Pages

Tuesday, 29 May 2012

Di Balik Gorden Jendela

Di Balik Gorden Jendela
Posted by PuJa on May 27, 2012
RR Miranda
http://www.suarakarya-online.com/

SEJAK mengenal lelaki itu Mirna selalu bangun pagi, dan matanya sembab karena susah tidur. Dadanya selalu berdetak dalam kecemasan. Entah kenapa, yang pasti ia sungguh tersiksa menanti pagi yang ditandai dengan ruap cahaya mentari. Mirna merasa perputaran waktu begitu lamban, serupa keong yang menyusuri tanggul-tanggul panjang di persawahan. Begitu lamban, sehingga membuat jantungnya selalu berdetak kencang.
Ah, kalau saja ia dapat memutar kendali waktu, tentu perasaan yang belakangan mengganggu tidak mungkin terjadi. Karena ia akan menghadirkan pagi lebih awal dari perputaran waktu yang sesungguhnya. Begitupula, ia akan memperlambat jalannya pagi menuju siang. Dengan begitu, ia selalu punya kesempatan duduk lama di beranda depan rumah. Atau, sekedar menyapu pekarangan yang sebenarnya tidak kotor. Satu lagi, ia tak akan lupa menyirami hot lady agar makin memikat di pot beranda.
Kebiasaan yang ganjil itu datang begitu saja. Bermula sejak ia mendapati sosok lelaki muda penghuni rumah di seberang. Rumah mereka hanya dipisahkan jalan kecil yang jarang dilalui oleh kendaraan. Sebab, jalan itu akan berakhir kira-kira limaratus meter saja di ujung perkampungan. Lokasi pemakaman umum di pinggir kebun jati, adalah batas akhir jalan yang memisahkan rumahnya dengan rumah yang dihuni oleh lelaki itu.
Lelaki itu mulai menghuni rumah tersebut sekitar satu bulan lalu. Dan sejak itulah awal tumbuhnya perasaan aneh yang selalu mengusik hari-hari Mirna. Waktu tidurnya menjadi terganggu karena setiap pagi ia selalu bangun kepagian, sebelum fajar meruapkan cahayanya yang lemah. Semula ia merasa agak risih juga dengan kebiasaan barunya itu. Tapi lama-lama ia terbiasa, meski semua itu selalu berakhir dengan kecewa.
Lelaki itu selalu berada di pekarangan rumah pada waktu pagi. Ketika matahari mulai beranjak siang, dia akan kembali menghilang ke balik pintu tebal yang terbuat dari pokok pohon jati, dan menutupnya rapat. Pintu itu akan selalu tertutup hingga sore hari. Hanya sesekali saja ia dapati pintu rumah itu terbuka di waktu siang. Begitulah yang ia lihat sejak kehadiran lelaki itu di rumah seberang jalan. Mirna tak pernah tahu apa yang sedang dia kerjakan di dalam sana.
Lelaki itu menyukai bunga. Dia memelihara bermacam tanaman hias di pekarangan rumahnya. Anggrek, adenium, aglaunema, hot lady, dan suflir melengkapi jenis tanaman hias koleksi miliknya. Rumah seberang jalan itu dalam waktu sekejap berubah menjadi sebuah taman bunga nan-asri, sejak dihuni oleh lelaki itu.
Setiap pagi, dia menyirami bunga-bunga yang segar dan merimbun. Mirna selalu menanti kesempatan itu. Ia berusaha mencuri pandang apa saja yang sedang dilakukan oleh lelaki itu. Tak ubahnya seperti sedang menonton film bisu, karena ia tak pernah mendengar senandung kecil disertai lengking siulan keluar dari mulutnya. Tapi, Mirna suka memperhatikannya dalam aroma kebisuan. Biasanya yang banyak menaruh perhatian kepada tanaman hias adalah para perempuan. Namun, lelaki itu rupanya juga menyukai bunga. Barangkali, dia juga memiliki perasaan lembut, serupa perasaan perempuan, pikirnya. Selembut dan seharum aroma bunga-bunga itu.
Dan memang, ia tak pernah menemukan garis bengis tampak di raut mukanya. Ia begitu yakin, meski waktu itu belum pernah menatapnya dari jarak yang lebih dekat. Ia hanya mengira-ngira saja, dan berusaha mempercayai bahwa perasaan tak mungkin berdusta! Bukankah lelaki itu tak pernah lupa melempar senyum, ketika kebetulan bertatapan mata? Ah, dadanya selalu berdesir setiap kali ditikam sorot mata lelaki itu. Mirna merasa sekujur tubuhnya bagaikan sedang ditelanjangi, ketika ketahuan sedang memperhatikan lelaki itu secara sembunyi-sembunyi. Tak ubahnya serupa kucing yang ketahuan sedang mengutil sepotong ikan asin di atas meja makan. Meskipun, lelaki itu barangkali tidak merasa dirinya sedang diperhatikan olehnya.
Kalau sudah begitu, dengan sedikit kikuk Mirna akan balas tersenyum pula. Lalu buru-buru mengayunkan sapu lidi ke atas rerumputan di ujung kakinya. Melibas butir-butir embun bening yang masih setia menempel di rerumputan. Sebenarnya, hanya ada beberapa helai daun pohon mangga milik tetangga saja yang jatuh ke halaman.
Tidak memerlukan waktu lama untuk membersihkannya. Bahkan, kadang-kadang ia berharap tamparan angin pada setiap malam akan merontokkan daun-daun pohon itu lebih banyak lagi, agar ia memiliki kesempatan lebih lama ketika membersihkannya. Ketika halaman itu sudah terlihat bersih, Mirna akan bergegas masuk ke rumahnya, ia merasa malu apabila diketahui oleh lelaki itu dalam keadaan bengong tanpa melakukan sesuatu.
Tapi dari balik gorden jendela ia kembali mengamati gerak lelaki di rumah seberang. Dari sana ia tak lagi takut ditikam tatapan mata lelaki itu. Lelaki itu tidak mungkin melihat bayang dirinya yang terlindung di balik gelap kaca jendela. Inilah tempat paling aman saat sedang menguntit aktivitas lelaki yang baru saja menempati rumah itu. Namun, setelah lelaki itu kembali ke balik pintu rumahnya, maka ia pun kecewa. Bagaikan seorang anak kecil yang baru saja kehilangan mainannya yang sungguh mengasyikkan. Meski besok pagi ia akan mendapatinya kembali saat melakukan rutinitas serupa.
* * *
LELAKI itu bernama Thomas. Mirna mengenalnya dalam sebuah perkenalan ringkas yang tak diduga-duga, apalagi direncanakan, pada suatu pagi-meski sudah lama ia menanti kesempatan seperti itu-. Awalnya, Mirna masih sangsi dengan kemunculan lelaki itu, yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Apakah hanya bayang-bayang pikirannya? Tapi itu nyata adanya, dan ini adalah kesempatan untuk pertama kali ia melihat Thomas dari jarak lebih dekat. Dadanya berdesir aneh, entah kenapa!
“Kau yang tinggal di rumah seberang?”
Lelaki itu menjawab dengan anggukan. Mirna memperhatikannya dengan penasaran. Kenapa lelaki itu mendatanginya. Apakah dia dapat mendengar ramai bisik-bisik di hatinya, yang selalu berharap bisa bercakap-cakap barang sebentar dengannya? Wajah Mirna serentak memerah, ia merasa malu jika saja lelaki itu dapat mendengar semua bisik-bisik itu. Jangan-jangan dia juga mendengar, ah, Mirna tak mampu melanjutkan lamunannya sendiri. Semakin membuatnya merasa dipermalukan saja.
“Thomas!” kata lelaki itu. “Mirna!” balasnya. “Gunting saya patah, boleh pinjam gunting bungamu?” Raut mukanya keruh. Begitu berharganya sebatang bunga baginya. Sehingga, gunting bunga yang patah saja membuatnya seperti baru saja tertimpa sebuah musibah. Tapi, tentu saja Mirna tak perlu merasa keberatan meminjamkan gunting bunga miliknya kepada lelaki itu. Bahkan dengan amat senang hati ia akan meminjaminya.
“Saya bawa dulu.” Lelaki itu bergegas ke rumahnya sambil menenteng gunting bunga. Keruh di wajahnya sedikit memudar. Begitulah awal perkenalan Mirna dengan Thomas. Perkenalan sederhana yang serba singkat pula.
Mirna masih menatap tubuh di balik dedaunan bunga itu dari beranda rumahnya. Bukankah lebih aman duduk di beranda sambil pura-pura membaca koran pagi? Dan itu lebih bermartabat daripada mengintip di balik kaca gelap. Ia seperti menemukan kedamaian di sana sambil menatap lelaki itu bergelut dengan tanaman bunganya. *** TIGA hari lalu Thomas datang menemuinya. Apakah dia mau pinjam gunting lagi, atau ada keperluan lain? Pikiran Mirna berkecamuk saat melihat Thomas melintas di jalan yang memisahkan rumah mereka. Di kedua tangan dia memangku sebuah pot bunga yang warna kemerahan. Cantik sekali, apalagi ketika tersepuh sinar matahari pagi yang membuat warna daunnya tambah memikat. “Hot lady ini sengaja kubeli untukmu.”
“Tapi, aku tidak telaten merawat tanaman, Thomas.” “Kamu pasti menyukai bunga ini.” “Harganya pasti mahal,”
“Tidak apa-apa, sebagai kenang-kenangan,” Sungguh, betapa senangnya Mirna menerima bunga pemberian Thomas itu. Dalam hati ia berjanji akan merawatnya dengan telaten dan sepenuh hati. “Mungkin ini adalah pertemuan kita yang terakhir kali. Besok sore saya sudah harus pulang ke kampung, dan kemungkinan tidak kembali lagi.” “Kenapa secepat itu?” “Ibu sakit keras, tak ada yang merawat.” Mirna terdiam dengan lidah terasa kelu. Entahlah, ia merasa sangat kehilangan jika Thomas benar-benar pergi dan tidak kembali. Perasaan aneh itu semakin membuatnya tersiksa. Padahal baru beberapa hari saja mereka saling mengenal. Tapi tak mungkin pula ia melarang Thomas untuk pergi.
“Salam saja buat ibu, semoga cepat sembuh!”
“Terimakasih!”
Begitulah, perpisahan itu terjadi seperti dalam mimpi saja. Seperti halnya dengan perkenalan mereka yang juga tak pernah diduga sebelumnya. Tapi, menyesalkah Mirna karena pernah mengenal lelaki itu? Entahlah.
* * *
Embun pagi masih menggelayuti dedaunan yang menari-nari disibak angin. Cericit burung-burung kecil di luar sana membangunkan Mirna dari tidurnya yang pulas. Mirna masih belum dapat menghilangkan kebiasaannya bangun lebih awal pada setiap pagi, meski ia tahu lelaki itu sudah pergi dan tidak kembali. Bergegas ia melangkah ke beranda depan dengan wajah kusut dan kesadaran yang belum sempurna betul. Seperti pagi yang sudah-sudah, Mirna kembali menatap lurus ke rumah di seberang jalan. Namun, tidak ada siapa-siapa di rumah itu. Sepi, dan pintunya tampak tertutup rapat. Semilir angin dengan lembut menyibak rambut Mirna yang panjang sebahu, sejenak menghalangi tatapan matanya menembus kabut tipis yang membungkus rumah itu. Tapi, lagi-lagi ia merasa kecewa karena sosok Thomas yang ia harap akan muncul dari balik pintu jati tak juga melintas.
Kau sedang jatuh cinta Mirna! Sebuah bisikan menyelusup di telinganya. “Tidak mungkin! Aku tidak semudah itu mencintai orang yang baru saja kukenal.” Kau tak bisa menipu perasaanmu sendiri. Kenapa kau merasa kehilangan, jika tidak menyukainya? Mirna diam karena bisikan itu sungguh memojokkan dirinya. Kembali ia menatap lurus ke rumah di seberang jalan. Oh, tidak. Dia tak akan pernah kembali lagi.
Mirna beralih menatap hot lady yang tampak segar di pojok beranda. Dan tiba-tiba saja ia seperti melihat Thomas sedang memperhatikannya, tentu sambil melempar senyum, senyum yang tajam serupa belati. Mula-mula wajah itu hanya satu, lalu bertambah jadi dua, tiga, empat, dan semakin banyak. Di mana-mana Mirna seakan melihat wajah yang telah pergi itu. Ah, tidak mungkin! Mirna mengerjapkan mata berulang-ulang sambil menyeret langkah lebih dekat, namun secepat itu pula senyum Thomas raib dari tatap matanya. Yang tersisa hanyalah lambaian daun-daun bunga pemberian Thomas yang masih dibasahi oleh air bening sisa hujan semalam.
Masihkah kau akan membohongi dirimu sendiri, Mirna? Bisik itu kembali membuatnya bungkam. Dadanya bedesir. Pagi itu Mirna kembali menjumpai kekecewan seperti hari-hari sebelumnya, sejak lelaki itu pergi dan tidak kembali. Sebelum menutup daun pintu dan menguncinya rapat, sekali lagi ia menatap ke rumah di seberang jalan. Tak ada siapa-siapa!
* Surabaya, 10 Oktober 2011

