Pages

Tuesday, 3 April 2012

Pesta Sajak “Segara Anak”


Pesta Sajak “Segara Anak”
Posted by PuJa on April 3, 2012
Memahami Keindahan dari Sebutir Sajak
Nuryana Asmaudi
http://www.balipost.co.id/

PERPINDAHAN seorang penyair ke daerah mukim baru kerap jadi spirit serta mengilhami lahirnya karya baru yang membanggakan. Daerah mukim baru juga kadang memberi warna yang lebih segar dan agak berbeda dengan karya sebelumnya. Hal itu tentu menjadi keberuntungan sekaligus berkah bagi sang penyair yang secara sadar maupun tak sadar “menerima” dan “diterima” di daerah mukim baru tersebut.
Itulah yang dialami oleh Sindu Putra. Penyair kelahiran Sanur, Denpasar, 31 Juli 1968 yang “hijrah” ke Mataram, N fsusa Tenggara Barat, sejak beberapa tahun lalu. Di pemukiman baru itu, Sindu telah melahirkan 2 buah buku kumpulan puisi tunggal, masing-masing “Dongeng Anjing Api” dan “Segara Anak”. Buku “Dongeng Anjing Api” bahkan mendapat penghargaan Katulistiwa Literary Award tahun 2009, sebuah penghargaan sastra yang diperhitungkan di tanah air saat ini.
Buku “Segara Anak” terbitan Pustaka Ekspresi Bali (2010), diluncurkan Sabtu (30/10) lalu, di Toga Mas Denpasar. Sebuah hajatan sastra, pesta sajak, yang berlangsung sederhana tapi khusuk dan penuh makna. Puluhan pelajar SMA, mahasiswa dan generasi muda sastra, serta para penyair terkemuka Bali ikut memeriahkan acara yang diisi dengan pentasan baca puisi, musikalisasi puisi, dan dialog sastra bedah buku.
Proses Kreatif
Para pelajar dan remaja sengaja dilibatkan karena para pelajar dan remaja perlu mendapat gosokan kreativitas berpuisi. Mereka perlu diperkenalkan dengan para penyair yang sudah matang dalam proses keratif, agar mendapat pelajaran dalam memahami dan menikmati puisii. Kebetulan Sindu Putra adalah penyair yang memulai proses kreatif berpuisi sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), tepat untuk membagui pengalaman dan menularkan ilmunya pada para pelajar.
“Saya mulai menulis puisi waktu masih SMP. Belajar secara otodidak, dan ikut acara gradag-gruduk sastra Bali Post yang diasuh oleh Umbu Landu Paranggi. Saya berjuang dengan semangat pantang menyerah agar menguasai cara menulis puisi, sampai kemudian puisi saya berhasil dimuat di ruang sastra Bali Post Minggu yang diasuh Umbu sendiri. Itulah yang menambah semangat saya,” papar Sindu di awal diskusi bedah buku “Segara Anak”, malam itu.
Sindu bercerita, pada masa sekolahnya dulu banyak pelajar lain yang menekuni dunia puisi. Mereka bersaing dan berkompetisi lewat karya masing-masing, dengan peralatan dan media seadanya. Banyak yang belum punya mesin ketik, tapi ada juga yang sudah punya, untuk menulis puisi. “Waktu itu media elektronik, semisal komputer, belum ada. Media komunikasi juga jauh ketinggalan dibanding sekarang. Kami menulis puisi dengan tulisan tangan atau mesin ketik butut, dan mengantarkan langsung ke Bali Post, atau lewat surat pos bagi yang berada di luar kota,” cerita Sindu
Dengan kemandirian dan keprihatinan seperti itu, aku Sindu, justru jadi tantangan yang membuat berhasil. “Jadi, adik-adik pelajar sekarang yang hidup di jaman sarana pendukung yang jauh lebih lengkap dan canggih, tertantanglah untuk menulis puisi dan menjadi penyair yang lebih hebat dari generasi seangkatan kami,” tandas Sindu.
Menurut Sindu, menulis puisi itu mengasyikkan dan dapat kepuasan batin yang tak bisa dibandingkan dengan yang lain. Juga mendapat banyak pelajaran, terutama dalam hal olah kata dan penguasaan bahasa, yang sangat bermanfaat dalam mendukung ilmu yang lain. Tapi, hal itu kurang disadari, terutama oleh guru, sekolah, pemerintah, serta para orang tua dan pelajar atau remaja sendiri. Mereka menganggap puisi tak berguna. “Itulah kesalahan besar yang terjadi di negeri kita!” tandas Sindu.
Kesaksian Sahabat
Penyair yang juga dokter hewan itu tidak omong kosong. teman-teman sesama penulis Bali yang hadir malam itu, memberi kesaksian dan mencatat Sindu Putra sebagai seorang penyair yang intens menulis puisi sejak masih SMP sampai sekarang. Mereka yang menulis puisi berbarengan dengan Sindu, mengaku tahu betul pergulatan kreatif Sindu. “Kami dulu sama-sama kerap ikut gradak-gruduk sastra. Saya kenal Sindu anaknya pendiam, bahkan tak bisa diajak omong. Tapi puisinya dahsyat-dahsyat dan bikin cemburu. Kami bersaing dengan gaya puisi masing-masing. Itulah yang membuat semangat kami terus membara. Kami tetap berupaya untuk terus belajar dan berkarya sampai kapanpun, karena merasa belum apa-apa,” timpal beberapa hadirin.
Karena itu, banyak penulis Bali berharap kepada para pelajar yang hadir malam itu, jangan merasa sudah berhasil dan sudah jadi penyair hebat karena puisinya sudah pernah dimuat di koran terkenal. “Sekarang ini banyak anak muda Bali, penulis puisi, yang merasa sudah hebat, bahkan menganggap diri penyair besar, karena puisinya mampu menembus koran ibu kota. Baru menulis beberapa puisi, atau baru punya satu buku kumpulan puisi sudah berlagak kaya sastrawan besar. Padahal itulah yang akan membunuh kretivitasnya sendiri,” komentar beberapa teman. Penyair Cok Sawitri, juga memberikan kesaksian atas Sindu Putra. “Sindu Putra itu senior saya yang selalu bikin cemas, gemas, dan marah, karena puisinya bagus-bagus. Nggak tahu kenapa kok dia bisa membuat puisi yang dahsyat-dahsyat seperti itu dari dulu sampai sekarang, Padahal orangnya pendiam dan rendah hati,” papar Cok.
Cok bercerita, Sindu pernah membikin pusing dan stres, dengan salah satu puisinya yang dijadikan naskah lomba baca puisi Sanggar Minum Kopi pada tahun 1990. “Ada kata yang membuat semua peserta lomba, termasuk saya, pusing dan stres memahaminya, Kata itu berbunyi: dalam tubuhmu artupudnis, Tuhan tak.. Kami tak tahu maksud artupudnis. Belakangan baru diketahui kalau artupudnis itu nama Sindu Putra yang dibalik. Sindu punya ide seperti itu? Itu menunjukkan bahwa dia ini penyair yang cerdas dan punya ide yang aneh-aneh,” tandas Cok.
Intensitas dan totalitas Sindu sebagai penyair yang juga bekerja jadi dokter hewan, menurut Cok, patut dikagumi. Menulis dari SMP sampai sekarang dan puisnya tetap bagus, sublim, penuh simbul perenungan yang dalam dan kental, dengan pilihan kata yang ketat dan terjaga.
Wayan Sunarta, yang jadi juru bedah buku malam itu, memberikan catatan, keberhasilan Sindu sebagai penyair yang kuat disebabkan karena dia mampu meramu persoalan-persoalan yang ada di sekitarnya dengan metafora-metafora yang khas dan sangat pribadi sehingga puisi-puisinya jadi penuh warna. “Memasuki puisi-puisi Sindu Putra seperti memasuki rimba raya metafora, dimana banyak kita temukan ketidakterdugaan, sekaligus merayakan keterasingan diri kita sendiri di dalamnya. Pergulatan Sindu menemukan aau menciptakan metafora memang begitu gigih, diperkuat oleh keliaran imajinasinya. Di sisi lain, kelebihan Sindu sebagai penyair adalah kemampuannya memadukan, mengaduk, dan meramu kata-kata dari berbagai bidang ilmu, sehingga melahirkan puisi-puisi yang terkesan unik, dan mengagetkan banyak kalangan,” tandas Sunarta.
Buku “Segara Anak” memuat 53 puisi terbaru Sindu Putra, yang ditulis sesudah tinggal di Mataram, NTB.
Acara peluncuran buku tersebut dimeriahkan pentas musikalisasi dari anak-anak Teater La-Jose SMAK Santo Yosph Denpasar yang membawakan puisi Sindu Putra, Sthiraprana Duarsa, dan Goenawan Muhamad. Juga pembacaan puisi oleh beberapa penyair Bali, termasuk Sindu Putra sendiri.
14 Nopember 2010 | BP

Reactions:

0 comments:

Post a Comment