Pages

Monday, 7 May 2012

Tragedi Dunia Pendidikan


Tragedi Dunia Pendidikan
Posted by PuJa on May 5, 2012
H.A. Karomani *
http://www.lampungpost.com/

SETELAH kurang lebih 32 tahun masyarakat Indonesia mengalami tekanan politik yang kuat dari rezim Orde Baru, era reformasi belum membawa perbaikan yang berarti.
Masyarakat atas nama demokrasi demikian bebas mengekspresikan gagasan dan kehendaknya. Saking bebasnya, kondisi masyarakat kita kini cenderung berubah menjadi masyarakat yang anarki, penuh konflik, reaktif, tidak toleran, tidak taat azas, dan cenderung destruktif.
Berbagai perilaku antisosial seperti kekerasan, premanisme, hingga korupsi yang makin menggila menjadi tontonan harian bagi bangsa ini. Ironisnya, perilaku seperti ini telah mewarnai potret dunia pendidikan kita.
Beragam perilaku amoral seperti tawuran pelajar, tawuran mahasiswa, demonstrasi yang anarki, ketidakjujuran seperti kasus contek massal, serta joki ujian nasional dan joki masuk perguruan tinggi menjadi salah satu contoh betapa moralitas peserta didik kita demikian rendah. Lebih tragis, dunia pendidikan kita saat ini dikagetkan oleh kasus plagiat yang justru dilakukan oleh pendidik itu sendiri.
Padahal, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, rumusan tersebut tampaknya sekadar ilusi.
Praktek Pengajaran
Sejak tahun 2005 pemerintah menetapkan standar nasional pendidikan yang mencakup delapan aspek, yakni standar isi, proses, kompetensi lulusan, pendidikan dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian. Namun, praktek pendidikan di lapangan sesungguhnya belum sepenuhnya mengarah pada sasaran standar itu. Hal ini terlihat misalnya dalam proses belajar-mengajar dan penilaian yang dilakukan para pendidik.
Meskipun sudah menyandang predikat tersertifikasi, dalam mengelola proses belajar-mengajar para guru banyak yang masih menggunakan gaya lama, yakni gaya menabung yang mengganggap peserta didik sebagai objek celengan yang cukup hanya dijejali pengetahuan. Murid atau mahasiswa dianggap tidak lebih sebagai tong kosong yang layak dijejali air sampai tumpah.
Proses pembelajaran selama ini umumnya tidak diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif. Juga tidak memberikan ruang yang cukup untuk prakarsa, kreativitas, dan kemandirian siswa. Akibatnya, siswa dan mahasiswa kita saat ini tidak kreatif, tidak mandiri, dan umumnya rendah wawasan minat bacanya.
Sebagai dosen, penulis pernah kesal dengan mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia ketika di antara mereka yang nyaris sudah semester akhir tidak mengenal sosok sastrawan Pramudya Ananta Toer. Padahal, sastrawan ini telah menghasilkan karya sastra hampir 50 buah judul dan telah dterjemahkan ke dalam 48 bahasa di dunia. Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia tidak tahu siapa Pramudya… sungguh amat tragis!
Tentu saja malapraktek pendidikan acap terjadi pula dalam bidang penilaian. Keberhasilan para siswa atau mahasiswa sering hanya kita ukur secara positivis objektif-kuantitatif dari aspek nilai ujian atau indeks prestasi kumulatif (IPK).
Para pendidik kerap mengabaikan aspek kepribadian siswa dari sisi lain yang khas, seperti akhlak mereka pada dosen dan guru, kejujuran, kerja sama dengan kawan sekelas, pengabdian kepada masyarakat, bahkan kualitas ibadahnya, sebagai bagian yang inheren dengan prestasi mereka.
Akibat pola penilaian seperti ini, tidak heran manakala ditemukan nilai siswa yang demikian tinggi dalam pendidikan agama, namun siswa tersebut suka mencontek, tidak jujur, bahkan tidak pernah melaksanakan syariat agamanya sendiri.
Malapraktek Pendidikan
Proses pembelajaran dan penilaian yang keliru dalam dunia pendidikan dan pengajaran tanpa disadari sesungguhnya melahirkan karakter moral yang buruk bagi bangsa ini. Demikian lama mengguritanya korupsi, kolusi, dan nepotisme yang membawa bangsa ini pada krisis multidimensi seperti krisis moral, politik, ekonomi, dan lain-lainnya jika diurai penyebabnya—suka atau tidak suka—tidak terlepas dari kegagalan dunia pendidikan.
Di antara koruptor besar dan garong uang rakyat yang menyengsarakan rakyat justru adalah produk pendidikan kita. Ini antara lain akibat malapraktek penilaian kita dalam pendidikan yang menekankan prestasi siswa atau mahasiswa pada kecerdasan intelektual atau angka-angka kuantitatif belaka. Padahal, ukuran prestasi semacam itu sesungguhnya sudah lama kedaluwarsa.
Kecerdasan manusia itu sendiri tidaklah semata-mata intelektual, tetapi ada kecerdasan lain yang lebih urgen seperti kecerdasan emosional, sosial, dan spritual yang justru amat menentukan keberhasilan hidup seseorang. Semua ini acap luput dari penilaian dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Akibatnya, bangsa ini menjadi bangsa yang seperti kita saksikan dan kita rasakan saat ini, penuh kemunafikan, ketidakjujuran, intoleransi, dan sejumlah karakter buruk lainnya.
Para praktisi dan para petinggi negeri yang memiliki kewenangan dalam bidang pendidikan harus segera membenahi praktek pendidikan dalam setiap satuan pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Dengan demikian, diharapkan dunia pendidikan kita tidak saja menghasilkan orang pintar, tetapi melahirkan orang benar. Pintar dan benar dalam dunia pendidikan kita selama ini seolah dua hal yang berbeda. Itu sebabnya, tidak sedikit orang pintar yang tidak benar alias menjadi tikus atau maling di negeri ini. Semoga ini dapat menjadi refleksi pada peringatan Hari Pendidikan, 2 Mei 2012.
*) Dosen FKIP Universitas Lampung, Ketua LTN NU Lampung /02 May 2012

Membaca Tembang Tolak Bala (Beberapa Catatan Sekilas)

