Pages

Tuesday, 8 May 2012

Melezatkan Pelajaran Sastra di Sekolah


Melezatkan Pelajaran Sastra di Sekolah
Posted by PuJa on May 4, 2012
Adrian Ramdani
http://www.kompasiana.com/adrianramdani

Pelajaran sastra. Memang ini seolah suatu pelajaran yang kurang diminati banyak siswa sekolah. Mereka lebih cenderung memilih pelajaran yang menantang dan bersifat ilmiah. Matematika, Fisika, Kimia, merupakan pelajaran favorit yang dianggap paling digemari dan memberikan manfaat yang lebih dari sebuah puisi atau cerpen. Pelajaran sastra dirasa hanya diberikan sebagai pelengkap dan termasuk bagian dari pelajaran bahasa Indonesia. Porsi yang diberikan seolah-olah dianggap tidak terlalu penting nantinya atau dengan kata lain tidak menunjang untuk kehidupan masa depan.
Ketika pelajaran sastra -merupakan bagian dari pelajaran bahasa Indonesia- diberikan seolah hanya penyelipan dari pelajaran tentang bahasa. Memang teori-teori yang diberikan begitu menumpuk dengan diriingi sedikitnya aplikasi dan tidak seperti pelajaran lainnya, sehingga perkembangan pemikiran pun kosong. Tugas yang diberikan pun hanya menyangkut pembuatan suatu karya sastra yang instant dan tidak melalui suatu proses. Proses yang diperlukan untuk membimbing siswa agar menumbuhkan jiwa pembebasan yang lepas setelah kepala-kepalanya dipadati oleh celoteh-celoteh teori yang “klasik” dari buku. Dan jika tugas ini diberikan yang akhirnya selesai dikerjakan oleh siswa, diberikan penilaian yang sama dengan tugas pelajaran lainnya. Hal ini sangat bertentangan dengan esensi sastra itu sendiri, yang tidak bisa diukur dengan angka. Sebenarnya inilah sesuatu yang dashyat dari sastra. Menumbuhkan pemikiran yang bebas dan hakikat kehidupan yang alami.
Ketika sastra diajarkan, ketika itu pula kebosanan biasa melingkupi suasananya. Cara pengajaran materi yang berulang-ulang memang membuat para siswa menjadi bosan. Siswa yang telah berat otaknya, ditambah lagi pelajaran sastra yang menurut mereka membosankan dari segi cara mengajarkannya. Inilah kendala-kendala yang mungkin mengakibatkan pelajaran sastra kurang diminati. Biasa para guru pun agak malas ketika harus mengajarkan sastra dan hanya memberikan tugas, sehingga pelajaran sastra hanyalah sebagai pelajaran yang ‘numpang lewat’. Selain itu kurangnya pengetahuan guru mengenai sastra membuat pelajaran ini terasa monoton dan tidak akraktif. Guru pun mungkin kurang menyukai apresiasi sastra dan kurang termovitasi mengajarkan sastra sehingga mempengaruhi siswa-siswa yang menjadi ‘lesu’ untuk mempelajari sastra.
Suatu perkenalan yang unik dan mengesankan sangat perlu ketika mengenalkan pelajaran sastra ini. Hal ini dapat dijadikan sebagai sentuhan pertama yang baik. Sesuatu yang ‘nyeleneh’ bisa dilakukan guru atau agak sedikit ber-teater sambil membacakan puisi. Siswa yang tadinya ‘beku’ menjadi cair melihat tingkah gurunya yang sedang mengajarkan sastra. Mungkin cara ini agak aneh. Tapi ini ampuh.
Minat baca khususnya pada buku sastra pada siswa-siswa juga ikut mempengaruhi pengajaran sastra. Biasanya para siswa lebih perhatian pada sesuatu yang disimak daripada yang dibaca, sehingga memang situasi budaya lisan lebih berkembang pesat dari pada budaya tulisan.
Budaya bersastra dan pengapresiasiannya pada di lingkungan sekolah masih rendah. Sarana-sarana yang menunjang ke arah sana pun dirasa kurang. Perpustakaan sekolah masih dirasa minim buku-buku sastra. Kegiatan-kegiatan yang bernilai sastra pada lingkungan sekolah sebenarnya harus lebih digalakkan dan lebih terjadwal.
Adalah Kang Erwan Juhara, salah satu guru SMUN 10 di Bandung yang merupakan guru bahasa Indonesia dan berhasil menumbuhkan jiwa sastra pada siswa-siswanya. SMUN ini pun berhasil menarik perhatian banyak sastrawan dan sekolah lain yang ingin menirukannya. Kang Erwan membuat pemikiran para siswanya tumbuh berkembang dan bebas serta menyukai sastra dengan caranya tersendiri..Pelajaran sastra di sekolah itu pun menjadi pelajaran yang favorit, sehingga terasa lezat ketika mempelajarinya. Kang Erwan sendiri mempunyai yayasan dan sanggar seni yang bergerak dalam bidang seni dan sastra yaitu Yayasan Jendela Seni, suatu komunitas yang sebagian besar anggotanya berasal dari pelajar.
Para sastrawan pun telah bergerilyawan menyerang sekolah-sekolah di seluruh SMU se-Nusantara dengan membuat kegiatan bernilai sastra bekerja sama dengan majalah Horison yaitu, “Siswa Bertanya, Sastrawan Bicara”. Kegiatan ini terbilang sukses dalam menumbuhkembangkan sastra di sekolah-sekolah. Sambutan siswa-siswa ini pun sangat positif, terlihat dari banyaknya siswa yang mengikuti kegiatan SBSB di sekolahnya. Hasilnya banyak sastrawan-sastrawan muda yang mulai tumbuh dari sekolah-sekolah.
Pelajaran sastra tidak sekedar mengenal sastra kepada siswa. Mendekatkan sastra sangatlah penting, terutama nilai-nilainya yang berguna memahami hidup. Ungkapan jiwa, nuansa kehidupan, keindahan, semuanya tercipta dalam sastra. Siswa-siswa dapat mengembangkan pemikirannya serta talenta dalam menulis, sehingga dapat memaknai hidup
Mungkin kita pernah mendengar cerita mengenai Dead Poets Society, yang mengisahkan bagaimana menikmati pelajaran sastra dari seorang guru dengan cara pengajarannya yang esentrik. Di situ terlihat bahwa pelajaran sastra merupakan pelajaran yang berbeda dengan lainnya. Di saat pelajaran yang ‘berat’ bagi otak dengan tugas-tugas yang bertumpuk, datanglah pelajaran sastra yang sentuhan pertama yang ringan tetapi dengan substansi yang begitu berisi, menjelma menjadi pelajaran yang begitu menyenangkan. Di samping itu memang peran guru begitu besarnya ketika mendekatkan sastra kepada sisiwanya. Pendekatan yang dilakukan pun dengan proses yang sedikit demi sedikit tapi meyakinkan. Pada saat itulah pelajaran sastra bisa mengisi kehausan siswa-siswanya akan sesuatu yang baru. Sesuatu yang membuat ekspresi/ungkapan jiwanya keluar begitu alami yang selama ini terendap. Karena setiap jiwa mempunyai endapan kata-kata hati yang dahsyat ketika dikeluarkan.
Pelajaran sastra merupakan pelajaran yang ‘lezat’ jika kita benar-benar tahu cara menikmatinya. Tidak kala lezat dengan pelajaran lainnya. Bahkan mungkin ini yang terhebat dari yang lainnya. Dari segi subtansinya pun sangat berbobot, jika kita membidiknya dengan tepat. Dengan sastra kita dapat menggambarkan suatu keindahan hidup yang benar-benar harmonis. Hal ini juga yang ingin disampaikan para sastrawan dengan kegiatan SBSB-nya. Kegiatan yang benar-benar ingin mengenalkan sastra kepada para siswa. Bagaimana nikmatnya sastra pun dipaparkan dengan begitu bersahaja oleh Taufik Ismail, Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bahri, dan lain-lain.
Guru harus dituntut menguasai pengetahuan sastra, teori, sejarah, dan kritik sastra dengan seksama dengan mengikuti perkembangannya dari waktu ke waktu. Mencintai sastra secara pribadi dengan tulus berpengaruh juga agar lebih semangat dalam pengajaran sastra. Apresiasi yang mendalam mengenai suatu karya sastra dapat menjadi pegangan dalam membimbing siswa untuk mengenal sastra.
Cara pengemasan pengajaran sastra harus dilakukan lebih variatif dan menarik. Mungkin ini agak sedikit popular (pop). Pengemasan ini dirasa sangat perlu, mengingat dunia mereka penuh dengan warni-warni kehidupan yang ngepop. Lalu kenapa tidak ketika mengajarkan sastra mencoba mengenalkannya secara ngepop tanpa menghilangkan esensi sastra itu sendiri. Misalnya mengenalkannya pada syair-syair lagu pop yang sekarang ini sering memakai puisi sebagai andalan lagu seorang penyanyi atau grup band. Mudah-mudahan siswa-siswa tadi menjadi tertarik untuk mempelajari dalam lebih dalam lagi.
Peran guru salah satunya seperti Kang Erwan patut diperhatikan dalam mengembangkan sastra di sekolah. Pelajaran sastra yang diberikan menjadi lezat dengan porsi yang tepat
Dijumput dari: http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2010/10/12/melezatkan-pelajaran-sastra-di-sekolah/

Manusia: Mengapakah Engkau Cemburu?


Manusia: Mengapakah Engkau Cemburu?
Posted by PuJa on May 3, 2012
Edisius Riyadi Terre
http://www.kompasiana.com/ediriyadi
Bakdi Sumanto – dalam Tantangan Kemanusiaan Universal, sebuah antologi filsafat, budaya, sastra dan politik untuk mengenang 70 tahunnya Dick Hartoko – menelanjangi kecemburuan seorang Sahabat Sejati (A Friend in Need) yang merupakan judul cerpen W.S. Maughm, seorang sastrawan Inggris abad 20. Kecemburuan yang tampil dengan wajah inosen hipokrit si Hyde ternyata berakibat tragis dengan kematian Lenny. Hyde telah menjalankan tugas dan perannya sebagai a friend in need dengan “menyuruh” Lenny mati tanpa perlu dibunuh sehingga lengkaplah arogansinya menyingkirkan para kompetitor di seputar kehidupannya.
Kecemburuan, barangkali, usianya sudah setua umur kehidupan itu sendiri. Kejatuhan Adam dan Hawa – yang dalam tradisi religi tertentu diyakini sebagai manusia dan khalifah pertama di bumi-dunia – ke dalam dosa berawal dari kesediaan tergoda kecemburuan setan akan hakikat sang Pencipta. Ia, kecemburuan itu, bisa menyaru dalam aneka rupa dan bermacam tampilan. Kadang tergambar jelas dalam raut wajah keras Kain yang begitu sadis membantai Habel adiknya sendiri, Hitler yang arogan sekali membasmi anak bangsa Yahudi, dsb.; tidak jarang terungkap gamblang dalam tingkah liar-vandalistis seperti pemerkosaan massal terhadap etnis Cina dalam sebuah kerusuhan sosial beberapa waktu lalu (1998) di bumi nusantara tercinta ini; sesekali bersembunyi rapi di balik tutur sapa lembut penampilan anggun elitis noblesse oblige seperti yang dilakoni rezim Orde Baru berupa yayasan-yayasan amal sosialnya; sering juga terbenam dalam di lubuk nubari sebagai bom waktu, lava dan magma yang ketika meledak meletus menghancurkan semua sebagaimana dipertontonkan euforia reformasi berikut gelegak-gelegak susulannya yang berkarakter menguggat ke segala arah, curiga ke segala arah, relativisme sembrono sekaligus absolutisme angkuh yang keduanya justru menguatkan intoleransi peradaban, dan sebagainya.
Manusia pramodern, modern, postmodern adalah manusia yang menafasi keanehan paradoksal sekaligus ironis. Cemburu adalah a friend in need-nya kasih cinta, begitulah adagium eksistensial kemanusiaan. Cemburu itu “sayur lodeh kehidupan”. Tiada cemburu berarti bagai sayur tanpa garam. Cemburu adalah bahasa cinta yang paling jujur, mengutip para pecinta (lovers) yang sedang digandrungi asmara hebat. Cemburu, ternyata, adalah energi kehidupan. Tanpa cemburu hidup adalah sebuah omong kosong. Wow, dari mana semua omong kosong ini? Ataukah semua itu tadi adalah kebenaran yang terlupakan, dan kini saatnya kita harus menyandingkannya berdampingan dengan cinta atau memposisiskannya bagai dua sisi sekeping mata uang logam?
Cemburu sebenarnya merupakan pem-bahasa-an yang kurang tepat terhadap salah satu ekspresi dari hakikat dan kecenderungan dasariah manusia yaitu memiliki. Milik dan memiliki didewa-dewakan sebagai ungkapan kesempurnaan jati diri. Lalu cinta (dan mencintai), “sahabat” sang cemburu, dipahami juga sebagai upaya mengungkapkan kecenderungan yang sama tersebut. Mencinta berarti memiliki. Padahal yang sejati adalah justru sebaliknya: mencinta berarti dimiliki!
Mencinta sangatlah dekat dengan kebiasaan dan kesediaan memberi, sehingga kemudian kata “cinta” sering diimbuhi kata “kasih” lalu menjadi frase “cinta kasih”. Mencinta berarti memberi, meng-kasih. Saya mencintai pacar saya berarti saya rela memberikan. Cinta saya tulus suci dan sejati, berarti saya bersedia ikhlas memberikan segala yang ada pada saya, memberikan seluruh diri saya kepada sang kekasih pasangan jiwa. Berarti, sekarang saya menjadi yang di-miliki! Kekasihku-lah yang me­-miliki saya.
Keikhlasan mencinta, kerelaan dimiliki mengandung konsekuensi implikatif melakukan apa pun dan diperlakukan bagaimanapun oleh sang “pemilik” hidup saya. Bahkan saya tidak takut kehilangan nyawa jika itu demi cinta; bersedia untuk sewaktu-waktu ditinggal-telantarkan; mau untuk tidak cemburu ketika sang kekasih ternyata lebih mencintai dan dicintai orang lain. Kepenuhan cinta saya terletak dalam kerelaan lapang dada untuk melepaskan. Kepemilikan saya yang utuh terungkap dalam kesudian mengosongkan.
Itulah ideal cinta tak bersyarat, ideal tapi tidak utopis. Kemanusiaan yang kita nafasi sekarang tampaknya cukup sulit menerima ideal cinta seperti ini. Tapi jangan lupa, peradaban manusia yang telah berumur tak terhitung itu cukup sarat dengan pengalaman-pengalaman konkret yang merupakan pengejawantahan idealitas tersebut, terutama pengalaman religiusitas kaum spiritualis.
Berbicara tentang cinta kita kemudian mulai memahami di mana sebenarnya dan bagaimana semestinya posisi dan peran cemburu, sang “sahabat sejati” tersebut dalam kehidupan. Kembali, kecemburuan adalah peng-kata-an yang kaprah (bukan: salah kaprah) dari dorongan batin untuk memiliki. Artinya, cemburu lebih sebagai sikap yang muncul ketika ada yang tidak bisa kita miliki tapi justru dimiliki orang lain. Pun juga, cemburu mengharamkan realitas di mana orang lain bisa memiliki milik kita, atau memiliki hal yang sama seperti yang kita miliki atau bahkan lebih dari kepunyaan kita. Kalau cinta bermakna kesudian dan kesediaan untuk dimiliki; cemburu, sebaliknya, memiliki makna nafsu dan ambisi untuk memiliki.
Ternyata cemburu memang benar-benar “sahabat sejati” (dalam tanda petik) cinta, yang watak intrinsiknya destruktif dan kontra-produktif, yang dengan entengnya bergumam “Aku cemburu karena aku benar-benar mencintaimu!”, untuk menutupi wajah egoisnya. Cemburu pulalah yang memutarbalikkan hakikat cinta, yang terutama muncul ketika ada yang terkooptasi, terhegemoni, terkungkung-tersiksa-teraniaya, dengan kata-kata indah, “Aku melakukan semua ini karena aku sungguh-sungguh mencintaimu!” Logika seperti inilah yang menorehkan peradaban dengan kekerasan demi kekerasan, yang menciptakan serigala bagi sesamanya, homo homini lupus kata Hobbes.
Akankah cinta mampu bertahan dengan semboyannya, homo homini socius, manusia adalah sesama bagi sesamanya? Jika cinta, sampai sejauh ini, masih dan tetap diyakini sebagai salah satu (kalau bukan satu-satunya) energi kehidupan yang memberikan kenikmatan luar biasa dalam keikhlasan menjadi “dimiliki” maka mengapakah kita tetap saja mengeram cemburu? Atau akankah cemburu dapat menjadi sungguh-sungguh sahabat sejati (tanpa tanda petik) dalam artiannya yang telanjang bagi cinta? Kalau tidak, lalu: Mengapakah engkau cemburu, wahai manusia?
Edisius Riyadi Terre adalah seorang musafir peradaban dan makna. [Tulisan ini hasil goresan tahun 2001 ketika masih bekerja di Penerbit Kanisius, Yogyakarta]
Dijumput dari: http://filsafat.kompasiana.com/2012/03/07/manusia-mengapakah-engkau-cemburu/