STA: Dari Pengetahuan ke “Weltanschauung”


STA: Dari Pengetahuan ke “Weltanschauung”
Posted by PuJa on May 28, 2012
Ignas Kleden
Majalah Tempo 9/3/2008/hal48–49

SERATUS tahun Sutan Takdir Alisjahbana (selanjut¬nya: STA) dirayakan secara khusus pada 12 Februari 2008. Serangkaian acara lain telah pula disiapkan untuk melanjutkan peringatan itu sepanjang tahun ini (Koran Tempo, 28 Februari 2008). Kita bertanya, apa gerangan warisan tokoh ini untuk kebudayaan Indonesia saat ini, setelah demikian banyak hal dikerjakannya dalam usia yang amat panjang, dan setelah demikian banyak ditulis orang tentang dirinya, untuk menghormati dan mengagumi atau untuk meremehkan dan bahkan melecehkannya.
Dengan pujian atau dengan sinisme STA tak dapat diabaikan. Karena itu amat perlu menemukan kembali apa yang dapat dipelajari dari hidupnya untuk masa seperti sekarang, tatkala banyak dari antara kita di Indonesia-pemerintah serta kelompok masyarakat-kehilangan pegangan tentang ke mana kita berjalan dan dari mana pula sebaiknya kita bertolak. Dalam kaitan ini STA dapat menjadi teladan yang baik, karena telah menunjukkan kepada kita suatu hidup dengan riwayat yang tidak ruwet.
Dari satu sisi, STA adalah pengejawantahan suatu pandangan hidup yang serba jelas. Tak dapat disangkal bahwa dia mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang amat luas tentang berbagai bidang: ilmu bahasa, filsafat, teori kebudayaan, pendidikan, sastra, dan berbagai bidang ilmu sosial yang dijelajahinya dengan penuh gairah. Tak dapat disangkal pula energi yang sulit dipercaya, yang diperlihatkannya dalam menekuni berbagai bidang yang telah dipilih dan dimasukinya.
Namun demikian bukanlah pengetahuan itu benar yang mengesankan kita, karena untuk bidang-bidang yang dikerjakannya ada berbagai spesialis masa kini dengan keahlian yang lebih tinggi, entah karena mereka mendapat pendidikan dan latihan yang lebih baik, entah karena mereka mempunyai lebih banyak waktu untuk berkonsentrasi dalam bidang keahlian mereka. STA tidaklah mengesankan kita karena pengetahuannya yang beragam, tetapi terutama karena semenjak usia muda dia telah sadar tentang pentingnya menerjemahkan pengetahuan menjadi pandangan hidup, dan menerjemahkan ilmu menjadi Weltanschauung.
Pada dasarnya dia bukanlah seorang teoretikus tentang kebudayaan yang membangun suatu sistem pemikiran dan sistem pengetahuan tentang kebudayaan, yang dapat dijadikan pegangan oleh orang lain untuk penelitian atau kajian budaya. Apa yang dilakukannya ialah menemukan suatu model kebudayaan yang dapat dijadikan referensi dan orientasi dalam mengembangkan kebudayaan Indonesia baru. Semua kita tahu bahwa model yang dipilih dan dianjurkannya ialah kebudayaan Barat yang telah lahir dari renaisans, sebagai suatu masa ketika manusia ditemukan lagi sebagai pusat kebudayaan, dan dirayakan sebagai locus berbagai tenaga dan bakat yang harus dikembangkan sejauh-jauhnya.
Para pengkritiknya selalu memperingatkan STA tentang ekses-ekses kebudayaan Barat yang dikaguminya itu, tetapi dia dengan yakin dan penuh keberanian mempertahankan pendiriannya bahwa kehidupan modern setelah Indonesia merdeka dapat dikembangkan dengan lebih baik dengan memakai kebudayaan Barat sebagai model (dengan segala kelemahannya) daripada kebudayaan-kebudayaan tradisional di Nusantara (dengan segala keunggulannya). Pembelaannya, dalam berbagai polemik yang tajam dan panas, bukanlah uraian teoretis tentang keunggulan kebudayaan Barat, tetapi tentang mengapa keunggulan tersebut dibutuhkan oleh zaman baru di Indonesia.
Ada ribuan sistem pengetahuan dan ada ratusan sistem budaya, tetapi orang perlu mengambil salah satunya dengan konsekuen sebagai pegangan untuk memandang dunia, kehidupan manusia dan alam semesta. Suatu pandangan dunia atau Weltanschauung tidak melihat dunia hanya sebagaimana adanya, tetapi terutama dunia sebagaimana seharusnya.
Karena itu cara pikir STA yang utama tidaklah didasarkan pada logika kausalitas (saya gembira karena mempunyai uang cukup), tetapi pada logika finalitas (saya gembira supaya mempunyai tenaga dan gairah untuk mendapatkan cukup uang). Tidaklah mengherankan bahwa Prof Harimurti Kridalaksana berkomentar bahwa cara pikir STA dalam linguistik kurang ilmiah (Tempo, 25 Februari-2 Maret 2008: 65). Ilmu selalu bergerak antara yang empiris dan yang rasional.
Kalau ada kesemrawutan gramatikal dalam penggunaan bahasa Indonesia dalam surat kabar atau televisi, tugas ilmu bahasa adalah mendeskripsikan bagaimana kesemrawutan terjadi, dan, pada tingkat analitis yang lebih tinggi, mencoba menjelaskan mengapa telah muncul kesemrawutan seperti itu dan kondisi-kondisi apa saja, yang tidak mendorong ng untuk memakai bahasa secara grammatically correct. Kalau penyelewengan dari tata bahasa itu meluas, seorang ahli bahasa akan mulai berpikir untuk menyusun tata bahasa baru, yang dapat menampung semua kecenderungan dan kebiasaan berbahasa yang baru itu. Inilah linguistik ilmiah yang oleh STA dinamakan linguistik deskriptif.
STA tidak berpikir dengan logika kausalitas. Maka dia nyusun tata bahasa Indonesia dengan norma-norma dan peraturan-peraturan, yang dalam pandangannya membuat bahasa ini lebih mampu melayani keperluan masyarakat dern seperti ilmu dan teknologi, dan membuat bahasa Indon¬esia semakin “kompatibel” dengan bahasa-bahasa modern lainnya, sehingga memungkinkan penerjemahan dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain. Dia memang memiliki perhatian kepada kebiasaan berbahasa yang ada, tetapi usaha memperbaikinya dengan memberikan norma-norma baru yang memungkinkan orang mengungkapkan pikirannya secara logis dan efisien. Dengan demikian tata bahasa yang disusunnya bukanlah tata bahasa deskriptif, tetapi tata bahasa normatif, yang, kalau ditelusuri lebih jauh, pada akhirnya berpatokan pada sintaksis bahasa Latin.
Cara berpikir dengan logika finalitas menyebabkan STA kadang tertinggal dalam mengikuti dan memahami perkembangan kebudayaan yang terus berlangsung. Sulit baginya memahami mengapa Putu Wijaya menulis novel dan cerpen dengan tema yang dianggapnya trivial, meskipun tema tersebut sedikit banyaknya merefleksikan perkembangan masyarakat Indonesia sekarang, tetapi tidak sejalan dengan norma-norma penulisan novel yang kebetulan dianut oleh STA. Dalam pandangannya, sastra yang baik bertugas mendidik masyarakat untuk berjuang dengan tabah dan gembira menghadapi segala apa yang dinamakannya krisis dalam kebudayaan.
Tampaknya ada category mistake dalam logika seperti ini. Sutan Sjahrir rupanya sudah melihat bahaya ini dan menulis pada pertengahan 1940-an, bahwa orang yang hendak mendidik masyarakatnya melalui kesusastraan haruslah pertama-tama menghasilkan karya-karya yang memenuhi ukuran kesusastraan, dan tidak dapat berdalih bahwa karya sastranya mempunyai kriteria lain karena dimaksudkan sebagai alat untuk keperluan didaktis dalam pendidikan. Siapa yang tidak dapat memenuhi ukuran kesusastraan dalam mendidik masyarakatnya sebaiknya memilih lapangan pekerjaan lain seperti persekolahan, dakwah, jurnalisme, atau politik.
Di sini kita teringat pada Rabindranath Tagore, yang membangun lembaga pendidikannya yang termasyhur di Shantiniketan, menulis puisi dan drama serta lagu-lagu untuk anak-anak didiknya, tetapi karya sastranya itu tetap dikenang dengan penuh hormat hingga saat ini.
Dengan latar belakang neo-Kantian yang membedakan dengan tegas pernyataan-pernyataan empiris dari pernyataan-pernyataan normatif, Max Weber mengajukan tesis yang terkenal bahwa ilmu pengetahuan tidaklah bertugas (dan juga tidak dapat) memberikan norma-norma tentang bagaimana seseorang sebaiknya bertindak dan berperilaku. Pegangan seperti itu hanya dapat diberikan oleh pandangan hidup atau Weltanschauung.
Dalam perkembangan Indonesia sekarang, dan dengan bantuan teknologi komunikasi, ilmu pengetahuan memberi kita demikian banyak informasi baru. Anehnya, di tengah sambur-limbur informasi itu kita malah kehilangan orientasi dan pegangan. Karena itulah, STA seakan hidup kembali dan mendapat aktualitas baru, karena dia selalu tampil sebagai contoh yang tidak ragu tentang perlunya menerjemahkan pengetahuan menjadi pandangan hidup, ilmu menjadi Weltanschauung, yang dapat membimbing kita ke suatu masa depan yang layak dijadikan tujuan suatu hidup yang tidak sia-sia.
Ignas Kleden, Sosiolog
Dijumput dari: http://jehovahsabaoth.wordpress.com/2011/09/12/sta-dari-pengetahuan-ke-%E2%80%9Cweltanschauung%E2%80%9D/