Membaca Tembang Tolak Bala (Beberapa Catatan Sekilas)
Posted by PuJa on May 4, 2012
Raudal Tanjung Banua
Membaca novel Hans Gagas, Tembang Tolak Bala (LKiS Yogyakarta, Mei 2011) kita mendapatkan gambaran yang kaya tentang reog Ponorogo, tidak sekedar penampilannya yang atraktif dan indah, melainkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan di “belakang panggung”—dan ini jauh lebih menantang.
Warok, sebagai pelaku utama reog, digambarkan sosok dan laku hidupnya secara terbuka. Ia menjalani kehidupan yang tidak biasa terutama berhubungan dengan ritual-ritual khusus demi menjaga kesaktiannya. Susuk dan meditasi di sanggar pamujaan adalah dua di antaranya. Namun yang paling membedakannya dengan yang lain—karena berhubungan langsung dengan lingkungan sosial—ialah pantangannya untuk bercampur dengan perempuan. Konon, lelaku yang diturunkan dari Klonosewandono, pendiri Kerajaan Bentar Angin yang kelak dikenal sebagai Wengker, itu, pada mulanya dihasratkan untuk menjaga kesucian dirinya sebagai calon raja. Dalam prakteknya kemudian, pantangan itu memunculkan gemblak sebagai kata kunci berikutnya dalam khazanah seni reog Ponorogo, di mana warok akan memelihara seorang anak laki-laki (gemblak) sebagai “kawan intim”.
Demikianlah cerita tentang warok dan gemblak kemudian mengisi hampir separoh halaman novel ini. Lewat tokoh Aku (Hargo) kita bisa mengikuti dengan jelas dunia warok dan per-gemblak-an. Itu tak lain karena Hargo merupakan seorang bocah yang dijadikan gemblak oleh warok yang paling terkenal di wilayah bekas kerajaan Wengker: Eyang Tejowulan. Meskipun sang Eyang sebenarnya juga punya perempuan sendiri, Nyi Tejo atau Eyang Putri, dan Hargo punya orang tua juga yang bahkan masih kerabat Tejowulan. Ini menunjukkan bahwa dunia gemblak memiliki kultur sendiri yang “sah” karena semua berlangsung “sepengetahuan” ayah, ibu, istri dan anggota masyarakat semua. Bahkan tidak jarang prosesi lamaran seorang gemblak dilaksanakan secara besar-besaran, sebagaimana disaksikan sendiri oleh Hargo: Seorang dandan atau wakil dari pelamar (warok) beserta rombongannya menaiki dokar. Dokar itu taklah berlenggang tangan, di dalamnya terusung segala jenis bawaan: berslop-slop roko, gula tebu, berkarung-karung beras, abon-abon pisang raja dan sirih-kinang. Di tengah rombongan dituntun seekor sapi atau kerbau, sebagai mahar “perkawinan”. Semua bawaan itu diserahkan pada orang tua calon gemblak.” (hal. 56).
Sementara Hargo merasa “beruntung” karena tidak melalui prosesi itu,”…aku digemblak secara alami oleh “orang tuaku” sendiri.” Tentu saja “bayaran” yang diperoleh secara sosial bukan hanya benda-benda pinangan itu, namun juga kehormatan dan lebih jauh pengetahuan dan “kesaktian” warok yang biasanya diwarisi kepada si gemblak. Itulah sebabnya, sejarah dan mitologi, seni beladiri dan menabuh menjadi pelajaran setiap malam seperti didapatkan Hargo. Ia mendapatkan cerita tentang sejarah Wengker, Majapahit, Demak, SI, PKI atau Madiun. Ia pun mengenal tokoh-tokoh Ki Ageng Mirah, Ki Ageng Kutu, Raden Patah, bahkan Soekarno. Meski prosesi “pinangan” itu kadang berjalan tidak dalam keadaan “normal”: jika orang tua menolak lamaran warok akibatnya bisa fatal. Termasuk istri warok yang memiliki nestapanya sendiri: cemburu, iri dan ingin hidup normal sebagaimana keluarga lain.
Ancangan yang Meyakinkan
Namun sebelum masuk ke dunia yang sukar dinilai secara hitam-putih itu, penulis terlebih dahulu membuat ancangan yang meyakinkan, setidaknya pada rinci dan detail. Dan ia masuk lewat silsilah dan rumah. Silsilah dan rumah menjadi pembuka dalam novel ini yang membuat pembaca memiliki pijakan untuk masuk ke bagian yang lain, serta mendapat garansi bahwa cerita akan berjalan dengan cukup padat meskipun bahasanya sederhana. Maka pada halaman awal “Bab Satu: Adi Kembar” kita diperkenalkan satu persatu kepada anggota keluarga si anak, meskipun perkenalan itu tidak adil-merata, sebab ada yang diperkenalkan dengan cukup panjang ada juga yang sekedarnya. Kakak, ayah, ibu, nenek dan sahabat (Mei, Narko) diperkenalkan melalui satu atau dua paragraf. Ada yang panjang ada yang selintas, tapi itu tidak masalah sebab pada bab-bab berikutnya di antara mereka ini muncul kembali sebagai tokoh yang ikut mewarnai jalan cerita.
Tapi anehnya, perkenalannya paling sedikit dan kemunculannya pada bab berikut juga tak signifikan justru adalah orang-orang terdekat si anak. Ibu misalnya, memang meminta perkenalan satu paragraf cukup panjang, tapi kehadirannya kemudian tak terlalu “fungsional”. Begitu pula kakak-kakak si aku, bahkan nama dan jumlahnya pun tidak disebutkan, kecuali sedikit saja: …kakak-kakakku, uhh…mereka terlalu memikirkan diri sendiri. Kadang aku melihat bara persaingan di antara mereka. Ini bertolak belakang ketika ia memperkenalkan Mei Ling, sahabat masa kecil yang kemudian hidup di ingatannya. Paling penting lagi adalah perkenalan terhadap adi-kembarnya yang sudah meninggal sejak awal cerita, tapi selalu mewarnai cerita.
Di sini tampak, si aku cenderung menelisik dan menyimpan “sesuatu yang tak ada”, ketimbang merapat pada sosok yang wujudnya lebih dekat dan jelas. Ini tampaknya bukan tanpa rencana. Menurut saya, ini sebuah ancangan yang tak kalah penting untuk menciptakan dunia batin Hargo. Yakni, dunia batin yang berpaut pada dunia “tak kasat mata” sehingga ketika ia masuk ke kehidupan ganjil Eyang Tejo, ada alasan yang “masuk akal” untuk mengembara ke dalam cerita “antah-barantah” dan tak mungkin dijangkau oleh pikiran biasa.
Ancangan ini pula yang memungkinkan pengarangnya leluasa menerapkan konsep “realisme magis” dengan segala plus-minusnya. Konsep ini lebih terjelaskan lagi ketika di pengantar Hans mengatakan bahwa “ulang-alik peristiwa dan waktu di novel ini bergaya ala Tambo-nya Gus tf Sakai.” (hal. xi). Dan memang, dalam prakteknya, pola Tambo sangat terasa dalam Tembang Tolak Bala.
Ancangan berikutnya adalah soal rumah. Penulis, lewat Hargo, dengan detail dan menarik menggambarkan bagian-bagian arstitektur rumah Jawa bukan hanya dari sisi yang tampak (benda-benda dan properti) melainkan juga secara filosofis. Halaman, regol, ruang tengah, dapur, ruang belakang dan halaman belakang diuraikan sedemikian rupa. Tidak ketinggalan rumah-rumah lain yang berdiri terpisah seperti rumah pringgitan: (yang) berbentuk limasan tanpa dinding (….) berisi gamelan dan perlengkapan reog. Biasa dipakai untuk tetabuhan dan latihan reog.” Rumah belakang (…) masing-masing ada tiga kamar berderet ke belakang (…) sedangkan ruang tengah untuk sanggar pamujaan, tempat bersembahyang, semadi.”(hal. 9).
Ancangan yang Kurang Meyakinkan
Akan tetapi, ancangan yang dibangun dengan sabar dan penuh intensitas itu, kurang mendapat rujukan yang sepadan dengan “Tembang Tolak Bala” yang hendak diusung sebagai maindset cerita. Apa dan bagaimana tembang tolak bala itu kurang terjelaskan, kecuali sebuah cerita ringkas yang seolah tidak penting. Dimulai ketika Ki Ageng Kutu berseteru dengan sahabatnya Ki Ageng Mirah (soal tawaran memeluk Islam). Ki Ageng Kutu mula-mula menuju Gunung Wilis, semadi. Namun sesuara kemudian memerintahkannya berpindah ke Gunung Lawu agar menemui Sunan Lawu. Di puncak Gunung Lawu-lah ia mendengar nyanyian dari arah bayangan yang sempat membuat luruh hati Ki Ageng. “Nyanyian itu seperti syair tembang yang melenakan. Tembang yang jauh di hari depan dikenal dengan nama Tembang Tolak Bala.” (hal. 20).
Hanya itu, hanya sampai di situ. Selanjutnya apa korelasi tembang ini dengan cerita berikutnya dan bagaimana ia “bekerja”, tidak menyelusup ke bagian teks yang lain; tidak seperti bayangan adi-kembar atau Mei-Ling. Padahal, sebagai syair, sebagai suara-suara, kemungkinan teks ini untuk menyelusup secara “magis” justru lebih potensial, namun tidak dieksplorasi lebih lanjut. Bahkan ketika pecah huru-hara politik 65, tembang ini tidak “bekerja” sedikit pun, termasuk ketika Eyang Tejo dijemput musuh bebuyutannya, Wirolodaya, yang leluasa menudingnya sebagai “pengayom orang-orang PKI, maka harus dilenyapkan”. Tembang ini juga tak berfungsi ketika Mei Ling diusir dan rumahnya dibakar. Meskipun ada Bab Enam yang membahas khusus Tembang Tolak Bala, namun juga tak memberi fungsi berarti kecuali salinan baris-barisnya (hal. 102-103), tapi bagaimana ia beroperasi di dalam laku cerita tetap saja tak terjelaskan. Satu-satunya moment tembang itu berfungsi ialah ketika Hargo hendak diperkosa oleh gurunya sendiri, Martodirejo. Dalam keadaan kepepet, Hargo menembangkan syair itu dan aneh bin ajaib sang guru seketika lunglai dan berteriak,”Maafkan aku Ki Ageng, ampuni aku Ki Ageng…” (hal. 140).
Ternyata pula, Guru Martodirejo ini tak lain anak Wirolodaya, musuh bebuyutan Eyang Tejo. Leluhur mereka, Hanggodermo dan Wulunggeni, seorang antek Belanda, dulu juga bermusuhan. Kenyataan yang kebetulan ini tentu saja tanpa ancangan yang kurang meyakinkan. Hal ini sama dengan peristiwa meninggalnya ayah Hargo yang dianggap kena teluh atau guna-guna. Namun bagaimana teluh itu “bekerja” kurang terjelaskan, setidaknya berbeda saat Hargo dengan intens menceritakan hal-hal “magis” lainnya.
Puncak dari semua ini adalah ketika tanpa tedeng aling-aling, Tragedi 65 masuk ke dalam cerita. Memang, sebelumnya sudah diceritakan bahwa kelompok reog dan waroknya banyak yang berafiliasi atau sekedar bersimpati pada partai politik tertentu. Maka terkotak-kotaklah grup reog ke dalam Cakra NU, BRP PKI dan BREN PNI. Peristiwa Madiun 1948 juga dihadirkan ketika sejumlah “pemberontak” melarikan diri ke Ponorogo dan minta perlindungan Eyang Tejo (hal yang membuat Hargo berkenalan dengan Juni, anak seorang pelarian yang ditampung Eyang). Akan tetapi, kita tidak menduga bahwa “cerita tentang warok” dengan serta-merta diputus ketika Eyang Tejo dijemput massa. Tragedi 65 masuk ke dalam struktur cerita tanpa ancangan berarti. Hanya dimulai dengan cerita soal ritual bersih desa, yang seperti biasanya selalu menarik untuk diikuti sebab detail dan informatif.
“(….) ritual bersih desa diadakan setiap tahun, menjelang 1 Syuro. Pasangannya adalah sesajen yang nanti dipacak di pohon beringin tua di dekat jembatan. Sesajen berisi ayam ingkung, nasi tumpeng, jajan pasar, kembang tujuh rupa, dupa dan kopi pahit beserta rokok sebatang. Ritual ini bermaksud agar Eyang Mbaureksa melindungi penduduk dari malapetaka, baik disebabkan oleh manusia, wabah penyakit, maupun makhluk halus.
Tapi malapetaka adalah malapetaka. Musibah dan bencana tak bisa ditolak bahkan oleh kekuatan Eyang Mbaureksa. Apalagi malapetaka yang disebabkan oleh kekejaman manusia.” (hal. 88).
Demikianlah, seperti banyak informasi ritual lainnya, kita menduga ini juga hanya sekedar informasi memperkaya cerita, tetapi ternyata menjadi sesuatu yang menentukan. Kata malapetaka dijadikan kunci untuk menggambarkan malapetaka yang lebih besar yakni Tragedi 65, sampai “menghilangnya” tokoh sekaliber Eyang Tejo. Terasa sangat tiba-tiba. Hubungan kita seolah diputus dengan dunia warok, sama seperti “nestapa” Hargo sendiri yang diputus dengan dunia masa kecilnya, dengan Mei, dan adi-kembarnya!
Padahal, prosesi mencari “susuk kekebalan” bisa berpotensi menceritakan Tragedi 65 dengan cara tidak biasa, tidak seperti narasi sejarah resmi. Ini pula yang terjadi pada narasi diskriminasi etnis Cina. Banyak pernyataan yang klise dan agak berbau slogan, seperti banyak didapatkan pada Bab Tujuh “Episode Cinta Mei”. Narasi klise tentang hubungan homoseksual kemudian juga didapatkan dari surat-menyurat Hargo dengan Mei Ling, di mana rujukan Al-Kitab tentang Sodom dan Gomorah dicuplik secara utuh dalam sepucuk surat Mei Ling.
Waktu dan Kehadiran
Menghilangnya Eyang Tejo sekaligus menandai melindapnya dunia warok dalam Tembang Tolak Bala secara keseluruhan. Saya merasakan ada bangunan yang runtuh, bangunan yang sedari awal sudah dibangun susah-payah. Alih-alih penulis malah masuk ke cerita “remaja masa kini”, yakni ketika masa-masa bersekolah Hargo dan saat ia berkenalan dengan Juli, perempuan yang tanpa ancangan berarti juga hadir tiba-tiba.
Upaya perpindahan dari fokus utama ini (baca: warok dan dunianya) menurut saya didorong oleh hasrat Hans untuk merengkuh terlalu banyak peristiwa. Berbagai peristiwa dalam ranah sejarah maupun legenda, baik yang menjadi isu daerah maupun nasional, diakomodasi dengan lapang dada. Akibatnya, dunia cerita tidak lagi berkisar antara Wilis dan Lawu, namun melebar sampai ke semua tempat dan alamat. Untuk itu semua, novel ini tentu saja masih terlalu “mungil” sehingga muatannya berdesak-desakkan. Saya membayangkan, dengan mempertahankan intensitas bab-bab pembuka, niscaya “enclave” budaya di antara dua gunung ini akan memberi warna yang kaya pada lokalitas sastra Indonesia, suatu lokalitas yang selama ini berkisar pada budaya lokal yang mainstream.
Banyak pula informasi menarik yang belum sempat dikembangkan Hans, misalnya tentang warok perempuan, munculnya reog gajah-gajahan atau cerita tentang beberapa reog yang selamat karena para tentara “Pancasilais” takut kuwalat memusnahkannya. Ini sebenarnya bisa berbaur untuk mencairkan situasi umum secara lebih khas.
Hal lain yang perlu dikemukakan ialah soal waktu yang anakronis. Peng-gemblak-an Hargo dan peristiwa yang melingkupinya berkisar pada masa lawas, setidaknya sekitar tahun 60-an. Ini dibuktikan bahwa ketika Tragedi 65 terjadi, ketika Eyang Tejo dijemput massa, Hargo menyaksikan sendiri peristiwa itu (bukan dalam bayangan), bahkan ia sendiri menjadi korban. “Braaak!! Aku aget bukan kepalang! Pintuku didobrak musuh. Dalam tempo sekejap, tepat di hadapanku telah berdiri sejajar seorang berseragam menodongkan pistolnya ke kepalaku.” (hal. 95). Pembauran narasi antara nyata dan bayangan ini memang tidak asing dalam teks “realis-magis” Hans, namun dalam konteks ini Hargo benar-benar hadir secara harfiah, bukan halusinasi sehingga perpindahan dari era-Eyang Tejo ke pasca Eyang Tejo waktunya terasa kurang tepat.
Secara matematis, jika masa menjadi gemblak usia Harjo sekitar 6-10 tahun (pada tahun 60-an), maka mulai Bab Tujuh dan seterusnya, usia Harjo mestinya sudah di atas 30 tahun. Namun yang terjadi Hargo masih SMP. Tentu saja kita bisa beralasan bahwa waktu Hargo SMP bukan terjadi pada tahun 80 atau 90-an, melainkan pasca Tragedi 65 (tahun 60-an). Tapi, cobalah resapi narasi dan suasana yang terbangun sangatlah kekinian. Hargo dan kawan-kawannya biasa belajar bersama, bahkan membuat genk GAJJAH, surat-suratan dengan Mei yang sudah memasukkan unsur kemeriahan Imlek, dst. Narasi itu bahkan terasa seperti tahun 2000-an, misalnya dengan wacana tentang pemerintah yang tak mau merehabilitasi nama korban 65.
Jadi, meski tidak menyebut angka tahun secara telak, kita sebenarnya bisa merujuk waktu dengan suasana yang dibangun. Hal yang membuat kita kemudian mau tidak mau menghubungkannya dengan beberapa istilah yang penggunaannya perlu dipertanyakan. Misalnya, suara gaib yang bergema saat Raja Bantar Angin bertempur melawan Singo Ludro,”Klonoswandono, apakah janji itu serupa tinta yang diguyur airmata?” (hal. 54).
Sebagai penutup, sekali lagi saya tertarik melihat korelasi Tembang Tolak Bala dengan Tambo. Selain temanya yang sama-sama tentang asal-usul atau legenda sebuah daerah beserta puak dan punggawanya, mereka juga dihubungkan oleh teknik plot yang maju-mundur, membaurkan masa lalu dan kekinian. Bedanya, dalam Tambo pelaku-pelaku masa lalu tetaplah sosok yang hidup dalam legenda (yang kemudian hidup dalam kepala Sutan di hari ini) sehingga waktu kehadirannya logis. Dalam Tembang Tolak Bala, pada beberapa bagian, Hargo hadir bersama tokoh-tokoh lawas itu—kecuali dalam beberapa legenda yang lebih “antah-barantah”. Akibatnya, Gus tf Sakai bisa dengan lebih leluasa mengacak sejarah dan mitologi—tanpa terperangkap off side anakronisme—sementara Hans harus membuat peristiwa “hilang ingatan” pada Hargo, tokohnya. Peristiwa pertama, Hargo mati suri selama tujuh-hari tujuh malam (hal. 26) dan peristiwa kedua, ia koma selama sebulan (hal. 98). Keduanya, baik mati suri maupun koma, malah terasa mementahkan ancangan dunia adi-kembar yang magis; pulihnya Hargo, secara teknis, juga tanpa ancangan berarti; terjaga seperti biasa, didatangi ibu, lalu “normal” seketika.
Demikian beberapa catatan sekilas yang tentu saja beresiko memiliki cacatnya sendiri. Tapi semoga bisa diperbaiki melalui forum diskusi kali ini.
Lemahdadi, Desember 2011

