Pages

Thursday, 26 April 2012

Keren! Saya Mejeng di Majalah Sastra Hong Kong


Keren! Saya Mejeng di Majalah Sastra Hong Kong
Posted by PuJa on April 26, 2012
Bayu Insani *
http://www.kompasiana.com/insani

Sore itu, Rabu, tanggal 19 Januari, ketika saya sedang memasak di dapur, saya mendapat telpon dari seorang sahabat yang cukup akrab. Dia adalah seorang lelaki berketurunan China, yang tinggal di Hong Kong. Alhamdulillah, walaupun kami berbeda suku, namun keakraban kami terjalin karena persamaan hobby, dalam dunia tulis menulis dan seni. Saya pun bukan orang seni, hanya penikmat seni. Pas kebetulan, dia adalah seorang seniman China, dari Hong Kong, tempat di mana saya tinggal saat ini, jadinya kami bisa sering bertemu dan sharing dalam dunia sastra.
Dia mengabarkan, (baca: memberikan bocoran ) pada saya, bahwa dia menemukan foto saya, berada di sebuah majalah. Saya pun sedikit terperanjat. “Saya? Gak salah” tanya saya. Dada saya benar-benar bersimphoni saat itu. Pikiran langsung melalangbuana. Berbagai pertanyaan, segera memenuhi alam pikiran saya.
“Kira-kira foto apa sih yang di pajang di sana? Tulisan apa, majalah apa dan siapa yang nulis?” Pikiran saya benar-benar didera rasa penasaran. Akhirnya, saking senengnya, saya membuat status di akun facebook, kalau saya mendapat bocoran tentang profil saya yang dimuat di majalah sastra Hong Kong. Banyak yang komentar, untuk memberikan ucapan selamat. Namun di antara banyaknya pengomentar, ada salah satu teman, memberikan komentar yang membuat saya sedikit merenung. Komentarnya kurang lebih mengatakan, bahwa apakah yakin, saya akan bisa menumui hari minggu untuk bisa menatap majalah itu.
Ya, setelah saya membaca komentarnya, terus terang, saya merenung setiap malam. Saya memohon pada Allah, pemilik Nyawa yang kini berada di kandung badan saya ini, agar meridhai usia hingga minggu. Karena saya tak mau mati dalam rasa penasaran. Tiap saat, saya merasa, nyawa itu terancam. Lalu segera beristighfar, dan berdoa, Ya, Rabb, kumohon, berkahi dan panjangkan usia saya untuk mengobati rasa penasaran ini.
Entahlah, saya merasa, ada benarnya tulisan komentar itu. “Apakah kamu yakin, bisa melihat hari minggu?” Terus terang, saya tak yakin, sebab usia itu bukan di tangan saya. Apalagi, waktu itu saya sedang sakit. Andai saya mati saat itu juga pun saya tak tahu.
Namun dengan menggantungkan kepercayaan pada Allah, Azza Waajalla, saya jadi yakin. Alhamdulillah, Allah masih memberiku usia hingga detik ini, yang mana hari minggu pun telah terlampaui. Subbahanallah. Bersyukur saya atas ridhaNya.
Dan tiba hari Minggu, teman saya ini, menepati janjinya. Dia membawa majalah yang dimaksud. Alhamdulillah, itulah yang pertama terucap dari bibir saya. Ini adalah momen indah bagi saya, selain karena usia di panjangkan Allah, saya sangat bahagia bisa melihat foto saya, juga bersama teman-teman mejeng di majalah itu.
Tak habis-habisnya saya bersyukur. Sebenarnya, tulisan di dalam majalah itu, saya sendiri tak bisa membacanya. Bagaimana mau membacanya, wong tulisannya itu seperti huruf pagar. Berbahasa China. Namun, merasa senang, karena inilah buah yang saya petik dari persahabatan kami. Antara kami dengan penulis tersebut. Seorang wanita yang lembut dan manis. Beliau bernama Loiuse Law.
Kumunikasi kami agak susah, namun bukan berarti jaka sembung naik ojek. Saya faham bahasa kantonis, dan sedikit inggris. Sewaktu beliau wawancara kami, pun bahasanya gado-gado. Isi tulisan di dalamnya, juga tak jauh-jauh tentang profil kami di Hk, sebagai BMI, yang kreatif. Yang mengisi aktifitas liburnya, untuk hal-hal yang positif. Seperti berorganisasi, menulis, ataupun belajar.
Beliau senang dengan kegiatan kami. Baik kegiatan berorganisasi, maupun dalam dunia seni. Makanya, kami sejalan. Beliau juga sering berkunjung ke organisasi kami, yaitu FLP, mungkin juga ke Organisasi Teater Angin, sebab di dalam liputan itu pun beliau menuliskan tentang organisasi itu. Tentang Kontributor-kontributor majalah berbahasa Indonesia di Hong Kong, dan banyak hal.
Pernah juga, saya secara pribadi, mengundang beliau ke Perpustakaan saya, yaitu perpustakaan Insani. Kami ngobrol banyak hal, makan siang dengan kari ayam yang di masak oleh teman kami. He he, rupanya beliau sangat suka masakan Indonesia. Begitu juga dengan Jus Pusa, teman lelaki yang sedari awal saya ceritakan, dia sangat tertarik dengan berbagai kesenian Indonesia. Lagu yang di suka, adalah Lagu Bengawan Solo, ciptaan Gesang.
Mereka orang-orang Hong Kong yang peduli dengan kami, orang-orang Hong Kong yang selalu mengormati kreatifitas dan kepercayaan kami. Kami terharu dan merasa bangga menjadi sahabat Anda. Kami merasa, bersemangat, dengan perjuangan dan hangat persahabatan Anda untuk kami.
Alhamdulilah, walaupun kami hanya sekedar seorang BMI, alias pembantu, namun beliau juga tak pernah memandang sebelah mata pada derajat kami. Beliau justru senang, karena di balik sibuknya rutinitas harian kami bersama majikan, kami masih menyempatkan diri untuk tetap berkarya. Menunjukan diri pada dunia, bahwa, julukan rendahnya derajat kami, sempitnya waktu kami, tak menghalangi niat dan kekreatifitasan kami.
Dan pesan saya, bersahabatlah dengan dunia luar, maka engkau akan temukan sesuatu yang baru. Karena sesuatu yang baru, akan kita dapatkan dari sahabat baru. Persahabatan itu hangat dan mendamaikan.
Harapan saya, harapan beliau, juga sama, agar kami tetap meneruskan perjuangan kami, untuk terus berkarya. Insya Allah. Amin.
___24 January 2012
*) Seorang BMI yang memiliki impian untuk sukses menjadi seorang penulis.
Dijumput dari: http://luar-negeri.kompasiana.com/2012/01/24/keren-saya-mejeng-di-majalah-sastra-hong-kong/

Juri-Menjuri Seni, ‘Subyektif’ atau Bisa Obyektif?


Juri-Menjuri Seni, ‘Subyektif’ atau Bisa Obyektif?
Posted by PuJa on April 25, 2012
Mudji Sutrisno *
Seputar Indonesia, 13 Jan 2008

MENGAPA juri menjuri seni sukar menarik garis tegas antara subjektif dengan objektif? Ada tiga ranah yang meletakkan ujung jawaban persoalan di atas.
Yang pertama, ranah perbedaan fungsi antara ilmu-ilmu empiris alam dengan ilmu-ilmu humaniora kebudayaan ketika ”membedah” kenyataan bernama kehidupan. Ilmu alam empiris berfungsi memberi penjelasan mengenai gejala-gejala realitas dalam hidup. Sementara ilmu humaniora budaya berfungsi memberi pemahaman.
Bila anda membaca kajian penelitian antropologi budaya sebuah suku terasing, Anda menjadi lebih paham dan mampu memahami penuh empat cara pikir perilaku suku tersebut. Secara metodologis pun dalam mengungkap pengetahuan, yang satu, mendeskripsi gejalanya hingga dari dalam kita memahami (dalam ilmu budaya).
Yang kedua, membuktikan secara verifikasi hipotesis sebelumnya dengan penelitian faktual lebih baru untuk kesahihannya. Pada wilayah ini, ketika seni sebagai ekspresi kebudayaan dalam cipta senimannya mewujud dalam karya anyaman, lukis, patung, panggung, atau tari serta musik, untuk menilainya kita dihadapkan pada penilaian dari seni itu sendiri lewat idiom-idiomnya, simbol-simbolnya atau depth isinya yang dalam seni sastra melalui alur kisah, padahan, penokohan, klimaks,atau antiklimaks yang dinamai pendekatan ”intrinsik”.
Sementara menilai dari luar (ekstrinsik) seni itu dengan analisis ilmu-ilmu di luar seperti sosiologi seni; psikologi seni yang berarti mengkaji dengan metodologi psikologi untuk ”dari luar”dan berkriteria psikologis mendekati karya seni. Di wilayah ini,penilaian subjektif akan muncul tatkala peresensi,si penilai lebih memakai unsur-unsur subjektivitas dirinya.
Karena itu, soal juri menjuri di wilayah ini untuk karya-karya seni menuntut syarat sebagai berikut; satu, ada ahli atau pakar profesional yang mampu dari dalam (intrinsik) menjuri seni dengan keilmuan estetikanya, dua, semakin objektif penilaian, menuntut multidimensi tilik pandang dari ekstrinsik, dengan kacamata filsafat; dari sudut pandang kurator, dari sudut psikologis seorang psikolog atau sosiolog.
Semakin seni sebagai hasil ekspresi refleksi seniman dari kehidupan itu dinilai dari kehidupan yang di satu pihak dirayakan, dihayati nyata dan di lain pihak dimuliakan, tetapi sekaligus dilogiskan dalam tulisan logis atau teori rasional bahasa tulis ilmiah, di situ ”teratasi” keberatsebelahan antara melulu subjektif menuju lebih objektif lantaran banyak mata pandang dan sudut pandang menilainya.
Di sini, ”kebenaran” berarti kebenaran yang semakin mendekati hidup yang dirayakan, tapi juga hidup yang diusahakan ditulis logis, ataupun diabstraksi dalam teori atau telaah ilmu psikologi misalnya. Maka, dalam wilayah pertama ini, forum juri meminta syarat kehadiran multimata juri dari intrinsik sampai ekstrinsik.
Tentu saja kredibilitas profesi juri dan integritasnya yang tak bawa kepentingan bisnis atau sponsor mesti dicermati. Dari pengalaman menjuri lomba nasional seni lukis untuk diikutkan ke festival seni lukis internasional, terbukti kehadiran kritikus seni lukis, guru seni lukis, kurator, ahli seni, psikolog seni lukis, dan filsuf membuat ”juri menjuri” mendekati ”kebenaran estetis yang objektif”.
Wilayah kedua untuk menjawab susah menilai seni secara objektif termuat dalam rangkuman dikotomik (biner: dua posisi diperlawankan untuk menegaskan garis objektif fakta fenomena dan garis subjektif intuitif si subjek). Apa itu? Roland Bartes dalam buku terakhirnya berjudul amat simbolik yaitu &/2 (terbit 2001), menuliskan antara menafsir objektif tulisan (terutama sastra) dari karya pengarang menurut maksud asli penulis dan ”bacaan si pembaca sendiri” menurut mata baca pembaca.
Yang satu, bila mau objektif menangkap maksud dan makna si pengarang,kita harus membacanya, secara writerly, yaitu dalam dan dari sudut pandang penulis atau writer. Sementara itu, bila mau menikmati dan membaca karya itu menurut ”selera”pembaca, buku itu dibaca secara readerly. Pengarang sebenarnya sudah mati begitu buku sastranya hadir di depan pembacanya dan dipublikasi. Maka, yang ada adalah pembacaannya, penilaian, dan penjurian dari si pembaca. Buktinya?
Bila buku itu tak dibaca, ia tergeletak ”mati” di pustaka atau toko buku.Bila tak ada pembaca yang menghidupkan lagi kalimatkalimat pengarang dalam buku itu (saat ada pembaca yang pelan membacanya), buku itu tetap tinggal tidur mati tertutup. Maka di wilayah ini, menilai karya seni selalu berada dalam debat biner atau dikotomi antara sang pembaca (baca: si penilai) dengan si pengarang sebagai penulis (writer).
Lalu, bagaimana menerobos kebuntuan antara menilai atau membaca dari sudut hanya posisi maksud awal tulisan menurut penulis dan dari posisi ”melulu” subjek pembaca? Jawabnya ada 2 jalan. Pertama, pengarang sudah mati,maka yang dinilai adalah karyanya, yang secara kreatif dibaca bersama dengan sudut-sudut pandang berbeda antara pembaca dengan mata kritikus, atau profesor sastra, atau pekerja penggiat seni, kurator, atau estetikus.
Di sana ”pasti” akan muncul proses penjurian yang relatif mendekati estetika multidimensi. Kedua, bila kita sepakat kalau kerja membaca adalah menafsir. Maka,prinsip pertama menafsir yang mendekati maksud kreator karya seni (atau sastra) adalah masuk ke lebenswelt (ruang hidup zaman sosial dll dari pengarang).Cakrawala pembaca dengan lebenswelt pembaca lalu dibawa ke prinsip ketiga,yaitu secara sadar melakukan peleburan cakrawala antara keduanya.
Namun,makna teks dengan horizon penulis dan konteks pembaca tetap merupakan fusi dialogis keduanya.Hanya dengan demikian wilayah kebenaran teks yang kultural, bisa ditangkap indah estetisnya dan indah logisnya, tetapi tetap terbatas lantaran sumber oasis karya/seni adalah kehidupan itu sendiri yang sebagian dirayakan; sebagian dimuliakan dan dalam ilmuilmu positif empiris disistematisasi logis dalam bahasa ilmiah dan teoriteori.
Kerendahan hati untuk mengakui adanya wilayah estetis intuitif dan wilayah estetis ”logis” dalam wacana serta bisa dialognya antarpara kritikus seni membuktikan juri menjuri berada terus di wilayah ketegangan antara subjektif dengan objektif dari kehidupan!
* Mudji Sutrisno, Rohaniwan, Budayawan
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/01/juri-menjuri-seni-subyektif-atau-bisa.html

Seni, Riwayatmu Kini


Seni, Riwayatmu Kini
Posted by PuJa on April 25, 2012
Silvester Petara Hurit*
Pikiran Rakyat, 12 Jan 2008

PERHATIAN Pemerintah Daerah terhadap kesenian Sunda, seperti yang dikeluhkan kurator Taman Budaya Jawa Barat, Mas Nanu Muda dalam “Potret Buram Seni Sunda Kini” (“Khazanah”, 5/01/08), patut disayangkan. Anggaran kesenian yang sudah minim dipangkas dalam dua tahun terakhir. Hal ini, berdampak pada semakin turunnya jumlah pertunjukan di Taman Budaya. Belum lagi mekanisme perolehan bantuan dana yang berbelit-belit, seleksi, serta sistem kurasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan transparansi dan profesionalitasnya.
Saya tidak begitu paham sejauh mana apresiasi serta wawasan pemerintah kita terhadap seni dan budaya. Setahu saya, sejarah pemerintahan (kekuasaan) dan peradaban manusia selalu menggandeng seni sebagai simbol atau barometer keagungan. Raja Prancis Louis XIV (1643-1715), mendirikan istana Versailles yang besar dan indah, merekrut seniman-seniman besar seperti Pierre Corneille, Jean de Racine, dan Molliere. Ia juga Mendirikan sekolah musik dan balet (Academie Royal de la Musique et de la Danse) yang merupakan lambang kejayaan dan kekuasaannya sebagai raja besar.
Ratu Elizabeth I yang memerintah antara tahun 1558-1637, menjadikan seni sebagai lambang kemartabatan dan kebesaran kekuasaan Inggris. Drama mengalami perkembangan yang luar biasa hingga lahir gaya Elizabethan Drama. Pada masanya, lahir para penulis besar antara lain Thomas Kyd, Christopher Marlowe, dan Shakespeare. Zaman Yunani dikenal karena pemikiran (filsafat), demokrasi, dan keseniannya. Dalam pidatonya, Perikles, seorang negarawan, dengan bangga berujar, “Sebagaimana zaman ini mengagumi kita, demikian pula abad-abad mendatang.”
Jiwa agung Yunani dapat kita temukan hari ini dalam wajah patung perunggu Apollo. Pandangan yang kuat tentang jiwa manusia, hakikat kejahatan, akal budi, kebesaran jiwa, dan kepahlawanan dari orang-orang Yunani dapat kita jumpai dalam naskah-naskah drama dan tragedinya. Penguasa yang memikirkan masa depan negara atau wilayahnya, senantiasa apresiatif terhadap kesenian.
Tolok ukur suatu peradaban adalah kreativitas. Ruang eksplorasi kreativitas tak terbatas itu ada di kesenian, bagaimanapun kemajuan suatu masyarakat dipacu oleh kehendak inovatif dan hasrat menyimpang. Selain itu, seni selalu bergerak di wilayah ini. Menggali makna, menerobos, dan mendinamisasikan kehidupan. Lihat saja warisan besar peradaban dunia, Epos Mahabrata, Ramayana, candi Borobudur, dan lain sebagainya, rata-rata merupakan karya seni.
Negara-negara maju mengabadikan nama pujangganya sebagai nama lembaga atau duta kebudayaannya di luar negeri. Jerman dengan Geothe Institute-nya, Belanda dengan Erasmus Huis-nya. Generasi pendiri bangsa ini paham betul akan kesenian. Lagu “Indonesia Raya” gubahan Wage Rudolf Supratman dipakai sebagai media pergerakan nasional. Semboyan “Merdeka atau Mati!” lahir dari penyair Chairil Anwar dan kepal tangan perlawanan adalah karya tangan pelukis Affandi.
Tak sedikit politikus dan intelektual di masa itu merupakan seniman dan pemikir kebudayaan. Muhammad Yamin misalnya, selain dikenal sebagai seorang sejarahwan, politikus, ia pun adalah seorang penyair, penulis drama, novelis sejarah, esais, serta penerjemah karya seni.
Inferior
Kesenian di negeri ini berada pada pada posisi inferior dibanding dengan sektor kehidupan lain. Barangkali karena ia tidak menghasilkan banyak keuntungan secara materi-finansial. Seni dianggap tidak produktif, menghambur-hamburkan, atau membuang-buang duit, bahkan sering dicap sebagai pengganggu ketertiban. Apa yang dihargai dari suatu bangsa selain dari kreativitasnya?
Dahulu, kita disebut nation of high culture karena kesenian. Namun sekarang, kata Prof. Sri Hastanto, kita adalah gelandangan budaya. Untuk membiayai pertunjukan, seniman harus menenteng proposal, menunggu, sekan-akan meminta, dan mengemis belas kasih serta kemurahan hati.
Kelompok-kelompok gurem seni tradisi di kampung-kampung malahan dipungut biaya administrasi, uang keamanan, dan izin pentas oleh aparat pemerintah. Padahal, membiayai kesenian adalah keharusan. Pemerintah berkewajiban membiayai, melindungi, dan memajukan kesenian serta kebudayaan. Meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakatnya. Belajar pada Yunani jauh sebelum Masehi, pemerintah Yunani menjadikan peristiwa kesenian (drama) sebagai peristiwa negara.
Seniman memiliki kedudukan yang istimewa, diperlakukan sebagai warga kota terhormat. Pemenang festival drama diberi mahkota daun Sangga Dionisius. Biaya pementasan drama, oleh pejabat (Arkhon), dipercayakan kepada warga kota kaya (khoreogos). Panggung teater didirikan di jantung kota, di samping bawah bukit Akropolis, pusat kuil Kota Athena. Orang Yunani menjunjung tinggi hukum dan ketertiban, patuh, dan taat pada penguasanya. Tetapi, dalam kesenian ada ruang bersama tanpa kontingensi sosial.
Di sanalah, seniman seperti Aristhofanes diperbolehkan menuding pejabat sebagai “penjahat, perampok rakyat, raksasa Kharbdis yang rakus”. Kesenian (drama) dijadikan alat pendidikan. Setiap orang dianjurkan datang termasuk para wanita yang tidak boleh mengikuti pertemuan umum. Hari pementasan merupakan hari libur nasional. Semua pekerjaan dihentikan.
Para buruh berhak mendapat upah kerja di hari itu. Narapidana diperbolehkan meninggalkan penjara untuk menonton teater. Bagi yang kurang mampu tidak harus membayarnya. Semua itu untuk menghormati Dionisius, dewa kehidupan senang dan pemberi anggur. Dewa pelindung segala ekstase dan keliaran. Yang memberi inspirasi, gairah, kreativitas, semangat, petualangan dalam bayangan keteraturan, dan keanggunan sosok Apollo. Inilah spirit dan kreativitas yang mewarnai hidup dan karya mereka. Terus bersambut, dinamis, yang membuat mereka besar, dikenang, dan dikagumi hingga hari ini. ***
* Silvester Petara Hurit, Mahasiswa STSI Bandung.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/01/khazanah-seni-riwayatmu-kini.html

