Pages

Sunday, 13 May 2012

Kartini dalam Proyeksi Globalisasi


Kartini dalam Proyeksi Globalisasi
Posted by PuJa on May 13, 2012
Rahmi Syalfitri Riska *
http://padangekspres.co.id/

Pada 1 April 1546, Tycho Brahe, astronom dan matematikawan terkenal asal Denmark terlahir ke dunia. 2 April 1917, AS menyataan diri bergabung dengan pasukan sekutu Inggris-Perancis melawan tentara Jerman dalam Perang Dunia Pertama yang sudah berlangsung selama tiga tahun. 8 April 1979, Ayatullah Sayyid Muhamad Baqir Shadr beserta adik perempuannya, Bintul Huda, gugur syahid dieksekusi oleh pasukan keamanan Rezim Saddam Husein.
12 April 1961, Yuri Gagarin, seorang astronot Rusia berusia 27 tahun, membuat sejarah dengan menjadi manusia pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa. 14 April 1912, kapal Titanic menabrak gunung es di laut Atlantik utara dan karam. 30 April 1945, setelah rencana dan impiannya untuk menguasai dunia mengalami kegagalan, akhirnya Adolf Hitler bunuh diri di sebuah lubang pertahanan bawah tanah di Berlin.
Ini merupakan beberapa potret sejarah dunia yang terjadi pada bulan April. Tentu sejarah-sejarah ini tidak terlalu mendapat tempat khusus di hati kita, bangsa Indonesia, kecuali bagi golongan-golongan tertentu yang memang fanatik terhadap hal-hal manca negara.
Di Indonesia bulan April oleh beberapa kalangan disebut sebagai ‘Bulan Perempuan’, walaupun hanya pada satu tanggal saja hari itu terasa sangat didengungkan. ‘Emansipasi wanita’, kata-kata ini terasa sangat dekat ditelinga kaum hawa. Bagaimana tidak, hak-hak kaum wanita yang dulunya sangat kontras dengan kaum laki-laki, penindasan dan kekarasan yang kerap dialami, sejalan dengan usaha ini hal-hal tersebut perlahan bisa diatasi. Tak ada yang tak kenal dengan RA Kartini, beliaulah yang menjadi ujung tombak gerakan emansipasi wanita di Indonesia.
Raden Ajeng Kartini lahir seratus tiga puluh tiga tahun yang lalu, tepatnya 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Kartini dulunya adalah seorang gadis kecil yang lincah, pintar dan cerdas. Keluarganya sangat menghargai pendidikan, namun disisi lain mereka juga merupakan keluarga yang sangat menjunjung adat istiadat. Hingga Kartini kecil hanya diperbolehkan mengikuti pendidikan sampai Sekolah Dasar saja, sisanya Kartini harus mengalami masa pingitan menunggu jodoh sesuai adat Jawa. Sebagai gadis kecil yang cerdas, Kartini selalu bertanya-tanya dan berusaha mencari jawaban kenapa pendidikannya dibedakan dengan saudara laki-lakinya. Meski terus meminta agar sekolahnya dilanjutkan, namun orangtuanya tetap tidak mengizinkan. Hari-hari Kartini ia habiskan dengan membaca berbagai buku ilmu pengetahuan maupun surat kabar. Kartini kerap mengungkapkan keinginannya melalui surat kepada teman-temannya yang ada di Belanda, bagaimana Kartini ingin mengubah nasib wanita Indonesia agar mempunyai hak yang sama dengan laki-laki pada umumnya.
Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr JH Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda. Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orangtuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang.
Suaminya mengerti dan ikut mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah wanita. Berkat kegigihannya Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Pada 17 September 1904, Kartini meninggal dunia dalam usianya yang ke-25, setelah ia melahirkan putra pertamanya. Setelah Kartini wafat, Mr JH Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Lalu pertanyaannya, masih adakah sosok Kartini diera globalisasi ini? Adakah wanita-wanita yang dengan sejatinya mau berjuang demi kepentingan orang banyak? Mampukah kita menarik sehelai saja benang merah dari perjuangan Kartini? Tentu jawabannya adalah ada dan harus mampu. Kartini hidup pada zaman yang sarat dengan belenggu, yang sering diistilahkan dengan ‘Burung dalam Sangkar’. Lain halnya dengan kita. Kita hidup dalam masa yang tak lagi dibelenggu oleh adat istiadat yang begitu mengekang. Kita menapakai bumi, alam Indonesia yang sudah merdeka.
Tak ada lagi istilah pingitan hingga harus mengorbankan pendidikan. Bahkan sekarang, pendidikan bagi kaum wanita sangat dihargai. Tak hanya dari segi hak dalam dunia pendidikan, dalam dunia politikpun wanita mampu berorasi, menyuarakan kepentingan, berdebat sekalipun dengan aktor-aktor politik yang berbeda jender. Wanita juga bisa menduduki jabatan-jabatan penting dalam dunia pemerintahan saat ini. Apapun bentuk kesetaraan yang kita rasakan pada saat ini, semuanya adalah hasil jerih payah seorang RA Kartini. Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi.
Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat yang berbeda. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah.
Dan berbagai alasan lainnya. Sedangkan mereka yang pro mengungkapkan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam skop nasional. Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928.
Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya. Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Menado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan bangsa yang patut kita hormati dan teladani.
Sejarah memang merupakan refleksi yang sangat berdaya guna dalam menatap waktu kedepannya. Begitu banyak wanita-wanita tangguh Indonesia yang berjuang dalam mempertahankan hak dan kedudukannya. Kita sebagai wanita, anak bangsa yang akan melanjutkan kepakan sayap garuda sejatinya harus lebih giat menyumbangkan bakti-bakti positif terhadap Negara kita tercinta. Tak mesti bersuara lantang, cukup wujudkan dengan sikap dan perbuatan. Bakti kita tak harus ditorehkan pada ujung-ujung bambu runcing yang kekar, tak lagi harus dibuktikan dengan aliran darah-darah segar, cukup dengan melakukan hal-hal positif guna menunjukkan kebanggaan kita sebagai bangsa yang besar. Negara menunggu kontribusi kita, wanita Indonesia. Walaupun kita hidup dalam masa yang benar-benar menuntut kesiapan kita menangkal westernisasi, memilah masalah-masalah moral yang datang silih berganti, namun pada dasarnya kartini bisa kita jadikan proyeksi dalam menghadapi globalisasi akhir-akhir ini.
*) Mahasiswi Ilmu Sosial Politik Universitas Negeri Padang /21/04/2012

Reactions:

0 comments:

Post a Comment