25 Tahun FFB Sejumlah Penyair Membacakan Puisi Film


25 Tahun FFB Sejumlah Penyair Membacakan Puisi Film
Posted by PuJa on May 5, 2012
Daisy Priyanti
http://www.suarakarya-online.com/

Sebuah panggung sepi mengumandangkan puisi “Masih Bayangan” karya sutradara senior Nobertus Riantiarno di Gedung Sunan Ambu Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Bandung, pekan lalu. Sekitar seratus penonton langsung hening menyimak suara lantang Ketua STSI Bandung Endang Caturwati yang berdiri sendirian di atas pentas untuk memperingati 25 tahun Festival Film Bandung (FFB) itu.
“Berawal dari inspirasi//sumbernya bulan dan matahari/ kemanusiaan jadi tujuan/ kesenian adalah jalan//lalu eksperimentasi//kerja tak kenal henti//tapi setelah keberhasilan diraih//perubahan bisa terjadi//seni menjadi komoditi//menyusul pula politik”.
“Entah mengapa tega//mengotori layar putih//dengan kumpulan jargon//slogan-slogan tanpa makna//janji-janji belaka//lalu belenggu aturan//sensor mencekik pula//pembinaan yang diniatkan//jadi hantu pembinasaan//politik kekuasaan”.
Puisi Riantiarno itu adalah salah satu karya yang termuat dalam buku bertajuk “Puisi Film”. Buku ini diterbitkan FFB untuk menandai 25 tahun usianya.
Bersampul merah pertanda perlawanan, buku itu merangkum 25 puisi karya 25 seniman dari berbagai latar belakang. Selain Riantiarno, mereka yang menyumbang puisi antara lain seniman kondang Putu Wijaya, aktor dan sutradara kawakan Slamet Rahardjo, penulis skenario Armantono, dan Ketua Umum FFB Eddy D. Iskandar yang novelnya “Gita Cinta dari SMA”, sukses ke layar lebar.
Dengan lugas dan jernih, para seniman itu menyuarakan pandangannya mengenai kondisi perfilman Indonesia saat ini. Slamet Rahardjo bahkan hanya memerlukan waktu satu hari untuk melahirkan puisinya yang pertama berjudul “Dendang Perawan”. “Puisi itu lahir begitu saja secara spontan berdasarkan kondisi yang saya ketahui saat ini,” ujarnya.
Dengan keahliannya berseni peran, Slamet tampil menawan menyairkan puisi itu di panggung. “Lingsir wengi//dendang perawan malam hari//wing semriwing//semerbak wangi dupa setanggi//mimpi di atas mimpi//melayang aku pengen jadi bidadari//oh harapan muara keinginan//beken di atas beken//geregetan aku berkhayal jadi keren//eh siapa tahu//coba punya coba//bisa lebih dari penganten”.
“Ning nang ning gung//dendang seribu peri di lembah gunung//oh para peri dunia perewangan//dengan kuasamu bawalah aku terbang//eh siapa nyana//bisa salaman sama dewa//dewa sakti bernama ketenaran”.
Puisi kocak itu dibawakan Slamet dengan menggelitik, namun tegas menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi perfilman Indonesia yang dinilainya telah kehilangan unsur kontemplasi. “Seni peran itu bukan cuma dilakoni, tapi harus dihidupi,” kata peraih lima Piala Citra itu.
Menurut Slamet insan perfilman Indonesia kini cenderung ingin mengikuti trend global tanpa mengindahkan budaya nasional. Pesan serupa disampaikan seniman Nenden Lilis A.
Dalam puisinya bertajuk “Episode Layar” dia bersanjak, “Jangan dengarkan dia//jika mau, industri bisa untuk tidak hanya melenakan masyarakat dan menguntit selera pasar//demi mengeruk keuntungan//industri bisa menciptakan karya yang mencerahkan sukma anak negeri!//seru yang lain dari dalam koran”.
“Lalu, suara siapa itu//bagai dibawa angin dari bukit yang jauh//menyuruh selalu berkemas dan berbenah//tetapi kemudian//inilah yang masih terjadi: pada sebuah gedung sinema//bukan kacang dan bajigur teman menonton//tapi hot chocolate dan popcorn//yang harganya tak terjangkau mimpi orang pinggiran//di loket diam-diam kuhitung orang mengantri//berapa orang yang memilih film sendiri//ternyata lebih banyak untuk sinema luar negeri”. Lalu Iman Soleh, dalam puisinya berjudul “Ode Untuk Sandek”, mengkritik film yang tidak lagi berpijak pada kondisi sosial yang nyata.
“Apakah kemiskinan kami//kelaparan kami//bisa diwakili kesenian kamu//nyanyian kamu//teriak waska//si pesolek terdiam//laiknya intelektual frustasi//di kota ini jiwa menjadi badut//buruh-buruh dibungkam mimpi//perguruan tinggi tak punya visi//kepalsuan diagungkan//tak ada kesenian//tak ada puisi”.
Namun, dosen STSI Bandung dan pendiri Studiklub Teater Bandung itu masih menyimpan optimisme di ujung bait puisinya. “Sandek kembali menanam harapan//ketimpangan berbuah gugatan//pada kamera dia bekerja//melukis lewat kata: `Bangunlah orang-orang tidur!” ujarnya//dia acungkan pena ke langit//menentang bapaknya di pasar modal//camkan waska!//kesenian adalah perlawanan//pada ketidakadilan//pada kegagahan uang//meski impian sulit hilang//karena hidup bukan sekedar: “dagang atau daging”. Ketua Umum FFB Eddy Iskandar menyatakan puisi dipilih sebagai medium kritik terhadap kondisi perfilman sekarang karena lebih jujur dan jernih dalam menyuarakan pandangan. “Ada kemarahan, ada kekhawatiran, tapi ujungnya ada optimisme,” katanya.
Eddy berharap, kritik dengan berpuisi menggugah pelaku perfilman Indonesia. Buku “Puisi Film” 94 halaman berbandrol Rp 25 ribu itu dibagikan kepada insan-insan perfilman Indonesia.
“Dengan puisi diharapkan kritik yang disampaikan lebih menggugah, juga bisa menjadi cara yang tepat untuk mendidik masyarakat agar menyukai film yang berkualitas,” kata Eddy.
Berpuisi adalah cara baru yang dipilih FFB dalam melayangkan kritik terhadap perfilman Indonesia yang kini didominasi horor dan adegan “syur”.
Selanjutnya, FFB berencana menampilkan monolog sebagai cara lain mengkritik perfilman Indonesia.
Pendiri Sinematek Indonesia H. Misbach menulis di sampul depan buku “Puisi Film” yang diterbitkan sendiri oleh FFB itu: “Saya orang yang menghargai idealisme. Dan saya juga senang karena FFB tetap menghargai idealisme itu. Saya harap FFB tetap bertahan untuk menilai film dan insan film berdasarkan kualitas mereka, bukan berdasarkan pasar”.
Saat ini, menurut Eddy, FFB tengah menyeleksi sekitar 70 film bioskop dan ratusan sinetron televisi yang ditayangkan pada kurun 2011-2012. “Hanya film yang mengedepankan kearifan lokal yang pantas mendapatkan penghargaan dari FFB,” ujarnya.
Pada usia 25 tahun penyelenggaraannya, FFB mendapatkan kado istimewa berupa perhatian berskala nasional. Sebuah televisi swasta nasional berniat menayangkan secara langsung acara puncak penghargaan yang akan berlangsung pertengahan April 2012 itu.
Eddy berjanji publikasi secara nasional tidak akan melunturkan idealisme FFB yang konsisten menilai film-film Indonesia dalam 25 tahun berjalan ini.
“Bukan kami yang meminta ditayangkan secara langsung. Televisi swasta itu yang justru meminta karena FFB dianggap layak untuk disiarkan secara nasional. Mereka hanya meliput peristiwanya saja, tapi tidak mempengaruhi penilaian kami,” tuturnya.
FFB yang dibentuk kelompok kecil pencinta film di Bandung hanya ingin menyampaikan apresiasi dan kritik jujur terhadap perfilman Indonesia tanpa berpretensi, kata Eddy lagi
Karena itu, segala aktivitas mereka dikemas spontan dan apa adanya seperti terlihat di atas panggung sepi pada peluncuran buku “Puisi Film” itu, namun mereka yang menghadirinya berharap suara sepi itu suatu saat menembus dinding gedung. ***
/5 Mei 2012

Thursday, 3 May 2012

KEBANGKITAN SASTRA NTT 2011

KEBANGKITAN SASTRA NTT 2011
Posted by PuJa on May 3, 2012

Yohanes Sehandi *
__Pos Kupang, 6 Maret 2012

TAHUN 2011 adalah tahun kebangkitan sastra dan sastrawan NTT. Sastra NTT yang dimaksudkan di sini adalah sastra tentang NTT atau sastra yang dihasilkan orang NTT dengan menggunakan media bahasa Indonesia. Sedangkan sastrawan NTT adalah pengarang karya sastra kelahiran NTT atau keturunan orang NTT (lihat Yohanes Sehandi, Pos Kupang, 13 Desember 2011 dan Flores Pos, 10-11 Januari 2012).

Ada sejumlah indikator yang menunjukkan bahwa tahun 2011 adalah tahun kebangkitan sastra dan sastrawan NTT. Pertama, jumlah penerbitan buku sastra NTT tahun 2011 jauh melampaui jumlah penerbitan buku sastra tahun-tahun sebelumnya. Kedua, jumlah artikel opini sastra di media cetak (harian) NTT tahun 2011 jauh melampaui jumlah artikel opini sastra tahun-tahun sebelumnya. Ketiga, jumlah cerpen dan cerpenis serta jumlah puisi dan penyair NTT yang ditampilkan dalam “Kolom Imajinasi” harian Pos Kupang tahun 2011 jauh melebihi jumlah cerpen dan cerpenis serta jumlah puisi dan penyair NTT pada tahun-tahun sebelumnya.

Penerbitan Buku Sastra

Berdasarkan data yang saya kumpulkan, selama tahun 2011 sebanyak 14 judul buku sastra NTT yang diterbitkan. Rinciannya adalah: 6 judul buku novel, 5 judul buku kumpulan puisi, 1 judul buku kumpulan cerita pendek (cerpen), dan 2 judul buku telaah/kritik sastra. Penerbitan buku sastra tahun 2010 dan tahun-tahun sebelumnya tidak sebanyak itu.

Keenam judul buku novel yang diterbitkan tahun 2011 adalah (1) Perempuan Itu Bermata Saga (Agust Dapa Loka, Elex Media Komputindo, Jakarta); (2) Cinta Terakhir (Vincentcius Jeskial Boekan, Nuraniku, Kupang); (3) Membadai Pukuafu (Vincentcius Jeskial Boekan, Nuraniku, Kupang); (4) Loe Betawi Aku Manggarai (Vincentcius Jeskial Boekan, Nuraniku, Kupang); (5) Badut Malaka (Robert Fahik); dan (6) Belis Imamat (Inyo Soro).

Yang juga cukup menarik dan membanggakan, sejumlah novel yang diterbitkan tahun 2011 ini dibedah dan diluncurkan di tempat bergengsi dengan acara protokoler yang meriah dipadati peserta. Cinta Terakhir dan Membadai Pukuafu dibedah dan diluncurkan di hotel berbintang dan restoran bergengsi, sedangkan Badut Malaka dibedah dan diluncurkan di aula perguruan tinggi yang juga bergensi.

Salah satu novel yang terbit 2011, yakni novel Perempuan Itu Bermata Saga (Agust Dapa Loka) berhasil memenangkan hadiah (penghargaan) kategori “sastra” NTT Academia Award (NTT AA) tahun 2011 yang diberikan oleh Forum Academia NTT (FAN). Forum Academia NTT (FAN) adalah sebuah forum intelektual NTT yang anggota-anggotanya tersebar di seluruh dunia. Penyerahan NTT Academia Award ini dilakukan pada 14 Januari 2012 di Gedung Museum Daerah NTT.

Kelima judul buku puisi yang diterbitkan 2011 adalah (1) Cerah Hati: Sebuah Kumpulan Puisi (Christian Dicky Senda, Indie Book Corner, Yogyakarta); (2) Riwayat Negeri Debu (Jefta Atapeni, Kiara Publishing, Bandung); (3) Pukeng Moe Lamalera (Bruno Dasion, kumpulan puisinya dalam bahasa Lamaholot dan bahasa Indonesia, Lamalera, Yogyakarta); (4) Ketika Cinta Terbantai Sepi (Usman D. Ganggang); dan (5) Antologi Puisi Lonceng Sekolah (Arnoldus Ola Aman).

Buku kumpulan puisi Ketika Cinta Terbantai Sepi karya “penyair nyentrik” Usman D. Ganggang dibedah dan diluncurkan dua kali pada dua provinsi yang berbeda, bulan Oktober 2011 diluncurkan di Kesultanan Bima (NTB), bulan November 2011 diluncurkan di SMA Katolik Loyola, Labuan Bajo, Manggarai Barat (NTT). Di Labuan Bajo acara sastra ini mendapat sambutan yang meriah dari banyak kalangan.

Satu-satunya buku kumpulan cerpen yang terbit tahun 2011 adalah Wanita Sepotong Kepala: Antologi Cerpen (Komunitas Sastra Filokalia Seminari Tinggi Santu Mikhael, Lima Bintang, Kupang). Sedangkan dua buku telaah atau kritik sastra adalah (1) Sajak-Sajak Chairil Anwar dalam Kontemplasi (A.G. Hadzarmawit Netti, B You Publishing, Surabaya), dan (2) Studi Sastra Lisan: Sejarah, Teori, Metode, dan Pendekatan Disertai Contoh Penerapannya (Yoseph Yapi Taum, Lamalera, Yogyakarta).

Artikel Opini Sastra

Artikel opini sastra yang dipublikasikan tahun 2011 jumlahnya melonjak melebihi jumlah artikel opini sastra pada tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data yang saya kumpulkan dari dua media cetak (harian) utama di NTT, yakni Pos Kupang dan Flores Pos, ada 26 judul artikel opini sastra yang dimuat oleh dua harian ini tahun 2011. Yang dimuat Pos Kupang ada 16 artikel opini sastra (tahun 2010 hanya 6 artikel), yang diterbitkan Flores Pos ada 10 artikel (tahun 2010 hanya 6 artikel). Apabila ditambah dengan artikel opini sastra yang dimuat di media cetak yang lain, harian Timex misalnya, jumlahnya bisa lebih dari 26 judul artikel sastra.

Ke-16 judul artikel opini sastra yang dimuat Pos Kupang tahun 2011 adalah (1) Cerpen dan Puisi Pos Kupang 2010: Krisis Apresiasi dan Kritik (Yohanes Sehandi, PK, 1 Februari 2011); (2) Sastra dan Pengarusutamaan Gender (Taty Gantir Neonbasu, PK, 24 Februari 2011); (3) Cerpen: Antara Realitas dan Kritik Sosial (Jimmy Meko Hayong, PK, 10 Maret 2011); (4) Dusun Flobamora: Wadah Sastra Kreatif untuk Para Pemula (Amanche Franck Oe Ninu dan Mario F. Lawi, PK, 20 Maret 2011); (5) Putu Wijaya dan Amanche Franck: Di Persimpangan Semiotik Keduanya Bebas Bicara (Pion Ratulolly, PK, 27 Maret 2011); (6) Puisi dan Kekuatan Sosial (Hengky Ola Sura, PK, 28 Maret 2011); (7) Memaknai Puisi Elisabet A. Sulastri (Videntus Atawolo, PK, 2 April 2011); (8) Mempertimbangkan Cinta Terakhir (Resensi Novel Cinta Terakhir, Julianus Akolit, PK, 3 April 2011); (9) Novel dan Tirani Televisi (Apresiasi Novel Belis Imamat) (V. Nahak, PK, 4 April 2011); (10) Bersastra di Tengah Karang dan Lontar (Januario Gonzaga & Amanche Franck Oe Ninu, PK, 10 April 2011); (11) Menulis Cerpen, Bukanlah Bercerita (Julianus Akoit, PK, 10 April 2011); (12) Belajar Bersastra dari Seorang Umbu (Willem B. Berybe, PK, 8 Mei 2011); (13) Diksi Sang Penyair: Percintaan di Dunia Sunyi (Julianus Akoit, PK, 15 Mei 2011); (14) Dialektika tentang Kematian di Ruang Imajinasi (Julianus Akoit, PK, 29 Mei 2011); (15) Puisi-Puisi Chairil Anwar (Sebuah Refleksi HUT ke-66 RI) (Willem B. Berybe, PK, 16 Agustus 2011); dan (16) Sastra NTT yang Berpijak di Bumi (Yohanes Sehandi, PK, 13 Desember 2011).

Selanjutnya, ke-10 judul artikel opini sastra yang dimuat Flores Pos adalah (1) Mempertimbangkan Ruang dan Waktu: Pengajaran Penulisan Kreatif Sastra di Sekolah (M.M. Bali Larasati, FP, 6 Januari 2011); (2) Mitos Ine Pare: Antara Fakta dan Fiksi (Perbincangan Sastra Lisan Etnik Lio) (M.M. Bali Larasati, FP, 13 Januari 2011); (3) Sastra dan Pendidikan (Hengky Ola Sura, FP, 19 Januari 2011); (4) Sahabat dan Puisi (Bill Halan, FP, 10 Maret 2011); (5) Puisi: Model Pembangunan Karakter (Sr. Wilda Wisang, CIJ, FP, 27 Juni 2011); (6) Dilema dan Tantangan Pekarya Sastra (Thomas A. Sogen, FP, 18 Agustus 2011); (7) Melacak Sastra dan Sastrawan NTT (Yohanes Sehandi, FP, 19 November 2011); (8) Melacak Sastra dan Sastrawan NTT (Sebuah Tanggapan) (Norbertus Jegalus, FP, 24 November 2011); (9) Pengarang NTT (Menanggapi Yohanes Sehandi) (Pion Ratulolly, FP, 29 November 2011); dan (10) Dosa Asal Sastrawan (NTT) (Januario Gonzaga, FP, 9 Desember 2011).

Cerpen dan Puisi Pos Kupang

Jumlah cerpen Pos Kupang (PK) tahun 2011 yang berhasil saya kumpul dan cermati berjumlah 45 judul cerpen dari 33 cerpenis NTT yang diambil dari 42 nomor PK edisi Minggu. Bandingkan dengan jumlah cerpen PK tahun 2010 sebelumnya. Tahun 2010, cerpen yang ditampilkan di PK berjumlah 36 judul dari 31 cerpenis. Jadi, tahun 2011 ini ada penambahan 9 judul cerpen dan penambahan 2 cerpenis NTT.

Cerpen PK tahun 2011 yang berjumlah 45 judul ini berasal dari 33 cerpenis. Ada beberapa cerpenis yang menulis lebih dari satu cerpen. Ke-33 cerpenis NTT yang menghasilkan 45 judul cerpen itu (berdasarkan urutan pemuatan cerpen di PK dari Januari sampai Desember 2011) adalah: Yosef S. Sefni, Amanche Franck, Jimmy Meko Hayong, Bernard Nailiu, Kristo Ngasi, Arys Botha, Engky Pukan, Roman Nama, Gobin DD, Mikhael E. Bernardus, Arsen Ngai, Taty Gantir, Ambrosius Beda Niron, Nong Djese, Rheynard el Meo, Fabio Seran, Mario F. Lawi, Atel Lewo Keda, Karolus Larantukan, Mariana Rilis Sogen, Holang Odorikus, Cosmas Kopong Beda, Keletus Marcel Udak, Jose Wassa, Herry Serang, Deodatus D. Parera, Lolik Luon, Januario Gonzaga, Agustinus Raring, Fram Maget, Fanny Watu, Djho Izmail, dan Vinsen Making.

Selanjutnya, jumlah puisi Pos Kupang yang berhasil saya kumpul dan cermati selama tahun 2011 berjumlah 99 judul puisi dari 36 penyair NTT yang diambil dari 42 nomor PK edisi Minggu. Ada penyair yang menulis puisi lebih dari satu puisi, bahkan ada yang sampai 4 dan 5 puisi. Bandingkan dengan tahun 2010 (sebelumnya). Tahun 2010, puisi yang tampil di PK hanya berjumlah 55 judul dari 24 penyair NTT. Jadi, tahun 2011 ini ada penambahan 44 judul puisi dan penambahan 12 penyair NTT.

Agar bisa diketahui para pembaca, ke-36 penyair NTT yang menghasilkan 99 judul puisi tahun 2011 itu (berdasarkan urutan pemuatan cerpen di PK dari Januari sampai Desember 2011) adalah: Magdalena Ina Tuto, Gobin DD, Jingga Clarita, Pion Ratulolly, Dody Kudji Lede, Vinsen Making, Avianita Rachmawati, Inosensius Nahak Berek, Elisabet A. Sulastri, Florensius Marsudi, Ferdy Mello, Viktorius P. Feka, Mario F. Lawi, Dion Tunti, Soleman Febe Maria, Trasianus Golo, Cosmas Kopong Beda, Holang Odorikus, August Kani, Januario Gonzaga, Jimmy Meko Hayong, Selamat Frans, Valens Daki Soo, Willem B. Berybe, Rosalia Dolu, Lambert Lalung Namang, Ishack Sonlay, Ninu Ecko, Fredy Oki, Arie Putra, Lee Risar, Chintia Devi Yurensi, Even DJ, Sisilia Semilia Seran, Tinus Tamo Ama, dan Bara Pattyradja.