Tahun Penyadaran Seni Budaya


Tahun Penyadaran Seni Budaya
Posted by PuJa on April 25, 2012
Rizka Halida
Media Indonesia, 8 Jan 2008

PERNAH dengar ungkapan, ‘Kita tak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangan dia’? Itulah yang kini kita, orang Indonesia, alami dalam bidang seni budaya. Kekayaan seni budaya warisan nenek moyang yang selama ini kita anggap sebagai sebuah keniscayaan tiba-tiba terancam hilang. Sesuatu yang tadinya terlupakan, kini kembali muncul dalam ingatan dan coba dipertahankan.
Tahun 2007 yang baru lewat bisa dikatakan sebagai tahun ’penyadaran seni budaya’. Betapa tidak, pada 2007 ada tiga produk seni budaya kita yang terancam hilang dan bahkan ada yang benar-benar hilang, raib dari tanah asalnya. Ketiganya adalah lagu Rasa Sayange asal Maluku, reog ponorogo, dan lima arca dari abad IX Masehi.
Berebut klaim
Lagu Rasa Sayange ramai diberitakan di media massa setelah pemerintah Malaysia menjadikannya sebagai promosi pariwisata Malaysia. Pemerintah negeri jiran itu bahkan diberitakan mematenkan lagu tersebut. Padahal, masyarakat Indonesia selama ini mengenal Rasa Sayange sebagai lagu asal Maluku.
Anggota DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Hakam Naja meminta pemerintah Indonesia bersikap tegas terhadap Malaysia atas klaim produk Indonesia. Di sisi lain, Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia Datok Seri Doktor Rais Yatim, seperti dikutip kantor berita Malaysia Bernama menyatakan Indonesia tak akan bisa membuktikan pencipta Rasa Sayange.
Polemik itu mendorong sejumlah pihak untuk mengumpulkan bukti kepemilikan Indonesia atas lagu Rasa Sayange. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik mengumumkan pihaknya menemukan bukti yang menunjukkan lagu Rasa Sayange milik Indonesia. “Ada lagu Rasa Sayange dalam piringan hitam yang direkam oleh Lokananta tersebut pada 1958, kemudian dibagi pada 15 Agustus 1962 sebanyak 100 keping bertepatan saat pelaksanaan pesta olahraga Asian Games di Jakarta oleh Presiden Soekarno,” kata Menbudpar sebagaimana dilansir Antara (11/10/07). Presiden Soekarno memberikan piringan hitam tersebut sebagai cendera mata kepada pimpinan kontingen tiap negara peserta Asian Games. Lagu Rasa Sayange menjadi salah satu dari delapan lagu yang ada di piringan hitam itu. Piringan hitam tersebut masih terdokumentasi dengan baik di perusahaan rekaman milik negara, Lokananta Solo.
Masih menurut Menbudpar, pihaknya dibantu musisi Indonesia sedang mencari bukti lain mengenai lagu Rasa Sayange melalui satu Yayasan dari Jepang, Minoru Endo Music Foundation (MEMF), yang pada 1997 mengompilasi lagu pop dan lagu rakyat yang populer dari negara-negara di Asia. Setelah mengompilasi, Yayasan Minoru membukukan 2.000 lagu dalam buku Evergreen Song 2.000 dan menyebarluaskan buku itu. Tapi karena ada pembatasan, tidak semua ditulis, hanya ada 19 lagu Indonesia yang ditulis partiturnya dan ada 50 lagu yang terdaftar di buku itu. Lagu Rasa Sayange tidak terdapat dalam 50 lagu itu. Akan tetapi, Menbudpar masih mencari informasi apakah dari 2.000 lagu yang dikompilasi Yayasan Minoru terdapat lagu Rasa Sayange.
Selain lagu Rasa Sayange, produk seni budaya Indonesia yang juga mengalami polemik serupa adalah reog ponorogo. Kementerian Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia menampilkan gambar reog malaysia yang memiliki banyak kemiripan dengan reog ponorogo. Padahal, masyarakat Ponorogo selama ini mengenal reog sebagai kesenian asli Ponorogo. Reog ponorogo juga telah tercatat sebagai hak cipta milik Kabupaten Ponorogo dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004 dan diketahui langsung oleh Menteri Hukum dan Perundang-undangan.
Akibat tindakan pemerintah Malaysia itu, sekitar 2.000 warga masyarakat, tokoh, dan artis reog ponorogo berunjuk rasa di depan Kantor Kedubes Malaysia, Jakarta Selatan (Antara, 29/11/07). Protes juga disampaikan para perajin kesenian reog di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, yang mengancam tidak mengirim dadak merak reog ke Malaysia jika pemerintah Malaysia terbukti mengklaim reog ponorogo sebagai kesenian asli Malaysia. Selama ini, selain memenuhi permintaan beberapa daerah di dalam negeri, perajin reog ponorogo juga mengirim ke luar negeri, seperti Malaysia dan Suriname.
Kedua kasus tersebut sempat membuat kisruh hubungan Indonesia dengan Malaysia. Survei Litbang Media Group pada 1 November 2007 tentang persepsi masyarakat Indonesia terhadap Malaysia menemukan hampir separuh responden (48%) memersepsi Malaysia sebagai ancaman. Di sisi lain, yang memersepsi Malaysia sebagai sahabat lebih sedikit, 34%. Sisanya, 18%, masih gamang untuk menentukan apakah Malaysia dapat dianggap sebagai ancaman atau sahabat.
Hasil survei juga menunjukkan mayoritas responden (70%) menilai hubungan Indonesia-Malaysia cenderung tidak harmonis. Sementara itu, yang menjawab ‘cenderung harmonis’ hanya kurang dari 20 persen (lihat Grafik 2).
Survei mengambil 480 responden secara random dari daftar pemilik telepon di enam kota besar Indonesia, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Medan, dan Makassar. Responden adalah orang dewasa berusia di antara 18 dan 60 tahun. Proporsi perempuan dan laki-laki seimbang, masing-masing berjumlah 239 dan 241 orang.
Meski menimbulkan ketegangan, kedua kasus itu seakan membuka mata banyak orang Indonesia bahwa seni budaya kita harus dihargai, diingat, dan dipertahankan. Lalai dalam ketiga hal itu bisa membuat kita kehilangan warisan seni budaya yang amat berharga.
‘Penemuan’ kembali
Kasus lain yang menyadarkan kita adalah ‘penemuan’ kembali dua versi lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh Roy Suryo dan Tim Air Putih. Dalam keterangannya kepada Media Indonesia (5/8/07), Roy Suryo menyatakan hasil penelusuran teknis yang dilakukannya menunjukkan ada tiga versi lagu Indonesia Raya yang semuanya diciptakan WR Soepratman. Menurut Roy, versi yang paling pertama dari lagu Indonesia Raya yang diciptakan WR Soepratman masih berjudul Indonesia dan pertama kali dimuat di harian Sin Po, edisi 27 Oktober 1928. Dalam versi itu, beberapa kata-kata dalam refreinnya berbeda dengan versi yang digunakan saat ini. Misalnya, pada refrein, kata-kata yang digunakan adalah Indones’… Indones’… moelia.. moelia…
Sementara itu, untuk yang versi kedua, lagunya sudah berjudul Indonesia Raya dan sudah dalam format 3 stanza. Pada masa kemerdekaan, naskah lagu versi itu juga pernah dimuat di Harian Asia Raya edisi 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi dibacakan Presiden Soekarno. Refrein pada versi itu sudah menjadi Indonesia Raya… merdeka… merdeka…
Di lain pihak, lagu Indonesia Raya yang kini digunakan secara resmi sebagai lagu kebangsaan, kata Roy, adalah lagu versi ketiga yang berjudul Indonesia Raya, tetapi dalam format 1 stanza. Versi itu tetap diciptakan oleh WR Soepratman, namun digubah ulang oleh Jos Cleber dan Jusuf Ronodipuro pada 1950.
Meski banyak pihak menyatakan temuan Roy ini bukan hal baru, publikasi lagu dan klip Indonesia Raya versi kedua dengan 3 stanza di televisi nasional seolah mengingatkan kembali kekayaan seni budaya kita yang nyaris terlupakan. Penayangan tersebut juga bermanfaat bagi generasi muda yang masih ‘buta sejarah’ agar lebih ‘melek sejarah’ dan menghargai seni budaya Indonesia.
Arca
Penyadaran seni budaya kembali terjadi lantaran terkuaknya kasus pencurian dan pemalsuan lima arca peninggalan abad IX Masehi yang semula tersimpan di Museum Radya Pustaka, Solo, Jawa Tengah pada akhir 2007. Kelima patung kuno itu adalah arca Agustya, Durga Mahesa Sura Madini, Durga Mahesa Sura Madini II, Siwa, dan arca Mahakala. Polisi menangkap Kepala Museum Radya Pustaka, KRT Dahrmodipuro alias Mbah Hadi bersama dua pegawai museum, yaitu Jarwadi selaku juru pelihara museum dan Gatot, petugas keamanan museum. Mereka diduga bekerja sama untuk mencuri dan memalsukan benda purbakala di museum tersebut.
Terkuaknya kasus itu mendorong penyelidikan lebih lanjut. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah mengumumkan tidak hanya lima arca tersebut yang dicuri dan dipalsukan. Ada enam benda koleksi museum itu yang telah hilang dan dipalsukan, yaitu dua arca perunggu, sebuah kap lampu perunggu, dua buah keramik yang salah satunya berasal dari Dinasti Ming, dan sebuah tempat buah-buahan hadiah dari Napoleon Bonaparte kepada Pakubowono X.
Hilangnya arca juga terjadi di beberapa tempat lain. Sebuah arca kuno Gajah Hindu di bangunan Candi Randu Agung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur telah raib dicuri orang. Arca Kudhu Candi Bhima di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah juga hilang dicuri. Sementara itu, tidak kurang dari 100 arca dari situs megalit, Poso, Sulawesi Tengah, dilaporkan hilang dicuri. Sebagian arca dari zaman prasejarah tersebut kini telah diperjualbelikan di Pulau Bali.
***
Berbagai kasus di atas hendaknya menjadi pelajaran bagi kita, bangsa Indonesia, untuk lebih mengetahui, menyayangi, dan menjaga warisan seni budaya. Tahun 2007 menjadi tahun penyadaran seni budaya melalui terjadinya berbagai kasus tersebut. Semoga 2008 menjadi tahun kesadaran seni budaya Indonesia.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/01/analisis-tahun-penyadaran-seni-budaya.html

