Pages

Wednesday, 11 April 2012

Sihir Tongkat


Sihir Tongkat
Posted by PuJa on April 10, 2012
S Prasetyo Utomo
Suara Merdeka, 18 Maret 2012

LELAKI kecil, kurus, menyeret-nyeret tongkat berukir kepala burung. Di pipinya leleh air mata. Ia ingin memusnahkan tongkat itu. Ingin menceburkannya ke sungai. Biar hanyut ke laut. Baru saja Kakek mendera pantatnya dengan tongkat itu. Masih terasa pedih menyengat pada pantatnya. Nyeri. Meremuk tulang ekornya.
Dituruninya tanggul parit yang mengucur ke sawah. Tenggelam di antara bunga-bunga ilalang yang terurai dihembus angin, putih rapuh dan terhambur dari tangkainya. Dia merasa serapuh bunga-bunga ilalang itu.
Cuma sekali Kakek memukul pantatnya. Tubuhnya terasa panas, menggeletar, tercabik, dan tanpa harga diri. Tak mau lagi ia bercakap-cakap dengan Kakek. Tongkat berukir kepala burung itu telah membangkitkan kebenciannya. Dia ingin melenyapkan tongkat itu. Membuangnya ke sungai.
Dicarinya tongkat itu, saat Kakek sedang tidur siang. Ia berkali-kali mengintip ke dalam kamar melalui celah pintu. Ditunggunya sampai Kakek benar-benar terlelap. Dia menyentuh pintu—celaka, terdengar suara derit engsel berkarat. Tapi Kakek masih mendengkur, napasnya beraroma tembakau.
Merangkak memasuki kamar, Ujang—lelaki kecil, enam tahun itu, menahan napasnya. Ditariknya, pelan-pelan sekali, tongkat berukir kepala burung, tanpa suara.
Begitu tiba di luar kamar, Ujang berlari. Menyeret tongkat itu melintasi dapur, tanpa mengusik perhatian Mak Dilah, pembantu mereka yang memasak di depan tungku dengan rambut menggeriap keputihan.
Langit rekah dan bumi terbelah, saat Ujang didera tongkat pada pantatnya. Berlaksa lebah menyengat pantatnya bersamaan. Lebam membiru. Luka memar yang tak dapat dilihatnya. Cuma dapat dirasakannya.
Tiba di tanggul sungai, Ujang bimbang memandangi air yang deras mengalir, bening, bergemiricik. Tinggal mengayun sedikit tenaga, tongkat itu terlempar dan dihanyutkan deras arus sungai. Ada keinginannya untuk memunguti reranting kering di tepi sungai. Ia ingin menyalakan api, dan tongkat itu dibakar ke dalamnya hingga bergemeretak menghangus jadi arang, jadi abu. Tapi ia tak membawa pemantik.
Duduk di sebuah batu besar, bernaung di bawah pohon jambu di tepi sungai, Ujang kembali meledak kemarahannya dalam diam. Terasa pantatnya sakit seperti bersentuhan dengan bara. Kali ini ia tak bisa menahan lelehan air mata, meski tak bersuara. Terisak-isak dalam diam, terpendam di dada.
Tak ada lagi yang bisa dikenang untuk mengadukan hancurnya perasaan. Ujang tak bisa membayangkan paras ibunya yang meninggal saat melahirkannya. Tak ada juga bayang-bayang sosok ayahnya, yang pergi, lenyap, dilempar dalam sel, atau dibunuh—tak pernah diketahuinya. Ia tak pernah berani bertanya pada Kakek dan Mak Dilah mengenai ayahnya. Akan berbeda-beda kisah mengenai sosok ayahnya. Dan Kakek selalu berang sepasang matanya, keji dan memberangus, setiap kali ia bertanya mengenai ayahnya. Juga Mak Dilah—ya, perempuan berambut perak itu selalu tak menyahut, setiap kali ia bertanya mengenai Ayah.
***
MENGGELIAT bangkit, Kakek tergeragap. Ia mencari tongkatnya. Biasanya tongkat itu berada di tepi ranjang. Kali ini ia tak menemukannya.
Tubuhnya gemetar berdiri. Mencari-cari dinding, agar tubuhnya tak terhuyung-huyung.
“Ujang! Ujang!” teriak Kakek, parau, berharap lelaki kecil itu berlari, langkahnya ringan mendekat, seperti biasanya, bila ia memanggil-manggil. Kali ini sunyi. Di pelataran, ia berharap bersua cucu lelakinya.
Kakek terus memanggil-manggil Ujang, tertatih-tatih, hingga matahari mulai suram. Lelaki tua itu makin remang-remang melihat jalan berumput yang terbentang di depannya. Ia terus melangkah, terus mencari Ujang, tanpa tongkat berukir kepala burung kesayangannya. Ia memakai tongkat lain untuk menopang tubuhnya yang gemetar.
Di batu besar, Kakek pernah duduk berhadap-hadapan dengan Ujang, yang duduk di batu lebih rendah. Dia menceritakan riwayat tongkat berukir kepala burung itu pada sebuah sore yang segar, pada satu-satunya cucu yang dimilikinya.
“Engkau, cucuku, kelak akan mewarisi tongkat ini,” kata Kakek, “Tongkat ini kuperoleh dari ayahku, seorang lurah di desa ini. Pada waktu itu ayahku hendak magang lurah, dan tak memiliki pusaka apa pun. Tiap malam ayahku menyusuri sungai, hingga menjelang pagi. Pada malam keempat puluh, ayahku tertidur di sebuah batu besar di tepi kali. Dia bermimpi didatangi burung merak yang indah bulu-bulunya. Burung itu hinggap di pundaknya. Pada waktu ia terbangun, mencari-cari sesuatu di sekitarnya. Dia menemukan sebuah dahan sebesar lengan di tangannya, tergeletak di antara batu-batu sungai. Ia tak pernah mengerti jenis dahan kayu itu, yang kemudian dibawanya pulang dan diukirnya menjadi tongkat berkepala burung.”
Tak berkedip, Ujang memandangi Kakek, dan takjub sepasang matanya. “Tongkat itu diukirnya sendiri?”
“Ya, ayahku mengukir tongkatnya sendiri, dan dibawanya pada saat pilihan lurah. Orang-orang memandangi tongkat itu dengan takjub. Ayah terpilih sebagai lurah.”
“Tongkat itu bertuah ya, Kek?”
“Tentu saja tidak. Tongkat itu menjadi tanda kebesarannya. Orang-orang kampung sangat mengasihinya,” tukas Kakek, tak mau kehilangan kepercayaan pada cucunya. “Aku sendiri merasa perlu meneladan pada kegigihan ayahku. Di desa ini, akulah yang bersekolah, dan pada waktunya, aku bisa menjadi asisten wedana. Tapi anak lelakiku—ayahmu itu, sungguh brengsek!”
Terhenti, geram, Kakek kembali berjalan. Memanggil-manggil Ujang yang lenyap dari pandangannya.
***
TANGAN Ujang bergetar. Ia menahan amarah. Pada tongkat itu, ia sangat mendendam. Membenci. Ingin membinasakannya. Masih membekas pukulan Kakek, sangat nyeri di pantatnya. Ia tak bisa menangis di pangkuan ibunya. Ia tak bisa mengadu pada ayahnya. Lelaki itu entah sudah dibunuh orang-orang kampung, entah dirajam senjata usai berzina, atau dijebloskan dalam penjara karena membunuh—sampai sekarang belum diketahuinya.
Diangkatlah tinggi-tinggi tongkat berukir kepala burung itu. Dipandanginya deras arus sungai yang bergelombang menerjang bebatuan. Matahari yang hampir tenggelam, memantul-mantulkan cahaya serupa gugus api yang berkilatan di ujung riak air. Kemarahan Ujang sudah merasuki hatinya. Tak ada lagi rasa iba pada Kakek. Dilemparkannya tongkat itu ke tengah sungai. “Mampus kau!” teriaknya. Deras arus kali menghanyutkan tongkat itu.
***
MERASA kehilangan dan menyesal telah mendera Ujang dengan tongkat, Kakek menyusuri tanggul pesawahan dan ladang palawija. Dia tak lagi memanggil-manggil. Ia merasa yakin, cucunya berada di tepi sungai. Mengadu pada air yang mengalir, bergemericik dalam irama yang sama.
Sesekali kaki Kakek terperosok lumpur sawah. Tergelincir dari pematang. Jatuh terpelanting dalam jerami sehabis dipanen. Bangkit lagi. “Kamu jangan marah, Ujang! Jangan menjadi sia-sia macam ayahmu! Dan tongkat itu, kau tak boleh membuangnya!” gerutunya.
Hari sudah tersungkup kegelapan, ketika Kakek mencapai tebing sungai. Mencari-cari Ujang. Tak dilihatnya lelaki kecil itu. Ia tergagap-gagap. Matanya yang rabun tak bisa membedakan sawah, pematang, dan tebing sungai. Pada waktu ia melangkah di tebing sungai itu, telapak kakinya tak menapaki tanah. Terperosok. Terguling. Tercebur deras air sungai.
***
DINGIN malam mulai menyekap Ujang. Ia dijalari rasa takut, cemas, dan memerlukan teman. Duduk mematung di atas batu, tersekap gelap langit, diusik derik serangga dan angin yang lembab, menggigilkan tubuh Ujang. Mulai terdengar suara burung malam yang mendesir-desir di dadanya.
Di kejauhan, dari arah rumah Kakek, berpendar obor-obor yang berkelebat. Kian marak pendar obor-obor itu. Berpencar ke beberapa arah. Bergerombol. Ujang melihat, beberapa obor yang bergerak menyusuri pematang sawah, mendekati tanggul sungai. Diam-diam Ujang merasa senang dan penuh harap, agar obor itu makin mendekat ke arahnya. Tapi tidak. Cahaya obor itu berhenti agak jauh di bawahnya.
Terdengar seruan bersahutan. Beberapa obor dimatikan. Tinggal dua obor yang menyala. Ada kesibukan yang tak bisa dilihat Ujang. Dia tak mengerti, mengapa orang-orang itu mencari-cari sesuatu di tepi sungai. Hampir-hampir tak beranjak.
Berdiri di atas batu besar, Ujang memperhatikan dua obor yang menerangi tubuh-tubuh yang membungkuk di tepi sungai. Tapi kemudian lelaki kecil itu melihat: mereka mengangkat sesosok tubuh. Bergerak meniti tanggul. Menyusuri pematang. Obor-obor itu kembali menjauh.
Lagi, obor-obor itu bergerak ke arah rumah Kakek. Menyatu di pelataran. Padam satu demi satu, dan kembali gelap.
Takut, sedih, dan merasa bersalah, tubuh Ujang bergetar. Tangisnya tersendat pelan-pelan, sesekali meledak. Disembunyikan kepalanya di antara lengan yang ditumpukan pada lutut. Duduk. Menyusupkan kepala itu dalam-dalam. Tak bergerak. Hingga isak tangis itu terhenti. Dadanya terasa kosong. Hampa. Embusan angin pelan-pelan menidurkannya.
Seekor burung merak datang dalam tidurnya. Hinggap di pundak.
***
MENJELANG pagi, tubuh Ujang pucat berembun. Memasuki pintu belakang dapur, Mak Dilah berjongkok di depan tungku yang baru menyala. Tak menegur. Ujang berjingkat melangkah ke ruang dalam. Berhenti di depan kamar Kakek. Takut dan ingin menemui Kakek. Tangannya menyentuh pintu. Berderit. Setengah terbuka. Terperanjat.
Kakek terbatuk. “Ujang? Kemarilah! Aku tahu, kau akan pulang!”
Cemas dan bahagia, Ujang menatapi Kakek yang terbaring. Di sisi tempat tidur Kakek—inilah yang menyengat batin Ujang, tergeletak tongkat berukir kepala burung yang dibuangnya ke sungai. Diam-diam Ujang menduga, bagaimana tongkat yang dihanyutkannya di sungai, kembali dilihatnya di sisi Kakek.
Pandana Merdeka, Februari 2012
Dijumput dari: http://lakonhidup.wordpress.com/2012/03/21/sihir-tongkat/

Reactions:

0 comments:

Post a Comment