Dalam tahun 2011 ini juga dua penyair muda NTT, yakni Ishack Sonlay dan Mario F. Lawi terpilih mewakili NTT menjadi peserta Temu Sastrawan Indonesia 4 (TSI 4) di Ternate, Maluku Utara pada 25-29 Oktober 2011 bersama 124 sastrawan yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia.

*) Pemerhati Bahasa dan Sastra Indonesia Dari Universitas Flores, Ende.
Dijumput dari: http://yohanessehandi.blogspot.com/2012/03/kebangkitan-sastra-ntt-2011.html

Nyekar

Nyekar
Posted by PuJa on May 3, 2012
Hamsad Rangkuti
http://cerpenkompas.wordpress.com/

Pagi itu aku keluar dari kamar hotel. Aku menguap. Aku masih setengah mengantuk. Aku jalan pagi di kota kecil itu. Kutemukan sebuah tata kota lama khas Jawa, sebuah alun-alun di depan tempat kediaman resmi bupati, masjid tua di baratnya dalam cahaya redup sisa lampu, gereja tua di timurnya hampir tertutup rimbun pohon. Semua merupakan lambang raja-raja zaman dulu, kantor pemerintah daerah di selatannya merupakan lambang kompeni yang sekarang digantikan orang-orang yang pernah dijajahnya. Kurasa bangunan tua di pojok itu peninggalan Belanda dijadikan gardu listrik masih bangunan asli tulisan huruf Jawa masih tergurat di dindingnya. Aku menguap lagi. Aku masih setengah mengantuk. Mana rumah Jenderal Ahmad Yani, lalu rumah Jenderal Oerip Soemohardjo teman seperjuangan Jenderal Soedirman, yang mana rumah mereka? Untuk apa, hanya untuk tahu dan melihat saja, tak ada yang bisa kutanya. Tak seorang tampak menyertai jalan pagiku, kecuali kicau burung beterbangan di antara ranting pohon di sepanjang jalan. Aku masuk ke dalam berjalan di atas rumput. Basah embun kurasakan di telapak kaki.

Pagar beton mengelilingi dua batang pohon beringin di bagian tengah lapangan luas itu. Kudapatkan celah dari jeruji besi di atas bangunan tembok beton pagar, kuintip ke dalam ke batang pohon beringin, ada dua pancang tulisan nama pohon, Ki Soeryo Putro batang pohon di sebelahnya Ki Dewo Atmodjo. Kau harus masuk ke dalam kalau kau mau melihat namanya. Kalau kau melihat dari trotoar saja, kau hanya melihat rimbun pohon dan untaian akar udaranya seperti janggut kakek tua.

Teruslah jalan ke barat, keluar dari alun-alun itu, menyeberang jalan. Masuklah ke pintu gerbang Masjid Agung Darul Muttaqin di dalamnya kau akan temukan Beduk Pendowo terbesar di dunia sebagai tanda waktu sholat. Dibuat lebih kurang tahun 1762 Jawa atau tahun 1834 Masehi, panjang rata-rata 292 cm, bergaris tengah depan 194 cm, garis tengah belakang 180 cm, keliling bagian depan 601 cm, keliling bagian belakang 564 cm, jumlah paku depan 120 buah, jumlah paku belakang 98 buah. Bahan pohon jati bercabang lima pendowo didatangkan dari Dukuh Pendowo Desa Bragolan Purwodadi. Beduk terbesar di dunia itu sebagai peninggalan budaya yang harus dijaga dan dirawat, kegunaannya dibunyikan setiap hari Jumat dan hari-hari besar.

”“Terima kasih penjelasannya.”
”Ayo shalat subuh.”
”Ayo.”

***

Kubeli lima ikat rambutan. Kulepas dari ikatannya kuurai dan kubungkus dalam alas taplak meja rumah kosku. Rambutan dalam bungkusan taplak meja itu kutinting ke rumah Nur.

”Pi ada tamu,” kata Nur.

Adik–adik dan kakaknya muncul dan mengambil bungkusan yang kubawa.

”Apa yang dia bawa?” kata papinya keluar muncul ke ruang tamu. Badannya tegap seperti pegulat.

Kakak Nur yang gendut meletakkan bungkusan kain taplak meja itu di atas meja ruang tamu. Rambutan beserta daunnya berserak di atas meja.

”O, baru dipetik.” Diambilnya sebuah dikupasnya dan dimakannya. ”Lekang ya. Ada kebun rambutanmu?”
”Iya dong. Anak Medan kalau merantau selalu berhasil,” kata istrinya.
”Dia anak Medan. Di mana dia tinggal?”
”Di daerah cagar budaya, Condet.”
”Luas kebunmu?”
”Tak seberapa. Cuma beberapa pohon.”
”Bikinkan dia kopi.”
”Jadi Papi nonton Wayang Wong Sriwedari dari Solo itu?”
”Jadi, terima kasih tiket yang kau berikan itu. Untung tidak hujan. Cerita klasik dibawakan mereka, bulan muncul di atas panggung. Seakan bulan itu bagian suasana cerita. Betul-betul nikmat menonton di teater terbuka di Taman Ismail Marzuki itu. Kadang-kadang ibumu tertawa Nur, kelelawar masuk ke dalam panggung. Kalau ada lagi boleh itu.”

Nur masuk ke dalam dan keluar membawa dua gelas kopi di atas nampan. Diletakkan satu gelas di depanku. Satu gelas yang lain diletakkan di meja dekat jendela. Kemudian dia masuk.

”Minumlah anak Medan.”

Nur keluar.

”Pi kami boleh pergi malam ini?”
”Ke mana kalian mau pergi?”
”Jalan-jalan dong, kan malam minggu,” kata ibunya.
”Ke mana kalian mau jalan-jalan?”
”Ke Monas. Mau lihat Oma Irama,” kata Nur.
”Bawa adikmu. Jangan malam-malam ya pulangnya.”
”Ya Pi,” kata Nur menyalam dan mencium belakang telapak tangan ayahnya.
“Kalau pulang bawa makanan kesenangan Papi, kerak telor.”
”Itu terus makanan yang Papi pesan,” kata ibu Nur.
”Di mana kita tinggal kita harus larut dengan budaya mereka.”

Kupanggil becak. Kami naik becak di Jalan Thamrin. Adiknya kami dudukkan di tengah-tengah setelah jok tempat duduk kutarik ke depan. Adiknya duduk di antara kami. Kepala Nur kubalikkan sehingga mukanya mengarah kepadaku. Kucuri bibirnya dengan bibirku.

”Ah…” katanya menyembunyikan wajahnya sambil menunjuk kepala adiknya.

Tiga bulan kemudian kami menikah dan ketika anak kami yang pertama lahir, papinya masuk rumah sakit. Lama dia dirawat.

Kami datang menjenguk. Didekapnya cucu pertamanya dari kami.

”Cucuku yang pertama, siapa namamu?”
”Masak Mbah lupa. Yang memberi nama, kan kamu,” kata istrinya.
”Oiya. Sudah ya… Mbah tidak kuat menggendongmu.”

Nur mengambil anaknya dari pangkuan ayahnya.

Kata dokter beberapa hari lagi dia sudah boleh pulang, dia sudah boleh rawat jalan. Tiga hari lagi sebenarnya dia sudah boleh pulang. Kami senang mendengarnya. Tapi ayahnya dari kampung datang menjenguk, dia berteriak seperti menemukan masa lalunya. Dia bicara dalam bahasa Jawa yang tak kumengerti. Tapi akhirnya aku bisa berkesimpulan, dia minta pulang. Kulihat tangannya seperti memegang kayu pemukul. Mengayun-ayunkan ke depan.

”Aku ingin memukul beduk.” Dia berdiri dari tempat tidur. Dia cabut jarum infus dan dia terus meminta pulang ke kampungnya.

Sore itu aku disuruh membeli beberapa tiket kereta api Senja Utama di Gambir. Dia dipapah ayahnya keluar sembunyi-sembunyi meninggalkan rumah sakit. Di jendela kereta senja utama itu dia tak membalas lambaian tangan kami. Rombongan itu berangkat ke tempat dia dilahirkan. Kabar yang kami terima dia tiga kali pingsan di kereta. Di stasiun Kutoarjo, kereta Senja Utama itu menurunkan mereka dan pindah naik delman ke Purworejo. Sampai di alun-alun dia minta berhenti dan turun dari kereta kuda itu melepas sepatunya dibimbing ayahnya jalan di tengah lapangan luas itu. Sepatu yang dilepas itu dijinjing istrinya turun dari kereta kuda berlari kecil mengejar langkah suaminya di rumput basah embun pagi. Mereka mengikutinya sampai ke pohon beringin kembar itu, kemudian mereka keluar dari alun-alun dan menyeberang jalan, masuk ke halaman masjid. Entah pertimbangan apa penjaga masjid membimbingnya ke bawah beduk terbesar di dunia itu dan menyerahkan pemukul beduk. Dia memukulnya seperti yang diinginkannya. Hanya beberapa pukulan saja yang dapat dia lakukan. Ayahnya membujuknya kembali ke delman membawanya ke kampung halamannya, Desa Seren. Hanya tiga hari dia nikmati halaman rumah masa lalunya, kemudian wafat.

***

Telepon sakuku berdering menerima pesan.

”Ayah di mana? Ibu sudah mau keluar dari hotel, mau beli kembang,” kata Nur.
”Oke aku pulang. Baru jalan pagi di alun-alun.”
”Kok curang nggak ngajak-ngajak.”
”Sudahlah, nanti kita bicara di hotel.”

Aku masuk ke kamar mandi hotel. Bergegas keluar hotel. Kami panggil becak. Kutarik jok tempat duduknya.

”Untuk siapa?”
”Ibu.”
”Dua becak Mas.”
”Mengapa dua?”
”Aku ingin duduk lapang di becak bersamamu.”
”Kita cari sarapan pagi dulu, Mas.”

Kami dibawa berputar-putar mencari makanan yang khas kota kecil ini. Dibawanya kami ke warung dekat tepi sungai. Kupesan kopi panas. Pelayan warung itu menyuguhkan tiga piring suguhan makanan ringan, satu piring Clorot yang dibuat dari jalinan janur, anyaman daun kelapa muda, membentuk bungkus makanan itu seperti terompet. Kubuka lilitan janur itu yang lama-kelamaan terjurai seperti pita memunculkan isinya yang dibuat dari tepung ketan dicampur gula merah lembek kenyal-kenyal seperti jenang. Tapi Nur memanggil pelayan warung tepi sungai itu, dia tidak mau tangannya dikotori daun kelapa muda yang melilitnya dia minta dibukakan dari anyaman daun janur pembungkusnya. Pelayan warung itu meletakkan piring kosong di depan meja tempat duduk Nur. Memencet ujung anyaman seperti kerucut itu dan pelan-pelan isinya muncul dari bulatan bungkus depan. Pelayan warung itu jadi tahu kalau kami tidak pernah makan makanan itu. Kopi panas menyertai Clorot yang mereka suguhkan.

Diparutnya kelapa, ditaburkannya ke atas makanan berbentuk gelang yang baru disenduk dari kukusan anyaman bambu. Dihidangkan di depan kami. Gebleg itu dibuat dari tepung ketela berbentuk gelang yang satu sama lain bersambung seperti rantai ditabur kelapa parut bercampur gula.

”Bawa makanan ini untuk oleh-oleh,” kataku karena sedap. Krimpying bahan tepung ketela berbentuk gelang digoreng kering keras tapi renyah itu dibungkusnya dalam kantong plastik. ”Enak, buatan sendiri?”
”Tidak, buatan penduduk Bruno, kami tidak tahu ada campuran khusus, pembeli-pembeli kami sangat menyukainya, rasanya paling khas kata mereka, kami tidak tahu apa itu khas?”
”Ayo kita ke pasar,” kata ibu Nur, ”kami mau beli kembang, untuk nyekar.”

Kami tinggalkan warung di tepi sungai itu. Becak membawa kami ke pasar. Ibunya Nur membeli dua keranjang bunga rampai dan kami terus ke makam.

Di pemakaman itu kami sulit mencari dua makam ayah dan anaknya, suami dan mertuanya. Kucabut rimbunan semak menyiangi makam. Akhirnya kutemukan makam yang kami cari, R. Soedjatmiko, wafat 31 Agustus 1973. Kutabur bunga rampai. Kusentuh nisan yang bertulis namanya dan kupegang erat pusaranya.

”Maafkan aku Papi… Kutanggalkan ikatan lima ikat rambutan itu, kucampur dengan daun segarnya, kubungkus dengan taplak meja rumah tempat aku kos. Aku tak punya kebun dan pohon rembutan Papi… Maafkan aku membohongimu,” bisikku pelan supaya tidak didengar yang lain.

Wangi bunga rampai semerbak diterbangkan angin mengiring kami keluar dari pemakaman itu meninggalkannya…

Dijumput dari: http://cerpenkompas.wordpress.com/2009/09/27/nyekar/

Puisi Ekologis dan Maritim 5 Penyair Jatim

Puisi Ekologis dan Maritim 5 Penyair Jatim
Posted by PuJa on May 3, 2012

Yusri Fajar *
__Radar Surabaya, 29 April 2012

LIMA Penyair Jawa Timur, Akhudiat, Zawawi Imron, Nanang Suryadi, F Azis Manna, dan Kusprihyanto Namma yang dipilih untuk berpartisipasi dalam Forum Penyair Internasional 2012, mengha-dirkan nuansa ekologis dan maritim dalam puisi-puisi mereka. Penyair Jatim ini tampil bersama penyair-penyair dari Belanda, Jerman, Afrika Selatan, Swe-dia, Selandia baru dan Makedonia.

Beberapa puisi 5 penyair Jatim yang dimuat dalam buku antologi forum pe-nyair internasional 2012 bertajuk “What’s Poetry?” merepresentasikan alam dan manusia secara dialektis. Azis Manna mengangkat tragedi lumpur lapindo yang tidak hanya menjadi isu na-sional namun juga internasional. Dalam puisi “Semoga Sorga Bersama Mereka Porong, 50 Tahun Kemudian” Azis meng-gambarkan kontestasi kepentingan pemilik modal dalam memanfaatkan lahan dan masyarakat yang sebelumnya damai dengan lingkungan. Eksploitasi alam demi kepentingan kapitalis telah menghancurkan ekosistem Porong, melahirkan bencana tragis.

Padahal untuk menjaga keseimbangan kehidupan, alam harus dijaga agar ke-anekaragaman hayati seperti tercermin dalam puisi Akhudiat yang berjudul “Ayat Air” tetap lestari. Siklus natural alam dirindukan masyarakat yang bertumpu pada entitas-entitas ekologis. Dalam air ada air ada insang ada udara/ ÖMusim ada benih ada tanah ada tani ada air ada bulan ada/. Bagaimana pun eksotisme dan lanskap serta kekayaan alam di Indonesia membuat terpesona mata dunia, namun kekaguman itu akan berubah menjadi ketakutan jika bencana melanda karena alam diposisikan infe-rior, semata sebagai objek.

Alam seperti hutan menjadi penyerap dan penyimpan air yang menjaga siklus air sehingga danau dan telaga di lereng gunung tetap memesona seperti telaga Sarangan Magetan yang dilukiskan se-cara sentimentil oleh Kusprihyanto Nam-ma dalam puisi “Sarangan”. Kusprih-yanto membawa nuansa ekologis juga dalam dua puisi lainnya yang berjudul “Kabut” dan “Suatu Siang”. Ada narasi pepohonan di lembah dan hutan, satwa yang membentuk citra alam penuh ke-damaian. Alam bukan semata metafora penghias baris dan bait puisi namunmenjadi entitas independen yang me-mancarkan aura naturalnya dan menjadi latar kisah manusia yang tengah memak-nai eksistensinya. Ketiga puisi Kusprihyanto secara tematis menjadi ‘penye-imbang’ fenomena degradasi lingkungan dalam puisi Azis Manna. Ada potret ling-kungan yang hancur berhias lumpur ka-rena pengeboran, kehancuran hutan ka-rena pembalakan liar, namun masih ada di belahan sana alam hijau yang mem-buat aku liris puisi ingin datang me-nikmati. Jika alam tenggelam oleh eks-ploitasi, manusia dan kebudayaan eko-logisnya akan lenyap.

Manusia meski mengklaim dirinya sebagai makluk superior, ter-nyata bergantung sekali de-ngan alam bahkan bersi-nergi dan berintergrasi dalam sebuah ekosistem baik secara biologis mau-pun secara simbolis, sebagaimana dalam puisi Nanang Suryadi “Aku Ingin Menangkap Ikan dari Ide yang Kering”. Sinergi yang dinarasikan nanang sebagai relasi mutual antara aku liris (persona dalam puisi) dengan entitas alam yang sebut Nanang, seperti ikan, daun-daun, air kolam, bunga, dan hujan. Ada dialektika ekosistem dalam puisi nanang yaitu ikan, pemikiran, sistem sosial dan manusia yang membentuk kesadaran proses kre-atif. Ikan adalah ikon dari tradisi bahari yang dulu melimpah dengan harga mu-rah di tanah air, namun begitu mahal dan sulit di dapatkan di berbagai negara Eropa.

Zawawi Imron menegaskan, tradisi pe-sisir dan budaya maritim dalam puisinya “Di Bawah Layar” yang menjadi bagian akhir dari antologi What’s Poetry?. Iden-titas ekologis di mana manusia Indonesia berusaha untuk menjadikan alam, samu-dra, sebagai sahabat dalam mengem-bangkan hidup sekaligus mengukir kenangan dan perjalanan terasa kuat da-lam puisi Zawawi. Aku liris dalam puisi ini adalah aku yang tak mengingkari ketergantungan dirinya dengan samudra dan alam luas. Jika cuaca dan iklim tak lagi bersahabat karena global warming maka nelayan jelas sulit menumpukan harapan. Relasi manusia dan alam ada-lah mutual. Dan Zawawi menunjukkan melalui persenyawaan dengan alam, manusia menembus dinding-dinding transendental, membangun refleksi eksistensi kemakhlukannya di tengah bentangan alam ciptaan Tuhan, berbantal ombak berselimut angin.

Perjalanan dengan perahu di samudra yang dilakukan oleh aku liris dalam puisi “Di Bawah Layar”, mulai dari Madura, teluk Ambon, pantai Jepara—laut Jawa, bandar Jakarta, Kalimantan, menegas-kan budaya maritim yang mengakar sejak lama dalam khasanah budaya Indonesia. Bahkan para pelaut handal Indonesia sejak dulu telah menaklukkan keganasan samudra Hindia dan Pasifik. Kemampuan manusia Indonesia dalam mengarungi laut disegani sejak lama, ketika kolonialis Eropa mulai merambah Indonesia. Melalui puisi Zawawi menggambarkan khasanah budaya bahari yang jika tidak dikembangkan dan re-vitalisasikan akan membuat Indonesia kehilangan salah satu akar dan tradisi budayanya.

*) Sastrawan dan Esais, tinggal di Malang

Permainan Tradisional Sunda: Antara Filosofi dan Kegembiraan


Foto dan Naskah: Langgeng Prima Anggradinata


 Permainan Tradisional Sunda: Antara Filosofi dan Kegembiraan

 Babalonan


Brak!

Diiringi Gambang Bambu

 Latihan Tembak Pakai Bedil Jepret

 Melayang Karet Bedil

 Membidik

Menganyam Janur

Mengikat Gasing

Orang Asing Main Gasing

 Pembalap Rorodaan

 Sehimpun Angklung

Pada waktu yang jauh, dulu sekali, di sebuah tanah lapang, di sawah-sawah lepas panen, atau di depan rumah bilik, anak-anak bermain dengan riang. Pada tahun 1980-an ketika lapangan bulu tangkis masih banyak terdapat ditengah permukiman, anak-anak masih dapat menikmati kebahagiaan bermain dengan kawan sejawat. Apa yang terjadi setelah tiga dekade setelahnya, hari ini, atau puluh-puluh tahun mendatang? Tanah-tanah lapang telah menjadi rumah atau bangunan beton, permukiman semakin padat, hanya ada gang-gang sempit yang hanya cukup untuk dua badan. Lantas di manakah anak-anak bermain?

Berkunjunglah ke sentra game online yang banyak menjamur di kota bahkan sampai kecamatan, disanalah mereka bermain. Bahkan di rumah mereka pun telah tersedia fasilitas game online atau game konsol yang membuat mereka betah bertahan berjam-jam sendirian. Mereka tak perlu ke luar rumah dan bertemu teman-teman mereka untuk menciptakan kebahagiaan. Kebahagiaan itu dapat mereka buat sendiri. Berjuta anak dunia pun melakukan hal yang sama sepanjang hari. Mereka menatap layar dan asyik dengan dunianya yang dibangun lewat pikirannya sendiri.  Menang adalah tujuannya, dan kegembiraan atau kebahagiaan adalah buah dari kemenangan. Itulah hal yang tertanam dalam benak mereka.

Kegembiraan dan Filosofi

Seolah-olah kembali ke masa lalu, anak-anak kota itu datang dari Jakarta. Kini mereka terpaksa melupakan sejenak permainan modern yang kerap mengisi waktu senggang. Seolah-olah kembali ke masa lalu, di Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda, Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kota Bandung, mereka bermain permainan tradisional khas Sunda yang telah langka.

Mulanya antusias itu tak kunjung muncul.  Mereka memulai kegiatan hari itu dengan melipat janur untuk dibentuk menjadi keris. Raut wajah mereka menunjukan kesulitan yang tengah dialami. Namun, kawan-kawan mereka dari Komunitas Hong terus membimbing mereka, hingga akhirnya sebagian besar hasta-karya berupa keris janur pun jadi. Perasaan gembira pun mulai muncul dari wajah mereka. Rupanya antusiasme itu kini mulai muncul.

Bila permainan modern menjadikan kemenangan sebagai tujuan dan atas kemenangan itulah timbul kegembiraan, maka permainan tradisional lebih mementingkan kegembiraan atau kebahagiaan sebagai tujuan, dan atas kegembiraan itulah kemenangan diraih. Sekiranya itulah filosofi permainan tradisional Sunda yang tertanam ditiap permainan dan pemainnya. Namun sayang, filosofi yang begitu dalam tersebut akhirnya harus tergerus zaman.

Hari ini, permainan tradisional begitu langka dimainkan. Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa hampir punahnya permainan tradisional Sunda dikarenakan lahan untuk bermain yang tidak ditemukan lagi, kemajuan teknologi pun turut ambil bagian, dan sulit ditemukannya bahan untuk membuat permainan pun menjadi faktor kehampirpunahan itu. Komunitas Hong yang juga menjadi Pusat Kajian Permainan Rakyat mencatat sebanyak 70 persen atau sebanyak 168 alat dan permainan tradisional Sunda telah punah. Dengan begitu, filosofi yang terkandung dalam permainan tradisional pun turut hilang.

Zaman membuat manusia hari ini menatap kemenangan sebagai kesejatian hidup dan sesuatu untuk mencapai kegembiraan atau kebahagiaan. Akhirnya, manusia melakukan apapun untuk mendapatkan kemenangan itu. Manusia tak sepenuhnya menyadari semakin kemenangan itu dikejar, semakin jauh kebahagiaan itu diraih.  Manusia tak sepenuhnya menyadari bahwa pikiran itu telah tertanam sejak kecil melalui permainan yang dimainkan. Ternyata melalui permainan modern pikiran-pikiran lalim, hasrat, dan nafsu duniawi itu tumbuh. Sementara, filosofi dan kesejatian hidup itu justru sebenarnya ada pada permainan tradisional, misalnya saigel sapinandean (bekerja sama, hidup bersama), silih asah (belajar bersama untuk kemajuan), silih asuh (saling memelihara), silih asih (saling berbagi kasih sayang), dan hirup bagja (hidup bahagia), basajan (sederhana), motekar (kreatif), pinteur (cerdas), cageur (sehat fisik dan rohani).

Hari ini, anak-anak dari SMA Al-Izhar Pondok Labu, Jakarta, bermain aneka jenis permainan tradisional Sunda. Misalnya, Gasing, Gatrik, Bedil Karet, Bancakan, Babalonan, Bedil Jepret, Kelom Batok, dan Rorodan. Mulanya, mereka bingung bagaimana cara menggunakan alat-alat yang hampir semuanya terbuat dari bambu, kayu, batok kelapa, dan perkakas sehari-hari lainnya. Kawan-kawan Komunitas Hong dengan terbuka berbagi ilmu dan mencontohkan bagaimana memainkannya. Mulanya, mereka canggung namun lama-kelamaan asiknya mulai muncul. Tak ayal gelak tawa menyertai keceriaan mereka. Mereka seolah-olah melupakan Blackberry, iPhone, iPad, laptop, Playstation, dan game modern lainnya. Kini mereka larut dalam kegembiraan itu.

Selembar kain sarung disimpan di bahu. Lantas mereka memutarkan tangan dan terhempaslah sarung itu ke udara. Permainan Babalonan yang sederhana mampu membuat tawa mereka terhempas pula ke udara. Setelah itu, kembali mereka mencoba jenis permainan lain, yaitu Bancakan. Sejumlah batu ditumpuk, layaknya permainan bowling, mereka jatuhkan tumpukan batu itu dengan bola serabut. Brak! Batu-batu pun runtuh.

Kini mereka simpan gelas plastik dihadapan. Mereka jadikan gelas itu sebagai sasaran. Dengan bedil sederhana yang terbuat dari bambu kecil mereka tembak target itu dengan leunca. Gelas pun jatuh. Kepuasan tergambar dari teriakan “Hore!” atau “Yes!” atau “Yuhu!”. Hal itu merupakan sebuah tanda bahwa Bedil Jepret mungkin akan jadi permainan mereka kelak ketika pulang ke Jakarta. Dan itulah hal utama yang ingin disampaikan Komunitas Hong, yaitu memasyarakatkan permainan tradisional agar tetap lestari, tetap menjadi media pendidikan, dan tetap menjadi bagian dari hidup manusia, khususnya anak-anak hari ini.

Akhirnya, segala permainan telah mereka jajal. Letih, pastilah sudah. Namun, seketika kegembiraan itu menggantikan keletihan mereka. Kegembiraan itu membuat mereka menang. Begitulah hidup, begitulah filosofi permainan tradisional Sunda.

Info: http://bandungnewsphoto.com/?content=cerita&op=view&id=015545538

Barack Obama: Poetry critic

Barack Obama: Poetry critic 

A new biography offers a glimpse into an Obama most people haven’t seen. | Reuters
By EDWARD-ISAAC DOVERE | 5/2/12 9:25 PM EDT

April is the cruelest month, according to T.S. Eliot, but May is proving to be pretty kind for President Barack Obama’s reputation as a literary critic.
The first excerpts published Wednesday of the highly anticipated David Maraniss biography offer a glimpse into an Obama most people haven’t seen before: Fresh out of Columbia, frustrated in his first job, finding his way around Manhattan, women, literature and himself. And still hung up on a girl back at Occidental he was trying to impress in angst-filled, post-college love letters that only people like presidents have to suffer through having on public view.

The musings now on display in Vanity Fair tackled Eliot’s “The Waste Land,” one of the toughest poems of the 20th century, full of obscure allusions, complex metaphors, lines in an array of languages — and 433 footnotes.
“Remember how I said there’s a certain kind of conservatism which I respect more than bourgeois liberalism — Eliot is of this type. Of course, the dichotomy he maintains is reactionary, but it’s due to a deep fatalism, not ignorance,” Obama wrote, musing on William Butler Yeats and Ezra Pound as he went. “You seem surprised at Eliot’s irreconcilable ambivalence; don’t you share this ambivalence yourself, Alex?
One part Holden Caulfield, one part Immanuel Kant. And no parts that most people could make sense of.
(PHOTOS: Obama over the years)

The excerpt won’t disabuse politicians from Mitt Romney on down who want to portray Obama as more engrossed with his own words than action. For voters whose blood starts to boil at the mere mention of poetry, a young Obama writing about “a choice between ecstatic chaos and lifeless mechanistic order, [Eliot] accedes to maintaining a separation of asexual purity and brutal sexual reality” will add an especially pretentious tile in the pointy-headed professor mosaic.
But the literary crowd loved it — even if they didn’t know who the guy with the umlaut was when Obama wrote, “Eliot contains the same ecstatic vision which runs from Münzer to Yeats.”
“If we talked about ‘The Waste Land’ together when he was 22, we might disagree about some things. But insofar as he alludes to it here, there’s nothing that seems to me mistaken or untoward or indefensible,” said Donald Hall, the former poet laureate and an old friend of Eliot himself.
That includes even those who think Obama is wrong on just about everything else.
“I’m pretty impressed. He seems to have understood ‘The Waste Land’ better than I did as a 22-year-old,” said Weekly Standard Editor Bill Kristol.
Hall remembers the president talking about Robert Frost’s trip to Russia when Obama gave Hall the National Medal of Arts back in 2010. But he didn’t realize how deep the president’s interest in poetry ran: When Obama whispered a few sentences into his left ear — in which, Hall said with a laugh, he’s stone deaf — he didn’t think too much about what he was missing.
But after reading Obama’s comments on Eliot, now he’s wondering if Obama might have made a refined literary point that he missed.
Short URL: http://politi.co/IKNo3W
Info: http://www.politico.com/news/stories/0512/75861.html

Tuesday, 1 May 2012

Bandar Estetika Bahasa dalam Novel Bulang Cahaya


Bandar Estetika Bahasa dalam Novel Bulang Cahaya
Posted by PuJa on April 30, 2012
Abdul Kadir Ibrahim *
http://www.riaupos.co/
Model Cerita Bulang Cahaya

Bagi kita, nampak begitu jelas kemahiran dan kedalaman pemahaman Rida K Liamsi terhadap serangkaian perjalanan, pasang-surut, turun-naik atau apapun istilah peristiwa terhadap Kerajaan Riau-Johor-Pahang-Lingga dan bahkan Selangor ke dalam karya fiksi, prosa berciri khas novel. Banyak sekali kisah-kisah yang mengharu-birukan apa-apa yang berkaitan dengan manusia, baik ianya lelaki ataupun perempuan. Banyak pula perkara-perkara yang berlaku atau terjadi seputar atau yang mengitari petinggi-petinggi Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang, misalnya tentang “racun-meracun” yang dikisahkan dalam novel ini. Yakinlah kita, bahwa beberapa kejadian, peristiwa dan apa-apa perkara baik ataupun buruk yang menyebati dengan Yang Dipertuan Besar, Sultan Mahmud Syah III dan pembesar-pembesar kerajaan lainnya, atau sesiapa saja dalam lingkup kerajaan itu sendiri, sulit akan dapat dibaca dengan terang di dalam senaraian-senaraian yang lain. Banyak kabar, antara lain kabar sejarah Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang yang didedahkan Rida kepada pembaca melalui novel ini.
Model penceritaan yang dituangkan atau dihidangkan oleh pengarang kepada khalayak pembaca, tidak dari pangkal sampai ke ujung atau sebaliknya dari ujung balik ke pangkal. Melainkan, dibuatnya dalam penggalan-penggalan utama, yakni berpenggal tiga. Penggalan pertama sebagai pembuka, yakni Raja Djafaar sudah mengenang cintanya kepada Tengku Buntat, ketika dia sudah tidak muda lagi, dan berada di Selangor. Berada jauh dari pusat Kerajaan Riau-Lingga. Dia diminta pulang ke Riau-Lingga, karena akan ditabalkan (dilantik) menjadi Yang Dipertuan Muda Riau mengantikan Raja Ali yang sudah wafat.
Berlanjutnya cerita itu, pada penggalan kedua, yang memuncak, tetapi sukarnya masa-masa percintaan Tengku Buntat dengan Raja Djafaar. Pada penggalan kedua itu, berbagai kisah, peristiwa, dan perkara-perkara lainnya, begitu berselang-seling, melingkar, melingkup, menyungkup, menangkup dan seakan-akan menutup jalinan cinta keduanya. Berbagai informasi yang ada kaitannya dengan kebenaran Kerajaan Riau-Johor-Pahang-Lingga, dihidangkan sempurna di dalam penggalan kedua novel ini.
Selanjutnya, penggalan ketiga, diakhiri dan ditutup dengan keberadaan Raja Djafaar yang sudah tidak muda lagi, selanjutnya mengenang masa lalunya, terutama ketika menjalin kasih mesra yang sulit dengan Tengku Buntat. Dia seakan-akan tiada dapat melupakan Tengku Buntat, meskipun Buntat sudah lama menikah dengan Tengku Husin. Dalam pada itu, Tengku Buntat pun tetap tak pupus-pupus juga cintanya kepada Raja Djafaar, sampai-sampai sebelum dia beserta suaminya pindah dari Lingga ke Temasik atau Singapura, masih sempat-sempatnya menengok bilik Raja Djafaar, meskipun tak ada orangnya. Dan penggalan ini, pengarang novel menggantungkan akhir daripada cinta dan kisah Tengku Buntat dan Raja Djafaar. Sehingga para pembaca, dibiarkan gelisah akan mencari dan mungkin akan akhir sebenarnya cerita novel dimaksud.
Sanggam Bahasa dan Optimisme
Bagi pengarang orang Melayu, niscayalah akan bersungguh-sungguh menggunakan bahasanya sendiri (Melayu/Indonesia) dengan sebaik sebenar-benarnya. Secara patut, beradat dan bermarwah. Dia akan menjaga eksistensinya sebagai pemilik bahasa Indonesia itu sendiri. Pastilah akan sedapat-dapatnya menggunakan bahasa itu bersesuaian dengan adab, adat-budaya dan petah Melayu. Kata-kata vulgar, dan tabu tentulah sukar ditemukan. Bahasa kias dan misal akan menjadi penekanan. Itulah pula yang dapat ditangkap dan dikesan dalam penulisan (pengarangan) novel Bulang Cahaya.
Bagaimanapun, patut diacung jempol, bahwa Rida K Liamsi, seorang penyair, wartawan besar, jurnalis tulen, pengelola media massa terbesar dari Riau Pos Group memuncak ke Jawa Pos Group —yang saya pernah lama bersamanya, baik ketika di SKM Genta, yang ianya sebagai Ketua PWI Riau, ataupun ketika saya menjadi wartawan Harian Pagi Riau Pos, dan berlanjut menjadi redaktur Mingguan SeMpadaN, salah satu media massa Riau Pos Group. Juga selalulah hadir bersamanya dalam seminar sastra dan baca puisi —di dalam menempatkan petah bahasa Melayu dan “akhlak” berbahasa.
Bagi orang Melayu, menjadi pengarang bukan sekadar menghadirkan atau menghidangkan serangkaian kalimat dengan jalinan cerita, tetapi lebih menukik dan jauh daripada itu. Ianya bertanggung jawab kepada agama yang diyakini dan diamalkannya, Islam dan adab, adat-istiadat Melayu yang bersebati dan menjadi jati-dirinya. Memarwahkan dan memartabatkan bahasa adalah harga mati, karena di sanalah makna: manusia mati meninggalkan nama! Ini pulalah yang “dipetuahkan” oleh Raja Ali Haji dalam “Gurindam Dua Belas”, bahwa: Jika hendak melihat orang berbangsa lihatlah kepada budi dan bahasa. Budi dan bahasa bermakna berbuat dan berlaku (berperangai) baik, mulia dan agung (akhlakul karimah). Dengan demikian, maka perkara menyanggam (mematutkan, memarwahkan dan menghebatkan) bahasa menjadi identitas dalam melahirkan karya. Rida K Liamsi dengan novel Bulang Cahaya, ini menjadi penanda bagi kepengarangan Melayu, dan bergeliuk menjadi “bandar estetika bahasa”.
Hal terpenting kehadiran novel ini, Rida hendak mengabarkan kepada sesiapa saja, baik yang membaca karyanya ini ataupun mereka-mereka yang hidup di tanah Melayu bernama Kepulauan Riau, dan umumnya Indonesia, setiap kejadian, peristiwa, hal-ikhwal, apakah ianya baik ataupun yang buruk, senantiasa ada pesan optimisme di dalamnya. Bagaimana pertelingkahan pandangan, pembidikan kekuasaan, dan pengaruh bagi masa hadapan di dalam lingkar-lingkup Kerajaan Riau-Johor-Pahang-Lingga, antara pihak Melayu dan Bugis, niscayalah dapat menjadi teras bagi mengentalnya rasa optimisme di dalam masyarakat dan pemegang teraju pemerintahan. Serangkaian kejadian atau “peristiwa sejarah” di dalam novel ini, menjadikannya sebagai bacaan kekinian, dan dapat dipetik mutiara kebaikan bagi kemajuan masyarakat, bangsa dan negeri.
Simpai
Kisah cinta, perjalanan kerajaan, pertukaran-pergantian pejabat Yang Dipertuan Besar (Sultan) dan Yang Dipertuan Muda (Raja), dan perjodohan sungguh membumbui dan mewarnai jalan-jalinan dan rangkaian cerita-kisah novel Bulang Cahaya. Dapat ditangkap dan dimaknai bagaimana semestinya berteguh hati, setia dan amanah akan marwah, harkat dan martabat. Juga, kecepatan, ketegasan dan kepastian keputusan yang mau tidak mau harus diambil, diputuskan atau dilaksanakan. Jikalau keputusan yang diambil itu tidak dapat memuaskan atau bahkan tidak diterima semua pihak, adalah suatu yang wajar dan sekali-kali tidak boleh bersurut apalagi mundur.
Rida K Liamsi, hendak mempertegaskan kepada sesiapa saja yang kini dan kelak mendapat rahmat atau berkah (amanah) dari Allah sebagai pemegang kekuasaan (menjadi petinggi) negeri, hendaklah betul, tegas, cepat, dan pasti. Demi khalayak ramai dan negeri, jikapun keputusan itu mesti berhadapan dengan keinginan keluarga, tidak menjadi soal. Keputusan final bukan demi keluarga, demi kelompok, demi suku, melainkan demi kebaikan dan kemaslahatan rakyat dan Negara.
Itulah keputusan luar biasa hebatnya yang pernah hadir dalam Kerajaan Riau-Johor-Pahang-Lingga, yakni keputusan yang diambil oleh Sultan Mahmud Syah III ketika menjodohkan Tengku Buntat dengan Tengku Long (Husin) anaknya, dan “mencabut” jabatan Yang Dipertuan Muda dari Tengku Muhammad, yang selanjutnya menyerahkan jabatan itu kepada Raja Djafaar. Selanjutnya, keputusan hebat itu diambil pula oleh Raja Djafaar ketika dia menjadi Yang Dipertuan Muda Riau, melantik Tengku Abdurrahman menjadi Yang Dipertuan Besar, Sultan Riau-Lingga mengganti Sultan Mahmud Syah III.
Pada akhirnya, cerita novel Bulang Cahaya karya Rida K Liamsi ini, bukan sekadar pantas, patut, elok dibaca, tetapi sesiapa menjadi petinggi negeri di kawasan Kepulauan Riau —ianya ada Gubernur Kepri, Wali Kota Tanjungpinang dan Batam, Bupati Bintan, Karimun, Lingga, Natuna dan Anambas— sepatutnya dapat serempak-kompak berikhtiar menjadikan novel ini dapat dinikmati secara visual. Bahwa, alangkah moleknya kalau diangkat menjadi film layar lebar! Atau, paling tidak di layar kaca (sinetron TV). Tahniah! ***
_________/29 April 2012
*) Abdul Kadir Ibrahim, sastrawan, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Provinsi Kepulauan Riau, mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang dan kini staf ahli Wali Kota Tanjungpinang. Sempena HUT ke-46 tahun 2012 ini akan meluncurkan delapan judul buku, di antaranya 3 kumpulan cerpen, 1 novel dan tiga ulasan.

Teater Anak dalam Renungan Riau 2020


Teater Anak dalam Renungan Riau 2020
Posted by PuJa on April 30, 2012
Rian Harahap *
http://www.riaupos.co/

Kesenian Riau mengalami jalan terang pada tahun ini. Ini terlihat dari beberapa event dan animo masyarakat Riau khususnya di Kota Pekanbaru dalam mengambil sikap menikmati sajian-sajian dalam helatan yang dibungkus kesenian. Mulai dari tari hingga teater. Mulai dari Pekanbaru hingga sajian yang baru saja dihelat Dewan Kesenian Riau di Rokan Hilir. Semua itu bak gayung bersambut semenjak tahun ini berganti. Penulis menganggap itu sebuah hal yang positif namun di balik itu ada beberapa titik yang perlu ditampung dalam pelestarian dan pendidikannya.
Anak merupakan aset bangsa yang paling besar. Negeri ini akan dibawa kemana juga tergantung dari ‘asupan gizi’ yang diberikan kepadanya. Melihat hal itu, demi mencapai visi misi Riau 2020 menjadi pusat kebudayaan Melayu maka mau tidak mau anak harus diikutsertakan sedini mungkin dalam keterlibatannya menuju poin tersebut. Penulis melihat banyak yang harus dibenahi dalam kondisi kesenian di Riau. Anak yang kini terus dijejali berbagai macam pelajaran di sekolahnya juga harus mempunyai wadah menampung intuisi seni yang sudah ada sejak ia dilahirkan. Apa pula yang menjadi wadah anak? Teater mungkin salah satunya.
Bloom (1981) menyatakan, ada tiga aspek perkembangan anak, yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik. Aspek kognitif adalah kemampuan yang berhubungan dengan berpikir, mengetahui dan memecahkan masalah seperti pengetahuan komprehensif, aplikatif, sintesis, analisis dan pengetahuan evaluatif. Aspek afektif adalah kemampuan yang berhubungan dengan sikap, nilai, minat dan apresiasi. Sedangkan aspek psikomotorik adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan motorik.
Dalam hal ini jelas sudah bahwa seni merupakan media yang baik untuk menyampaikan pendidikan, karena sifatnya menyenangkan dan dapat memberi muatan-muatan positif. Teater adalah tiruan kehidupan manusia yang diproyeksikan di atas pentas. Teater anak adalah seni teater yang diperankan oleh anak. Seni teater termasuk metode pembelajaran jenis role playing. Seni teater anak memiliki potensi besar dalam memberikan pendidikan kepada anak. Teater anak dapat mengembangkan kepribadian anak dengan merangsang aspek kognitif, afektif dan psikomotor pada anak melalui latihan-latihan teater.
Dengan mengembangkan semua aspek perkembangan kepribadian anak, dalam teater anak diharapkan dapat memberi kontribusi berarti dalam mencetak anak-anak bangsa yang berkepribadian baik. Tentunya ini memerlukan strategi penyampaian yang baik karena kondisi di setiap daerah berbeda ketersediaannya untuk mengadakan teater anak. Penyesuaian ini meliputi adat dan norma yang berlaku di masyarakat, tinjauan sejarah masa lampau dan kebutuhan sasaran.
Anak sejatinya mesti memiliki ruang bermain peran. Dalam bentuk dan proses yang mereka alami di sekolah sangat berbeda dengan apa yang mereka dapat di teater. Teater bukan barang pengganti tetapi adalah bahan pokok untuk menempa anak menuju ke arah permainan yang lebih berarti. Banyak manfaat yang akan didapat jika saja anak-anak tersebut mau membuat gebrakan dengan masuk ke dunia teater. Manfaat-manfaatnya berupa ketenangan, kreatifitas dan mampu menyesuaikan diri untuk berkelompok. Memasuki dunia peran bukanlah hal yang sulit jika mereka benar-benar memiliki niat dan disiplin yang tinggi.
Namun banyak halangan menuju sebuah keberhasilan masuk ke dunia teater bagi seorang anak. Orangtua dalam hal ini sangat antipati terhadap apa yang disebut teater. Sebagian besar dari mereka masih memiliki pandangan dan pakem-pakem yang ketat terhada ‘teater’. Nilai anak yang jelek atau bahkan tinggal kelas akan menjadi alasan untuk mengkambinghitamkan teater. Ranah ini sebenarnya sudah ditinggalkan oleh mereka yang berproses di dunia Barat.
Teater anak bukanlah penghambat tapi pemacu. Bisa dibayangkan jika kegiatan yang dilakukan anak dalam proses penghapalan naskah juga dilakukan dalam mempelajari pelajaran-pelajarannya di sekolah. Belum lagi jika proses menghargai waktu dan ketepatan juga mereka terapkan dalam waktu belajar di rumah. Sangat efektif bukan? Mungkin itu hanyalah ‘bualan’ semata menurut beberapa orang.
Meski begitu teater anak sebenarnya bukanlah hal yang baru. Banyak yang sudah berhasil menjalaninya dan mampu mengangkat marwah bangsa di kancah internasional. Lihat saja, Teater Tanah Air yang menorehkan prestasi dengan menjadi pemenang dalam Pertunjukan teater berjudul ‘’WOW’’ Teater Anak Internasional di Jerman.
Kompetisi yang diikuti 24 negara ini menempatkan Indonesia sebagai peserta dengan penampilan terbaik dan sutradara terbaik. Jose Rizal Manua sebagai pengasuh sekaligus sutradara Teater Tanah Air merintis pergerakan ini di Indonesia. Kesempatan memenangkan itu sangat mungkin menjadi pemacu yang konkret bagi anak-anak dan orangtua memasukkan anaknya ke dalam sanggar teater.
Lain pula dengan cerita Sanggar Keletah Budak. Sanggar teater anak yang bermarkas di Pekanbaru dan latihan setiap Ahad ini membuat sedikit goresan yang membuat bangga masyarakat Riau. Apa pasal? Mereka tercatat sebagai satu-satunya sanggar teater anak di Riau. Dalam helatannya pun mereka sering diundang untuk mengisi acara yang berskala internasional. Sebut saja, Fiesta Bokor Riviera (2011) yang juga menghadirkan para seniman dari luar negeri. Sanggar asuhan Rina NE sebenarnya adalah penggambaran kondisi riil bagaimana kesenian perlu dihadirkan bagi anak-anak.
Anak sebagai manusia juga memerlukan sekeping rehat dari masalah-masalahnya di sekolah. Mudah-mudahan saja Keletah Budak terus menjaga eksistensinya sebagai teater anak. Penuh dengan ruang bermain dan kelompok. Sajian ‘’Batang Tuaka’’ (31/3) di Taman Budaya Riau, merupakan cerita asli dari Indragiri Hulu akan membawa kita hanyut dari sisi lain anak yang mempunyai wadah kesenian. Sajian mereka membuka tahun ini demi Riau 2020. Semoga !.***
*) Rian Harahap, adalah penikmat teater dan cerpen. Mengajar di sekolah dasar dan bermastautin di Kota Bertuah Pekanbaru. /29 April 2012