Pages

Sunday, 1 April 2012

Risalah Sastra dari Ternate


Risalah Sastra dari Ternate
Posted by PuJa on April 1, 2012
Jumardi Putra *
http://jambi.tribunnews.com/

Penampilan group musik Kiai Kanjeng dan Emha Ainun Najib, pembacaan puisi oleh artis Happy Salma serta pembacaan cerpen dan puisi oleh beberapa sastrawan Indonesia, menandai dimulainya perhelatan akbar Temu Sastrawan Indonesia (TSI) ke-4 yang berlangsung pada tanggal 24-29 Oktober di lapangan terbuka Moloku Kie Raha-sebutan Maluku Utara, Ternate.
Sehari sebelum pembukaan TSI, Kesultanan Ternate memberi gelar kehormatan kepada Budayawan Emha Ainun Najib, biasa disapa Cak Nun, dengan gelar “Ngai Ma Dodera”. Gelar ini baru pertama kali diberikan oleh Sultan Ternate Drs. H. Mudaffar Sjah, BcHk.
Sekitar 140 sastrawan seluruh Indonesia hadir dalam acara tahunan ini. Tampak di antaranya Acep Zamzam Noor (Jawa Barat), Joni Ariadinata (Yogyakarta), Agus R Sardjono (Jakarta), Arif Bagus Prasetyo (Bali) dan lain-lain. Juga tampak para sastrawan muda, seperti Jumardi Putra & Ahmad David K (Jambi) Fatih Kudus Jaelani (NTB), Benny Arnas (Palembang), Arter Penther Olii (Sulawesi Utara), Ishack Sonlay (NTT), Bandung Mawardi (Surakarta), Sofyan Daud (Ternate), Ni Made Purnamasari (Bali), Raisa Kamila (Aceh), dan lain-lain.
Dino Umahuk, selaku panitia mengatakan, TSI-4 kali ini menerbitkan esai, selain bunga rampai cerpen dan puisi. Di samping itu, panitia memfasilitasi para peserta untuk membacakan karyanya di tempat-tempat umum, seperti taman kota, mal, benteng, pantai, dan lain-lain, terutama bagi 32 peserta pilihan kurator yang telah diberitahu melalui undangan resmi. Selain itu, TSI-4 juga mengadakan workshop Puisi, Cerpen dan Esai bagi para siswa SMA sederajat.
TSI-4 juga mengadakan diskusi sastra terkait fenomena mutakhir kesusasteraan Indonesia. Diskusi tersebut dibagi dalam empat tema besar, yakni Estetika Sastra Indonesia Abad 21 (pembicara Manneke Budiman dan Afrizal Malna), Komitmen Sosial dalam Sastra Indonesia (Eka Kurniawan dan Hilmar Farid), Pengembangan Komunitas Sastra (Firman Venayksa, Sofyan Daud, Bandung Mawardi, dan Azhari Aiyub), dan Telaah Karya Sastra Dekade Terakhir (Bramantio).
Manneke Budiman, kritikus sastra dari Universitas Indonesia mengungkapkan, sejak jatuhnya rezim Orde Baru pada 1998, produksi budaya seperti mengalami kebangkitan. Pengarang dan karya bermunculan demikian deras. Meski tidak mudah menjawab pertanyaan apakah telah lahir estetika baru dalam sastra Indonesia. Namun dia melihat sebenarnya ada sebentuk estetika baru yang tengah berproses, meski diakui belumlah mapan.
Buah pemikirannya dapat ditelusuri melalui telaahnya dalam bunga rampai esai TSI-4 Ternate. Afrizal Malna menelisik sastra Indonesia ketika berhadapan dengan sejarah, dalam hal ini dinamika orde baru selama lebih dari tiga dasawarsa. Bagi Afrizal, abad 21 berciri mengusung estetika pembelahan dan pengembaran dari epedemi sejarah.
Maksudnya, ketika sejarah resmi dibangun semata-mata buka hanya lewat fakta tetapi juga fiksi, maka manusia di dalamnya membelah dirinya ke dalam dua sosok, yang bisa bertolak belakang atau saling melengkapi dalam mengarungi sejarah itu sendiri.(Baca bunga rampai telaah sastra mutaakhir, risalah dari Ternate, 2011).
Diskusi kian menarik saat bincang-bincang Komunitas Sastra di Indonesia, karena setiap daerah memiliki kekhasan masing- masing, sesuai latar sosial budaya masyarakatnya. Akan tetapi, yang menjadi catatan dalam diskusi tersebut, pabila komunitas sastra tidak lagi otonom, melainkan menjadi panjang tangan bagi kepentingan segelintir orang, demi tujuan tertentu.
Karena itu, gerakan komunitas sastra yang mandiri menjadi sebuah keniscayaan, agar kesusasteraan tidak dikotori oleh kepentingan politik. Hal itu ditegaskan oleh Penyair Afrizal Malna, bahwa komunitas yang mandiri adalah komunitas yang akan melahirkan gagasan brilian tentang kesusasteraan.
Tak terasa, hampir sepekan di Ternate, membuat saya, dan para sastrawan muda kian optimistis. TSI sangat berarti bagi perkembangan kesusasteraan tanah air. Karena di samping mendiskusikan hal-hal strategis soal sastra, peserta juga bisa belajar segala hal yang berkaitan dengan fenomena tumbuhkembangnya komunitas sastra di beberapa daerah di Indonesia.
Hemat saya, TSI yang pertama kali diadakan di Jambi, kemudian disusul Bangka Belitung, berikutnya Tanjung Pinang, dan saat ini Ternate, merupakan kesinambungan untuk memperbincangkan sekaligus menemukan formulasi terkait Kesusasteraan Indonesia Mutakhir.
*) Jumardi Putra, Peserta pilihan Kurator TSI-4 /1 November 2011

Reactions:

0 comments:

Post a Comment