Pages

Wednesday, 11 April 2012

Mengenang Penyair Afrizal


Mengenang Penyair Afrizal
Posted by PuJa on April 10, 2012
Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Sulit dipungkiri, perayaan eksplorasi bahasa puitik pada dekade 1990-an terimbas dari puisi-puisi Afrizal Malna. Selagi para penyair sibuk dengan puisi religius, puisi terlibat (baca: sastra kontekstual), puisi imaji-simbolis, atau puisi kontemplatif; Afrizal mencuat dengan puisi hiperealis. Sebuah puisi yang simpang siur dengan ikon-ikon teknologi, budaya massa, pop, juga kebiasaan masyarakat menghabiskan waktu di super market.
Puisi Afrizal seakan tidak risih dengan diksi-diksi non-puitis. Gemerlap lalu lintas kehidupan massa justru dijadikan pola bahasa puitik. Maka, seperti diduga Andi Warhol, sekejap terjadi “geger” kepenyairan. Afrizalian. Lahirlah nama-nama penyair seperti Arief B. Prasetyo, Adi Wicaksono, Agus Sarjono, W. Haryanto, S. Yoga, Abdul Wahid, bahkan Diro Aritonang. Kesemuanya terimbas dari “pukulan estetik” puisi-puisi Afrizal. Sebentar, bertahan kira-kira 7 tahun, sudah itu senyap.
Tulisan ini secara sengaja berusaha mengenang era produktifitas dan gairah permainan tanda dari penyair Afrizal. Sebuah instropeksi, lebih tepat sebagai jeda, tradisi puisi.
Afrizal Malna dilahirkan di Jakarta, 7 Juni 1957. Pendidikan terakhir: Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (tidak selesai). Sejak 1983 hingga 1993, ia banyak menulis teks pertunjukan Teater Sae. Kumpulan puisi yang telah terbit: Abad Yang Berlari (1994); mendapat penghargaan Hadiah Buku Sastra Dewan Kesenian Jakarta, (1984), Yang Berdiam Dalam Mikropon (1990), Arsitektur Hujan (1995); mendapat penghargaan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI (1996), Biography of Reading (1995), dan Kalung dari Teman (1999). Pada kumpulan puisi Arsitektur Hujan, penyair Afrizal Malna menemukan puncak estetiknya, puncak ketenaran.
Penelitian terhadap puisi karya Afrizal Malna, apabila penelitian dipahami sebagai tulisan yang metodis dan paradigmatis, hingga saat sekarang belumlah ada. Media massa, yang kini dianggap wadah lalu-lintas kesusastraan paling getol, hanya menampilkan cuplikan-cuplikan berita dan penilaian singkat. Tulisan-tulisan tersebut belum menyentuh bongkar-pasang kode bahasa estetik ataupun penemuan gagasan orisisnil pada puisi-puisi dalam antologi Arsitektur Hujan. Lebih parah lagi, Agus S. Sarjono menengarai, bahwa puisi Afrizal Malna adalah puisi yang paling banyak ditiru dan diperkatakan namun paling sedikit dibahas orang (“Puisi Indonesia Mutakhir” dalam Ulumul Qur’an, no. 1/VIII/1998). Ditambahkannya, puisi Afrizal Malna menggunakan bahasa yang rumit dan tidak sederhana. Banyak terjadi paradoksal sintaksis, komposisi persajakan yang ditawarkan mengingatkan pada seni rupa instalasi. Secara tema, Agus menangkap adanya kegelisahan eksistensial sang akulirik, namun yang terealisasi justru akupublik.
Tommy F. Awuy menyatakan bahwa puisi-puisi Afrizal Malna termasuk karya sastra kontemporer, yaitu melalui verbalisasi kata-kata. Afrizal Malna memaknai benda-benda bukan sesuatu yang “an sich”, setiap benda menjadi simbol masing-masing, bahkan kadang satu benda merupakan wakil dari sekian banyak simbol (Wacana Tragedi dan Dekonstruksi Kebudayaan, Bentang, Yogyakarta, 1995). Pada tulisan yang lain, Tommy menyatakan puisi-puisi Afrizal Malna merupakan karya kontemporer, hasil eksplorasi dari puisi Chairil dan Sutardji (“Sastra Indonesia Kontemporer” dalam jurnal budaya Kolong 3, Th. I, 1996). Usaha ini dimulai dari Remi Sylado dan mencapai puncak pada Afrizal Malna.
Karya sastra kontemporer memang peristilahan yang masih patut diperdebat-tanyakan, pemilahan ini lebih mengacu pada waktu kekinian dari pada batas gagasan yang orisinalitas. Konsep estetika puisi kontemporer belum tentu berbeda dengan puisi sebelumnya, meskipun juga belum tentu sama. Tetapi Afrizal Malna, dengan puisi dan teaternya, adalah fenomena yang tidak hanya mengikuti gerak waktu. Karya Afrizal Malna menyodorkan bentuk estetika ekslusif dibandingkan karya-karya sastrawan lain, baik yang sebelum maupun yang semasa. Demikian dikatakan oleh Jakob Sumardjo dalam wawancara dengan wartawan majalah Kolong, tetapi konsep filosofi karya sastra Afrizal Malna disinyalir berasal dari barat (“Sastra Kontemporer, Baru Gejala”, wawancara dalam jurnal budaya Kolong 3 Th. I, l996).
Joko Pinurbo pada esai sastra menuliskan bahwa Afrizal Malna menawarkan cara pandang berbeda dibandingkan dengan penyair sebelum dan semasanya. Pilihan ini membuat puisi Afrizal Malna sangat menarik perhatian sekaligus menumbuhkan problematika. “Penyair yang botak kepalanya makin “mempuisi” ini menempuh jalur yang sebaliknya. Jalur yang memang keras dan gaduh. Berbeda dengan banyak penyair lain yang masih gamang dalam menghadapi kemelut budaya industri dan teknologi, Afrizal memilih untuk bergelut di dalamnya dan menjadikannya sebagai kancah pergulatan estetik dan intelekualnya. Karena itu, tidak seperti banyak penyair lain, Afrizal bisa dengan fasih memainkan kata-kata, idiom-idiom, yang digali dari khasanah dunia industri dan teknologi (dengan kota sebagai basisnya) sefasih Acep (Acep Zamzam Noor, penulis) memainkan imaji-imaji alam”, Joko Pinurbo, “Puisi Indonesia, Jelajah Estetik dan Komitmen Sosial”, jurnal kebudayaan Kalam 13.
Tentang beredarnya anggapan bahwa puisi Afrizal Malna sangat rumit dan gelap, sehingga banyak kesulitan untuk memahami, Joko Pinurbo mengakui perlu tempuhan pendekatan yang berbeda. Setidaknya, tiga strategi tekstual dilancarkan Afrizal Malna. Pertama, rangkaian kalimat-kalimat dalam puisi Afrizal senantiasa melompat-lompat, membentuk diskontinuitas semantis, dan menggerogoti koherensinya. Kedua, banyak diksi antipuitik dijadikan “bahan mentah” bagi metafora-metafora yang potensial merobek horison harapan pembaca. Ketiga, banyak terjadi, dua kategori atau kelas benda-benda yang sangat jauh hubungannya sengaja dikait(kait)kan sebagai tenor dan vebicle bagi kiasan-kiasan yang kompleks.
Sayang sekali, Joko Pinurbo tidak menjawab, dari khasanah mana Afrizal membangun kode bahasa puitik, dan apa efek puitik serta sosial dari teks puisi Afrizal.
Satu dari dua pertanyaan tersebut secara samar, dan sebenarnya belum dapat dijadikan jawab, diselami oleh D. Zawawi Imron. Penyair dari Madura yang tidak tahu tanggal kelahirannya ini, menuliskan: Afrizal tidak memberi tanda bahaya, memperingatkan pun tidak, tapi saya sendiri seperti diingatkan, dan merasa harus ingat, bahwa dalam pergumulan kehidupan, dalam aktivitas budaya, ekonomi, sosial, politik, dan lain-lain, kita perlu waspada, termasuk kepada ulah diri sendiri. Sebab, kompeni tidak harus berkulit putih bermata biru dan berambut pirang. Sebab, mungkin, ia bukan bangsa, tapi mungkin sejenis ideologi, paham, dan kepentingan yang kurang dihormati manusia (“Afrizal Malna: Melawan Kompeni”, harian Jawa Pos, 14 Pebruari 1999).
Hanya saja, Zawawi tidak memberi penjelasan puitik terhadap puisi-puisi Afrizal. Tulisan singkatnya hanya berkutat pada sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia dan kaitannya dengan puisi Afrizal berjudul “Seorang Lelaki di Benteng Fort Roterdam” dari antologi Arsitektur Hujan.
Sapardi Djoko Damono dalam tulisan esai, melihat adanya kecenderungan puisi Indonesia berada dalam ketegangan antara keberaksaraan dan kelisanan, dan termasuk di dalamnya puisi-puisi Afrizal Malna. Dari puisi berjudul “Warisan Kita” yang dikutipnya, Sapardi menemukan adanya segi kelisanan yang sangat kuat seperti halnya mantra. Dikatakan, Afrizal Malna jelas mengontrol tulisannya, seperti juga Sutardji Calzoum Bachri dalam puisinya, jalinan kata, frase, larik, dan bait sajaknya semuanya jelas diatur sedemikian rupa sehingga keinginan penyair (untuk berkomunikasi?) bisa terpenuhi.
Terhadap pembacaan puisi Afrizal Malna yang sulit dipahami maknanya, Sapardi justru melihat gejala itu sebagai ciri puisi atau ungkapan bahasa estetik yang disengaja. “Saya curiga itulah justru strategi penyair ini dalam menghadapi pembaca yang umumnya pemburu amanat, yang ingin memahami dan tidak hendak menghayati puisi”, “Kelisanan dan Keberaksaraan, Kasus Puisi Indonesia Mutakhir”, jurnal kebudayaan Kalam 13, 1999.
Masih banyak tulisan maupun komentar yang berhubungan dengan pusi-puisi Afrizal Malna, disebabkan sempitnya ruang maka tidak dapat secara keseluruhan disertakan dalam penelitian ini. Pun juga, secara tersirat, arah dari beberapa tulisan tersebut nyaris identik dengan yang telah dikutipkan di atas.
Yang lebih pasti, membaca puisi-puisi Afrizal Malna, saya seperti terjerumus pada gurun pengalaman dengan tepi adalah jalan masuk menuju gurun pengalaman lain, demikian seterusnya, sampai pada titik di mana kesadaran identitias tercerabut. Bukan oleh sunyi, dan bukan oleh religi, tapi oleh limpah-ruah citraan dan mimpi-mimpi basah. Segalanya begitu saja datang, segalanya begitu saja menjauh. Citraan yang seakan lebih dekat dari kulit jari, tapi juga terasa lebih lebar dari batas pandang. Tamasya pikir dan imajinasi. Kesemuanya disebabkan oleh logika teks puisi yang tidak stabil.
Afrizal Malna menyajikan puisi melalui distribusi kata-kata yang seolah tiada beraturan, deret paradigmatik yang melompat-lompat dan kombinasi sintagmatik yang mengejutkan. Hubungan tiap kalimat seakan tanpa kausalitas. Satu kalimat tentang cinta, dijalin dengan keramik buatan Cina, disusul siul merdu sekaligus pilu, lalu diteruskan dengan ilustrasi dua orang saling berbagi sikat gigi, terakhirnya sebuah pertanyaan tentang aku lirik yang membangun kamar mandi (puisi “Kisah Cinta Tak Bersalah”).
Bersandar pada kenyaatan, kontribusi Afrizal bagi tradisi puisi (baca: sastra dan budaya), patut disayangkan “penyair Afrizal Malna seakan tinggal kenangan. Afrizal tersisa sebatas kilas-mimpi sebuah tradisi. Dan kini, setelah gagal dengan kumpulan puisi Kalung dari Teman (1998), secara terseok-seok Afrizal berusaha bangkit dengan kumpulan puisi terbaru Dalam Rahim Ibu Tak Ada Anjing (Bentang, 2003). Sukses buat penyair Afrizal Malna, semoga.
–––––– Studio Gapus, Surabaya
Dijumput dari: http://terpelanting.wordpress.com/page/17/

Reactions:

0 comments:

Post a Comment