Pages

Tuesday, 31 January 2012

Sajak-Sajak Mashuri


Sajak-Sajak Mashuri
Posted by PuJa on August 12, 2008

TAK ADA W DI MADURA
: Ahmad Faishal
1
di balik tanah kapur, tanahmu
kutemukan terumbu, tetunas karang, muasal asal
juga garam yang asin dan terasa kekal
pun kutemukan kisah-kisah karang, puisi-puisi terjal
juga aksara yang berdebur laksana selaksa gelombang
melebur lebar—dileburkan angin, dilebarkan akal
kuingat desing peluru yang pernah kau tembakkan
dalam percakapan malam, ketika
kita sembah kegelapan
demi terang dan pencerahan
desing itu terus memburu
: “lebih baik berputih tulang
daripada berputih pandang”
peluru itu terus memburuku
aku pun berlari ke diri, berkaca, bahkan
menyeberangi kota-kota, selat-antara: selat Madura
membalik dusta di mata
menyulap bencana menjadi kencana
lalu mengerling pada desing pelurumu yang lain
desing yang menghias dedinding nafas
: “bila buruk muka, kenapa cermin yang dibelah…”
serasa berabad-abad, kita menahan nafas
meski serapah menggenang di darah
menggulung waktu
memanggil-manggil kenangan merah
untuk berdiwana di aorta, tapi…
kini kita termangu di kapal penyeberangan
mencoba menyeberangi dua luka yang saling berjauhan
antara maut dan kemaluan
antara nyali dan kehormatan
antara kawan dan lawan
di balik tanah kapur, tanahmu
kutemukan terumbu, tetunas karang, muasal asal
juga garam yang asin dan terasa kekal
sekekal perih ketika garam diparamkan ke luka
luka kita
yang disayat dengan pisau berkarat
dalam kesabaran abad
2
aku mengerti, Madura bukan tanah persegi
aku pun mengerti, kata kadang tak cukup untuk berbagi
di sini, ketika kau lafadkan abjad-abjad ke seberang kiblat
dan kutemukan pelafadan cacat…
—jawa kau eja jaba, kawin kau baca kabin
sawah kau teriakan sabah, warna dengan berna
bahkan nyawa kau geramkan dengan nyabe–
bahkan berpuluh-puluh kata yang menyimpan w berubah
ketika kau deraskan lewat lidah
lidahmu, melewati jeda
persimpangan suara yang menggugah dan menyisakan tanya
ketika aku tanya, kenapa kau lafadkan kata-kata itu dengan salah
kau pun berkata: “tak ada w di Madura’
mungkin kau tak sekedar ingin berbagi lewat kata
tapi juga lewat pandang mata, gerak,
juga setia pada jejak-jejak yang tertanam di sepanjang tanah
di sepanjang jalan, sejarah
mungkin kau telah mengerti, Madura bukan tanah persegi
sehingga tak rugi
meski telah begitu banyak memberi, hati
lewat berkah tanahmu, sungguh
tak aku temukan cacat di lafadmu,
karena b selalu melebur w
di jejak ranah pelafalanmu
sebagaimana nafas lautmu yang selalu mengubur
dendam dengan kematian
gelombang yang tak pernah berhenti mematri
karang sebagai pelabuhan…
3
di depan pusara
pusara yang diagungkan darah Madura
aku terbata
lelaki yang terbaring dari selatan ke utara
itu bangkit, di mata
kuburnya terbelah; terbukalah peta
kulihat titik-titik arah
kulihat begitu banyak noktah dan nama-nama
di silang silsilah
: namaku tertera di sana
Surabaya, 2007

HANTU RANJANG
Ada hantu di kolong ranjang,
yang setiap kali
Menyundut bokong, kau pun melantang
: ‘oh, laki-laki!’
Kau mungkin takut sebagaimana dongeng
Yang pernah dianyam oleh ibu-ibumu di lubukmu
: ceruk yang coreng-moreng
Bahwa hantu, bahwa laki-laki, punya seribu ranjau
Yang bisa membuatmu perih
Tapi kini kau tahu, hantu atau ‘laki’ bukan untuk ditakuti
Kau begitu mengimani: bahwa hantu, laki-laki, hanya punya batu
Tak lebih
Kini kau tahu, kau tak lagi Mariyem yang terpana
Oleng, tapi Mary yang mampu
Menenteng
Berpuluh lenguh..
Dan setiap kali, tamu membuka pintu
Mantramu pun bergemuruh, meluruhkan tubuh:
“Dari Semampir-Tanjung Perak,
ludruknya nobong
Silahkan mampir Om-om, Bapak-bapak,
kamarnya kosong…!”
Ah, tapi semuanya bukan hantu, hantu itu
Kini, sembunyi di bilikmu
Kau pun terus memandangnya, mengikuti ujung ekornya
Menemukan matanya,
Di gelap kamarmu
Sambil kau dekap boneka kelinci, bantal kumal
Juga bayangan gambar-gambar penyanyi, pedangdut
Yang menyepi di dinding, di setiap jengkal
Rumput
di dinding hatimu, kau pun melengking
“janganlah kau takut padaku, Hantu;
aku pelacur
yang saban malam begitu setia untuk mendengkur
memberi tempat pada nada-nada yang menjauh dari kubur
kubur kejantanan para tualang, lelaki kesepian…
bolehkah aku beri nama kau adam
: pacarku, yang pertama, yang telah direbut malam”
sehingga setiap kali hantu itu berdiam di kolong
ranjangmu, lalu menyundut bokongmu
kau pun kini berguman lirih: “o, laki-laki, laki-lakiku
yang sebapa-seibu…”
Kau pun mengaji sinyal lemah yang pernah jadi denah
Muasalmu melangkah:
mulai dari warung-warung remang, binaan babah
Petak-petak kamar bangunsari, bangunrejo, kremil
Bahkan dolly, atau bordil yang pernah menjadikanmu terpencil
Ke gerbong-gerbong sidotopo, di pinggir rel wonokromo
“di makam cino,
kembang kuning,
aku pun pernah membuat para sontoloyo
loyo, dan terkencing-kencing…”
pada ibu-ibumu yang kini tinggal abu
di ingatanmu, kau pun pernah berkata:
“semua yang datang, lalu mekangkang
lebih hina dari binatang —mereka hanyalah pejantan
yang butuh tanda tangan….”
mungkin kau butuh seorang laki-laki
yang bisa menjadi hantu di benakmu,
di pikiran sederhanamu sebagai perempuan, juga ibu
seorang yang bisa menggambar
kesunyian geletarmu, dalam balsam asap rokok,
bir,
sampai ayam berkokok
dan terdengar bibir bertakbir
sungguh laki-laki itu,
hantu, yang saban malam
tenggelam di kamarmu, dan menyundut bokongmu
dengan lisong dan batu…..
merenggutmu ke malam
ke waktu lain, yang membuatmu bisa berpaling
dari denting pelir, kelir takdir yang telah memarkirmu
ke pinggir segala pinggir…
Sidoarjo, 2007

SITI, AYO KAWIN LARI
Di ruang kelas, aku baca cerita
yang sering membuatku berpusing kepala
cerita yang mengingatkanku pada pacarku
yang kepalanya juga sering terancam pecah
cerita yang berpangkal pada cinta tak berpunya
dan berakhir dengan duka carita…
“syamsul bahri berlari-lari ketika siti melamun di tepi
perigi, sambil memuji diri sendiri
: akulah perempuan abadi!”
Aku lalu mengambil penghapus dari ruang guru
Membaca sebentar, meski berlembar-lembar
lalu dengan ringkas kupangkas
Nama yang selalu membuatku was-was
: Siti
pada Syamsul Bahri, aku sisakan hidupnya
karena aku tahu Marah Rusli pun menyisakan hidupnya
dalam cerita,
meski siti telah mati..
aku begitu kawatir, kalau Marah marah lewat guruku
dan menggantungku
di depan kelas, sambil terus menerus menjejaliku
dengan kertas-kertas, yang panjang
dan tak bisa aku ringkas
aku pun menulis begitu tergesa di kertas
: “Syamsul Bahri hanya mati sekali;
sekali nafas
terpangkas, sesudah itu impas, lunas…”
Siti telah mati,
aih, ternyata Syamsul Bahri pun mati
tapi kisahnya terus bersambungan di tv
aku pun menulis surat pada pacarku, Siti terkasih
yang kini sedang menunggu di kampung
: “mari kawin lari, Siti,
mumpung kisah belum ditulis bersambung
di televisi!”
Sidoarjo, 2007

SIHIR PASIR
: Saudara Tua
mampirlah ke rumahku di pesisir, di pinggir pantai, di pinggir segala pinggir, tempat pasir memarkir takdir sebagai pembunuh; pasir yang saban hari tak lelah menjadi injakan kaki dan menjadi muara segala tubuh melabuh: tubuh lautan yang tak pernah mengeluh tapi menyulap keluh dengan nyanyian-nyanyian panjang
debur gelombang
kau akan mendengar karang ditabuh ombak, tubuh ditabuh riuh kehendak, kau akan melihat jejak-jejak retak yang membuatku tetap tegak meski gelap menggelegak bagai anggur memabukkan dan menyentak labirin kerongkonganku, kau akan menyaksikan…
ada gerak nan liar yang terpendam dalam diam
mampirlah ke rumahku; kau akan mengerti apa makna dari tepi: sepi yang berapi, merapi, sepi yang membahasakan diri di pucuk buih; bahasa-bahasa ombak yang menuntun mata; katupkan ufuk dengan cakrawala; rapatkan hiruk dengan rahasia
biduk asa yang tak berhenti untuk kembali
kau akan rasakan zenit meyentuh langit; doa-doa yang berdesing mengakrabi hening; doa putih, doa hitam; kau juga akan mendengar hingar doa yang memberi arus pada pasir, memberi ruh pada pasir, agar tubuh tak lagi berlabuh dalam gerak, tapi rubuh dan retak
lengan-lengan panjang yang merenda sejuta harapan
mampirlah ke rumahku, kau akan tahu, begitu banyak kanak belajar membunuh; mereka menghambur-hamburkan pasir di udara, dengan hembusan nafas yang telah terampas mata; mereka membuat patung-patung pasir gaib sebagai malaikat pencabut nyawa yang menyelinap di balik tangkapan indera
begitu dupa dibakar, doa dihentakkan dan bibir melaju: fuh! pasir-pasir akan beterbangan memintal korban, memburu setiap lubang yang terhampar di sepanjang kulit, bangkitlah kesakitan; pasir pun akan merasuki dan menyerbu darah dengan kekuatan-kekuatan langit; langit hitam —sampai terdengar suara-suara ratap, pantai pun senyap, matahari gelap, awan berhenti, angin menepi; semuanya menyingkir untuk memberi jalan bagi kematian mengukir akhir
akhir penyaksian
kau akan tahu, bagaimana pasir-pasir itu menyatu darah, mengalir lewat aorta; arus hidup akan membawa bulir-bulir pasir lurus ke jantung yang berdegup, asal-akhir takdir Sang Hidup; pasir itu akan terus berasus ke ruas nafas, hingga hidup pun redup; jantung pun akan memberi jalan pada Sang Maut untuk bertitah: “berhentilah langkah, berhentilah darah!”
mampirlah ke rumahku di pesisir, kau akan mengerti, begitu banyak kanak bermain-main takdir, mainkan sihir-sihir pasir, rapalkan mantra-mantra pengusir; mereka berlarian di pantai-pantai tak beratap; membangun bukit-bukit dan patung pasir dari jasad yang telah lumat; jasad yang telah disepuh dengan doa-doa merah; doa kaum teraniaya, blap!
gelap!
Surabaya, 2007


BUNTING
istriku mengandung laut,
laut yang mencederai otakku dengan karang,
karang yang mengutip cakrawala
cakrawala dan kapal-kapal yang berlalu lalang
bahkan tenggelam dan terbakar di selat
selat yang selalu membuat istriku kumat
: “beri aku 1000 rakaat!”
aku pun ingat rabiah —budak yang menapak
lewat batu, ke tangga penuh jejak wahyu
lalu sering kumat dengan mengganyang ribuan
rakaat dalam sekali malam dan sekali sikat
tapi istriku? mungkin ia sedang ngidam
begadang, malam-malam, di atas sajadah coklat
sambil mulutnya komat-kamit, penuh magnit
menarik, menombak dengan tepat
pikiranku yang sedang panik, dalam tidur
agar dengkurku tak lagi menjadi partitur
mimpi
mimpi tentang orang-orang yang terkubur
: kakek, nenek, buyut, canggah, wareng, gantung siwur…
aku bermimpi, tapi istriku sungguh telah mengandung
laut dan kumat dengan komat-kamit ribuan rakaat
dengan doa-doa panjang nan keramat
membanting harga diriku, dari lelap dan bisu
tentang asal-asul, tentang laut, tanah, udara, angin, api
juga sepi
ah, sungguhkah istriku bunting karena angin
laut, yang membawa berjuta plankton
ke ruang kosong… sungguhkah istriku hamil
karena gigil malam yang membugilinya diam-diam
di pantai, ketika lantai tak tepat lagi menjadi ranjang
tempat berbagi
ah, sungguhkah….
istriku mengandung laut
laut yang sering membuatku tercerabut
dari waktu; aih!
Sidoarjo, 2007


PERSETUBUHAN ANGKA
1
aku ingin kau memberiku sembilan mawar, yang kau bungkus
dalam tiga kardus, ditali dengan tiga temali,
lalu kau letakkan berjajar
menghadap pintu
: untukku, untukmu dan untuk rindu
mari bersulang, o daging yang rawan harapan
selanjutnya, aku ingin kau suguhkan tujuh cawan anggur, yang
kau tuang
dari lima botol, lalu kau sorongkan ke bibirku
lalu kau menghitung satu, tiga, lima dan tujuh
aku pun mabuk tubuh, mabuk gemuruh
aku akan menujumu dalam satu altar,
satu meja
sebagaimana satu kehendak yang labuhkan hasrat ke tubuhmu:
aku akan menujumu dengan dua kursi yang disatukan tubuh
sebagaimana kakiku dua, tanganku, mata, telinga, lubang hidung,
telinga…
juga rambut, juga sejumput rambut,
bahkan kelaminku yang selalu ingin bersatu maut,
mautmu
2
aku ingin kau memberiku tujuh
: bumi, langit, surga, neraka, juga hari
dalam sebuah nampan sesaji
dalam sebuah mimpi
aku ingin kau tahu, aku juga menginginkan lima
pasaran-hari, juga ihwal soal sudut bintang
yang selalu kau mimpikan dalam tidurmu
seperti igauanku yang tak pernah
lelah untuk terus memanggil namamu, seirama
dengan lubang
sembilan, membungkus tubuhku dengan mawarmu
: aku ingin kita bersatu
3
aku ingin menghidupi angka-angka di tubuhku
dengan angka di tubuhmu
1+1= setubuh…
Sidoarjo, 2007

