Pages

Tuesday, 27 March 2012

Optimis, Masa Depan Puisi dan Sastra Indonesia


Optimis, Masa Depan Puisi dan Sastra Indonesia
Posted by PuJa on March 27, 2012
Mengikuti Festival Penyair Korea-ASEAN (KAPLF) II 25-29 Oktober 2011
Zaim Rofiqi
http://www.riaupos.co/

Kita akan menemukan Asia sebagai dunia sendiri.
Puisi kita bermimpi untuk menanggulangi sejarah yang penuh penguasaan dan eksploitasi.
Apa yang diharapkan kita semua adalah saling mendekat.
Mungkin seorang penyair adalah tukang jam yang pekerjaannya seperti memeriksa dan merawat bahasa.
Kho Hyeong Ryeol, Presiden The Poet Society of Asia (TPSA)
Panitia memang sengaja membiarkan (karya-karya penyair) antologi ini membuat tafsiran mereka sendiri tentang keragaman Asia itu.
Keanekaragaman kultur dan interpretasi para penyairnya terhadap kehidupan, persaudaraan, dan kreativitas. Sound of Asia itu juga dapat diterjemahkan dengan pengertian: menyuarakan Asia, menggaungkan Asia.
Dan di dalamnya suara-suara dan denyut kebudayaan Melayu sebagai bagian dari kebudayaan Asia dan dunia ikut terdengar. Gemuruh dan menjentikkan kesadaran-kesadaran tentang kehidupan rumpun bangsa yang pernah demikian jayanya di kawasan ini.
Rida K Liamsi, dalam pengantar buku Sound of Asia
BAGAIMANA jadinya jika para penyair dari berbagai negara bertemu dalam sebuah acara yang secara khusus diselenggarakan bagi para pembuat sajak ini?
Apa yang akan terjadi jika para penyair dari berbagai latar belakang budaya berinteraksi dalam sebuah festival bersama yang diadakan di suatu tempat tertentu?
Apa yang bisa diharap dari bertemunya para penyair dari bangsa-bangsa yang berbeda di sebuah wilayah tertentu? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang segera bergelayut dalam pikiran ketika saya dapat email bahwa saya diundang ikut serta dalam Festival Penyair Korea-ASEAN II di Pekanbaru, Riau, 25-29 Oktober 2011.
Dalam perjalanan menuju Pekanbaru, selain keinginan untuk segera sampai ke lokasi, apa yang ada dalam benak saya adalah, saya harus dapat sesuatu (baca: pengetahuan) yang terkait dunia puisi dari pertemuan dengan para penyair dari berbagai negara ini.
Paling tidak saya harus dapat semacam gambaran besar tentang kehidupan perpuisian di negara-negara ASEAN dan Korea Selatan dari para penyair yang mewakili negara mereka.
Dan apa yang saya harapkan selama dalam perjalanan itu sedikit banyak terpenuhi.
Dalam festival ini saya bisa bertemu, misalnya, dengan Maung Day dan Maung Pyiyt Minn (keduanya penyair Myanmar), yang bercerita banyak tentang kehidupan perpuisian khususnya, dan kesusastraan pada umumnya, di negara mereka: mereka berkisah, rezim militer di negara mereka masih sangat kuat menindas para penulis; banyak buku yang dilarang dan banyak juga penulis yang dicekal; di negara mereka para penulis dilarang menulis hal-ihwal seputar politik; melanggar larangan ini berarti siap didenda, bahkan dipenjara. Sebuah kisah yang segera mengingatkan saya pada masa Orde Baru di Indonesia, di mana larangan-larangan serupa sedikit banyak juga terjadi.
Dalam perjalanan ke Candi Muara Takus di Kampar (hari ketiga festival ini, 27/10/2011), saya kebetulan satu bangku dengan penyair Ko Hyeong Ryeol (Korea Selatan). Sebelumnya saya tahu, Ko Hyeong adalah Presiden The Poets Society of Asia (TPSA).
Kesempatan itu tak saya sia-siakan. Setelah sedikit memperkenalkan diri dan basa-basi seadanya, saya mulai mengajukan pertanyaan seputar kehidupan kesusastraan (khususnya puisi) di Korea.
Dan Ko Hyeong pun mulai bercerita: pada tahun 1970-an kondisi kesusastraan di Korea tak jauh beda dengan Myanmar —otokrasi politik telah menindas banyak bidang pemikiran, tak terkecuali kesusastraan. Pada masa rezim otokrasi itu berkuasa, para penyair tak diizinkan menulis puisi dengan segala kebebasannya.
Para penyair merasa malu menghadapi situasi buruk ini. Kemudian muncul sastrawan-sastrawan yang berani mendobrak kemacetan itu: Ko-Eun, Shin Kyung-Rhim, Kim Ji-Ha, Baek Nak-Cheong, dll.
