Pages

Tuesday, 29 May 2012

Sajak-Sajak Gendhotwukir


Sajak-Sajak Gendhotwukir
Posted by PuJa on May 27, 2012
http://www1.kompas.com/3 April 2010

Gagak-gagak Liar

Gagak-gagak liar bertengger di menara gereja
Sejak ada gaung requem
Gagak-gagak hitam legam liar mata
Tua. Kaku terdiam
Di paruhnya tumbuh wajah garang serigala
Hendak menerkam-rajam menikam
Air ludahnya melelehkan darah penghina
Pengganggu mimpi dan nyenyak malam
Ujung kakinya berkukukan kilau pedang. Emas bercahaya
Senjata pemangku dogma. Tajam
Penghojat dibungkam dengan ujar sabda
Pergilah ke dunia kelam
Bukan di gereja
Tapi di ujung neraka

Belanda, 2006-2010

Perousia

Jika waktunya datang
Tubuh menjadi bintang
Terbang
Menggenang
; Dan terapung
Tidak sedih, tidak gembira
Tenang
Terayun di bentangan gelombang
Pada hari-hari tak berbatas bentang
Pusaran waktu menggelandang
Tidak ada
Hari kemarin
Hari ini
Atau pun hari mendatang
Yang ada
Kehidupan tenang
Dayu – memanjang

Jerman, 2005-2010

Jika Musim Dingin Tiba

Jika musim dingin tiba
Segera saja aku ingin menyimpan kata
Berdiri di kota tua
Seraya mengenang masa
Membaca dan mengerti celah mantra
Bersama angin dingin
Yang hendak membawamu
Merapat di Tembok Berlin
Juga di pucat kakimu
Yang telah lelah berkelana
Karena setelah itu meringkuk malu
Terpana sebagai pengelana
Di selembar untaian bir dan bibir memudar
Jika musim dingin tiba
Segera saja aku ingin membaca salju
Alunan jazz tersayat
Menganganku pada malaikat
Yang enggan jatuh ke bumi
Bersama angin dingin
Menghembus
Pupus
Karena ada bulan kembar
Tepat di selembar untaian bir
Dan bibir yang telah kacir

Berlin, 2005-2010

Kota Tua

1./
Angin saling berebut. Mencari ketiak kotamu
Berpacu di atas roda-roda kereta yang gelayutan. Seiring
anak-anak berteriak kegirangan. Akar-akar
bercengkrama dengan tebing-tebing tinggi. Mencakar batu-batu
Menanak pohon-pohon perdu dan mengirimnya ke pusar matahari
Kita dibuatnya sempoyongan. Entah sampai kapan
Mungkin hingga senja terbakar dan terperosok ke jurang
Langit begitu kosong. Saat kita memperebutkan amarah
Amarah yang tertinggal di atas sajadah. Terus menggerayah
Di setiap kita yang tak pernah berziarah
Ziarah diri dan sakit hati. Melemparkannya di bara abadi
Yang dikirim oleh dua malaikat
2./
Hamparan gedung-gedung pencakar tak berzakar. Menggeliat
Tapi enggan bicara dan terus membisu. Memendam sejarah kota
Kaki-kaki debu gentayangan mencari mangsanya. Berpencar
Kolam-kolam biru mengitari sungai panjang. Membelah dua pulau
Dan kaki-kaki petualang riuh berkereta di bawahnya. Di antara semak
Dan jalan-jalan setapak. Kita menyaksikan
Orang-orang yang mengutuki nasibnya. Terjun dari apartemennya
Lubang jendela dihancurkannya. Terjun bebas mengakhiri
Begitu sempitkah dunia. Tega menerjang batas hidupnya
Dunia begitu kecil.tak tertata. Namun, betapa besar dan berarti
Setiap setia. Melangsungkan kelana hari dengan harap
Bangkit berdiri. Seiring tanah-tanah keronta yang terus berguguran
Kita tidak bosan dengan cercaan dan umpatan
Dari setiap gedung tinggi yang terus belepotan
3./
Debarmu menjatuhkan batang-batang kering. Dingin dan punah begitu saja
Melongsor di atas roda-roda besi dan lolong anjing-anjing sunyi
Musim berganti. Seiring tangan-tangan terkatub mengaji
Hibur diri dan akrapi bunga-bunga sakura
Meluluhkan dendam di kelopaknya dan seketika
Dibawa pergi kumbang-kumbang petaka. Ke kuil tua
Di sana berpesta bersama sekumpulan naga dan sekawanan singa
Bangku-bangku onar. Pantat-pantat panas menggelepar
Kita menanam benih-benih persahabatan. Dari waktu purba
Dan tereja dalam gelak-tawa. Waktu itu kita hanya bisa membacanya
Sebagai perjalanan senja di sebuah kota. Terkenang dan tidak binasa

Hong Kong – RBKM, 2010
* Gendhotwukir lahir di Magelang, 7 Januari 1978. Saat ini sedang mendalami sastra secara otodidak sambil bertani di desanya di lereng Gunung Merapi. Sajak, cerpen dan esainya tersiar di sejumlah media di Indonesia dan di luar negeri seperti Hongkong, Belanda dan Jerman.Tim Pendiri Rumah Baca Komunitas Merapi (RBKM) dengan alamat blog http://rumahbacakommerapi.multiply.com ini pernah mengenyam pendidikan di Philosophisch-Theologische Hochschule Sankt Augustin Jerman.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment