Pages

Tuesday, 3 April 2012

Berkebudayaan Melawan ala Nurani

Berkebudayaan Melawan ala Nurani
Posted by PuJa on April 2, 2012

(Semacam catatan pendamping untuk buku terbaru Nurani Soyomukti)
Misbahus Surur *
“Kita kalah, Ma. Kita telah melawan, Nak, Nyo,
sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
(Pramudya Ananta Toer via Ontosoroh, di penghujung Bumi Manusia)
Seorang yang mendapati ”keinsyafan bathin”-nya sebagai hayawanun natiq kadang memang bermula dari proses panjang dialektika dirinya dengan –untuk meminjam bahasa yang kerap muncul dari mulut penulis asli Trenggalek, yang kumpulan esainya segera akan kita baca ini-, berbagai ”kontradiksi” alam juga realitas sosial di sekitarnya. Dan sudah selayaknya ihwal keinsyafan itu, tak hanya dipendam, melainkan terus diejawantah ke dalam bentuk-bentuk (cipta) kreatif dan konkret; menulis, mendidik, mengorganisir massa demi kerja kemanusian. Kegelisahan yang tersalur dalam tulisan itu, tidak serupa model keresahan manusia dalam beragama, yang biasanya kerap dipenuhi variabel: ”menggantungkan” (dependence) dan ”bertahan” (defend), akan tetapi diubah ke dalam aliran energi deras yang seolah tak terbendung. Ternyatakan dalam produk-produk yang konkret: meluberkannya dalam buku dan melawan.
Iman untuk melawan ini, terkadang dipancarkan dengan bahasa yang malu-malu, meski kadang juga dengan kalimat yang lugas dan cenderung apa adanya. Pada buku ini, bentuk perlawanan itu dihembuskan dengan bara api yang menyala-nyala dengan sokongan data-data juga realitas yang terjadi hari ini. Dengan bahasa yang sangat mudah dicerna. Lagi pula jika merujuk pada apa yang pernah dinyatakan Walter Benjamin, sangatlah pas juga. Konsep penulisan selayaknya bersifat denotatif, terkait hubungannya dengan subjek kajian, ungkap Benjamin. Pendapat seperti ini barangkali berangkat dari keinginan untuk menjaga konsentrasi teks agar tidak keluar dari tema-tema tertentu yang sangat penting, yang sedang hangat dibicarakan. Esai-esai dalam buku ini setali tiga uang. Tulisan-tulisannya mengalir. Katakanlah, menerjang apa yang memang pantas diterjang. Kita memang tak sedang mendamba-damba sesuatu, selain olah perubahan. Perubahan yang dilakukan tak hanya lewat ”isak”, tapi juga dengan kata-kata bijak (ala penulis) yang membangkitkan gerak. Gerak yang ibarat angin dapat mengibaskan api kebatilan guna menyibak tata hidup sosial yang lebih terang.
Buku ini merupakan sebentuk penyadaran diri –meminjam sebutan E. Cassirer, untuk mereka yang bersetia hidup dengan kata-kata- sang animal symbolicum, yang hidup dan dihidupi serangkain tanda dan kata; literasi untuk mencapai pemenuhan aktualisasi sekaligus untuk membendung ”yang kontradiksi”. Di sini, Nurani Soyomukti tidak sedang main-main ketika menulis esai-esai panjang, sebagai sekadar latah dan euforia. Tapi sebuah pengabdian pada tugas kemanusian; hidup manusia dengan segala ketimpangan di dalamnya. ”Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”, kata Rendra. Lihat saja, masyarakat kita saat ini sedang mengalami titik jenuh oleh berbagai kontradiksi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan bagaimana pun, kontradiksi-kontradiksi itu, tidak saja diarahkan oleh kebiasaan yang mendarah daging; feodalisme, otoritarianisme, hegemoni, oportunisme, pragmatisme melainkan juga rentang panjang kesejarahan; kesalahan warisan masa silam yang sering direkayasa dan begitu saja kita terima. Tema-tema relativitas, bahasa, sejarah, sastra, kerja kepengarangan, psikoanalisis, hasrat, tubuh, erotisme hingga persoalan korupsi, kebohongan publik dan seterusnya, di sini tetap punya tempat untuk dikaji satu persatu. Tema-tema penting di atas, menjadi hal mendasar untuk kembali didialogkan sekaligus disandingkan dengan kerja-kerja kesenian dewasa ini. Sebab, kesenian bukan ruang kosong untuk kreativitas yang kosong. Sebagaimaa sabda Tan Malaka, seni semestinya menjadi bagian dari perbaikan. Seni bukanlah suatu barang yang semata-mata hasil impian dan ketukangan seorang ahli. Pengaruh seni, kata Tan, seyogyanya dapat memperbaiki masyarakat kembali. Tak pernah selesai pertarungan menjadi manusia/ tak pernah terurai pertarungan menjadi rahasia/ adalah buku lapar arti/ tipis segera habis diburu kubur-kubur waktu/ …. kata-kata pun ketagihan jiwa/ dalam sebuah buku lembar-lembar berguguran, begitu sambung Wiji Tukul dalam sajak ”Otobiografi” (Aku Ingin Jadi Peluru, 2004).
Maka, keberanian pengarang juga penulis untuk menggali, menganalisa dan mendialektikan kembali dinamika sosial dan sengkarutnya, lantas memancangkannya dalam sebentuk esai, prosa maupun puisi misalnya, adalah juga bagian dari ikhtiar mencari akar masalah dan solusi. Bukankah dunia seni; dengan berbagai macam bentuknya itu, kadang menjadi ranah yang paling mampu mengemas persoalan-persoalan kemanusiaan secara lebih filosofis, reflektif dan esensial? Genre sastra misalnya, kerap menjadi juru bicara luka-luka kemanusiaan. ”Literature is form of responsibility –to literature itself and society..”, kata Susan Sontag dalam pidato penghargaan The Library’s Annual Literary Award. Sontag lebih lanjut mengatakan: …seorang penulis adalah juga seorang yang berpikir tentang masalah-masalah moral; tentang apa yang adil dan tidak adil, apa yang lebih baik atau lebih buruk.
Apa yang lebih baik atau buruk itu, kita ambil misal adalah penyakit korupsi. Perilaku ini bukan saja soal penyakit sosial yang amat gila, kronis dan begitu telanjang. Tapi juga kejahatan paling terselubung yang nyata melingkar-lingkar. Sungguh apa yang kita lihat di permukaan itu, benar-benar rangkaian fenomena gunung es. Mungkin perilaku korup itu sepadan dengan apa yang pernah diistilahi Arend sebagai sejenis banalitas kejahatan: “…no theory or doctrine but something quite factual, the phenomenon of evil deeds, committed on a gigantic scale, which could not be traced to any particularity of wickedness, phatology or ideological conviction in the doer, who only personal distinction was perhaps extraordinary shallowness” (Richard Bernstein, Radical Evil: A Philosophical Interrogation, 2002).
Sejarah sungguh punya peluang mengaburkan fakta-fakta dengan timbulnya berbagai macam ketimpangan atau sebab yang politis. Di sinilah persoalan kebenaran yang jamak kita anggap relatif, menemukan tantangannya. Relativitas kebenaran pada akhirnya membawa pada sifat pasrah, acuh tak acuh terhadap segala persoalan timpang, di sekeliling kita yang sungguhnya punya peluang untuk diubah. Gagasan seni kerakyatan, seni perlawanan atau apalah namanya, untuk kesekian kali menjadi penting. Seni seperti ini, -bagi Barthes, selain produk dari waktu, juga merupakan sebuah pilihan. Yang tentu memilih untuk tak sekadar diriuhi bising formalitas bahasa dan anak cucunya, kepentingan-kepentingan jangka pendek yang dangkal dan hal semacam. Demikianlah, catatan pendek ini. Semoga esai-esai dalam buku ini dapat membantu kita melihat realitas riil secara lain, menggugah dan proporsional. Akhirnya, selamat membaca.
Malang, 4 Pebruari 2012
*) Misbahus Surur, pegiat seni dan sastra, kelahiran Munjungan, Trenggalek.
Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10151350233895331

Reactions:

0 comments:

Post a Comment