Para penyair ini mencipta puisi tidak di sanggar-sanggar atau kamar-kamar di menara gading, melainkan di alun-alun, lapangan, dan tempat-tempat publik yang terbuka lainnya.
Mereka mengumumkan pandangannya bahwa sastra tak mungkin tidak harus terkait dengan politik. Kesusastraan (khususnya puisi) berhak mengoreksi dan mengkritik politik, jika politik dianggap telah menyimpang dari tujuannya yang utama: melayani kepentingan rakyat.
Dalam kesempatan lain, pada Kamis malam dalam perjalanan untuk makan malam bersama di Rumah Makan Melayu, saya juga kebetulan satu bangku di bus bersama Do Thi Khanh Phuong (seorang penyair perempuan dari Vietnam).
Setelah berbasa-basi sekadarnya, kami pun mulai bertukar cerita tentang kehidupan sastra di Indonesia dan Vietnam. Tak seperti di Myanmar dan Korea pada 1970-an, kehidupan sastra di Vietnam relatif terbuka, dan para penyair praktis bisa menulis tentang tema apa saja yang disukainya.
Tak ketinggalan, dia juga mengemukakan pandangan-pandangan pribadinya tentang sastra, khususnya puisi: baginya puisi adalah bagian dari tubuh kita, ia adalah kebahagiaan sekaligus penderitaan kita sebagai manusia.
Puisi baginya juga merupakan salah satu alat berkomunikasi dengan ‘’ada tertinggi’’ (The Supreme Being) dan sarana mencapai ‘’keindahan’’ (Beauty).
Semua pengetahuan tambahan ini tentu sangat berharga, paling tidak sebagai latar belakang bagi saya dalam menikmati karya-karya mereka yang ada dalam ketiga buku antologi yang diberikan panitia: Malay as World Heritage on Stage, Sound of Asia; dan Becoming After Seoul.
Sayang, saya tak sempat bercakap-cakap secara intens dengan para penyair dari negara lain selain yang saya sebut di atas, dan hanya bisa menikmati dan menerka-nerka kehidupan perpuisian dan kesusastraan di negara mereka dari puisi-puisi dan esai-esai yang termuat dalam tiga buku tersebut —ketiga buku itu memuat karya-karya seluruh peserta KAPLF II: 10 penyair Korea Selatan, 2 penyair Vietnam, 2 penyair Myanmar, 3 penyair Thailand, 2 penyair Filipina, seorang penyair Brunei Darussalam dan seorang penyair Singapura, serta 20 penyair tuan rumah, Indonesia.
Namun melihat mereka membaca puisi dan esai —kadang bahkan bernyanyi— dengan bahasa, gaya, dan cara mereka masing-masing dalam tiap acara dalam KAPLF II ini tentu merupakan pengalaman yang sangat berharga dan bermanfaat yang jarang bisa didapat di tiap kesempatan.
Festival, Panitia, dan Masyarakat
Acara-acara yang harus dihadiri para peserta dalam festival ini sendiri sangat beragam dan masing-masing sangat menarik. Pada hari pertama (25/10/11), para peserta, setelah sarapan, diajak mengunjungi PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) —sebuah perusahaan minyak terbesar dan tertua di Indonesia.
Di semacam ballroom atau hall perusahaan itu, dari pagi hingga tengah hari perwakilan dari CPI mempresentasikan kesungguhan mereka terhadap sastra, seni dan budaya Riau khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Acara ini diakhiri jamuan santap siang bersama di ruang pertemuan CPI di Minas.
Dari kantor CPI, para peserta kemudian diajak ke Universitas Lancang Kuning (Unilak). Acara di kampus ini diisi dengan pembacaan puisi dan esai oleh para penyair, diskusi tentang proses kreatif dalam menulis, dan diselingi aneka tarian persembahan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unilak.
Dari kampus Unilak, para peserta kembali ke Hotel Labersa untuk istirahat sejenak, dan setelah itu malam harinya acara yang harus dihadiri adalah santap malam bersama Gubernur Riau, dilanjutkan prosesi pembukaan KAPLF II 2011 yang juga diisi dengan beragam sajian pementasan baca puisi, esai, dan musik daerah Riau.
Hari kedua (26/10/11), acara yang harus diikuti cukup unik: kunjungan ke Istana Kerajaan Siak Sri Indrapura, di Kabupaten Siak.
Perjalanan menuju Siak dilakukan melalui jalur air, menggunakan speedboat menyusuri arus Sungai Duku. Begitu sampai di pelabuhan, peserta disambut dengan naik beca menuju Istana Siak.
