.org/node/65991

Monday, 1 October 2012

You can be a Delta Junction Poetry Champion


You can be a Delta Junction Poetry Champion
Posted on October 1, 2012 by Delta News Web

Poets from Delta Junction now have a free chance to be the local poetry champion. That’s because the biggest annual free poetry competition there has ever been has now gone global. The competition is designed to encourage more people to get involved in poetry – so anyone can enter – and beginners are welcome.  Click here for more information.

The London based National Poetry Anthology is the biggest free annual poetry competition there has ever been. In its 15 year history it has published thousands of poets and given them free copies of books featuring their work. But now the UK organisers have decided to go global with The International Poetry Anthology – an annual compilation of the best poetry from all over the world. As before, they will pick 250 regional winners, give them a free copy of the book, and let them vote for the best poem in it. The winner receives £1,000 (around $1,500) and a magnificent trophy to keep for life.

“The National Poetry Anthology has changed the landscape of poetry across the UK,” said Peter Quinn, the man who launched the UK version in 1998. “It’s completely free to enter and we’ve published thousands of poets and given them free copies of the book. The next obvious step was to go international. Thanks to email, entrants can submit their poems at no cost and we will consider them for the new book.

“We will pick 250 winners each representing a town or a region, and give them each a free copy of the book and let them vote for the best poem in it. The person they vote for will be winner of the title International Poet Of The Year. Maybe the winner will come from Delta Junction”.

The competition is open to all age groups but you can only enter via the unitedpress.co.uk website. You can send up to three poems, each one a maximum of 25 lines (including blank lines) and 160 words. They can be on any subject. There is no age limit to the competition but people who submit more than one e-mail or more than three poems will be automatically disqualified. The closing date is December 31st 2012.

Info: http://news.deltanewsweb.com/news/2012/10/01/you-can-be-a-delta-junction-poetry-champion/

Wednesday, 15 August 2012

Launching Antologi Puisi "Tembang Sumbang" Edwar Maulana 12 September 2012 di Hall B FPBS UPI

Segera dapatkan buku sekumpulan puisi Edwar Maulana. Judul buku : Tembang Sumbang
Penulis : Edwar Maulana
Penerbit : Literat Tahun terbit : 2012
Jumlah halaman : viii + 96 hlm ISBN : 978-602-18630-0-8
Harga : Rp. 30.000,-

Pemesanan hubungi:
085795708275 
085659649187 

Puisi tak harus berbicara narasi-narasi besar agar terlihat berbobot. Edwar Maulana dengan jeli menggali hal-hal yang terlupakan atau dianggap sepele dalam kehidupan kita (pagar, pintu, jendela dan sejenisnya). Kejeliannya ini memberi kesadaran kepada kita akan hal-hal eksistensial. Ia menggunakan bahasa sederhana tapi jernih dan efektif serta menimbulkan decak dari kejutan pandangan yang disuguhkannya. 
(Nenden Lilis A., Penyair, Dosen Sastra UPI) 

Hal yang paling menarik perhatian saya dalam Tembang Sumbang karya Edwar Maulana, adalah pada bagian pertama buku ini. Edwar Maulana memilih menulis hal-hal kecil sederhana yang "dipahlawankan" menjadi sesuatu yang penting. Ia menulis tentang piring, kasur, kuku, yang oleh Edwar Maulana sekaligus dijadikan judul puisi. Ia memberi nyawa pada benda-benda kecil itu dan menjadikannya ruh yang mewakilinya. 
(Hanna Fransisca, Penyair) 

Kau tahu ini akan berlangsung lama, aku tak memiliki waktu untuk tak mencintaimu (Lamaran, Edwar Maulana). Penggalan puisi tersebut merepresentasikan kesenangan saya akan sajak Edwar Maulana yang penuh dengan hiruk pikuk suasana cinta, lalu sesaat kemudian menepi dan mengajak kita berpikir mana yang kelapa, mana yang kepala. Mana yang ramalan, mana yang lamaran. Bukan hanya karena mengejar bunyi, namun lebih substansial lagi: Edwar Maulana mengajak kita berpikir apakah kedua kata-kata mirip itu, juga memiliki kemiripan arti atau justru tak memiliki korelasi sama sekali. 
(Mutia Sukma, Penyair) 

