Pages

Monday, 16 April 2012

Surat Tanah


Surat Tanah
Posted by PuJa on April 15, 2012
Rifan Nazhif
Republika, 26 Feb 2012

DARAHKU mendidih. Tubuhku gemetar. Terasa sekali pandanganku berkunang-kunang. Andaikan aku tengah berdiri, kemungkinan besar tinjuku langsung melayang ke wajah lelaki itu. Kali ini aku memang tengah duduk menunggu azan Maghrib dan sudah mengambil air wudhu. Percuma aku meladeninya sekarang kalau akhirnya wudhuku bakalan batal. Lagi pula, Maghrib-Maghrib tak baik mengumbar amarah. Kuelus dada, mencoba menurunkan tensi darah.
Selepas shalat Maghrib dan makan ala kadarnya, aku kembali menemui lelaki yang membuatku sangat emosi itu. Dia Piyan. Biasa kupanggil Mas Piyan. Kami saudara seayah-seibu. Dia sulung dalam keluarga kami. Sementara aku bungsu. Tapi, kelakuannya dari masa muda hingga sekarang, tetap seperti anak-anak. Tak berubah-ubah. Tabiatnya selalu membuat pening seluruh keluarga.
Setelah ayah meninggal dunia sembilan bulan lalu, semakin bertingkahlah dia. Itulah makanya aku memilih pindah ke rumah kontrakan sekitar enam kilometer dari rumah mendiang ayah.
“Maksud Mas apa sebenarnya?” Aku mencoba berbicara lebih lembut. Secangkir teh yang dihidangkan istriku, belum disentuhnya.
“Apa tak sebaiknya Mas shalat Maghrib dulu, baru kita perbincangkan masalah ini. Atau sekalian makan malam. Jadilah berlauk tahu-tempe, Mas!” Sekarang, praktis emosiku normal kembali.
“Aku tak mau basa-basi lagi, Mirdin! Kemarikan surat tanah itu!” Dia mendengus. Dia berdiri dan berjalan mondar-mandir.
“Ayah telah menitipkannya kepadaku, Mas. Wasiat Ayah, surat tanah itu harus kuserahkan kepada Haji Maulud setelah setahun ayah meninggal dunia. Apakah Mas Piyan tak ingat wasiatnya? Mas kan ikut menjagai ayah menjelang sakaratul maut!” Mas Piyan mendengus lagi. Bosan mondarmandir, dia duduk sambil memelototiku.
“Aku perlu sekali surat tanah itu, Mirdin! Aku akan menjualnya kepada Juragan Saud. Kelak uangnya sebagai biaya bisnisku di Jakarta.” Dia memukul pahanya sendiri. “Kau sih sudah enak. Sudah menikah dan tinggal di rumah kontrakan. Kalau aku, apa? Menikah saja belum. Tinggal tetap di rumah orang tua. Di bawah ketiak ibu!”
Mas Piyan sudah lama kasuk-kusuk ingin merebut surat tanah itu dariku, bahkan sebelum genap 40 hari meninggalnya Ayah. Kali ini mungkin kesabaran Mas Piyan sudah mencapai puncaknya.
Aku tahu, bukan niat ke Jakarta yang memaksanya ingin menjual tanah itu. Dia hanya terlilit utang karena terlalu sering berjudi di lapau-lapau yang memang ramai di kampung kami. Belum lagi demi memenuhi selera mabuknya, butuh uang berbuntal-buntal. Kedatangannya ke rumahku menjelang Maghrib pun hidungku membaui tuak yang sangat kentara.
Bagaimanapun aku harus berjuang mempertahankan surat tanah itu. Ayah memiliki niat yang sangat luhur, mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid. Dia memang masih merahasiakannya kepada warga, termasuk kepada Haji Maulud. Tapi, tiga bulan lagi berita ini akan santer dan membuat warga bertempik-sorak.
Tak hanya aku dan Mas Piyan yang mendengar wasiat ayah. Ibu, Mbak Romlah, Wak Satir, juga mendengarnya sambil melepas sedu sedan. Lalu, alangkah berdukanya ayah di alam barzah manakala mengetahui tanah wakafnya dijual Mas Piyan hanya untuk bersenang-senang. Mendiang ayah pasti sangat kecewa kepadaku, mengapa tak sanggup menjalankan amanahnya yang agung itu.
Terbetik juga niatku untuk melanggar wasiat ayah. Artinya, aku bukan bermaksud menyerahkan surat tanah kepada Mas Piyan, melainkan sesegera mungkin menemui Haji Maulud. Sesegera mungkin melakukan serah terima surat tanah. Kalau sudah serah terima secara sah di hadapan petugas yang berwenang, plus beberapa warga, Mas Piyan akan susah merebutnya kembali.
“Pokoknya tak bisa!” Aku berdiri. Pak Kamaludin, seorang tetanggaku yang bertugas di kepolisian, tiba-tiba muncul di ambang pintu. Apalagi kalau bukan mau mengajakku ke acara syukuran khitanan anak Pak Raihan. Kedatangan Pak Kamaludin sungguh membuatku berani menentang kehendak Mas Piyan. Itulah yang menyebabkan Mas Piyan buruburu mendengus dan beranjak pulang. Aku tahu malam ini bisa selamat dari rongrongan lelaki itu. Tapi, tak tahu kalau besok lusa. Aku hanya bisa berserah diri kepada Allah.
***
Panas yang menyengat selepas mengajar di sekolahan, membuatku buru-buru mengayuh sepeda pulang ke rumah. Tapi, belum sampai roda depan sepeda melewati pagar, istriku langsung menyongsong dengan wajah diliputi kepanikan.
“Mas Piyan ngamuk, Mas! Cepatlah lihat ke sana! Aku takut ibu kenapa-kenapa,” lapornya sehingga membuat napasku tersengal. Aku sudah menebak perkara surat tanah itu bisa membuat Mas Piyan kalap.
Tanpa banyak bicara, aku langsung mengayuh sepeda cepat-cepat. Kubayangkan ibu akan ketakutan melihat perangai Mas Piyan. Ibu tentu hanya bisa menatapnya sambil bersedu sedan. Mencegah anaknya yang pemberang itu agar tak mengamuk, sama saja berbicara kepada banteng yang terluka. Apa kata orang bila Mas Piyan tiba-tiba khilaf memukul ibu!
Benar saja, di halaman rumah telah ada beberapa warga yang menonton. Sementara di gelanggang halaman rumah, sebuah tarian memalukan sedang diperagakan Mas Piyan. Dia memegang parang panjang. Menebas ke sana-kemari sambil menceracau. Telah habis batang pohon pisang ditebasnya. Sebuah batang pepaya pun telah doyong. Aku takut kalau-kalau tak ada lagi yang bisa ditebas, Mas Piyan menebas orang-orang. Menebas ibu!
Di tangga rumah, ibu hanya mampu menangis sambil memukul-mukul pelan dadanya. Ketika ibu menoleh ke arahku, dia langsung berdiri sambil menyeka air mata.
“Mas Piyan, hentikan!” bentakku.
“Apa hakmu menghentikanku?” Dia menodongkan parang ke dadaku. Orang-orang menjerit. Mereka mencoba melerai. Tapi, melihat mata mengancam dari Mas Piyan, mereka memilih mematung kembali. Mereka tak ingin bernasib seperti batang-batang pisang itu.
Aku menatap ibu. Dia pasti tak akan mengizinkanku menyerahkan surat tanah itu kepada Mas Piyan. Namun, aku sama sekali tak memiliki pilihan lain. Biarlah mengalah. Biarlah ibu marah. Biarlah mendiang ayah kecewa. Tanah bisa dibeli kembali. Hanya saja bila ada yang terluka atau mati oleh amukan Mas Piyan, pastilah akan lebih ruwet masalahnya.
“Baiklah, aku akan menyerahkan surat tanah itu kepadamu, Mas!”
Ibu menjerit, “Jangan, Mirdin!”
Mas Piyan menurunkan parang dari dadaku. Amukannya sedikit mereda. “Kau yakin ingin menyerahkannya kepadaku? Apa kau tak berbohong?”
“Apakah aku pernah berbohong kepadamu, Mas Piyan!”
“Kalau begitu, kemarikan surat tanah itu!”
Aku mengangguk dan buru-buru mengayuh sepeda pulang ke rumah. Tanya yang terlontar dari mulut istriku tentang kondisi Mas Piyan dan ibu, kujawab dengan keluhan saja. Segera kubuka lemari. Kucari pada lipatan celana di rak bagian bawah. Nah, itu dia surat tanahnya! Celoteh istriku selanjutnya tentang surat tanah dan wakaf mendiang ayah pun tak kugubris. Aku hanya mengatakan begini, “Aku tak ingin gara-gara surat tanah ini, Mas Piyan membunuh orang!” Istriku terdiam. Dia seperti orang kesambet menatapku pergi mengayuh sepeda dengan sangat kencang.
***
Setelah surat tanah itu di tangan Mas Piyan, aku merasa serba-salah. Aku seperti dimata-matai mendiang ayah dengan pandangan benci. Bahkan, aku pernah sekali bermimpi bertemu mendiang ayah. Dia tak berbicara, hanya menatapku tanpa ekspresi.
Kebencianku terhadap Mas Piyan semakin menggunung. Rasa benci itu membuatku memilih tak pulang ke rumah sekadar mengunjungi ibu. Ya, hampir sebulan lebih setelah surat tanah dirampas oleh Mas Piyan.
Begitu liburan sekolah tiba, dan keluarga istriku ada yang mengadakan pesta perkawinan di tanah Jawa, aku dan keluarga pun boyongan ke sana. Kupikir itu pilihan terbaik ketimbang risau terus memikirkan Mas Piyan.
Hampir dua minggu di tanah Jawa, kami kemudian pulang ke rumah. Selain liburan sekolah telah usai, sepertinya tak enak merepotkan mertua terus. Dalam perjalanan dari tanah Jawa menuju Pulau Sumatra, pikiranku kembali risau. Surat tanah pasti sudah digadaikan Mas Piyan. Dia akan membayar utangnya, lalu berfoya-foya. Selepas itu apalagi? Aku yakin bila telah kehabisan uang, dia tetap tak kehabisan akal merongrong ibu agar menjual apa saja yang bisa dijual, termasuk rumah peninggalan ayah barangkali. Kalau itu yang dia minta, aku bertekad rela bertaruh nyawa mempertahankannya. Mas Piyan sudah keterlaluan. Sekali-sekali dia harus dilawan dan dikasih pelajaran.
“Mas tak ingin menjenguk ibu? Hampir dua bulan lho, Mas!” Istriku menegurku ketika sedang melamun di kursi teras rumah. Telah satu hari kami kembali disibukkan rutinitas seperti biasanya. Dan, kebencian terhadap Mas Piyan tetap mengganjal di kepala.
“Tak baik, Mas, memutuskan silaturahim,” lanjutnya. Aku tersentak. Mas Piyan adalah saudara kandungku. Memutus silaturahim dengannya, sama saja aku memutus rahmat Allah SWT. Kalau aku tak bertegur sapa dengannya, bagaimana aku bisa mengubahnya sifatnya agar lebih baik? Kuputuskan segera menjenguk ibu sekalian Mas Piyan bila dia sedang berbaik hati menerimaku.
Angin semilir petang menemaniku melewati perjalanan menuju kampung tempatku lahir dan dibesarkan. Begitu pun aku merasa tak senyaman angin semilir. Aku memang telah mencoba membunuh kebencianku terhadap Mas Piyan. Tapi, sekuat apakah diri ini menaklukkannya? Aku manusia biasa yang hatinya bisa terluka. Mungkin kalau Mas Piyan bukan saudara kandungku, telah lama aku tak menggubrisnya lagi.
Hampir memasuki perkampungan, hatiku bertambah tak nyaman. Bahkan, ketika melintasi tanah mendiang ayah yang rencananya akan diwakafkan, hatiku hancur luluh. Tampak beberapa tukang sedang memasang fondasi sebuah bangunan di situ. Barangkali Juragan Saud akan membuat rumah bedeng untuk dikontrakkan seperti usaha yang sudah lama dirintisnya. Ya, aku yakin Mas Piyan menjual tanah itu kepadanya.
Aku hampir melajukan sepeda. Namun, sebuah panggilan dari seseorang yang bersuara khas, mengurungkan niatku melanjutkan perjalanan. Aku berbalik mendatangi orang itu dengan nafas tersengal dan hati penuh tanda tanya. Ketika dia menyalami dan langsung merangkulku, aku pun hanya bisa membalasnya dengan ragu-ragu.
“Pak Haji Maulud, mengapa ada di sini?”
Dia tersenyum. “Mengapa ada di sini? Kau ini mengada-ada saja, Mirdin! Bukankah mendiang ayahmu telah mewakafkan tanah ini untuk dijadikan masjid?”
“Tapi?” Aku semakin bingung. Bukankah surat tanah sudah dirampas Mas Piyan dariku? Mustahil dia menyerahkannya kepada Haji Maulud. Bukankah dia hendak menjualnya kepada Juragan Saud untuk difoya-foyakan?
“Mengapa seperti kebingungan, Mirdin?”
Aku menggaruk-garuk kepala yang seketika terasa gatal. “Ah, tak apa-apa, Pak Haji!”
“Kau bingung kenapa Piyan menyerahkan surat tanah itu kepadaku agar di tempat ini dibangun masjid?” Haji Maulud seakan fasih menebak isi kepalaku. Tentu saja, meski ragu-ragu, aku mengangguk juga. Haji Maulud mengatakan, Mas Piyan merasa dikejar-kejar terus oleh mendiang ayah dalam mimpi-mimpinya. Bahkan, ketika kondisi terjaga, seolah Mas Piyan tetap dimatai-matai. Untungnya setelah surat tanah berpindah tangan ke tangan Haji Maulud, Mas Piyan kembali merasa tenang seperti sedia kala.
“Mau ke mana?” Haji Maulud bertanya saat melihatku kembali akan mengayuh sepeda.
“Mau ke rumah menemui Mas Piyan, Pak Haji!”
“Dia sedang mengambil uang sumbangan pembangunan masjid ini di rumah pak camat.”
Aku melongo. Aku masih merasa tak percaya betapa sifat Mas Piyan berubah seratus delapan puluh derajat. (*)
Rifan Nazhif mulai menulis ketika duduk di bangku SMA (1998). Ia menulis cerpen, puisi, esai, dan artikel di beberapa koran lokal Medan. Hingga sekarang masih aktif menulis di beberapa koran lokal maupun nasional.
Dijumput dari: http://lakonhidup.wordpress.com/2012/02/28/surat-tanah/

Reactions:

0 comments:

Post a Comment