Pages

Wednesday, 11 April 2012

Novel telah Mendoktorkan Aprinus Salam


Novel telah Mendoktorkan Aprinus Salam
Posted by PuJa on April 10, 2012
Kuss Indarto
http://indonesiaartnews.or.id/

SEPULUH buah novel telah mengantarkan Aprinus Salam meraih gelar doktor. Ya, ada novel-novel karya sastrawan asal Jatilawang, Banyumas, Ahmad Tohari yang jadi bahan rujukan utama, yakni Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, Jantera Bianglala, Trilogi Dukuh Paruk, dan Bekisar Merah. Lalu dua novel sejarawan Kuntowijoyo: Pasar dan Mantra Pejinak Ular, Canting-nya Arswendo Atmowiloto, dan novel karya Umar Kayam: Para Priyayi, dan Jalan Menikung (Para Priyayi 2).
Aprinus Salam yang merupakan sosok sastrawan, pengkaji sastra dan dosen ini mempertahankan disertasi bertajuk “Negara dan Perubahan Sosial: Kajian Wacana dan Sosiologi Sastra atas Novel-novel Indonesia Tahun 1980-an – 1990-an” di kampus tempat ia mengajar, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Selasa, 21 Desember 2010, di aula gedung Margono Djojohadikusumo yang masih baru, Aprinus “dikepung” oleh 9 pengujinya, masing-masing Prof. Dr. Ida Rochani, S.U., Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno, Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo, Prof. Dr. Imran T. Abdullah, Prof. Dr. C. Soebakdi Soemanto, S.U., Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, Prof. Dr. Sunyoto Usman, Prof. Dr. Faruk, dan Prof. Dr. Sjafri Sairin, M.A.
Dalam ujian terbuka yang disaksikan oleh seratusan orang itu ada berondongan pertanyaan “kecil” tapi substansial seperti yang dilontarkan oleh Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo, semisal “mengapa dituliskan ‘teoritik’ dan bukan bukan ‘teortitis’, apa bedanya?” dan pertanyaan lain yang semacam itu. Apa pula rentetan pertanyan yang sangat kritis dan aktual seperti yang dicecarkan oleh Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, dan Prof. Dr. Faruk. Faruk antara lain menanyakan tentang peran sastra dan sastrawan dalam keterlibatan kritisismenya pada penggulingan rezim Orde Baru.
Dalam disertasinya Aprinus mengkaji persoalan keberadaan negara dan perubahan sosial berdasarkan novel-novel yang terbit pada kuruin 1980-an dan 1990-an. Dia memilih hal itu karena empat pertimbangan, yakni, pertama, pada tahun-tahun tersebut negara memperlihatkan dominasi yang amat kuat dalam mengontrol pembangunan dan perubahan sosial. Kedua, praksis universalisme, kapitalisme, modernisme, teknologisme dalam masyarakat Indonesia semakin dominan. Ketiga, munculnya isu dan wacana sastra kontekstual dan wacana lokal sebagai suatu resistensi kultural, dan keempat, dalam bidang pemikiran kebudayaan (dan sastra) muncul pertanyaan tentang arah perubahan sosial.
Dari kajian atas novel-novel tersebut, kemudian Aprinus memberikan 7 poin penting sebagai bahan tesis utama. Pertama, historisitas perubahan sosial yang dikelola negara secara langsung berpengaruh terhadap keberadaan novel. Dalam konteks pengelolaan tersebut, novel-novel melakukan berbagai transformasi baik dalam rangka afirmasi, konfirmasi, dan resistensi terhadap cara negara dalam mengelola perubahan sosial tersebut.
Kedua, novel-novel memperlihatkan bahwa keberadaan negara dalam masyarakat adalah relasi diskursif negara sebagai sosok penolong yang menakutkan. Hal ini disebabkan novel secara tidak langsung menghadirkan fenomena dan aparatus negara dalam dua wajah yang kontradiktif. Di satu sisi, negara ditampilkan ramah, dan sisi lain negara ditampilkan sebagai penghukum yang menakutkan.
Ketiga, novel-novel tersebut menggambarkan bahwa faktor perubahan sosial seperti agama, pendidikan, ekonomi, politik, teknologi, tradisi, SDM, dan seks, dikendalikan negara merupakan faktor yang terintegrasi, tumpang tindih dan rancu. Maka, cerita tentang proyek negara untuk membangun warga neraga menjadi manusia yang utuh adalah proiyek manipulatif yang saling bertentangan.
Keempat, pada tingkat ideologis novel-novel memberikan pilihan bukan modernisme atau tradisionalisme, melainkan suatu osmosis yang kreatif dalam mempraktikkan dua situasi dan kondisi historis yang berlainan. Novel-novel berpihak pada situasi kasuistik manusia secara berbeda untuk setiap situasi penceritaan secara sosial, politik, dan kultural merupakan masalah yang berbeda.
Kelima, cerita cenderung kompromis sebagai pilihan strategis dalam mengamankan cerita berhadapan dengan kepentingan atau simbol-simbol negara.
Keenam, negara diperlihatkan oleh novel sebagai sosok yang gagal dalam memahami dan mempraktikkan prinsip modernisme dan pembangunan manusia seutuhnya. Hal itu terlihat dari tidak terintegrasinya pengertian dan praksis manusia modern dan manusia seutuhnya. Novel-novel memperlihatkan bahwa manusia yang seutuhnya itu adalah seperti sesosok militer tulen dan hal itu bertentangan dengan konsep awal negara dalam mengelola perubahan sosial.
Ketujuh, cerita tentang negara, masyarakat, dan perubahan sosial merupakan kritik terselubung yang tidak dideteksi oleh aparatus negara dan masyarakat. Itulah sebabnya, novel-novel itu tidak sesukses dalam membangun diskursus tandingan. Maka, kritik-kritik dalam novel tidak dideteksi, tapi justru menjadi alat legitimasi kekuasan dalam menjalankan program pembangunan.
Dari kajian atas novel-novel tersebut, lelaki kelahiran Indragiri Hulu, Riau, 7 April 1965 ini mendapatkan penilaian “sangat memuaskan” dari para penguji, dan resmi menyandang gelar akademik doktor. Dengan gelarnya itu, Aprinus tercatat sebagai doktor ke-1819 di Kampus Biru tersebut. Tak sia-sialah ayahanda Ainina Zahra ini menghabiskan waktu hingga 7 tahun 3 bulan untuk “memburu” gelar tersebut dengan disertasi yang ditulisnya hingga setebal lebih dari 800 halaman. Inilah bukti keseriusan Aprinus dalam mengkaji problem sastra yang jadi “makanan pokok”-nya bertahun-tahun. Barangkali, dari situlah alam pun ikut “menyambutnya” dengan gempa bumi 5,8 SR seusai tim penguji mencecar berbagai pertanyaan. Selamat, mas Aprinus! ***
21 Desember 2010
Dijumput dari: http://indonesiaartnews.or.id/newsdetil.php?id=176

Reactions:

0 comments:

Post a Comment