Menumbuhkan dan Menggodok Tulisan


Menumbuhkan dan Menggodok Tulisan
Posted by PuJa on April 25, 2012
Bagus Takwin *
Kompas, 06 Jan 2008

PASANGAN dari masterpiece Mortimer J Adler, How to Read a Book: Cara Jitu Mencapai Puncak Tujuan Membaca ini bertutur tentang menulis. “Menulis tanpa guru”. Bisakah kita lakukan?
Frasa ini adalah judul karya Peter Elbow, profesor bahasa dan Direktur Program Menulis di University of Massachusetts. Dilihat dari judul dan isi buku itu, menulis tanpa guru bisa dilakukan. Buku ini tentang menulis dan bertujuan membantu orang untuk belajar menulis. Lebih jauh lagi, untuk menulis tanpa guru.
Menurut Elbow, yang pertama perlu dilakukan untuk bisa menulis adalah menulis. Tuliskan apa saja yang terlintas di benak kita. Ia memberi istilah “menulis bebas” untuk tindak menuangkan apa saja yang terlintas dalam benak melalui tulisan.
Menulis bebas adalah latihan yang bisa membantu untuk membiasakan diri menulis. Dalam latihan ini, orang disarankan untuk menuangkan, dalam bentuk tulisan, apa pun yang ia pikirkan, bahkan tentang ketidakmampuannya menulis. Saat diminta menulis apa pun yang terpikirkan selama 10 menit dan merasa buntu, orang boleh saja hanya menuliskan kebuntuannya, kebingungannya. Dalam menulis bebas, lupakan aturan, lupakan kesalahan. Tulis dan luapkan saja.
Menumbuhkan pesan
Tentu, menulis bebas bukan akhir dari belajar menulis. Elbow juga bicara tentang proses menulis. Ibarat tanaman, bibit-bibit menulis adalah apa yang dihasilkan dalam menulis bebas. Bibit tidak diharapkan jadi bibit selamanya, ia harus tumbuh sehingga potensi-potensinya teraktualisasi. Bibit diharapkan menjadi pohon yang rindang dan kokoh atau jadi perdu yang indah.
Begitu pula bibit tulisan, hasil menulis bebas perlu ditumbuhkan menjadi tulisan yang menggugah, mencerahkan, memberi kenikmatan bagi pembacanya. Menulis dalam tahap ini, menurut Elbow, bukan cara mengirim pesan, tetapi cara menumbuhkan pesan. Seperti pohon, dari batang tulisan yang sudah dihasilkan, ranting-ranting pesan bisa ditumbuhkan. Lalu daun-daun kata menghiasinya, rimbun dan berwarna.
Caranya: Baca ulang hasil tulisan itu, tegaskan topik utama, temukan bagian-bagian yang perlu dielaborasi atau dihilangkan, tentukan alinea-alinea yang perlu diperjelas, rumuskan kalimat-kalimat yang terang, serta pilih kata-kata yang mewakili pikiran dan perasaan.
Seperti apoteker atau koki, penulis perlu menggodok tulisannya. Mengutip Elbow (hal 51), “Pertumbuhan adalah proses yang sangat besar, evolusi seluruh organisme. Penulisan adalah proses yang lebih kecil: pendidihan, penyeduhan, peragian, pembelahan atom.” Dengan menggodok, penulis menggerakkan mesin penumbuh tulisan. Sebuah mesin butuh energi untuk bekerja. Namun, energi saja tidak memadai untuk menggodok, apalagi saat energi yang dimiliki terbatas.
Bagi Elbow, penggodokan lebih tepat dipahami sebagai interaksi antarmateri yang berbeda atau bertentangan. Penggodokan bisa sebagai interaksi antarmanusia, antaride, antara kata dan ide, antara keterlibatan dan perspektif, lebih rinci lagi interaksi antarmetafora, antarmode, antara penulis dan simbol-simbol di atas kertas.
Berbagai pikiran yang dipaparkan digodok dalam tulisan agar menghasilkan ide yang kuat. Ide-ide dipertemukan dan dibandingkan untuk menghasilkan tesis yang tegas. Beragam keterlibatan dan perspektif dipakai untuk menghasilkan paparan komprehensif. Lalu, berbagai metafora, mode penulisan, dan simbol diolah untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang bernas.
Rangkaian interaksi
Proses menulis bebas yang dikuti oleh upaya menumbuhkan dan menggodok dapat dilakukan tanpa guru, tetapi tidak tanpa interaksi dengan orang lain. Menulis adalah interaksi dan yang terpenting adalah interaksi antarmanusia sebab dari manusialah unsur-unsur tulisan paling penting berasal.
Menulis tanpa guru berarti menulis secara mandiri, tidak bergantung pada keberadaan guru sebagai pemberi materi, pembimbing, dan pemberi umpan balik. Namun, menulis tetaplah rangkaian interaksi, baik selama penulisan maupun sesudahnya. Pesan yang termuat dalam tulisan ditujukan kepada seseorang, kepada pembaca. Pesan itu juga merupakan tanggapan terhadap pesan-pesan yang pernah diterima penulis.
Keberadaan orang lain tetap menjadi syarat bagi penulisan; lebih tepatnya, berinteraksi dengan orang lain. Menulis secara mandiri bukan berarti menulis dalam situasi yang terisolasi. Alih-alih, menulis secara mandiri mensyaratkan keterbukaan terhadap dunia. Elbow menekankan pentingnya keterbukaan pada seorang penulis, berpikiran terbuka, berjiwa terbuka.
Apa yang dipaparkan oleh Elbow merupakan gugahan kepada pembacanya untuk menjadi penulis melalui latihan menulis secara mandiri. Menulis bebas merupakan usulan cara untuk mengatasi hambatan menulis. Dengan konsep “menulis bebas”, Elbow hendak membantu orang mengatasi keengganan dan ketakutan untuk menulis. Menulis sebagai kegiatan menumbuhkan merupakan cara Elbow membantu orang menghasilkan tulisan yang utuh dan jelas. Lalu menulis sebagai penggodokan menjadi petunjuk bagi kreasi tulisan yang matang, tuntas, dan bernas.
Menulis adalah keterampilan
Elbow secara tersirat tetapi jelas menempatkan tindak menulis sebagai cara belajar menulis. Ini mengingatkan kita kepada ungkapan filsuf dan penulis Iris Murdoch, “Hanya dengan mencintai kita dapat belajar mencintai.” Seperti mencintai, menulis adalah tindakan konkret dan praktis. Untuk dapat memiliki kemampuan itu, orang harus melakukannya. Hanya dengan menulislah kita dapat belajar menulis. Tanpa melakukannya, kita tak akan pernah mampu menulis dengan baik.
Menulis adalah keterampilan. Seperti keterampilan bersepeda, menyetir mobil, atau berenang, tanpa bersentuhan langsung dengan tindakan menulis, kita tak akan bisa menulis. Sebagai keterampilan, menulis bisa dipelajari. Setiap orang mampu menjadi penulis. Bisakah Anda naik sepeda tanpa pernah mencoba naik sepeda?
Kemampuan menulis tidak tergantung bakat. Orang tak berbakat pun bisa jadi penulis jika ia berlatih menulis. Bakat adalah urusan orang-orang terpilih, segelintir orang yang mendapat berkah. Adapun kemampuan menulis diperuntukkan bagi siapa saja, tak kenal kasta, status sosial-ekonomi, tak kenal suku dan agama, tak peduli pemimpin atau bawahan.
Penulis yang baik adalah orang yang mampu menulis dengan baik kapan saja, di mana saja, dan dalam kondisi apa pun. Penulis yang baik tidak hanya mengandalkan inspirasi atau ilham. Juga tidak hanya mengandalkan mood atau suasana hati. Ia menggunakan seluruh pikiran, perasaan, dan tindakan konkretnya saat menulis.
Penulis yang baik juga mampu merangsang dirinya untuk menciptakan suasana hati yang mendukungnya menulis. Ia mampu menyemangati dirinya agar dapat menulis di mana saja dan kapan saja. Ia mengolah pikiran, perasaan, dan tindakan serta dicurahkan dalam bentuk tulisan agar dapat disebarkan kepada orang lain. Penulis yang baik mau berbagi cerita dengan banyak orang lewat tulisannya. Ia adalah seorang dermawan yang mau berbagi pengetahuan dengan siapa saja.
Buku ini memberi petunjuk tentang cara berlatih menulis. Secara rinci dan lancar Elbow memaparkan langkah demi langkah dengan ilustrasi yang menarik. Perumpamaan-perumpamaan yang ia gunakan menjadi daya pikat tulisannya. Contoh-contoh konkret yang ia ambil dari pengalamannya sebagai penulis yang ketakutan dan frustrasi serta sebagai dosen menulis menambah terang petunjuk-petunjuk yang ia berikan. Buku yang matang ini merupakan contoh yang baik dari kegiatan menulis bebas yang ditumbuhkan dan digodok secara sungguh-sungguh. Elbow mengajar menulis dengan menulis tanpa guru.
* Bagus Takwin, Pengajar Fakultas Psikologi UI, Penulis
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/01/buku-menumbuhkan-dan-menggodok-tulisan.html

Si Kabayan Sebagai Cerita Rakyat


Si Kabayan Sebagai Cerita Rakyat
Posted by PuJa on April 25, 2012
Jakob Sumardjo *
Pikiran Rakyat, 5 Jan 2008

JAWA Barat kaya akan tradisi kerakyatan, termasuk cerita rakyat. Meskipun tradisi istana pernah hidup di Jawa Barat, karena mengalami zaman dua kerajaan besar, yakni Galuh di daerah Ciamis dan Pajajaran di daerah Bogor, sedikit sekali ditemukan artefak-artefak budaya istana. Kerajaan-kerajaan Hinduistik di Jawa Barat lenyap bersama pendukungnya, yakni masyarakat istana. Kerajaan-kerajaan Islam yang kemudian muncul di Jawa Barat tidak melanjutkan tradisi istana-istana sebelumnya. Kerajaan-kerajaan Islam itu adalah Banten dan Cirebon.
Banten dan Cirebon cenderung kejawa-jawaan akibat hubungan mereka dengan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Akan tetapi, apabila ditilik lebih dalam, masih akan tampak ciri-ciri kesundaan di kedua kerajaan Islam tersebut. Bagaimanapun kerajaan-kerajaan Islam tersebut masih berada di masyarakat Sunda sehingga tradisi lokal mendasari kebudayaan di kedua kerajaan tadi.
Tradisi kerakyatan masih terus hidup di bawah arus budaya-budaya istana yang silih berganti. Ini disebabkan sistem kerajaan-kerajaan di Jawa Barat berbeda dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kerajaan-kerajaan Jawa berdasarkan masyarakat sawah, sedangkan kerajaan-kerajaan Sunda berdasarkan masyarakat huma. Kebudayaan istana di Jawa Barat hanya berkembang di lingkungan terbatas masyarakat nagara. Di Jawa Barat tidak dikenal adanya negaragung dan mancanegara seperti di Jawa.
Masyarakat istana adalah masyarakat Sunda di negara itu, yakni istana dan wilayah yang benar-benar dikuasainya secara langsung. Hal ini bisa disimak dalam Babad Pakuan abad ke-18 yang ditulis dalam bentuk wawacan berbahasa Jawa. Saya telah menulis perkara ini dalam Hermeneutika Sunda. Di luar wilayah, nagara merupakan kesatuan-kesatuan kampung Sunda yang berpindah-pindah akibat hidup dari ladang padi (huma).
Sudah barang tentu pengaruh istana sampai juga di wilayah-wilayah kampung Sunda. Seperti kita saksikan bahwa teks-teks tertulis Sunda lama masih disimpan oleh penduduk perkampungan di Jawa Barat.
Selain itu carita-carita pantun yang berisi mitos-mitos istana Sunda masih tersebar di kalangan rakyat perdesaan. Hanya artefak-artefak istana sudah sulit ditemukan di kalangan rakyat, misalnya batik istana Sunda, seni ukir istana Sunda, buku-buku Hindu-Buddha, tata adat istana Sunda, dan seni gamelan, karena masyarakat istana-istana Sunda itu memang tidak berlanjut sebagai lembaga sosial.
Pemandangan semacam itu masih terlihat pula ketika di Jawa Barat berdiri kerajaan-kerajaan Islam di Banten dan Cirebon. Kedua kerajaan itu juga terdiri dari wilayah negara atau negaragung saja. Wilayah mancanegara tidak dikenal. Apalagi bahasa di wilayah negara dan negaragung berbeda dengan bahasa masyarakat perdesaan Sunda.
Dengan demikian, semakin kuatlah kesan kita bahwa kebudayaan Sunda yang berkontinuitas itu hanya ada di kalangan masyarakat kampung. Berbeda dengan masyarakat Sunda di zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha, yang hubungan antara istana dan rakyat amat tipis, maka di zaman penyebaran agama Islam di Jawa Barat, agen-agen perubahan ke arah Islam benar-benar keluar masuk kampung-kampung Sunda. Hal ini tercermin dalam mitos-mitos rakyat terhadap penyebar Islam seperti Kian Santang.
Tidak mengherankan apabila di kalangan masyarakat pedesaan Sunda, kenangan terhadap zaman kebudayaan Hindunya amat tipis, bahkan tidak mengenal zaman seperti itu. Mereka percaya bahwa agama Islam itu sudah sejak awalnya ada di Sunda. Sunda itu Islam.
Inilah sebabnya cerita-cerita rakyat Sunda amat kuat kesan keislamannya. Meskipun dalam cerita-cerita rakyat dikenal nama-nama dewa dan batara yang kehindu-hinduan, namun tidak dalam pemahaman bahwa itu berdasarkan agama Hindu-Buddha, tetapi Sunda semata-mata, Kebudayaan Hindu-Buddha-Sunda itu hanya dikenal di kalangan intelektual moderennya. Di kalangan rakyat, zaman Hindu itu adalah Sunda.
Lenyapnya ingatan kolektif terhadap kebudayaan Hindu-Sunda, lebih mirip dengan yang terjadi di Sumatra. Di zaman kejawaan Hindu-Buddha di Sumatra dikenal kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Jambi, Melayu, dan Tulang Bawang. Akan tetapi, begitu kerajaan-kerajaan maritim itu lenyap, maka lenyap pulalah masyarakat pendukungnya dalam arti lembaga. Manusia-manusia Buddha-Sumatra tentu saja masih terus ada, tetapi kemudian bercampur lebur dalam masyarakat luar istana. Ini disebabkan kerajaan-kerajaan maritim yang besar itu tidak memerlukan ladang atau sawah untuk mendukung keberadaannya. Mereka hanya butuh pelabuhan dan tentara sewaan (pegawai tentara) yang mampu menjaga kedaulatan negara kota maritimnya.
Sedangkan hubungan mereka dengan rakyat kampung hanya terbatas pada jual-beli atau pajak berupa hasil kebun rempah-rempah dan produk hutan yang lain.
Seperti di Sunda, Islam juga tertanam kuat di kalangan rakyat Sumatra. Kenangan mereka terhadap kejayaan Jambi dan Sriwijaya tidak ada, kecuali di lingkungan golongan terpelajarnya yang mengenal penggalian sejarah sarjana-sarjana kolonial. Dewa-dewa juga dikenal di kalangan rakyat Sumatra, namun tetap harus dibaca sebagai hal yang bersifat Melayu dan bukan Hindu-Buddha.
Keadaan yang berbeda terjadi di kalangan rakyat Jawa. Di lingkungan rakyat, dan lebih lebih istana, amat kuat kenangan kolektif mereka atas budaya Hindu-Buddha sebelumnya. Mereka menyebutnya sebagai agomo Buddho (agama Buddha). Hal ini disebabkan sistem kerajaan sawah mereka yang konsentris sejak awal. Hal ini pun dipermudah karena masyarakat sawah itu menetap. Kontinuitas budaya rakyat dan istana terus berlangsung, bahkan di kalangan rakyat cenderung berbudaya istana.
Tradisi budaya istana di Jawa Barat amat tipis di kalangan rakyat. Sebaliknya tradisi budaya rakyat perladangan amat kuat. Tradisi ini diwariskan secara lisan. Tradisi budaya lisan selalu auditif. Karena sifatnya auditif maka budaya ini hanya berkembang di kelompok komunitas terbatas. Dengan demikian sifat auditif mengembangkan relasi kekeluargaan (gemeinschaft), harmoni, partisipasi, menekankan kekonkretan dalam bentuknya yang sederhana. Komunikasi lisan semacam itu cenderung menyampaikan pesan-pesan komunal melalui bentuk cerita-cerita.
Cerita-cerita rakyat di Jawa Barat amat kaya, isinya tentang mitos, siluman, legenda, kehidupan rakyat sehari-hari, dan dongeng binatang. Usaha mengumpulkan jenis-jenis cerita rakyat tersebut masih sedikit dilakukan, apalagi peneelaahan serius atas cerita-cerita tersebut. Mitos dan legenda lokal tentu bersifat Sunda. Akan tetapi, cerita binatang sering berasal dari luar. Sedangkan cerita kehidupan rakyat sehari-hari banyak bersifat lokal, namun juga sering diadaptasi dari luar, seperti dalam cerita-cerita Si Kabayan.
Yang menarik adalah cerita-cerita binatang yang khas Sunda, yakni Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet. Cerita binatang ini sering mengambil cerita-cerita luar, namun digarap dalam alam pikir masyarakat Sunda. Yang terkenal adalah cerita kedua binatang tersebut, kura-kura dan kera yang mirip dengan cerita-cerita kancil di Jawa, dalam tema mencuri hasil kebun pak tani. Dalam usaha mereka mencuri tanaman, kura-kura berhasil ditangkap pak tani.
Ketika kura-kura dikurung pak tani, monyet datang dan diberi tahu kura-kura bahwa dirinya dikurung agar tak lari untuk dikawinkan dengan putri pak tani yang cantik. Monyet bersedia bertukar tempat untuk menggantikan kura-kura di dalam kurungan. Pagi hari pak tani menjumpai kura-kura telah berganti monyet dan bermaksud untuk memotongnya. Mengetahui hal ini monyet pura-pura mati, dan pak tani membuang “mayat” monyet itu di sungai. Dengan begitu, monyet dan kura-kura pun bebas kembali.
Dalam cerita yang sama, monyet itu tidak bebas. Akan tetapi, berhasil dipotong pak tani dan disate. Dalam cerita Sunda justru kedua binatang itu selamat semua akibat kecerdikan keduanya. Kura-kura dan monyet dalam cerita rakyat Sunda merupakan pasangan antagonis. Keduanya selalu berselisih adu kecerdasan, namun selalu saling bertemu kembali. Kura-kura di pihak protagonis dan monyet pihak antagonis. Kura-kura simbol binatang air, monyet binatang gunung dan hutan. Apakah ini simbol budaya sawah Sunda melawan budaya ladang Sunda?
Cerita binatang Kuya Jeung Monyet (kura-kura dan monyet) disatukan dalam bentuk paradoks dalam tokoh Si Kabayan. Tokoh ini kesatuan watak kura-kura dan monyet, kecerdasan dan kebodohan. Cerdas bagai kuya dan bodoh bagai monyet. Si Kabayan bisa jadi simbol Sunda-air dan Sunda-gunung sekaligus serta menjadi jati diri Sunda secara budaya. Si Kabayan adalah tokoh bodoh-pintar. Terkadang begitu bodohnya dan di lain saat begitu cerdasnya.
Nanti kalau kita perhatikan, Kabayan sebagai tokoh bodoh selalu berhubungan dengan nilai-nilai rohaniah, sedangkan sebagai tokoh pintar selalu berhubungan dengan manusia lain. Kebodohan Kabayan adalah juga kebodohan kita secara rohani. Di hadapan nilai-nilai rohaniah-ketuhanan dan illahiah, Kabayan digambarkan begitu bodohnya sehingga tidak mampu membedakan antara bayangan dan kenyataan.
Cerita-cerita Si Kabayan bodoh tidak begitu banyak. Kebodohan Kabayan dalam cerita-cerita semacam itu sering keterlaluan. Misalnya Kabayan tak bisa membedakan antara mayat dan manusia hidup, antara bayangan langit dan permukaan tanah di sawah.
Kebodohan Kabayan yang demikian itu ternyata simbolik rohani. Kita ini bodoh spiritual. Dalam hal ini, Si Kabayan bukan hanya jati diri Sunda, tetapi jati diri manusia itu sendiri.
Kesundaan Si Kabayan ada pada latar lokalitasnya. Bahwa dalam masyarakat Sunda cara hidup sehari-harinya semacam itu, seperti pergi ke sawah, ke huma, ke hutan, pasang perangkap hewan, kenduri, haji, salat, pohon tertentu, mandi di kali, dan lain-lain. Akan tetapi dalam alam pikiran dan sikap spiritual benar-benar untuk semua manusia, hanya kadang terselip kosmologi Sunda lama. Sebagai cerita rakyat, Si Kabayan memang menggambarkan manusia di tanah Sunda. Tema dan pesan tetap universal.
Sebagai cerita rakyat Sunda Si Kabayan sejajar dengan Abu Nawas dan Koja Nasrudin. Orang sering menyejajarkan Si Kabayan dengan tokoh pintar-bodoh di suku-suku lain. Akan tetapi tokoh-tokoh cerita rakyat suku-suku lain itu tidak sekaya Si Kabayan. Cerita-cerita mereka kadang hanya diwakili satu cerita.
Cerita Si Pandir di Melayu, misalnya, meliputi beberapa cerita saja. Begitu pula Si Luncai dan Pak Senik, hanya ada satu dua ceritanya. Sedangkan Si Kabayan, kalau dikumpulkan bisa mencapai seratus cerita lebih. Coster-Wijaman bisa mengumpulkan 80 cerita di daerah Banten saja.
Sebagai cerita rakyat milik masyarakat Sunda, Si Kabayan memang istimewa, setara dengan pantun-pantun Sunda. Cerita-cerita itu amat dalam kalau ditafsirkan secara budaya. Cerita-cerita itu sama sekali bukan dongeng-dongeng seperti diperkirakan orang, namun tidak semua berkualitas demikian, sebab banyak para peniru Si Kabayan yang hanya melihat permukaan ceritanya.
Cerita-cerita yang demikian itu tidak serta merta membangkitkan adanya struktur-struktur berpikir simbolik. Sehingga banyak juga cerita-cerita Si Kabayan baru yang hanya tertarik pada segi humornya, namun tidak dilandasi oleh cara berpikir budayanya.
Mengapa istimewa?
Si Kabayan itu tokoh paradoks yang membangun cerita-cerita paradoks pula. Tokoh demikian itu jelas muncul dari pemikiran mendalam seorang (atau beberapa orang) intelektual. Bobot sastrawinya amat tinggi. Meskipun diceritakan secara lisan sehingga banyak ditambah dan dikurangi sesuai dengan perubahan masyarakatnya, inti pesannya masih amat jelas. Bahkan kita dapat merekonstruksi bentuk aslinya.
Permata itu tetap permata, meskipun berada di mulut kerbau. Dengan mudah kita dapat memilih mana Si Kabayan yang autentik dan mana Si Kabayan artifisial. Untuk menulis cerita Si Kabayan yang baru diperlukan dasar pengetahuan filsafat, bukan sekadar menulis cerita.
Cerita Si Kabayan itu memiliki dasar pandangan mistisisme dan laku mistis itu memang penuh paradoks. ***
* Jakob Sumardjo, Budayawan Sunda.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/01/seni-tradisi-si-kabayan-sebagai-cerita.html

Menumbuhkan dan Menggodok Tulisan


Menumbuhkan dan Menggodok Tulisan
Posted by PuJa on April 25, 2012
Bagus Takwin *
Kompas, 06 Jan 2008

PASANGAN dari masterpiece Mortimer J Adler, How to Read a Book: Cara Jitu Mencapai Puncak Tujuan Membaca ini bertutur tentang menulis. “Menulis tanpa guru”. Bisakah kita lakukan?
Frasa ini adalah judul karya Peter Elbow, profesor bahasa dan Direktur Program Menulis di University of Massachusetts. Dilihat dari judul dan isi buku itu, menulis tanpa guru bisa dilakukan. Buku ini tentang menulis dan bertujuan membantu orang untuk belajar menulis. Lebih jauh lagi, untuk menulis tanpa guru.
Menurut Elbow, yang pertama perlu dilakukan untuk bisa menulis adalah menulis. Tuliskan apa saja yang terlintas di benak kita. Ia memberi istilah “menulis bebas” untuk tindak menuangkan apa saja yang terlintas dalam benak melalui tulisan.
Menulis bebas adalah latihan yang bisa membantu untuk membiasakan diri menulis. Dalam latihan ini, orang disarankan untuk menuangkan, dalam bentuk tulisan, apa pun yang ia pikirkan, bahkan tentang ketidakmampuannya menulis. Saat diminta menulis apa pun yang terpikirkan selama 10 menit dan merasa buntu, orang boleh saja hanya menuliskan kebuntuannya, kebingungannya. Dalam menulis bebas, lupakan aturan, lupakan kesalahan. Tulis dan luapkan saja.
Menumbuhkan pesan
Tentu, menulis bebas bukan akhir dari belajar menulis. Elbow juga bicara tentang proses menulis. Ibarat tanaman, bibit-bibit menulis adalah apa yang dihasilkan dalam menulis bebas. Bibit tidak diharapkan jadi bibit selamanya, ia harus tumbuh sehingga potensi-potensinya teraktualisasi. Bibit diharapkan menjadi pohon yang rindang dan kokoh atau jadi perdu yang indah.
Begitu pula bibit tulisan, hasil menulis bebas perlu ditumbuhkan menjadi tulisan yang menggugah, mencerahkan, memberi kenikmatan bagi pembacanya. Menulis dalam tahap ini, menurut Elbow, bukan cara mengirim pesan, tetapi cara menumbuhkan pesan. Seperti pohon, dari batang tulisan yang sudah dihasilkan, ranting-ranting pesan bisa ditumbuhkan. Lalu daun-daun kata menghiasinya, rimbun dan berwarna.
Caranya: Baca ulang hasil tulisan itu, tegaskan topik utama, temukan bagian-bagian yang perlu dielaborasi atau dihilangkan, tentukan alinea-alinea yang perlu diperjelas, rumuskan kalimat-kalimat yang terang, serta pilih kata-kata yang mewakili pikiran dan perasaan.
Seperti apoteker atau koki, penulis perlu menggodok tulisannya. Mengutip Elbow (hal 51), “Pertumbuhan adalah proses yang sangat besar, evolusi seluruh organisme. Penulisan adalah proses yang lebih kecil: pendidihan, penyeduhan, peragian, pembelahan atom.” Dengan menggodok, penulis menggerakkan mesin penumbuh tulisan. Sebuah mesin butuh energi untuk bekerja. Namun, energi saja tidak memadai untuk menggodok, apalagi saat energi yang dimiliki terbatas.
Bagi Elbow, penggodokan lebih tepat dipahami sebagai interaksi antarmateri yang berbeda atau bertentangan. Penggodokan bisa sebagai interaksi antarmanusia, antaride, antara kata dan ide, antara keterlibatan dan perspektif, lebih rinci lagi interaksi antarmetafora, antarmode, antara penulis dan simbol-simbol di atas kertas.
Berbagai pikiran yang dipaparkan digodok dalam tulisan agar menghasilkan ide yang kuat. Ide-ide dipertemukan dan dibandingkan untuk menghasilkan tesis yang tegas. Beragam keterlibatan dan perspektif dipakai untuk menghasilkan paparan komprehensif. Lalu, berbagai metafora, mode penulisan, dan simbol diolah untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang bernas.
Rangkaian interaksi
Proses menulis bebas yang dikuti oleh upaya menumbuhkan dan menggodok dapat dilakukan tanpa guru, tetapi tidak tanpa interaksi dengan orang lain. Menulis adalah interaksi dan yang terpenting adalah interaksi antarmanusia sebab dari manusialah unsur-unsur tulisan paling penting berasal.
Menulis tanpa guru berarti menulis secara mandiri, tidak bergantung pada keberadaan guru sebagai pemberi materi, pembimbing, dan pemberi umpan balik. Namun, menulis tetaplah rangkaian interaksi, baik selama penulisan maupun sesudahnya. Pesan yang termuat dalam tulisan ditujukan kepada seseorang, kepada pembaca. Pesan itu juga merupakan tanggapan terhadap pesan-pesan yang pernah diterima penulis.
Keberadaan orang lain tetap menjadi syarat bagi penulisan; lebih tepatnya, berinteraksi dengan orang lain. Menulis secara mandiri bukan berarti menulis dalam situasi yang terisolasi. Alih-alih, menulis secara mandiri mensyaratkan keterbukaan terhadap dunia. Elbow menekankan pentingnya keterbukaan pada seorang penulis, berpikiran terbuka, berjiwa terbuka.
Apa yang dipaparkan oleh Elbow merupakan gugahan kepada pembacanya untuk menjadi penulis melalui latihan menulis secara mandiri. Menulis bebas merupakan usulan cara untuk mengatasi hambatan menulis. Dengan konsep “menulis bebas”, Elbow hendak membantu orang mengatasi keengganan dan ketakutan untuk menulis. Menulis sebagai kegiatan menumbuhkan merupakan cara Elbow membantu orang menghasilkan tulisan yang utuh dan jelas. Lalu menulis sebagai penggodokan menjadi petunjuk bagi kreasi tulisan yang matang, tuntas, dan bernas.
Menulis adalah keterampilan
Elbow secara tersirat tetapi jelas menempatkan tindak menulis sebagai cara belajar menulis. Ini mengingatkan kita kepada ungkapan filsuf dan penulis Iris Murdoch, “Hanya dengan mencintai kita dapat belajar mencintai.” Seperti mencintai, menulis adalah tindakan konkret dan praktis. Untuk dapat memiliki kemampuan itu, orang harus melakukannya. Hanya dengan menulislah kita dapat belajar menulis. Tanpa melakukannya, kita tak akan pernah mampu menulis dengan baik.
Menulis adalah keterampilan. Seperti keterampilan bersepeda, menyetir mobil, atau berenang, tanpa bersentuhan langsung dengan tindakan menulis, kita tak akan bisa menulis. Sebagai keterampilan, menulis bisa dipelajari. Setiap orang mampu menjadi penulis. Bisakah Anda naik sepeda tanpa pernah mencoba naik sepeda?
Kemampuan menulis tidak tergantung bakat. Orang tak berbakat pun bisa jadi penulis jika ia berlatih menulis. Bakat adalah urusan orang-orang terpilih, segelintir orang yang mendapat berkah. Adapun kemampuan menulis diperuntukkan bagi siapa saja, tak kenal kasta, status sosial-ekonomi, tak kenal suku dan agama, tak peduli pemimpin atau bawahan.
Penulis yang baik adalah orang yang mampu menulis dengan baik kapan saja, di mana saja, dan dalam kondisi apa pun. Penulis yang baik tidak hanya mengandalkan inspirasi atau ilham. Juga tidak hanya mengandalkan mood atau suasana hati. Ia menggunakan seluruh pikiran, perasaan, dan tindakan konkretnya saat menulis.
Penulis yang baik juga mampu merangsang dirinya untuk menciptakan suasana hati yang mendukungnya menulis. Ia mampu menyemangati dirinya agar dapat menulis di mana saja dan kapan saja. Ia mengolah pikiran, perasaan, dan tindakan serta dicurahkan dalam bentuk tulisan agar dapat disebarkan kepada orang lain. Penulis yang baik mau berbagi cerita dengan banyak orang lewat tulisannya. Ia adalah seorang dermawan yang mau berbagi pengetahuan dengan siapa saja.
Buku ini memberi petunjuk tentang cara berlatih menulis. Secara rinci dan lancar Elbow memaparkan langkah demi langkah dengan ilustrasi yang menarik. Perumpamaan-perumpamaan yang ia gunakan menjadi daya pikat tulisannya. Contoh-contoh konkret yang ia ambil dari pengalamannya sebagai penulis yang ketakutan dan frustrasi serta sebagai dosen menulis menambah terang petunjuk-petunjuk yang ia berikan. Buku yang matang ini merupakan contoh yang baik dari kegiatan menulis bebas yang ditumbuhkan dan digodok secara sungguh-sungguh. Elbow mengajar menulis dengan menulis tanpa guru.
* Bagus Takwin, Pengajar Fakultas Psikologi UI, Penulis
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/01/buku-menumbuhkan-dan-menggodok-tulisan.html

Mantra Penjinak Tubuh


Mantra Penjinak Tubuh
Posted by PuJa on April 25, 2012
Miming Ismail *
Seputar Indonesia, 6 Jan 2008

TUBUH dalam paham Platonisme selalu dipandang sebagai interior, imanen, dan cenderung mengeksklusi jiwa yang sempurna.
Tubuh dibayangkan sebagai dosa (pendapat),bukan idea (kebenaran) dari realitas yang sebenarnya.Segala hasrat dan keinginan dalam tubuh seakan cenderung menutupi kebenaran jiwa. Implikasi pandangan ini melihat tubuh hanya sebagai suplemen dari jiwa yang sesungguhnya.
Pandangan ini tentu memiliki dasar bahwa realitas di luar idea sebenarnya hanyalah pancaran dari idea atau sejenis mimesis/tiruan dari realitas yang sebenarnya. Oleh karenanya, dimensi interioritas dari tubuh cenderung menutup diri akan sensibilitas tubuh yang esoterik dan estetik. Estetika sesungguhnya dapat bermula dari suatu pengandaian tentang tubuh tadi.
Di zaman industri kesenian seperti sekarang ini,tubuh kerap menjadi objek dari estetika dan laku kesenian lain karena pengandaian akan interioritas dan eksterioritas tubuh yang memancarkan dimensi yang estetis tersebut. Namun, tak jarang ia kerap dipandang sebagai yang erotis. Objek-objek kesenian terkait dengan tubuh itu terlihat lewat komodifikasi tubuh dalam balutan seni tari, teater, fotografi,dan sinema.
Tubuh menjadi ikon sekaligus tanda di mana revelasi (pewahyuan) sekuler modernisme telah memberinya ruang bagi ekspresi dan sensibilitas tubuh sebagaimana dalam lukisan, sinema, dan fotografi. Dimensi yang estetis seakan memancar berbalut kegairahan dan kerentanan di satu sisi serta erotisme di sisi lain. Tubuh seakan terkoyak dalam etalase, interioritas, sensibilitas, dan eksterioritasnya terpenjara dalam dekapan komoditas dan praksis mimesis dalam karya seni.
Tubuh seakan dimanipulasi, dieksploitasi, dan diproduksi secara masif oleh industri kebudayaan. Padahal, dimensi esoterik dan eksterior dari tubuh sesungguhnya tidak hanya memuat suatu sensibilitas yang terpisah dari jiwa. Fenomena kemenubuhan manusia akan realitas sesungguhnya adalah cermin bahwa dimensi yang sensible dan intellegible itu hadir secara bersamaan dalam energi estetis yang kuat, sebagaimana dalam perjumpaan dan percintaan antaranak manusia, yang tak sekadar memuat hasrat, nafsu, melainkan mampu melampaui keduanya.
Tubuh yang terpenjara sesungguhnya gambaran dari imajinasi dan bayang ilusi manusia yang selalu haus dan terdekap oleh hasrat dan nafsu yang seketika mengalami penyempitan ruang dalam sensibilitasnya dalam tubuh dan jiwa yang lain yang juga hadir secara bersamaan. Maka, banalitas dari tubuh itu sangat terlihat ketika tubuh hanya dimaknai melulu dalam keterasingannya dari roh/jiwa.
Padahal, baik tubuh maupun jiwa, keduanya sesungguhnya tidak pernah terpisah maupun menjadi suplemen antara keduanya. Pada hari ini modus cenderung menempatkan tubuh sebagai suplemen, bahkan menempatkannya pada dimensi yang banal. Di antaranya tampil dalam erotisme gerak, vulgarisme fotografi, dan sinema.
Di sana seakan tak muncul sebuah kepolosan tubuh ketika berjumpa dengan tubuh-tubuh yang lain. Tubuh itu telah sedemikian rupa dipoles oleh pencitraan- pencitraan realitas yang berpusar pada komoditas sehingga tak ayal demistifikasi realitas pun terjadi dalam bentuk kontaminasi dan reifikasi atas tubuh.
Pendangkalan itu kian terlihat ketika tubuh sedemikian rupa dimodifikasi dan dimasifikasi dalam kebudayaan masa, terutama dalam sinema dan fotografi. Akhirnya pancaran jiwa dan tubuh kian pudar ditelan selubung ilusi dalam jejaring tanda dan realitas yang kadung menempatkan tubuh sebagai yang inferior dari jiwa atau sebaliknya.
Fenomena hedonisme, konsumerisme adalah gambaran paling gamblang di mana tubuh dalam kebudayaan industri semakin terasuki oleh imajinasi yang banal dalam lanskap komoditas industri kebudayaan. Pusaran teknis dan pemujaan atas sesuatu yang sangat praktis semakin menempatkan posisi tubuh ke dalam bentuk ateismenya yang paling taktis dalam zaman modern ini.
Tak ada kesenian yang sepi dari erotisme tubuh di zaman ini,kecuali kesunyian suara dalam teater dan pertunjukan yang kecil, yang masih menampilkan kekayaan tubuh dan jiwa, sebagaimana dalam lakon komedi Brech. Meski demikian, tak dapat ditampik bahwa dalam industri kebudayaan teknik dan montase dalam pencitraan tubuh secara masif menjadi satu-satunya yang paling revolusioner,walau menempatkan mistis ke arah pinggiran, bahkan cenderung pudar ditelan laju sejarah modernitas.
Modernitas, suatu zaman yang tak lagi memberi ruang kemungkinan bagi perjumpaan diri dan yang lain dalam tubuh-tubuh telanjang tanpa intensi, reifikasi, dan kontaminasi. Semuanya telah melebur menjadi labirin citra dan tanda sehingga jiwa-jiwa dalam tubuh itu melayang dalam kabut kegelapan mengarungi ruang dan waktu.
Semuanya sudah menjadi taburan agoni, ironi, dan absurditas pengalaman manusia dalam perjumpaan tubuh sehari-hari. Lanskap modernitas dalam era industri kebudayaan menjadi satusatunya mantra yang mampu menjinakkan tubuh. Meski jiwa-jiwa itu hilang menerawang ke suatu tempat, di mana alamatnya? Memang, dunia kita tak pernah lagi mengenalnya.
* Miming Ismail, Pegiat sastra dan filsafat pada PSIK Paramadina
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/01/esai-mantra-penjinak-tubuh.html

Kawinnya Bahasa dan Pikiran


Kawinnya Bahasa dan Pikiran
Posted by PuJa on April 25, 2012
Edy A Effendi *
Media Indonesia, 05 Jan 2008

MEMPERSOALKAN sastra yang bersandar pada peristiwa-peristiwa sejarah selalu menarik untuk dibincangkan. Sastra yang bersandar pada sejarah tak ubahnya mengungkap peristiwa-peristiwa kelam dalam realitas kekinian, yang dikemas dalam dunia fiksi.
Seperti kita tahu, alur cerita-cerita fiksi yang bersandar pada persoalan sejarah yang disodorkan ke wilayah publik setidak-tidaknya ikut serta merekonstruksi peristiwa sejarah yang terjadi di ranah publik.
Kritikus George Lukacs pernah mensinyalir, sastra sejarah harus mampu menghidupkan masa silam; masa silam harus dekat kepada realitas kita dan kita dapat menyelami kenyataan yang sebenarnya terjadi pada masa silam. Pernyataan George Lukacs mengundang beberapa pertanyaan mendasar dan layak dijawab.
Pertanyaan itu merujuk pada klaim, apakah teks-teks sejarah masih menyimpan ruang-ruang kosong, yang memiliki berbagai ragam dimensi kebenaran sehingga bisa dihibahkan dalam teks-teks fiksi? Kenapa hingga kini masih saja sering terdengar perdebatan antara pengetahuan sejarah dan realitas sejarah yang sejatinya memiliki perbedaan yang cukup jauh?
Penulisan sejarah dan peristiwa sejarah adalah dua hal yang berbeda.
Perihal posisi penulisan sejarah dan peristiwa sejarah, dan memeriksa kembali kegemparan perdebatan intelektual pada abad ke-19, menjadi sangat menarik jika kita mengikuti pikiran yang dikembangkan Immanuel Wallerstein.
Perdebatan intelektual pada abad itu menjurus pada keretakan epistemologis. Antara pendekatan nomotetik yang berdasarkan pada hukum-hukum obyektif dan universal yang dikembangkan dalam ilmu alam, dengan pendekatan idiosinkretik, yang disandarkan pada keunikan masing-masing kejadian sejarah.
Wallerstein, sejarawan dan Direktur Braudel Center Binghamtom University, berdiri pada posisi “tengah” di antara gejolak “pertikaian epistemologis” itu.
Hukum alam dan kreativitas
Wallerstein ingin memperlihatkan ketidakpastian terhadap ilmu-ilmu alam, akibat dari ketidakpuasan teori-teori ilmiah yang lebih tua. Ini untuk menawarkan solusi-solusi yang masuk akal terhadap kesulitan-kesulitan yang muncul ketika para ilmuwan mencoba memecahkan fenomena yang jauh lebih kompleks. Ia mencoba melakukan pembenaran terhadap statement-nya dengan mengambil garis pikiran yang dikembangkan Ilya Progogine.
Menurut ilmuwan terakhir itu, ketika dunia disemarakkan dengan berbagai gejolak, maka dibutuhkan penjelasan yang lebih kompleks: sebuah dunia yang harus dideskripsikan secara agak berbeda. Dari sinilah secara sadar, Wallerstein ingin menawarkan solusi bahwa ilmu-ilmu sosial dapat menjadi “kendaraan” untuk memecahkan masalah realitas yang ada.
Kondisi semacam ini tidak berarti menafikan asumsi-asumsi yang telah dikembangkan para ilmuwan terdahulu—termasuk di dalamnya Newton. Tetapi, dalam batas-batas tertentu, sistem-sistem yang dikembangkan para ilmuwan, seperti sistem-sistem waktu yang reversibel (yang dapat dibalikkan), hanyalah merepresentasikan suatu segmen realitas yang khusus dan terbatas.
Dengan demikian, ilmu-ilmu alam membutuhkan keselarasan hukum-hukum alam yang cocok dengan gagasan tentang peristiwa, tentang sesuatu yang baru, dan tentu tentang kreativitas.
Di sisi lain, Wallerstein juga berdiri di pihak “komunitas” idiosinkretik dengan menawarkan perangkat-perangkat ilmu sosial.
Pendekatan yang diterapkan Wallerstein mencoba merekomendasi pendekatan historis yang sering kali “tertinggal” ketika memunguti beberapa peristiwa sejarah. Tampaknya Wallerstein ingin memperlihatkan beberapa tradisi ilmu sosial yang mampu menawarkan peralatan-peralatan spesifik untuk membangun “ilmu sosial historis”, atau “ilmu sosial kritis”.
Sejarah dan sosial
Sebenarnya perkawinan dan kerja sama ilmu sejarah dan ilmu sosial baru terjadi saat memasuki dekade 1960-an. Para sejarawan mulai mempertimbangkan apakah beberapa generalisasi yang diusahakan oleh para ilmuwan sosial nomitetis mungkin tidak membantu menjelaskan pemahaman mereka mengenai masa lalu. Maka perubahan-perubahan fundamental di dalam disiplin ilmu sejarah terus-menerus mendapat dukungan dengan bantuan ilmu-ilmu sosial.
Dalam tataran ini, terlihat keinginan Wallerstein bahwa ada hubungan dialektis antara pengetahuan dan realitas. Pengetahuan yang dikonstruksikan dari realitas pada gilirannya memengaruhi realitas itu sendiri; dan perubahan di dalam realitas akan mampu memberi vibrasi dalam merekonstruksi pengetahuan.
Pada situasi seperti inilah, sebenarnya, sastrawan memiliki peran. Sebuah peran yang bisa memberikan kontribusi positif bagi penulisan sejarah dalam bentuk fiksi. Dan inilah yang antara lain diinginkan Asvi Warman Adam (Kompas, 22/12).
Salah satu fakta yang bisa diapungkan dalam konteks sastra sejarah adalah kehadiran sastrawan Nur Sutan Iskandar. Iskandar pada kurun tahun 1934 memberi bukti mungkinnya penulisan novel sejarah yang berpijak pada keselarasan antara bahasa dan pikiran, antara realitas teks sastra dan realitas teks sejarah.
Tengoklah novel Hulubalang Raja dan novel Mutiara yang ditulis Nur Sutan Iskandar. Atau novel AA Pandji Tisna, I Swasta Setahun di Bedahulu, yang cukup berhasil mengangkat zaman Udaya yang mengambil latar lokal Bali. Juga novel Zaman Gemilang dan Cincin Permata dari Kamboja yang ditulis Matu Mona tentang Raden Wijaya dan sekitar kisah awal kerajaan Majapahit. Bahkan, cerita yang disodorkan Matu Mona mampu menjadi pendorong rakyat untuk mengusir bala tentara Kublai Khan.
Pramoedya Ananta Toer juga bisa dicatat sebagai sastrawan yang mampu melampirkan teks-teks sejarah ke dalam teks-teks sastra. Anak Semua Bangsa dan Bumi Manusia adalah contoh penting di mana bahasa mampu berfungsi dalam mendefinisikan kehidupan dirinya dalam dua dunia; sastra dan sejarah.
Ternyata jawaban untuk konteks sastra sejarah terletak pada kemampuan mengelola bahasa dan pikiran yang selalu berdiri dalam dua petak yang berbeda. Fakta-fakta sejarah yang lurus harus dibangun atas keselarasan antara bahasa dan pikiran. Pada titik inilah sebagian sastrawan Indonesia yang menulis fiksi yang bersandar pada realitas sejarah tak cukup cermat mengawinkan kedua faktor penting itu.
* Edy A Effendi, Pengajar Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta; dan Direktur Eksekutif Lab Teater Syahid
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/01/sastra-sejarah-kawinnya-bahasa-dan.html

Wednesday, 25 April 2012

musikalisasi puisi "Gugur, karya : WS Rendra"