Memanjakan Telinga dengan Karya Sastra


Memanjakan Telinga dengan Karya Sastra
Posted by PuJa on May 4, 2012
Hristina Nikolic Murti, Angkat Ronggeng dalam Audiobook
Nugroho Pandhu Sukmono, Susanto
http://www.suaramerdeka.com/

Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk kian memasyarakat. Setelah diangkat dalam layar lebar, kini karya Ahmad Tohari itu digarap menjadi audiobook (buku bunyi).
KARYA sastra tersebut memikat Hristina Nikolic Murti (33), pegiat lembaga Digital Archiphelago. Dia bersama sejumlah rekannya kini menggarap novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) dalam bentuk buku bunyi.
Ya, teknologi tersebut belum begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia. Namun di Eropa dan Amerika sudah menjadi makanan sehari-hari para pecandu buku. Terutama, bagi mereka yang memiliki waktu sedikit untuk membaca.
Membaca dapat dilakukan sewaktu-waktu dan di mana pun tempatnya, baik di kereta api atau di tengah keramaian. Sebab, membaca itu dapat dilakukan seperti saat mendengarkan musik.
Melalui audiobook, penggemar sastra dapat menikmati kisah percintaan Rasus dan Srintil asal Dukuh Paruk dari awal sampai akhir.
Buku setebal 408 halaman itu akan rampung didengarkan hanya dalam waktu 18 jam saja. Hristina mengatakan, ide pembuatan ini muncul berawal dari kebiasaan suaminya, Putragung Wisnumurti (34).
Pria asal Solo itu lebih suka belajar dengan cara mendengar. “Seperti anak kecil yang mendengarkan dongeng dari orang tuanya. Mendengar, lebih mudah dimengerti daripada membaca sendiri,” kata perempuan berdarah Serbia yang fasih berbahasa Indonesia ini.
Dia mengatakan, Indonesia kaya akan karya sastra, tapi minim pendokumentasian. Selain itu, belum semua masyarakat bisa mengakses. Rupanya, pandangan itu selaras dengan rekannya yang tinggal di New York, Alexander Sukiban yang dikenalnya dua tahun silam. Pria berdarah Jawa itu tengah mencari literatur berbahasa Indonesia dalam bentuk audiobook.
“Suki ingin melihat perkembangan karya media baru yang memudahkan orang Indonesia berhubungan dengan budaya dan seni. Dalam era digital saat ini, seharusnya semua orang dapat menikmati seni narasi dalam cerita yang indah melalui salah satu gadget-nya,” ujar wanita yang bermukim di Jakarta tersebut.
Selain itu, di Benua Amerika dan Eropa, media ini dipergunakan untuk membantu penderita diglosia (kelainan pada saraf mata dan penderita masalah neurologis) dan diseleksia (sering salah mengucapkan suku kata) yang sering dicap bodoh. Di samping itu, mendengar cerita dari audiobook bisa menjadi terapi bagi orang tua yang kesepian hingga pelukis dan pematung.
Kisah yang diceritakan Suki kepada Hristina membuatnya tertarik. Sebab, semasa kecilnya di Kragujevac, Serbia, dia juga menyukai dunia sastra, seperti karya Milorad Pavic yang berjudul Dictionary of the Khazars: A Lexicon Novel. Selain itu, dia juga mengagumi sosok penulis Indonesia, seperti Pramoedya Ananta Toer.
Setelah berinteraksi melalui jejaring dunia maya, Hristina, Suki bersama beberapa rekan yang tergabung dalam komunitas diaspora (WNI yang tinggal di luar negeri) berusaha mewujudkan melalui Digital Archipelago, lembaga nirlaba yang berkedudukan New York, Amerika Serikat.
“Waktu itu, Suki meminta saya untuk mencari tulisan dalam bentuk apa pun. (Karena) latar belakang saya yang berminat dengan sastra, maka saya mengusulkan untuk membuat novel RDP yang ditulis Ahmad Tohari versi audiobook sebagai karya perdana,” kata lulusan Pendidikan Bahasa dan Satra Indonesia, Universitas Sebelas Maret (2007) itu.
Tak berpikir panjang, ibu dari Novak (2) itu menghubungi sastrawan Banyumas yang tinggal di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas. Dia beralasan, karya Tohari adalah salah satu karya fundamental yang menimbulkan banyak kontroversi karena pernah dicekal oleh Rezim Orde Baru.
Menurut pembacaanya, kisah tragedi ronggeng merupakan potret Indonesian pada zaman lampau. Ada sejumlah nilai sosial, budaya, sampai panggung politik yang memposisikan rakyat kecil mengalami nasib tragis.
“Saya makin penasaran. Tapi kami kesulitan mencari Ahmad Tohari. Karena lembaga ini baru didirikan, jaringannya pun belum banyak,” kata perempuan yang tinggal di Indonesia selama sepuluh tahun ini.
Setelah mencari informasi dari Dosen Institut Seni Indonesia Surakarta, Darno Kartawi, yang selanjutnya membantu dalam pengisian suara musik banyumasan, dia berhasil menghubungi penulis Ronggeng Dukuh Paruk ini, dua tahun silam. Serta merta, Hristina meminta persetujuan Tohari untuk menghadirkan novelnya dalam bentuk buku bunyi. Di luar dugaan, Tohari dengan mudah memberikan restu kepada tim Digital Archipelago. Berbekal hal itu, Hristina menawarkan sejumlah orang sebagai pembaca narasi. Salah satunya adalah seniman nyentrik Butet Kertaradjasa.
Penulis novel Ayam Bekisar itu pun menyetujui tawarannya. Dia lalu menghubungi Butet agar bersedia menjadi pembaca cerita yang sukses diangkat ke layar lebar dalam film Sang Penari ini. Ternyata untuk merekam suara emas itu pun membutuhkan waktu yang satu tahun.
“Ini benar-benar kerja tim yang panjang dan melelahkan, karena tidak mudah merekam suara Butet yang punya kesibukan sangat banyak. Kami harus rela menunggu jadwal kosong di sela-sela pentas dan acara seni budaya yang sangat padat,” ujarnya.
Tak Sembarangan
Hal itu dilakukan Hristina karena dia tidak ingin penggarapan audiobook itu sembarangan. Selain mencari pengisi suara dengan karakter yang kuat, penggarapan audiobook ini juga melibatkan para pakar ahli bahasa, intonasi dan fonologi serta ilustrator kenamaan.
Beruntung, saat mencari ilustrasi musik, koleksi calung banyumasan milik Darno sangat banyak. Jadi, wanita yang berprofesi sebagai linguistik lepas ini tidak kesulitan mengisi ilustrasi rekaman.
Setelah itu,dia mencari studio mixing melalui jaringan kebudayaan di Yogyakarta. Di sana, dia menemukan studio Kua Etnika dengan melibatkan, Antonius Gendhel. Namun, proses ini belum rampung hingga sekarang. Pasalnya, masih membutuhkan sejumlah uji coba agar penggambaran suasana di narasi serasa hidup dan enak sewaktu diperdengarkan.
Untuk tahap penyelarasan akhir, Hristina menggandeng Dr Sugiyono dari Pusat Pengembangan dan Pelindungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai proofreader yang bertugas sebagai orang terakhir yang mengoreksi.
“Karena itulah untuk membuat triler audiobook ini kami juga datang ke Banyumas untuk melihat apa dan bagaimana (lengger). Kami ingin tahu pertunjukkan yang sebenarnya. Sebagian kopi dari audiobook nantinya akan kami sumbangkan ke kaum tuna netra. Bila tidak ada halangan, para pengguna telepon seluler pintar akan bisa menikmati hasilnya bulan depan,” imbuhnya.
Selain ke kediaman Ahmad Tohari, rombongan Digital Archipelago ini juga turut mendatangi kampung lengger Desa Gerduren Kecamatan Purwojati, Sabtu (21/4) kemarin. Demi menyempurnakan tahapan audiobook mereka melihat langsung pentas lengger Sekar Wigati Gerduren yang dikoordinir oleh pengurus Desa Adat, Bambang Suharsono dan Rohmat. Selain pakar bahasa, Dr Sugiyono, ilustrator kenamaan Widiyatno juga turut hadir dalam rombongan tersebut.
Penulis Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari menuturkan, pinangan untuk membuat audiobook ini sudah datang sejak dua tahun lalu. Namun karena berbagai hal dan membutuhkan proses panjang, akhirnya proses audiobook ini baru terlaksana saat ini. Meski begitu ia berharap agar keberadaan audiobook ini dapat menjadi pelopor dan motivasi minat berkarya para penulis. “Semoga ini menjadi sarana untuk melestarikan bahasa tutur yang saat ini kian hilang. Dan semangat menulis karya sastra juga kian terdongkrak,” jelas penulis cerpen Blokeng itu.
Dia mengaku sangat menghargai perjuangan dari Hristina dkk untuk membuat RDP dalam versi audiobook. Hal ini, baru pertama kali dikerjakan dan dilakukan oleh orang yang memiliki kepedulian terhadap karya sastra di tanah air. Dikatakan, bulan depan, para penikmat sastra sudah bisa mendengarkan RDP hanya dengan mengunduh via internet. “Saya sudah mendengar hasilnya. Memuaskan,” komentarnya singkat.
25 April 2012

Dilema Kritik Sastra


Dilema Kritik Sastra
Posted by PuJa on May 3, 2012
Aminullah HA Noor
http://www.suarakarya-online.com/

Suatu waktu ketika kritikus sastra HB Jassin masih hidup ia pernah menyinggung mengenai perlunya seorang penulis fiksi menghadapi kritikus yang mengkritik karyanya.
Hal ini sudah penulis lakukan beberapa tahun yang lalu ketika Salim Said mengkritik Gerson Poyk di majalah Tempo (maaf, tanggal dan tahunnya penulis lupa). Satu halaman Tempo menghajar penulis dengan mengatakan (kurang lebih) bahwa imajinasi penulis hanya terbatas di wilayah fisik semata.
Kalau tidak salah ingat yang dikritik adalah beberapa karya awal penulis yang memang imajinasinya adalah bagian dari rasionalitas keseharian. Memang ketika itu banyak cerpen penulis yang berputar di sekitar kenyataan everyday tetapi sejak semula penulis menyediakan kesempatan kepada pembaca yang peka untuk menghayati ironi yang terbersit dari kenyataan nyata di pojok jalanan atau di pintu restoran. Ini istilah Albert Camus, sastrawan Perancis yang mengatakan bahwa peristiwa besar, bisa saja timbul dari hal yang sepele di pojok jalanan atau di pintu restoran. Camus selanjutnya mengatakan bahwa kepekaan itu adalah perasaan yang timbul dari pikiran dan perbuatan. Penulis memakai istilah kepekaan untuk definisi Camus mengenai sensasi absurd. Jadi diperlukan kepekaan untuk menerima sensasi absurd. Artinya, dalam setiap cerita yang dibaca, realitas keseharian sekali pun mengandung sensasi absurd. Di saat itu batin kita menemukan hal yang absurd, hal yang penuh kontroversi dan mustahil dianalisa oleh akal, hal yang penuh ironi. Di saat seseorang melihat ironi dalam sebuah cerpen yang bahasanya sederhana tidak berputar-putar, tidak bergaya loncat bajing, tidak lenggang patah-patah, di saat itu ia bisa disebut orang yang peka, orang yang batinnya bisa terlibat dengan sensasi absurd. Dalam cerpen awal penulis berjudul si Keong (diterjemahkan dalam bahasa Jerman dengan judul Das Keong der Kleine Snecht, dimuat dalam antalogi berjudul Perlen Im Reisfeld), gelandangan rel kereta menggaruk-garuk koreng di kulupnya di depan dokter tetapi sang dokter meninggalkan dia karena buru-buru ke rumah sakit. Ironi tampak di sini. Bagi yang peka akan timbul sensasi absurd dalam batinnya melihat duka nestapa di pintu restoran. Ada yang mengatakan peristiwa yang tampak dari realitas fisik itu epifani (penampakan). Sang dokter berada dalam rutinitas keseharian (everyday), bukan terpental ke suasana keharuan menghadapi situasi tragik dalam keseharian fisik.
Nah, inilah yang penulis tuntut dari Salim Said ketika ia mengatakan bahwa karya yang dikritiknya hanya dunia fisik semata. Salim Said yang kini Ph.D itu dulunya mirip dokter dalam cerpen si Keong. Akan tetapi ketika penulis menulis kritik atas kritik Salim, penulis tidak membawa-bawa pengertian sensasi absurd. Tidak juga pengertian epifani dan negative capability yang merupakan privilese buat seorang kritikus. Penulis hanya meminta bukti-bukti kedangkalan atau kekulitan fisik dalam sebuah tulisan selebar tikar di harian Kompas (maaf, tanggal dan tahunnya penulis lupa).
Baru baru ini di Taman Ismail Marzuki, Budi Darma Ph.D berceramah tentang karya-karya penulis. Dia menyikap kelebihan dan kelemahan dalam karya-karya penulis. Karena karya-karya penulis yang cukup banyak belum semuanya dibukukan, maka tentulah ia berhadapan dengan beberapa karya awal. Hal ini membuat ia berkesimpulan bahwa tokoh-tokoh dalam cerpen penulis adalah orang gelandangan, rakyat kecil yang hanya membutuhkan makanan (dan minuman) sehingga tidak tampak ada cetusan pikiran yang keluar dari tokoh-tokoh tersebut. Memang benar. Cerita dari jenis realisme makhluk gelandangan, otak dan mulutnya tidak akan berkata dan berpikir. Mereka hanya bisa main judi dengan memasang puntung rokok lalu tidur di pelataran stasiun, di bawah langit malam. Jika pena penulis berayun ke arah naturalisme maka ada bau-bau sains, psikologi dan sosiologi tetapi diatas segalanya hidup lebih dari ilmu. Itulah yang diminta dari seorang kritikus. Budi Darma, karena membaca sedikit dari karya penulis mengatakan dalam ceramahnya bahwa tidak ada simbol dalam karya-karya penulis. Akan tetapi Bakdi Sumanto sebagai penyanggah, dalam makalahnya membantah bahwa novel Seutas Benang Cinta misalnya mengandung simbol.
Celakanya wartawan seni dan budaya Suara Pembaruan hanya menulis mengenai makalah Budi Darma dan barang kali lupa atau sengaja tidak menulis mengenai bantahan Bakdi Sumanto lewat makalahnya. Wartawan Suara Pembaruan malah menulis judul ‘Makan, Makan Saja!’ Tampak di sini ketololan yang sadis. Hanya wartawan Antara yang bisa disebut wartawan seni budaya yang baik dengan beritanya tentang keberpihakan pada orang miskin.
Pada akhir ceramahnya Budi Darma mengatakan bahwa karya-karya penulis walaupun tidak pernah meledak tetapi tidak pernah surut.
Penulis terkekeh dan berbicara dalam hati, “Saya bukan teroris. Karya-karya saya menurut kritikus lain bukan meledak tetapi menghembus”.
Romo Hila Veransa misalnya, menulis di Harian Kompas berjudul “Bukit-Bukit Sumbawa”-nya Gerson Poyk, Suatu Hembusan Kemanusiaan.
Dalam sebuah tulisan Goenawan Muhamad mengenai Sastra dan Agama, nama penulis dibawa-bawa. Dia mengatakan bahwa begitu novela penulis berjudul Hari-Hari Pertama diterbitkan oleh Badan Penerbit Kristen, penulis mengirim karya tersebut ke Prof Teeuw, beserta sepucuk surat yang menurut Goenawan, berisi niat minta diakui sebagai sastrawan (Kristen). Goenawan salah tangkap ketika penulis mengatakan kepadanya bahwa redaktur BPK, Nainggolan mengirim karya tersebut kepada Prof Teeuw bersama sepucuk surat yang menyatakan bahwa he is going to be a Christian writer. Sesungguhnya penulis tidak pernah mengirim surat kepada guru sastra Belanda itu, apalagi meminta pengakuan.
Dalam tulisan Goenawan tentang sastrawan dan agama itu, dia mengeritik semua sastrawan Indonesia yang berlabel agama hanya karena kuatir bahwa akan timbul fanatisme agama dikalangan sastrawan Indonesia. Kekuatiran demikian ada baiknya tetapi Goenawan pada waktu itu masih anak bawang, belum mampu mengulas panjang lebar mengenai fundamentalisme, teologi pembunuhan, God is Symbol for God, bahasa agama berupa myth, ritual dan Sacrament. Dia tidak mengatakan bahwa myth, bahasa agama itu, adalah gambaran tentang kenyataan secara simbolis. Dia tidak menulis mengenai demitologisasi atau broken myth, yaitu kesadaran bahwa myth hanyalah simbol. Di luar itu disebut literalisme Fanatisme dan idolatri baru timbul kalau literalisme masuk ke benak manusia agama lalu mampuslah bangsa ini kalau literalisme dilindungi oleh otoritas politik.
Demikianlah sedikit corat coret mengenai kritik sastra. Barangkali ada gunanya untuk pendidikan sastra pada umumnya, khusus untuk para mahasiswa yang ingin menulis skripsi, menyusul belasan skripsi untuk S1, tesis S2, dan S3 dalam dan luar negeri tentang penulis.***
1 Januari 2006

