Pages

Tuesday, 10 April 2012

Cerpen "Bulan Bulat"

Bulan Bulat
Posted by PuJa on April 9, 2012
Tandi Skober
http://www.lampungpost.com/

DIPERMAKLUM dengan hormat bahwa saya ini orang terhormat, terpandang dan terdengar. Kehormatanku ini disebabkan saya memiliki kemaluan—abstraksi dari /malu/ diberi awal /ke/ dan akhiran /an/—yang mana amat sangat luar biasa. Menjadi tanda citra yang kerap dijadikan cerita penduduk negeri. Bahkan seorang penyair istana tak segan mengulum kemaluanku untuk lahirkan syair bersperma tanah air:
Kaki ketiak kehilangan sayap sayap angin
dan tandi mencat langit,
buaya biru berburu bulan bulat.
Saya tepuk tangan. Penyair itu saya kasih proyek Wisma Kemaluan senilai Rp100 miliar. Sementara sang esais yang mengangkut angka-angka matrik sebagai pertanda Tandi itu piawai hamengku Indonesia langsung saya kasih kursi putar berselaput emas monas, bergerigi gigitan cinta ratu kecantikan. Hmm, sang esais menangis terharu di ujung batang kemaluanku. Terus? Ia bertutur di media televisi, “Kelak, Tandi layak menjadi Sekjen PBB. Sebab dari tiap butir keringatnya mengalir kecerdasan budaya Nusantara.”
Itulah saya! Selama delapan tahun, kemaluanku menjadi bulan-bulan bulat kemaluan Indonesia. Tapi, ini jadi aneh. Ada isyarat langitan mencuat dari meja marmer di ruang Istana saat penandatanganan naskah berita acara pelantikan pejabat negeri. Marmer dari abad ke-16 itu pecah! Saya terkesiap kamitenggeng. Kemaluanku mengeret dan ritual kenegaraan berjalan tak elok.
Adakah ini sinyal kewibawaan negara terpuruk di ruang tak berbentuk. Tidak! Ini hanya ilusi. Tapi oh tidak, ini bukan ilusi. Saya lari ke kloset. Telanjang! Astaga, kemaluanku bagai seekor cacing yang melingkari hutan hantu negarabatin. Sementara kaki angin dari kisi-kisi jendela kabarkan suara purba yang pedih, “Yen wis tibo titiwancine, niki sing disebat nagari pager doyong apa jare gebrage bae.” Pada titik tertentu, ketika pilar rapuh maka yang tersisa adalah negara gagal.
“Nagari Pager Doyong itu bernama Indonesia, Yang Mulia,” ungkap esais berwajah cakep bernama Skober, ”Dengan indeks kumulatif 83,1 yang diposisikan Majalah Foreign Policy dan Yayasan Fund for Peace maka nagarabatin yang mulia layak disebut sebagai negara gagal (failed states).”
“Bah! Pukimak kamu Skober!”
“Yang mulia, ini ditandai dengan adanya banyak hal tentang luka kultural yang diciptakan para penguasa bergincu culas,” kembali Skober bersuara risau, “Suara bruk saat marmer pecah itu isyaratkan suara risau yang tuturkan tentang ilalang kering. Ketika kemarau tiba, dengan sedikit percikan api, Indonesia hanya tinggal asap, abu, dan debu di ruang peradaban tanpa jenis kelamin. Simak di sudut-sudut ruang yang muram selalu saja ada amarah yang tumbuh dari akar perseteruan antarelite (factionalized elites). Yang malang, tiap kali ada perseteruan antarelite, maka yang terkalahkan selalu saja anak-anak akar rumput. Rakyat tiarap, megap-megap!”
Dada saya terasa sesak. Saya panggil Mak Erot! Saya tahu semua akan kembali menjadi normal saat kemaluanku berereksi bagai naga raksasa yang memutari Nusantara. Telanjangku di atas brandkar di bawah cahaya matahari membuat Mak Erot meyakini semua akan kembali pulih. “Kemaluan yang mulia akan saya kembalikan pada kemuliaan sang kemaluan,” ucap Mak Erot.
Hmm, saya tersenyum. Bulan bulat kemaluan menapaki takdir yang ia ciptakan sendiri. Tapi lagi-lagi yang saya dengar suara tentara lapar! Mak Erot lari! Lampu padam! Dan pukimak! Skober lagi-lagi bercerita tentang negara gagal, “Telah sirna tanpa karena nilai, etika dan tata krama demokrasi. Padahal hal yang tiga itu, itulah hakikat dari kedaulatan rakyat. Nilai bisa dimaknai sebagai piranti akal. Etika bergerak di ruang nurani. Nafsu menari di pusaran tata krama. Sinergisitas nan tiga itu, holistisme nan tiga itu, masih jauh panggang dari api.”
***
31 April 2012, pukul 06.21 WIB, gerimis tipis jatuh satu-satu. Dan di sebuah surau di tepi pantai Juntinyat, Indramayu, saya pahat sisa sunyi hari kemarin. Saya ditemani Skober. Ia telah menyelamatkan saya dari amuk anarki ketika Jakarta ditenggelamkan unjuk kemaluan. Kami berdua baru saja salat istikharah.
