Pages

Thursday, 26 July 2012

Sastra Mistik; Antara Syeikh Siti Jenar dan al Hallaj


Sastra Mistik; Antara Syeikh Siti Jenar dan al Hallaj
Posted by PuJa on July 21, 2012
Bastian Zulyeno
http://ipi2010.blogspot.com/

Sastra mistik atau yang lebih dikenal dengan tasawuf dan irfan adalah salah satu karakteristik dalam sastra Persia. Penyair sufi atau seorang arif yang penyair menghasilkan karya berdasarkan ilmu tasawuf. Di Iran tasawuf tumbuh subur pada abad 10 M yang nampak awal dalam karya Abu Hasal Alkharqani dan Ba Yazid al Busthami, akan tetapi tasawuf dalam bentuk puisi dan syair mulai berkembang dan disempurnakan pada abad 11 oleh penyair Abu Said Aba al Khair di kota Khurasan, propinsi bagian timur laut Iran sekarang. Sastra mistik ini kemudian berkembang pesat melalui tangan penyair-penyair Persia selanjutnya seperti Sanai, Attar dan Jalaluddin Rumi yang mengantarkan sastra mistik Persia ke puncaknya melalui karya besarnya Masnawi Maknawi.
Di Indonesia sendiri sastra mistik baru dikenal pada abad 16, yang oleh Abdul Hadi disebutkan bahwa sastra tasawuf di Indonesia dikenalkan oleh para penyair melayu seperti Hamzah Fansuri yang hidup di pertengahan abad 16 sampai awal abad 17 dan oleh beberapa orang muridnya seperti Abdul Jamal, Abdurrahman Singkel dan Samsuddin Pasai. Karya-karya mereka seperti yang disimpulkan oleh para ilmuwan banyak sekali pengaruh dari sastra mistik Persia, yang penulis sendiri langsung dapat melihat warna sastra Persia klasik begitu membaca karya-karya penyair melayu terutama milik Hamzah Fansuri yang kental dengan gaya bahasa Jalaluddin Rumi penyair sufi terbesar Persia yang hidup dari tahun 1207-1273 M.
Di dalam sastra tasawuf ada dua hal penting yang selalu dibicarakan pertama adalah nasehat dan kedua adalah cinta. Nasehat dalam menjalani hidup dan tahapan dalam menggapai cinta sejati, cinta sejati adalah cinta makhluk kepada khaliq. Manusia tercipta karena cinta tuhan kepadanya yang ingin selalu disembah, inilah hakikat penciptaan yang berarti cinta dan wujud ini pula yang ada di setiap yang bernyawa dan memiliki naluri kasih sayang. Kembali ke topik tulisan yang ingin mencari keterkaitan antara Syeik Siti Jenar di Indonesia dan Al Hallaj di Iran dengan pendekatan sastra mistik tentunya.
Syekh Siti Jenar, begitu namanya disebut banyak diantara kita langsung memutar memori otak dengan file “kafir” karena informasi dan pengetahuan yang kita terima memang demikian, terlepas dari kontroversi ada dan tidak ada (mitos), Siti Jenar dan ajarannya telah ikut meramaikan materi sejarah Islam di Indonesia khususnya dikalangan orang Jawa. Ia adalah seseoarang yang mengajarkan ajaran manunggaling kawulo kawalan gusti yang dianggap sesat dan bertentangan dengan ajaran Wali Songo. Menurut Achmad Chodjim ada dua versi penyebab kematiannya yang kemunkinan besar terjadi setelah tahun 1515. Pertama yang sering didengar oleh kalangan santri khususnya, Siti Jenar dihukum pancung karena ajarannya dan pada saat darahnya mengalir aliran darah tersebut membentuk tulisan “Allah”. Versi yang ke dua adalah Siti Jenar mati tidak dengan cara dihukum pancung melainkan Ia memilih kematian atas kehendaknya sendiri. Seykh Siti Jenar yang juga akrab dipanggil Syekh Lemah Abang adalah seorang wali dari wali sembilan di tanah Jawa. Tetapi dia mempunyai pandangan yang berseberangan dengan pendapat wali pada umumnya pada saat itu. Ia dianggap murtad dan keluar dari Islam. Siti jenar mengganggap “dunia ini alam kematian” hidup sejati menurutnya tak tersentuh kematian, jadi menurutnya kehidupan sekarang ini bukan kehidupan sejati karena masih dihinggapi kematian. Selanjutnya tentang bersatunya hamba dengan tuhan atau yang biasa disebut dalam bahasa Jawa manunggaling kawulo kalawan gusti adalah ajaran yang memandang hidup sebagai tekanan pribadi, hidup adalah wujud pribadi, merdeka dari belenggu gangguan dan godaan sekitar. Masuklah engkau sebagai hamba-hambaku! Masuklah engkau ke dalam taman-ku (Q.S 89:29-30) Siti Jenar berpendapat melalui ayat di atas bahwasanya hanya diri pribadi yang ada, tuhan tidak butuh tempat tinggal. Taman-Nya merupakan tempat kembali hamba-hambanya yang beriman. Tetapi Dia tidak ada di dalam maupun luar taman-Nya. Hamba menyatu dengan tuhan, hidup hamba tidak tak terpisah dari Tuhan. Diri pribadi yang ada, itu jika hamba betul-betul hidup. Di dalam “Serat Siti Jenar” yang dikisahkan dalam bait syair oleh Aryawijaya disebutkan sebagai berikut (transtlerasi dari bahasa jawa)[1]
Hakikat ilmu yang sejati
Terletak pada cipta pribadi
Maksud dan tujuannya
Disatukan adanya
Lahirnya ilmu unggul
Dalam keadaan sunyi, jernih.
Inilah sekilas ajaran utama yang diajarkan oleh Siti Jenar kepada murid-muridnya, dan menurut sastra sufistik yang bermuara pada ilmu tasawuf ajaran ini adalah ajaran yang menyingkap rahasia alam dan menurut para kebanyakan wali saat itu tidak boleh diajarkan ke sembarang orang karena akan merusak tatanan agama yang telah ditetapkan pada masa itu.
Tidak seperti halnya Syekh Siti Jenar memiliki rekaman sejarah hidup terlalu minim yang sampai ke tangan kita , Husain Ibnu Mansur Ibnu Hallaj atau yang dikenal sebagai al Hallaj cukup meninggalkan jejak untuk dikaji. Al Hallaj lahir sekitar tahun 858 M di Tur sebuah daerah di barat daya Iran atau yang dikenal sekarang bagian dari kota Shiraz. Ucapannya yang selalu ia ulang-ulang ana al haq (akulah kebenaran) yang menurut penafsiran al Hallaj Ia dan zat Tuhan telah menyatu dalam dirinya, membuat nasibnya sama dengan Siti Jenar yaitu mati dengan cara dieksekusi. Ali Mir Fitrus di dalam bukunya yang berjudul Hallaj mengutip Ali Syariati yang menyatakan bahwa al Hallaj adalah seorang gila yang tidak mengenal tanggung jawab sosial. Padahal latar belakang dan kepintaran al Hallaj bukanlah manusia biasa Jika ditelisik kembali, kebanyakan ilmuwan besar Persia juga seorang penyair, menurut beberapa sumber yang penulis temukan pada zaman itu puisi adalah simbol kualitas intelektualitas seseorang, artinya setiap ilmuan dapat dilihat keahliannya berdasarkan pada ketinggian nilai syair yang ia tulis. Begitu juga al Hallaj Ia pun juga seorang penyair, diantara syair-syairnya adalah sebagai berikut:
Aku telah mencari tempat di seluruh alam
Tapi bagiku tak ada tanah yang tenteram
Dunia telah mencicipiku, aku pun telah mencicipinya
Saat itu rasanya pahit dan manis
Saat kumengejar angan-angan ia memperbudakku
Oh! Andai aku rela dengan takdirku saat itu aku merdeka.