Di istana, para peserta disambut oleh Bupati Siak dan jajarannya. Mereka kemudian memperkenalkan dan menjelaskan Istana Siak beserta isi dan sejarahnya ke para peserta.
Momen yang cukup menarik adalah ketika para abdi Istana Siak menjelaskan tentang Komet: sebuah alat musik raksasa sejenis gramofon yang diputar secara manual.
Alunan musik klasik karya Beethoven, Mozart dan Bach masih bisa didengar dari alat musik ‘purba’ ini. Dari penjelasan salah seorang abdi Istana Siak, para peserta tahu bahwa alat musik ini hanya ada dua di dunia. Pertama di Indonesia, tepatnya di Istana Siak itu, sedang satunya lagi di Jerman sebagai tempat asal pembuatan alat musik tersebut.
Komet ini sendiri dibawa Sultan Siak XI (Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syarifuddin, yang bertahta 1889-1908). Komet ini dibawa ke Siak ketika Sultan melawat ke Eropa di tahun 1896. Di tubuh alat musik ini tertulis ‘’Komet Goldenberg & Zetitlin Patent 95312, buatan abad XVIII’’.
Komet ini tingginya mencapai lebih dari 3 meter dengan lebar sekitar 90 Cm. Acara di Istana Siak ini bisa dibilang cukup sukses karena para peserta, jajaran pemerintahan, abdi Istana, dan masyarakat setempat berinteraksi cukup hangat.
Malam harinya acara yang dihelat adalah Patin Night: santap malam ikan patin dilanjutkan dengan pembacaan sajak dan esai dari masing-masing peserta.
Hari ketiga (27/10/11), setelah sarapan, para peserta dijadwalkan mengunjungi situs Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar.
Acara kali ini dilaksanakan di pelataraan candi, dan diisi dengan penampilan musik tradisional Kampar, pembacaan puisi, dan diakhiri santap siang dengan menu tradisional Kampar yang disebut bajambau.
Setelah kembali ke hotel untuk istirahat sejenak, malam harinya para penyair dimanjakan dengan santap malam di Rumah Makan Melayu: berbagai sajian makanan khas Riau yang seluruhnya lezat.
Setelah santap malam, acara kemudian dilanjutkan di Anjung Seni Idrus Tintin Art Theatre. Di pelataran gedung pertunjukan yang cukup megah ini para peserta berbaur dengan masyarakat umum untuk menyaksikan pergelaran simfoni ‘’Bulang Cahaya’’ dan pembacaan puisi para penyair senior Riau yang mendukung kepanitiaan KAPLF II.
Hari keempat (28/10/11), para peserta dibawa mengunjungi Perpustakaan Soeman Hs. Acara yang diadakan di perpustakaan yang merupakan salah satu ikon kebanggaan Provinsi Riau ini adalah kolokium/diskusi panel yang terbagi dalam tiga sesi.
Masing-masing sesi diisi dengan pembacaan esai oleh 5-7 penyair, dilanjutkan dengan diskusi tema-tema dari esai-esai yang dibacakan tersebut.
Peserta kemudian makan siang di Kantor Gubernur Riau, Salat Jumat, lalu dilanjutkan dengan tur keliling Kota Pekanbaru: berkunjung ke museum, ke Taman Budaya, ke pasar tradisional Pasar Bawah, serta ke pusat kerajinan songket.
Sayang, setelah acara di Perpustakaan Soeman Hs, saya harus kembali ke Jakarta karena harus mengisi di acara Bienal Sastra Internasional Utan Kayu-Salihara 2011.
Namun saya terus mengikuti perkembangan acara di hari kelima KAPLF II (29/10/11) dengan sesekali mengontak kawan saya yang juga salah seorang peserta, Gunawan Maryanto, dan sesekali menanyakan kabar penyelenggaraan acara hari terakhir itu ke salah seorang panitia yang cukup ramah dan bersahabat.
Dari Gunawan Maryanto, salah seorang panitia, dan juga dari buku program yang dibagikan panitia saya tahu bahwa hari kelima yang juga merupakan hari terakhir KAPLF II itu diisi dengan agenda utama musyawarah penentuan tuan rumah penyelenggara KAPLF III 2012.
Selanjutnya adalah diskusi budaya Melayu: diskusi karya besar Dr Tenas Effendy, Bujang Tan Tomang dan berkunjung ke rumah salah seorang perupa Riau, Amrun Salmun.
Dari kedua sahabat itu saya juga tahu, acara di hari terakhir ini berjalan lancar meski sama padatnya dengan hari-hari sebelumnya.
Kedua sahabat saya itu bahkan sempat nyeletuk ‘’mantap’’ dan ‘’keren’’ saat melalui telepon saya tanyakan bagaimana acara di hari terakhir tersebut.