KERJA KEPENYAIRAN. TENTANG MASA LALU PENYAIR TARDJI


KERJA KEPENYAIRAN. TENTANG MASA LALU PENYAIR TARDJI
Posted by PuJa on August 12, 2008
Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Seorang lelaki muda, selanjutnya kita panggil saja dengan sebutan Tardji, berkeinginan menulis puisi. Sebelumnya memang, ia pernah membaca puisi, sebuah puisi yang dianggapnya bagus. Yang tidak menggurui, tidak menyodorkan “seruan provokatif”, tidak menghardik. Tapi justru dengan itu, ia tergugah. Ia sependapat dengan kata-kata, terkesima dengan kalimat-kalimat, dan ia ingin menuliskannya kembali. Tentu saja, ia menulis dengan kata-kata yang lain, menyajikan dalam kalimat-kalimat yang berbeda. Di dalam anggapannya, menulis puisi adalah kerja yang unik, menantang, menggiurkan, sekaligus penuh kerahasiaan.
Seorang Tardji lalu lebih banyak lagi membaca puisi, tidak hanya puisi yang dikultuskan “berwibawa”. Dari sekian banyak puisi yang dibaca, memang ada yang benar-benar berwibawa, seperti yang pertama kali ia baca. Selebihnya, ia rasa sebaiknya dimasukkan dalam kumpulan puisi remaja. Kadangkala terlalu ngotot dengan keinginan, kadangkala terlalu manja dengan kata-kata, sepertinya kata-kata adalah batu bata yang dapat dipakai memebangun rumah model apa saja, kapan saja. Seorang Tardji sedemikian menghormati kata-kata, dan memang, ia meyakini, “penyair adalah orang yang hidup dalam dunia kata-kata”.
Meskipun kadangkala, ia berbeda pendapat dengan banyak orang tentang berwibawa tidaknya sebuah puisi, Tardji sepenuhnya sadar, ada hal-hal lain di luar puisi yang lebih menentukan penerimaan pembaca. Entah anggapan kritikus sastra, entah terlalu seringnya dibicarakan, entah terlalu seringnya dibacakan, entah alasan penciptaannya yang mencengangkan. Mungkin juga, disebabkan penyairnya menjalani hidup teramat puitis.
Misalnya gemar bertindak tidak sopan, melanggar aturan, jarang mandi -jarang makan, tidak beristri -beristri terlalu banyak, atau karena si penulis puisi telah “berhasil” dibidang lain, yang tidak berhubungan sama sekali dengan dunia kepenyairan. Tardji tetap yakin dengan aparat kritiknya sendiri. Puisi berwibawa karena kata-kata, karena kalimat-kalimat, karena teks yang utuh dan sekaligus memancar memasuki lorong-lorong imajinasi. Pernah Tardji mengenal seorang penulis puisi yang dengan getol mengkesankan bahwa puisinya adalah simbol pemberontakan terhadap kekuasaan yang korup, pelurusan terhadap nilai-nilai moral, pembelaan kepentingan kaum bawah… Tardji hanya tersenyum, setelah dibaca, puisi tersebut akan lebih berharga bila ditulis sebagai artikel kemanusiaan. Memang berapologi, memberi paradigma kepenyairan itu penting, tapi akan menjadi tidak penting/berharga bila tidak dibarengi kualitas puisi itu sendiri.
Puisi, bagaimanapun juga, adalah sebuah sikap. Dan sebuah sikap, tentu saja, memihak kaum tertentu, meminggirkan kaum yang lain. Karena itu, beban puisi tidaklah ringan. Puisi mesti menyelinap di antara sekian banyak kepentingan, sekaligus terbebas dari sekian banyak kegiatan penyingkiran. Puisi bukanlah tentara, yang katanya demi “negara boleh melenyapkan nyawa manusia”, dan puisi bukanlah pelacur, yang setelah dibayar, boleh tenteng kemana saja. Tapi, puisi mesti bersikap sebagai tentara, mesti loyal seperti halnya pelacur, atau puisi mesti cerdas sebagaimana cendekia, bahkan bijak seperti Budha.
Kesadaran Penciptaan
Tardji, karena sedemian ingin tidak hanya berpuisi, tapi juga “turut berpendapat” dalam lalu-lintas perpuisian. Maka, Tarji belajar kepada para penyair yang telah berhasil. Belajar kepada para penyair tanah air, dan dibantu sedikit kemampuan berbahasa asing, Tardji belajar kepada penyair luar tanah air.
Hasilnya, Tardji menyakini, setidaknya ada tiga kesadaraan yang dibutuhkan seorang penyair yang ingin berhasil. Pertama, kesadaran untuk membaca realitas/ masyarakat, kedua, membaca puisi (atau karya sastra bentuk lain) dari pengarang sebelumnya, ketiga, membaca puisi (atau karya sastra bentuk lain) dari pengarang sejaman.
Membaca realitas membawa pengertian turut menyelami persoalan yang menggelibat di masyarakat. Agar puisi tidak mengada-ada. Sejauh yang Tardji baca, puisi berwibawa senantiasa dekat dengan kondisi masyarakat. Dan, itu tidak mungkin terwujud bila tidak ada pemahaman terhadap persoalan masyarakat. Secara lebih lebar, masyarakat dapat diartikan sebagai tradisi, perilaku aktual, dan kebudayaan. Dari tanah air, Tardji melihat ada puisi yang lahir dari persilangan antara masyarakat bawah, kerajaan, dan penjajahan.
Puisi demikian berciri organis (rima dan bentuk yang ketat), mendayu-dayu seakan rindu kebebasan, gelisah yang terpendam, romantik disebabkan tidak setuju dengan yang terjadi pada kekinian. Juga semasa riuh-rendah kemerdekaan, puisi yang berhasil dan kebal jaman adalah yang berciri menggebu-gebu, menyeruak-sengak, merenggut perhatian, jujur, serta penuh kejutan. Puisi seperti itu, memang hanya milik jamannya, sehingga justru dapat dibaca sebagai pelajaran melihat jaman. Misalkan masyarakat berbentuk jam, maka puisi adalah ritmis tik-taknya.
Misalkan masyarakat adalah botol, puisi adalah perih lukanya. Yang patut dicermati, hubungan masyarakat dengan puisi bukanlah hubungan logis, misalnya antara perempuan di dunia nyata dengan perempuan di dalam cermin. Ada sublimasi dalam puisi.
Demikian juga yang terjadi di luar tanah air, kondisi masyarakat berpengaruh kuat dalam teks puisi. Mungkin tidak dalam kesengajaan penciptaan, sebab konon ada yang meyakini puisi adalah gerak bawah sadar, tapi seorang penyair berwibawa selalu peka dan responsif dengan masyarakat. Munculnya aliran-aliran dalam puisi, atau karya sastra, membuktikan kepekaan pengarang dalam menyelami realitas. Tahun 1914, Andre Breton mendeklarasikan Manifesto Surealisme yang pertama. Saat itu dunia barat, Eropa dan Amerika, sedang tekun-tekunnya mendewakan rasionalitas, surealisme menemukan bentuknya melalui karya sastra “dada”.
Yaitu, pemberontakan menyeluruh terhadap rasionalitas, tanpa kompromi. Teks puisi menjalin kode-kode bahasa estetiknya dengan logika yang “tak masuk akal”, misalnya pemakaian logika tumbuhan, hewan, atau juga kartu domino. Surealisme pertama, dada, dapat digambarkan sebagai perahu nelayan yang berlayar dari pasar ke pasar. Tahun 1936, Andre Breton mendeklarasikan Manifesto Surealisme yang ketiga. Saat itu dunia barat baru saja dilanda PD I, surealisme menemukan bentuk melalui psikoanalisa. Teks puisi mendistribusikan kode-kodenya memakai logika mimpi.
Tardji, pada dasarnya, memang seorang petualang. Gemar mengarung luas pengetahuan. Tardji menelusuri sejarah puisi hingga pada bentuk-bentuk yang paling primitif. Tardji menemukan mantera. Puisi anonim, tanpa pengarang tunggal, dan karenanya dekat dengan masyarakat, menjadi milik masyarakat. Kata-kata dalam mantera menyadarkan Tardji, bahwa kata dalam puisi tidak harus memiliki beban pengertian, yang lebih penting adalah bangunan teks yang mistis.
Lalu Tardji singgah pada Chairil, memperoleh pelajaran tentang puisi simbolis. Ke-aku-an yang utama. Sublimasi diri yang menukik dan menggema. Bahwa puisi tidak harus, kalau bisa jangan, berkompromi dengan bahasa masyarakat. Benar, bahasa puisi lahir dari masyarakat, tapi setelah jatuh ke tangan penyair, bahasa seakan direnggut dari realitas. Menjadi milik diri.
Selain itu, Tardji juga bergaul dengan puisi para penyair lain yang sempat tercatat. Mengakrapinya. Mencocok-cocokkan penilaiannya dengan penilaian kritikus. Kepada puisi yang dipuja, ia mencari sebab dipuja. Kepada puisi yang terhina, ia cari tahu kenapa terhina.
Terhadap puisi luar tanah air, Tardji amat terkesima dengan bentuk-bentuk puisi Perancis. Tardji kagum pada puisi Baudelaire yang tajam, berjiwa, tragik, dan memabukan. Kata-kata dalam puisi ibarat “hutan lambang” yang tak ‘kan selesai dirambahi. Tardji berdecak kagum pada puisi Mallarme yang hitam, hitam, dan hitam. Puisi, begitulah Tardji saksikan, sederajat dengan agama. Puisi hanya untuk diyakini. Tetapi, Tardji paling takjub pada puisi Rimbaud yang mistis, magis, terbebas dari segala ikatan. Puisi hadir untuk puisi itu sendiri. Puisi yang apabila dibaca seperti menyedot, membetot, memecah-mecah, menghamburkan jiwa ke “daerah tak dikenal”.
Tardji menemukan titik singgung antara puisi penyair Perancis dengan puisi penyair tanah air. Antara Chairil dengan Baudelaire, antara Mahatmanto dengan Mallarme, antara Rimbaud dengan masyarakat pemantera. Mungkin mereka tidak saling kenal, tidak saling membaca karya, tapi ekspresi estetik dan kejiwaan, mendekatkan puisi mereka.
Sebagai seorang yang ingin menjadi penyair, Tardji tidak sendirian. Ada banyak penyair dan calon penyair yang hidup sejaman. Mereka pesaing Tardji. Mereka dapat mengangkat dan menegakkan serta menjatuhkan Tardji.
Mereka dan Tardji sama-sama membaca sejarah puisi, hidup pada jaman yang sama, pada realitas dan persoalan masyarakat yang sama. Sangat mungkin, mereka dan Tardji melahirkan bentuk puisi yang sama. Dan, tentu saja, itu kejadian yang tidak diharapkan. Karenanya Tardji, mungkin juga mereka, membaca puisi dan kecenderungan puisi para penyair sejaman. Untuk meyakini diri, “saya berbeda” atau “puisi saya paling puitis”.
Naluri Kepenyairan
Membaca puisi, seberapa pun banyaknya, tentu saja, belum bisa diakui sebagai penyair. Syarat mutlak menjadi penyair adalah puisi. Memang, banyak orang menyebut seseorang penyair tapi belum pernah membaca puisi ciptaannya. Atau, ada seseorang yang sudah mengaku penyair padahal belum menulis lebih dari 50 puisi, bahkan mungkin baru menulis kurang dari 5 puisi. Tardji ingin, dan ini yang sedang diusahakannya, diakui sebagai penyair karena intens menulis puisi.
Berdasarkan yang Tardji baca, seorang penyair setidaknya dihinggapi dua sifat; peka dan bebal. Seorang penyair, Tardji tahu itu, menulis puisi karena kepekaannya. Panca indra penyair, yang ini Tardji juga tahu, tidak mudah tersentuh oleh gejala dan peristiwa yang ada. Penyair nyaris imun dari gerak realitas. Hanya saja pada momen-momen tertentu, ini yang Tardji belum bisa, penyair lebih peduli dari siapa pun.
Pada saat-saat seperti itu, penyair menyatakan bahwa setiap peristiwa, mekipun remeh, mewakili peristiwa yang lebih besar. Istilah Jawanya, kesatuan antara jagad cilik dengan jagad gedhe. Misalnya, suatu ketika seorang penyair melihat ada kuburan China yang diterangi cahaya bulan, sang penyair takjub dan berhenti lama. Ia lekas pulang dan menulis puisi,…bulan di atas kuburan.
Kepekaan penyair adalah keunikan yang terberi, ada dengan sendirinya. Tetapi Tardji, berdasarkan pada yang telah dibaca, meyakini bahwa kepekaan inspirasi puisi bisa dimiliki dangan cara dipelajari dan dibiasakan.
Maka sejak saat itu, Tardji menjalani kepenyairan. Pada mulanya ia pura-pura kurang nafsu makan karena belum dapat inspirasi, pura-pura belum mengantuk meski sudah pukul tiga pagi, pura-pura terkejut melihat daun jatuh, pura-pura cuek dalam menyeberangi jalan. Akhirnya, Tardji benar-benar sering kurang nafsu makan meski lapar, benar-benar tidak bisa tidur sampai pagi setiap hari, benar-benar sering terkejut tiap melihat daun jatuh, benar-benar sering terserempet kendaraan bila menyeberang.
Tardji pun menulis puisi. Tiap hari. Selagi masih bisa, kegiatan-kegiatan di luar menulis puisi dihindari. Setiap hari, hidup hanya menulis puisi. Satu, dua, tiga belas,…, berpuluh puisi Tardji tulis. Tiap beberapa puisi selesai, cepat ia kirim ke media massa. Demikian seterusnya. Tak henti-henti, sebab penyair adalah orang yang bebal.
Lima tahun sesudahnya, ada beberapa puisi Tardji dimuat. Bahkan, ada disertakan dalam antologi puisi regional. Tardji pun siap-siap mengeluarkan “kredo” bagi kepenyairannya. Kredo yang dapat menjembatani antara puisi dengan kritik, dapat membangun hubungan antara puisi dengan masyarakat. Maka pada suatu malam yang riang, pada suatu pesta perjamuan, diantara banyak wartawan, undangan, kerabat, dan teman dekat; Tardji berteriak “akulah penyair!”
________Surabaya

Agama, Bunuh Diri Hakekat dan Habermas


Agama, Bunuh Diri Hakekat dan Habermas
Posted by PuJa on August 11, 2008
(Pentas Teater Keluarga ‘Alibi’)
Mashuri

Seorang lelaki di panggung, dengan setting: satu kursi, satu ranjang, sejumlah pakaian di gantungan, sekat ruang putih, juga tabir hitam. Ia berbicara sendiri, tentang siapa dan apa saja yang menyangkut soal korupsi. Ia beralibi tentang sikapnya, tentang pilihan hidupnya, tentang hubungan-hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya, juga keluarga. Ia berbicara tentang harapan-harapan, frustasi, mimpi, juga ideologi.

Kesan itu mungkin yang terasa pertama-tama dari pementasan Alibi oleh Teater Keluarga di Fakultas Sastra Universitas Airlangga, 6 November 2004, Minggu Pon. Sepertinya tak ada yang menarik dari pementasan ini, kecuali nama-nama pekerja teater di belakangnya: aktor tunggal berbakat F Azis Manna, sutradara idealis S Jai, serta pemusik eksperimental Widi Asy’ari.
Tetapi Benarkah demikian?
Kegilaan! Mungkin itu kata-kata yang pertama harus diungkapkan terhadap penggarapan teater ini. Bukan hanya karena si tokoh berbicara sendiri dan identik dengan ‘orang gila’, bukan pula karena durasinya yang na’udzubillah sampai tiga jam lebih, tetapi kegilaan yang terjadi bermuara pada cakupan gagasan yang ingin disampaikan, eksplorasi, kualitas pementasan serta proses yang dilalui dalam penggarapan dengan konsep ‘teater terbuka’ dan berdarah-darah.
Kegilaan ini menjadi penting, manakala segala ihwal kesadaran tak bisa ditundukkan dalam sistem relasi biasa, tetapi melingkar sendiri, dalam ruang-ruang sendiri, pribadi, pada ego. Kegilaan ini menjadi penting, ketika realitas di luar diri demikian menakutkan atau memabukkan, lalu ditarik ke muasalnya: alam persepsi, kemudian dilontarkan kembali seperti peluru yang keluar dari satu moncong senjata. Lompatan pikiran, retak kesadaran diri dan lingkungan, dan gugatan yang muncul dari ego sebagai sentral meski tak utuh dalam satu peran dan satu bahasa, seakan menjadi universalitas bahasa yang absah untuk memberi jawab, menolak, mungkin berdialektik, dengan realitas di luar diri yang berhumbalang, mencekam, centang perenang dan berpretensi untuk merenggut kedirian dalam lingkup kebiasaan dan sistem yang ada.
Kebiasaan memang riskan pada kesadaran. Realitas kadang tak bisa dinalar dengan idealitas. Dalam kebiasaan, ada alur yang linear dari nalar untuk tak menolak dari rangkaian impulse diri, sehingga tak ada perlawanan yang berarti, meski pada hakekatnya kebiasaan itu ditempias dari hasrat hakiki manusia, kemurnian. Di titik ini, konsepsi korupsi yang menjadi landasan dari pentas Alibi mendapatkan penekanannya. Ternyata, ada dosa sosial yang telah mengakar dalam bangun kesadaran kolektif, yang terlegitimasi dan mendapatkan pengabsahan dari khalayak. Ada anggapan, karena sebuah tindakan keliru adalah kebiasaan, dosa terampuni dengan sendirinya.
Dan agama, seperti jauh tertinggal di belakang, jika ia hanya berkutat pada masalah dogma, serta verbalisasi hukum tentang halal haram dan teks-teks yang ada hanya alat justifikasi pada tindakan formal. Ia tak mampu menjangkau nalar samar yang terpatri di balik sebuah kebiasaan, karena hukum lebih dipahami dalam kerigidannya pada penafsiran teks-teks agama dalam sebuah tafsir kering. Tak ada refleksi, introspeksi dan mengembalikan nalar pada muasal dari kehadiran agama, yang menyejarah; terkait dengan bumi, bermain dalam lingkar fenomena, tetapi mampu menjadi dasar kesadaran diri.
Pada titik inilah, kehadiran agama seharusnya bukan hanya dipahami dalam konteks profetiknya, tetapi pada konteks mistiknya. Agama yang mempribadi dan bisa menjadi tumpuan dari segala tindakan, dan tanggung jawab diri. Agama yang tidak hanya berpretensi mengubah dunia, dan kadang terjebak di dalamnya, tetapi agama yang dimulai dari diri, kesadaran alter ego dan wujud hakiki dari manusia.***
Alibi bukan tarik ulur antara profetik dan mistik dalam pemikiran Muhammad Iqbal; bukan lubang hitam tanpa tawaran; bulan sumur tanpa dasar yang memusar dalam suara-suara asing, gaung asing dan lorong tak berkesudahan; bukan pula mimpi-mimpi asing yang tak berdasar; ular-ular yang menghuni ketaksadaran; Alibi berkutat di arus kesadaran dan ketaksadaran: saat wujud rumpang dan ruh raib Alibi adalah wilayah kemungkinan dan sipapaun diajak ke dalamnya untuk mencecapi hikmat dari eksistensi, sekaligus meniadakannya, ketika diri diancam dan harus menenggelamkan, menggelapkan dan mewujuidkan angan di wilayah yang paling ekstrim. Sebuah titik yang bisa menjelma awal manusia sekaligus mengakhirinya.
Di sinilah jalan alternatif merebut kebenaran! Tapi bukan jalan kelima dalam perspektif Al Ghazali, bukan jalan nabi-nabi, bukan Al Hallaj. Keberanan memang bukan di sana dan di sini, tapi segala lingkaran berawal dari satu titik. Inilah pilar penegak keadilan; kerna keadilan bukan terberi dan harus disergap dan diwujudkan; ia tidak turun dari langit, tapi harus ditumbuhkan dari bumi, dari diri. Inilah kekuatan kelima dari kontrol sosial, setelah trias politika Montesque dan pers; kekuatan yang tidak hanya tegak menjulang—tapi rapuh dalam kontradiksi; seperti wujud realitas yang berhumbalang!
Inilah inti antroposentrisme; tapi bukan manusia dalam wujud insan kamil, bukan jiwa terbelah schizofresnia; kerak retak dan utuh tak lebih dari persepsi dan Alibi menabrakan keduanya dalam dimensi yang tak dibayangkan siapapun; seperti seorang paranoid yang kehilangan kepercayaan, seperti ‘tuhan’ yang ingin menegakkan keadilan.
Dan Alibi tidak berhenti seperti induk ayam yang ingin mengendalikan anak-anaknya dari ancaman elang; Alibi bukan pertapaan sepi. Alibi seperti tubuh yang melindungi ruh dari tangan maut; inilah perjuangan sejati manusia untuk mengukuhkan jati dirinya sebagai manusia, meski dengan diri tercambuk, dengan diri lantak: karena inilah bunuh diri sejati. Sebuah bunuh diri tuk satu keyakinan.
Bunuh diri ‘Alibi’ melampaui bunuh diri kreatif karena ‘hukuman dewa-dewa’ seperti Camus; ini bunuh diri hakekat! Kerna takdir, nasib; bukan sekedar pemberian; ia hujan yang bisa ditolak atau dibiarkan; atau kedua-duanya; kerna pilihan ada pada manusia. Dan perubahan, bukan terberi; ia harus dinistakan dari tangan, direnggutkan dan diwujudkan. Perubahan bukan pemberian langit tapi diperjuangkan!
Tapi pertaruhan Alibi bukan nilai-nilai, bukan slogan, bukan baik benar; Alibi ingin bertaruh tentang ruang-ruang sendiri, ruang-ruang sosial yang diasingkan; ruang yang bermain dalam wilayah ambang; pertaruhannya bukan pada lingkar di luar atau di dalam; bukan agama, bukan dogma; bukan ‘pikiran-pikiran’ yang membatasi; bukan segalanya yang menafikan kebebasan; Alibi ingin membuka tali, mengajak samadi dari gemuruh tak tentu; menguliti kulit kepalsuan; Alibi lebih dari ‘alat pengaman’ dari cengkeraman tangan-tangan liar, tangan yang tidak hanya ‘membunuh’ tapi memabukkan dengan sejuta godaan!***
Gugatan yang dilakukan dalam pementasan ini memberi semacam tawaran, tentang sebuah percakapan tak selesai —menggantung di aras kesadaran— apalagi arah dari pementasan ini pada ‘estetika terlibat’ tapi bukan dalam pengertian estetika terlibat Marxis secara sosial, tetapi ‘terlibat’ dalam pengertian pementasan, dengan melibatkan penonton dalam ruang dialog, ikut bermain, dan sama-sama ikut merasakan meski sebenarnya juga diasingkan dari ruang sehari-hari, memasuki ruang pribadi Tokoh Lelaki.
Dari sinilah, ada pembalikan dari konsepsi estetika Berthold Brecht. Brecht menggunakan alienation effect (efek pengasingan) untuk berdialog dengan penonton. Dengan teknik itu, Brecht ‘mengasingkan’ penonton dari pertunjukan teater, sehingga mencegah munculnya identifikasi emosional dari penonton terhadap pertunjukan. Menurutnya, jika dibiarkan adanya identifikasi emosional dari penonton, bisa mematikan daya kritis mereka. Hal itu karena pertunjukan teater bukan sebuah kesatuan organik yang menghipnotis penonton selama berlangsungnya pertunjukan. Teater adalah produk panggung dan menyisakan teror, serta pikiran-pikiran yang menghantu. Ini jelas bermula dari konsep teater epik.
Karena Alibi bukan teater epik, bahkan terkesan anti-epik dari narasi yang dibangun, penonton tidak dituntun dalam identifikasi, melainkan diajak terlibat dalam satu ruang dan satu waktu; yakni WIBP (Waktu Indonesia Bagian Panggung). Jika Tokoh Lelaki berbicara, ia tak sekedar berbicara sendiri, pada dirinya sendiri, tetapi ia berbicara pada penonton, pada audiens. Bahkan, audiens diajak untuk ikut bermain, ruang melebar, menembus batas antara aktor dan penonton. Mungkin konsep teater etnik menjadi acuan dalam hal ini, dengan berusaha mendialogkan konsep teater realis (dengan monolog) dengan etnis yang kuat di pelisanan dan memunculkan konsep teater baru.
Pada sisi inilah, ada indikasi bahwa teater ini yang bisa dinyatakan sebagai sebuah ‘bahasa’, sebagai tindak komunikasi. Asumsi ini bermula dari konsepsi Juergen Habermas, bahwa teater sebagai ‘tindakan rasional yang bertujuan’; dan dipahami sebagai tindakan praksis, sebagai strategi kritik yang bersifat emansipatorik. Ada pola simbolik interaksi yang bermula dari realitas tapi tak berhenti. Adalah cukup penting jika tidak menyamakan ‘sistem yang mengatur dirinya sendiri yang tujuannya menyingkirkan kesadaran anggota yang bersatu dengannya’ dengan dunia kehidupan: dunia kesadaran dan aksi komunikatif. Ada upaya peninjauan struktur (khususnya bahasa dan aksi komunikatif, serta kesadaran moral) dunia kehidupan.
Alibi yang membuka ruang dialog dengan audiens, meski sebenarnya digagas dalam bentuk monolog, memang sebagai upaya dari komunikasi itu, lewat bahasa yang tak hanya merangkum identitas kultural, tetapi disertai dengan berbagai persoalan. Habermas sendiri menemukan sifat dasar bahasa sebagai sarana komunikasi terdapat dalam pengertian bahwa bahwa pembicara maupun pendengar suatu percakapan secara apriori berminat untuk saling memahami. Saling memahami berarti ada kesepakatan di antara kedua pihak; kesepakatan mensyaratkan adanya pengenalan antar-subjektif terhadap keabsahan terhadap topik dan gagasan. Dalam proses ini, masing-masing pihak bercermin tentang posisi mereka dalam komunikasi.
Pada titik ini, struktur ‘bahasa’ menempati sifatnya yang paling cerdas: hermeneutik. Ia memanggil pihak lain untuk terlibat dalam interpretasi pada setiap tataran, dan dari sini meningkatkan pemahaman diri setiap peserta akibat interaksi. Pada titik inilah tujuan bahasa sebenarnya, sehingga agar aspek komunikatif berhasil harus ada konsensus. Jika komunikasi tak berhasil, dalam arti tak ada kesalingpemahaman antar-subjek, bahasa diidentifikasi sedang mengalami pembusukan. Bahasa didiagnosa: sedang sakit.
Dan simbol wayang, juga tema korupsi, bisa menjadi konsensus dalam ‘tindak komunikasi’ itu dalam bingkai kultur dan sosial dari pentas Alibi, meski ada pula bahasa lainnya yang juga bisa dianggap sebagai konsensus, bahkan untuk judul Alibi sendiri. Tetapi jika ‘percakapan’ yang ditawarkan Alibi tak dipahami, ini bisa diandaikan ada sesuatu yang kronis dalam proses dialektika. Namun, jika melihat pementasannya yang komunikatif dan nyaris realis, maka yang diandaikan tak mampu mengenali dan memahami konsensus ‘bahasa’ itu, sangat mungkin datang dari audiens; ada indikasi bahwa audiens sudah terbiasa dengan ‘dosa sosial’ dan ‘penyakit kultur’, sehingga mengganggapnya sebagai sebuah kebiasaan, sebuah budaya.
Pada titik ini, mungkin yang paling tepat adalah mengkomunikasikan antara realitas di luar diri dan di dalam diri; dalam sebuah alur kejernihan. Aspek spiritualitas dari agama menjadi tak terelakan, karena di batas ini, ada sebuah tawaran terkait dengan ‘sangkan paran’ dan mengenalkan manusia pada muasalnya, yang berbicara tentang kesejatian. Pada titik inilah ekspresi estetik dan religiusitas bertemu, untuk membongkar kesadaran yang dipalsukan. (*)

ZAMAN MATI BAGI PUISI


ZAMAN MATI BAGI PUISI
Posted by PuJa on August 11, 2008
Hamdy Salad*

Perdebatan sastra Indonesia mutakhir banyak dipenuhi oleh -kutuk dan pujian- yang tertuju pada dunia fiksi. Sehingga nyaris tak terdengar gema keindahan yang mengatasnamakan puisi. Bahkan tak juga menampak adanya kosa-kosa pergerakan yang memiliki aras pada kedalaman jiwa puisi. Seakan zaman menolak kehadiran puisi. Atau justru sebaliknya, puisi itu sendiri yang bunuh diri dan mati?
Sementara dunia fiksi, sebutan pengganti ragam novel dan cerita pendek, begitu cepat membengkak dalam ruang literasi terkini. Poster-poster kesusastraan, rehal pustaka dan toko buku dipenuhi karya fiksi yang ditulis oleh remaja dan orang dewasa. Para sastrawan bernama atau mereka yang sekedar bertahan untuk memenuhi pasar permintaan. Terselip juga di dalamnya, kumpulan buku-buku fiksi tanpa halaman biografi, yang sengaja mengaburkan identitas pengarangnya, lelaki atau perempuan, nama asli atau samaran. Dan tampaknya, sebagian besar dari pembacanya, tak mau direcoki persoalan serupa. Apalagi bertanya, buku-buku fiksi manakah yang dapat mengantarkan sisi intlektualitasnya ke dalam ruang apresiasi seni dan kesusastraan. Atau mungkinkah, makna fiksi itu sendiri yang telah berubah. Menjadi sarana personifikasi di tengah zaman yang resah.
Berbalik dengan fenomena di atas, bentuk-bentuk sosialisasi dan penyebaran puisi hanya bergerak dalam ruang domistik. Begitu rentan dan getas. Beragam jenis dan bentuk puisi, tak pernah lagi disentuh dan dibaca sebagai sumber inspirasi budaya. Akibatnya, ratusan ribu karya tersuruk dalam ruang hampa. Seolah puisi hanya dicipta dan disusun sebagai tumpukan benda-benda mati. Nir-dokumen yang dapat diperiksa kembali sebagai bentuk lain dari kehidupan, perjuangan dan doa manusia. Apalagi untuk menoreh prasasti dalam jiwa raga sang empunya.
Dengan sendirinya, proses-proses penciptaan dan perwujudan puisi hanya bergerak di dunia ambang. Sebagian berjalan dan menemukan nasibnya dalam ruang yang lebih menyenangkan dari kehidupan penyairnya. Sebagian besar lainya mengawang, menjadi tak terpisahkan dengan buih dan gelombang zaman. Para penyair dari berbagai tingkat budaya, popularitas dan legitimasinya, meski terus bertambah dan melimpah, tidak memiliki magnitasi untuk menarik wilayah publik ke dalam diri, ke dalam dunia puisi. Selebihnya, hanya mengembara antara ada dan tiada. Kelimpungan untuk menemu eksistensi. Memuji dan mengutuk diri sendiri di tengah realitas budaya, politik dan ekonomi yang mengelilingi.
Aku Lirik, Engkau dan Kalian
Di sisi lain, proses-proses penciptaan puisi sebagai media komunikasi estetis untuk menjangkau publik tanpa batas, telah mengisyaratkan adanya konsistensi dan intensitas yang sejajar dengan aras humanitas, keyakinan dan keteguhan penyairnya. Karena itu, meski puisi yang dihasilkan tidak mampu menjalin relasi dengan dunia di sekitarnya, setidaknya masih dapat dijalankan sebagai media ekspresi yang berperan dalam entitas budaya. Sehingga aktivitas penumpukan puisi, baik dalam konteks zaman maupun sejarah kesusastraan, tidak sepenuhnya menjelma benda-benda mati.
Sebagai tertera dalam teks-teks puisi yang dihasilkan, eksistensi penyair tak bisa dilenyapkan begitu saja dari ruang estetik, dari lingkaran zaman dan sejarah kesusastraan. Sebab penyair telah digaris untuk senantiasa menjelajahi dunia dengan sikap kritis, tanpa belenggu, untuk menggali dan menemu nilai-nilai baru dengan penuh kemerdekaan. Akan tetapi, seperti jiwa “aku lirik” yang dihidupi dalam puisi, nafas penyair seringkali terlepas dari ikatan budaya. Menyendiri, tanpa pretensi untuk mengisi ruang komunikasi. Ruang estetika yang dapat dijelmakan sebagai tempat untuk mengadu, membangun dan menyusun kekuatan spiritual yang lebih sempurna. Maka itu, ketika dunia fisik sang penyair telah kehilangan maknanya, hilang juga peluang kulturalnya untuk memasuki dunia lain yang bersifat metafisik.
Metamorfosa aku penyair dan aku lirik sebagai “kita, kami, engkau, dan kalian”, terasa kian berat untuk memanggul beban secara bersama. Dan beban berat itu tidak saja menimpa nasib aku lirik, tetapi juga menyuruk pada kenyataan-kenyataan sosial di luarnya. Rumah-rumah kenyataan, peristiwa dan kejadian, seolah beku dan membatu. Negeri dan pulau-pulau, jalan raya, stasiun, halte dan kota-kota juga ditimpa oleh bencana yang tidak mudah untuk diatasi secara bersama.
Sementara kini, eksistensi penyair dalam kehidupan sehari-hari, mengalami juga kenyataan yang sama. Terasa berat untuk menghindar, apalagi mengatasi, keterpurukan budaya, hiruk pikuk politik dan ekonomi, juga musibah dan bencana yang terus berganti. Hinga betapapun beratnya, penyair juga mesti menanggul beban yang menumpuk di dalam dan di luar dirinya. Ikut berlarat dalam rasa sakit dan nyeri yang mencengkeram jiwa bangsa di zaman ini. Namun begitu, adakah kisah sebuah zaman, betapa pun kuasanya, yang mampu memerintah penyair dan puisi untuk bunuh diri?
Melalui abstraksi di atas, setidaknya masih dapat ditunjuk bahwa penyair bukanlah sekedar – manusia yang dapat menyusun kata-kata indah. Tetapi mesti dihayati sebagai – bentuk perjuangan estetisme, untuk menemukan nilai dan makna budaya yang seharusnya ada tetapi tidak pernah menampakkan diri dalam kehidupan nyata. Dan perjuangan itu, senantiasa menuntut adanya sikap yang dapat dijadikan tauladan kemanusiaan. Landasan eksistensi kepenyairan semacam, telah menampak sebagai bagian penting dari awal pertumbuhan budaya Melayu, dengan berbagai tokoh (pujangga) yang telah disepakati validitasnya dalam sejarah kesusastraan Indonesia.
Chairil, Sejarah dan Puisi
Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, jejak penyair dan puisi tak bisa dilenyapkan dari pertumbuhannya. Oleh karenanya, walau tidak selalu tumbuh bersama, keberhasilan penyair dan puisi akan senantiasa terberi. Untuk kemudian memperoleh kehormatan berulangkali, dihidup-hidupkan, dipuji dan diagungkan sepanjang zaman.
Seperti tersurat dalam berbagai media, buku dan catatan-catatan sastra, itu semua terjadi karena puisi telah teruji dan berhasil mengembangkan kemampuan estetiknya untuk menjalin komunikasi dengan dunia tanpa batas. Jika puisi yang dilahirkan dapat berjalan melalui asumsi-asumsi publik, lembaga sastra, teori dan kritik; atau dapat memenuhi permintaan pasar ekonomi, sosial maupun politik dan ideologi, dengan sendirinya, puisi itu akan dijaga dan dipertahankan oleh jangkauan sejarah dan komunitasnya. Begitu barangkali, segala yang telah dirupa Chairil Anwar dalam sejarah puisi Indonesia.
Namun itu tidaklah semua. Seorang penyair bisa saja lenyap dan tidak dikenal sampai akhir. Tapi tetap saja memiliki peluang sama untuk terus berlaga, mencari dan menahan eksistensi diri bersamaan dengan identitas-identitas kultural yang telah berhasil digapai. Sehingga narasi biografis penyair dan proses penciptaannya, masih dapat diturunkan unsur-unsur kreatifnya melalui logika individual, sosial maupun relegius yang menjadi landasan utamanya.
Hal serupa dapat juga ditilik sebagai kesungguhan pena penyair. Meski zaman telah mati, dan puisi hanya dianggap semata mimpi, penyair tak mesti menyerah. Tak juga berpaling dari usaha untuk memperjuangkan wacana estetik maupun kultural yang dibentang sejarah, dalam tubuh dan jiwa kesusastraan. Sebab, ketika landasan-landasan utama termaksud melenyap di tengah pergeseran dan perubahan zaman, lenyap juga eksistensi penyair dari porosnya. Maka itu, perlu kiranya bagi penyair untuk berkaca setiap waktu. Merenungi dan mempertegas kembali berbagai kemungkinan kreatif yang berhubungan dengan visi kepenyairannya.
Rupa-rupa Keindahan Kata
Dan memang, jiwa penyair telah ditakdir untuk selalu menggali dan menemu –rupa-rupa keindahan kata – yang dianggap baru. Pada setiap zaman, setiap ruang dan waktu, selalu saja ada sekelompok penyair yang menolak atau menerima terhadap segala bentuk estetika yang dikisah tubuhkan oleh angkatan sebelumnya.
Sejak Armin Pane dan kemudian Chairil membebaskan diri dari jeratan konvensi estetik para pendahulunya, sejarah sastra Indonesia dipenuhi oleh berbagai pencarian tentang bentuk bebas dari puisi. Perjuangan itu juga yang kemudian ditempuh oleh Sutardji, dan kemudian beberapa penyair setelahnya. Akan halnya perdebatan-perdebatan yang berlangsung di dalamnya, wacana dan teks-teks puisi tumbuh meninggi melebihi dunianya sendiri. Bahkan meluas dan mampu mendorong lahirnya – bentuk dan jenis puisi baru. Popularitas puisi mbeling, puisi rupa, puisi humor, puisi gelap, merupakan bagian tak terpisahkan.
Tapi kini, setelah orde reformasi bergulir di tanah air ini, pergerakan puisi nyaris berhenti. Identifikasi penyair tak bisa lagi dipertemukan dalam ruang politik, metafisikal maupun eksistensial. Posisi penyair menjadi goyah, sekaligus juga dipaksa untuk tampil dengan gagah. Dan puisi, rupa-rupa keindahan kata yang mengelilingi, tak juga bisa dicegah untuk bercampur dengan histeria masa, kecemasan dan hiburan maya. Adakah itu semua menjadi tanda, bahwa zaman telah mati bagi puisi. Sehingga bentuk kisah dan cerita menjadi berjaya, memenuhi ruang fiksi dalam sejarah kesusastraan Indonesia mutakhir. **
*) Hamdy Salad, penyair, dosen Creative Writing Fakultas bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta.

Cerpen "Jl. P. Diponegoro No. 46"


Jl. P. Diponegoro No. 46
Posted by PuJa on August 11, 2008
AS Sumbawi

Bagaimana jika anda mengetahui rahasia orang lain? Apa yang akan anda lakukan? Barangkali kita akan sepandangan bilamana untuk sementara mendiamkannya sembari menunggu apa yang akan terjadi. Nasehatku, kita tak boleh sembarangan mengungkapkannya. Akan menjadi sesuatu sia-sia bila kita begitu saja mengobralnya. Tidak memperdulikan waktu yang tepat. Karena bagaimanapun juga rahasia tersebut bisa menjadi sesuatu sangat berharga. Bisa menjadi sebuah senjata untuk merobohkan lawan, jika kebetulan rahasia tersebut mengungkapkan keburukan. Namun, jika kebaikan yang termuat di dalamnya, akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri tentunya bila diungkapkan dengan ceroboh. Suatu hal yang selalu kucamkan dalam benakku bahwa hanya orang-orang yang pandai memanfaatkan kesempatan, beruntung di dunia ini.
Ngomong-ngomong soal rahasia, sekarang ini aku mengetahui rahasia seseorang. Dia bernama HeniSaraswati. Dia tinggal di rumah nomor 46 di jalan P. Diponegoro. Setiap minggu sekali aku mengantar surat kepadanya. Dari tulisan yang tertera di bagian belakang amplop, aku tahu bahwa selama ini dia saling berkirim surat dengan seorang perempuan bernama Dewi Hartati yang tinggal diluar kota. Entah, siapa dia? Namun, dilihat dari intensitas kiriman surat tersebut, sepertinya mereka berdua sangat akrab. Bersahabat.
Pada awalnya, perjumpaanku dengan Nyonya Heni berlangsung sebentar, seperti layaknya sebagai tukang pos dengan si penerima surat. Aku segera berlalu setelah menyerahkan surat yang kemudian dibalas dengan ucapan terima kasih yang meluncur dari bibirnya memerah. Namun setelah beberapa kali berjumpa, ada sesuatu yang muncul dalam diriku tanpa kusadari menyuruh memperhati kan dirinya lebih dari biasanya. Dari apa-apa yang kutangkap, aku pun menyimpulkan bahwa Nyonya Heni berumur ant-ara 35 sampai 40 tahun. Masih terlihat cantik dan sehat. Sikap dan dandanannya menunjukkan bahwa dia perempuan yang matang. Sungguh menawan.
Setiap kali mengantar surat kepadanya, aku tak pernah melihat seorang laki-laki di rumahnya, kecuali seorang pembantu perempuan yang sudah tua. Dari situ aku pun menduga-duga status dirinya. Perawan tua? Janda? Istri? Atau perempuan yang disebut ‘mandiri’?
Suatu hari Nyonya Heni memanggil ketika aku hendak memasuki halaman rumahnya.
“Adakah surat buat saya?” katanya tersenyum.
“Memang ada, Nyonya,” balasku sembari mengambil surat dari tas.
Aku kemudian melangkah menuju beranda di mana Nyonya Heni sudah berdiri di sana. Kualihkan pandang mata-ku dari sorot matanya.
“Ini sudah saya tunggu,” katanya setelah menerima surat dari tanganku. Kami saling tersenyum. Sekali lagi kualihkan pandang mataku dari sorot matanya yang menawan itu.
“Silahkan duduk. Barangkali segelas minuman dingin akan membantu menghapus dahaga anda,” katanya.
Di beranda kami pun duduk di kursi berhadapan. Kulihat di meja sebuah majalah terbuka menunjukkan halaman cerpen berjudul ‘Impian Sasa’ dengan gambar seorang perempuan berjalan menuju kemegahan kota. Sebentar kemudian dia membuka amplop. Gerak-geriknya membikin aku terus mengawasinya. Dari halaman rumahnya yang rindang kurasakan udara berhembus segar.
“Sebentar,” katanya kemudian melangkah ke dalam.
Kuperhatikan dia sampai melewati pintu. Kemudian kualihkan perhatianku pada bangunan rumahnya yang berukuran sedang namun tertata indah. Pilihan warna keramik pada dinding rumah yang serasi dengan aneka bunga dalam pot yang segar terawat. Juga keramik pada lantainya. Sungguh orang lain akan kerasan dengan keadaan rumahnya.
Seorang pembantu perempuan datang dengan segelas minuman dingin berwarna merah dan setoples makanan ringan. “Silahkan,” katanya kemudian berlalu kembali. Segera kuteguk minuman itu.
Sudah lima belas menit aku menunggu, namun Nyonya Heni tak keluar-keluar juga. Dalam gelisah aku sesekali berdiri melihat ke arah dalam rumahnya. Sementara di dalam tas masih ada puluhan surat harus kusampaikan pada alamatnya masing-masing.
Tiba-tiba aku melihat pembantu itu berjalan dari samping rumah. Tangannya membawa tas dari plastik.
“Mbok…,” panggilku.
“Mbok mau ke mana?”
“Mau pergi ke pasar. Ada apa, Tuan?”
“Nyonya kok tidak keluar-keluar, Mbok. Ke mana, ya?”
“Nggak tahu, Tuan. Barangkali ada di kamarnya.”
Sejenak dengan gelisah kuarahkan mataku ke bagian dalam rumah.
“Kalau begitu saya pamit dulu, Mbok. Bilang pada Nyonya bahwa saya harus segera mengantar surat.”
“Baiklah, Tuan,” katanya. Aku bergegas pergi. **
Hari besoknya aku mengantar surat yang beralamat di jalan P. Diponegoro No. 50. Ketika lewat di depan rumah Nyonya Heni kuarahkan pandang mataku mencarinya. Tetapi, dia tak nampak duduk membaca di beranda. Pintu rumahnya pun tertutup. Maka aku pun terus saja. Sebenarnya kalau dia ada, aku ingin mampir dan mengucapkan terima kasih atas segelas minuman dingin yang diberikannya.**
Sudah tiga minggu ini tak ada surat yang harus kuantar untuk Nyonya Heni. Padahal biasanya setiap minggu pasti ada sebuah surat untuknya dari Dewi Hartati. Meskipun begitu, setiap hari aku selalu lewat di depan rumahnya. Aku ingin bertemu dengannya. Pertemuan terakhir dengannya membuat diriku merasa tak enak. Di samping itu, aku merasa kangen juga tak melihat dirinya. Namun seperti hari-hari sebelumnya, hari itu pun pintu rumahnya dalam keadaan tertutup. Dan tentu saja aku kecewa.
Hampir tiap malam aku selalu terbayang akan dirinya. Membuatku gelisah. Pernah suatu kali aku mencoba mengetuk pintu rumahnya, namun yng kudapatkan hanya desau angin yang berhembus dari halaman rumahnya. Apa yang tengah terjadi dengan dirinya? Apakah dia sedang pergi jauh? pikirku sendiri. **
Siang itu aku lewat di jalan P. Diponegoro. Di tas, ada sebuah surat yang harus kuantarkan ke alamat jalan ini. Bukan untuk Nyonya Heni, melainkan untuk seseorang yang tinggal di rumah dengan nomor 99. Ketika mendekati ru-mah Nyonya Heni, kuarahkan mataku ke rumah itu. Tentu saja aku tersontak gembira saat menemukan Nyonya Heni duduk di beranda sembari membaca. Tanpa kusadari dada-ku berdebar-debar. Mendadak aku menjadi ragu untuk bertamu. Kemudian saat lewat di gerbang halaman rumahnya, aku memutuskan terus berlalu dengan purapura tidak tahu. Tiba-tiba kudengar panggilan.
“Pak Abdul.” Aku menoleh. Kulihat Nyonya Heni tersenyum menatapku.Segera kubelokkan sepeda motor dinasku menghampirinya.
“Pak Abdul, adakah surat buat saya?” katanya sembari tersenyum. Meskipun aku tahu takada surat untuknya di dalam tasku, aku tetap pura-pura mencarinya.
“Sudah lama sahabat saya tidak mengirim surat buat saya?” katanya dengan tersenyum. Kurasakan gerak-gerikku kikuk sekali. Dadaku pun berdebar kencang. Nyonya Heni begitu menawan.
“Maaf Nyonya. Tidak ada,” kataku. Kulihat di wajahnya melintas kecewa.
“Baiklah kalau begitu. Tapi, barangkali istirahat sebentar sembari menikmati segelas minuman dingin akan membantu menghapus rasa haus dan lelah di siang yang gerah ini,” katanya.
“Ehm, terima kasih. O, ya, saya minta maaf, kemarin lalu pulang tanpa pamit kepada Nyonya.”
“Ah, tidak. Sebenarnya saya yang harus minta maaf. Membuat anda terlalu lama menunggu,” katanya tersenyum. Sejenak kami terdiam.
“O, silahkan duduk,” katanya. Sebentar kemudian kami sudah duduk berhadapan.
“Bagaimana kabar hari ini, Pak Abdul,” katanya.
“Baik-baik saja. Nyonya?”
“Beginilah.”
Sejenak kami terdiam. Ketika mata kami saling berpandangan, aku segera menundukkannya. Aku tak sanggup menatapnya. Matanya kurasakan seakan menerobos dadaku. Hatiku berdebar-debar.
“Anak dan istri?” katanya.
“Tak ada, Nyonya. Istri saya meninggal tanpa memberikan seorang anak kepada saya.”
“O, maaf.”
“Tak apa, Nyonya.” Kami terdiam.
“Nyonya sendiri?”
“Ehm, kurang lebih sama seperti anda. Kami bercerai,” katanya. Kami kembali terdiam. Sebentar kemudian, Si Mbok keluar dengan membawa suguhan.
Sembari menikmati suguhan, kami mengadakan percakapan ringan. Tidak kusangka Nyonya Heni hampir meng-etahui semua yang menjadi bahan percakapan. Mulai masalah pilkada sampai masalah laga final Liga Champion antara AC Milan & Liverpool yang akan digelar seminggu lagi.
Setelah kurasakan waktu telah cukup dan segelas minumanku telah habis, aku pamit melanjutkan perjalanan. **
Keesokan harinya, aku sengaja lewat di jalan P. Diponegoro, meskipun tak ada surat yang harus kuantarkan ke sana. Kulihat Nyonya Heni duduk di beranda seperti kemarin. Ketika lewat di depan rumahnya, aku pura-pura tak melihatnya. Dan tentu saja aku gembira ketika dia memanggilku kembali. Aku segera menghampiri nya.
Seperti kemarin, ia kembali menanyakan apakah ada surat untuk dirinya. Namun karena memang tak ada, aku pun menjawab apa adanya. Kemudian ia menawariku untuk duduk-duduk sebentar. Aku menolaknya.
“Terima kasih, Nyonya. Mungkin lain kali. Hari ini banyak sekali surat yang harus diantarkan,” kataku beralasan.
“Baiklah kalau begitu.”
“Mari,” kataku kemudian melangkah pergi.
“Pak Abdul,” panggilnya tiba-tiba. “Saya bisa titip sesu-atu?”—“Apa itu, Nyonya?” —-“Surat. Untuk di-pos-kan,”
katanya. Aku pun mengiyakannya. **
Sore hari tiba di rumah, aku segera membaca surat Nyonya Heni yang akan dikirimkan kepada Dewi Hartati itu. Memang ini bukan pertama kali aku membaca surat orang. Beberapa minggu yang lalu, aku membaca surat Dewi Hartati sebelum kuantarkan kepada Nyonya Heni yang isinya mengungkapkan bahwa Dewi Hartati menyarankan Nyonya Heni untuk menikah lagi. Kalau kesulitan mendapat calon, aku punya kenalan yang kukira pantas untukmu, begitu tulis Dewi Hartati.
Sebenarnya aku sependapat dengan Dewi Hartati mengenai Nyonya Heni. Di samping itu, menurutku umur perempuan seumuran Nyonya Heni adalah masanya bagi perempuan terlihat sangat cantik-cantiknya. Kecantikan yang matang. Berbeda pesonanya dengan seumuran gadis-gadis yang baru mekar. Dan Nyonya Heni adalah salah satu buktinya. Aku kerap membayangkn bagaimana jika bersanding dengannya dipelaminan. Dan seterusnya. Selain itu, apakah kita akan terus sendirian sampai ajal menjemput? Tanpa se-orang istri atau suami? Jujur aku tak menginginkan itu terjadi. Seperti yang kini sedang kualami. Andaikata Nyonya Heni mau menikah denganku, saling menemani hingga maut memisahkan kami, kemungkinan besar aku bahagia. **
Aku tersentak ketika membaca alinea ketiga isi surat Nyonya Heni itu. Seakan bermimpi kuulang-ulang memba-canya. Baris itu adalah:
Ti, beberapa minggu ini aku merasa telah menemukan seseorang yang akan menjadi teman hidupku. Dia adalah orang yang selalu mengantarkan surat-suratmu. Kuharap kau jangan tertawa jika kukatakan bahwa dia adalah seorang tukang pos. Tapi, bukankah tukang pos merupakan pekerjaan yang mulia? Aku teringat pada film ‘The Post-man’ yang dibintangi Kevin Costner. Kita pernah menontonnya bersama, bukan? Film itu menceritakan bagaimana seorang tukang pos sangat dicintai oleh semua orang. Ya, memang itu hanya sebuah film. Dan lucunya, sehabis non-ton film itu, kau mengatakan padaku bahwa kau ingin menikah dengan seorang tukang pos. Dan tukang pos itu tak lain adalah Kevin Costner sendiri. Bagaimana mungkin? Bukankah dia adalah seorang bintang film. Tapi, itulah yng membuat kita tertawa sepanjang malam. **
Sudah seminggu aku tak pergi ke rumah Nyonya Heni. Selama itu pula surat Nyonya Heni yang dititipkan kepadaku berada di tanganku. Aku sengaja tak mem-pos-kannya. Aku mempunyai sebuah rencana untuk menulis surat kepadanya dengan nama Dewi Hartati. Tentu saja demi kepentinganku juga. Aku sangat yakin tukang pos yang dimak-sud Nyonya Heni ialah aku sendiri. Kubayangkan tak lama lagi kami bersanding di pelaminan. O,sungguh senangnya.
Untunglah, aku ingat bahwa tulisan tangan Dewi Hartati dan Nyonya Heni hampir mirip sehingga aku bisa mencontohnya dari surat Nyonya Heni yang ada padaku itu. Kini, surat balasan itu telah selesai dan siap dikirimkan. Le-ngkap dengan perangko yang telah dicap tentunya. **
Setelah memberikan surat balasan itu kepadanya, kami duduk berhadap-hadapan. Saat kami saling berpandangan, aku sudah tak menghindar seperti dulu. Malah dia sendiri yang terlihat serba salah. Barangkali karena mataku yang sengaja kupasang jalang. Ya, isi suratnya itulah yang menyuruhku seperti ini. Andaikata aku tak membacanya, barangkali aku tak akan pernah tahu bahwa diam-diam kami Saling mencintai.
“Sebentar, ya,” katanya melangkah ke dalam. Aku tersenyum menganggap diriku sendiri layaknya Arjuna. Sebentar dia telah kembali dengan setumpuk surat yang kemudian diletakkannya di atas meja. Dia diam sejenak. Dan yang membuatku bingung adalah dia kemudian menangis.
Setelah menenangkan dirinya, dia berkata: “Kami sangat akrab. Bahkan lebih dari itu.”
“Dan dia…, Dewi Hartati, sebenarnya sudah meninggal tiga tahun yang lalu,” lanjutnya.
“Hah…,” ucapku refleks. Sejenak kami saling berpand-angan. —–“Jadi?”
“Ya, selama ini aku sendiri yang menulis surat-surat itu,” katanya menatap ke meja. Dalam hati aku merasa ditelanjangi. Aku tak sanggup lagi menatap matanya.
Dalam diam, tiba-tiba aku teringat perkataannya sebentar lalu. Kami sangat akrab. Bahkan lebih dari itu. Apakah mereka saling mencintai? Pernah menjadi sepasang kekasih? Lesbi? Pikirku. Kucoba menatap dirinya kembali. Dalam sorot matanya, ingin kudapatkan jawabnya. **
2005

“Politik Sastra” Versus “Politik Tekstual Sastra”


“Politik Sastra” Versus “Politik Tekstual Sastra”
Posted by PuJa on August 11, 2008
Hudan Hidayat

“Politik tekstual sastra” sangat berbeda dengan “politik sastra”, “sebagaimana jaringan urat dan daging dalam tubuh”. Perbedaan yang telah dilompati oleh Tuan Edy A Effendi. Lompatan semacam ini, adalah kehendak untuk mencampur dan mengabur fenomena hidup.

Feminisme sebagai fenomena kehidupan, membawa wacana peran perempuan dan peran lelaki. Tapi, saat Simone De Beauvoir pandang-memandang dengan dunia dan mulai menuliskan bukunya Second Sex, bukanlah “politik tubuh” tapi “politik tekstual tubuh”.
Upayanya membongkar konstruksi budaya patriarkal yang bukan dalam arti gerakan, adalah investigasi sejarah yang mengikutkan ceruk-meruk pikiran, tentang hakekat tubuh perempuan dan tubuh lelaki.
“Politik tekstual tubuh” ini baru menjadi “politik tubuh”, saat seorang Gadis Arivia di Indonesia mendirikan Jurnal Perempuan.
Mengapa “politik tubuh” dengan prinsip kebenaran diperlukan?
Karena hampir mustahil mengantarkan “politik tekstual tubuh” kehadapan publik tanpa medium institusi. Dan apakah maksud kedua tokoh yang berlainan ruang dan waktu ini, dengan “politik tubuh” dan “politik tekstual tubuh”, kalau bukan didorong oleh hasrat untuk menunjukkan dan menggapai keberagaman eksistensi, demi kesetaraan dan keadilan itu sendiri?
Kita bisa tak sepakat dengan argumen Simone De Beauvoir, saat ia melacak tubuh dalam varian species. Misalnya, saya belum diyakinkan oleh kategori “takdir” yang menjadi sub-judul bukunya. Bagi saya kata-kata “takdir” merujuk kepada yang transendental. Tapi bagi Simon, kata “takdir’ hanya berhenti pada “data biologis” beragamnya species.
Tapi dengan begitu, pelacakan terhadap hakekat peran tubuh perempuan dan lelaki telah terhenti. Sebab, awal dari spirit De Beauvoir, adalah untuk mengejar mula pertama dari, atau bagi, kesetaraan yang menjadi medan perjuangan kaum perempuan terhadap dominasi dan ragam laku lelaki?
Eksposenya yang amat indah itu (saya terkenang keindahan Frued saat ia menuliskan psikoanalisa) , tidak menjawab siapakah manusia lelaki pertama dan manusia perempuan pertama, dan bagaimana corak mengada kedua manusia yang berbeda jenis kelamin ini?
Kalau “data biologis” De Beauvoir tidak menemukan jawaban atas kemungkinan instinktif yang terbawa oleh gen, maka sebuah embrio patriakal pastilah bermula dari interaksi manusia lelaki pertama dan manusia perempuan pertama, yang tentu saja berkembang dan meluas pada lingkungan awalnya.
Sebab, konstruksi kebudayaan patriarkal yang kita kenal kini, adalah turunan belaka dari lingkungan awal yang berkembang dan meluas itu.
Tapi, kapan mulainya dan di mana awalnya?
Adalah “politik tubuh” yang mengantarkan “tubuh” menjadi kristal, dan “politik tekstual tubuh” yang membuat unsur kristal berbinar. Persis seperti “tubuh malam” yang menggelar dirinya, tapi kunang-kunang malam yang membuat mata bisa memandang keelokannya. Atau politik negara yang mengantarkan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Tuan Edy A Effendi dalam postingnya, bolak-balik menggunakan pemakaian antara “politik sastra” dan “politik tekstual sastra” yang bercampur, seraya hendak menarik saya pada, atau mengingatkan peran akan, niat untuk membongkar “politik sastra”. Bahwa sejarah sastra 13 tahun terakhir melibatkan saya dalam peran semacam itu.
Tapi Tuan Edy lupa, bahwa statemen itu ditempatkan bukan sebagai pernyataan terpisah tapi bersambung. Yakni: ketertarikan saya akan “politik tekstual sastra”.
Dalam sambungan semacam itu, kata “tidak ada niat” itu harus ditempatkan. Sebab hanya berhenti pada membongkar “politik sastra”, maka tubuh yang bercahaya itu akan kehilangan peluang untuk menguakkan unsurnya (tubuh yang indah, kata Dewi). Ia hanya akan berhenti pada peristiwa. Berhenti pada “politik tubuh”. Pada “politik sastra”. Ini sama dengan dunia tanpa tujuan. Atau manusia berjalan tanpa tahu mengapa langkahnya gontai.
“Politik tubuh” atau “politik sastra” yang signifikan, hadir puluhan tahun silam saat seorang penyair menerbitkan bukunya. Tapi substansi buku itu bukan lagi menjadi “politik sastra” atau peristiwa sastra yang dimaksud Tuan Edy, tapi telah menjadi “politik tekstual sastra”.
Begitulah saya membaca ketika seorang penyair Sutardji calzoum Bachri dengan radikal dan konsisten menggeluti temanya dalam bukunya O Amuk Kapak. Sebutan radikal dan konsisten, bagi sang seniman, adalah kesetiaannya menggeluti tema bahwa ia mencari kedalaman dengan temanya, bahwa ia konsisten dengan upaya terhadap temanya itu.
Seorang seniman bukanlah terutama seseorang yang menasbihkan dirinya sebagai pembongkar “politik sastra”. Dia bukanlah seorang politisi sastra (seperti diterminologikan pada dirinya sendiri oleh Saut Situmorang). Tapi seorang yang dipukau oleh isi sastra itu sendiri. Dipukau oleh dunia ini sendiri. Persis seperti anak kecil yang terpesona memandang keluasan alam. Atau seseorang takjub ketika benda abstrak (pikiran) bisa menghasilkan benda konkret (grafis huruf).
Mengapa saya gemar membaca Sutardji?
Karena pada penyair ini, kata radikal dan konsisten yang didambakan Tuan Edy, bekerja dengan intensitas yang tiada terkira.
Adalah salah, kalau karena ketertarikan saya, lalu seseorang memandang bahwa itu adalah upaya seorang Hudan untuk membongkar seorang Sutardji dalam aspek “politik sastra” dan “politik tekstual sastra”nya.
Seorang sutardji tidak melakukan “politik sastra” (kecuali mungkin perannya sebagai aktor intelektual di dalam “pengadilan puisi” di Bandung itu). Tapi melakukan habis-habisan “politik tekstual sastra”.
“Politik tekstual sastra” Sutardji, bekerja dalam dua bidang secara simultan. Bidang yang saling menopang sekaligus saling menjauhi. Kata yang hendak dilepaskannya dari makna, adalah sebuah tindakan revolusioner dalam dunia sastra Indonesia modern. Di saat sastrawan angkatan 45 dan 66 masih berkelindan dengan derap dan arus revolusi, yang meninggalkan jejaknya pada penciptaan realis, maka Sutardji terbang dan menebang langit dengan kapaknya meminjam esai Mariana tentang Sutardji. Apakah yang ditebang Sutardji?
Sebuah langit sebagai benda alam?
Tapi Sutardji menebang juga konvensi bersastra di negeri kita. Dengan melepaskan fungsi makna dari kata, Tardji bukanlah sebagaimana disebutkan Ignas Kleden sebagai, atau hanyalah, sebuah strategi literer yang hanya bisa dirujukkan pada semangat penciptaan, sehingga tidak perlu dikejar maksudnya dalam bingkai common sense.
Sebab cara pandang seperti ini, seolah meledek upaya pencarian Sutardji, seolah tak akan sampai upaya seperti itu. Atau di bidang prosa, seolah menggaung kembali kata-kata resah Iwan Simatupang: Hans (HB. Jassin), dapatkah kita melewati ambang yang tak terkatakan itu?
Tapi “politik tekstual sastra” Tarji benar-benar memberikan cara pandang lain. Bukan hanya bertarung dengan konvensi sastra yang melingkupinya. Tapi terutama bertarung dengan gagasan sastranya sendiri. “Politik tekstual sastra” itu akhirnya harus berhadapan dengan dirinya sendiri sebagai penyair.
Dan itu dimulai dari kredonya yang amat terkenal itu: kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Segera muncul: kalau kata bukan alat maka ia hanya pengertian belaka. Tapi dapatkah ada pengertian tanpa adanya kesadaran? Dan apalah artinya kesadaran tanpa medium bagi seorang penyair atau novelis. Dan medium itu adalah kata. Dan pada mulanya kata adalah titik yang ditarik menjadi garis lurus, yang berkelok menjadi huruf.
Karena pengertian adalah kesadaran, maka kita dapati makna yang terurai pada puncak-puncak yang ditunjukkan Sutardji sendiri dalam puisinya, sebagai “alat” bagi pengertian Sutardji dan pembaca puisi Sutardji.
Kata memang bukan alat (belaka) untuk mengantarkan makna. Tapi kata menjadi medium bagi kesadaran jiwa.
Tesis inilah yang saya pilih saat menuliskan “kredo seni di atas kredo puisi”.
Ketika kata menjadi bebas, kebebasannya bukanlah terbang dan menebang semata semantik, menceraikan dirinya sehingga tak terjejah lagi. Kata bebas dan terbang untuk mencari kata-kata lain yang kiranya cocok untuk dayanya sendiri. Yang membuat kreatif, kata Tardji.
Tapi tetap: kata yang terbang dan menebang itu, adalah dan hanyalah benda mati tanpa kesadaran. Pengertian pun adalah benda mati tanpa kesadaran. Persis seperti Tuhan adalah nothing tanpa dunia dan manusia. Atau Tuhan menjadi nothing tanpa diriNya. Sebab tiap kesadaran membutuhkan ruang, seperti roh membutuhkan tubuh sebagai ruang.
Karena itu Tuhan menubuh pada dunia.
Atau roh menubuh pada badan manusia.
Dan kesadaran menubuh pada kata-kata.
Dengan lain perkataan, kata memang adalah medium untuk mengantarkan pengertian. Tapi pengertian kreatif, yang menjauh dari pengertian sehari-hari dalam maknanya.
Di sinilah titik pisah antara “kredo seni di atas kredo puisi”.
Begitulah saya menemukan kreatifitas “menceraikan” kata ini, atau kata-kata yang bebas itu, bukan terutama pada sajak “hampa nilai” yang diajukan Ignas Kleden (ping di atas pong). Tapi juga pada permainan penceraian tipografi yang berakibat pada pengubahan makna yang sampai pada kita.
Dalam sebuah kajiannya yang sangat bagus tentang Sutardji (tapi kapan Ignas akan menulis sebuah buku tanpa diundang? Dan inilah poltik sastra itu!) yang dimuat dalam harian Kompas (Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri), Ignas menunjukkan kontradiksi pikirannya sendiri.
Bagi saya, demikian Ignas, pemikiran-pemikiran dalam Kredo Puisi menjadi menarik bukan dalam kedudukannya sebagai suatu teori tentang puisi, tetapi terutama sebagai rencana kerja seorang penyair. Kredo itu membuat kita terkesan dan mungkin terkejut, bukan karena argumen-argumen yang diajukannya mengenai sense dan nonsense, tetapi dia menjadi menarik sebagai suatu program, suatu desain, dan bahkan suatu tekad. »
Harga dan nilai kredo tersebut tidak selayaknya diukur berdasarkan konsistensi dalil-dalilnya, tapi terutama berdasarkan pertanyaan: apakah penyairnya sanggup mewujdukan apa yang telah dia deklarasikan.
Perhatikanlah kekaguman seorang Ignas akan Sutardji yang membawa serta perlawanan bawah sadarnya – daya kreatif Ignas. Sebuah kontradiksi diletakkan Ignas: bukankah saat saat sang penyair sanggup mewujudkan apa yang telah dideklarasikannya, adalah pemenuhan bagi konsistensi dalil-dalilnya?
Syang Hai yang dikutip Ignas bisa menjadi representasi bagi kreatifitas Sutardji memainkan kata. Juga melepaskan kata dari makna dan pengertiannya. Tapi hilangkanlah larik terakhir (sembilu jarakMu merancap nyaring), apakah Ignas masih mengatakan puisi itu seolah gumam seseorang yang berzikir menyebut nama Tuhan? Tidakkah ia menjadi sebuah permainan kata yang memang unik dan kita rasakan keindahan penyebutan-penyebut annya, tapi menjadi sesuatu yang gelap dalam tingkat penafsiran: apakah ini? Apakah yang dikehendaki sang penyair dengan sebuah struktur kata yang mengingatkan saya pada sebuah olahraga di masa kecil: pingpong. Di mana kata berjatuhan dari bidang satu ke bidang yang lain, seolah bola putih yang kecil itu.
Ping di atas pong
Pong di atas ping
Ping ping bilang pong
Pong pong bilang ping
Mau pong? Bilang ping
Mau ping? Bilang pong
Mau mau bilang ping
Ya pong ya ping
Ya ping ya pong
Tak ya pong tak ya ping
Ya tak ping ya tak pong
Kutakpunya ping
Kutakpunya pong
Pinggir ping kumau pong
Tak tak bilang ping
Pinggir pong kumau ping
Tak tak bilang pong
Sembilu jarakMu merancap nyaring
Dalam sebuah sajak yang sarat humor (jadi tidak benar kalau sastra Indonesia, tegang dan kekurangan humor seperti kata Ayu Utami dalam kolomnya di sebuah media), Sutardji datang dengan “puisi prosa” tapi mengandung magis puisi: ikan membawa air dalam mulut taman, katanya. Sebuah larik yang mengejutkan : bagaimana mungkin seekor ikan membawa air (ke) dalam mulut taman? Pastilah air yang dibawanya itu tersimpan dalam mulutnya. Lalu ia keluarkan ke taman itu. Tapi permainan tipografi puisi menjelaskan bukan itu maknanya.
ikan membawa air
dalam mulut
taman
Dengan membaca sajak ini dalam tipografinya, terlihat makna itu. Tapi pola larik itu diletakkan, juga pemakaian «tanda tanpa tanda», membuat kita membaca puisi itu seolah prosa, sehingga kita sampai pada kesimpulan, atau sejenak kesimpulan itu terserap, pada pengasingan kata dengan misteri maknanya (seolah ikan itu membawa air dalam mulut taman).
Sejauhnya saya ingin menghindar dari kategori Saut Situmorang, yang menempatkan sastra sebagai dunia kangou yang harus memakan kurban dengan jalan saling menumbangkan. Saya melihat sesuatu bekerja bukan sebagai penumbangan tapi sebagai “bagaimana cara memandang ». Dunia ini memang tempat orang berpandang-pandanga n. Karena itu kalau saya membuat “kredo seni di atas kredo puisi”, bukanlah lalu saya meniatkan untuk menumbangkan Sutardji. Tapi melihat cara lain seperti cara lain yang dilihat Sutardji.
Atau kalau saya tidak bersetuju dengan pandangan dominan di negeri ini, yakni mereka yang menganut bahwa pengarang sudah mati setelah karyanya lahir. Sebab saya mempunyai angle lain. Bahwa seni itu, sungguh adalah kehidupan itu sendiri. Kehidupan dimana fiksi dan fakta berimpit, saling menunjukkan dirinya seperti dua sisi mata uang dari keping yang sama.
Dan itulah seni fiksi dan seni fakta – sebuah basis bagi pengertiaan saya tentang dunia penciptaan.
Barukah basis itu? Tidak. Kita bisa melihat seni fiksi dan seni fakta ini bekerja dalam tubuh dalang, dimana cerita wayang kita kagumi bukan hanya pada peristiwa yang diceritakan sang dalang, tapi oleh gerak dan gerik dari tubuh sang dalang.
Tuan Takdir mengobarkan « polemik kebudayaan » seraya dengan angkuh membenamkan tradisi sebagai sebuah masa lalu yang tak perlu diingat lagi. Tapi serentak dengan itu, segera pula ia memasuki kontradiksinya sendiri.
Katanya:
Hal itu bukan sekali-sekali berarti, bahwa dalam kebudayaan Indonesia yang sedang tumbuh itu tiada akan terdapat sesuatu element prae-Indonesia jua pun. Pertentangan semangat prae-Indonesaia bukanlah pertentangan 100 persen, pertentangan dalam segala hal.
Tapi dia menulis juga, tentang “kebudayaan Indonesia tiadalah mungkin sambungan kebudayaan Jawa, sambungan kebudayaan Melayu, sambungan kebudayaan Sunda atau kebudayaan yang lain.”
Atau seperti kata-kata Armijn, “kita mengakui keindahan pantun. Tapi tempatnya bukan pada masa kini.”
Tapi dengan cepat keangkuhan seperti ini patah oleh sebuah disertai Dahm, yang memperlihatkan betapa seorang Sukarno dibayang-bayangi oleh tradisi wayang yang digemarinya sejak kecil, yang telah membuat dirinya menjadi pemimpin modern Indonesia.
Dan itulah seni fiksi dan seni fakta. Kenyataan hidup yang menunjukkan dua sisi dari keping uang yang sama.
Ada yang hendak saya ulang-ulang, bila berhadapan dengan sejarah. Saya tak ingin mengatakan orang budaya telah kalah dengan orang politik. Tapi dengan getir saya bisa berkata: bahwa orang budaya tidak ada yang serevolusioner orang politik dalam temanya.
Sebab, bila orang politik melakukan perjuangan politik sampai masuk penjara dan dengan gemilang menuliskannya dalam teks politik (Indonesia Menggugat atau Renungan Indonesia misalnya), maka orang budaya menyerah pada sensor “Balai Pustaka”?
Lihatlah metapora yang dipakai dalam novel di kedua angkatan itu (Balai Pustaka dan Pujangga Baru). Tak satu pun kita temukan metapora tentang bebasnya Indonesia dari penjajahan kolonial. Tokoh-tokoh novel di dalam kedua angkatan itu, seolah kehilangan daya imajinasinya untuk memetaporakan kebebasan Indonesia melalui peristiwa dan makna novel yang diceritakannya. Padahal klaim bahwa sastra adalah alat perjuangan bangsa sudah menjadi jargon.
Bahkan pada angkatan 45 pun, metapora tentang kebebasan ini tak kita temui. Sehingga kita menjadi sedih saat Jassin dalam bukunya Kesusastraan Indonesia Jaman Jepang, demi mencari metapora yang saya maksudkan, memaksa puisi Chairil « Hampa » sebagai metapora bagi kehendak untuk kemerdekaan Indonesia.
Kita tahu, Hampa bukanlah sebuah puisi yang bisa dicantelkan dalam bingkai kehendak untuk merdeka itu, karena Hampa adalah sebuah puisi dimana mekanisme jiwa Chairil sudah tidak tahan lagi akibat jalan hidup yang dipilihnya sendiri.
Tuan Edy dalam postingnya menuntut saya agar radikal dan konsisten dalam berkata-kata. Agar jangan bereksistensi secara palsu saat berada di ruang manapun. Menarilah seperti dirimu, katanya. Tapi Tuan Edy lupa, apakah pengertian ruang dalam zaman yang makin menyempit ini? Dan apakah pengertian palsu?
Bagi saya sebuah milis yang serius dengan temanya, senilai dengan sebuah ruang koran atau ruang buku. Dan apakah peserta milis ini masuk ke dalam “ruang yang lain”? Tentu tidak. Sebab ruang kini sudah berimpit: kita menjadi anggota suatu milis seraya tetap membaca dunia.
Kafka telah lama meninggalkan kita, dan karena itu ruang jiwanya tak mungkin berimpit pada ruang kita. Tapi sebagai orang yang datang belakangan, ruang jiwa Kafka masuk ke dalam ruang privat saya. Ruang privat yang saya pelihara dengan baik.
Tapi dalam ruang itu saya mesti menyisihkan ruang bagi otensitas saya sendiri. Saya juga harus menyisihkannya untuk ruang bagi nilai in absentia yang saya rindukan. Sebagai seorang seniman saya harus mampu menangkapnya untuk dihadirkan bukan pada masa depan tapi pada masa sekarang.
Lama saya merenungi masa depan itu seperti buah apel di mana pohonnya ada tapi tidak terlihat dengan mata fisik kita. Atau entah di kandung telur siapa dan di sperma lelaki mana seorang “Hitler” yang lain. Ia ada di suatu tempat, di lelaki dan perempuan yang akan datang kemudian, sebagaimana sebuah rahim dan sperma yang akan membawa Newton yang lain. Atau mungkin “mereka” sudah hadir di masa kini? Siapa yang tahu. Dalam keseluruhan gerak semesta maha-luas ini, kita hanya setitik debu yang sombre sendiri.
Pohon apel itu hanya bisa dilihat dengan mata jiwa. Sebuah kesadaran yang membelah diri dengan radikal, yang tak hanya berpuas dengan tepuk tangan atau menangguk pujian (yang nyatanya kerap dilakukan melalui politik sastra yang berlebihan itu), adalah kesadaran yang mungkin bisa menangkap pohon yang telah hadir tapi tidak kelihatan itu.
Apakah palsu, kalau kita bereksistensi dengan ruang kita sendiri? Kalau kita tidak pernah beranjak dari ruang kita sendiri.
Palsu adalah sebuah tindakan eksistensi yang mengingkari hati nurani, yang dalam dunia politik menjadi samar mana strategi mana niat yang sudah dikebiri.
Pada seorang seniman kepalsuan terbaca pada temanya, pada ungkapan jiwanya saat dia menulis. Tema sastra dari sebuah jiwa yang palsu suka membalik angin. Kalau badai besar datang dia sembunyikan temanya dalam retorika yang mengebiri pendiriannya. Kalau badai reda dia kembali dengan temanya.
Sikap gagah-gagahan yang datang dari dunia kanak-kanak seperti itu, tentulah bukan etos yang kita kehendaki.
Mengapa demikian?
Karena saya meyakini kesusastraan bukanlah sekedar pajangan huruf-huruf untuk olahraga pemikiran.
Tidak.
Kesusastraan adalah hidup itu sendiri.
Hidup dari rentang sakrataul maut, dari serius dan main-main.
Mungkin main-main adalah sebuah bonus bagi jiwa yang resah dan gundah. Mungkin main-main adalah salah satu mekanismenya agar dia tidak gila. Tapi selebihnya kesusastraan adalah upaya menguakkan kebenaran. Menguakkan kebenaran sambil bermain-main. Karena bermain-main sesungguhnya adalah wajah lain dari sebuah kesungguhan.
Tentu saja menguakkan kebenaran bagi sastra adalah mengambil jalan menikung. Dalam tiap tikungan itu ia melambung, melambungkan pikiran untuk berimajinasi secara bebas, untuk berfantasi secara bebas. Karena hanya dengan kebebasan itulah barangkali pohon yang tak kelihatan tapi ada itu bisa dipetik. Dimakan buahnya oleh orang kini atau orang yang akan datang.
Tubuh kita boleh mati. Tapi pikiran kita akan abadi sebagai obor bagi mereka yang mencoba meraih misteri Tuhan dalam tiap bidangnya, dengan umpan yang mungkin dari kesusastraan.
Dalam dunia semacam itu, sungguh tidak ada tempat bagi sikap yang palsu. Apalagi sikap yang hanya seolah-olah telah berhasil menguakkan kebenaran lalu menghardikkannya dengan paksaan, padahal ia baru berjalan-jalan di kulit kebenaran. Kulit yang terasa sebagai dunia formal-moral- agama yang hendak mengkerangkeng kebebasan manusia dalam tiap ciptaan dan ekspresinya. Dari mereka yang miskin tafsir.
Karena tidak mau terkerangkeng, saya mencoba membuat kategori sendiri dalam upaya merebut makna dunia. Makna yang saya kategorikan sebagai takdir dunia, misteri dunia dan tafsir dunia.
Karena itu saat membaca Kitab itu lagi, saya melihat ketimpangan demi ajaran moral yang baik, seolah buruk itu bukan dari Tuhan sebagai implementasi dari kategori takdir.
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf. Dan Yusufpun bermaksud (melakukannya pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih.”
Inilah ayat tentang pelajaran pornografi, yang dengan sangat berani diceritakan oleh sang Penguasa Bumi. Berani, karena melibatkan Nabi yang dipilihnya sendiri.
Berhadapan dengan penceritaan semacam itu, tidaklah diperlukan imajinasi dan fantasi yang luar biasa untuk membayangkan sebuah pergumulan demi “permainan burung” yang akan berlangsung.
Segeralah kita tahu betapa Tuhan sayang pada kita. Mengajarkan bukan saja pandai berbicara tapi melatih imajinasi dan fantasi sebagai alat ampuh demi menguakkan rahasiaNya di langit dan di bumi.
Menyadari betapa tak terperikan rahasia langit dan bumi, maka Dia membekali manusia dengan kebebasan berpikir tanpa batas, yang diajarkanNya secara imajinatif dan fantastik tentang benda-benda dan nafsu-nafsu manusia.
Tapi manusia mengkerangkeng kebebasan itu ke dalam tafsir yang sungguh bertolak belakang dengan apa yang Ia sendiri ingin maksudkan:
“Ayat ini tidaklah menunjukkan bahwa nabi Yusuf a.s. punya keinginan yang buruk terhadap wanita itu (Zulaicha), akan tetapi godaan itu demikian besarnya sehingga andaikata dia tidak dikuatkan dengan keimanan kepada Allah s.w.t tentu dia jatuh ke dalam kemaksiatan.”
Bukankah teks itu sendiri yang berkata, bahwa keduanya saling menginginkan? Bahwa kemudian Yusuf melihat tanda dari Tuhannya maka “tanda” itu tidak serta merta menggugurkan “keinginan” yang sudah terlanjur menjalar ke dalam diri Yusuf.
Ataukah kita harus menafsirkan seperti ini: keinginan tersebut menjalar ke dalam diri Yusuf tapi secepat kilat ia berhenti, karena melihat tanda itu.
Tapi apa pula bedanya perdefinisi “keinginan” seperti itu? Toh Tuhan tidak sedang bermain pokrol bambu.
Tuhan mencintai manusia. Tapi manusia suka membuat orang lain “malas” mencintai Tuhan.
Sebagaimana begitulah adanya.
Tapi tak begitu seharusnya.
Jakarta, 26 april 2008

Ujaran: Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga


Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga
Ujaran
Posted by PuJa on August 10, 2008
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=61

penulis kumpulkan sedari tahun 1994-2004
* Simaklah kesunyianku untuk mengakrapi kesunyianmu tanpa aku.
* Kerinduan adalah doa paling suci.
* Harapan ialah samudra lamunan merindu.
* Tulisan dari gairah rindu menjelma gemuruh guruh keabadian.
* Kerinduan menambah daya ingat demi nyala juang.
* Cinta menjadi salah satu jalan menuju keikhlasan.
* Kecantikan atau pun ketampanan sanggup mengatrol wibawa.
* Wanita mengubah jalan revolusi lebih cepat dari rencana.
* Hilang gairahnya ketika cinta tidak lagi berwarna-warna.
* Kemampuanku hanya memahami wanita dari sisi keindahannya.
* Kepergianku memberi bekas di keningmu.
* Ku dengar panggilan penuh rindu di bathinmu.
* Tiupan angin nurani sepadan tarikan seruling semesta.
* Bedakan gemulai dengan lemah.
* Kesabarannya ditunggu sekawanan bidadari bersayap bangau.
* Tiada lama badai menerjang tanjung kesetiaan.
* Karang sunyi penantianmu dan ombakku mendekap erat.
* Yang menggejala di tubuh manusia itu magnit cinta.
* Manisnya senyum menolong dicinta.
* Kecemberutan sanggup merusak segala.
* Kesetiaan mendekatkan pada karya keabadian.
* Tenaga terbesar dari kaum yang dicintainya.
* Perpisahan itu seolah lenyapnya awan di langit.
* Bunga tertanam di hati tiada layu, paling hanya sayu.
* Menunggu begitu indah bila dengan sambutan gembira.
* Pertolongan pertama pada kemarahan ialah senyum.
* Ku rindu kemarahanmu yang tak sungguh.
* Seolah ditelanjangi saat orang kucinta melihat kehadiranku.
* Selugu-lugunya manusia tentu tahu bahasa dicintai dan mencintai.
* Tanyakan gelombang bathin pada yang terguncang jiwanya.
* Cinta adalah benang-benang bergelombang di udara.
* Kedamaian hati percantik rupa dengan sendirinya.
* Sebab cinta, imannya menggetarkan tubuh dan jiwa.
* Pertemuan itu perlambang keberuntungan.
* Makna jodoh lebih ajaib dari mimpi.
* Bila berbalas surat itu hina, jangan kotori kertasmu dengan mata pena.
* Ketika duka cita menghampirimu, sinar surya terasa temaram.
* Sekali orang tidak setia, jangan-jangan anda munafik? Bertaubatlah untuk setia.
* Kekasihnya menjadikan ia sejati; memaknai hidup tidak terlupakan.
* Kadang jujur memalukan, tetapi yang malu katakan cinta ialah pembohong.
* Ketika lintang bercakap. Siapa merawat malam melahirkan embun surya?
* Kebebasan serupa rumah laba-laba yang menawari sunyi dan bisikan masa.
* Menunda perkenalan memperbesar rindu ialah ego terindah demi mencapai setia.
* Perjumpaan itu keindahan dan tiada terindah daripada kesamaan lautan jiwa.
* Yang mendengar mimpinya lalu melaksanakan cinta, akan bertemu kemenangan.
* Matahari mengajak berjuang, sedang rembulan merayu kepada lamunan.
* Nyala api mendorong asap terbang, bersatunya dengan udara kehidupan.
* Bagaimana ku sebut orang yang kucintai, sedangkan ia tidak ingin dicintai?
* Kelembutan wanita mampu melahirkan karya dan menambah daya juang bercita.
* Wanita mempunyai kelemah-lebihannya, maka jangan terpenjara oleh pencarian ideal.
* Cinta tumbuh sebab diingat, mengingat dan teringat pada yang dicintainya.
* Kata yang berasal dari dasar nurani, sanggup menggetarkan pendengarnya.
* Kata perawan senantiasa memitos, serupa kucing di pangkuan bidadari pada rembulan.
* Emosi membakar jiwa ibarat perang atau cinta buta yang kan ada jenuhnya.
* Gelisahnya awan berarak jika tiada nyala cinta ke dunia.
* Ada senyum meragukan dari kesungguhan orang yang pernah menyakitkan.
* Sakit menyenangkan ialah cambuk cinta bagi pemalas menjelma giat.
* Bila ku tahu kau tak mungkin mencintaiku, diriku kan berlari sedari dulu.
* Indahnya bunga rumput tetaplah serumpun rumput; kata mereka.
* Aku terkagum karna rumput itu bunga yang malu akan sanjungan.
* Karna cintanya tidak berbalas, terlunta-luntalah ia; yang menyetiai satu pandangan.
* Setidaknya kau tersanjung walau tidak mencintaiku; kata terpuruk.
* Rindu menggetarkan tubuh, panasnya ke tenggorokan akan dahaga pertemuan.
* Kau dilahirkan cinta, tetapi kebencian sanggup menguburmu.
* Tidakkah kau dengar, suara angin berkabarkan ketulusan.
* Bila menyimakku maka habislah waktumu, renungkan; kau kan kudekap.
* Mari berbincang agar saling menyadari dan kembali bersetia.
* Melihat wajah teman, ku tahu ia punya saudara perempuan atau laki-laki.
* Tanpa cinta, kehidupan hanyalah bayang-bayang perasaan.
* Ruh cinta ditiup dari seruling kegaiban.
* Siapa mati berkeadaan mencintai, akan menghadiahi sesuatu yang abadi.
* Ku minta sesuatu darimu, kan ku beri kalbuku seberat ketulusanmu.
* Bagaimana keindahan tidak boleh dimaknai, bila tidak disebut indah?
* Ku cium tangannya demi mendapati hatinya dan ia menciumku untuk memiliki sayapku.
* Memandangi kekasih ke puncak dan ketika beranjak, hilanglah kesadaran.
* Melewati perasaan, kita mengerti bahasa kerahasiaan anak-anak dan perempuan.
* Dengan akalnya, wanita bisa menjangkau kaum lelaki.
* Dalam perut wanita, tuhan menciptakan insan, laki-laki ataupun perempuan.
* Ku lihat ia bicara saat tersenyum dan ku tak sanggup mendengar kata-katanya, karna ku tenggelam dalam lautan bibirnya.
* Pencipta pastilah pecinta, tetapi kasih sayangnya hanya satu, dirinya.
* Nyanyian terindah dalam rumah ialah tangisan sang bayi.
* Dan para tetangga berbondong-bondong untuk menyaksikan tariannya.
* Cinta menyuburkan tanaman dan semua diperkenankan memetik buah-buahnya.
* Kurekam kalbumu kasih, dan gelombang samudra mencatat laguku.
* Ketika menuju pantai, jangan salahkan bayu kalau berkisah ke pedalaman.
* Jiwaku laksana tubuhku yang gemar berkelana, bersentuhan dengan alam sekitarnya.
* Tubuh awan ialah lukisan tidak membosankan.
* Kecantikan sanggup membenarkan yang remang.
* Sayang, sayapnya jauh menjangkau namun dia tidak mampu berkicau; elang.
* Ketika berkata-kata sebenarnya aku malu, sebab hanya kebodohan semata.
* Ia rela melepaskan kekasihnya, setelah menemukan cinta sejati kepasrahan.
* Bidadari terlihat anggun ketika meneteskan air matanya, oleh sebab anak-anaknya.
* Doa ialah suara hati hamba kepada tuhannya.
* Ya Allah, kenapa aku iri bila istriku bersholawat kepada kekasih-Mu.
* Menikmati alam dan mengaguminya, senafas dzikir kepada Allah Swt.
* Gerak jiwa dan raga sanggup mempengaruhi grafitasi nasib seseorang.
* Persoalan tampil sebagai hikmah, andaikan mau memahaminya.
* Hikmah adalah air murni penyejuk jiwa.
* Kesadaran senantiasa datang memberi pemaafan.
* Nyanyian alam ada dalam jiwa dan lagu jiwa didendangkan alam.
* Kejujuran memiliki beberapa pintu keberuntungan.
* Utamakan kerukunan, hormati yang berilmu dan para pencarinya.
* Pencari ilmu sejati selalu gelisah akan kebutuhan bathinnya.
* Semua berawal dari kebaikan dan pada dasarnya suci.
* Jangan sekali-kali menutup kemungkinan, sebab itu rahmat tuhan.
* Siapa merawat embun menjelma mutiara di mata malam yang terjaga?
* Dengarkan kata-kata waktu, sebelum berbicara kepada waktu.
* Asap mendorong ke udara dari pembakaran keji maupun mulia.
* Sesuatu yang baru sanggup menghipnotis kita.
* Belajarlah bagaimana orang gila menghipnotis di jalanan umum.
* Kebajikan itu menyakitkan, tetapi kebahagiaan berasal dari rasa sakit.
* Buah manis kesabaran tidak selamanya dari satu pohon yang sama.
* Bila telah merasakan derita, takkan lagi temukan sengsara.
* Harapan mulia bisa terlupa bila melakoni hidupnya dengan melena.
* Awali kegilaan itu sulit, tetapi langkah selanjutnya begitu ringan.
* Seorang pemecah batu harus tahu serat-serat batu.
* Ide maupun impian; fahamilah ruang ganjil.
* Belajarlah ketegaran dari pohon cemara dan keteguhan pohon jati melewati musim.
* Merunduknya padi, sampai ku kira ia rumput.
* Terdengar kata-kata; hidup itu payah memiliki, padahal tidak memiliki.
* Mata seorang arif setajam mata elang di balik awan.
* Kebenaran ialah tonggak sejarah dan yang melahirkan peradaban.
* Tumpukan batu pondasi rumah harapan dan impian, ternyata kesabaran.
* Jika semua insan hilang kesabaran, daku tidak tahu lagi bagaimana dunia nanti?
* Ibu adalah samudra bagi ikan-ikannya.
* Banyak bertanya tetapi tidak mau berfikir, ibarat menanam tidak mau menyirami.
* Jika menyadari dunia pengantar ibadah, tidak akan merasakan kepedihan hidup.
* Kesungguhan tanpa keyakinan ibarat memukul udara hampa.
* Yang melupakan hari pembalasan, akan jauh dari ajaran agama.
* Apakah mencari hikmah dengan jalan berdosa mendapat pahala?
* Mitos kali pertama terlahir dari mimpinya seorang primitif.
* Filsuf yang masih memegang mitos seperti burung dalam sangkar.
* Dengan kesabaran, hikmah menjelma mata air keabadian.
* Mengurangi waktu riang untuk bekerja, akan menemukan ladang belum terfikirkan.
* Proses mimpi dan impian lebih beberapa tingkat dari kehidupan nyata.
* Yang mengorbankan waktu demi sang waktu, akan mendapati kemenangan.
* Ide itu suci dan pengingkaran adalah dosa.
* Bedakan pengingkaran dengan penolakan.
* Gelisa tertuang di kanvas hidup akan menjelma karya agung.
* Emosionalitas sempurna pada karya, akan mengirihi para penikmatnya.
* Keindahan mulia pada seorang kembara yang mencari ilmu hikmah.
* Kekangan di pesantren itu kemuliaan yang tidak dapat diganti dengan uang.
* Jangan menanti panen, tetapi taburkanlah bebijian di ladang kosongmu.
* Seorang sufi menggerak-gerakkan daun hatinya dan melangkah di tepian bibirnya.
* Yang belum tahu kebaikan, karena tertutupi matanya oleh kabut kebendaan.
* Ketika berbaju baru, gunakan beribadah terlebih dulu, sebab nanti akan mengesankanmu.
* Yang beramal secara sirri (tersembunyi), besar kemungkinan pahalanya melampaui langit bumi.
* Sanjungan bagimu menjadi racun, maka jangan kau telan dan lebih senanglah kepada kritik sebab pahitnya seperti jamu.
* Ketakutan ialah hantu penunggu kegelapan dalam kehidupan manusia.
* Pujilah yang berhak, agar tidak dikira melontarkan manisnya cacian.
* Orang dalam ketakutan tidak memperhitungkan saat-saat terpejamnya mata.
* Terlihat kabur kesaksian mereka, kalau kita menutupi kehilafan mereka.
* Mungkin yang duluan masuk surga, itu yang mengajak ke jalan sesat, dan dia cepat bertaubat.
* Mendapati cahaya di padang rumput dan ambillah dengan kalimah suci.
* Yang menjaga kebersihan akan ditambah beberapa jengkal usianya.
* Meremehkan sesama ialah dosa sulit terampuni, bila tidak dengan tawadhuk.
* Bertemu orang-orang dalam kembaraan, ternyata mereka pernah dirindukan.
* Tiliklah, bahwa semua laba-laba sudah dijatah makannya pada waktunya.
* Kebaikanku serasa dari kumpulan doa-doa ibunda.
* Dan kesalahanku terasa dari beberapa fikiran ayah.
* Aku mencurigai kekenyangan perutku dan kuselidiki rasa laparku, yang mengajak berlalu.
* Sayap-sayap malaikat kepakkan hawa dingin dalam tubuh manusia.
* Jangan cepat riang sebelum menemukan janji tuhan dalam kitab kalbumu.
* Yang merasa aman sesungguhnya terlena.
* Yang merasa tidak aman senantiasa terjaga.
* Sedangkan kepasrahan ialah wujud manunggalnya cinta.
* Dengan suci hati lagi tawadhuk, ilmu dan ilham mengalir ke pangkuan.
* Niat sebagaimana bekal takkan habis di perjalanan dan untuk meneguhnya pendirian.
* Jadikan niatmu bersayap, mengepak, terbang dan mengembang kembara.
* Niat ibarat magnit yang sanggup menarik jarum ke dekatnya, dan menggetarkan lempeng besi walau mata tak menyaksikannya.
* Membawa beban sampai tidak mampu berjalan, setingkat kesakitan hingga mengalami kebisuan.
* Ada terbunuh di persaingan karna membawa bajunya seorang incaran.
* Yang tahu letak kehormatan dan pahala, hanyalah penyombong.
* Seorang kembara mencari ilmu, sebaiknya tidur tidak beralaskan kasur.
* Tingkat kematangan seseorang terhitung berapa kali menangis di hadapan tuhan.
* Jangan bertanya bila nantinya menenggelamkan keyakinanmu, maka dengarkan dan bacalah.
* Sekali-kali tenggelamkan keyakinanmu agar sampai kepada kedalamannya.
* Kadang kita perlu melawan kebijakan untuk menemukan hakekatnya.
* Selami jiwamu, sebab hidup memberat bila terbang sambil menaburkan emosi.
* Alangkah arif, mengunyah kedirian hingga menemukan lautan madu.
* Maafkan ia sebab masih takut bersetia, oleh belum tahu tentang dirinya dan dirimu.
* Kehidupan ruh dan jasad ada tangga tingkatannya, serupa bertumpukan lelapisan langit.
* Cermin akhirat membawa hati ke penyadaran menuju pulau kebajikan.
* Tidur itu mati sementara, sedangkan mimpi ialah perjalanan tidak tersangka.
* Kematian ialah pisahnya raga dan pindahnya ruh ke alam keabadian.
* Yang tahu waktu kematiannya seperti penjala, faham akan batas lemparannya.
* Dua pelaku sudah cukup menjadi saksi kebenaran di hadapanmu.
* Orang beriman yang jujur tidak membutuhkan saksi lagi untuk keyakinannya.
* Yang selalu ingat dan waspada, sangat memahami teguran meski pun halus.
* Yang berkarya memindahkan hidupnya kepada bentuk abadi, dari pengertian umur.
* Berniat lagi mengusahakan maka kau akan tahu diri; pecundang atau pemberani.
* Diri sebagai ruang penuh udara serupa kau menikmati hidup dalam diri.
* Kenali orang-orang gila dan temukan banyaknya hikmah yang tidak tersangka.
* Doakan orang-orang yang telah tiada saat kembaramu, kau senantiasa bertalian.
* Para sufi melihat dunia seampas tebu, walau sebagian lainnya menjadi pemulung.
* Curahkanlah makna samudra kepadaku tuhan, kan ku pelajari langit-Mu.
* Limpahkanlah langit-Mu tuhan, kan ku fahami samudra kalbuku kepada-Mu.
* Yang terlupa laparnya saat melewati atmosfir keagungan dan menemukan senyum yang sama.
* Kepada batu besar membenturkan kepala dan hanya ia yang mendapati pecahannya.
* Yang senang deritanya tidak merasakan kepayahan sesungguhnya.
* Ada berbuat dosa kecil untuk khusukkan ibadah yang pahalanya lebih.
* Orang jujur dapat menilai kesungguhan orang lain.
* Bathinnya orang jujur tidak gampang ditipu.
* Orang jujur berpeluang selamat atau diselamatkan atau beruntung.
* Jika sadar dirimu ditipu jangan tersenyum, mungkin kau berbedak kebodohan.
* Kematangan diwarnai jamannya tetapi terpenting ialah kesadaran mencipta.
* Sabar itu kemenangan belum terkuak, dan ketabahan ialah perang maha dahsyat di medan hati.
* Penderitaan menjelma kekuatan ampuh untuk memenangkan permainan.
* Jika digali dan didaki keraguan, menambah dalam dan tinggi keyakinan.
* Kesadaran mustinya senantiasa lekat, suatu hikmahnya ialah mudah menjalanani hidup.
* Nasehat terbaik dari dalam diri setelah pengendalian jiwa pada jarak stabil.
* Banyak kehilangan akan banyak pula yang didapat.
* Yang merasa kehilangan semakin faham dirinya yang sebenarnya.
* Di jalan bathin ada kesangsian hening, sebab waktu belum menampar muka.
* Menunggu atau menunda ialah pertanyaannya seorang pemalas.
* Berimbanglah antara kepentingan diri di antara suasana, kau akan matang.
* Lebih agung mitos dari harapan tinggi tanpa bunyi.
* Lebih mulia mimpi dari impian tidak terlaksana.
* Masalah tidak kan rampung sekadar duduk tetapi duduklah sebentar, kau kan menemukan jalan terbaik.
* Menentukan pilihan terasa muda bila waktunya telah tiba.
* Tali-temali kasih sayang menumbuhkan bulu di sayap, memudahkan jangkauan.
* Mintalah ketajaman penglihatan memandangi kebaikan.
* Mintalah daya terang hikmah dari keangkaraan.
* Raut yang terlihat bengis, ketika menceritakan kenangan, hilanglah perangai buruknya.
* Ketika sakit dilalui bertemulah kebahagiaan, jadilah kelemahan berkekuatan.
* Aku sangat menikmati saat-saat berangsurnya kesembuhan.
* Bila sakit jangan cepat diobati, tetapi rasakan terlebih dulu, agar tahu betapa berharganya sehat.
* Penyakit tuli pun bisa lantaran flu.
* Menunda pekerjaan menambah was-was dan hantu beralasan menjerumuskanmu.
* Yang menyukai jalan kebaikan, bila ke jalan sesat ia terhalang-halangi.
* Marilah belajar ikhlas kepada satu hal kecil dulu, dan penambahan itu mudah.
* Yang memberi juga menanti balasan, mendekati perbuatan judi.
* Memasuki waktu keheninganmu dan dengarkan tembang kerahasiaannya.
* Wahai kaum hawa, apa geloramu agar ku setiai di jalan menanjak di sekeliling rahasia.
* Tenang di kekosongan hati itu hampa, tetapi ketenangan oleh kedamaian hati itu berisi.
* Dalam hening terdengar suara, padahal tiada bunyi.
* Saat pejamkan mata, terlihat bayangan.
* Di butuhkan ketegasan di saat menentukan putusan.
* Ada was-was mempercepat kemajuan pesat, bagi sang tekun mencari kebenaran.
* Jala sutra ialah saat-saat menentukan, merdeka atau terpenjara.
* Masa pun sanggup membebaskan sayapnya kepada langit keberuntungan.
* Pengembala bahagia sebab melihat gembalaannya sibuk mengunyah rumput.
* Renungkanlah udara pembalut alam ini, akan kabut waktu terus berlalu.
* Bahagialah yang selalu dilahirkan fajar dari malam permenungan.
* Terimalah pemberian-Nya meski kadang menyakitkan, sebagai tanda digenapinya keganjilanmu.
* Hormatilah pengajar dan tatalah buku dengan santun, sebagai awal kebaikan mencari ilmu.
* Lebih indah ilmu daripada engkau, tetapi tidak pantas kecemburuan ditaruh di sini.
* Jika ingin membunuh, jangan membaca terlebih dulu.
* Ilmu berupa kalimah-kalimah, sebagian lagi rahasia-rahasia terungkap.
* Tambal dan kenakan baju yang sobek sebagai awal pelajaran musafir.
* Sedikit waktu berfikir, berarti mengurangi harapan hidup lebih lama.
* Berfikir dan berjiwalah muda, ketika tua jadilah piramida cermin.
* Setiap penari pernah terkilir sebelum menemukan gerak ekstasi jiwanya.
* Ketika melalui oase ia menutup buku, lalu menyimak bisikan bayu.
* Pada jalan yang sama dan waktunya berbeda dimaknai serupa, ia takkan balik.
* Maju menunggu dicambuk ibarat keledai dan seekor burung menuruti naluriahnya.
* Lihatlah bagaimana burung camar bermain mengantisipasi ombak sambil memikat.
* Ku kira lebih tua ombak daripada karang. Kau tahu kan yang ku maksud?
* Penantian karang seakan sia-sia sebab tidak mampu ke pedalaman.
* Wujudkan gagasanmu, ada masanya ia hidup senafasmu saat menulis.
* Impian akan purna bila dikerjakan sungguh dengan jiwa berkobar.
* Indahnya tarian pena atas dinaya alam, bukan dari tenaga dendam.
* Amat banyak naskah percobaan demi menghadirkan karya terbaik.
* Ide itu mengagumkan dan ilham semacam pencerahan.
* Karya sanggup menelanjangi penciptanya, sekaligus membuat rahasia di dalamnya.
* Ekspresi memperbanyak pengalaman dan mereka hanya mendapati beritanya.
* Ciptakan menara tidak tertumbangkan, dan buatlah pondasinya sedalam keinginan bumi kau setubuhi.
* Orang bercita-cita tinggi selalu pertimbang kegiatannya.
* Yang benci sesuatu karena hanya tahu akibat dan buta akan penyebabnya.
* Mati ku tidak membawa lembaran kertas, maka rawatlah tinta hidupku.
* Berkali-kali menyeket ibarat membaca, pada dataran penguasaan.
* Melukis itu suatu kegembiraan meskipun menuangkan kesedihan.
* Berpuisi itu kesenangan tertulis walau menuturkan kesengsaraan.
* Berkarya dan berpropaganda ialah lebih baik daripada pembuatan organisasi tak sejiwa.
* Hati dan nalar bekerja, indra sebagai penanya, dan kejujuran jiwanya kesatria.
* Kesambillaluan, tiduran dan mati ialah yang menghentikan kesempatan.
* Kau lebih berkesempatan daripada tokoh sebelummu, karna bergelayutnya nyawamu.
* Spekulasi paling ngeri ada dalam permainan billiard.
* Kajilah sejarah secukupnya jangan terlena, lantas ciptakan bersama keyakinanmu.
* Pelajarilah matahari, awan, lintang dan rembulan yang mengajak bersabar.
* Semakin belajar dari mereka akan bertambah faham bagaimana melampauinya.
* Sedikit demi sedikit impian ternyatakan dari yang ringan menuju kobaran.
* Dengan bekerja ia cukup senang walau harapannya ditimbun kekinian.
* Bermimpi dan bekerjalah, kau akan menuai hasil secara logis dan Ilahiyah.
* Makna bisa belum tentu mampu karna kemampuan itu kesadaran kekuatan.
* Sedangkan bisa dapat dilakukan tanpa sadar dan tidak memiliki daya hakiki.
* Jauh lebih purna merasakan terlebih dulu, baru berpendapat.
* Matangkan air hingga tenang sebelum mempersembahkan.
* Yang hidup tetapi jiwanya sekarat sebab cita-citanya terpenjara keadaan.
* Jiwa bunuh diri itu yang tidak memiliki cita-cita sama sekali.
* Orang merdeka ialah yang bisa berjalan melalui cita-citanya.
* Cahaya terbaik itu pengalaman orang lain.
* Kemajuan memang menyakitkan, tetapi bagian terbesar itu senyum kebahagiaan.
* Kebahagiaan langsung teresap di saat pelukis menggarap karyanya.
* Pujangga tidak kalah bahagia ketika sejarah impiannya terlukiskan.
* Apalagi yang diinginkan setelah bahagia, sungguh insan cepat dahaga.
* Berkarya menjadi terapi kesembuhan terbaik bagi sang pesakitan.
* Ada yang lancar berteori tetapi dalam berkata-kata masih mengeja.
* Igauan kelana: Matiku entah di mana? Nyatakah bara dalam dada?
* Heran bercampur syukur ketika doa terkabul, lantas setan meniupkan keangkuhan.
* Ada membaca buku bagaikan kuda pacuan saat menggebu; sang penyuntuk.
* Ada membaca buku serupa kucing bermalas-malasan; si pelamun.
* Ada membaca buku seperti keledai tercambuk, ketika membacanya sebagai obat jiwa.
* Ada membaca buku laksana angin sepoi saat membacanya sebagai teman setia.
* Ia suntuk manakala doanya tidak terjawab, jika berlarut menjelma kemarahan, kesadarannya ke dasar kehinaan.
* Cat, kanvas, pena, kertas dan secangkir kopi mengatur komposisi.
* Watak sederhana membentuk bathin tentram diruapi sejahtera.
* Ketika timbul keraguan, keyakinan ditanam dalam-dalam, lalu nalar menyetujui kembali.
* Pupuklah kesabaran dengan kegiatan positif, nantinya memperoleh kemenangan se
jati.
* Jika hidup itu penantian, maka matangkan dirimu sebelum dijemput masa.
* Tenanglah agar luapan hikmah dapat kau petik dari kenangan.
* Buah-buahan yang diketemukan kembara lebih bermakna tersendiri baginya.
* Kenapa yang bijak sering terhempas dan terangkat kala dibutuhkan?
* Berilah makan kepada orang gila, demi menghindari kegilaan pribadi.
* Senangkanlah anak-anak kecil, agar kau merasakan kebahagiaan.
* Ketika merasa tidak menjadi apa-apa, ringanlah langkah setelahnya.
* Pemabuk itu seperti orang sombong juga sama berkeadaan junub; hilangnya daya pikat serta tidak memiliki tameng.
* Bercermin sisirlah rambutmu perlahan, kau akan temukan kilauan ketenangan.
* Suara gerimis di tengah malam itu bisikan bidadari.
* Hikmah memakai wewangian dapat menjaga pribadi, ketenangan serta wibawa.
* Sederhanalah menggunakan wewangian, agar tidak menjadi bahan gunjingan.
* Berilah wewangian pada bebatuan mulia, agar mendapati kilauan pemikatan.
* Salah satu cara menemukan makna hidup, dengan berjalan berkilo-kilo meter.
* Ruh bermuatan nyawa, sedangkan jiwa bermuatan rasa.
* Bathin bermuatan kehendak terdalam, dan sukma berisi suara-suara dari dalam.
* Yang merawat hati dan fikirnya, terjaga dari kesesatan panjang.
* Kajilah umurmu untuk memerdekakan sesuatu, minimal membebaskan diri sendiri.
* Jika tidak mampu, lepaskanlah seekor ikan lalu lihatlah bagaimana ia berenang.
* Yang pernah diguncang keyakinannya, tentu mengerti betapa manisnya iman.
* Betapa sepi nan suwong ketika kalbu tanpa keimanan.
* Yang menikmati dunia senantiasa kecanduan, yang mencecap madu akhirat berkecukupan.
* Watak nerimo ing pandum (menerima apa adanya), akan mudah beradaptasi mempercepat laju.
* Kelana yang haus ilmu, cinta pengembaraan dengan membaca dan penelitiaan.
* Perjumpaan melanggengkan ikatan sebab seirama bathin, tentunya menciptakan rindu.
* Benarlah cahaya itu fokus pandangan yang menampilkan warna juga bentuk.
* Dzikir sirri itu terindah; kata bidadari pemalu.
* Kesalahan melahirkan sesal tetapi kenapa masih sering melalaikan.
* Kembara yang membaca selalu tersenyum dan kecut memandangi diri.
* Yang melakukan lelaku, banyaklah hikmah menaburi kepalanya.
* Mata pemberani sanggup meredupkan matahari; kata pemuda.
* Jaman edan memang, orang miskin sulit mencari teman.
* Jaman edan memang, orang penekat banyak teman.
* Umpatan pelacur menjelma doa tidak terelak, sehalilintarnya kalbu menyeret badai.
* Secawuk teguk air perigi menguatkan kembara melalui keyakinannya.
* Kembaralah agar menemukan dirimu lewat sahabat-sahabatmu.
* Makna kembara itu menyadari hidup lebih cepat dari berdiam diri.
* Kalau kau dermawan, tidak akan ada mengharapkan kau terhinakan.
* Pencari bebatuan mulia yang bimbang sebab belum merasa dirinyalah istimewa.
* Benar hidup itu ujian dan jalan tengah keseimbangan seharusnya selalu dijaga.
* Lidah keluh menyaksikan keagungan ilmu dan begitu ciut (sempit) melihat dunia ini.
* Yang mengagumi suatu karya, namun tidak berkarya adalah pembual.
* Kerja melelahkan sebab ambisi dan tersadarkan setelah muntah.
* Sungguh nikmat benar kalau bekerja itu wujud panggilan nurani.
* Yang berpengalaman serupa batu menyimpan api dan air.
* Pondasi hidup adalah rasa sakit (kesakitan).
* Lupa itu sebentuk mengurangi waktu tahanan.
* Orang crewet itu hidupnya tidak mau menerima takdir.
* Penangkal kehawatiran maupun was-wis dengan membaca.
* Bedakan semangat dengan ambisi.
* Kemiskinan menyembunyikan harta paling berharga; yakni tabah.
* Bidadari menanti kucuran keringat petani yang kepanasan di ladang siang.
* Aku menjaga jarak dengan orang yang susah memberi pemaafan, sejauh pandangan.
* Kegembiraan tidak bisa menerbangkan, paling hanya melayang-layang.
* Kesakitan melesatkan dirinya dari tempat duduk berpenuh keyakinan.
* Ukurlah perjalanan mimpimu, kau akan yakin bahwa hidup bersangkut kubur.
* Aku tidak kerasan di rumah orang kaya yang mengukur hartanya.
* Aku tidak betah di kediaman orang alim yang mengukur kedalaman ilmunya.
* Dengarkan nasehat-nasehat dan bersabarlah untuk menyetiai.
* Berhati-hatilah membanggakan anak sebab bisa menumbuhkan keangkuhan.
* Waktu dan gerak sangat berpengaruh dalam menentukan jalan hidup seseorang.
* Yang berjiwa seni tinggi, sanggup mengakui keindahan bathin seseorang.
* Tidak ada kalimah yang tidak bisa difahami, kalau diterima terlebih dulu.
* Tidakkah buah yang matang di pohonnya lebih nikmat daripada yang karbitan?
* Bedakan cita-cita tinggi dengan keserakahan.
* Sering-seringlah bermandi taubat, kau akan segar nan damai luar-dalam.
* Ku kira orang yang pasrah senantiasa dibimbing dan terbimbing jalannya.
* Ramai di kesunyian itu bising, dan sunyi dalam keramaian itu kesepian.
* Orang yang patut menjadi panutan itu yang berjiwa mapan.
* Walau tanpa cahaya, pastikan dapat menentukan sesuatu sebab kaulah cahayanya.
* Nikmatilah kesunyianmu yang tersakiti hingga bermakna.
* Benih kemarahan itu dari tergesa-gesa.
* Yang tidak sabar, bersiap-siaplah menerima kegagalan.
* Tanda orang yang cepat putus asa ialah mudah tersinggung.
* Murah hati dapat diukur dari keikhlasan, dan hanya mampu ditimbang diri sendiri.
* Temukanlah kata-kata baru setelah lupa.
* Bersikap tegaslah untuk wibawa.
* Bedakan ketegasan dengan garang.
* Sayap-sayap terbakar mendekati unggun keyakinan.
* Menghela nafas panjang setelah menyaksikan karya besar, dan malu bercampur cemburu dibuatnya.
* Tariklah lelapisan kesadaran, lantas tatalah dengan seunting kenangan.
* Bulu-bulu sayap burung timur ditakdirkan sebagai pena para penulis.
* Dirinya berhutang banyak kepada kaum hawa atas karya-karya ciptaannya.
* Setelah membaca sejarah akan tersadarkan, bahwa para utusan itu hadir tidaklah mudah.
* Campuran warna, kata, waktu serta tempat, menambah bobot karya.
* Keputusan terbaik lebih memukau daripada pebukitan emas seluruh.
* Berkaryalah penuh sungguh nan senang sebab hasilnya begitu nyata dalam jiwa.
* Manusia memiliki kalbu dan otak menakjubkan di saat-saat dibutuhkan.
* Yang tidak mengerjakan hari ini, esok takkan terjadi dan sulit mencapai ketepatan.
* Aku menyukai kebebasanmu yang sanggup menentukan pilihan bercita-cita.
* Kadang diterima kesungguhan dengan ragu, lalu sambillalu menghampiri keyakinan.
* Tidak mereka tahu ketika ia di antara dua pendapat, dua kemungkinan juga keduanya.
* Yang tersembuhkan kamar hening, ibarat burung mahal.
* Yang diikuti seekor kupu-kupu besar ialah tamu agung; kata teman.
* Jiwa tidaklah sama dalam satu suasana ketika memandang perberbedaan.
* Jiwa dan pemikiran sanggup mewujudkan bentuk-bentuk kemungkinan.
* Kemungkinan yang terpecahkan seperti kerjanya bom atom.
* Lihatlah sebelum-belumnya dan tanjaki cita-citamu hingga berbunga.
* Bila hidup itu hutang kepada nilai-nilai tertanam, bayarlah lewat berkarya.
* Keluguan serta keraguan awal, tidak perlu dicampakkan.
* Setiap kucuran keringat, buatlah menjelma tinta emas seluruh.
* Terlalu cepat mengambil keputusan di permukaan, yang sebenarnya dapat diselesaikan dalam ketenangan, akan ada penyesalnya.
* Lebih baik berhasil meski beresiko tinggi, daripada tiada hasil beresiko rendah tetapi di dalam situasi besar tidak sanggup bernafas.
* Tiga tahun terlalu dini itu sepi dan tiga tahun terlambat itu ompong.
* Satu tahun yang tepat menguasai seabad, dan bila melampaui akan mensejarah.
* Yang menilai kesabaran orang lain seperti dirinya, itu yang tak pernah belajar sabar.
* Jiwa tenang nan penuh penantian kan terjadi, dan yang meluber itu revolusi.
* Melihat burung terbang mengimpikannya, ketika mengamati kepakan, urunglah niatan.
* Cermin mereka ada padaku, yang tidak lenyap lemparan batu, tidak terhalang awan-gemawan.
* Teka-teki hidup itu terjawab oleh para pemintal untuk pakaian.
* Orang pintar membaca kebodohannya, sedangkan orang bodoh terjebak perbuatannya.
* Kemanusiaan itu seluruh tubuh, dan ketidakadilan menghilangkan bagian-bagiannya.
* Bersyukurlah tersebab diselamatkan dari kelupaan-kelupaan.
* Hidupmu memasuki ruang mereka, akan nyata ruang-ruang itu sama kegunaannya.
* Aturan-aturan itu seyogyanya dilampaui, ketika ketaatan identik dengan kesalahan.
* Kesalahan terbesar itu lahir dari keraguan.
* Para penemu tidak lama mendapati hukum ciptaannya, jika membaca mimpi-mimpinya.
* Engkau lebih tahu bagaimana cara beristirahat bagi dirimu.
* Karya yang belum terselesaikan ibarat hutang yang musti dibayar umur.
* Karena persahabatan, ia sanggup bertahan hingga sekarang.
* Persahabatan itu pohon berkembang, dedaun serta bebuahnya ialah hikmah atau petaka.
* Cinta pemuda kepada lawan jenis akan mengurangi banyaknya teman, meski tidak terlihat.
* Persahabatan itu cangkokan pohon persaudaraan, berbuah sesuai kodratnya.
* Kembara yang tersesat membengkakkan biaya dan menghabiskan banyak masa.
* Nalar menjangkau ke langit tidak menemu apa-apa selain tenaganya, itu pun sedikit.
* Ia terbang meninggalkan bayangannya, menjauhi habisnya nafas-nafas karya.
* Cintaku kepada karya sebab mereka menganggap aku hidup jika berkarya.
* Kalau tidak ada yang mengenal, lalu siapa yang sudih mendoakan aku.
* Keberanian diri ialah kunci untuk bisa walau pun kadang terpaksa.
* Hidup itu bertenaga dan mencari tenaga baru demi harapan-harapannya.
* Ilmu dan pengalaman membentuk gaya hidup seseorang.
* Lebih baik waktu menunggu kita, daripada kita menantinya.
* Jangan malu atas kegagalanmu, setelah menemukan kemenangan dalam kalbu.
* Sketsa kebaikan berasal dari akal sehat, dan sketsa keburukan itu hasil dari perasaan kacau.
* Yang memanjakan diri ialah budak jaman dan dirinya tidak memiliki nyanyian sejati.
* Aku berharap masa depanku penuh orang-orang menghargai kejujuran karya.
* Aku memiliki jaman gemilang bersayap kebijakan; kata firasat hidupku.
* Rencana tidak mungkin terwujud meski berharap-harap cemas, tetapi perbuatanlah yang kan mewujudkan.
* Yang berkepribadian maju senantiasa sadar kekurangan, lagi terus mencari dan mencoba teknik baru.
* Segarkanlah nalar serta perasaan dengan menggubah keadaan juga meresapi jiwa alamnya.
* Lebih baik terjatuh dari langit daripada jatuh dari pohon; kata pemberani.
* Jika berpeluang dan ada pemberani memanfaatkannya, berarti ia mengambil untung dari mereka (di sekitarnya).
* Bila hidup tiada mimpi tak kan ada ide cemerlang di muka bumi; kata pemimpi.
* Proses impian-impian mencontoh mimpi; kata pemilik inisiatif.
* Yang berhasil mempengaruhi lingkungan sebab tahu karakternya.
* Mudah sekali mempengaruhi lingkungan sebab mengerti kebutuhannya.
* Seorang penakut menyebut dirinya telah dewasa, sedangkan yang berpengalaman tidak sebut apa-apa.
* Kesegaran hidup ialah pencarian lebih baik dari proses sebelumnya.
* Sakit di perjalanan manakala mengarungi keyakinan, akan mengukuhkan keyakinannya.
* Keyakinan itu sesuatu yang ditancapkan dan kepercayaan sebagai fitrohnya.
* Siapakah yang melaparkan dirinya sendiri demi impian ke tepian nyata?
* Haus dan berlaparlah, kau akan menemukan daya revolusi yang sesungguhnya.
* Laparlah sebelum dan disaat mencipta suatu karya, agar tiada pendarahan berlebih ketika melahirkannya.
* Kegilaan tidak dianggap keanehan bagi yang sering merasakan lapar.
* Seorang pemuda jelmaan dewata sebab kehendak berkuasanya.
* Ada kemungkinan mencapai purna; mati atau gila.
* Yang mencapai batas nol kembali, menentukan kegilaan pun masih sulit.
* Ada tempat begitu nol drajad, setiap gairah seolah terpatahkan alam.
* Para revolusioner menata hidupnya sejak dini, dan mencintai mimpi-mimpinya.
* Wujud sempurna iblis ialah penjajahan sesama manusia.
* Jiwanya penulis tersembuhkan, setelah menaburkan kedamaian bagi kemanusiaan.
* Perang tidak selamanya akibat, maka cobalah menciptakan sebab.
* Sebab itu pokok daripada ide, dan ide ialah bonggol daripada kehidupan.
* Aku meragukan konsep demokrasi kalian, padahal saya sangat demokrat; kata pecundang.
* Sesuatu yang mati dapat bangkit sebab ada yang membangkitkan, dan permulaan gerak hayat itu berasal dari Sang Maha Faham akan ruh.
* Seorang bocah yang selamat dari bencana, suatu saat akan menjadi pemimpin di antara mereka.
* Gurunya seorang revolusioner, kudu (harus) menerima bantahan sang murid, meskipun kadang keputusan itu konyol.
* Revolusi itu ibarat bocah yang tenggelam di kali dan tak bisa berenang, maka merangkaklah ia ke tepian keselamatan.
* Dalam segala hal kau terpukul, bila membalas dengan beban yang sama artinya penakut.
* Keyakinan pemuda sering dianggap konyol sebab tidak dilakukan para pendahulunya.
* Nilai kecantikan sanggup menentukan gerak revolusi bagai seteguk air di malam letih.
* Revolusi yang mewujudkan impian menjadi kenyataan, hanyalah segelintir makna dari keberadaan-Nya.
* Impian dan realita ialah dua jalan yang mampu menunjukkan cahaya kemuliaan.
* Aku kagumi mereka, yang dengan sesingkat umurnya sanggup mempengaruhi peradaban.
* Ada yang lebih agung dari sebuah ketenaran, yakni keabadian yang sering dunia pertanyakan.
* Aku sering membunuh rasa kantuk, bila tidak mau bermesraan terlebih dulu dengan lelah.
* Mengorbankan waktu demi balas dendam, sesalnya tiada akhir.
* Balas dendam hanya ada dalam kamusnya si mata satu, yakni kepicikan.
* Lebih baik berkemauan walau pun belum bisa, daripada bisa namun tidak memiliki kemauan.
* Yang melempar kartu-kartu kecil dengan kesenangan, para pengamat akan kesulitkan menerkanya.
* Yang mengetahui kepribadian orang lain, mudah melemahkan sekaligus gampang memberi motifasi.
* Lawanlah mimpi-mimpi burukmu agar terbebas dari belenggu mitos-mitosmu.
* Ketika waktu yang besar terlahir, terhempaslah kecengengan pecundang.
* Revolusi bukan imbas dari luar, tetapi dari kawah diri kemanusiaan.
* Dalam diri bangsa ada nyala menyengat sebagai pecahnya perang bintang.
* Munculnya fajar senantiasa baru, serupa matahari merevolusi dirinya.
* Ketika lelah diteruskan. Di mana sandaran keamanan?
* Penodong yang berpisau masa depan, lebih punya rasa malu akan makna tanggung jawab.
* Peperangan itu salah satu bidang pengetahuan yang seseorang bisa terpikat hingga mencintai.
* Di saat dunia serasa penuh, berjangkitlah semangat kembali kepada alam.
* Dari peperangan berharap perubahan, laksana pepohonan jati lebat kembali.
* Di dalam peperangan orang-orang merasa muda, inilah kejiwaan penyuntuk.
* Revolusi sederas hujan lebat, memecahkan tubuh kacanya pada bebatuan rindu.
* Revolusi ibarat keris gandring yang belum dilambari kebajikan.
* Revolusi itu sebuah karya belum selesai dan tidak akan rampung.
* Ruh daripada revolusi, itu berasal dari alam dan akan kembali kepada hukum-hukum alam.
* Gerak naik turun memberat jika masih membawa beban tubuh.
* Melaju ke samping terasa ringan sebab lemparan manusiawi.
* Pesawat pengebom itu mengikuti gerak turun dan dipercepat gaya grafitasi.
* Berebutlah terlebih dulu, sebab kedamaian semu tidak ada harganya.
* Tidak ada yang membeli kedamaian semu, kecuali para penakut yang duduk di kursi rapuh.
* Tatanan negara menjadi kacau di tangan orang-orang yang baru belajar memerintah.
* Alangkah merugi yang menuruti nafsu dengan mengesampingkan perasaan sejarah.
* Awal peradaban manusia ketika bertemu goa lalu memasukinya.
* Gema di dalam goa menjelma nyanyian, dan pemahatan dindingnya merupakan yang seni pertama.
* Lantas orang-orang pendatang berfilsafat dan tidak jauh darinya, petapa menimba hening.
* Buronan waktu berlarian, mengumpat dan sesenggukan dalam sekapan.
* Ketika peradaban dunia ke tiga bergerak, yang pertama dan yang ke dua terkena efek.
* Mengefek ialah gemuruh kesadaran dari idealisme yang ditegakkan.
* Hidup itu merugi, tidak melangkah lebih payah sebab tidak tahu namanya bangkrut.
* Yang mabuk impian terbentur kenyataan, yang mabuk fakta terdampar di angan-angan.
* Raja di singgasana, tangannya berdekatan awan-gemawan.
* Tidak ada peperangan tidak ada perbudakan, dan para budak ialah jelmaan raja-raja.
* Jangan terlalu percaya kepada dokter, bila telah hafal memahami diri sendiri.
* Ramuan para tabib tidak ada apa-apanya, dibandingkan keyakinanmu menyunggui sembuh.
* Sejarah terus berjalan, kau mengikuti atau diikuti atau terhempas?
* Mati ganas dalam hidup keras akan dikenang, dan semilir bayu berabadi.
* Laksana legenda harum melati, kebenaran wangi dari kelopak-kelopaknya.
* Sepasang semut mengagumi laut, dan si bijak membawanya berlayar, tetapi semut itu menyesal.
* Pengamen sebaiknya membuat nyataan bernada datar, bukannya riang.
* Apabila berharap upah, para pengamen mustinya tembangkan kenangan.
* Yang di lengannya ada jam tangan begitu seringnya mengulur waktu.
* Yang di rumahnya ada kalender, merasakan hidupnya masih lama.
* Salah satu ciri orang mendapatkan hidayah-Nya ialah senantiasa ingat akan mati.
* Seorang penulis yang produktif ibarat burung terbang yang tak pedulikan siapapun.
* Yang sibuk dengan keinginan tinggi, sapaan maupun kritik dianggapnya angin lalu.
* Belajarlah menjadi sutradara sejak dini, dengan itu nyatakan hayalan-hayalanmu.
* Ketakutan duniawi ada dalam fikiran dan bukan di balik hati.
* Para penjual itu menanti pembeli setelah cukup berusaha.
* Tirakatnya para penjual dengan modalnya.
* Orang bodoh makanannya (melahap ilmunya) orang pintar, itulah makna yang seharusnya.
* Jangan menjadi bui yang centang-perenang tetapi pilihlah, siapa menitih bui akan aman badan ke seberang; ambillah kemungkinan terbaik.
* Jangan lekas puas sebab dunia terisi realitas serta mimpi hidup.
* Yang hidup dianggap tiada sebab kebodohannya.
* Orang ceroboh juga terlalu berperasaan, tidaklah tenang hidupnya.
* Rasa malu yang berlebihan dapat membuat tidak betah atau tidak kerasan.
* Jangan bertanya kepada orang gusar sebab kesadarannya separuh persen.
* Berbohong pada satu permasalahan, cabang-cabangnya akan berbohong juga.
* Aku dengar hidup itu perjalanan, maka aku berseru; berlarilah!
* Batu sandungan terbaik berbentuk tajam meruncing melukai diri lagi membekasi.
* Enak-tidaknya suatu makanan itu tergantung kunyahan fikir pada kesadaran lapar.
* Keberuntungan sanggup kalahkan logika dan tidak dapat dibeli.
* Keberuntungan itu pertolongan tuhan yang tak disangka-sangka.
* Keberuntungan yang tersangkakan dan ternyatakan ialah keimanan.
* Yang tertipu rencana sesungguhnya sebab hanya melihat kulitnya semata.
* Rumusan cita-cita itu peryataan logis dari panggilan nurani.
* Walau bulan separuh rata, cahayanya tak kurang menerangi malam.
* Cerecah burung melintasi sepinya malam bertanda hujan meredah.
* Melihat sosok lain menambah rindu pada bungamu dan terlupakan mimpimu.
* Langit berhujan deras mengajarkan tidak ragu atau cepat patah semangat.
* Terimalah pendapat orang lain dengan senyum hormat, tetapi jangan lupa gagasanmu semula.
* Kepercayaan mereka kepada kita ialah karya yang semakin lama bertambah nilainya.
* Mendung dan hujan ialah keramat kehidupan, sedangkan petir berdekatan dengan murka tuhan.
* Hujan mengantarkan kelahiranku yang menggeraikan kesejukan; kata para penyaksi.
* Aku cemburu kepada para penemu, dan aku berharap mereka iri akan kehidupanku.
* Mundurlah selangkah bila sebab ajakan, lalu berlarilah secepat tidak terkirakan.
* Gerak efektif-efisien seharusnya seirama kesadaran langkah juga nalar.
* Belajar sungguh dan percaya diri adalah kegilaan kaum rasionalis.
* Agama itu ruh kebudayaan ialah sifatnya, sedangkan lainnya sebagai pelengkap kehidupan.
* Bila kebudayaan nyawanya waktu; berkaryalah, dan bumi memberi masa demi suara-suara.
* Tuhan menurunkan kitab-kitab suci laksana embun di kalbu pagi.
* Pengekangan nafsu itu puasa tertinggi dan pahalanya dirindu seribu kebajikan.
* Kata orang-orang di pasar; pekerjaan dapat ditiru tetapi nasib tidak bisa. Apa jadinya kalau bisa?
* Yang lagi diuji keimanannya, ia sedang mempertaruhkan nilai-nilai luhur kemanusiaan.
* Berfikir dan berdzikir, sedangkan perjalanan tercepat itu berserah diri kepada-Nya.
* Kata “tidak” ialah penjara dan kata “ya” merupakan penjelmaan dari perjuangan.
* Sedangkan “ragu” atau “keraguan” itu sekawanan awan menunda hujan.
* Ada perlambang yang sejajar dengan yang dilambangkan, ia memiliki kesamaan melodi ke muaranya, dan ada pula perlambang yang berkawinan dengan yang dilambangkan.
* Melegenda gairah tekadku, terhimpun satuan-satuan waktu bersekutu dengan nasibku; kata penggagas.
* Puisi itu alunan lagu diam yang terbacakan lewat antologi.
* Puisi itu tarian yang ditampilkan jika terbaca di atas panggung.
* Puisi merupakan berita gembira yang tercipta dari kesakitan bathin.
* Puisi yang tertuang dalam ruang waktu ganjil, menjelma sesuatu yang agung.
* Puisi tidak dapat dilukiskan sebenarnya jika berharap dimensi kesuciannya.
* Namun bagaimana tahu puisi itu suci atau tidak, kalau tak dilukiskan.
* Puisi memasuki ruang tiga dimensi kehidupan, bagaimana ia dilahirkan pun terlahirkan;
* Pertama, puisi merekam waktu lampau yang memuat hikmah serta kekinian.
* Kedua, puisi merekam kejadian di sekitar penciptaan atau kekinian yang bertahan dalam usianya dan lebih.
* Ketiga, puisi itu merekam masa kan datang, serta berabadi sebab pertolongan tuhan.
* Lelangkah di tengah malam serasa cepat sebab grafitasi bumi melentur berkabut.
* Di siang hari mereka mencipta grafitasi masing-masing, hingga sesaklah oleh ribuan kaki melangkah.
* Pengutil yang sulit terampuni ialah yang mengambil obat-obatan di rumah sakit.
* Banyak orang berkata; uang tiada nilainya kalau sudah memasuk rumah sakit.
* Koruptor yang membelanjakan uang kotornya seperti menghabiskan kebahagiaannya.
* Yang melihat dunia sebagai panggung gemerlap, pastilah sadar itu hanya sekejap.
* Yang telah menghamburkan hawanafsu, sumestinya lebih cepat bertaubat.
* Orang Barat berkata; sebaiknya membangun pabrik roti, dan biarkan mereka kelaparan di atas timbunan peluru.
* Ketika menuju ujung timur, kau melihat matahari separuh air separuh api.
* Hari-hari kelabu anak muda itu lebih dendam dari sebuah rencana besar.
* Gerak kontinyu memercikkan energi dan nyalanya ke titik konsentrasi.
*Rayu atau propaganda memudahkan ide memasuki nalar dan kalbu, tanpa batas bangsa serta warna kulitnya.
* Revolusioner keluar dari kesakitan membawa ajaran-ajaran pembebasan.
* Seorang rasionalis berkata; yang faham akan keadaan ibarat tuhan.
* Seorang seniman angkuh merasa bahwa tuhan sekadar teman sekutu.
* Dalam diri insan ada sifat ketuhanan dan manusia itu tuhan sekejap; kata pelupa.
* Kata orang di ujung ateis; bila tuhan masih ada, Ia punya rencana.
* Janganlah resah sebab aku bukan belenggu, tidak kucuri apa yang kau miliki.
* Ambillah apa yang menjadi dirimu dan harapanku tidak kurang dari itu.
* Sebuah kata ialah perjuangan dan warna menjadikan nyawanya.
* Bacalah kejiwaan penulisnya jika inginkan lebih dari sekadar kutu buku.
* Tubuh itu kayu bakar, nyala api jiwanya, abu-arang sebagai hasil sucinya.
* Di saat berlalu lalang, lagu alam dilupakan dan bulan tergantung membosan.
* Air mata cinta menyuburkan benih setia, dan memperteguh langkah mengarungi keyakinan.
* Lentik bebulu mata oleh tangis menajamkannya, dan kerling pemikatan mempertemukan rindu.
* Aku mempermainkan yang hanya melihat bajuku, dan dia merasa bersalah ketika aku tersenyum.
* Tuhan tidak sudih melihat bayanganmu, apalagi tubuh badutmu; munafik.
* Lebih baik berkawan orang giat yang gembel, daripada berteman dengan mereka yang sok sibuk.
* Sayang, ada yang menghinaku tetapi juga mengambil kata-kataku.
* Bersikaplah keminter kepada yang pelit menularkan ilmu.
* Bersikaplah bodoh kepada yang pemurah mengalirkan ilmunya.
* Ada yang lebih mulia, yakni merasakan dirinya seperti gelas kosong.
* Ucapan selamat atau belas kasihan merupakan hutang; ini jadi merepotkan.
* Samudera langit berbusa gemawan, menghempaskan gerimis ke muka bumi.
* Janganlah larut memandangi gelombang awan, nantinya kau terlena laksana di pantai.
* Para penyair menghancurkan ataupun membangun generasinya dengan nalar melewati perasaan.
* Pujangga menuangkan perasaan bathinahnya untuk direnungkan.
* Kau tidak yakin ketika telanjang dan penuh mantap saat berbusana.
* Benda terpandang hidup sebab melihatnya berpandangan hidup.
* Benda terpandang mati bila melihatnya berpandangan kematian.
* Yang sudah lanjut usia merasa lamban di masa mudanya, maka marilah mengecangkan yang kendor tadi.
* Ringankan beban kembaramu seperti berplesiran menyongsong fajar baru.
* Mitos di belakang, sedangkan impian menghadang dan kini sejarahmu.
* Jawaban yang benar belum tentu kebenarannya, olehlah perlu ketepatan.
* Jangan jatuhkan cita-citamu sebelum ruh meninggalkan jasad.
* Aku tidak sanggup berdiri lama namun mampu berjalan jauh.
* Manusia banyak merahasiakan daripada yang terucapkan; kata petapa.
* Ketika mencium ketakberuntungan sebaiknya berdiam, nanti kan ada yang menyadarkanmu.
* Sembuhkan rasa sakitnya, namun ia bahagia dengan duka sepinya.
* Apakah jatah doaku dikabulkan habis? Lalu aku bertaubat setelah terjawab.
* Jangan meremehkan waktu longgar, nanti kan terinjak olehnya.
* Yang menjual kebohongan seperti memakan buah maja.
* Yang tersenyum memandangi langit, itu sang jujur angannya terlintas.
* Ranumnya cabe merawat dendamnya, namun ia masih punya hati tak mematikan rasa.
* Kebodohan itu benturan tak berdarah, tapi benjolan di kepala membuat rasa malu.
* Terimalah kata-kata dalam jiwa sebelum keringat kering menidurkan raga.
* Hujan pertama jangan riang-riang, nanti malamnya kau bakal meriang.
* Sebelumnya belum tersadari kalau kan kena musibah, musibah datang setelah disadarinya.
* Dalam ruangan ada gema hampir putusasa; muntahkan serta pilihlah.
* Air suci perisai yang terawat keikhlasan, bila terkelupas oleh sifat riya.’
* Kemapanan itu setelah melewati kesakitan bertubi.
* Tiada musim panen berkarya sebenarnya sebab semuanya tergantung jiwa.
* Kayu yang belum berarang tersiram hujan bagaikan mimpi tertunda.
* Ketentuan takdir seperti timbangan, dapat terubah oleh keringat atau pun malas.
* Ketentuan takdir terjelma di setiap atomnya detik oleh ucapan “ya” atau “tidak.”
* Setiap gejala waktu terikat masa kan datang yang telah tertandakan.
* Nostalgia menjadikan waktu keriput di pagi-pagi ciumi bau rumput.
* Makna hayat ibarat mengambili reranting demi selogam uang di pasar.
* Inteljen seperti pembantu berbisik ke telinga istriku, ketika beranjak tidur istriku membisik ke telingaku, lalu dalam dadaku ada misteri terselip di antara misteri.
* Para pekerja tiang jembatan layang itu, menimbang resapan air di dalam tanah.
*Waktu meninggalkan pelena, ketika bersemangat digayuh masa, sedangkan deru jiwa sayapnya.
* Habislah kata-kata dilampaui, adat dilangkahi, orang utama berserah diri.
* Dunia tak hanya berupa kabut, sakit itu hidup dan lupa sebagaimana mati.
* Yang menyapa berembun basah akan diterima dengan kesegaran jiwa.
* Kau memberi waktu akan dihadiahkan tempat bagimu.
* Dalam lukisanmu ada ruh di ruang dadaku; kata pengamat.
* Kasih mempersembahkan sekuntum lekuk tubuh di malam harum.
* Oh tuhan, berilah hakikat kebimbangan agar terpastikan senyum perawan.
* Setengah rata bulan di matamu menandai keterikatan matahari.
* Perencanaan itu mengurai detak jantung disimpannya dalam tabung rencana.
* Nyamuk mengintai di pebukitan tubuh demi hidup ia menyakiti.
* Sepenggal cinta di detak jantung, sepenggal lainnya dibiarkan merana.
* Gerak kecepatan kalbu, jauh melesat dari jangkauan nalar.
* Ketika membaca berilah tanda garis di bawah, jika kau anggap penting.
* Catatan pinggir bukan mengotori jika ditujukan demi penajaman arti.
* Jangan menjadi penerima tetapi jadilah pemberi laksana gelombang.
* Waktu adalah tetap dan tidak bergerak cepat walau kau berlarian.
* Seorang kutu buku tanpa kenangaan musik ibarat putik tanpa angin.
* Malam mematangkan buah-buahan yang bergelantungan di pepohon.
* Lewatilah jalan kedamaian, nanti kan sampai lebih awal tanpa menunggu.
* Akrapilah sekitarmu agar disapa yang tersembunyi dari dunia kelembut.
* Tiada keluh-kesah dalam pendakian malam, dan sang surya lahir di kakinya.
* Berjagalah di waktu malam agar jiwamu senantiasa terjaga.
* Ribuan lintang menerangi malam walau tanpa sewajah bulan.
* Jadilah bagian malam terpenting dan bagian siang yang menghujam.
* Kerajaan malamlah yang kuasai fajar dan senja kehidupan; kata penyair.
* Ketika rahimmu kuisi dengan nyanyian rindu, maka lahirlah rembulan.
* Orang sibuk dapat digoda namun keikhlasan tak mungkin tergoda.
* Pakailah celak atau bercakaplah untuk mengurangi rasa kantukmu.
* Ada cahaya hikmah yang terambil, adapula yang jatuh laksana pulung.
* Sikap bersyukur murah hati sanggup menolak bencana serta mampu melapangkan dada.
* Bahagialah yang dapat memberikan mangfaat kepada kehidupan orang lain.
* Perasaan penyair lebih lembut dari hati seorang perawan.
* Tangisan pejaka lebih berharga dari kehormatan perempuan.
* Cahaya lenyap di pandang mereka ketika kecepatannya lewat.
* Menyadari banyaknya ruang-waktu serta persembahkan kesendirianmu.
* Banyak yang mengagumi butiran mutiara, tapi kenapa tak terpukau pencariannya?
* Musik itu ruh yang melayang-layang dan suatu lagu ialah ruh yang terbentuk.
* Siapakah yang mengambil kata-kata tanpa gagasan itu?
* Bertafakurlah serupa burung berkaca di atas telaga.
* Membaca buku itu cat yang tak habis, kuas yang tak lelah menari.
* Tiada terelak sedikit demi sedikit berbukit-bukit, itulah pegunungan seribu.
* Sugesti semacam mitos ialah suatu unsur pembentuk pengetahuan.
* Sugesti paling istimewa nan mulia ialah cinta.
* Perasaan merupakan hasil gesekan ingatan serta pengalaman.
* Ketika nyatanya telah sampai seolah makna tak diperlukan lagi.
* Cahaya matahari itu material dan cahaya rembulan ialah spiritual.
* Ingatannya adalah alamat yang dituju kembangkan.
* Dunia bukanlah kebetulan tetapi saling tarik-menarik dan hindar-menghindari.
* Perasaan takut, rasa malu, harapan serta cemas, ada dalam cinta, betapa luas samudranya.
* Bagaimana bisa terbang melebihi kenyataan, sedangkan sayapnya masih ada.
* Ruh ialah makna hayati yang dihidupi atau sesuatu yang dimaknai serta memaknai.
* Seekor burung belajar pada dedaunan, mendung serta anak sungai, ia keturunan matahari dan rembulan.
* Jikalau dikatakan nabi sebab menggubah syair-syinair, tentu wanitalah tuhannya.
* Banyak penyair yang melantunkan keindahan namun tiada dimengerti dirinya sendiri.
* Siapa yang tega mengusik ketenangan telaga, tidaklah memberimu segala.
* Kalau mempersempit waktu beribadah, masa-masamu dipersempit oleh-Nya.
* Dua mata satu pandangan memberi pengajaran konsentrasi.
* Ruhlah yang menebarkan abu munculkan bara.
* Jiwalah yang tenggelam dalam lautan asmara.
* Tidak ada kutukan namun yang ada ketetapan.
* Istirahlah setengah tidur, kau akan temukan alam di antara maya serta nyata.
* Teks merupakan batang besi memudahkan melihat getaran, setelah mendekati magnit fikiran.
* Pengalaman-pengalaman tanpa direnungkan, hanyalah tong kosong menggolong.
* Suatu kalimah renungan akan menjelma jutaan kemungkinan dan kenyataan.
*Ketika waktu terlahir, lahirlah instrumen suara yang melalui sayap-sayap malaikat.
* Setiap kata ialah doa dan setiap doa pastilah didengar, maka berhati-hatilah menulikan sesuatu; teguran dariku.
* Karya ialah penampakan maka yang terbaik ambillah, yang salah campakkan.
* Adalah harapan itu mampu memperlambat penularan penyakit, dan sebagai pertahanan paling ampuh.
* Harapan ialah jalan membahagiakan, dan dari dirinyalah ide kehidupan.
* Bukan waktunya tidak nyambung, tetapi penempatan ruangan yang tidak tepat.
* Untuk mengenali permulaan seharus mencintai terlebih dulu.
* Berhati-hatilah kalau mencari pendapatan dengan pendapatmu.
* Perasaan sebagai pengetahuan pertama; kata pecinta.
* Otak filsuf ibarat terpedo, sekali putar berefek pada rerantai pemikiran.
* Diri kita sering dipermaikan ide serta keyakinan sendiri; kata sudara.
* Tiada di dunia ini keseragaman, yang ada ialah keberagaman.
* Allah kabulkan doamu, tidak berarti Dia pelayanmu dan kau rajanya.
* Nalurilah yang menciptakan aliran-aliran serta madzab-madzab.
* Jadilah penguasa tidak menguasai sebab belum tentu tulus diterima.
* Kehendak berkuasa ialah kekuasaan itu sendiri.
* Kehendak ialah ruh kekuasaan.
* Semua orang dikuasai, maka berbahagialah yang dikuasai kebajikan.
* Keajaiban dan mukjizat ialah ilmu pengetahuan, tetapi dalam ilmu pengetahuan tak ada keajaiban atau yang dinamakan mukjizat.
* Cepat perubahan suhu di dalam tubuh oleh kesungguhan atau ragu.
* Suatu sifat filsuf ialah meragukan sesuatu, sebelum memasukkan ke dalam keyakinan nalarnya.
* Berbolak-baliknya hati manusia dalam rencana, sebagai tanda kuasa-Nya.
* Kesan itu penerimaan yang melahirkan pesan.
* Gagasan ialah prodak yang dihasilkan kenangan, yang mengendarai imaji.
* Imajinasi terlahir dengan seperangkat logika yang didramatisir.
* Gagasan itu sesuatu yang telah melampaui, sedangkan imaji ialah yang sedang melampaui.
* Kata “saat” menempati reruangan besar bernama waktu.
* Dalam kata “akan” tersimpan daya lebih untuk meneruskan.
* Kata “sudah” itu penyelesaian imajiner, dan kata “telah” merupakan kesepakatan nyata.
* Kata “jika” merupakan penarikan sedari jauh.
* Kata “bila” ialah pengandaian yang berdasar.
* Kata “kalau” sebagai pengandaian merayu.
* Kata “andai” itu pengharapan dengan beban perasaan malu.
* Firasat itu semacam terkaan yang berasal dari pencerahan atau kebeningan bathin insan.
* Firasat melampaui logika, bukannya berkendaraan imaji, tetapi yang dibimbing cahaya keyakinan.
* Firasat di atas mitos pada tahapan sebagai bapaknya pengetahuan.
* Sihir itu penajaman tampakan dari halusinasi.
* Halusinasi hadir sebab lemahnya logika atas kuatnya daya imaji.
* Kata “mandek” itu pemberhentian yang terpastikan, atau teryakini akan janji ketenangan.
* Imajinasi masih dalam kesadaran nalar, hanya saja ikatan rasionalitasnya sangat longgar.
* Akal sehat tanpa perasaan itu kering, sedangkan perasaan tanpa akal sehat itu buta.
* Segala yang abstrak, absud serta maya, apabila diulang atau dipelajari-mendalam, akan menemukan hekikatnya. Jadi, segalanya tidak mungkin ialah mungkin.
* Yang menjadikan tidak mungkin sebab kesadaran akan ketidakmungkinan.
* Ada rancangan sistematis dalam otak manusia, dan perasaanlah yang menghaluskannya.
*Penipuan di dalam penelitian sering muncul, sebab ketidakjujuran serta oleh kebodohan pengamatan.
* Maka kebodohan sama jenisnya dengan ketidakjujuran, hanya saja kerjanya yang berbeda.
—-