Bait di atas adalah bait yang ia bacakan sebelum di panggil menghadap penguasa, ada juga syair yang ia tulis setelah belajar berbagai ilmu agama sampai menemukan keyakinan sendiri:
aku berpikir dengan semua agama dan aku kaji semua dengan susah payah
dan aku temukan satu (asli) wujud dengan cabang yang banyak
karenanya biarkan orang ini tidak menerima agama, karena mungkin saja
agama itu membuatnya jauh dari keaslian yang asli.
Menurut Hallaj wujud asli itu tidak lain adalah Tuhan, beberapa abad setelah kematian Hallaj banyak penyair sufi Persia seperti Rumi dan Hafez menulis puisi yang didedikasikan kepada al Hallaj:
Bunuhlah aku wahai terpercaya yang tercela
Membunuhku adalah hidup selamanya
Kematianku kau temukan kehidupanku
Badan disisiku tak berarti
Tanpa badanku sendiri aku hidup
pedang telah menjadi surgaku
kematianku ada dikehidupanku (Rumi)
Hafez penyair sufi persia abad 13 juga menulis sebagai berikut:
Tersebutlah sahabat yang digantung kepalanya
Dosanya hanyalah menyingkap rahasia (hafez)
Disebabkan oleh keyakinan yang dianggap “nyeleneh” atau dengan bahasa penulis sebagai “manusia tuhan”, kedua orang ini sama-sama menerima hukuman dari penguasa di zamannya. Ada kemiripan pada “manusia tuhan” ini dalam memandang hidup yaitu dunia adalah alam kematian dan memandang kematian sebagai kehidupan abadi. Bagi mereka iman bukanlah bekal untuk menghadapi kematian seperti hendak membawa bekal dalam perjalanan, melainkan iman harus ditransformasikan ke dalam kehidupan nyata sebagai perwjudan bersatunya zat tuhan ke dalam manusia. Kesimpulan akhir penulis mencoba mengajak pembaca untuk melihat kisah dua orang ini dari sudut pandang sastra mistik, yaitu mengkaji maknanya dari puisi-puisi yang lahir dari hasil karyanya sendiri atau dari orang lain yang terinspirasi dari kisah mereka berdua. Makna yang tersirat dari puisi-puisi tersebut dapat membawa pembaca menyelam ke alam mereka hingga dapat merasakan apa sebenarnya yang ada dalam benak dan hati penuli, karena bagi penyair perumpamaan/majas/pengkiyasan lebih mudah ditangkap daripada penjelasan, seolah-olah si pembaca adalah lawan bicara baginya. Dari bait Serat Siti Jenar, apabila kita telaah lebih dalam nampak jelas ajaran manunggaling kawulo kawalan gusti apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan yaitu ajaran tentang bersatunya tuhan dalam wujud manusia, sehingga ibadah-ibadah praktis tidak diperlukan lagi karena sudah bersatu dengan tuhan dan Tuhan bebas dari ketentuan alam. Begitu juga dengan al Hallaj yang bait syairnya merupakan implementasi dari ucapannya ana al haq. Walaupun jaraknya berabad-abad antara keduanya, tetapi pengaruh al Hallaj sampai juga ke nusantara hingga menoreh sejarah dalam penyebaran Islam di Indonesia khusunya di pulau Jawa. Al hallaj adalah salah satu khazanah dalam sastra mistik di Iran sedangkan Siti Jenar juga memperkaya pengetahuan kita tentang sastra mistik yang dikenalkan Hamzah Fansuri dan murid-muridnya dalam sejarah sastra mistik di Indonesia walaupun tidak menyebutkan kisah siti jenar dalam syair-syairnya.(BZ)
___________________
[1] Achmad Chodjim, Syeikh Siti Jenar; Makna Kematian, (Jakarta:Serambi, 2009) 120.
Dijumput dari: http://ipi2010.blogspot.com/2010/03/sastra-mistik-antara-syeikh-siti-jenar.html

Reactions:

0 comments:

Post a Comment