Skober sodorkan teh tubruk bergula batu. Saya tersenyum. Saya seruput teh tubruk, “Jiwa manusia Jawa cenderung kosmologia,” tuturku, “Itulah jiwa saya. Saya kudu mampu merekonstruksi keserasian jagad gede dan jagad cilik sebagai konsep dasar dalam memangku kekuasaan, sekaligus dalam mendaur-ulang tata-atur hukum di republik ini. Tapi saya….”
“Maaf, Paduka Presiden, apakah jiwa kosmologia ini juga mengindentifikasi rakyat laksana cangkul dan rerumputannya, keris dengan sarungnya, dan lulur sekar taji dengan kulit kuning langsat para selirnya?” potong Skober.
“Bisa jadi ke arah itu, Skober. Menjadi presiden berarti memasuki areal pengembaraan metafisika sekaligus kegelisahan kreatif manunggaling dialektika rakyat-presiden! Presiden dan rakyatnya nyaris tak miliki batas pemisah. Inilah yang disebut sinergi kosmologia kodrat alam, yaitu maruta (angin), bumi, angkasa, surya, kartika (bintang), dan dahana (api),” tuturku. Sesaat saya memandang lurus kaki langit malam. Ada kedip bintang menembusi rintik hujan. “Kamu suka gamelan Jawa, Skober?”
“Sendika, Paduka…”
“Presiden dan rakyat adalah bagian dari orkestra gamelan Jawa. Presiden sebagai Pamurba, yaitu rebab dan gendang, sementara rakyat adalah Pamangku, yaitu saron dan gender. Di dataran ini kemanunggalan Pamangku dan Pamurba akan alirkan suara keserasian dan keselarasan sebuah kekuasaan. Saat di luar istana, begitu banyak suara rakyat antikenaikan harga BBM, saat itulah diperlukan keserasian orkestra gamelan kekuasaan. Saya harus masuk roh keserasian itu. Mustahil saya membentuk alur alun bunyi yang lain.”
“Tapi yang mulia gagal…”
Saya mengangguk. Hujan kini mulai deras. Saya tersenyum. “Kamu lihat rintik hujan itu, Skober?”
“Siap sendika yang mulia…”
“Bagi manusia Jawa, itu adalah sejatining pertanda restu keberpihakan jagad gede dan jagad cilik dalam memanunggalkan presiden dan rakyat,” tutur lirih Paduka Presiden. “Hujan itu akan alirkan air hingga ke samudera luas. Di posisi inilah seharunya saya berada. Saya harus berimam pada samudera yang menampung multikonflik tanpa alirkan ombak dan riak. Tapi itu tidak saya lakukan pada detik-detik menentukan 31 April 2012.”
“Agh, andai paduka tidak becermin pada Deng Xiaoping? Deng menempatkan semua hal dalam satu tangan. Negara Integralistik. Artinya, kedaulatan rakyat itu nonsens. Tak ada itu, yang ada adalah sejatining kedaulatan negara yang terpusat pada satu tangan, yaitu raja. Mengutip pikiran pencetus Demokrasi Asia, Chan Heng Chee, bahwa penerapan demokrasi liberal ke dalam praktek-praktek negara-negara Asia adalah pekerjaan sia-sia belaka.”
“Chan Heng Cee tak selamanya benar, Skober. Meski demokrasi liberal sebagai anak nakal sejarah pada awal pertumbuhannya, akan tetapi perenung demokrasi memosisikannya sebagai kebenaran hakiki. Meski demikian, kebenaran tidak selamanya bulat dan utuh. Simak, tiap kali kesulitan ekonomi menelikung rakyat akar rumput, selalu saja mereka merindukan hadirnya “hari kemarin”. Di sini, ada tangan tersembunyi. Ada partikel aneh yang tidak bisa tercemar dan mengkristal dalam keabadian. Ada perawat-perawat demokrasi yang tak pernah letih mensterilkan periuk akar rumput dari deret derita kemiskinan yang tak terukur,” ucap saya, “Kamu ngerti apa yang saya katakan?”
Terlihat Skober agak ragu. Tapi pada saat lain ia berkata,” Inikah yang membuat yang mulia undur diri?”
“Bisa jadi, benar. Saya ingin menjadi seorang sinatria yang jatmika, hormat, rukun yang edipeni, serta adiluhung, pada hakikatnya meyakini bahwa keindahan dan kemuliaan adalah refleksi kekuasaan. Sejenis aksesori yang memperindah pernik-pernik singgasana. Juga luncuran suara moral bahwa pada hakikatnya raja berwatak sinatria tak suka bertualang dengan konflik. Kenapa? Sebab konflik itu tidak edipeni, tidak indah. Terlebih lagi, Istana Negara sebagai pusat keindahan, dihayati sang raja sebagai mozaik gemerlap penenteram batin rakyat. Hal inilah yang mendasari kenapa saya turun panggung.”
Agak samar terdengar alunan azan subuh. Saya melihat arloji. Berdiri. Saya mau kumandangkan azan.
“Saya yang azan, Yang Mulia,” potong Skober, “Dan yang mulia akan menjadi imam salat subuh.”
“Hmm, saya gagal menjadi imam nusantara, Skober,” tuturku, “Subuh ini tidak ingin mengulangi kegagalan itu meski hanya untuk menjadi imam seorang makmun bernama Skober.”
Bandung, Selasa, 6 Maret 2012

Reactions:

0 comments:

Post a Comment