Pages

Saturday, 21 April 2012

Menulis Cerpen Bareng Bengkel Sastra Indonesia


Menulis Cerpen Bareng Bengkel Sastra Indonesia

oleh Jati pada Jumat, April 20th, 2012 dilihat 92 kali


Libur sekolah bukan berarti libur beraktivitas, bukan. Nah, di saat siswa kelas XII SMA sedang serius mengerjakan soal ujian nasional (UN), sekitar 30 siswa kelas X dan XI di Kota Semarang mengisi libur mereka dengan mengikuti kegiatan seru, nih kawan.

Yap, mereka mengikuti acara Bengkel Sastra Indonesia, yang bertema Penulisan Cerpen bagi Siswa SMA Kota Semarang, di Balai Bahasa Semarang, Senin (16/4).

Acara yang dibuka oleh Kepala Balai Bahasa Semarang, Drs Pardi M. Hum itu, berlangsung serius tapi santai. Sebagian besar siswa yang hadir, mengaku sudah pernah nulis. Ada yang benar-benar hobi merangkai kata-kata, tapi ada juga yang nulis karena tuntutan tugas sekolah. Disini, mereka ditantang untuk membuat cerita pendek atau cerpen. Wah, seru. Acara yang juga digelar pada Kamis (19/4) itu, memang bertujuan mengajak para anak sekolah untuk mengenal dan mencintai sastra Indonesia.

Kalau sudah kenal, betapa eksotisnya karya sastra Indonesia. Selain itu, dalam forum Bengkel Sastra Indonesia ini, mereka berkesempatan menanyakan masalah-masalah yang muncul saat proses menulis.



‘’Menjadi cerpenis, nggak usah takut jadi miskin!’’ kata Prasetyo Utomo, Sastrawan yang menjadi pembicara dalam Bengkel Sastra Indonesia siang itu. Cerpenis yang juga pengajar di SMA N 11 Semarang dan IKIP PGRI Semarang itu, bersemangat menceritakan kesuksesan para cerpenis Indonesia. Kisah-kisah inspiratif para cerpenis, pastinya bakal mendongkrak semangat para anak muda untuk lebih sering membaca atau menulis karya satra.

Seperti kisah inspiratif seorang, Joni Ariadinata. Siapa sangka, pria yang kini menjabat sebagai redaktur majalah Horizon dan pemeroleh penghargaan cerpenis terbaik Kompas itu dulunya adalah seorang tukang pijit. Semangat mencipta karya tanpa pernah menyerah dan sikapnya yang rendah hatilah yang bikin Joni sukses menjadi sastrawan, wow.

Tapi, nggak cuma kisah inspiratif cerpenis asal Majalengka itu saja, sosok seperti Pramoedya Ananta Toer, Umar Kayam, Ahmad Tohari, NH Dini, Chairil Anwar dan banyak lagi sastrawan Indonesia, juga menjadi sumber inspiratif yang baik, tambah Prasetyo yang kala itu bicara banyak soal cara menggali ide sebelum menulis, dan dengan gamblang memberikan jawabannya.

Menulis bukan hanya, sekadar buat pemuas diri. Tapi, juga bisa diterbitkan dan dibaca orang banyak. Siapa tahu, lewat menulis bisa mendatangkan rezeki buat kamu, kawan.

Info: http://remaja.suaramerdeka.com/2012/04/20/menulis-cerpen-bareng-bengkel-sastra-indonesia/

Reactions:

0 comments:

Post a Comment