Mendengar jawaban ini, saya ikut senang dan bangga, bahkan hati kecil saya sempat berbisik: penyelenggaraan KAPLF II 2011 yang serius dan rapi ini patut jadi contoh tentang bagaimana seharusnya menyelenggarakan acara-acara sastra nasional dan internasional di daerah-daerah lain di Indonesia.
Apa yang juga harus dicatat dan patut diapresiasi tinggi selama penyelenggaraan KAPLF II ini adalah penampilan tari-tarian dan musik tradisional Riau yang disajikan hampir di tiap-tiap awal dan akhir masing-masing acara: dari sini saya jadi mengenal dan meyaksikan langsung tari lukah gilo, tari zapin, dan tari-tarian Melayu khas daerah Riau yang lain.
Secara umum, apa yang cukup menonjol dari penyelenggaraan KAPLF II 2011 di Pekanbaru, Riau ini -KAPLF I diselenggarakan di Seoul, Korea Selatan, pada Desember 2010- adalah jadwal yang begitu padat: tiap hari, acara dimulai dari pukul 07.00 pagi dan berakhir sekitar pukul 23.00 atau lebih.
Semula saya mengira jadwal yang padat ini hanya ada di atas kertas, dan dalam praktiknya akan molor atau berubah-ubah seperti lazimnya acara-acara sastra di tempat lain di Indonesia. Namun dugaan saya ternyata salah besar.
Panitia lapangan yang dimotori Mbak Andi Noviriyanti, Mbak Ali Mamiya, Mbak Fifi, dan Mas Hary B Kori’un dan yang lainnya ternyata adalah orang-orang yang sangat ketat dan tepat waktu sehingga para penyair yang biasanya urakan dan slenge’an pun ‘takluk’ oleh mereka: dalam festival ini para penyair tak ubahnya para pegawai kantor yang rajin dan harus tepat waktu, tak boleh telat.
Memang, dengan jadwal yang ketat dan padat ini saya menduga masing-masing penyair peserta dapat dipastikan kelelahan, namun panitia tentu jauh lebih kelelahan karena memiliki ‘jam kerja’ yang lebih lama dibanding para peserta.
Dalam hal keketatan dan ketepat-waktuan ini, apresiasi yang tinggi patut diberikan pada seluruh panitia yang menjadikan festival ini berjalan begitu menarik dan lancar.
Bisa dikatakan, merekalah sebenarnya tulang punggung festival ini: mereka, dengan caranya sendiri, telah berperan dalam memajukan puisi Indonesia -juga dalam ‘menertibkan’ para penyair.
Setelah mengikuti berbagai acara yang demikian beragam dan memikat ini, dalam benak saya muncul semacam kekaguman pada orang-orang yang merancang, merencanakan dan menata isi acara yang begitu beragam, padat, namun seluruhnya bisa dikatakan berjalan lancar tersebut.
Ya, beberapa hari setelah saya ikut festival ini, saya masih terkesan pada orang-orang yang dengan kegigihan dan keseriusan -di tengah-tengah berbagai keterbatasan dan kendala- menggagas dan memelopori acara semacam KAPLF ini.
Dan dalam benak saya muncul nama Pak Rida K Liamsi (Direktur KAPLF II 2011), Pak Ko Hyeong Ryeol (Ketua TPSA dan pemimpin Majalah Sipyung). Terima kasih dan selamat atas festival sastra yang membanggakan ini.
Terakhir, hal yang juga sangat berkesan, dan cukup mengharukan, dari penyelenggaraan KAPLF II 2011 ini adalah apresiasi dan antusiasme masyarakat Riau yang begitu tinggi.
Dan bukan hanya masyarakat awam: bahkan para pemangku adat, perwakilan instansi pemerintah, perwakilan perusahaan swasta, abdi Istana Siak, pelajar SMP-SMU, mahasiswa, dan para pejabat publik wilayah Riau memperlihatkan apresiasi dan antusiasme yang tak dibuat-buat.
Saya masih ingat bagaimana wajah Gubernur Riau, Bupati Siak dan Wakil Bupati Kampar tercenung dan sejenak merenung mendengar para penyair dari Korea Selatan, ASEAN, dan dari Indonesia sendiri berdiri di hadapan mereka dan membacakan sajak-sajak tentang cinta, keindahan, spiritualitas, perjuangan hidup.
Mereka bahkan dengan sukarela ikut berpartisipasi membacakan sajak mereka sendiri. Pendeknya, setelah ikut KAPLF II ini ada semacam optimisme yang muncul dalam diri saya: masa depan puisi dan sastra Indonesia pada umumnya cukup cerah.***
_______________8 November 2011
Zaim Rofiqi adalah penyair, cerpenis, dan esais kelahiran Jepara (Jawa Tengah). Bekerja di Freedom Institute. Salah seorang peserta dalam Pertemuan Penyair Korea-ASEAN di Riau. Tinggal di Jakarta

Reactions:

0 comments:

Post a Comment