Pages

Minggu, 01 Januari 2012

Rancage Merawat Sastra Sunda

Rancage Merawat Sastra Sunda
Posted by PuJa on January 1, 2012
Kurniawan, Anwar Siswadi
http://majalah.tempointeraktif.com/

Pesan pendek silih berganti masuk ke telepon seluler Us Tiarsa sejak pagi. Ucapan selamat mengiringi perjalanannya dari Bandung ke Karawang, Jawa Barat, Rabu dua pekan lalu. Kabar bukunya, Halis Pasir, terpilih sebagai pemenang Hadiah Sastra Rancage 2011 rupanya telah merebak cepat. Lelaki 68 tahun itu mengaku cukup senang, tapi tak kaget mendapat hadiah itu.
Buku Halis Pasir diterbitkan Kiblat Buku Utama, Bandung, pada 2010 dan berisi 13 cerita pendek berbahasa Sunda. Juri Rancage mencatat, itulah buku kumpulan cerita pendek pertama Us Tiarsa setelah 30 tahun dia menulis dalam bahasa tersebut.
Hadiah Rancage diberikan untuk pengarang karya sastra Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung. Juga kepada individu atau lembaga yang dinilai berjasa dalam pengembangan sastra dan bahasa daerah tersebut.
Selain buat Us Tiarsa, penghargaan untuk sastra Sunda tahun ini diberikan kepada Usep Romli, yang dianggap berjasa dalam pengembangan sastra Sunda. Usep sudah dikenal luas sebagai sastrawan Sunda, khususnya sebagai pengarang buku cerita anak. Tahun lalu, Usep juga mendapat Rancage lewat kumpulan cerpennya, Sanggeus Umur Tunggang Gunung.
Rancage untuk sastra Jawa diberikan kepada Pulo Asu, kumpulan cerpen karya Herwanto, yang diterbitkan Pamarsudi Sastra Jawa Bojonegoro, dan Lanang Setiawan, yang berjasa dalam mengembangkan sastra Tegal. Peran Lanang dalam memajukan bahasa Tegal itu dimulai pada 1984. Dia, misalnya, menerjemahkan sajak Rendra, “Nyanyian Angsa”, menjadi “Tembangan Banyak”, dan “Aku” karya Chairil Anwar menjadi “Enyong”. Penerima Anugerah Seni Dewan Kesenian Kota Tegal itu telah melahirkan buku puisi Nggayuh, novel Oreg Tegal, serta beberapa drama, seperti Lenggaong, Ken Angrok Gugat, Surti Gandrung, dan Ni Ratu. Di bidang musik, Lanang juga merekam beberapa album lagu bahasa Tegal, seperti Lagi Kedanan, Rika Tega Enyong Tega, dan Tragedi Jatilawang.
Rancage sastra Bali diberikan kepada Sang Lelana, kumpulan sajak karya I.D.K. Raka Kusuma, yang diterbitkan Sanggar Buratwangi. Raka juga menyabet Rancage pada 2002 atas jasanya dalam mengembangkan sastra Bali. Tahun ini tak ada hadiah untuk sastra Lampung karena tidak ada buku yang terbit dalam bahasa itu sepanjang 2010.
Dalam bahasa Sunda, rancage berarti kreatif. Penghargaan Rancage dirintis sejak 1989 oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi. Mulanya hadiah ini khusus untuk karya sastra Sunda, tapi kemudian juga untuk sastra Jawa, Bali, dan Lampung. Setelah 20 tahun lebih Ajip mengasuh Rancage, kini tongkat estafet perawat kesusastraan daerah itu pun mulai beralih. Pemenang Rancage untuk sastra Sunda tahun ini tak lagi diputuskan oleh Ajip, tapi oleh rekannya, Teddy Muhtadin, 44 tahun. “Saya sudah 73 tahun, harus tahu dirilah,” kata Ajip.
Panitia Rancage mencatat, dari 24 buku yang terbit pada 2010, 14 judul dicoret karena merupakan edisi cetak ulang. Di antara 10 judul yang benar benar baru dan layak dinilai itu ada kumpulan tiga cerita pendek berjudul Sapeuting di Cipawening karya Usep Romli H.M., Layung Katumbiri karya Nunung Saadah, Halis Pasir tulisan Us Tiarsa, dan naskah sandiwara Rosyid E. Abby, Kabayan Ngalanglang Jaman. Buku lainnya berupa roman, kumpulan esai, dan buku anak anak Rasiah Kodeu Biner karangan Dadan Sutisna.
Menurut Teddy, umumnya karya sastra Sunda berwarna senada. Ceritanya lebih mengarah ke realitas atau persoalan hidup sehari hari. Namun kritikus sastra Sunda itu menilai karya Us Tiarsa lebih halus dan sabar. Keunggulan itu hampir merata di 13 cerita pendeknya. “Dia lebih matang dan struktur bahasa Sundanya sangat baik. Juga banyak kata yang muncul terasa pas,” ujar Ketua Program Studi Sastra Sunda Universitas Padjadjaran itu, Senin pekan lalu.
Kematangan Us bisa jadi karena ditempa pengalamannya sebagai penulis dan wartawan. “Dunia kewartawanan” mulai dikenalnya ketika ia duduk bangku kelas 4 sekolah rakyat, saat ia menulis surat ke harian Pikiran Rakyat tentang banyaknya pengungsi dari Ciawi ke daerah sekitar rumahnya di Kebon Kawung, Bandung, karena takut kepada gerombolan penjahat.
Tapi lelaki kelahiran 1 April 1943 itu baru mulai menggeluti jurnalistik pada 1963, setelah menanggalkan seragam pegawai negeri sebagai Kepala Subwilayah Padi Setra di Karawang, Jawa Barat. Hingga 2003, lelaki bertubuh kecil dan berkulit gelap itu menjadi redaktur dan pemimpin redaksi di surat kabar mingguan Kujang, majalah Sunda Mangle, Gondewa, Koran Sunda, dan Galura.
Sastrawan yang tak lulus dari Jurusan Sastra Indonesia dan Sastra Sunda di Universitas Padjadjaran itu dalam karya karyanya selalu membiarkan tokohnya bercerita untuk membangun imajinasi pembaca. Cerita pendeknya sudah empat kali dinilai tim juri majalah Mangle sebagai karya terbaik bulanan dan mendapat uang penghargaan Rp 1 juta per karya.
Usep Romli, pemenang Rancage atas jasanya memperkaya sastra Sunda, mulai menulis sajak dan cerita pendek saat menjadi guru sekolah dasar di Kadungora, Garut, Jawa Barat, pada 1966. Karya karya lelaki kelahiran Limbangan, Garut, 16 April 1949 itu dimuat di majalah Kalawarta Kudjang, Mangle, Hanjuang, Giwangkara, dan Galura. Pada 1970 an, dia menjadi koresponden di Garut untuk koran mingguan Fusi, Giwangkara, Kompas, Pelita, dan Sipatahunan. Karena lebih memilih jadi jurnalis dan penulis, ia pun berhenti jadi guru. Terakhir, ia pensiun dari koran Pikiran Rakyat pada 2004.
Usep banyak menulis bacaan anak anak dalam bahasa Sunda dan Indonesia, seperti Si Ujang Anak Peladang dan Dongeng dongeng Araheng. Dia juga menerjemahkan kisah Nasrudin dari bahasa Arab dalam Bongbolongan Nasrudin serta kumpulan cerita pendek karya Leo Tolstoy, Washington Irving, dan penulis anonim Timur Tengah dalam Kahadean Manusa.
Humor humor mengenai pesantren ia kumpulkan dalam Dulag Nalaktak. Dua kumpulan sajaknya hadir dalam Sabelas Taun dan Nu Lunta Jauh. Dia juga menulis novel Bentang Pasantren dan Dalingding Angin Janari serta sejumlah kumpulan cerita pendek, termasuk Ceurik Santri, Nganteurkeun, Sanggeus Umur Tunggang Gunung, dan Sapeuting di Cipawening.
Hadiah Rancage, kata peneliti sastra di Pusat Studi Sunda, Atep Kurnia, berperan besar dalam merawat sastra Sunda. Tapi ia mengkritik pertimbangan Rancage yang hanya bersandarkan pada buku. “Padahal kehidupan sastra Sunda bersandarkan pada majalah yang memuat cerpen, puisi, cerita bersambung, dan esai,” ujar Redaktur Pelaksana Majalah Sunda Cupumanik itu.
Selain itu, peluang sastrawan muda untuk muncul menjadi sempit karena penerbit buku Sunda, yang cuma sedikit jumlahnya, lebih mengutamakan karya para pengarang tua. “Ini mungkin karena pertimbangan kualitas bahasa,” katanya.
Menurut catatan panitia Rancage, penerbitan sastra Sunda naik turun setiap tahun. Pada 2007 terbit 32 judul buku baru, pada 2008 anjlok jadi 10 judul, pada 2009 naik lagi jadi 13 judul, dan pada 2010 ada 24 judul. Kondisi demikian, kata Atep, berbeda dengan zaman keemasannya pada 1960 1970 an. Kala itu sebuah karya bisa dikenal luas. Si Buntung Jago Tutugan, Neng Elah, atau Sirod Jelema Gaib, misalnya, diangkat menjadi sandiwara radio.
Menurut Atep, masalah besar perkembangan sastra Sunda saat ini terletak pada lemahnya sosialisasi di masyarakat. Upaya kampus kampus yang memiliki jurusan sastra Sunda di Jawa Barat dalam menyebarluaskan sastra Sunda juga dinilainya tidak maksimal. Tapi ia yakin sastra Sunda akan tetap hidup. “Sepanjang ada orang yang berbahasa Sunda, saya yakin akan ada orang yang berusaha menyalurkan ekspresi sastra Sundanya pada berbagai media yang ada,” ujarnya.
Adapun Ajip Rosidi berusaha sekuat tenaga agar sastra Sunda tetap hidup. Selain membuat hadiah Rancage, ia mendirikan penerbitan Kiblat Buku Utama pada 2000 dari hasil penjualan dua lukisan potret diri dan pemandangan laut pemberian maestro Affandi senilai Rp 500 juta. Sekarang ia bersiap menjual koleksi lukisannya lagi untuk mendirikan Perpustakaan Ali Sadikin di Bandung, yang akan menjadi pusat seni Sunda. “Saya sendiri tidak mengharapkan apa apa dari Indonesia dengan kondisi sekarang ini,” katanya.
14 Februari 2011

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar