Pages

Friday, 2 November 2012

Seni Sastra, Antara Lipstik dan Orisinalitas


Seni Sastra, Antara Lipstik dan Orisinalitas
Posted by PuJa on October 24, 2012
Sutejo *
Solopos, 24 Okt 1997

Kemerdekaan kreativitas untuk tidak berpihak, tidak terintervensi, dan tidak berorientasi berbagai madzab estetika, barangkali itulah tuntutan mendesak dari kehidupan kesenian kita. Tidak berpihak, mengamanatkan agar kesenian tidak berkubu, tidak berkotak-kotak.
Tanpa kemerdekaan kreativitas, sulit kita akan membayangkan karya yang bersih akan pamrih, tapi hanya akan melahirkan karya-karya yang banci, yang mandul dan merengek-rengek. Kalaupun ada kebebasan dan keterbukaan dari iklim makro, kini harus diakui, itu cuma sekadar lipstik. Madzab akan melahirkan seniman-seniman yang mbebek, kerdil, dan mundhuk-mundhuk.
Ini soalnya, saya sempat tercengang ketika mengamati kehidupan sastra kita yang centang perenang. Tanpa sosok pribadi. Perhelatan sastra, akhirnya hanyalah perjuangan fanatisme komuna tanpa jati diri. Isu RSP dan pernyatan Mei adalah sampel mutakhir. RSP tak lebih dari perjuangan kepentingan Beno Siang Pamungkas dan Kusprihyanto Namma, karena, kita paham RSP tidaklah menawarkan apa-apa. Tidak ada sesuatu yang baru. Harus diakui, bahwa panji mereka bukanlah Revitalisasi Sastra Pedalaman, tapi Revitalisasi Sastrawan Pedalaman.
Padahal, diskursus berkesenian, bukan untuk mencari pengakuan dan kesepakatan, tapi menciptakan karya. Toh, nantinya, karya itu sendiri yang akan menawarkan esthetic values, yang menawarkan pembaca menjadi cultured man tertentu.
Kreativitas
Dua tahun lalu di harian salah satu koran Jakarta pernah terjadi polemik tentang seni dan kebudayaan (kreativitas budaya) yang melibatkan nama-nama seperti Damardjati Supajar, Danarto, Arief Budiman hingga Beni Setia. Tampaknya, yang paling mengena adalah proyeksi Danarto, Arief Budiman, dan ide sastra tak senonoh Beni Setia. Kejujuran ide Danarto akan kebudayaan ‘’cakar ayam’’, konsep hidup kita yang memayu hayuning bawono, persis, paralel dengan etika keselarasan dan kebijaksanaan orang Jawa yang empuk terpenetrasi oleh budaya global, budaya ‘’cakar ayam’’.
Untuk itu, menjadi penting untuk menawarkan perlunya semacam ‘’desentralisasi sastra’’ macam idenya Arief Budiman. Yang melontarkan karya hasil kebudayaan yang pluralistik. Meski itu dari kacamata Beni Setia, sama artinya dengan wishful tingking.
Tapi memang, pluralistiknya kebudayaan, pluralistik estetika, dan pluralistik komuna seniman kita melontarkan kejujuran kreatif? Bukan fotokopi, bukan pembebekan, dan bukan kolusi seperti yang dipraktikkan olek praktisi ekonomi.
Keselarasan
Bagi saya, semua itu terjadi karena etika keselarasan, yang sudah menjadi karakter kebudayaan nasional, Jawanisasi mental. Sehingga etika keselarasan, yang semula adalah etika kehidupan orang Jawa, lama kelamaan menjadi semacam ‘’jati diri’’ nasional lewat tangan-tangan kekuasaan. Kolusi dan referensi misalnya, yang semula hanya mungkin tumbuh dalam birokrasi yang berparner ideal kekuasaan, kini sudah meracuni dunia berkesenian: pencocokan, pembebekan, kata pengantar, sampai kasak-kusuk seniman berbagai media massa. Kebebasan kreatif? Bukan. Indikasi erosi kebudayaan dan kesenian kita.
Etika keselarasan, dalam perkembangannya, oleh beberapa seniman tampaknya semakin dipaksa-paksa. Transformasi konsepsi estetika Barat, yang oleh beberapa kritisi (untuk tidak menyebut beberapa nama), sering diselaras-laraskan dengan estetika kita. Paradigma ini, tentu akan melahirkan pula seniman-seniman yang sering berkacamata semu, kacamata yang seakan akan kabur tanpa bentuk.
Kalau diskursus ‘’seniman-seniman’’, ‘’seniman gagasan Barat’’ bisa melahirkan seniman tak berkarakter, maka paling banci adalah kalau filosofi keselarasan itu sudah diidap seniman yang kawin dengan kekuasaan. Karenanya, kita perlu permasalahan yang kontras, untuk bisa menyalurkan pendapat, kata Arief Budiman. Sehingga, bisa melahirkan pro dan kontra, macam etos kreatif Manikebu.
Sampai saat ini, inilah yang menarik. Ketika kesenian harus mengenakan baju keterbukaan, di situ pulalah harus terantuk dan terkantuk-kantuk. Sebab, seniman dituntut mengenakan keterbukaan, tapi yang selaras, yang sesuai dengan etika keselarasan nasional.
Jika akhirnya, harus tidak selaras, maka terpaksa harus dipangkas, diamputasi, dan dicekal, atau bertengkar dengan aparat security. Contoh yang belum hapus dari ingatan kita adalah kasus Pantun-pantunan Indonesia-nya Emha  dan Golf Untuk Rakyat-nya Darmanto Yatman, yang terjadi di beberapa daerah. Kemudian yang terakhir Arjuna Mencuri BH-nya Murtijono dan Sepak Bola Liga Kuning-nya Gojek Js.
Mengapa? Sebab anasir ‘’ideologis’’ dan politis, itu jelas, berbeda tempat berdiri dan kepentingannya. Sehingga karya macam itu, dalam bahasa Stendhal, ibarat letusan pistol di tengah pagelaran konser.
Fenomena demikian dari ‘’logika keselarasan’’ sebenarnya wajar. Karena tidak selaras! Menjadi semacam ‘’ancaman’’ bagi pemegang kekuasaan. Dan, seniman sendiri, juga ‘’logis’’, karena mereka mnenyuarakan kebebasan, ‘ideologinya’ sendiri. Max Adereth, menyebutkan dengan literature angangge. Karena konflik ideologi sosial kemasyarakatanlah, bertendensi politis, seniman harus bertindak. Karena seniman tentu harus berperan sebagai man of action.
Lantas?
Lantas, kemanakah kita harus mencari oase berkesenian? Banyak ide memang sudah dilontarkan. Tapi semuanya seperti dalam bahasa Beni Setia, hanya melahirkan kolam dengan sekian puluh arca yang menyemburkan air mancur sendiri-sendiri. Mungkin hati nurani dan orisinalitas kreatif, yang kontrastif, bukan nyala api yang menjilat-jilat. Bukan fotokopi, bukan pula karya ‘’kompromis’’ karena tergenggam oleh patung-patung kekuasaan (seniman dan birokrat).
*) Sutejo atau S. Tedjo Kusumo, penulis  adalah dosen Kopertis dan tinggal di Ponorogo, Jawa Timur.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment