Pages

Monday, 16 April 2012

Anakku

Anakku
Posted by PuJa on April 15, 2012

Bagus Sidi Pramudya

http://www.suarakarya-online.com/

Solo, Jawa Tengah, bulan Maret. Hari menjelang sore. Sri Kandi masih tertahan di sekretariat senat mahasiswa. Padahal pertemuan antar elemen mahasiswa di kampus tersebut telah berlangsung sejak pagi.

Namun, meski waktu beranjak sore, belum ada tanda-tanda pertemuan akan berakhir. Perdebatan antar mahasiswa seperti tak berujung. Masing-masing tak mau kalah. Selaku pimpinan rapat, Sri Kandi bingung, apakah pertemuan harus dihentikan sekarang atau dibiarkan saja para peserta pertemuan berdebat, menumpahkan argumen mereka sampai mereka kelelahan sendiri.

Situasi belakangan memang semakin menegangkan. Demonstrasi mahasiswa makin meningkat. Tak hanya terjadi di Ibu Kota tapi telah menjalar pula ke berbagai daerah. Mahasiswa mulai muak dengan retorika-retorika politik yang disampaikan para pejabat negeri.

* * *

Di Jakarta, pada waktu hampir bersamaan. Bripda Sujana tiba di rumah. Wajahnya terlihat lelah. Seharian ia bertugas di lapangan, menjaga para mahasiswa yang berdemonstrasi. Suharti, istrinya, menyambut sang suami di ambang pintu.

Setelah mencium punggung tangan kanan Sujana, Suharti mengambil tas dan peralatan kerja sang suami dan membawanya ke dalam. Tak lama Suharti keluar lagi membawa segelas air minum untuk suaminya. Sujana telah menunggu di ruang tamu.

“Gimana, Pak, demonstrasinya hari ini? Kayaknya mulai banyak mahasiswa yang datang ke Ibu Kota,” tanya istri dengan hati-hati.

“Aku nggak tahu, Bu, apa sih maunya mahasiswa. Mestinya mereka kan tekun saja di kampus, belajar dan cepat lulus. Kalau menginginkan perubahan ngapain pake turun ke jalan,” cerocos sang suami.

“Maklum saja, Pak, mereka kan anak muda. Jiwanya masih meledak-ledak, segalanya maunya serba cepat,” sahut sang istri mendinginkan suasana. Sujana tak menyahut. Tangannya menyambar gelas minum di meja dan meneguk minumannya.

* * *

Kembali di Solo, Sri Kandi berbicara lantang. Kerumunan mahasiswa di depannya selalu membuatnya bersemangat. Dia menyuarakan sikapnya. Sepertinya hari ini, tak ada lagi yang bisa mencegah.

Semua elemen mahasiswa turun ke jalan. Mereka protes atas ketidakadilan yang di derita rakyat. “Pemerintah telah gagal mengemban amanah rakyat! Presiden harus turun! Bubarkan parlemen!” begitu seruan Sri Kandi dalam orasinya dan sorak sorai pun menggelora.

Di bagian lain, dengan alasan demi keamanan… drap…drap…drap…sepasukan polisi, diturunkan dari truk tak jauh dari kerumunan mahasiswa yang sedang berdemonstrasi itu. Pasukan polisi mulai merapatkan barisan, mereka pun bergerak merangsek mendekati kerumunan mahasiswa.

* * *

Di Jakarta, Sujana menerima pesan singkat dari Komandannya. Yang isinya menyebutkan, mulai malam ini seluruh anggota pasukan pengendalian massa (Dalmas) harus siaga penuh di markas. Sebagai prajurit, dia pun tak bisa menolak panggilan tugas. Padahal, baru beberapa jam yang lalu ia tiba di rumah, dan kini, sudah harus kembali ke markas.

“Yang ikhlas ya Bu, kalau belakangan ini bapak sering meninggalkan rumah. Suasana di luar sana memang tambah genting dan memanas,” ucap Sujana, saat berpamitan kepada istrinya, Suharti. Sang istri selalu mengerti tugas sang suami, dia hanya tersenyum, sungguh menenangkan Sujana.

* * *

Selepas mengantar keberangkatan suaminya tadi malam, Suharti sulit memejamkan mata. Tidak seperti biasanya, dia begitu gundah. Tanpa disadari lamat-lamat terdengar adzan subuh berkumandang, dia pun bergegas bangkit untuk mendirikan sholat.

Usai sholat, Suharti duduk bersimpuh, menengadahkan ke dua telapak tangan, mohon perlindungan Allah bagi keselamatan suaminya. Dia sangat mengetahui dari berita-berita di televisi, mahasiswa akan berdemo besar-besaran.

Selain itu, tak lupa dia berdoa untuk keselamatan putri tunggalnya, yang tengah menuntut ilmu di luar kota sana. Usai berdoa, dia pun segera mengemasi perlatan sholatnya, dan segera mengambil telepon genggamnya untuk menghubungi putri tunggalnya.

Tiba-tiba saja, ada kerinduan yang begitu mendalam pada sang putri. Berkali-kali,dia mencoba menghubungi nomor sang anak, namun selalu saja tidak ada jawaban. “Aneh, apakah dia belum bangun,” pikirnya.

* * *

Pagi tiba, matahari bersinar hangat. Sujana usai mengikuti apel pagi. Tampaknya, seluruh anggota pasukan bakal diterjunkan. Dalam instruksinya Komandan Sujana menyatakan, kalau tugas kali ini bukan main-main. Disebutkan, mahasiswa dan kelompok buruh akan turun dalam jumlah besar.

Anggota mulai naik ke kendaraan yang tersedia. Mereka akan diturunkan pada titik-titik rawan, yang harus memperoleh penjagaan. Sujana dan pasukannya mendapat tugas memblokade ruas jalan menuju gedung parlemen, menjaga agar rombongan mahasiswa tidak bisa mendekati gedung itu.

Pagi yang sama, Sri Kandi menjejakkan kaki di Jakarta. Badannya lelah, mata pun masih menahan kantuk. Tapi, semuanya tak dirasa karena semangat Sri begitu menyala-nyala. Ini kesempatan bagi dirinya dan seluruh rekan-rekannya untuk menyuarakan kebenaran, menyuarakan keadilan.

Berjalan beriringan Sri Kandi tiba di sebuah kampus di Ibu Kota. Kampus ini memang disepakati menjadi basecamp bagi para mahasiswa yang datang dari berbagai daerah. Kehadirannya dan rekan-rekan disambut hangat para mahasiswa yang sudah lebih dulu berada di kampus itu.

Waktu terus beranjak. Sri Kandi dan teman-teman segera menyusun strategi demonstrasi yang akan mereka lakukan hari itu. Tiap kelompok akan dipimpin seorang kordinator lapangan (korlap). Mereka juga berbagi jadwal, siapa yang akan melakukan orasi. Masing-masing komandan regu diberi kesempatan berorasi, termasuk Sri Kandi.

Barisan mahasiswa bergerak sembari meneriakan yel-yel, agar pemerintah segera membatalkan rencana menaikkan harga BBM. Selain itu, sebagai penambah semangat, mereka pun menyanyikan lagu-lagu perjuangan. “Tolak kenaikan herga BBM…!!!! Kenaikan harga BBM hanya menyengsarakan rakyat…!!!” Demikian teriakan-teriakan yang dikumandangkan para mahasiswa.

* * *

Bersamaan dengan pergerakan mahasiswa, Sujana dan rekan-rekannya, bersiap-siap di tengah ruas jalan yang mengarah ke gedung parlemen. Mereka membuat barikade, dengan menempatkan tameng terbuat dari plastik tebal di bagian depan.

Kalau melihat posisinya, Sujana dan rekan-rekannya tampaknya bakal berhadapan langsung dengan kelompok mahasiswa yang berdemontrasi, yang tentunya akan berusaha menembus barikade polisi untuk mencapai gedung parlemen.

Situasi begitu hening, ruas jalan yang sudah ditutup sejak pagi menjadi begitu lengang. Suasana ini sangat tidak mengenakkan bagi Sujana. Tiba-tiba saja, batinnya menjadi gelisah, terlintas wajah istrinya, lalu wajah anaknya. Kegelisahan pun menyelimuti batinnya.

Dalam keheningan itu, tiba-tiba saja terdengar sorak sorai kelompok mahasiswa yang sudah mencapai ujung jalan menuju gedung parlemen. Sontak, Sujana dan anggota pasukan lainnya pun segera menyiapkan diri.

Sampai di hadapan sepasukan petugas, rombongan mahasiswa itu bukannya menghentikan langkah, malah berupaya menerobos barikade. Mereka ngotot untuk bisa mencapai gedung parlemen.