CITRA WANITA INDIA DALAM NOVEL MADU DALAM SARINGAN*


CITRA WANITA INDIA DALAM NOVEL MADU DALAM SARINGAN*
Posted by PuJa on May 4, 2012
Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/
Mengherankan, dibandingkan dengan pengaruh kesusastraan klasik India—kisah Ramayana atau Mahabharata, misalnya—yang jejaknya dapat dengan mudah dijumpai dalam khazanah kesusastraan Indonesia, pengaruh kesusastraan kontemporer India di Indonesia, tampaknya seperti hampir tak terdengar, laksana tak berpengaruh, dan terkesan begitu asing.[1] Padahal, di samping epos Ramayana dan Mahabharata, sejak zaman Pujangga Baru khazanah kesusastraan kontemporer India, sudah coba diperkenalkan.[2]
Dalam edisi pertama majalah Pujangga Baru (No. 1, Th. 1, Juli 1933), dimuat Bhagawad—Gita terjemahan Amir Hamzah.[3] Lebih daripada itu, ketika Sutan Takdir Alisjahbana dalam sejumlah artikelnya di majalah Pujangga Baru, gencar menyuarakan seni dan sastra baru yang berorientasi ke dunia Barat dan mengapkirkan tradisi khazanah kesusastraan Melayu (pantun dan syair), Amir Hamzah dan kakak beradik Armijn dan Sanusi Pane, justru menegaskan, bahwa kesusastraan Indonesia sejak awalnya tidak terlepas dari pengaruh kesusastraan Timur, terutama India melalui filsafat Hinduisme dan Buddhisme, lalu kebudayaan Islam, China, dan Parsi.[4] Sebelumnya, Sanusi Pane menulis prosa liris berjudul “Lukisan India”[5] yang coba menjelaskan perbedaan karakteristik kesusastraan Timur, khususnya India, dan kesusastraan Barat.
India, seperti juga Indonesia, sesungguhnya merupakan negeri yang sangat kaya dengan tradisi kebudayaannya. Dalam sastra lisan, negeri berpenduduk hampir semiliar itu, pada abad ke-3 telah melahirkan Pancatantra karya seorang Brahmana India, yang kemudian menjadi sumber cerita-cerita binatang (fabel). Karya Valmiki, Ramayana dan Vyasa, Mahabharata, juga merupakan mahakarya yang berasal dari sana.
Dengan heterogenitas etnik, kepercayaan, dan bahasa, sejarah kesusastraan India bergulir melewati dua jalur besar tradisi penulisan. Sebagian ditulis dalam bahasa Inggris,[6] dan sebagian lagi ditulis dalam bahasa daerah. Ramohan Ray dianggap sebagai perintis tradisi penulisan dalam bahasa Inggris. Ia menegaskan pentingnya rakyat India memperoleh pendidikan di sekolah-sekolah Inggris, agar bangsa India mendapat tempat yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain.[7] Gerakan yang dilakukan Ramohan Ray lalu mengalirkan pengaruhnya pada generasi berikutnya. Muncullah sejumlah nama penting, di antaranya, Bal Gangadhar Tilak, Romesh Chunder Dutt, Mulk Raj Anand, dan R.K. Narayan.[8] Dalam kesusastraan India, khususnya prosa, konon, karya pengarang India dalam bahasa Inggris sebenarnya muncul pertama kali tahun 1902 dengan terbitnya The Lake of Palms karya Romesh Chunder Dutt. Menyusul kemudian Mulk Raj Anand melalui karya-karyanya, antara lain, Untouchable (1935), The Coolie (1936), dan Two Leaves and a Bud (1937).[9]
Sastrawan India yang berangkat dari tradisi penulisan dalam bahasa daerah, niscaya luar biasa banyaknya. Yang terkenal ditu¬lis dalam bahasa Bengali, Assam, Urdu, Punjabi, Gujarat, Marathi, Tamil, Hindi, dan entah bahasa apabila yang di India terdapat lebih dari 1600-an bahasa dan dialek.[10] Betapapun dunia Barat lebih mengenal kesusastraan India lewat tradisi penulisan dalam bahasa Inggris, penghargaan Nobel kesusastraan justru diberikan pada penulis dari tradisi bahasa daerah.[11] Dialah Rabindranath Tagore yang karya-karyanya ditulis dalam bahasa Bengali, dan diterjemahkannya sendiri ke dalam bahasa Inggris.[12]
Selain Tagore, penulis Bengali lain yang karyanya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris adalah Saratchandra Chatterji dan Bibhutibhushan Banerji. Berbeda dengan Tagore yang romantik, dengan memadukan elan India kuno dan semangat Barat modern serta Chatterji yang realis dengan ketajaman kritik sosialnya, Banerji, selain realis, terkesan sangat bersahaja dengan religiusitas yang mendalam dan terselubung. Justru itu, ia berhasil menampilkan sebuah dunia yang sarat kebersahajaan dan kesederhanaan yang naif. Mahakarya Bibhutibhushan Banerji, Pater Pancali, seolah-olah membawa kita ke dalam panorama seperti itu.[13] Gambaran kesederhaan dan realisme yang begitu kuat juga diperlihatkan dalam Aparajito, novel Banerji sebagai kelanjutan Pater Pancali. Novel itu menggambarkan sebuah potret terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat India yang disampaikan lewat kisah perjalanan kehidupan tokoh Apu yang berliku-liku dan penuh duka lara.
/2/
Kamala Markandaya,[14] di antara nama-nama Santha Rama Rau, Manohar Malgonkar, Khuswant Singh, dan Raja Rao, bahkan sampai ke generasi berikutnya, seperti Arundhati Roy, termasuk sastrawan India dari tradisi penulisan dalam bahasa Inggris.[15] Maka sejumlah karyanya ditulis dalam bahasa Inggris yang kemudian mendapat sambutan luas tidak di negerinya sendiri, melainkan di dunia Barat.[16]
Mengenai novel Nectar in a Sieve (1954) yang diterjemahkan Mokhtar Ahmad dalam bahasa Malaysia,[17] para kritikus menyebutnya sebagai salah satu novel terbaik dalam kesusastraan India kontemporer. Setahun setelah penerbitannya, American Library Association menempatkan novel ini sebagai buku terkemuka yang terbit tahun 1955. Novel yang menjadi best—seller di berbagai negara ini telah diterjemahkan ke dalam sedikitnya 18 bahasa.
Sebagian besar kritikus menyebutkan novel ini sebagai representasi terjadinya perubahan dalam masyarakat India ketika industri Barat masuk ke pedesaan-pedesaan di India. Dikatakan Uma Paramewaran: ”Markandaya’s strength as a novelist comes from her sensitive creation of individual characters and situations which are simultaneously representative of a larger collective; her prose style is mellifluous and controlled.” Her most famous work, Nectar in a Sieve, exemplifies this statement.[18]
Di bagian lain dikatakan pula, bahwa novel ini seperti sebuah gambaran terjadinya masalah diaspora ketika tanah kelahiran tidak menjanjikan apa-apa. Oleh karena itu, novel ini juga dianggap sebagai sebuah isyarat atau peringatan bahwa masalah kemiskinan dapat menciptakan diaspora dalam mencari penghidupan yang lebih baik.
/3/
Novel Madu dalam Saringan menceritakan kisah perjalanan seorang perempuan India yang sumarah, tetapi penuh energi. Ia terkesan menjalani kehidupan seperti aliran sungai: mengalir begitu saja hingga sampai muara. Cerita dikisahkan melalui Rukmani –tokoh utama novel itu—putri bungsu seorang mantan kepala desa. Dengan memakai bentuk penceritaan orang pertama (aku: Rukmani) dan pola alur cerita kilas balik menjadikan pusat cerita tetap berada pada tokoh itu.
Ada beberapa tokoh perempuan dalam novel itu, dan semua tokoh itu masing-masing seperti mewakili karakteristik sosok perempuan yang selalu berada di bawah bayang-bayang kekuasaan lelaki. Tokoh ibu Rukmani, misalnya, meskipun tidak banyak dikisahkan, kenangan Rukmani tetap mencitrakan sosok perempuan lugu, penuh cinta kasih, dan sekaligus merepresentasikan kondisi perempuan India dalam kehidupan sosial. Ketika Rukmani belajar baca—tulis, misalnya, ibunya malah menganggap kegiatan itu sebagai perbuatan sia-sia. Perhatikan kutipan berikut ini:
“Apa gunanya anak gadis belajar itu semua,” kata ibuku menentang. “Kau tidak ada masa untuk menggunakan itu semua apabila kau sudah bersuami dan mempunyai anak yang ramai untuk dijaga. Aku sendiri tak tahu membaca atau menulis walaupun sepatah. Tetapi aku tak kurang apa-apa; rumahku bersih, anak-anakku cukup makan dan cukup pakai,” tambah ibuku lagi. (hlm. 18)
Begitulah, pendidikan bagi kaum perempuan ketika itu dianggap hal yang tidak ada gunanya. Lebih daripada itu, posisi perempuan ketika hendak menikah, berhadapan dengan masalah lain lagi, yaitu mendapatkan laki-laki, siapa pun dia, tanpa punya daya tawar apa-apa. Bahkan, orang tua si perempuan harus pula menyiapkan sejumlah uang dan perhiasan sebagai biaya yang harus ditanggung untuk mendapatkan laki-laki tersebut. Maka, ketika ayah Rukmani masih menjabat kepala desa, ketiga kakaknya menikah dengan lelaki yang sederajat dan pesta pernikahannya diselenggarakan dengan meriah. Yang terjadi pada Rukmani justru sebaliknya, karena sang ayah selain sudah tidak lagi menjadi kepada desa, juga sudah tidak punya biaya untuk mendapatkan laki-laki kaya dan sederajat. Rukmani akhirnya pasrah saja menikah dengan lelaki yang derajatnya lebih rendah, seorang petani penyewa yang serba miskin.
Aku dikahwinkan ketika umurku baru meningkat dua belas tahun. Aku tahu, ramai sanak-saudaraku merungut kerana kononnya aku dikahwinkan dengan orang yang darjatnya lebih rendah daripada darjat aku. (hlm. 5—6)
Meskipun begitu, kekuatan kasih sayang Nathan, suaminya, memberi semangat hidup dan optimisme. Oleh karena itu, ketika Rukmani mendapati kenyataan, bahwa suaminya sangat miskin, tinggal di sebuah gubuk yang belum selesai dibangun, tanpa perabot rumah tangga, ia masih dapat berharap, bahwa segala kemiskinan kelak akan berakhir. Tetapi, semangat hidup dan optimisme itu akhirnya tumbang juga ketika kelaparan dan penderitaan menggilasnya. Kemiskinan dan kebodohan adalah sumber malapetaka. Kemiskinan membawa manusia berada pada garis tipis antara kematian dan kebertahanan hidup. Dan kebodohan menggiringnya pada penderitaan, keteraniayaan, dan ketertindasan. Betapapun besarnya cinta manusia pada alam, tanah leluhur, dan bumi yang memberi kehidupan, ia akan tetap tergusur dan hancur tak bersisa, ketika kemiskinan dan kebodohan, ketika kelaparan dan penderitaan, tidak dapat dikalahkan. Kemiskinan akan membawa kebuluran dan kebodohan akan membawa ketertindasan.[19]
Itulah yang terjadi pada keluarga Rukmani dan Nathan. Suami-istri itu dengan segala daya dan sepenuh hati gigih berusaha mempertahankan hidup keluarganya. Meskipun ia berusaha untuk kembali ke tanah yang telah memberi kehidupan bagi keluarganya, Nathan akhirnya mati di tempat asing, bukan di tanah pertanian atau di tanah leluhur yang dicintainya. Rukmani, istrinya, tak dapat menolak kuasa Tuhan dan mengikhlaskan suami tercinta, mati diterjang penyakit. Kemiskinan tidak banyak memberi pilihan untuk tetap bertahan hidup.
Madu dalam Saringan adalah kisah orang-orang yang hidup dalam lingkaran kemiskinan dan terkungkung dalam alam pikiran yang diselimuti kebodohan. Sebuah kisah kehidupan dunia petani yang mengharukan, tetapi juga memberi penyadaran kepada kita sebagai pembaca untuk memusuhi kemiskinan dan kebodohan. Nasib yang dialami Nathan dan keluarganya adalah potret kegelapan, betapa kemiskinan menyeret manusia pada kebodohan, dan kebodohan adalah pintu masuk penderitaan lahir—batin. Itulah yang terjadi pada keluarga Nathan.
Meskipun demikian, di balik penderitaan panjang keluarga Nathan, ada semangat pantang menyerah dan optimisme yang lahir dari kecintaan pada tanah dan bumi yang memberi kehidupan. Nathan dengan kesederhanaan, kejujuran, kebertanggungjawabannya pada keluarga, dan kecintaan pada bumi dan tanah pertaniannya adalah manusia berjiwa besar, tegar seperti batu karang, dan tak tergoda oleh apa pun yang tidak sesuai dengan hati nurani kemanusiaannya. Dengan optimisme, ia selalu berpikir positif dan memandang masa depan dengan penuh semangat. Selalu ada harapan yang tumbuh dalam menjalani kehidupan bagaimanapun pahitnya, meskipun penderitaan terus menderanya.
Harapan dan kecemasan. Dua tenaga kembar yang menarik kami, mula-mula ke satu arah, kemudian ke satu arah yang lain. Tenaga yang manakah yang lebih kuat tidak sesiapa pun yang dapat menduganya. Kami tidak pernah membicarakan tenaga yang kedua itu tetapi ia sentiasa ada bersama kami. Kecemasan sentiasa menjadi teman. Kebuluran akan menggugat petani andainya dia tidak berusaha. Putus asa akan menguasai petani sekiranya dia tidak beringat serta berwaspada. Ya kebimbanganlah yang paling bersimaharejalela: kebimbangan terhadap masa depan yang gelap, kebimbangan terhadap dahsyatnya kebuluran dan kebimbangan terhadap maut yang tidak menentu datangnya. (hlm. 123—124).
Dengan kesadaran itu, Nathan dan Rukmani membangun keluarganya dengan semangat dan optimisme. Hanya dengan cara itulah, mereka dapat melangkah ke masa depan dengan harapan. Maka, dalam kondisi apa pun, ia tetap bertahan dengan sikap itu sampai ajal menjemputnya. Nathan seperti mengajari kita tentang kebersahajaan, konsistensi, kejujuran, optimisme, berpikir positif, dan tekad mewujudkan harapan. Perhatikan kutipan berikut yang menggambarkan optimisme Nathan ketika kelaparan hampir merenggut segala kekuatan tenaganya.
“Apabila sampai masanya,” kata Nathan dengan pandangan mata yang penuh harapan, “daya dan kekuatan kita akan kembali semula, usahlah kaurisaukan tentang itu.”
….
“Kaulihat sajalah nanti,” katanya dengan penuh keyakinan. “Kita akan kembali kuat dan bertenaga. Cuma dengan melihat buah padi kita yang berisi itu pun sudah cukup untuk mengembalikan semangat dan kekuatan kita.”
Memang benar semangat kami telah pulih semula… (hlm. 146)
Rukmani, istri Nathan adalah belahan hati sang suami. Meskipun sempat tergelincir –seperti juga suaminya—Rukmani total mengabdi pada suami, pada keluarga. Segala sepak terjangnya demi suami dan keluarga. Tak ada yang lebih penting dari apa pun. Anak-anak yang dilahirkannya adalah belahan hati yang lain. Ia semampu dan sekuatnya mempertaruhkan apa pun untuk mereka. Harus ditunjukkan tanggung jawabnya sebagai ibu, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari keluarga. Ketika Irrawaddy, anak perempuannya menginjak dewasa, telah dipersiapkan segala sesuatu dan dicarikan lelaki terbaik untuk putri sulungnya itu. Setelah lima tahun berkeluarga, menantunya menyerahkan kembali putrinya, karena dianggap mandul. Rukmani merasa, suami anaknya belum cukup sabar menunggu keturunan. Tetapi, apa pun yang terjadi, Rukmani tetap mencintai anaknya.
Perhatikan pernyataan suami Irrawaddy ketika ia menyerahkan istrinya kepada Rukmani.
“Mak,” katanya, “tak usahlah Mak bersusah-payah kerana kedatangan saya ini bukan kedatangan biasa, oleh sebab itu biar saya berterus terang sahaja. Ira mandul, saya datang untuk menyerahkan dia kembali kepada Mak.”
“Kau kahwin dengan Ira belum berapa lama, aku dulu pun macam dia juga, lambat mengandung,” kataku menasihatinya.
“Saya telah menunggu lima tahun,” jawabnya, “seorang anak pun belum dilahirkannya lagi. Jadi, tidak ada jaminan yang dia boleh mengandung pada masa depan. Saya mahu banyak anak lelaki.” (hlm. 77).
Ketika masalah itu disampaikan kepada Nathan, suaminya, ternyata dia bukan membela Ira, anaknya, melainan memberi pembenaran pada tindakan menantunya itu.
“Aku tak salahkan dia,” kata Nathan. “Apa-apa yang dilakukannya itu betul, lelaki mana yang boleh tahan tanpa anak. Jika nak dikira dia seorang yang penyabar juga.”
“Belum cukup penyabar,” kataku. “Tidak sesabar dirimu!” tambahku lagi. (hlm. 77).
Begitulah perkawinan semata-mata bertujuan untuk melahirkan keturunan, dan keturunan yang utama dan diharapkan adalah anak laki-laki. Oleh karena itu, ketika Rukmani melahirkan anak pertama, Irrawaddy, Nathan sesungguhnya tidak begitu berbahagia. Apalagi ternyata selama tujuh tahun, Rukmani tidak juga melahirkan. Selama tujuh tahun itu pula, Rukmani dianggap sebagai perempuan yang tidak ada gunanya, karena tidak dapat melahirkan anak laki-laki. Jadi, yang dihadapi Ira, jauh lebih dahsyat. Klaim sepihak dari suaminya, bahwa Ira mandul, tidak hanya menghancurkan masa depannya –karena tidak akan ada lagi laki-laki yang mau menjadi suaminya, tetapi juga menempatkan Ira sebagai manusia yang tidak ada gunanya hidup di dunia ini.[20]
“Tetapi apa pula kata orang lain, apa pula kata jiran-jiran kita … orang akan menuduh saya seorang perempuan yang tidak berguna. Seorang perempuan yang tidak mampu melahirkan seorang anak pun,” kata anakku merintih pilu. (hlm. 78).
Meskipun begitu, Rukmani coba meyakinkan bahwa kesalahan sesungguhnya tidak sepenuhnya harus ditimpakan kepada Ira.
“Kau tak perlu bimbang sekarang. Kami ibu bapa kau sendiri, takkanlah kami akan menyalahkan kau. Apa-apa yang telah berlaku bukan salah kau sendiri,” kataku memujuk Ira. (hlm. 78).
Rukmani memang kemudian tetap bertindak sebagai ibu yang harus melindungi anaknya. Jadi, dengan semangat sebagai seorang ibu, Rukmani berusaha meyakinkan Ira, bahwa semua itu bukanlah semata-mata kesalahan dirinya. Sangat mungkin suami Ira yang mandul, atau boleh jadi juga belum saatnya Ira melahirkan. Maka, ketika Rukmani berkesempatan jumpa dengan Kenny, dokter kulit putih yang pernah mengobatinya, sehingga ia dapat melahirkan anak-anaknya lagi, Rukmani meminta pertolongan dokter itu untuk Ira. Dengan keyakinan Ira akan melahirkan, ia pun datang ke rumah menantunya.
Aku pergi seorang diri ke rumah menantuku.
“Terimalah dia kembali,” kataku kepadanya. “Sekarang dia sudah tidak cela-celanya lagi. Dia akan melahirkan banyak anak untukmu kelak.”
Dengan suara yang sedih dia berkata, “Kalau boleh saya hendak menerimanya kembali. Dia seorang isteri yang baik dan penyabar, tetapi saya sudah terlalu lama menunggu dan sekarang saya sudah pun beristeri lain.” (hlm. 95).
Begitulah, Ira, Rukmani, atau perempuan mana pun, hanya akan dianggap berarti bagi kehidupan ini ketika dia bisa melahirkan anak. Selebihnya, dia akan menjadi bahan olok-olok, caci-maki, dan ditempatkan sebagai makhluk yang tidak ada gunanya. Oleh karena itu, meskipun Ira masih berusia muda dengan wajah yang cantik, kaum lelaki tetap saja tidak akan bersedia menikahinya, tanbahan lagi tanpa uang antaran yang cukup. Dengan begitu, Ira yang janda muda itu, harus menerima stigma sebagai perempuan tidak berguna, karena tidak dapat melahirkan anak.[21]
Meskipun demikian, Rukmani tetap menempatkan Ira sebagai anaknya yang harus mendapat perlindungan seorang ibu. Jadilah sosok Rukmani tampil sebagai pelindung keluarga. Perhatikan kutipan berikut yang memperlihatkan, perhatian Rukmani kepada anak-anaknya.
Jika tidak ada apa-apa kerja di sawah, Nathan akan menemani aku ke pasar, dan setiap kali kami ke pasar, kami akan langsung ke kilang kulit itu untuk melihat anak-anak kami bekerja. Pada waktu tengah hari mereka pasti keluar untuk makan dan ketika itu kami akan bersama dengan mereka selama beberapa minit, berbual dan menemani mereka menjamu selera. (hlm. 100).
Begitulah, di balik kesetiaan dan kesumarahannya menerima segala kemiskinan itu, Rukmani tampil menunjukkan energi dan tanggung jawabnya untuk terus memberi kekuatan pada suami dan anak-anaknya untuk berusaha lepas dari kemiskinan.
Kesadaran sebagai istri seorang petani yang jujur dan miskin, membentuk kepribadiannya pantang berkeluh-kesah. Segala harapan harus ditumbuhkan. Ia berusaha tidak kenal putus asa, tak mau menyerah, meskipun hati kecilnya mengatakan lain. Segala urusan rumah tangga diatur secara cermat dan hemat. Ia harus menyisihkan hasil jerih-payahnya untuk hari depan. Rukmani tampil sebagai sosok istri yang dapat melengkapi segala kekurangan suami. “Tempat seorang isteri mestilah di sisi suaminya,” (hlm. 168), begitulah sikap dan pandangan Rukmani. Maka, ia tampil sebagai pelengkap, pendorong, bahkan juga pembela utama sang suami. Rukmani bagai wanita besi, belahan hati suami, benteng bagi keluarga, pelindung bagi anak-anaknya.
Alam berkehendak lain. Tuhan menentukan garis kehidupan yang tak dapat dipahaminya. Kemarau panjang menghancurkan segalanya. Hidup dibayangi kelaparan, menggelinding mendekati kematian. Ketika kedua anaknya berencana hijrah ke kota, Rukmani tak kuasa menahannya. Alam telah mengalahkan perjuangannya. Kelaparan memaksanya menerima kenyataan. Rukmani dan suaminya, harus melakukan kompromi untuk mempertahankan hidup.
Madu dalam Saringan seperti mewartakan pentingnya arti perjuangan bertahan hidup. Mempertahankan hidup sepanjang hayat adalah tugas dan kewajiban manusia. Dengan cara itu, manusia dapat memaknai keberadaannya. Maka, ketika Tuhan berkehendak lain, ketika alam tak bersahabat dan enggan memancarkan kesejahteraannya, manusia tetap harus bertahan hidup. Di situlah, hidup menjadi sangat berharga dan mahal.
Tetapi, karakter manusia tidaklah seragam. Nathan dan Rukmani adalah dua manusia yang menyadari tanggung jawabnya dalam kehidupan keluarga dan kehidupan bermasyarakat. Meskipun mereka miskin, mereka tetap menjaga keharmonisan: tidak mau melukai orang lain. Sikap itu berbeda dengan tokoh Kunthi yang penuh dengki dan iri hati. Untuk mempertahankan hidup, Kunthi memeras Nathan yang pernah berselingkuh dengannya. Ia juga memeras Rukmani. Kunthi adalah sosok manusia yang culas dan menghalalkan segala cara untuk mempertahankan hidup. Maka, keluh-kesah, putus asa, dan selalu muncul menyertai kedengkian hatinya.
Tokoh Biswas adalah sisi lain dari tipe manusia yang senang melihat orang lain menderita. Hubungan dengan orang lain selalu diukur berdasarkan untung rugi. Ia mau menolong jika menguntungkan. Di samping itu, ia selalu memanfaatkan penderitaan orang lain untuk kepentingan pribadinya. Hal yang hampir sama juga diperlihatkan tokoh Sivaji. Ia hadir sebagai tokoh yang mewakili sosok manusia yang tidak mempunyai tenggang rasa. Nilai kemanusiaannya sebatas untuk kepentingan dirinya sendiri, meskipun orang lain harus menjadi korban. Sivaji adalah tuan tanah yang tak punya rasa belas kasihan. Demikianlah, Kunthi, Biswas, dan Sivaji adalah tokoh yang mewakili gambaran manusia yang mempertahankan hidup tanpa idealisme. Manusia yang cenderung egois, mementingkan diri sendiri, tanpa memikirkan bahwa tindakannya itu merugikan orang lain.
Sementara itu, ada pula tokoh lain yang menyadari arti persahabatan. Nenek tua yang menjodohkan Ira adalah gambaran manusia yang berusaha menolong orang lain dengan sebaik-baiknya. Hal yang juga diperlihatkan tokoh Kenny, dokter—orang asing yang coba membantu masyarakat. Sedangkan tokoh Puli, anak angkat Rukmani adalah sosok manusia yang meskipun menderita, masih mempunyai rasa solidaritas. Meskipun masih sangat muda, kekerasan dan penderitaan hidup di kota, tidak menghilangkan rasa kesetiakawanannya. Begitulah, tokoh Nenek tua, Kenny, dan Puli mewakili gambaran manusia yang peduli pada nasib orang lain dan menyadari pentingnya arti persahabatan.
/4/
Demikianlah, novel Madu dalam Saringan menampilkan tokoh-tokoh dengan berbagai macam karakter, sikap dan tabiatnya. Novel ini ibarat sebuah potret tentang bermacam-macam perilaku manusia dalam usahanya mempertahankan hidup. Satu hal yang menjadikan kehidupan mereka berada pada garis tipis antara kematian dan memperpanjang penderitaan adalah kemiskinan dan kebodohan. Kemiskinan membawa kelaparan—kebuluran dan hidup sekadar memperpanjang penderitaan. Kebodohan menjadikan mereka tidak dapat keluar dari lingkaran kemiskinan dan ketertindasan.
Yang penting dimiliki manusia adalah semangat dan optimisme untuk terus berjuang mempertahankan kehidupan, tanpa harus merugikan pihak lain. Dengan cara itulah, manusia dapat menunjukkan kebermaknaannya dalam kehidupan sosial. Itulah makna manusia dalam kehidupan di dunia. Meski gagal mempertahankan hidup, seperti yang diperlihatkan tokoh Nathan, ia tetap bermakna bagi orang lain. Demikian juga tindakan-tindakan yang diperlihatkan Rukmani. Meskipun dalam beberapa hal ia melakukan kompromi, ia berhasil menempatkan dirinya bermakna bagi kehidupan keluarga dan kehidupan orang lain.
/5/
Apa yang dapat ditarik dari novel Madu dalam Saringan karya Kamala Markandaya ini? Jika kita mencermati novel Indonesia karya pengarang perempuan Indonesia, maka yang segera tampak adalah gambaran dua dunia yang bertolak belakang. Novel-novel Indonesia karya pengarang perempuan itu—atas nama perjuangan kaum wanita— pada hakikatnya tidak jauh beranjak dari persoalan dirinya sendiri; sebuah potret perempuan terpelajar yang merasa mendapat perlakuan tidak adil dari kaum lelaki. Maka kecenderungan mengangkat persoalan seksualitas dengan mendedahkan tubuhnya sendiri, menjadi tampak dominan.[22]
Novel Markandaya ini menegaskan, bahwa perjuangan perempuan, di balik posisinya sebagai pelindung dan pemberi semangat pada keluarga, suami, dan anak-anaknya, ada perjuangan lain yang jauh lebih penting dan mendasar, yaitu melawan kebodohan dan kemiskinan, sebagaimana yang dilakukan Olan dalam Bumi yang Subur (Pearl S Buck), Firdaus dalam Perempuan di Titik Nol (Nawal el-Saadawi), atau Teweraut dalam Namaku Teweraut (Ani Sekarningsih). Itulah tugas pengarang (perempuan) untuk coba mengangkat persoalan yang lebih substansial dalam kehidupan manusia, yaitu melakukan perlawanan pada kemiskinan dan kebodohan.
Jika mencermati begitu populernya novel Bumi yang Subur dan Perempuan di Titik Nol di kalangan pembaca Indonesia, maka sudah saatnya pula novel-novel India, lebih khusus lagi yang ditulis pengarang perempuan India, seperti novel-novel Kamala Markandaya, Shashi Despande,[23] Anita Desai,[24] atau Arundhati Roy[25] diperkenalkan kepada khalayak pembaca Indonesia. Bagaimanapun juga, novel-novel itu menyuarakan semangat perempuan yang coba membongkar persoalan yang paling mendasar yang dihadapi kaum perempuan. Maka, perlu dilakukan perlawanan terhadap kebodohan dan kemiskinan, stigmatisasi kultural, dan legitimasi agama yang kerap menyudutkan kaum perempuan. Melalui novel—atau karya sastra lainnya—perlawanan itu lebih memungkinkan dapat mengungkapkan aspek psikologis yang dirasakan kaum perempuan.
Kiranya demikian!
*Seminar Internasional “Cultural Exchange between India and Southeast Asian World” kerja sama Universitas Udayana, Bali dan Global Association of Indo-Asean Studies dan Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea, Universitas Udayana, Bali, 8 Februari 2012.
[1] Sebuah antologi cerpen India dengan penyunting Madhusudan Prasad berjudul Contemporary Indian—English Stories (New Delhi: Sterling Publisher Ltd., 1988) diterbitkan dalam terjemahan bahasa Indonesia (penerjemah Sori Sregar), berjudul Sentuhlah Aku (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1990, xxii + 183 hlm). Buku ini memuat 15 cerpen India karya Mulk Raj Anand, R.K. Narayan, Raja Rao, Khushwnu Singh, Romen Basu, Ruskin Bond, Anita Desai, Manoj Das, Jai Nimbkar, Arun Joshi, Nergis Dalal, Keki N. Daruwalla, Murli Das Melwani, Sunita Jain, dan Madhusudan Prasad. Antologi ini penting artinya bagi pembaca Indonesia untuk mengenal lebih dekat tentang cerpen India sebagai “potret” problem sosial-budaya masyarakat India. Dari antologi itu juga, kita dapat mengetahui style dan kecenderungan tema-tema yang diangkat penulis India yang pada hakikatnya tidak berbeda dengan sastrawan mana pun. Tetapi jelas di sini, tradisi sastra dalam penulisan Inggris sudah mempunyai sejarahnya sendiri dalam perjalanan kesusastraan India kontemporer. Dikatakan Prasad dalam Prakata buku itu, “Kini, cerita pendek India yang ditulis dalam bahasa Inggris berhasil sebagai kesenian yang kokoh dan berkembang cepat dengan penuh percaya diri dan kebanggaan… Dengan rasa percaya diri itulah bahasa Inggris dikuasai. Tak pelak lagi, bahasa Inggris sebenarnya bukan bahasa yang terlalu asing bagi kami dan kami tidak lagi sungkan untuk menggunakan bahasa itu sebagai medium ekspresi kreatif kami (hlm. xi—xii). Yang juga penting diketahui dari antologi cerpen itu adalah kuatnya kecenderungan humanistis. Dalam hal ini, ajaran-ajaran Mahatma Gandhi yang memadukan keprihatinan sosial dengan etika tradisional sangat besar pengaruhnya dalam kesusastraan India (hlm xvii).
[2] Naskah pertama dalam kesusastraan Indonesia, Bebasari: Toneel dalam Tiga Pertundjukan (1955, cetakan I: 1928) karya Rustam Effendi sesungguhnya bentuk lain dari kisah Rama dan Sita. Tokoh Bujang, Bebasari, dan Rawana adalah representasi Rama, Sita, dan Rahwana. Drama ini merupakan kisah simbolik perjuangan Bangsa Indonesia (Bujang: Rama) membebaskan Tanah Air (Bebasari: Sita) dari kekuasaan penjajah (Rawana: Belanda)
[3] Amir Hamzah menerjemahkannya berdasarkan terjemahan Dr. J.W. Boissevain yang berbahasa Belanda. Dimuat berturut-turut dalam majalah Pujangga Baru No. 1, Th. I, Juli 1933 sampai No. 8, Th. 2, Februari 1934. Belakangan penerbit Hanuman Sakti, Jakarta, menerbitkan terjemahan dalam bahasa Indonesia karya Sri Srimad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada disertai teks dalam bahasa Sansekerta dan uraian penjelasannya (Bhagavad-Gita menurut Aslinya, Jakarta: Hanuman Sakti, 2000, xxx + 915 halaman (Cetakan V; Cet. 1 1985). Berdasarkan keterangan jumlah eksemplar sejak cetakan I sampai cetakan V sebanyak 17.500 eksemplar, Bhagavad-Gita menurut Aslinya ini termasuk buku yang laris.
[4] Amir Hamzah, “Kesoesasteraan,” No. 12, Th. II, Juni 1934.
[5] Sanusi Pane, “Lukisan India,” No. 10, Th. II, April 1934.
[6] Inggris dengan kesadaran sebagai negara besar dan Belanda yang selalu berusaha menutupi dirinya sebagai negara kecil berdampak pada politik kolonialnya. Inggris menganjurkan dan mendirikan sekolah-sekolah berbahasa Inggris, sehingga pribumi lebih leluasa belajar bahasa Inggris. Belanda kerap dibayang-bayangi terbongkarnya kenyataan bahwa dirinya sebagai negara kecil. Maka, kebijaksanaan pendidikan selalu berada di persimpangan jalan, ketika hendak menentukan bahasa pengantar, yaitu antara mengajarkan bahasa Belanda atau bahasa Melayu. Akibatnya, usaha menjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah, dijalanan setengah hati. Tujuan pengajaran bahasa Belanda di sekolah-sekolah di Nusantara semata-mata untuk mempersiapkan para pekerja dan buruh perkebunan dengan kualifikasi sekadar bisa berkomunikasi bahasa Belanda serba sedikit. Bahasa Belanda tetap saja sebagai asing yang tidak memancarkan daya tariknya sama sekali. Itulah sebabnya, dalam kesusastraan Indonesia tidak ada tradisi penulisan dalam bahasa Belanda.
[7] Sori Siregar, “Kata Pengantar” dalam Sentuhlah Aku: Kumpulan Cerita Pendek India Kontemporer, Penyunting: Madhusudan Prasad. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1990, hlm. xiv.
[8] Karya R.K. Narayan yang belakangan ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Ramayana, Terjemahan Nin Bakdi Soemanto, Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2004, 236 halaman.
[9] Sori Siregar, “Kata Pengantar” dalam Sentuhlah Aku: Kumpulan Cerita Pendek India Kontemporer, Penyunting: Madhusudan Prasad. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1990, hlm. xv.
[10] Indonesia sesungguhnya kaya dengan kesusastraan. Sebut saja misalnya, La Galigo yang berbahasa Bugis, Bujang Tan Domang yang berbahasa Melayu, atau Sabai nan Aluih yang berbahasa Minang. Tentu masih banyak khazanah sastra etnik lainnya yang tersebar di kawasan Nusantara. Sayangnya, politik kolonial Belanda tidak mudah dihilangkan begitu saja, sehingga pemerintah tidak menganggap penting khazanah sastra lisan itu.
[11] Indonesia mengalami nasib buruk ketika kesusastraan etnik (berbahasa daerah) yang menggunakan huruf Jawi, Pegon, atau huruf setempat dianggap sebagai tradisi masyarakat terbelakang, tidak berbudaya, dan tradisional oleh pemerintah kolonial Belanda. Penyeragaman huruf latin di wilayah Nusantara tiba-tiba saja menempatkan penduduk yang tidak menggunakan huruf Latin sebagai buta huruf, niraksarawan. Itulah politik bahasa yang digunakan pemerintah kolonial Belanda menciptakan stiga bagi rakyat di wilayah Nusantara sebagai masyarakat terbelakang dan tidak berbudaya. Pemerintah kolonial Inggris tidak menerapkan politik kolonialnya seperti itu. Maka, di negara-negara wilayah koloni Inggris, bahasa dan pemakaian huruf setempat bisa tetap terpelihara dan digunakan dalam kegiatan sehari-hari masyarakat. Di Malaysia, misalnya, pemberlakuan huruf Rumi (Latin), justru ditetapkan oleh sastrawan Malaysia sendiri, yaitu sastrawan Asas 50.
[12] Dibandingkan dengan sastrawan India yang lain, karya-karya Rabindranath Tagore yang paling banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Karya-karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, antara lain, Menanti Surat dari Raja (terjemahan Muhammad Yamin, 1927), Citra (terjemahan Anas Ma’ruf, 1943), Gintanjali (terjemahan Amal Hamzah, 1946), Sang Anak (terjemahan Asrul Sani, 1979), Sanyasi (terjemahan Toto Sudarto Bachtiar, 1979), dan Rumah untuk Mani (1979).
[13] Bibhutibhushan Banerji, PaterPancali:Tembang Sepanjang Jalan (1996) dan Aparajito (1999) terj. Koesalah Soebagio Toer.
[14] Kamala Markandaya adalah nama pena Kamala Purnaiya Taylor, lahir di Mysore, Chimakurti, Bangalore, India Selatan pada tahun 1924. Ia berasal dari keluarga Brahmana. Setelah berhasil menyelesaikan pendidikannya di jurusan sejarah University of Madras di Chennai, India, ia bekerja di suratkabar mingguan di India sebelum ia kemudian pindah ke Inggris pada tahun 1948. Ia menikah dengan Bertrand Taylor dan mempunyai seorang putri, bernama Kim Oliver. Suaminya meninggal pada tahun 1986. Markandaya meninggal di Inggris pada 16 Mei 2004 (sumber lain menyebutkan Markandaya meninggal 18 Mei 2004).
[15] Belum begitu jelas, bagaimana awal mula lahirnya tradisi penulis perempuan di India. Oleh karena itu, boleh jadi nama Kamala Markandaya bagi pembaca Indonesia masih terlalu asing dan belum dikenal luas, tidak seperti Pearl S Buck, Toni Marrison, Nadine Gordimer atau Nawal el Saadawi. Tokoh-tokoh perempuan India yang sangat dikenal masyarakat Indonesia, antara lain, Indira Gadhi, Sonia Gandhi. Adapun sastrawan wanita India yang karyanya pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Sarojini Naidu.
[16] Selain novel Nectar in a Sieve (1954), saya belum menemukan karya Markandaya lainnya. Meskipun begitu, sejumlah sumber menyebutkan, bahwa Markandaya telah menghasilkan 10 novel, yaitu (1) Nectar in a Sieve (1954), (2) Some Inner Fury (1955), (3) A Silence of Desire (1960), (4) Possession (1963), (5) A Handful of Rice (1966), (6) The Coffer Dams (1969), (7) The Nowhere Man (1972), (8) Two Virgins (1973), (9) The Golden Honeycomb (1977), (10) Pleasure City (Shalimar) (1982).
[17] Kamala Markandaya, Madu dalam Saringan, terj. Mokhtar Ahmad. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1988 (cetakan I, 1979; cetakan II, 1985), 288 halaman.
[18] Parameswaran, Uma. Kamala Markandaya. Jaipur: Rawat Publications, 2000.
[19] Perjuangan Rukmani mendorong Nathan, suaminya untuk terus bekerja keras dan bertahan hidup, mengingatkan saya pada kisah Olan dan Wang Lung dalam novel Bumi yang Subur, Pearl S Buck. Karena kemampuannya hidup hemat, Wang Lung petani penyewa dan istrinya Olan yang pandai menabung, akhirnya dapat membeli sawah sendiri, bahkan dapat memperluas sawahnya, hingga menjadi tuan tanah. Suami-istri itu akhirnya berhasil membangun sebuah dinanti Wang yang menguasai hamper separoh dataran Tionggoan.
[20] Kisah betapa malangnya perempuan yang tidak dapat melahirkan, diangkat juga oleh Jai Nimbkar dalam cerpen “Dia yang Mandul,” dalam Sentuhlah Aku: Kumpulan Cerita Pendek India Kontemporer, Penyunting: Madhusudan Prasad. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1990, hlm. 101—112. Dikisahkan dalam cerpen itu, ketika diketahui membesarnya perut Radha ternyata tumor, bukan hamil, perempuan itu seketika mendapat cemoohan sebagai manusia yang tidak ada gunanya. Jadi reproduksi sebagai ukuran keberhasilan seorang wanita. Itu pun jika ia dapat melahirkan banyak anak laki-laki. Jika yang dilahirkan anak perempuan, tetap saja ia akan dianggap sebagai perempuan malang.
[21] Belakangan Ira melakukan hubungan gelap dengan Kenny, lelaki kulit putih. Ira melahirkan anak lelaki kulit putih, tanpa ayah yang jelas.
[22] Periksalah novel-novel sejak Hamidah, Selasih, Suwarsih Djojopuspito, Marianne Katoppo, Titis Basino, Nh Dini, Ayu Utami, Nukila Amal, Djenar Maesa Ayu, Ratna Indraswari Ibrahim, Dewi Sartika, Oka Rusmini, Helvy Tiana Rosa, Naning Pranoto, Dewi Lestari (Dee), Abidah el Khalieqy, Fira Basuki, Maya Wulan, Dinar Rahayu, atau Ratih Kumala. Tokoh-tokoh perempuan dalam karya mereka adalah perempuan terpelajar dan kaya, sehingga tokoh-tokohnya sama sekali tidak berhadapa dengan persoalan kemiskinan dan kebodohan. Sejauh pengamatan, hanya novel Namaku Teweraut karya Ani Sekarningsih yang menampilkan tokoh Teweraut, perempuan suku Asmat yang tidak hanya harus berhadapan dengan dominasi laki-laki, sehingga posisi perempuan sama sekali tidak ada harganya. Kemiskinan dan kebodohan memperkuat posisi perempuan terus-menerus berada dalam posisi yang tidaka ada harganya sama sekali.
[23]Shashi Deshpande novelis perempuan India yang memperoleh banyak penghargaan, di antaranya, Anugerah Akademi Sahitaya dan Anugerah Nanjangud Thirumalamba. Selain menulis cerita anak, ia juga menghasilkan beberapa novel terkenal, di antaranya, Matter of Time (2001), That Long Silence (1989), Dark Holds No Terrors (1980).
[24] Anita Desai salah seorang penulis perempuan India terkemuka yang juga memperoleh banyak penghargaan internasional. Sejumlah karyanya antara lain, Cry The Peacock (1963), Clear Light of Day (1980), Fasting, Feasting (1984), dan The Zigzag Way (2004).
[25]Novel Arundhati Roy yang mendapat penghargaan adalah The God of Small Things (1997).

