Pages

Rabu, 11 April 2012

MENYINGKAP PETA SASTRA DI BANGKA BELITUNG: DARI HAMIDAH KE HIDAYATULLAH


MENYINGKAP PETA SASTRA DI BANGKA BELITUNG: DARI HAMIDAH KE HIDAYATULLAH
Posted by PuJa on April 10, 2012
Sunlie Thomas Alexander
www.mantagisme.co.cc 26 Agu 2008

Gedung wanita Hamidah yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Pangkalpinang, ibukota Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung pada saat-saat tertentu memang tampak sedikit bergengsi dengan diselenggarakannya acara wisuda mahasiswa, seminar-seminar, diklat, pentas musik, peragaan busana, pemilihan model remaja, sampai resepsi pernikahan anak pejabat di sana. Paling tidak bila kita harus melihat tempat-tempat atau jalan yang memakai nama sastrawan seperti yang pernah diungkapkan oleh Prof Dr Budi Darma dalam sebuah tulisannya di majalah sastra Horison. Taman Chairil Anwar di Jakarta, misalnya, di malam-malam biasa tak lebih menjadi tempat nongkrong para perempuan penjaja cinta (yang kelas pinggir jalan)!. Atau Jalan Chairil Anwar dan Ronggowarsito di Surabaya yang terletak tidak jauh dari dua kawasan pelacuran terkenal.
Meskipun masih perlu dipertanyakan apakah pemberian nama gedung yang sering dipergunakan untuk pelbagai acara resmi itu sebagai sebuah penghargaan bagi dunia sastra, ataukah karena pulau Bangka memang tak punya lagi stok tokoh wanita yang lain?
Justru di saat masyarakat Bangka sendiri pada umumnya tidak lagi mengenal siapa sebenarnya sastrawati asal Mentok yang bernama asli Fatimah Hasan Delais itu. Apalagi untuk mengenal karyanya. Bahkan tidak banyak orang yang mengetahui, bahwa sebenarnya selain romannya yang terkenal, Kehilangan Mestika (1938), sastrawati Angkatan Balai Pustaka itu juga seorang cerpenis dan penyair. Karya-karyanya yang berupa cerpen dan puisi boleh dikatakan hampir tidak bisa ditemui lagi. Upaya untuk menggali jejak Hamidah sendiri pun, seperti yang sedang dilakukan oleh penyair Ira Esmeralda hingga kini tidak pernah jelas bagaimana kabarnya.
Sepeninggalan sastrawati yang juga seorang pendidik itu, dunia kesusastraan di Bangka-Belitung seolah tenggelam di tengah hiruk pikuknya dunia sastra di Tanah Air. Meskipun Belitung kemudian melahirkan Sobron Aidit (Sobron Aidit, adik tokoh PKI DN Aidit, meninggal di Paris, Prancis, pada Sabtu, 10 Februari 2007 pukul 09.00 pagi waktu setempat atau pukul 15.00 waktu Indonesia-Red), namun tokoh itu seperti yang kita ketahui selama puluhan tahun diasingkan dari negerinya sendiri. Sampai tahun tujuh puluhan sampai delapan puluhan, barulah muncul nama-nama seperti Amirrudin Jafar yang beberapa karya cerita rakyatnya pernah diterbitkan oleh Balai Pustaka. Juga Suhaimi Sulaiman yang sekarang lebih dikenal sebagai seorang budayawan Pangkalpinang.
Namun karya-karya mereka yang berupa cerpen dan puisi pun tidak terangkat ke permukaan karena disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain tidak adanya media massa yang representatif di Bangka-Belitung dan juga semacam keengganan untuk mengirimkan karya ke media massa luar daerah karena pemikiran karya-karya mereka yang lebih didedikasikan kepada pembaca lokal akan sulit disosialisasikan. Disebabkan oleh kesulitan masyarakat terutama di luar Pangkalpinang untuk mendapatkan koran atau majalah. Atau karena memang masyarakat rabun membaca? Masalah yang terakhir ini sampai saat ini pun tampaknya masih menjadi dilema tertentu bagi para pekerja sastra Bangka Belitung lainnya. Di samping susahnya menembus media luar, terutama media ibukota, yang seringkali masih memandang sebelah mata pada nama-nama baru atau mempunyai misi yang sulit dikompromikan sebagai sebuah industri kapitalisme.