Membaca puisi-puisi Edwar Maulana dalam “Tembang Sumbang”, saya seperti diajak untuk kembali mengenali sesuatu yang dekat dengan saya. Sesuatu yang selama ini saya abaikan dan tak pernah sedikit pun mencuri perhatian saya. Benda-benda seperti kursi, meja, pisau, pagar, pintu, jendela dan semuanya seolah berbisik pada saya, bahwa mereka bukan hanya sekedar benda. Namun juga ada hakikatnya dari cinta, sesuatu yang menjadi tema besar dalam kumpulan sajak ini. Sebagai penyair, Edwar Maulana sedang berjalan menuju hakikat dari kepenyairannya itu sendiri. 
(Wida Waridah, Penyair) 

Sajak-sajak di buku ini berusaha memberikan pintu masuk bagi siapa saja, untuk hening sejenak dan menyadari keberadaan kenangan di dalamnya. Melalui Tembang Sumbang ini, Edwar Maulana menawarkan keintiman manusia dengan manusia lainnya melalui simbol benda-benda. Ia juga berusaha mendayagunakan bahasa untuk terus-menerus mencari dan menemukan suara aslinya. 
(Fitri Yani, Penyair, buku kumpulan puisinya Dermaga Tak Bernama)

Sunday, 5 August 2012

Poetry brings Civil War to life



Poetry brings Civil War to life

August 5, 2012
By Rachel Molenda - Journal Staff Writer (rmolenda@journal-news.net) , journal-news.net


MARTINSBURG - Kenneth Postalwait is an unexpected character. A mild-mannered and well-traveled roofer, one wouldn't suspect he is also a poet.

Postalwait is beginning to write Book 5 of his series entitled "Red Hawk: Civil War Journals" this year in conjunction with the war's 150th anniversary.

"Red Hawk" began as a serial in a small-town newspaper in Seguin, Texas. Telling his epic story entirely in poems, Postalwait wrote a new portion every day for four years.

The main character, Red Hawk or Ronzel, begins his story by telling the tale of the Battle of Bull Run. While Postalwait acknowledges that there were battles in West Virginia before Bull Run, he maintains that Ronzel would not speak of them for fear of consequences his family members there might face.

"He doesn't want to incriminate anybody, get any of his family in trouble," Postalwait said.

Family is an important element in Postalwait's work. He uses the experiences of his own ancestors, some of whom fought in the war on both sides, to give his work life.

"I had family that fought on both sides. One member was killed on Allegheny Mountain," Postalwait said.

Postalwait grew up in a military family. He was born in North Carolina, but "learned to walk and talk in Texas," he said. With a father in the Marine Corps, Postalwait has always known the ins and outs of a military life and has used his father's experience as inspiration for Ronzel.

"That's where I got the basis of the character. My father's job, among the many duties that he had, he was the officer of the graveyard registration," Postalwait said. "(I did that) out of respect for what he did and ... the soldiers (who) now are serving."

Drawing comparisons between the Civil War and both Gulf wars, Postalwait described his character's political stance as "pro-American."

"He wants America to be united. ... He believes they should be able to settle this politically and not shoot each other," Postalwait said.

Postalwait is starting to network with local educational organizations, such as schools and libraries, in order to reach out to the students and the community at large.

"I want this to be a teaching tool for kids. It teaches creative writing, history, poetry and ... philosophy," he said.

While Postalwait has no formal training in creative writing, he has been writing poetry since high school. He told of a poem he wrote in response to a fellow student being killed in a car accident as his writing's catalyst.

"I wrote a poem about it, and I gave it to the teacher. It moved her so deeply that she left the room," he said. "When she came back and got her composure, she said, ... 'Later on, your children or grandchildren will be studying the poems of Ken Postalwait.'"

"That was a very high bar, so all of my life I've written poems," Postalwait said.

- Staff writer Rachel Molenda can be reached at 304-263-3381, ext. 215, or rmolenda@journal-news.net

 © Copyright 2012 journal-news.net. All rights reserved. This material may not be published, broadcast, rewritten or redistributed.

Info: http://www.journal-news.net/page/content.detail/id/582681/Poetry-brings-Civil-War-to-life.html?nav=5006

Friday, 27 July 2012

Sides Sudyarto DS, Terbitkan Buku berjudul "Kritik atas Puisi Indonesia"


Fredrick Rieuwpassa
14/07/2012 08:24

Liputan6.com, Surabaya: Penyair yang juga novelis Sides Sudyarto DS menerbitkan buku berjudul "Kritik atas Puisi Indonesia" dengan membedah 35 puisi karya-karya penyair Indonesia. Pimpinan Rayakultura Naning Pranoto yang menerbitkan buku itu di Surabaya, Sabtu, menjelaskan, buku setebal 100 halaman tersebut menjadi semacam kado untuk para penyair muda Indonesia.

"Buku Kritik Atas Puisi Indonesia (KAPI) ini diterbitkan atas banyaknya permintaan dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi yang ingin memiliki buku tentang pembedahan puisi. Bak gayung bersambut, Sides Sudyarto DS yang sedang menulis kritik atas puisi Indonesia langsung dapat memenuhi permintaan tersebut," katanya.

Buku yang ditulis Sides berisi 35 puisi karya dari 35 penyair Indonesia dari tiga generasi, yakni Pujangga Baru, Angkatan 66, dan Angkatan Abad 21. Penyair yang karya puisinya dibahas antara lain, Armaya, Acep Zam-Zam Noor, Ahmadun Y Herfanda, Amir Hamzah, Asrul Sani, Chairil Anwar, DS Muljanto, Darmanto JT, Dharmadi, Goenawan Mohamad, Nenen Lilis A, Rendra, Mohtar Pabottingi, Ramadhan KH, Sanoesi Pane, Soesi Sastro, Sitor Situmorang, dan Sapardi Djokodamono.

Menurut Naning, KAPI sangat menarik, tidak hanya karena pembedahan Sides Sudyarto DS yang begitu cerdas tanpa menggurui maupun "menikam", tapi puisi-puisi yang dibedah selain puitis juga bernilai mistis, historis, bahkan ada yang bersifat politis. "Pembaca, khususnya para penyair muda bukan dalam arti usianya, tapi pengalaman menulis puisi, akan menemukan banyak hal-hal penting untuk mengasah kreativitas maupun kekritisannya dalam berkarya," kata Naning yang produktif menulis novel ini.

KAPI, katanya, tidak berlebihan bila disebut sebagai "Kitab Kreatif Berpuisi". Ia mengistilahkan KAPI yang diterbitkan atas sumbangsih PT Rohto Laboratories Indonesia ini sebagai bak sumur untuk menimba air bening proses kreatif para penyair dari masa ke masa.

"Masing-masing punya warna dan makna dalam menyuarakan bobotnya berdasarkan pengalaman batin yang dimiliki, pengalaman bersosialisasi, pengalaman menulis, pengalaman estetika yang dikuasai dan sebagainya," kata pengajar menulis kreatif di beberapa perguruan tinggi di Jakarta ini.

Menurut dia, ada beberapa puisi yang "mengejutkan" karena tidak hanya indah dan puitis, tapi juga brilian dan tetap relevan walau ditulis lebih dari 50 tahun yang lalu. Misalnya, puisi karya JE Tatengkeng berjudul Mengembara dan Siti Nurani berjudul Transit. (ANT/FRD)

Info: http://berita.liputan6.com/read/421036/sides-sudyarto-ds-terbitkan-buku










Thursday, 24 May 2012

SMAN 4 Banda Aceh Wakil Aceh di Festival Musikalisasi Puisi


Aceh - Selasa, 15 Mei 2012 00:11 WIB
SMAN 4 Banda Aceh Wakil Aceh di Festival Musikalisasi Puisi

(Analisa/iranda novandi). Tim Musikalisasi Puisi SMAN 4 Banda Aceh saat beraksi dalam festival tingkat Aceh, baru-baru ini. Sekolah ini keluar sebagai juara pertama dan berhak mewakili Aceh untuk tingkat Sumatera.
Banda Aceh, (Analisa). Kepala Balai Bahasa Banda Aceh, Teguh Santoso, S.S,M.Hum, mengharapkan segenap pemangku kepentingan kebudayaan di Aceh memberikan perhatian dan dukungannya agar musikalisasi puisi menjadi genre kesenian yang dapat mengharumkan nama Aceh di tingkat nasional
Ini dinilai perlu setelah melihat hasil pelaksanaan Festival Musikalisasi Puisi yang digelar Balai Bahasa Banda Aceh telah melahirkan bibit-bibit pekerja seni-sastra yang potensial dan andal, terutama dalam bidang musikalisasi puisi.