Monday, 7 May 2012

Hidupkan Sastra, Dirikan Warung Apresiasi


Hidupkan Sastra, Dirikan Warung Apresiasi
Posted by PuJa on May 4, 2012
Kisah Orang-orang Dekat Gus Dur
Zakki Amali
http://suaramerdeka.com/

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah kembali ke pangkuan Tuhan. Apakah wafat Gus Dur membuat orang- orang dekatnya juga menghilang dari peredaran? Tidak. Mereka antara lain Zastrouw Al-Ngatawi dan Aris Junaidi terus berkarya.
KETUA Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU, Zastrouw Al-Ngatawi mengungkapkan, sastra dan budaya merupakan media pendidikan hati dan sosial, sehingga membuat orang peka terhadap kondisi sekeliling.
“Mampu menghaluskan hati dan perilaku ekstrim,” katanya, baru-baru ini. Dalam beragama, kata pria kelahiran Pati ini, orang yang mengenal sastra mampu bersikap arif.
Namun yang membuat perihatin, tak banyak generasi muda yang gigih menekuni sastra hingga moncer. Dalam ingatannya, di Pati sastrawan yang masih eksis dapat dihitung jari, di antaranya yang masih cemerlang berkarya adalah Anis Sholeh Baasyin.
“Sekarang siapa yang mau meneruskan, pendidikan saja belum mengarah ke sana,” paparnya.
Untuk itu, kata dia, sastra dan budaya wajib diajarkan melalui jalur pendidikan yang menyentuh aspek kognitif dan motorik pelajar.
Tergerak atas realitas tersebut, ia membawa gerbong Lesbumi “ngamen” dari daerah ke daerah untuk memberi dukungan pelaku seni dan sastrawan setempat.
Kegiatan terakhir menggelar konser perjalanan religi ke beberapa pesantren dengan mengandeng Iwan Fals.
Sebelumnya, mengandeng Komunitas Mata Pena Yogyakarta menggelar pelatihan menulis kreatif dari pesantren ke pesantren.
Respons santri positif. Melalui kegiatan itu mereka didorong untuk berkarya. “Jadi potensi kalau tidak didorong dengan event kadang terpendam, maka perlu dibuat kegiatan-kegiatan bertema sastra dan budaya,” ujarnya.
Kantong
Ia beserta seniman Ibu Kota, tahun ini, berencana membuat gerakan kantong-kantong budaya di berbagai daerah untuk mengapresiasi sastra dan budaya.
Kantong tersebut serupa panggung hiburan yang menyajikan karya putra daerah yang tidak terakomodasi industri budaya dan sastra. Mereka dapat menampilkan puisi, cerpen, teater, dan film dokumenter. Untuk itu, dia akan mengandeng pakar, salah satunya Alex Komang sebagai kurator film dokumenter.
Daerah yang akan didirikan panggung bernama “Warung Apresasi” itu, di antaranya Pati, Yogyakarta, Wonosobo, dan Barjarnegara. Tidak menutup kemungkinan di kota lainnya.
Jaringan Warung Apresasi yang terpusat di Bulungan Jakarta itu akan menjadi pertukaran budaya daerah yang akhirya menopang budaya nasional.
“Nanti bisa saling tukar film dokumenter dari berbagai daerah untuk diputar dan dipelajari kebudayaannya seperti apa,” katanya.
Potensi penggaran film dokumenter itu tidak kalah dengan industri film yang telah mapan. Sebab, nilai-nilai tentang kearifan dan cerita daerah lebih ditonjolkan sebagai identitas akar sejarah.
“Kami membangun jalur alternatif kebudayaan karena orang sudah jenuh dengan corak industrial budaya dan sastra,” katanya yang kerap mengenakan blangkon dan sorjan itu.
Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Kudus Aris Junaidi mengatakan, perkembangan kesenian di daerahnya akan ditopang dengan pembentukan kantong-kantong budaya baru, seperti di gedung eks Kawedanan Tenggeles dan eks Kawedanan Cendono yang merupakan aset milik Pemkab Kudus.
Tempat tersebut akan dimanfaatkan untuk membangun panggung baru. Selama ini, sudah ada kantong budaya yang menghidupkan kesenian di Kudus, yakni Padepokan Seni Muria Asih (Pasma) dan Olah-Olah Kampung Seni di Desa Dersalam Kecamatan Bae Kudus.
Namun, menurut mantan asisten pribadi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini, semakin semarak jika dimaksimalkan dengan potensi daerah.
“Fokus tahun ini adalah pengenalan terhadap siswa SD hingga SLTA tentang kesenian khas Kudus,” ujar Ketua DKK sejak 2010 ini.
Sepanjang 2011, ia menggelar event dengan dana seadanya untuk menggairahkan kesenian, seperti festival dongeng, lomba gegurita, dan pelatihan. Tahun ini, kegiatan yang diangkat, antara lain pengenalan seni lukis.
09 Januari 2012

Menghargai Islam Dalam Perbedaan


Menghargai Islam Dalam Perbedaan
Posted by PuJa on May 4, 2012
Judul Buku: Islamku, Islam Anda, Islam Kita,Agama Masyarakat Negara Demokrasi
Penulis: Abdurrahman Wahid
Penerbit: The Wahid Institute
Cetakan: I, Agustus 2006
Tebal: XXXVi +412
Peresensi: Muh. Khamdan *
http://paradigmaonline.wordpress.com/

“Tuhan tidak perlu dibela”, karena manusia yang sebenarnya membutuhkan pembelaan manakala menerima ancaman dan ketertindasan dalam berbagai bidang, baik politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama. Dengan demikian, aspek penting dalam pemikiran adalah membela orang-orang yang tertindas, karena Tuhan tidak mungkin ditindas. Inilah kunci pemikiran dalam buku Gusdur pasca-kelengserannya.
Gus Dur adalah seorang intelektual muslim yang mendunia, namun berasal dari kultur tradisi yang kuat. Pandangannya tentang berbagai pesoalan, selalu dinilai dengan universalisme Islam. Gus Dur memaknai hal tersebut dengan perspektif penolakannya terhadap formalisasi agama, ideologisasi, atau syari‘atisasi Islam. Penolakan demikian karena term tesebut, justru akan mengabaikan pluralitas masyarakat yang berakhir pada menguatnya tindakan diskriminasi dan penindasan dalam kelas-kelas sosial. Ini terlihat dalam teks “Islam: Ideologis ataukah Kultural?” (h.42-62).
Gus Dur juga menolak wacana negara Islam atau menjadikan Islam sebagai dasar negara. Sikap ini dilandasi dengan pandangan bahwa Islam sebagai jalan hidup tidak memiliki konsep jelas tentang negara. Pandangan Gus Dur dipertegas dalam artikelnya di buku ini “Negara Islam, Adakah Konsepnya?” (h.81). Pertama, Islam tidak memiliki pandangan jelas tentang pergantian pemimpin, karena masing-masing dari Khulafaur Rasyidin memiliki karakteristik berbeda. Abu Bakar dipilih melalui sumpah setia (baiat) dari perwakilan suku. Sebelum beliau meninggal, menyatakan untuk mengangkat Umar Bin Khattab. Intinya Umar menjabat karena penunjukan pengganti seperti presiden menunjuk wakilnya sebagai pengganti. Setelah Umar memimpin sekian lama dan berakhir usianya, beliau mengamanatkan untuk membentuk dewan perwakilan yang terdiri dari sahabat-sahabat mulia. Akhirnya, Utsman Bin Affan dipilih oleh tujuh orang anggota dewan tersebut. Untuk selanjutnya, pergolakan muncul di masa pengangkatan Ali sebagai khalifah (h.82). Dan, Alasan kedua yang dipaparkan Gus Dur untuk menolak konsepsi negara Islam adalah ketidakjelasan ukuran negara yang diidealisasikan oleh Islam. Apakah model negara mendunia, atau negara bangsa, atau hanya negara kota.
Menurut M. Syafii Anwar dalam pengantarnya berpendapat bahwa dari pandangan di atas, Gus Dur setidaknya mengikuti tipologi berfikir substantif-inklusif dalam menguraikan gagasan-gagasan politik Islam. Pemikiran ini ditandai dengan keyakinan bahwa al-Quran adalah kitab yang benar tentang aspek moral untuk kehidupan, bukan detail pembahasan obyek permasalahan kehidupan. Artinya, Islam memuat ajaran moral untuk menegakkan keadilan, kebebasan, kesetaraan, demokrasi, tetapi tidak memberikan panduan moral intuk mendirikan negara. Kedua, pemikirannya selalu berpijak pada persepsi bahwa Nabi Muhammad diutus bukan untuk membentuk negara, melainkan mengajarkan nilai-nilai universal, yaitu pada prinsip keadilan, perdamaian, dan persatuan sesama manusia.
Pemikiran tersebut akan berhadapan dengan corak pemikiran legal-eksklusif yang berpandangan bahwa Islam bukan sekedar agama, tetapi juga sebuah sistem hukum yang lengkap, yang mengklasifikasikan konsep Islam dengan 3D; din, daulah, dunya (agama, negara, dunia). Implikasinya, muncul paradigma untuk memformulasikan Islam dari tingkat negara sampai pada individu dalam bentuk konstitusi, semacam Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi. Akhirnya, langkah ini akan disusul dengan memperkuat identitas dan ideologinya dengan model ritual simbolik, bahkan cenderung pada model pemaksaan. Pada aspek kekerasan inilah Gus Dur tanpa memandang korban manapun, akan berada di garis terdepan memberikan pembelaan kendati terbaring sakit.
Buku yang disunting oleh Suaedy, Rumadi, Gamal Ferdhi, dan Agus Maftuh Abegebriel dari berbagai artikel Gus Dur di media massa ini, setidaknya menjadi cermin pengembaraan intelektual Gus Dur dari masa ke masa. Hal demikian juga diakui pengantar buku, Syafii Anwar (h.viii). “Islamku” yang dijadikan tajuk awal dari buku ini merupakan penggambaran tersendiri tentang pengalaman spiritual yang dialami Gus Dur selama ini. Dari pola radikal ikhwanul muslimin yang diikutinya sampai di Jombang Jawa Timur, tertarik nasionalisme Arab di Mesir dan Irak, sampai berlabuh pada ekletisrme yang bersifat kosmopolitan.
Namun pengalaman yang didapatkan oleh seorang Gus Dur tidak ingin dipaksakan untuk ditiru orang lain, karena beliau mengakui bahwa masing-masing individu memiliki pengalaman dan refleksi tersendiri, dan harus dihargai. Untuk itulah muncul istilah “Islam Anda”. Dan, perpaduan “Islamku, Islam Anda” yang memiliki cara pandang berbeda sekaligus standar kebenaran yang berbeda, menjadikan Gus Dur ingin merumuskan “Islam Kita”, yaitu Islam yang tidak saling memaksakan penafsiran kebenarannya kepada orang lain atau komunitas selainnya.
Buku ini terdiri dari tujuh bagian. Bagian pertama menjelaskan tentang Islam dalam diskursus ideologi, kutural, dan gerakan. Sejumlah gagasan yang menolak konsepsi negara islam, formalisasi syariat dalam konstitusi negara, sampai pada pertemuan agama sebagai ideologi, dituangkan Gus Dur dalam bab ini, yang terangkai dari delapan belas artikel seri dan terpisah.
Pada bagian kedua, terangkum dalam topik Islam, negara, dan kepemimpinan umat. Bahasa dominan dalam bab ini lebih menitik beratkan pada dimensi moral dogma normatif Islam dalam sistem kehidupan manusia. Satu titik sentral adalah penekanan pada aspek keadilan. Apa yang dikemukakan di bagian tesebut, semakin diperjelas dalam bagian selanjutnya, yaitu tentang Islam, keadilan, dan hak asasi manusia.
Sejumlah gagasan tetang relasi Islam dan ekonomi kerakyatan termasuk aspek pendidikan dan masalah-masalah sosial budaya, dibahas dalam bagian yag beruntun pada bagian empat dan lima. Dari sini pula, Gus Dur memberikan komentar tentang terorisma yang berlangsung di Indonesia. Gus Dur memberikan kritik terhadap terorisme berkenaan dengan pendangkalan terhadap dogma normatif agama Islam, terutama berkaitan dengan dalil “besikap keras terhadap orang kafir bersikap lembut terhadap sesama muslim“(Q.S, al-Fath :29) sebagai tanda muslim yang baik. Padahal, kekerasan individual apapun dilarang Tuhan, selain ketika muslim diusir dari wilayahnya.(h.300). ini sesungguhnya prinsip keislaman Gus Dur, menolak semua jenis kekerasaan itu tanpa pandang asal apapun.
Dengan pola pemikiran tersebut, bagian akhir buku ini menyodorkan gagasan Gus Dur tentang Islam dan masalah global dunia yang mengakhiri refleksi intelektualitas pemikiran Gus Dur yang mendunia, meski berasal dari kaum bersarung, yakni tradisional NU. Dan ini menjadi point bagaimana membangun model keberagamaan yang toleran dalam perbedaan.
* Resensator adalah Pimpinan Umum LPM Paradigma

Sastra Marjinal dan Pemarjinalan Sastra


Sastra Marjinal dan Pemarjinalan Sastra
Posted by PuJa on May 4, 2012
Judul Buku: The Regala 204 B
Penulis: Nera Andiyanti dkk.
Cetakan I: Agustus 2006
Penerbit: Gapuraja Media Kudus
Tebal Buku: 116 Halaman
Peresensi: M. Nasrurrohman *
http://paradigmaonline.wordpress.com/

Dia menarik tanganku dengan paksa menuju ke ranjang. Tapi ku coba untuk menepisnya sekuat tenaga. Tiba-tiba laki-laki itu berbalik dan menyambar pistol yang tergeletak di atas meja. Lengkahnya kembali mendekat padaku. Sementara moncong pistol itu tepat mengarah di keningku. Setapak demi setapak langkah itu kian mendekat. Tak terbayangkan di mana letak jantungku. Yang kurasakan detaknya tengah berpacu dengan cepatnya. Terlalu cepat untuk aku hitung perdetiknya. Persendianku terasa lolos. Batinku menjerit. Menyebut Asma Allah.(hal. 31)
Sepenggal cerita di atas memberi sedikit sentuhan pada pembaca. Di sini, Nera telah menggambarkan seluruh cerita yang ada dalam buku ini. Bagaimana kehidupan orang-orang marjinal. Sastra “Persembahan untuk kaum marjinal,” melihat titel tersebut, memang layak untuk dipersembahkan, ini tak lepas dengan isi buku ini yang bercerita tentang kaum marjinal. Kaum ini sering dipandang sebagai sekelompok orang yang selalu menerima belas kasihan orang lain atau mereka yang tinggal dipinggiran kota. Tapi di sini, dalam Kumpulan Cerpen (kumcer) The Regala 204 B, editor menuliskan kaum marginal bukan sekelompok orang yang selalu menerima belas kasihan orang lain. Sesuai dengan cerpen yang di tulis, justru orang marjinal di sini, mereka yang gigih berjuang dalam genggaman “penguasa”.
Buku ini pun tidak sekedar bercerita tentang anak jalanan atupun (maaf) pengemis. Tapi lebih dari itu, seperti dalam cerpen Nera Andiyanti, Nela sebagai tokoh utama dalam cerpen The Regala 204 B bukan gadis dari kaum marginal, hanya saja ia teraniaya. Dan masih banyak cerita dalam buku kumcer ini. Dari sebelas cerita yang di muat, kebanyakan bercerita tantang kehidupan yang mengharukan.
“Saat ini aku terbangun dari tidur yang bersisian dengan emak. Suara-suara aneh mengusik telingaku. Kulihat emak bersama Kimong. Di atas alas kardus. Aku pun pura-pura tidur pulas kendati emak bekali-kali menoleh ke arahku di tengah-tengah desah anehnya dan gerak liar Kimong.”(hal. 45). Coba cermati penggalan cerita ini, ia lebih menggambarkan pada kehidupan jalanan yang penuh dengan kecamuk kekejaman dunia, pergaulan bebas dan dekadensi moral.
Melihat dua contoh cerpen di atas, ada dua tema besar yang di usung, pertama, Marjinal Karena kekejaman kaum kapitalis, kedua, Marjinal karena keadaan dunia yang telah menjadikan manusia harus mengadongkan tangan pada juragan.
* * *
Ada sisi menarik dari kumcer ini, sudut pandang penulis mempunyai banyak kesamaan, terutama dalam tema yang diangkat. Antara fiktif dan realis memang sulit dibedakan, jika sudah masuk dalam sebuah tulisan sastra. Terlepas dari fiktif dan non fiktif, kumcer ini telah mengatakan kepada dunia, bahwa inilah kehidupan saat ini yang terjadi.
Setelah membaca semuanya, ada sedikit keganjalan. Apakah cerita “Di Sebuah Persimpangan” itu termasuk cerita tentang orang-orang marjinal? Atau memaksa untuk memarjinalkan? Jika itu yang terjadi, berarti ini cerpen yang termarjinalkan. Selain itu, kenapa harus The Regala yang menjadi titel dari buku ini, padahal Catatan Harian Gembel Cilik dan Kurir, bagi saya lebih menarik dan ceritanya lebih dekat dengan orang-orang marjinal. Selian bercerita kemarjinalan, buku ini adalah bagian dari marjinalisasi editor, meski ini menjadi otoritas editor dalam menerbitkannya dan memilih titel yang menarik.
Di sisi lain, buku ini patut mendapat sambutan positif, karena ini akan menjadi catatan penting bagi kaum muda penerus, sebagai penulis sastra marjinal – yang tak termarjinalkan. Dan satu catatan lagi, buku ini akan lebih baik lagi jika terbitan kedua hadir dengan tampilan yang lebih menghebohkan dengan cerita yang benar-benar tentang kaum marginal. Karena kaum marginal mempunyai banyak sisi menarik untuk menjadi catatan sastra. Semoga tidak sampai di sini.
*Resensator adalah anggota Kelompok Belajar Sastra E-Ja Kudus.

Budaya Baca vs Budaya Nonton


Budaya Baca vs Budaya Nonton
Posted by PuJa on May 5, 2012
Tirta Rismahadi Wijaya
http://www.suarakarya-online.com/

Sekedar refleksi, pendidikan nasional membukukan banyak catatan keberhasilan. Di antaranya yang cukup spektakuler dan membanggakan adalah mobil Esemka karya siswa SMK di Solo, Jawa Tengah. Namun, di balik itu terselip catatan tidak menggembirakan, budaya literal sudah tercerabut dari nafas pendidikan kita karena tidak mendapat tempat lagi di benak para siswa. Ini menjadi catatan penting dan mendasar yang luput dari perhatian.
Dewasa ini, hampir 90 persen penduduk Indonesia menjadikan televisi (media visual) sebagai konsumsi baku untuk mendapatkan informasi dan hiburan. Hampir di setiap sudut ruangan rumah penduduk terdapat televisi. Selain praktis, aksesnya yang cepat membuat media ini semakin diminati warga.
Tayangan-tayangan di televisi memang sangat menarik, sehingga membuat pemirsa terlena oleh keadaan. Tayangan hiburan lebih banyak digemari, baik di kalangan orangtua, dewasa, bahkan remaja (mahasiswa). Acara sinetron yang tayang setiap hari dengan cerita yang tidak masuk akal adalah menu yang selalu dinanti-nanti.
Mudahnya akses televisi (TV) serta luasnya jangkauan, memudahkan masyarakat untuk menikmatinya. Di satu sisi, kehadiran TV yang menyajikan hiburan dianggap solusi pelepas lelah dari mumetnya pikiran di tengah persoalan kehidupan yang semakin sulit. Di sisi lain, hampir 70 persen lebih tayangan televisi sangat tidak mendidik dan banyak diisi tayangan drama dengan pesan berbau kekerasan, egoisme, mistik, hedonisme, dan pergaulan bebas. Selain itu, hampir setiap stasiun TV didominasi oleh infotainment.
Padahal, semakin sering anak-anak menonton TV berdampak pada perkembangan mental mereka hingga menjadi lemah dan tidak terdidik secara baik. Di lain pihak, kebanyakan menonton TV dapat menyebabkan kemalasan di kalangan pelajar.
Porsi untuk belajar sangat kecil ketimbang menonton televisi. Kebanyakan waktu mereka tersita hanya karena tontonan yang tidak mendidik dan tidak bermoral. Remaja Indonesia pun sekarang lebih pas dibilang generasi visual. Padahal generasi visual adalah musuh utama budaya literal.
Inilah sebenarnya tantangan besar pendidikan di Indonesia, kini. Budaya membaca dan menulis semakin tidak populer di kalangan pelajar dan mahasiswa. Membaca dan menulis dianggap sebagai hal yang kurang menarik dan sangat membosankan. Bahkan, banyak di antara mereka menganggap kegiatan membaca dan menulis adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Maka, tidak heran apabila siswa enggan melakukan kegiatan yang berbau literal. Lebih tragis lagi, mahasiswa yang diharapkan mampu membuat sebuah laporan ilmiah, ternyata skripsinya saja membeli dari orang lain.
Budaya membaca tampaknya memang belum terbangun dengan baik di Indonesia. Para siswa masih menganggap kegiatan membaca dan menulis sebagai hal yang menguras otak dan membuat pusing. Di samping itu, kesadaran membaca dan menulis belum dijadikan kebutuhan pokok seperti halnya makan dan minum sehingga hal tersebut sangat sulit untuk dibiasakan.
Sampai saat ini, pendidikan nasional belum mampu menyiapkan SDM yang mampu menguasai ilmu pengetahuan serta memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.
Perlu orientasi pendidikan nasional untuk meningkatkan daya saing dan kemajuan bangsa. Terdistorsinya pendidikan di Indonesia mulai dari mutu dan relevansi serta pendekatan pendidikan terlihat ketika lulusan-lulusan lembaga pendidikan belum bisa memenuhi kebutuhan bangsa.
Lembaga pendidikan yang dikelola oleh negara maupun swasta sebaiknya memperhatikan sistem dan metode pembelajaran yang proaktif melibatkan anak didik, serta membiasakan budaya literal. Tanggung jawab ini tidak hanya bagi para pendidik, melainkan tanggung jawab seluruh individu untuk membimbing dan mengarahkan anak didiknya untuk membiasakan membaca, terutama orangtua siswa.
Ini juga merupakan tugas besar seluruh komponen bangsa, agar kita tidak kembali menjadi budak dari pengetahuan itu sendiri. Bukankah dengan belajar, membaca dan menulis, kita akan melihat seluruh isi dunia?
Negara yang sedang berkembang dengan sumber daya alam (SDA) yang melimpah seperti Indonesia, sangat memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang cukup. Eksplorasi di berbagai bidang memerlukan keterampilan dan pengetahuan yang mumpuni. SDM yang cukup dan memadai, akan tumbuh dari mereka yang memiliki wawasan dan pengetahuan yang mereka dapatkan dari belajar, membaca dan menulis.
Terkikisnya budaya baca di kalangan pelajar dan mahasiswa akan memperburuk citra pendidikan Indonesia. Bagaimana tidak, pendidikan yang kita anggap sebagai tolak ukur kemajuan bangsa ternyata sangat memprihatinkan.
Pelajar sebagai aktor dunia pendidikan masih enggan membaca dan menulis. Bisa dibanyangkan, bagaimana kualitas peserta didik negeri ini di masa mendatang. Padahal, dengan membaca paling tidak akan membuka wawasan dan pengetahuan minimal untuk pribadinya.
Jika diingat kebangkitan nasional seabad lalu, akar gerakan itu bermula dari budaya literal, yaitu belajar, membaca, menulis dan berpikir sehingga tercipta pola pikir kebangsaan. Lihat saja, hampir semua tokoh bangsa yang mempelopori kebangkitan dan kemerdekaan adalah orang-orang yang selalu bergelut dengan budaya literal.
Rupanya, budaya membaca yang dulu menjadi ciri khas peradaban bangsa begitu jauh tersisihkan. Kemajuan teknologi dan derasnya arus globalisasi bukan berarti selalu membawa efek negatif. Tetapi, hal tersebut harus disikapi dengan arif diikuti keseimbangan berpikir. Budaya nonton yang kian menjalar bukan sebagai sebab dari makin malasnya generasi bangsa tetapi bagaimana kesadaran akan pentingnya pendidikan kembali ditanamkan. ***
Penulis adalah Direktur Indonesian Studies and Advocation Centre (ISAC) Ciputat. /4 Mei 2012

Permainan Opini Gie dan Wid


Permainan Opini Gie dan Wid
Posted by PuJa on May 5, 2012
Andhika Prayoga
http://www.lampungpost.com/

DALAM sebulan ini, banyak tokoh besar berpulang. Sebuah pertanda agar kita tidak selalu menggantungkan diri pada mereka. Sudomo, Bismar Siregar, dan Widjajono Partowidagdo wafat dalam waktu yang tidak terlampau jauh.
Ketiganya pernah mengemban tugas penting menegakkan kedaulatan bangsa Indonesia. Mereka dapatlah dikatakan paripurna menjalankan amanat negara hingga pensiun. Meninggal di atas gunung mengingatkan kita pada kisah seorang idealis pada 1960 bernama Soe Hok Gie, mantan Ketua Senat FSUI yang meninggal di Gunung Semeru. Di tengah hiruk pikuknya menentang pemerintahan transisi Orde Lama ke Orde Baru ia mengasingkan diri pada hobinya; mendaki gunung.
Saat itu, Gie, sapaan akrab Soe Hok Gie, sedang gencar mengkritik kebijakan Orba yang dikuasai militer. Menurut Gie, Orba tidak lagi sesuai dengan tujuan awal. Dalam memoarnya Catatan Seorang Demonstran, Gie mengutarakan penyesalannya telah mengambil peran meruntuhkan Soekarno, tapi nyatanya ia ditipu mentah-mentah.
Pemikiran Wid
Romansa Gie tak jauh beda dengan apa yang dilakukan Wid, sapaan akrab Widjajono, saat menjadi “bumper” pemerintah dalam kebijakan kenaikan harga BBM. Ia dipastikan jenuh dan berharap ada tempat pelarian dari tekanan publik yang mempersepsikannya tidak prorakyat.
Wid adalah sosok idealis dalam ruangnya. Akademisi yang mempunyai tiga gelar master dari tiga bidang ilmu sekaligus. Ia Ilmuwan yang brilian. Itulah yang menguatkan keyakinan SBY saat mendapuknya menjadi wakil menteri ESDM mendampingi Jero Wacik, walaupun semua itu juga berkat usulan Hatta Rajasa yang notabane adalah mahasiswa Wid di ITB.
Kebijakan kenaikan harga BBM yang berdengung beberapa waktu yang telah melejitkan putra Magelang itu sekaligus upaya mengorbankannya pelan-pelan. Pemikirannya yang jernih ditambah cara dia menyampaikan pendapat mampu membuat orang terkesima dan yakin bahwa kenaikan harga BBM sangat penting. Ditambah dengan kajian teoritis-ekonomis, seorang idealis sekelas Wid mampu memberikan argumen tak terbantahkan perihal kebijakan kontroversial itu. Tak heran jika berbagai pengamat mengatakan Wid mampu memainkan opini publik.
Permainan opini publik Wid hampir mirip dengan metode Gie. Selebaran gelap Gie bersama Gerakan Mahasiswa Sosial (Gemsos) arahan Soemitro telah mengubah persepsi masyarakat. Kala itu, publik yang terlena dan mengultuskan Soekarno mengarah cenderung membela Orde Lama secara radikal.
Landasan Gie dan Wid adalah akademik. Sebagai akademisi, tentunya mereka tidak mempunyai basis massa yang siap membela dengan fisik terhadap pendapat mereka. Namun, mereka mempunyai pendukung setia, yaitu orang-orang yang telah tercerdaskan secara logika dan berusaha mengikuti pola pikir pembentuk opini.
Bagaimana tidak, Wid berusaha merasionalisasi kenaikan harga BBM seorang diri di tengah ketidakberpihakan publik saat itu. Ia meyakinkan bahwa kenaikan harga BBM adalah solusi kemajuan bangsa. Tidak tanggung-tanggung ia yang meyakinkan bahwa kenaikan harga BBM seharusnya adalah Rp2.000, bukan Rp1.500 versi pemerintah, walaupun tidak disetujui.
Rasionalisasi tersebut juga dilakukan Gie saat membongkar pembantaian PKI oleh TNI di Bali. Penyerangan itu dilakukan dalam tulisannya yang kemudian berlawanan dengan persepsi publik yang saat itu dipenuhi eurofia pembubaran PKI. Akibatnya, Gie pun banyak menuai kritik.
Menyendiri
Semeru dan Tambora memang tempat yang berbeda. Gie dan Wid dipisahkan beberapa waktu dan generasi. Namun, mereka memiliki kesamaan cara pandang yang unik dalam membentuk persepsi publik tanpa harus mengorbankan idealisme.
Gie adalah pendiri Mapala UI dan Wid adalah anggota pecinta alam di ITB, kampus yang banyak melahirkan pejuang bangsa ini. Gie yang ateis tidaklah sama memandang gunung sebagai salah satu rasa syukur atas ciptaan Tuhan sebagaimana Wid. Gie hanya ingin lari sejenak dari kepenatan hidup. Cara pandang seperti itulah yang menjadi kontradiksi antara mereka berdua di balik kesamaan-kesamaan mereka.
Lebih dari itu, Gie tidak pernah menikmati hasil dari idealismenya. Ada yang berpendapat jika Gie tidak mati di Semeru, mungkin ia ada di dalam pemerintahan sekarang. Tidak bersama Soeharto karena ia membencinya dan tidak bersama Megawati karena anak Soekarno. Namun, kemungkinan bersama Gus Dur atau SBY yang dianggap sesuai dengan idealismenya.
Namun, Gie lebih beruntung ketimbang Wid. Ia pernah menulis bahwa hal yang baik adalah tidak pernah dilahirkan atau mati saat muda, dan orang yang paling tidak beruntung mati di saat tua. Dalam alur pikir Gie, Wid tidak beruntung. Ia mati tua.
*) Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung /26 April 2012

Filed under: Esai