Sujana dan rekan-rekan berupaya membendung gerakan ratusan mahasiswa tersebut. Satu kelompok mendesak, satu lagi bertahan, maka saling dorong pun tak dapat dihindarkan. dorong mendorong ini berlangsung cukup lama.

Matahari pun mulai naik, membuat suasana makin panas. Suara hiruk pikuk ratusan mahasiswa yang berteriak-teriak sambil mendorong barisan petugas menggema di udara. Korlap dan komandan pasukan penjaga pun bernegosiasi. Mahasiswa diperkenankan berorasi tapi tetap dilarang untuk mendekati gedung parlemen.

Hasil negosiasi ini ternyata tidak membuat para mahasiswa puas. Mereka tetap ngotot ingin menyampaikan aspirasinya langsung kepada wakil rakyat di gedung parlemen. Pasukan pengaman juga tetap beusaha mencegah gerakan para mahasiswa untuk masuk. Kondisi ini membuat aksi saling dorong mendorong kembali terjadi.

Sementara sinar matahari semakin menyengat. Suasana makin hiruk pikuk, di tengah situasi yang kian tak terkendali itu, tiba-tiba saja melayang motol minuman mineral ke arah pasukan polisi. Dari satu botol, menjadi dua botol, lalu tiga, lalu botol-botol minuman itu pun beterbangan ke arah pasukan polisi yang berjaga.

Lama kelamaan bukan hanya botol, berbagai benda padat pun beterbangan, bahkan batu-batu sebesar genggaman tangan pun ikut berhamburan di udara. Situasi makin tidak terkendali. Beberapa angota polisi yang tidak sempat menghindari tampak terluka terkena lemparan batu. Darah mulai membasahi wajah mereka yang terluka.

Pasukan polisi pun akhirnya tidak tinggal diam. Mereka mulai menembakkan gas air mata. Memperoleh perlawanan, kelompok mahasiswa pun menjadi kocar kacir. Pasukan pengaman segera mengejar, dengan pentungan rotan, mereka mulai memukuli para mahasiswa.

Mendapat perlakuan itu, membuat para mahasiswa juga merasa tak senang dan berbalik melawan. suasana menjadi kacau balau, acara demo sudah bak perkelahian massal. saling pukul, saling tendang, bahkan saling seret.

Seorang mahasiswi tampak tak sempat melarikan diri. Dia terpukul tongkat rotan di bagian punggung, tak ayal lagi dia pun terjatuh. Teman-temannya yang berlarian berusaha menghindari pukulan tak sempat membantu. Beberapa di antaranya menginjak tubuh dan bagian kepala mahasiswi yang terjatuh tersebut.

Darah keluar dari bagian kepala mahasiswi tersebut. Darah mengalir dan menggenangi aspal, mahasiswi itu tertelungkup diam tak bergerak. Sujana yang melihat, sejenak merasa iba. Dia pun menghampiri dan berusaha mengangkat si mahasiswi untuk membawanya ke tepi jalan.

Begitu dia membalikkan tubuh si mahasiswi, dia pun tercekat, tenggorokannya terasa kering. Sujana ingin berteriak namun suaranya sulit keluar. Mahasiswi yang kini sudah dalam pelukannya itu adalah putrinya. “Sri Kandi,” lirihnya.

Dia pun panik mengangkat tubuh Sri Kandi lalu membawanya berlari ke arah tenda induk. “Ini anakku…..Ini anakku….!!!!!” teriaknya. Rekan-rekannya pun segera turut membantu, Sujana segera meletakkan tubuh yang berlumuran darah itu di dipan yang ada di tenda medis pasukannya.

Seorang dokter segera datang membantu, Sujana tak ingin jauh dari tubuh putrinya. Sri Kandi membuka matanya, dia memandang sekeliling, dan berkata lirih “Bapak…” Mata Sri Kandi lalu terpejam dan diam.

Sri Kandi menghembuskan nafasnya, akibat terlalu banyak mengeluarkan darah dari luka di kepalanya. Dia meninggal di pelukan Bapaknya. Sujana tak dapat berkata-kata, dia tidak menyangka kalau putrinya yang kuliah di Solo ikut berdemo ke Jakarta. “Sri Kandi…..Sri Kandi….” ucap Sujana lirih dan letih.

* Cibinong, Maret 2012

Reactions:

0 comments:

Post a Comment