"Realita ini tentu saja menjadi hal menggembirakan bagi perkembangan musikalisasi puisi Aceh ke depan," ujar Teguh Santoso kepada Analisa di Banda Aceh, Sabtu (12/5).

Dikatakan, pada Festival Musikalisasi Puisi Tingkat SMA/Sederajat se-Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar yang baru digelar Balai Bahasa, memutuskan SMA N 4 Banda Aceh tampil sebagai pemenang pertama sekaligus menjadi wakil Aceh dalam ajang yang sama tingkat Sumatera di Padang pada Juli 2012.

Dalam Festival Musikalisasi Puisi Tingkat SMA itu, pemenang kedua diraih SMAN Modal Bangsa Aceh Besar, SMAN 10 Fajar Harapan Banda Aceh sebagai juara III dan pemenang favorit SMA Lab. School Banda Aceh.

Ketua Panitia Festival Musikalisasi Puisi Ibrahim Sembiring, mengatakan, penyelenggaraan festival ini merupakan sebagai upaya untuk menindaklanjuti pelaksanaan kegiatan Bengkel Sastra yang pernah diadakan oleh Balai Bahasa Banda Aceh beberapa waktu lalu.

"Salah satu topik yang disajikan penyuluh membahas tentang seputar musikalisasi puisi," ungkap Ibrahim Sembiring.

Festival yang diikuti enam sekolah se-Kota Banda Aceh dan Aceh Besar ini berlangsung pada 7-9 Mei 2012 itu dengan aspek yang dinilai dewan juri meliputi, penafsiran, komposisi musikal, harmonisasi, vokal, penampilan.

Dewan juri terdiri dari Ir Rahmad Sanjaya MSc. (perintis sekaligus pegiat musikalisasi puisi di Aceh), Djamal Syarif SSn (penyair Aceh sekaligus alumnus STSI Padang Panjang), dan Nurman Effendi, musisi Aceh yang saat ini aktif sebagai penata musik di sanggar Buana Nusantara Banda Aceh.

Menurut Sembiring, para guru pembimbing dan peserta festival sangat mengharapkan agar kegiatan festival musikalisasi puisi dapat dilaksanakan setiap tahun. Menurut mereka, selain dapat dijadikan sebagai ajang seleksi untuk mengikuti festival musikalisasi puisi tingkat SLTA se-Sumatera yang hingga kini sudah memasuki penyelenggaraan yang ketujuh.

"Festival ini juga sekaligus dapat dijadikan salah satu wahana pemasyarakatan musikalisasi puisi di Aceh," ujar Sembiring meniru ungkapan para guru pembimbing dari berbagai sekolah yang ikut. (irn)

Info: http://www.analisadaily.com/news/read/2012/05/15/50807/sman_4banda_aceh_wakil_aceh_di_festival_musikalisasi_puisi/

Friday, 11 May 2012

Cornelia Agatha Yakin Puisi Bakal Tembus Industri


Cornelia Agatha Yakin Puisi Bakal Tembus Industri
Rabu, 09 Mei 2012 22:10 | Cornelia Agatha


Kapanlagi.com - Yang selama ini kerap tampil di panggung entertain memang rata-rata adalah seni musik dan seni peran. Sedangkan kita sebenarnya punya seni-seni yang lain, yang juga layak untuk diangkat. Seni menulis dan membaca puisi misalnya, seperti yang sedang digalakkan oleh Cornelia Agatha.
Selama ini, puisi memang jarang sekali terdengar gaungnya di kalangan pemuda masa kini. "Selama ini kan puisi atau yang macam ini cenderung eksklusif. Apalagi puisi, kayaknya kurang gaul imej-nya. Banyak yang suka, tapi di industri gak ada tempat. Masih pake musik kontemporer," Ujar Lia saat dijumpai di Senayan beberapa waktu lalu.

Lia sendiri ingin mengangkat posisi puisi agar bisa sejajar dengan seni peran dan seni musik. "Buktikan puisi bisa eksis di panggung musisi, panggung yang mungkin di situ ada penyanyi macam KD, dan lain-lain. Puisi bisa dibuat sebuah entertainment, dengan tampilan urban. Bisa jadi gaya hidup dan industri," paparnya.

Menembus pasar industri dan menjadi gaya hidup, Lia yakin puisi bisa. "Optimis banget bisa tembus industri. Musiknya bagus dan gaul soalnya. Harus pinter lah pokoknya, inovasi dan transformasi. Nekat aja," pungkasnya kemudian.

Proyek Lia ke depannya adalah membesarkan band Cornel's Jazz and Poetry, agar masyarakat juga mulai mengenal puisi dan menjadikan puisi sejajar dengan seni yang lain. (kpl/ato/dew)

Info: http://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/cornelia-agatha-yakin-puisi-bakal-tembus-industri.html

Thursday, 3 May 2012

Barack Obama: Poetry critic

Barack Obama: Poetry critic 

A new biography offers a glimpse into an Obama most people haven’t seen. | Reuters
By EDWARD-ISAAC DOVERE | 5/2/12 9:25 PM EDT

April is the cruelest month, according to T.S. Eliot, but May is proving to be pretty kind for President Barack Obama’s reputation as a literary critic.
The first excerpts published Wednesday of the highly anticipated David Maraniss biography offer a glimpse into an Obama most people haven’t seen before: Fresh out of Columbia, frustrated in his first job, finding his way around Manhattan, women, literature and himself. And still hung up on a girl back at Occidental he was trying to impress in angst-filled, post-college love letters that only people like presidents have to suffer through having on public view.

The musings now on display in Vanity Fair tackled Eliot’s “The Waste Land,” one of the toughest poems of the 20th century, full of obscure allusions, complex metaphors, lines in an array of languages — and 433 footnotes.
“Remember how I said there’s a certain kind of conservatism which I respect more than bourgeois liberalism — Eliot is of this type. Of course, the dichotomy he maintains is reactionary, but it’s due to a deep fatalism, not ignorance,” Obama wrote, musing on William Butler Yeats and Ezra Pound as he went. “You seem surprised at Eliot’s irreconcilable ambivalence; don’t you share this ambivalence yourself, Alex?
One part Holden Caulfield, one part Immanuel Kant. And no parts that most people could make sense of.
(PHOTOS: Obama over the years)

The excerpt won’t disabuse politicians from Mitt Romney on down who want to portray Obama as more engrossed with his own words than action. For voters whose blood starts to boil at the mere mention of poetry, a young Obama writing about “a choice between ecstatic chaos and lifeless mechanistic order, [Eliot] accedes to maintaining a separation of asexual purity and brutal sexual reality” will add an especially pretentious tile in the pointy-headed professor mosaic.
But the literary crowd loved it — even if they didn’t know who the guy with the umlaut was when Obama wrote, “Eliot contains the same ecstatic vision which runs from Münzer to Yeats.”
“If we talked about ‘The Waste Land’ together when he was 22, we might disagree about some things. But insofar as he alludes to it here, there’s nothing that seems to me mistaken or untoward or indefensible,” said Donald Hall, the former poet laureate and an old friend of Eliot himself.
That includes even those who think Obama is wrong on just about everything else.
“I’m pretty impressed. He seems to have understood ‘The Waste Land’ better than I did as a 22-year-old,” said Weekly Standard Editor Bill Kristol.
Hall remembers the president talking about Robert Frost’s trip to Russia when Obama gave Hall the National Medal of Arts back in 2010. But he didn’t realize how deep the president’s interest in poetry ran: When Obama whispered a few sentences into his left ear — in which, Hall said with a laugh, he’s stone deaf — he didn’t think too much about what he was missing.
But after reading Obama’s comments on Eliot, now he’s wondering if Obama might have made a refined literary point that he missed.
Short URL: http://politi.co/IKNo3W
Info: http://www.politico.com/news/stories/0512/75861.html

Friday, 27 April 2012

Poetry slam to pick teens for competition in San Francisco


Poetry slam to pick teens for competition in San Francisco

Published: Thursday, April 26, 2012, 3:00 PM


FLINT, MI—Danielle Horton, a freshman at Classical Academy, seems like a poetry prodigy in the making—she began getting noticed in school in seventh grade, and an impromptu performance during a student tour of University of Michigan earned her an invitation to work with a group at the school. But she's a bit nervous for Saturday—her first official poetry slam carries a chance to travel across the country to compete with young poets from all over the world.
"People told me not to be nervous, just to give it my all," Horton said. "Every judge has their own favorites and things they like and look for, so don't write to please the judge: write for you. If you give it your all and do it for you, the judges will feel you."
Horton is one of what organizers estimate will be a field of 20-plus poets that will compete at Buckham Gallery on Saturday, April 28 to land a spot on Flint's Brave New Voices poetry team and perform in San Francisco, Calif. She has been attending workshops downtown for the past few weeks to hone her writing and performance skills to boost her chances.
The team is part of Raise It Up! Youth Arts & Awareness, an organization that was officially founded by Flint poet Natasha "Theory" Thomas-Jackson in 2005—and began getting grants from Ruth Mott Foundation in 2009—to give structure to the poetry and community workshops she was doing for schools and churches with poetry group Neo-Griot. Teens last year had expressed interest in the Brave New Voices competition—the show was taken on by hip-hop mogul Russell Simmons for a special on HBO, and celebrities like Common, Rosario Dawson and Yasiin Bey (formerly known as Mos Def) have been involved in past years.
After convincing Brave New Voices organizers that Flint deserved its own team instead of joining Detroit, Ann Arbor or Ypsilanti, they hosted a competition and raised about $10,000 to pay for the transportation, food and lodging for six poets—four competitors, and two reserves. Thomas-Jackson remembers many of the kids being shy when they arrived as first-time travelers, but they loosened up as they spent more time out.
"They had a lot of questions about why people looked and talked a certain way. 'Why are they hugging us, we don't know them,'" Thomas-Jackson remembers, while she and Program Director Lyndava Williams met with Flint Journal in their new office on S. Saginaw. "By the end of it, they were wide open, talking to other teams and introducing themselves."
JaCquell Price, 20, says that the social skills weren't the only area of improvement that came from participating in the contest. His writing and performance skills were improved as well.
"I've always been a good writer, but it helped me look at different ways to go at a subject...and be more aware about what's going on around me," Price says. "I used to try to avoid writing personal pieces, [but] I don't have all these defense mechanisms [anymore]."
Price can no longer compete since he's out of the age range of 13-19, but he hopes to lend some of those lessons to this year's workshop participants. Last year's qualifying slam was only preceded by other slams, but workshops were implemented this year to help sharpen poets' skills before competition. Horton says that one workshop required here to write about a tomato without using obvious qualifiers and word associations like the color red, or ketchup. She came up with a conceptual poem that analogized tomatoes, which are scientifically considered fruits because of having seeds inside, with vegetables and people of different shapes, colors and sizes. "I may be different on the outside," she explained, "but on the inside, I'm just like you." Price said that the workshops have been refreshing.
"The next generation of poets has to come from somewhere. The workshops give me a chance not to just teach participants, but a chance to help honor their talent," Price said. "I didn't have anybody there to guide me along to [take one approach instead of another], so to help maneuver them around is really great. Seeing all of this young talent really makes me smile."

Info: http://www.mlive.com/entertainment/flint/index.ssf/2012/04/poetry_slam_to_pick_teens_for.html

Wednesday, 25 April 2012

Kritik Tajam Negara Yahudi, Sastrawan Jerman Dilarang ke Israel


Kritik Tajam Negara Yahudi, Sastrawan Jerman Dilarang ke Israel
Posted by PuJa on April 24, 2012
http://www.analisadaily.com/