Hal inilah, yang antara lain membuat para pekerja sastra Bangka Belitung seakan menutup diri. Meskipun pada tahun-tahun belakangan ini secara kuantitas harus diakui, penulis dan karya-karya sastra berupa cerpen dan puisi yang dilahirkan meningkat pesat bersamaan dengan hadirkan media massa daerah (baca: lokal). Demikian juga dengan kegiatan-kegiatan sastra yang digulirkan walau hanya sempat terekam oleh media cetak daerah tersebut.
Kebangkitan Sastra Bangka-Belitung
Barangkali, Willy Siswanto, penyair dan cerpenis kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, yang pada tahun 1996 menerbitkan sendiri buku kumpulan puisinya yang pertama, Nyanyian Taman Zaitun dapat dikategorikan sebagai salah satu penggerak awal kebangkitan sastra di kedua pulau yang di zaman Belanda menjadi sebuah karesidenan sendiri ini. Penyair yang pada permulaan kepenyairannya sering menulis di Tabloid Media Guru terbitan Palembang ini, memang seorang penulis yang cukup produktif dan sering menjadi motor dan motivator bagi perkembangan sastra di Bangka Belitung hingga saat ini. Tentu saja tidak dapat dilupakan juga nama-nama lain seperti Ian Sancin dan cerpenis Surtam A Amin. Mereka sudah sejak lama tanpa dikenal oleh masyarakat Bangka-Belitung, menulis di pelbagai media cetak luar termasuk Jakarta. Meskipun masih amat minim, tetapi pada tahun-tahun ini, iven-iven sastra mulai sering diadakan, seperti lomba baca puisi atau cerpen dan lomba cipta puisi.
Selain itu, juga muncul rubrik-rubrik “Seni Budaya” yang memuat cerpen dan puisi di majalah Stannia, milik PT Timah Tbk, Citra Publika milik Pemerintra Kota Pangkalpinang, atau majalah Berkat yang merupakan media komunikasi umat Katolik di wilayah Keuskupan Pangkalpinang.
Peranan Media Cetak Daerah
Harus diakui, hadirnya media cetak daerah di Kepulauan Bangka Belitung pascareformasi seiring dengan disahkannya undang-undang otonomi daerah, yang cukup kompetitif pada awalnya, ikut menyumbangkan peranan yang sangat berarti bagi perkembangan sastra di Bangka Belitung. Berbagai media cetak tersebut dengan halaman budayanya, walaupun dengan honor yang kecil, cukup menggugah para penulis sastra baik yang sudah eksis maupun yang pemula untuk berlomba-lomba mengirimkan karyanya. Bahkan dari media-media ini, kemudian muncul penulis-penulis sastra muda yang berbakat.
Terbitnya media massa daerah dengan halaman budayanya ini, kemudian juga dimanfaatkan sebagai wahana perjuangan provinsi oleh para pekerja sastra seperti A Toni, Tarmizi Jemain, atau Rustam Robain dengan Gurindam 10-nya yang kontroversial dan mengundang polemik dari berbagai pihak karena dinilai keluar dari pakem gurindam yang selama ini dikenal dalam sastra Indonesia dan menjadi trade mark Raja Ali Haji. Hingga terbentuknya Provinsi Bangka-Belitung, 21 Nopember 2000, tema-tema seputar provinsi baru tersebut selalu menjadi tema yang hangat digarap oleh para pekerja sastra di negeri Serumpun Sebalai ini.
