Pages

Wednesday, 15 August 2012

Launching Antologi Puisi "Tembang Sumbang" Edwar Maulana 12 September 2012 di Hall B FPBS UPI

Segera dapatkan buku sekumpulan puisi Edwar Maulana. Judul buku : Tembang Sumbang
Penulis : Edwar Maulana
Penerbit : Literat Tahun terbit : 2012
Jumlah halaman : viii + 96 hlm ISBN : 978-602-18630-0-8
Harga : Rp. 30.000,-

Pemesanan hubungi:
085795708275 
085659649187 

Puisi tak harus berbicara narasi-narasi besar agar terlihat berbobot. Edwar Maulana dengan jeli menggali hal-hal yang terlupakan atau dianggap sepele dalam kehidupan kita (pagar, pintu, jendela dan sejenisnya). Kejeliannya ini memberi kesadaran kepada kita akan hal-hal eksistensial. Ia menggunakan bahasa sederhana tapi jernih dan efektif serta menimbulkan decak dari kejutan pandangan yang disuguhkannya. 
(Nenden Lilis A., Penyair, Dosen Sastra UPI) 

Hal yang paling menarik perhatian saya dalam Tembang Sumbang karya Edwar Maulana, adalah pada bagian pertama buku ini. Edwar Maulana memilih menulis hal-hal kecil sederhana yang "dipahlawankan" menjadi sesuatu yang penting. Ia menulis tentang piring, kasur, kuku, yang oleh Edwar Maulana sekaligus dijadikan judul puisi. Ia memberi nyawa pada benda-benda kecil itu dan menjadikannya ruh yang mewakilinya. 
(Hanna Fransisca, Penyair) 

Kau tahu ini akan berlangsung lama, aku tak memiliki waktu untuk tak mencintaimu (Lamaran, Edwar Maulana). Penggalan puisi tersebut merepresentasikan kesenangan saya akan sajak Edwar Maulana yang penuh dengan hiruk pikuk suasana cinta, lalu sesaat kemudian menepi dan mengajak kita berpikir mana yang kelapa, mana yang kepala. Mana yang ramalan, mana yang lamaran. Bukan hanya karena mengejar bunyi, namun lebih substansial lagi: Edwar Maulana mengajak kita berpikir apakah kedua kata-kata mirip itu, juga memiliki kemiripan arti atau justru tak memiliki korelasi sama sekali. 
(Mutia Sukma, Penyair) 

Membaca puisi-puisi Edwar Maulana dalam “Tembang Sumbang”, saya seperti diajak untuk kembali mengenali sesuatu yang dekat dengan saya. Sesuatu yang selama ini saya abaikan dan tak pernah sedikit pun mencuri perhatian saya. Benda-benda seperti kursi, meja, pisau, pagar, pintu, jendela dan semuanya seolah berbisik pada saya, bahwa mereka bukan hanya sekedar benda. Namun juga ada hakikatnya dari cinta, sesuatu yang menjadi tema besar dalam kumpulan sajak ini. Sebagai penyair, Edwar Maulana sedang berjalan menuju hakikat dari kepenyairannya itu sendiri. 
(Wida Waridah, Penyair) 

Sajak-sajak di buku ini berusaha memberikan pintu masuk bagi siapa saja, untuk hening sejenak dan menyadari keberadaan kenangan di dalamnya. Melalui Tembang Sumbang ini, Edwar Maulana menawarkan keintiman manusia dengan manusia lainnya melalui simbol benda-benda. Ia juga berusaha mendayagunakan bahasa untuk terus-menerus mencari dan menemukan suara aslinya. 
(Fitri Yani, Penyair, buku kumpulan puisinya Dermaga Tak Bernama)

Reactions:

0 comments:

Post a Comment