KRITIKAN tajam yang dilontarkan Guenter Grass kepada Israel dalam prosanya berjudul What Must Be Said membuat Peraih Nobel Sastra asal Jerman itu dikenakan persona non grata atau dilarang masuk ke negara Yahudi tersebut.
Larangan itu dikeluarkan otoritas Israel pada Minggu 8 Maret. Grass melalui tulisannya dinilai telah membuat hubungan kedua negara masuk ke dalam tahap yang “berbahaya”, bahkan jauh lebih berbahaya dari Iran.
“Jika Grass ingin menyebarkan karya-karya yang tidak masuk akal dan penuh dengan omong kosong, saya menyarankan dia untuk melakukannya dari Iran, tempat dia akan mendapatkan banyak dukungan,” ujar Menteri Dalam Negeri Iran Eli Yishai seperti dikutip Associated Press Senin, (9/4).
Grass yang telah hidup pada masa Nazi itu sebelumnya diketahui mengkritik Israel atas program nuklirnya yang dia disebut sebagai kemunafikan Barat.
“Mengapa aku bicara sekarang, bahwa kekuatan nuklir Israel sangat membahayakan perdamaian dunia yang sejatinya telah rapuh? Mengapa harus sekarang aku berkata, karena mungkin besok sudah terlambat,” kata Grass dalam puisinya
“Juga karena kita — sebagai orang Jerman telah cukup dibebani — sebagai subkontraktor kejahatan di masa depan.” Dia menambahkan, sejarah kelam Nazi dan Holocaust tidak jadi alasan untuk warga Jerman tetap diam, membiarkan Israel merajalela dengan senjata nuklirnya.
“Aku tak akan tinggal diam, karena aku bosan dengan kemunafikan Barat,” kata penulis novel “The Tin Drum”, yang mencatat kengerian sejarah Jerman pada abad ke-20.
Pria berusia 84 tahun itu juga menyinggung sikap bermusuhan Israel dengan Iran yang dinilainya dapat menjadi ancaman bagi perdamaian dunia yang saat ini sudah rapuh.
Pernyataan Grass dalam tulisannya itu pun dianggap turut menyinggung beberapa isu paling sensitif bagi Israel yakni tragedi Holocaust, program nuklir Iran dan program nuklir Israel sendiri yang disinyalir telah menghasilkan bom atom.
Sastrawan peraih Nobel 1999 itu menyerang Israel, dengan mengatakan negeri zionis tersebut adalah ancaman perdamaian dunia. Dia juga mengatakan, tak seharusnya Israel diberi kesempatan untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Seperti dilaporkan Associated Press dalam sebuah prosa yang dilansir koran Jerman Sueddeutsche Zeitung, Grass menyinggung pembelian kapal selam berenergi nuklir “Dolphin” milik Jerman oleh Israel pada 2011 lalu.
Menurut Grass tindakan itu berarti mengirimkan semua hulu ledak ke tempat di mana keberadaan bom atom sendiri tidak pernah terbukti.
Kapal selam “Dolphin” yang dibeli Israel itu diketahui memiliki teknologi yang cukup canggih. Kapal selam jenis ini diketahui dapat berada di bawah air dalam jangka waktu yang cukup lama dan memiliki kemampuan untuk menembakkan senjata nuklir.
Israel secara luas dianggap menjadi pemilik senjata nuklir satu-satunya di Timur Tengah. Pemerintahnya tak membantah, atau mengkonfirmasi tudingan itu. (ic/bh)
/10 Apr 2012

Saturday, 21 April 2012

Puisi Asrul Sani Didendangkan Siswa-siswi SMAK Ricci I


Puisi Asrul Sani Didendangkan Siswa-siswi SMAK Ricci I

Tribunnews.com - Kamis, 19 April 2012 18:35 WIB




  Ensembel SMAK Ricci I bersama Marshella & Ayu, diirinigi Ricci Youth Orchestra menampilkan lagu ”Surat Dari Ibu”   dan ”Aku Melangkah Pasti” dalam acara malam kesenian SMAK Ricci I, Kamis (22/3/2012) bertempat di lantai sepuluh ICC, Mega Glodok Kemayoran, Jakarta Pusat.


Citizen Journalism oleh Andreas Purwo Santoso, Pendididik SMP Ricci Jakarta
”Pergi ke dunia luas anakku sayang, pergi ke laut lepas selama angin masih angin buritan............” demikianlah sepenggal syair lagu berjudul ”Surat dari Ibu”, lagu yang digubah oleh T. Sugiarto dari puisi dengan judul yang sama karangan Asrul Sani, yang dilantunkan oleh Marshella dan Ayu (Alumni SMAK Ricci I  angkatan 2011) dalam pentas malam kesenian SMAK Ricci I, bertempat di lantai sepuluh ICC, Mega Glodok Kemayoran, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.
Lagu ini memenangkan juara II lomba Musikalisasi Puisi MKS-SMTA-MPK Keuskupan Agung Jakarta tahun 2009. Diiringi ensembel gitar SMAK Ricci I dan Ricci Youth Orchestra, Marshella dan Ayu membawakan lagu ini dengan penuh penghayatan. ”Saya sangat terharu mendengarnya”,  komentar Susan, seorang penonton.
Siswa-siswi SMAK Ricci I, khususnya para anggota ektrakurikuler ensembel gitar dan biola sangatlah familiar dengan lagu ini. Mereka seringkali memainkannya dalam setiap event, baik di sekolah maupun di luar sekolah, yang membedakannya, pada malam itu, mereka didampingi oleh Ricci Youth Orkestra  asuhan Dominikus Catur. Pengalaman ini tentunya menimbulkan kesan tersendiri bagi mereka. ”Suatu pengalaman yang ’Wah’ , mungkin pengalaman sekali seumur hidup bagi saya, bermain gitar diiringi orkestra,” ujar Cecil (Kelas X.2) salah seorang anggota ensembel gitar. Stella Esperanza (Kelas X.3) memiliki kesan yang hampir sama. ”Saya sangat senang dan bersyukur dapat bermain violin II dalam orkestra ini. Saya sangat bangga dengan sekolah saya,” tuturnya.
Ensembel gitar dan Ricci Youth Orchestra juga mengiringi Marshella dan Ayu, ketika mereka berdua melantunkan lagu “Aku Melangkah Pasti”. Tepuk tangan membahana mengiringi langkah Marshella, Ayu dan para anggota ensembel gitar ketika mereka meninggalkan panggung. Acara demi acara terus bergulir, sampai berakhir pukul 22.00 WIB. (Andreas Purwo Santoso)

Menulis Cerpen Bareng Bengkel Sastra Indonesia


Menulis Cerpen Bareng Bengkel Sastra Indonesia

oleh Jati pada Jumat, April 20th, 2012 dilihat 92 kali


Libur sekolah bukan berarti libur beraktivitas, bukan. Nah, di saat siswa kelas XII SMA sedang serius mengerjakan soal ujian nasional (UN), sekitar 30 siswa kelas X dan XI di Kota Semarang mengisi libur mereka dengan mengikuti kegiatan seru, nih kawan.

Yap, mereka mengikuti acara Bengkel Sastra Indonesia, yang bertema Penulisan Cerpen bagi Siswa SMA Kota Semarang, di Balai Bahasa Semarang, Senin (16/4).

Acara yang dibuka oleh Kepala Balai Bahasa Semarang, Drs Pardi M. Hum itu, berlangsung serius tapi santai. Sebagian besar siswa yang hadir, mengaku sudah pernah nulis. Ada yang benar-benar hobi merangkai kata-kata, tapi ada juga yang nulis karena tuntutan tugas sekolah. Disini, mereka ditantang untuk membuat cerita pendek atau cerpen. Wah, seru. Acara yang juga digelar pada Kamis (19/4) itu, memang bertujuan mengajak para anak sekolah untuk mengenal dan mencintai sastra Indonesia.

Kalau sudah kenal, betapa eksotisnya karya sastra Indonesia. Selain itu, dalam forum Bengkel Sastra Indonesia ini, mereka berkesempatan menanyakan masalah-masalah yang muncul saat proses menulis.



‘’Menjadi cerpenis, nggak usah takut jadi miskin!’’ kata Prasetyo Utomo, Sastrawan yang menjadi pembicara dalam Bengkel Sastra Indonesia siang itu. Cerpenis yang juga pengajar di SMA N 11 Semarang dan IKIP PGRI Semarang itu, bersemangat menceritakan kesuksesan para cerpenis Indonesia. Kisah-kisah inspiratif para cerpenis, pastinya bakal mendongkrak semangat para anak muda untuk lebih sering membaca atau menulis karya satra.

Seperti kisah inspiratif seorang, Joni Ariadinata. Siapa sangka, pria yang kini menjabat sebagai redaktur majalah Horizon dan pemeroleh penghargaan cerpenis terbaik Kompas itu dulunya adalah seorang tukang pijit. Semangat mencipta karya tanpa pernah menyerah dan sikapnya yang rendah hatilah yang bikin Joni sukses menjadi sastrawan, wow.

Tapi, nggak cuma kisah inspiratif cerpenis asal Majalengka itu saja, sosok seperti Pramoedya Ananta Toer, Umar Kayam, Ahmad Tohari, NH Dini, Chairil Anwar dan banyak lagi sastrawan Indonesia, juga menjadi sumber inspiratif yang baik, tambah Prasetyo yang kala itu bicara banyak soal cara menggali ide sebelum menulis, dan dengan gamblang memberikan jawabannya.

Menulis bukan hanya, sekadar buat pemuas diri. Tapi, juga bisa diterbitkan dan dibaca orang banyak. Siapa tahu, lewat menulis bisa mendatangkan rezeki buat kamu, kawan.

Info: http://remaja.suaramerdeka.com/2012/04/20/menulis-cerpen-bareng-bengkel-sastra-indonesia/