Dari kehadiran media cetak daerah inilah, nama-nama seperti Willy Siswanto, Ian Sancin, Surtam A Amin, Eka Suasa, Agustinus Wahyono, Heru Herlambang, Zainal Abidin, A Toni, Ira Esmeralda, Fahrurrozi, SL. Thomas Alexander, Zazuli Zamzam, Sobirin Hatip, Mammaqdudah, atau yang lebih belakangan Wahar Saxsono, Adek Jumiatno, Peter Siswanto, Dedi Priadi, Mustafa Kamal, Wani Gerhana Sari, Romar Friana, Sukma Wijaya, Prakoso Bhairawa, dan M Hidayatullah mulai dikenal dengan karya-karya mereka yang cukup variatif.
Ian Sancin, misalnya, dengan puisi-puisinya yang bercorak sufistik-profektik, lebih banyak mengangkat persoalan sosial budaya lokal. Sedangkan Willy Siswanto dengan ‘sajak-sajak refleksi’-nya yang meskipun sering berkiblat ke Jawa, juga kerap mengemukakan persoalan-persoalan daerah secara militan. Hal yang sama juga ditemukan dalam sajak-sajak Tarmizi Jemain, Suhaimi Sulaiman, dan Sobirin Hatip. Sedangkan Peter Siswanto lebih banyak melirik permasalahan aktual dan politik sebagai tema garapan sajak-sajak maupun cerpennya. Dan Ira Esmeralda rajin sekali mengangkat permasalahan gender.
Yang menarik adalah berkiprahnya nama-nama Wani Gerhana Sari, Prakoso Bhairawa Putera, Martin d’Marcel, Farizandy, dan M Hidayatullah yang notabene saat pertama kali menulis masih tercatat sebagai pelajar SMU dengan karya yang tak dapat diremehkan. Bahkan puisi-puisi karya M Hidayatullah berhasil menembus media cetak ibukota seperti Media Indonesia.
Tidak dapat dilupakan juga sosok seorang penyair tua tunanetra di Mentok, Ahmad Daud, yang pernah menjadi finalis “Lomba Cipta Puisi Tunanetra Tingkat Nasional”, yang masih aktif menulis hingga saat ini di berbagai media cetak daerah. Atau mungkin juga nama-nama penyair dan cerpenis dari Bangka Belitung yang berdomisili di luar daerah seperti Linda Christanty dan Syekh A Sobri. Mereka secara intens terus mengangkat karya-karya yang bertemakan social-culture kedaerahan sebagai sebuah jatidiri di berbagai koran nasional.
Peranan media cetak daerah ini, terutama harian pagi Bangka Pos (Grup Kompas-Gramedia) dengan halaman budayanya yang pada mulanya dikawal oleh penyair muda Palembang, Nurhayat Arif Permana sebagai redaktur budaya, kemudian juga mencetuskan ide sebuah wadah silahturrahmi (baca: rumah) yang terbuka bagi siapa saja yang berminat pada sastra untuk sekadar singgah dan duduk bersama berkarya, yang kemudian dikenal sebagai Komunitas Pekerja Sastra Pulau Bangka (KPSPB). Kelompok yang dideklarasikan pada tanggal 3 Oktober 1999 di kantor redaksi harian Bangka Pos, di Pangkalpinang ini dengan agenda yang cukup komplet mencoba mengangkat sastra sebagai sebuah seni pencerahan (enlighting art of literature) dan wahana perjuangan humanisme universal demi kepentingan edukasi sosial dan memperkenalkan eksistensi sastra Pulau Bangka ke dalam maupun keluar daerah.
Beragam agenda sosialisasi dan apresiasi karya sastra yang digulirkan kelompok ini, dengan sasaran utama kaum pelajar kemudian mendapat tanggapan dan dukungan hangat, baik secara finansial maupun moril yang cukup menggembirakan dari banyak pihak: pemerintah daerah, swasta, maupun individual. Termasuk kegiatan Safari Sastra yang digulirkan sepanjang tahun 2000 dengan mengunjungi 30 sekolah SLTP/SMU di Kabupaten Bangka, yang didukung penuh oleh PT Timah Tbk dan PT Kobatin, dua perusahaan pertambangan timah terbesar di Pulau Bangka. Sayangnya, untuk Kota Pangkalpinang, kegiatan ini tidak mendapatkan respons positif dan rekomendasi dari Dinas-dinas Pendidikan Nasional yang barangkali menyimpan ketakutan bahwa murid-muridnya akan diprovokasi untuk kepentingan tertentu.
Upaya lain yang dilakukan oleh para pekerja sastra yang tergabung dalam KPSPB ini adalah penerbitan buku antologi sajak para penyair Bangka Belitung, Lagu Putih Pulau Lada, yang diterbitkan pada tahun 2000 oleh Yayasan Ak@r, sebuah yayasan pengembangan seni budaya yang didirikan oleh Willy Siswanto, Ian Sancin, Heru Herlambang, Sobirin Hatip, dan Nurhayat Arif Permana untuk menaungi beberapa kelompok kesenian di provinsi kepulauan ini seperti KPSPB, Kelompok Pelukis Bangka (Kopika). Teater Rakyat Solidaritas, dan Teater Kelekak.
Lalu juga terbitnya majalah budaya LAWANG pada tahun 2001, yang diasuh oleh Willy Siswanto, SL Thomas Alexander, Suhaimi Sulaiman, dan Ismail Muridan, sebagai media alternatif yang mengedepankan jurnalisme seni dan mengangkat budaya lokal termasuk sastra tradisional.
Prospek Sastra di Bangka Belitung
Melihat animo dan apresiasi masyakarat baik dari berbagai acara/kegiatan sastra yang pernah digulirkan maupun dari tingkat kuantintas karya-karya sastra yang lahir lima tahun belakangan ini, meskipun masih jauh dari harapan, tetapi agaknya masa depan perkembangan sastra di provinsi kepulauan ini akan cukup menggembirakan. Di masa yang akan datang, khalayak sastra Bangka Belitung terus berupaya banyak dalam mensosialisasikan sastra dan bagi dunia sastra di Tanah Air. Minimal, kegiatan-kegiatan apresiasi dan revitalisasi sastra yang selama ini digulirkan oleh KPSPB dan pihak-pihak lainnya sedikit banyak mendapatkan hasil, antara lain dengan bertambahnya minat para pelajar untuk mencoba menulis dan mengirimkan karyanya ke media cetak daerah. Walaupun secara kualitas tentu saja tidak mudah untuk segera memetik hasil.
Bagaimanapun para pelajar adalah akses yang amat berharga demi masa depan bangsa, dan sastra sebagai sebuah seni intelektual yang selalu memberikan penghargaan kepada manusia sebagai manusia apa pun status, agama, ras, suku, dan ideologinya, mengusung pembangunan moralitas, dan–meminjam Cecep Syamsul Hari–menjadi medium pembelajaran demokrasi, meskipun tidak mesti dibesar-besarkan, amat dibutuhkan tidak hanya demi perkembangan sastra sendiri sebagai karya literature yang berbicara tentang hidup dan masa depan manusia yang lebih baik.
Penyair Taufiq Ismail pernah mengatakan, kondisi bangsa dan Tanah Air tercinta yang terpuruk dalam krisis multidimensional yang berkepanjangan ini, salah satu penyebabnya adalah realitas masyarakat yang rabun membaca dan buta menulis. Dengan hasil penelitian amat memprihatinkan yang pernah dilakukannya secara snap shot pada SMA di 13 negera, menunjukkan Indonesia berada di peringkat paling bawah dalam hal jumlah buku sastra yang diwajibkan kepada para pelajar untuk dibaca: nol judul!
Dijumput dari: https://komunitassastra.wordpress.com/2011/03/08/menyingkap-peta-sastra-di-bangka-belitung-dari-hamidah-ke-hidayatullah/

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar