Pages

Thursday, 24 May 2012

MEMBACA ULANG A.A. NAVIS


MEMBACA ULANG A.A. NAVIS
Posted by PuJa on May 18, 2012
B. Fariz J. M. Misbah, M.Pd.
http://fariz-misbah.blogspot.com/

Siapa yang tidak kenal Sang ”pencemooh” A.A. Navis? Siapa yang tidak tahu cerita pendek (cerpen) fenomenalnya yang berjudul ”Robohnya Surau Kami”?
Dalam pelajaran bahasa Indonesia di SMP dan SMA, khususnya dalam materi sastra, apabila diteliti, hampir semua penulis buku paket mencantumkan saduran cerpen Robohnya Surau Kami dalam bukunya.
Sudah fahamkah siswa-siswa kita akan makna luhur yang terkandung dalam cerpen itu?
Cerpen Robohnya Surau Kami ditulis AA. Navis sekira thun 1955an. dan diterbitkan pertama kali oleh penerbit Gramedia sekira tahun 1986. Artinya cerpen ini telah berusia setengah abad. Berarti berpuluh juta orang yang telah membaca cerpen ini. Para orang tua, para sesepuh, para pendahulu yang kini menjabat berbagai kedudukan penting setidaknya pernah membaca cerpen ini.
Cerpen A.A. Navis ini bercerita tentang kisah Garin tua yang bunuh diri karena kesal mendengar sindiran-sindiran Ajo Sidi dengan cerita ”Haji Saleh”. Ajo Sidi bercerita tentang Haji Saleh seorang warga negara Indonesia yang rajin beribadah dan beribadah ketika di dunia, tetapi dimasukkan neraka. Haji Saleh mencari pendukung dan berbondong-bondong melakukan demonstrasi ke hadapan Allah swt. Terjadilah dialog antara Haji Saleh dengan Allah sebagai berikut.
“…..kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain yang mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-­muji dan menyembahku saja. Tidak….”
Semua jadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia.
Cerpen Robohnya Surau Kami kiranya akan tetap abadi karena kesesuaian isi cerita dengan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat kita. Ya, sebagaimana abadinya tembang-tembang Ebiet G. Ade dan Iwan Fals. Keabadian cerpen itu, karena kita tetap tidak mau bercermin dari masa lalu, tidak mau belajar dari sejarah dan tidak mau belajar dari otokritik orang lain.
Bukankah kisah nyata tentang bunuh diri, pembunuhan, dan saling bunuh hampir tiap saat terjadi dan kita tonton melalui berita di televisi?
Saat ini berbagai musibah terus menerus beruntun menempa negara kita. Gempa bumi, longsor, banjir, tenggelamnya kapal, jatuh hingga terbakarnya pesawat.
Bukankah gempa bumi, longsor, banjir, dan berbagai musibah lainnya akibat kecongkakan manusia yang senantiasa mementingkan dirinya sendiri? Terkadang ada orang saleh, rajin beribadah dan beribadah. Tapi tidak saleh secara sosial, acuh tak acuh terhadap kemiskinan, kebodohan, berbagai pelanggaran sosial. Seakan-akan menutup mata akan apa yang terjadi pada lingkungan selain lingkungannya sendiri.
Bukankah ”Haji Saleh” seorang yang saleh, pernah naik haji, ibadah di mesjid, tertapi dia dimasukkan ke dalam neraka oleh Allah swt. Karena dia terlalu mementingkan kepentingannya sendiri untuk beribadah, tetapi dia tidak peduli dengan anak cucunya, tetangganya yang kelaparan? Haji Saleh pun dilahirkan di negara yang rakyatnya senantiasa bertengkar, bertikai, dan perang saudara. Haji Saleh pun tidak peduli dengan kekayaan alamnya yang terus dikeruk oleh orang lain. Padahala kekayaan alam tersebut telah Allah karuniakan untuk rakyat di negeri Haji Saleh?
Ya cerpen A.A. Navis ini memberikan pelajaran keseimbangan hidup kepada kita. Keseimbangan antara kesalehan individu dan kesalehan sosial. Menjaga keseimbngan, keserasian, keharmoniasan, dan keselarasan kehidupan, pribadi, masyarakat, dan alam.
Cerpen A.A. Navis ini telah kita baca ketika belajar sastra di sekolah. Belajar sastra di sekolah melalui pembelajaran bahasa Indonesia, bukan hanya belajar keindahan bahasa, keindahan imajinasi pengarang tetapi juga kedahsyatan makna yang terkandung dalam karya sastra tersebut.
Belajar sastra berarti menyelami unsur-unsur intrinsik positif sebagai nilai tambah bagi pendidikan moral, pendidikan keperibadian siswa di sekolah. Ya ternyata pendidikan keperibadian dan moral bukan saja tugas guru pendidikan agama tetapi setiap guru, pun demikian dengan guru bahasa Indonesia.
Dengan demikian, pelajaran sastra perlu mendapatkan porsi dan perhatian khusus dari setiap guru. Sekali lagi selain belajar kreativitas menulis dan membaca, yang penting nilai luhur moral tertanam kuat pada sanubari anak didik kita semua. Semoga!
23 Desember 2008
Dijumput dari: http://fariz-misbah.blogspot.com/2008/12/membaca-ulang-aa-navis_4632.html

Reactions:

0 comments:

Post a Comment