Membaca Suara Hati Rakyat di Buku Kumpulan Puisi “Jejak Mata Pena”


Membaca Suara Hati Rakyat di Buku Kumpulan Puisi “Jejak Mata Pena”
Posted by PuJa on May 29, 2012

Tosa Poetra
Seminggu yang lalu, setelah lelah dari pagi sampai sore kerja di bengkel, saya langsung pulang. Biasanya saya jalan-jalan dulu sebelum pulang. Ya, hari itu memang diharuskan saya segera pulang, karena hari itu di rumah ada acara genduri setahun Yudistira, anak laki-laki saya yang kecil. Sampai di rumah, saya melihat ada paket di meja belajar saya, kiriman dari saudari saya yang bekerja di Hongkong. Seusai acara genduri saya membukanya, berisi buku berjudul “Jejak Mata Pena”, yang memuat kumpulan puisi karyanya dan kawan-kawannya sesama pekerja di Hongkong, saudari-saudari saya juga. Buku setebal 172 halaman yang diterbitkan oleh penerbit Abatasa, Pekalongan-Jateng pada bulan April kemarin. Buku itu memuat 102 judul puisi yang terbagi atas 6 tema yang digarap bersama oleh delapan putri Kemboja. Sedari itu “Jejak Mata Pena”, menemani kemanapun saya dan menghibur saya di sela kepusingan meneliti Karya WS Rendra. Kadang saya jadi tersesat sehingga tidak dapat keluar dari buku itu untuk kembali ke note-book karena terlalu asik membacanya.
Sungguh indah para putri Kemboja menyusun tiap larik kata, semua tema yang disuguhkan menarik dan sungguh menggoda ingin untuk menulis dan mengatakan ketertarikan saya dengan memberikan apresiasi dengan cara dan pemahaman saya. Namun karena terbatasnya waktu, dalam kebingungan saya memilih mau menulis tentang yang mana, saya akhirnya memilih mengapresiasi dengan tema “Suara Hati Rakyat”, karena ada satu hal yang lebih saya kagumi. Pada tema tersebut mereka, para putri Kemboja, di tengah kesibukannya bekerja, masih sempat menulis, menyuarakan hatinya, suara-suara hati rakyat, yang itu sungguh menunjukkan keperdulian mereka pada Bumi Pancasila. Saya dapat mengira-ngira betapa sibuk mereka bekerja, dan hanya menulis itu hiburan mereka, yang tentunya dilakukan dengan mencuri-curi waktu dari majikannya, sebab dari cerita seorang saudari di sana, majikan ada yang tidak memperkenankan mereka memakai HP, sehingga mereka terpaksa menyembunnyikan HP.
Memang ada juga majikan yang memberikan kemudahan, memperbolehkan pakai HP bahkan memakai laptop, selama dapat mengatur waktu dan tidak mengganggu pekerjaan. Saya dapat membayangkan betapa susah perjuangan hidup mereka di sana. Seorang menceritakan pada saya kalau pagi dia cuma cuci muka, mandi sehari sekali, itu pun mandi tengah malam sambil membersihkan kamar mandi seusai majikannya mandi. Ya karena katanya di sana susah air, air mahal. Tidur mereka di sana pun susah, tak ada kamar kusus buat mereka, memang disediakan dipan sederhana, tapi tempatnya di ruang tamu, maklum karena di sana rumah kecil-kecil karena sempitnya tanah, itu pun di apartemen. Bahkan dari salah satu puisi di dalam buku “Jejak Mata Pena”, saya melihat ketika “Babu Mencubit Presiden”, dan menanyakan pada Presidenya, apakah akan tega jika anak yang di sayanginnya tidur di sudut ruangan, berbantal sapu dan berselimut kain pel. Oh, sungguh memilukan perjuangan mereka, namun mereka iklas melakukannya untuk orang-orang yang disayanginya di kampung halaman, untuk masa depan.
Satu hal yang menggelitik saya, mereka saja yang jauh di sana, yang seakan terpenjara, masih dapat menyuarakan suara hatinya, suara hati rakyat? Bagaimana dengan kita yang bebas di negeri yang katanya telah merdeka sejak tahun 45? Tidakkah kita juga bisa memiliki kepedulian seperti mereka? Apakah pemimpin negeri ini perduli pada mereka? Pada suara mereka? Dan tidak cuma sibuk menghitung devisa.
Saya mendengar. Minggu, 20 Mei nanti, buku tersebut akan diloncing di Victoria, sebuah taman di Hongkong. Louncing tersebut di-isi dengan bincang-bincang sastra dan baca puisi. Ah sungguh menarik sekali, dapat bertemu para pejuang dan penyair, dapat mendengar penuturan proses kreatifnya dalam menulis, dapat menjabat tangan mereka yang halus, melihat wajahnya yang cantik-cantik dan senyumnya yang sumringah. Mungkin jika saya ada di sana saya juga akan berpartisipasi membacakan dua atau tiga judul puisi, memberikan komentar sederhana, kemudian meminta tanda tangan dan foto bersama. Sayang terlalu mahal bagi jazad seorang kuli untuk menjangkau Victoria, untuk menjangkau jemari para putri Kemboja yang suci. Ya mungkin suara saya dapat menjangkau pesta mereka, setidaknya tulisan saya ini dapat menjangkau kesucian hati mereka, sebagaimana suara hati mereka telah menjangkau jiwa saya dan sebagaimana pena mereka telah meninggalkan jejak di hati saya.
Mungkin baiknya saya tidak terlalu ngelantur kemana-mana, sudah hampir dua halaman saya cuma berkelakar, padahal 17 suara hati rakyat harus saya baca dan ceritakan ulang dengan gaya bahasa saya. Tuhan menciptakan segalanya berpasangan, siang-malam, matahai-bulan, lelaki-perempuan, demikian pula baik-buruk. Dari 17 judul yang ada pada suara hati rakyat, jika kita mencari kekurangan, pasti ditemukan kekurangan itu entah sekecil apa, tapi bukankah kita hendaknya memandang orang lain dari segi positifnya, bukan dari negatifnya saja? Toh kesempurnaan hanya milik-Nya. Ya mungkin kekurangan itu juga harus dikatakan, tetapi bukan untuk menjatuhkan, melainkan memberikan masukan untuk periode yang akan datang agar dapat lebih baik. Ah rupanya dua halaman A4 sepasi 1,5 Timesnewroman 12, telah benar-benar saya habiskan cuma untuk berkelakar, ya semoga tidak menjadikan bosan membaca tulisan saya ini, seperti saya juga tidak pernah bosan membaca karya kalian.
17 suara hati rakyat itu dimulai pada halaman 71, cukup unik dan filosofis. Apakah jumlah 17 itu merupakan simbol kemerdekaan sebagaimana negara Pancasila merdeka pada angka 17, simbol ketaatan sebagaimana jumlah rekaat dalam sehari semalam yang wajib kita tunaikan. Apakah angka 71 merupakan pernyatan bahwa mereka bertujuan satu. Sungguh indah dan tentu hal itu sudah dirancang dengan mapan. Ah, mari melangkah saja membaca surat pertama, surat pada Presiden yang ditulis Rahma. Di sana dia mengatakan dia bukan srigala rimba yang mencari mangsa, dia tidak se-elok kepala kelinci, juga bukan peri, dia hanya kucing rumahan, hanya babu, hanya marmut kecil tapi tidak takut mengingatkan Presidennya agar melihat berapa jumlah TKI yang mati digantung dan menderita disiksa, agar tidak hanya menghitung devisa, agar mau melakukan pembelaan. Pada halaman kedua Rahma mengajak berjuang untuk merebut keadilan dari para manusia bertopeng, manusia bertopeng tentunya adalah para pemimpin yang berkedok baik, mengatakan bermaksud baik, tapi untuk memudahkan dirinya sendiri menumpuk kekayaan.
Pada halaman 73, saya melihat Luluk mendengar rintihan kelam dari lorong sepi di ruang tunggu yang berkata ”Aku adalah sampah, najis dan tiada guna”, kemudian Luluk mencari tahu dan bertanya, siapakah itu? (Mungkin itu adalah aku dan dia Luk!). Di halaman 73 Luluk melihat genduri di ruang diskusi, dan menanyakan apa yang terjadi? Ah kurasa kau tahu pa yang terjadi Luk!. He he he, kritik pedas pada bapak DPR yang tidur, yang melamun saat sidang. Pada halaman 75, Luluk melihat tumbal kedudukan? Ah, memang harus ada tumbal Luk! Harus ada korban, sayangnya yang jadi korban anak-anak kecil, rakyat kecil dan para pemimpin telah lupa ketika mereka mengais suara dari tempat-tempat kumuh untuk mendapatkan kedudukannya (seperti yang kau katakan).
Pada halaman 77, saya melihat bagaimana para pahlawan devisa menggenggam erat sekeping rasa dan jiwanya yang gersang berkelana, sementara para serigala negeri mencari kepuasannya sendiri, kenyang perutnya sendiri, lidah meraka basi, cuma obral janji. Dan, pada halaman 76, Asrti mengatakan tentang kobar kebebasan, bahwa pada bulan Desember telah berpulang Sondang Hutagalung, mengharumkan nama bangsa, tetapi para pemimpin negeri sibuk menghitung aset. Sayangnya saya belum sempat mencari tahu siapa sondang Hutagalung, dan lupa peristiwa yang terjadi di Jakarta akhir tahun lalu. Pada halaman 79 saya melihat penderitaan Yulia yang demi meraup dolar, mendapatkan cacian dari majikan setiap hari, tapi dia rela demi pelita jiwanya. Pada halaman 80, Yulia menceritakan tentang negeri badut, yang dipimpin badut-badut berdasi, negeri dagelan-negeri fantasi, dimanakah negeri itu? Tentu di negeri yang pemimpinnya hanya mengobral janji.
Pada halaman 81, Adhe memberikan kritikan pada pengadilan yang dapat direkayasa dengan uang, ketika penguasa yang bersalah hukumannya tak seberapa, tapi ketika rakyat kecil yang bersalah hukumannya melimpah. Adhe menuntut pada pemerintah agar menghentikan pembangunan gedung bertingkat tanpa manfaat, saya ingat Desember tahun lalu, pemerintah sibuk memikirkan pembangunan toilet gedung dewan. Adhe mengingatkan bahwa pembangunan jalan lebih penting, gedung sekolah lebih penting, banyak sarana dan prasarana lain yang rusak karena bencana bertubi-tubi di negeri ini, mulai Merapi, Mentawai, Gempa bumi dan sunami. Adhe menuntut pembangunan jalan, jembatan dan sekolah, agar dapat kesekolah lancar, agar anak-anak dapat pintar, sebab anak-anakk yang akan meneruskan perjuangan bangsa.
Pada halamman 84, Lintang mencubit Presiden, sebelunya dia mencubit dengan puisi, kemudian mencubit dengan aksara yang ditulis di selembar tisu dapur. Dia menceritakan bahwa para BMI rela meninggalkan anak, suami dan orang tua dan sebaliknya untuk masa depan, terakhir dia ingin melanjutkan luahan hatinya, tapi dia masih mau mengelap panci dan wajan, agar besok dapat memasak untuk majikan yang memberi makan, makan untuknya dan keluarganya di kampung. Pada halaman 85, Lintang menyuruh melihat dan mendengarkan teriakannya yang siap mencabik kebohongan, dan jika masih saja berdusta dia akan meninggalkan bisa demi membela nasib. Mengingatkan pemimpin agar berlaku jujur, juga mengingatkan para pembaca berlaku jujur. Ya, tak baik menyimpan dusta, kejujuran harus dikatakan walau menyakitkan, kita harus berkata jujur walau harus hancur.
Pada halaman 87, Lentera mengatakan kemarahannya melihat keserakahan para pemimpin, Lentara menanyakan: dimana mata para pemimpin? Tidakkah melihat rakyat sekarat dan melarat, sementara mereka cuma duduk manis ketika rapat. Dan pada halaman 88, Lentera mengawali suratnya dengan menceritakan dirinya yang mencari rezeki jauh dari keluarga, tapi para penguasa bagaikan lintah yang terus menghisap darah rakyat tak perduli rakyat semakin terkapar dan lapar. Kemudian menanyakan dimana nurani mereka? Dan Lintang mengingatkan bahwa kelak semua akan diperhitungkan dan mendapat balasan.
Pada halaman 89, Mei menulis surat untuk tuan budiman, yang berbaju mewah dan berdasi, tinggal di rumah mewah, bermobil mewah dan uangnya melimpah yang itu didapat dari menguras keringat rakyat, kemudian Mei mengingatkan pada janji mereka, bahwa mereka adalah pemimpinnya, penghulu birokrasi dan penentu nasib rakyat, kemudian Mei menanyakan tentang kehormatan bangsa yang dihina bangsa lain. Lalu mengajak bekerjasama agar dapat terlaksana apa yang diamanahkan. Dan terakhir berpesan agar tidak membiarkan hati bersifat jahanam. Ya, semoga hati pemimpin kita tidak jahanam dan hati kita juga tak jahanam, sebab jahanam tinggalnya kelak di neraka jahanam. Pada halaman 91, halaman terakhir dari suara hati rakyat, Mei menuliskan suara rakyat, mengingatkan pada para penjilat harta negeri bahwa kelak akan datang karma.
Demikan apa yang dapat saya baca, saya mengerti dan saya raba secara sederhana. Dan sebuah karya yang berkualitas adalah karya yang meskipun berulang kali di baca, di kaji akan di dapatkan temuan-temuan baru. Karya-karya pada Jejak Pena menyediakan berbagaimacam tema dan hal lain untuk dikaji, baik dari segi struktural maupun isi. Dari gaya bahasa, rima, citraan, religiusitas, nilai-nilai agama, nilai pendidikan, cinta kasih, pemberontakan dan sebagainya. Terakhir saya katakan bahwa saya membenarkan bahwa penulis pada Jejak Pena Telah berhasil menulis sebagaimana hal yang saya tahu: penulis akan menulis dengan hal yang tidak jauh dari dirinya, mereka dekat dengan lap dan panci maka hal itulah yang mereka jadikan sebagai diksi. Dan mereka telah berhasil menyuarakan suara hatinya, suara rakyat, suara untuk para pemimpin, untuk keluarga, untuk orang-orang tercinta juga untuk masyarakat, agar dapat diambil hikmah, pelajaran dan manfaat.
Dengan membaca Jejak Mata Pena karya para puteri Kemboja, kita juga dapat banyak tahu dan merasakan penderitaan yang mereka rasakan, menjadikan kita dapat semakin mendewasakan pikir dan lebih arif serta bijak dalam meniti jalan kehidupan yang kita pijak. Mohon maaf atas kesalahan, baik penulisan, maupun penafsiran. Lima halaman telah saya habiskan. Terakhir, izinkan saya memetik dari hal yang ada pada pena. “di negeri badut, tak kan pernah terhenti tarian mata pena selaras retas harap wujudkan asa sebab api itu masih menyala, dan terus menyala”. Sukses buat Jejak Mata Pena. Salam sastra budaya.
Surabaya, 18 Mei 2012

Saturday, 26 May 2012

Karya Bermutu, Cerdas dan Piawai


Karya Bermutu, Cerdas dan Piawai
Posted by PuJa on May 26, 2012
Taufik Effendi Aria *
http://www.riaupos.co/

Setiap orang pasti punya keinginan untuk menciptakan karya bermutu, cerdas dan piawai. Karena karya yang demikian dapat memperpanjang makna kehidupan seseorang di atas permukaan bumi ini. Namanya akan selalu dikenang, seolah-olah dia tak pernah mati walau jasadnya telah terkubur dan menyatu dengan tanah sekalipun. Sebagaimana adagium: ‘’Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama’’.
Nama adalah identitas yang harus dijaga dan dipelihara, setidaknya dengan: (1) Selalu berzikir, mengingat Allah dalam keadaan apa, bagaimana dan di manapun, dengan segala konsekuensinya; (2) Berkeinginan dan bercita-cita menjadi yang terbaik di atas segala yang ada; (3) Bekerja keras dengan segala kemampuan, tenaga, akal dan rasa yang dimiliki, untuk kemaslahatan manusia. Mudah-mudahan berdasarkan ketiga hal tersebut, nama sebagai identitas dapat terjaga, bersih harum dan terpelihara, kekal abadi, dikenang orang sepanjang masa.
‘’Aku ingin hidup seribu tahun lagi’’, sabda Khairil Anwar dalam salah satu sajaknya. Keinginan itu dibuktikan dengan usahanya memilih kata yang tepat dan bersayap, hingga dia menjadi ‘binatang jalang’ yang terlempar dari ‘konvensi’ persajakan tradisional dan mendirikan istana baru dengan sebutan “puisi modern”. Dan dia pun dinobatkan sebagai Pelopor Angkatan 45. Namanya tetap kekal dalam karya-karyanya yang bermutu, cerdas dan piawai. Sejarah tak mungkin dapat menghapus namanya, karena dia sudah mendapat tempat, walaupun dia sendiri meyadari, ‘’kita memburu arti/tidak tahu romeo dan juliet berpeluk di kubur atau di ranjang/ jika bedil telah disimpan yang tinggal kenangan berdebu’’. Demikian untaian kata yang dikutip secara acak dari salah satu sajaknya yang lain.
Apa yang dimaksud dengan karya bermutu, cerdas dan piawai? Tak mudah untuk dijelaskan dengan lugas, tepat dan jitu. Namun demikian untuk sekadar memberi sinyal, dapat dikemukakan kiasan sebagai berikut: ‘’Karya bermutu, cerdas dan piawai ibarat air mengalir mencari tempat terendah dan umpama angin berhembus, mengisi ruang kosong, terasa ada terlihat tidak, selanjutnya mengkristal jadi batu permata, pada tiap sisinya memancar cahaya abadi yang tak luput dimakan waktu, menjadi suluh pada mata yang gelap’’.
Artinya karya bermutu, cerdas dan piawai, bersifat inspiratif, imajinatif, ekspresif dan inovatif, yang dapat mengisi kekosongan jiwa, akal dan rasa, dengan tidak memaksa atau dipaksakan. Dia mengalir alami berkat keindahan yang terkandung dalam setiap hasil karya yang demikian. Di samping itu karya bermutu, cerdas dan piawai, dapat menjadi penyuluh dan pedoman sebagai pegangan hidup yang panjang dan kekal.
Karya bermutu, cerdas dan piawai, tak jatuh begitu saja dari langit seperti buah masak di batang. Buah jatuh dengan sendirinya, karena batang tak dapat menjatuhkan buah. Batang tak punya pilihan, itu sudah menjadi sifatnya yang alami. Beda dengan manusia yang punya banyak pilihan. Inilah keistimewaan manusia dari makhluk lain. Namun demikian keistimewaan harus disikapi dengan arif, berhati-hati dan diperhitungkan dengan sungguh-sungguh dalam menetapkan pilihan. Salah menentukan pilihan takkan menghasilkan apa yang diharapkan, bahkan sebaliknya dapat membuahkan kekecewaan. Celakanya lagi, kekecewaan itu tak saja dirasakan oleh dirinya sendiri tapi juga oleh banyak orang di sekililingnya.
Sebagai ilustrasi: Akhir-akhir ini banyak kekecewaan yang kita rasakan, akibat ulah para pejabat/penguasa dan atau wakil rakyat yang korupsi baik perorangan maupun bersama-sama. Semua ini akibat salah menentukan kebijakan. Kebijakan yang menyalah itu berakibat pula pada kesalahan menentukan orang-orang yang dipilih. Akibatnya terjadilah kesalahan pemilihan dan pilihan yang menyalah, yang merugikan orang banyak. Setiap jalan bisa ditempuh, tapi tak semua jalan harus jadi pilihan, karena tak semua jalan mengantar kepada tujuan.
Karya bermutu, cerdas dan piawai, lahir dari orang yang bermutu, cerdas dan piawai. Orang seperti ini tak berkarya untuk mengejar popularitas, apalagi kalau popularitas itu hanya digunakan untuk tujuan mempengaruhi dan sekadar menyebar pesona untuk kepentingan tertentu. Dia hanya berkarya untuk keyakinan, bahwa hanya keindahan dan kebenaran yang mampu mencerahkan kehidupan. Lalu dia abadikan keindahan dan kebenaran itu dalam bentuk kreasi sesuai profesinya masing-masing, untuk dapat dimanfaatkan dan dinikmati bersama.
Keindahan adalah kata jadian dari kata indah. Menurut bahasa Melayu “indah” berarti “peduli”. Sesuatu dapat dikatakan indah bila dia mengandung beberapa unsur yang saling isi mengisi atau saling mempedulikan satu unsur dengan unsur lainnya. Jadi keindahan mengandung arti kepedulian. Sedang kebenaran mengandung arti yang filosofi, tiap orang berhak mengatakan sesuatu benar atau tidak, tergantung filsafat/pandangan hidup yang dianutnya.
Mengenang nama yang kekal dan abadi, salah seorang di antaranya Chairil Anwar. Beliau memang pantas dinobatkan sebagai pelopor Angkatan 45, untuk kesusteraan khusus bidang sajak. Beliau mengeliat dan meronta dari ikatan persajakan yang sangat mengikat, dengan pakem/ketentuan yang baku dan kaku.
Dengan ‘keakuannya’ dia bangkit dengan ‘amuk Melayu’-nya dan lahirlah ‘sajak bebas’, yang selanjutnya dikenal dengan sebutan puisi modern. Dari ‘Budak Melayu’ yang seorang ini kita dapat melihat ke-’aku’-annya yang visioner dan pionir.
Pandangan dan kepeloporannya membuka memori/ingatan pada perjalan panjang, jauh sebelum Nusantara berada dalam ‘kebersamaan’ yang ‘menyatu’ dalam kesatuan republik yang bernama Indonesia. Ketika itu muncul nama Patih Gajah Mada, dari Kerajaan Majapahit, yang terkenal dengan sumpahnya yang bernama Sumpah Palapa. Dalam sumpah itu beliau bertekad mempersatukan Nusantara. Sementara itu berkumandang pula ungkapan yang tak kalah pentingnya untuk dicatat, yaitu ‘’esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, tak Melayu hilang di bumi’’ yang lahir dari lidah seorang Panglima Kerajaan Melayu, Hang Tuah.
Sumpah dan tekad itu ‘mencair’ dan mengalir dalam tubuh pemuda-pemuda Nusantara yang selanjutnya pada 1908, menelurkan suatu pergerakan yang dikenal dengan sebutan Budi Utomo. 20 tahun lamanya Budi Utomo ‘mengeramkan’ telurnya, baru pada 28 Oktobe 1928, telur yang dieramnya itu menetas dalam bentuk Sumpah Pemuda.
Telur yang menetas pada 1928 itu tak begitu saja dapat mengembangkan sayapnya, karena sejak 1906 Bumi Nusantara, yang dikenal dengan sebutan Zamrud Khatulistiwa, telah ternoda oleh asap yang mengepul dari VOC. Perserikatan dagang ini menguras kekayaan Nusantara dengan politik adu domba. Selanjutnya ‘Saudara Tua’ penguasa Asia Timur Raya, coba membenamkan sepatu larasnya di Bumi Nusantara, dengan dalih menyelamatkan Nusantara dari tekanan tentara Belanda dan sekutu-sekutunya. Lebih kurang tiga setengah tahun tentara Jepang ‘mengawal’ Nusantara dengan samurainya yang terus terhunus. Akhirnya Saudara Tua kita itu pun bertekuk lutut ketika AS menjatuhkan bom atom di Hirosima.
Dengan perjuangan panjang Sumpah Pemuda yang dilahirkan dari rahim Budi Utomo, mulai mengembangkan sayap garudanya. Terbang menjelajahi Nusantara dari pulau ke pulau, mewujudkan tekad dan sumpahnya. Pada 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta, atas nama bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian, secara de facto dan de jure, tercapailah apa yang menjadi cita-cita, yaitu keinginan untuk; mempersatukan anak Nusantara menjadi bangsa Indonesia; mempersatukan kepulauan Nusantara, menjadi Tanah Air Indonesia; memelihara dan menjunjung tinggi bahasa Melayu, sebagai identitas suatu bangsa, menjadi Bahasa Indonesia.
Perjalanan sejarah selalu meninggalkan bekas atau dalam bahasa Melayu disebut bakat. Bekas itu mengingatkan kita pada orang-orang ‘berbakat’ melalui karya-karyanya yang bermutu, cerdas dan piawai. Di atas karya-karya mereka itulah sekarang kita berdiri melanjutkan perjuangan untuk mencapai kemaslahatan manusia, dengan menghasilkan karya-karya yang inspriratif, imajinasi, inovatif dan ekspresif.
Memang tak mudah menciptakan karya bermutu, cerdas dan piawai. Hanya bilangan orang yang dapat melakukannya. Mudah-mudahan Anda salah seorang dari yang terbilang itu. Selamat berkarya dan salam untuk kita semua!
*) Taufik Effendi Aria, Pelaku teater, film dan sastra asal Indragiri Hulu. Ia juga telah menerbitkan kumpulan puisi tunggalnya dan bermastautin di Pekanbaru. /20 Mai 2012

Teto


Teto
Posted by PuJa on May 26, 2012
Arie MP Tamba
Jurnal Nasional, 19 Okt 2008

DUNIA militer terbilang mendapat banyak sorotan dalam novel-novel Indonesia. Di samping nuansa penuh konflik dan dramatisasi nilai heroisme yang dikuakkannya, boleh jadi dunia militer ini bahkan terkesan memiliki keunikan nilai tertentu, dibandingkan karier-karier sosial lainnya, seperti wartawan, guru, pedagang, dokter, peneliti, mahasiswa, aktivis politik, dll.
Lihatlah figur Teto (Setadewa), yang begitu sukar dilupakan oleh mereka yang sudah membaca novel Burung-burung Manyar karya YB Mangunwijaya. Teto tidak saja fenomenal karena dikisahkan lahir dari seorang ibu keturunan Indo-Belanda, dan ayah seorang ningrat-keraton Solo lulusan Akademi Militer Breda, Belanda. Sang ayah inilah yang mendorong Teto untuk masuk tentara KNIL ketika revolusi meletus.
Novel Burung-burung Manyar merangkai multi-plot yang simultan dihadirkan si pengarang. Namun, secara garis besar, semua sub-plot bisa saja disimpulkan sebagai penegasan atas plot utama: hubungan cinta platonis antara Teto dan Atik (Larasasti). Teto dan Atik sudah berkenalan sejak kecil, dan terus ’menjalin’ hubungan perasaan dari ’jauh’. Tapi, hubungan mereka ini tak pernah terealisir atau berlangsung dengan mulus.
Ketika revolusi berlangsung, keduanya berada di wilayah sosial-politik berbeda. Atik di pihak republik dan menjadi salah seorang staf Perdana Menteri Syahrir, sementara Teto menjadi tentara KNIL. Dan seperti kata Yakob Sumardjo (1983), inilah novel yang berusaha menunjukkan jalannya sejarah secara obyektif, bahkan terkesan lebih berat ke persepsi Belanda. Sementara banyak novel Indonesia sebelumnya, menomorsatukan nasionalisme pejuang yang bersabung nyawa di garis depan.
Meski hanya karena alasan pribadi, Teto demikian benci kepada Indonesia. Merdeka atau berdirinya Republik Indonesia, bagi Teto, adalah identik dengan hancurnya masa lalunya yang indah (dan juga kebanggaannya) di tangsi militer Solo, ditambah penderitaan keluarganya yang keturunan Belanda. Apalagi, menurut Teto, kemerdekaan Indonesia ternyata diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta yang bekas pegawai Jepang.
Kompleksitas nilai semacam inilah, yang membuat novel dengan para tokoh militer menawarkan nuansa berbeda. Seperti apa perjuangan harus dilakukan. Apa makna kemerdekaan. Di mana batas-batas kebangsaan. Bagaimana menempatkan kepentingan pribadi di antara klaim kemerdekaan sosial. Sampai kapan seseorang harus memenuhi kewajiban sebagai pengemban nilai kebangsaan; tanpa pamrih hasrat pribadi.
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini, juga meletup-letup dalam novel Mochtar Lubis, Maut dan Cinta. Muncul sebagai renungan pribadi atau dalam diskusi para tokohnya, ide-ide di balik revolusi dan bagaimana kemerdekaan seharusnya diterjemahkan dalam kehidupan sosial yang adil dan bermartabat, dimunculkan ke permukaan.
Tidak sekompleks plot Burung-burung Manyar, Maut dan Cinta menceritakan kisah seorang mayor intelijen Indonesia, Sadeli, yang diberi tugas oleh atasannya Kolonel Suroso untuk menyelidiki penyelewengan agennya di Singapura, dan menyusun kegiatan baru untuk penyelundupan perlengkapan perang Indonesia.
Cerita dimulai dengan keberangkatan Sadeli membawa gula dengan perahu layar ke Singapura. Pelayaran itu selamat. Lalu Sadeli menyelidiki kebenaran desas-desus bahwa agen Indonesia di Singapura, Umar Junus, banyak menyelewengkan uang negara yang dipercayakan padanya. Umar Junus ternyata memang menyeleweng dan hidup dalam kemewahan.
Sadeli pun memperingatkan Umar Junus agar mengembalikan uang negara yang dipergunakannya. Namun Umar Junus menolak dan memilih keluar dari dinas intelijen Indonesia. Sementara itu, Sadeli terus melakukan ’kontak’ dengan para ’pedagang senjata’ untuk membeli perlengkapan perang untuk dikirim ke Indonesia.
Meski melalui karya fiksi, data ini penting bagi sejarah militer Indonesia. Sadeli ternyata mendapatkan dukungan para penerbang asing, yang bersedia menyelundupkan obat-obatan dan persenjataan ke wilayah Indonesia. Lalu, ketika berusaha kembali ke Indonesia, Sadeli juga menculik Umar Junus agar diadili di Indonesia.
Tapi penyeberangan mereka kepergok patroli Belanda. Terjadilah pertempuran terbuka. Umar Junus menyadari kesalahannya. Ia ikut membantu Sadeli meloloskan diri dari blokade Belanda tersebut. Dan di Indonesia, Umar Junus kemudian mengembalikan kekayaan negara yang sempat diselewengkannya. Sebagai hukuman, pangkatnya diturunkan jadi Letnan Satu.
Dan Letnan lainnya, ingatlah Letnan Mas di novel Siti Nurbaya. Letnan Mas adalah nama baru Syamsul Bachri yang kecewa karena cintanya kepada Siti Nurbaya dirampas Datuk Maringgih. Letnan Mas ingin membalas dendam dengan menjadi tentara Belanda. Kepentingan pribadi tumpang-tindih dengan kepentingan sosial. Celah-celahnya hanya bisa disoroti oleh novel dengan tokoh militer yang bijak. Tak banyak mengumbar mesiu.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/10/oase-budaya-teto.html

Keindonesiaan dalam Diri Affandi


Keindonesiaan dalam Diri Affandi
Posted by PuJa on May 26, 2012
Warih Wisatsana *
Kompas, 19 Okt 2008

SUDAH pasti, ditimbang dari sudut bobot, buku tentang Affandi kali ini tak tergolong ringan. Bayangkan saja, berat ketiga jilid dari seri bertajuk singkat Affandi ini adalah tak kurang dari 9 kilogram.
Namun, syukurlah, buku ini tak hanya berat secara fisik, isinya pun terbilang fenomenal. Tak hanya memuat ratusan gambar orisinal dari karya Affandi, melainkan juga menghadirkan sejumlah telaah dari pakar seni, baik dalam maupun luar negeri, di bawah koordinasi Eddy Soetriyono, pengamat dan kurator seni rupa yang tak kenal payah ini. Mereka adalah Astri Wright, Bambang Bujono, Helena Spanjaard, Jean Couteau, Jim Supangkat, serta tak ketinggalan Eddy Soetriyono sendiri.
Menerbitkan buku semacam ini bukanlah perkara mudah. Terlebih menyangkut sosok seperti Affandi, seorang seniman yang hidup melampaui aneka zaman, sebelum dan sesudah merdeka, dengan berbagai peristiwa kesenian serta kemelut politik yang menyertainya.
Sebagai salah seorang eksponen sebuah organisasi seni rupa pertama Indonesia, yaitu Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi), kiprah anak kelahiran Cirebon tahun 1907 ini terbukti kesenimanannya tak melulu tentang upaya menggali kesejatian diri di dalam kanvas, melainkan juga terkait dengan pertumbuhan sejarah seni rupa Indonesia dan bahkan bagaimana keindonesiaan dirumuskan serta disikapi.
Memang, sedini awal, Affandi telah punya perhatian pada problematik pribadi yang tecermin dari karya-karya potret diri atau sosok-sosok di lingkungan terdekatnya, tetapi perannya pun terbukti tak terbatasi hingga di seputar tema itu saja. Berbagai periode karyanya dan juga keluasan pergaulannya menunjukkan dengan jelas pergulatannya, baik sebagai seniman maupun sebagai figur sosial. Ketokohannya, nyatalah, melampaui bidang seni.
Ini tentu bukan buku pertama tentang Affandi. Ada sekian banyak terbitan sebelumnya yang mencoba pula berbicara tentang pribadi yang eksentrik ini. Sebagai pemrakarsa buku setebal 817 halaman, Sarjana Sumichan menyadari bahwa figur semenarik Affandi tak cukup hanya diamati dari satu sisi saja.
Oleh sebab itulah dia bekerja sama dengan sejumlah ahli sebagaimana disebutkan di atas. Langkah ini mengesankan bahwa ”proyek” buku ini lebih mengedepankan capaian kualitas secara keseluruhan daripada kalkulasi dana atau keuntungan finansial semata, dan pertimbangan ini tentunya menjadi salah satu daya tarik tersendiri.
Apa yang dapat kita petik dari buku yang tak sekadar biografi ini? Pertama-tama, para penulis, meskipun diberikan tema umum tertentu, nyatanya dibebaskan untuk mendasari telaahnya dengan pola kajian masing-masing, yang sebenarnya terjalin dalam suatu benang merah, yakni kisah kehidupan Affandi sebagai manusia dengan segala hal-hal paradoks yang lekat padanya.
Dari sudut riwayat hidup dan kariernya, cukup banyak hal baru yang dapat kita simak. Misalnya Astri Wright, dalam paparannya tentang kiprah Affandi di Amerika, menegaskan bahwa pelukis yang mengakhiri masa tuanya di rumahnya di tepi Kali Code, Yogyakarta, ini telah mendapat perhatian dari publik seni rupa Amerika, yang kala itu tak lazim diberikan kepada seniman non-Eropa.
Kehadirannya menggemparkan masyarakat seni di negeri itu. Tak kurang dari majalah Time yang secara khusus membicarakannya, dan penulis terkemuka, Berger, mencatat bahwa ”Affandi menawarkan jalan keluar dari kebuntuan yang kini dialami (seni rupa) di Paris, New York, dan London.” Sebagai bukti bahwa Affandi bukan sekadar pelawat seni biasa, karya-karyanya diminati oleh kolektor-kolektor terkemuka, seperti keluarga Borkin.
Mengenai kehadiran Affandi di Eropa, tepatnya di London, Paris, Belgia, dan Italia (Venesia), dikisahkan oleh Helena Spanjaard sebagaimana versi yang telah umumnya tersiar selama ini, dan digenapi oleh Astri Wright seputar sambutan yang didapatkan Affandi di Venesia.
Pendekatan kronologis juga diacu oleh Bambang Bujono yang mencermati sosok Affandi dalam kaitannya dengan Asia. Tetapi, alih-alih membicarakan tanggapan masyarakat-masyarakat setempat yang dikunjunginya, Bambang cenderung lebih memilih mengkaji muhibah seni Affandi tersebut melalui serangkaian analisis tentang perubahan stilistik dalam karya. Sudut psikologis sang seniman, yang seabad kelahirannya belum lama ini dirayakan besar-besaran, pun tak luput jadi bahasan.
Jim Supangkat, selain mempertanyakan kategori-kategori teori rupa, mengulas lebih jauh seri potret Affandi, yang boleh dikata adalah pelopor dalam tema lukisan seperti itu. Menurut Supangkat, pada lukisan potret diri Affandi, yang secara rutin dibuatnya dari tahun 1940-an hingga 1988, tercermin seluruh perkembangan seni lukisnya. Perihal tubuh, sungguh salah satu obsesi utama Affandi. Tulisan ini sebenarnya lebih merupakan pendalaman dari ulasan Jim Supangkat sebelumnya tentang tema yang sama, yaitu self-potrait Affandi.
Satu pendekatan menarik ditawarkan oleh Eddy Soetriyono. Ia justru menimbang sosok Affandi melalui puisi Chairil Anwar, dan menandaskan bahwa seniman besar ini di dalam hidupnya yang bohemian, kuasa mempertautkan sikap individualnya dengan nilai-nilai manusia yang universal. Penyair Chairil dan pelukis Affandi, menurut Eddy, bukan hanya hidup dalam dinamika zaman yang sama, tetapi dipertemukan pula oleh kedekatan luapan erotisme masing-masing yang pada dasarnya melampaui tabu-tabu (hipokritisme) serta kungkungan kecemasan atas apa yang disebut dosa. Kedua seniman pelopor ini terinspirasi sosok perempuan, baik sebagai luapan ekspresi kemaskulinan maupun sebagai figur simbolis cerminan keluhuran.
Adapun Jean Couteau menggabungkan pendekatan geografis-historis, psikologis, dan sosiologis. Pengamat budaya yang telah lama mukim di Indonesia ini mengedepankan bahwa Bali terbukti merupakan sarana Affandi untuk mengatasi masalah-masalah psikisnya terkait keburukan fisiknya serta traumanya sebagai ”inlander” sebagaimana dialaminya semasa muda Affandi di Bandung.
Jadi Bali, bagi Affandi, masih menurut Jean Couteau, bukan sebagai tempat nan eksotis yang mempertegas ”perbedaan”, melainkan sebagai ruang katarsis tempat sang seniman menemukan ”kesamaan” antarsesama warga Indonesia dan bahkan sesama warga manusia. Dari pergulatan yang panjang itu, khususnya melalui pertemuannya dengan Bali, Affandi menemukan keindonesiaan sekaligus meraih kesadarannya sebagai warga dunia.
Sekarang, boleh saja para pakar, seniman, dan politikus berbicara secara heroik tentang pentingnya menyinergikan yang global dan yang lokal, berlomba-lomba mewacanakan masa depan Indonesia yang kosmopolitan sambil ”mewasiatkan” pentingnya tetap berpijak pada akar kulturnya sendiri. Tetapi, tidakkah hal ini, sedini Indonesia merdeka, sudah diwujudkan sebagai laku kreatif oleh pelukis terbesarnya, yakni Affandi, sang sungguh maestro ini?
Bukan suatu yang berlebihan dan bahkan benarlah bila judul buku setebal itu, tak ada kata yang paling sesuai, selain Affandi. Secara teknis, tentu saja buku ini masih mengandung kelemahan, misal soal urutan gambar, dan penjelasan periodisasinya yang kurang konsisten. Namun, yang patut diharapkan ialah bagaimana agar dari karya besar ini terbit sebuah versi Indonesianya.
Oleh sebab itu, layak diajukan pertanyaan, apakah anak bangsa tak berhak membaca tulisan tentang tokoh besar sejarahnya seperti Affandi dalam bahasa sendiri? Apakah ”pengetahuan” harus sepenuhnya menjadi milik eksklusif orang asing dan kaum kosmopolitan tertentu orang Indonesia? Tentu, ini bukan hanya tanggung jawab penerbit atau prakarsa buku ini.
* Warih Wisatsana, Penyair, Tinggal di Denpasar
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/10/keindonesiaan-dalam-diri-affandi.html

Perempuan Sastrawan, Tren atau Proses Kebangkitan?


Perempuan Sastrawan, Tren atau Proses Kebangkitan?
Posted by PuJa on May 26, 2012
Rukardi
http://www.suaramerdeka.com/

MUNCULNYA perempuan sastrawan dalam ranah kesusastraan Indonesia dalam kurun sepuluh tahun belakangan, menjadi fenomena yang kerap diperbincangkan. Nama-nama Ayu Utami, Dewi ”Dee” Lestari, Djenar Maesa Ayu, Linda Cristanty, Herlinatiens, Nukila Amal, hingga artis tersohor macam Rieke Dyah Pitaloka menyita perhatian kritikus dan pengamat sastra dengan karya ”sastra wangi”-nya.
Banyak pendapat yang mengemuka, terkait fenomena kemunculan perempuan sastrawan. Sapardi Djoko Damono misalnya, memandang hal itu sebagai titik balik dari sebuah proses kebangkitan. Sastrawan kawakan ini bahkan memprediksi perempuan akan menjadi pewarna dunia kesusastraan Indonesia masa mendatang.
Dalam Seminar Nasional Sastra ”Menguak Heboh Sastra Perempuan: Laki-laki Pengarang Telah Mati?” di Gedung Prof Soemarman, Undip Pleburan, Rabu (1/3), pendapat itu kembali ia lontarkan.
”Kita harus jujur bahwa karya-karya yang paling banyak dihebohkan akhir-akhir ini adalah milik perempuan. Dalam segi jumlah, mereka juga jauh lebih banyak. Menurut saya, kondisi ini akan semakin terteguhkan pada masa mendatang.”
Berkebalikan dengan Sapardi, sastrawan Sitok Srengenge menganggap kemunculan perempuan sastrawan, tak lebih sebagai sebuah tren belaka. Menurutnya, heboh yang terjadi kebanyakan bukan oleh kualitas yang mereka tunjukkan. Melainkan oleh faktor-faktor lain yang berada di luar kesusastraan. Sitok mencontohkan Ayu Utami dengan karyanya Saman.
Novel itu bisa demikian kondang, justru karena ditulis oleh perempuan. ”Orang penasaran, kok ternyata penulisnya perempuan. Belum lagi ditambah rumor adanya ghost writer. Jadilah Saman banyak diperbincangkan.
Secara berkelakar, Sitok mengatakan bahwa keberdayaan perempuan sastrawan di Indonesia sejatinya masih bergantung pada kaum Adam. Industri penerbitan, kata dia, didominasi oleh laki-laki, dari editor sampai direkturnya. ”Coba, kalau mereka tidak mau menerbitkan karya penulis perempuan, mampuslah mereka, ha ha ha.”
Perspektif Perempuan
Seminar yang diselenggarakan dalam rangka ulang tahun III Magister Ilmu Susastra Undip itu juga menghadirkan Kritikus Saut Situmorang, Pengajar Magister Susastra Undip IM Herdrarti, dan pesohor yang pernah menerbitkan karya novelnya, Tamara Geraldine.
Saut Situmorang menyorot soal pandangan feminisme yang menempatkan laki-laki sebagai penulis yang tidak diinginkan. Mereka selalu dianggap menerapkan aturan-aturan dari suatu tatanan representasi simbolik yang memamerkan ide-ide perempuan dengan cita rasa vulgar.
Sementara itu, IM Hendrarti banyak mengupas pembacaan perempuan terhadap teks yang diciptakan perempuan. Menurutnya, pembaca perempuan, perlu mewaspadai pemaknaan tunggal yang diusung ideologi patriarkis. Seorang perempuan akan mampu membaca dengan perspektif perempuan dengan cara memproduksi makna dari sistem pemaknaan yang berasal dari pengalamannya sendiri.
Lantas, apa kata Tamara Geraldine sebagai seorang perempuan penulis? ”Saat menulis tentang perempuan, saya akan menulis lebih baik dari yang ada pada diri saya. Perempuan akan saya tampilkan sebagai sosok yang seindah-indahnya”.
02 Maret 2006

Buku Sampul Tebal, Perlukah?


Buku Sampul Tebal, Perlukah?
Posted by PuJa on May 26, 2012
Sunaryono Basuki Ks
Padang Ekspress, 19 Okt 2008

PARA pecinta buku, saat berburu buku ke toko buku pasti berpikir tentang bagaimana nanti menyimpan buku koleksinya di dalam almari buku. Punya koleksi buku-buku tipis yang tebalnya hanya sekitar seratus-dua ratus halaman dengan ukuran yang tidak baku hanya akan menyulitkan saat mencari kembali buku tersebut. Apalagi bila tidak ada judul di sisi tebal buku.
Sekarang, terjadi gejala yang menggembirakan di dalam penerbitan buku fiksi maupun non-fiksi di dalam bahasa Indonesia. Terdapat kecenderungan bahwa buku-buku yang terbit makin tebal, dengan ketebalan lebih dari 400 halaman. Nampaknya pengarang Indonesia makin mampu bernapas panjang. Lihat saja dalam deretan buku-buku ‘’baru’’ saat ini, ada Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan, Rahasia Meede (E.S. Ito), d.I.a cinta dan presiden (Noorca M. Masssardi), Supernova (Dewi Lestari), Larung (Ayu Utami), Ayat Ayat Cinta (Habiburrahman El Shirazy), Turquoise (Titon Rahmawan), Laskar Pelangi (Andrea Hirata), Gajah Mada (lima jilid) dan Candi Murca (dua jilid) karya Langit Kresna Hariadi, Bilangan Fu (Ayu Utami), dan Putri (dua jilid) karya Putu Wijaya. Di antara buku-buku itu hanya Ayat Ayat Cinta yang terbit dengan sampul tebal (selain ada versi sampul biasa).
Saya juga mengoleksi buku-buku bersampul tebal, antara lain Tahta untuk Rakyat; Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya; Sam Po Kong; Kremril; Menabur Benih, Menuai Kasih(kumpulan esai menyambut ultah ke-75 Prof Dr Anton Moeliono), Bujang Tan Domong; Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit; dan Seulawah (terbit dua versi). Alasan saya membeli buku-buku tersebut terutama bangga punya buku berbahasa Indonesia dengan sampul tebal.
Di dalam koleksi saya juga terdapat buku-buku berbahasa Inggris yang kebanyakan bersampul tebal, kecuali ketika saya sedang bokek dan hanya mampu membeli buku dengan soft cover yang lebih murah. Sudah lumrah buku-buku terkemuka di luar negeri terbit dalam dua versi, hard cover yang biasanya juga dengan jaket, dan soft cover. Tradisi yang sama dilakukan dalam penerbitan terjemahan buku-buku kisah Harry Potter.
Faktor Psikologis
Pernah mendengar tentang kisah penjualan lukisan oleh pelukis Indonesia. Alkisah, seorang pelukis yang belum punya nama besar menggelar pameran lukisan dan memasang harga murah untuk lukisannya. Tujuannya ‘’mulia’’: agar lukisannnya laku dan dapat dikoleksi oleh banyak orang. Ternyata lukisannya tak ada yang laku. Karena jengkelnya dia lalu membingkai palet yang berlumur cat dan memasang harga mahal untuk ‘’lukisan’’-nya itu. Eh, ternyata ‘’lukisan’’ yang diberi harga ‘’tak masuk akal’’ itu langsung disambar kolektor.
Mungkin ini hanya anekdot dari dunia seni rupa. Tetapi tampak di sini bahwa yang punya uang enggan membeli barang murah. Saya pun tertarik membeli novel Kremil karya Suparto Brata terbitan Pustaka Pelajar walau harganya saat itu Rp 75.000 (cukup mahal). Saya juga rela keluar uang Rp 130.000 untuk membeli Sam Po Kong. Bulan Agustus lalu saya membeli buku Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit jilid 2 dan 3 (jilid 1 dan 4 saya terima gratis dari Bapak Taufiq Ismail) seharga Rp 600.000.
Buku nonfiksi Sepenggal Cerita Dari Dusun Bawuk (Amelia Yani, 2002) berketebalan 588 halaman juga memuaskan pembaca. Kita bisa tahu kisah Amelia yang putri Jenderal A. Yani itu, dan mencoba meraba hubungannya dengan keluarga Cendana.
Sayang sekali buku-buku Remy Sylado yang tebal-tebal diterbitkan dengan sampul biasa. Andaikata terbit dengan sampul tebal saya rela membelinya karena alasan itu: bangga punya koleksi buku berbahasa Indonesia bersampul tebal. Bukan hanya Kamus Besar Bahasa Indonesia saja! Mudah-mudahan penerbit mau mempertimbangkan perasaan kolektor buku seperti saya.
Gambar Sampul
Gambar sampul buku dapat diibaratkan wajah seseorang. Yang cantik dan tampan pasti menarik perhatian orang. Buku-buku fiksi sastra menonjolkan keunikan sampul depannya, seolah mencoba meraih simpati sebanyak mungkin calon pembeli. Banyak di antaranya yang menyetarakannya dengan seni lukis modern. Jadi, sastra harus disampuli dengan gambar yang bernuansa ‘’seni’’ agar menarik pembaca.
Tetapi, apakah sampul-sampul jenis lukisan yang melakukan distorsi bentuk, warna mencolok tetapi tak selaras dengan keenakan mata memandang, benar-benar menarik calon pembaca buku? Belum ada penelitian antara hubungan jumlah penjualan dan corak sampul buku. Namun, tetralogia Laskar Pelangi, misalnya, laku keras dengan sampul bergambar sangat realis, tidak berusaha ‘’nyeni’’. Buku saya Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura dengan sampul yang dikerjakan Polenk Rediasa dengan gaya realis; mata kedua monyet sangat hidup, demikian pula bulu-bulunya; tetapi buku itu dinyatakan tidak laku dan sekarang dijual obral.
Sampul novel-novel terjemahan karya Jostein Gaarder seperti Maya dan Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng (Mizan) serta Taj Mahal (John Shors, Mizan), dan Taj (Timeri N. Murari, Mizan) dikerjakan oleh Andreas Kusumahadi juga reaslis, tetapi saya tidak tahu di pasar laris atau tidak.
Memang dunia perbukuan tak dapat diduga. Novel-novel bergaya Ayat Ayat Cinta laris entah sampai kapan. Begitu pula Laskar Pelangi (Andrea Hirata) dan Rahasia Meede (E.S. Ito), tetapi dua novel itu tak ada penirunya.
Pengarangnya yang justru dituntut untuk mengulang suksesnya sendiri. Yang jelas, demi kenikmatan membaca, tidak ada hubungan antara buku yang enak dan patut dibaca dengan tingkat kelarisannya. Kita bisa asyik membaca Bilangan Fu yang penuh petualangan plus spiritualisme (Jawa), serta bahasanya yang hidup, tanpa peduli apakah novel itu laris atau tidak. Yang jelas, novel itu sekarang dinominasikan untuk mendapat Khatulistiwa Literary Award 2008. Tunggu saja.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/10/buku-sampul-tebal-perlukah.html

Cultuurtaal Aspek Ekstralinguistik


Cultuurtaal Aspek Ekstralinguistik
Posted by PuJa on May 26, 2012
Saifur Rohman *
Seputar Indonesia, 19 Okt 2008

JAUH-JAUH hari sebelum Sutan TakdirAlisyahbana menuliskan peribahasa ”Bahasa adalah jiwa bangsa” (dalam Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia, 1957: 109) dan ungkapan ”Bahasa menunjukkan bangsa” tulisan M Jamin yang menjadi sangat terkenal dalam pidato kongres pemuda I pada 1926, seorang Belanda bernama GF Pijper telah menulis tentang bahasa dalam Het Boek er Duizend Vragen (1924).
Menurutnya, Het Maleisch is bestemd de cultuurtaal te worden van den indischen Archipel (1924: 231). Artinya, bahasa Melayu pastilah menjadi bahasa kebudayaan di Kepulauan Hindia. Cultuurtaal atau bahasa kebudayaan pertama-tama harus dimengerti sebagai sebuah representasi linguistis dari lanskap kebudayaan yang hendak dihadirkan (diimajinasikan, istilah Ben Anderson).
Sebagai sebuah representasi, bahasa Melayu telah memanggul identitas kebangsaan di masa pemerintahan Hindia Belanda (konsep archai), mengidap fakta masa itu sebagai lingua franca (konsep ousia), dan sekaligus mengandung masa depan sebuah kebudayaan (konsep telos).
Sebab, sebagai representasi yang mengandung archai, ousia, dan telos itu pula maka bahasa Indonesia sesungguhnya bukanlah kebudayaan itu sendiri (an sich) karena unsur kebudayaan bukan hanya bahasa. Selama ini,dalam berbagai kesempatan ilmiah ataupun nonilmiah, istilah ”bahasa menunjukkan bangsa”telah menjadi aforisme yang tak terelakkan untuk mendukung argumentasi tentang pentingnya menjaga kelestarian.
Akan tetapi, di saat yang sama, jarang dipikirkan bahwa bahasa merupakan substratum dari satu sistem kebudayaan yang lebih luas.Perilaku bangsa itulah yang melahirkan bahasa sehingga dapat memformulasikan karakter bangsa di dalam gramatika bahasa.
Karena itu, Sumpah Pemuda pada 1928 haruslah dimengerti sebagai medium dari spirit kebangsaan yang berada di luar kaidah-kaidah kebahasaan. Itulah sebabnya pengutipan, penelitian, serta penulisan rumusan Sumpah Pemuda (dalam gramatika ”bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung satu bahasa”—bukan berbahasa satu) hanya akan semakin kering dari makna karena tanpa proses tafsir yang mengikutsertakan aspek-aspek di luar titik koma (ekstralinguistik).
Aspek ekstralinguistik dalam konsepsi Raymond Thallis adalah unsur yang tidak terkatakan, tersimpan di balik kesadaran, tetapi lekat, aktual, dan memberikan karakter kebudayaan. Karakter kebudayaanlah yang memformulasikan dirinya di dalam sintaksis sumpah pemuda.
Karakter seperti nasionalisme M Jamin, modernitas Sutan Takdir,transformasi kultural India model Sanusi Pane,dan tradisionalisme Armijn Pane tidak pernah terumuskan di dalam struktur gramatika, tetapi kehadiran mereka menjadikan bahasa resmi negara menjadi seperti sekarang ini.
Bila argumentasi itu benar, karakter kebangsaan masa kini adalah determinan dari kondisi kebahasaan masa depan.Indikasi-indikasi empiris tentu bisa dilihat dalam minat generasi muda di dalam institusi bahasa dan sastra Indonesia, pemakaian judul acara di media massa (tunjuk saja televisi), keterampilan berbahasa asing bukan lagi tuntutan khusus dalam sebuah institusi serta perkembangan bahasa prokem dalam teknologi yang meledak tak terkendali.
Indikasi itu serbasedikit memberikan gambaran tentang pengaruhpengaruh mendasar dalam perkembangan bahasa kita. Pengaruhpengaruh itu, dalam kaca mata kebudayaan, dapat dirumuskan dalam empat pengaruh mendasar. Pertama, visi politik kebangsaan para elite politik. Kedua, perilaku berbahasa media massa,yang ketiga, globalisasi, dan keempat adalah kehadiran teknologi informasi dan sejenisnya.
Marilah empat hal itu dilihat dari teori kebudayaan Kluckhon, bahwa unsur terkuat adalah yang pertama,sedangkan unsur pengaruh yang mudah berubah adalah yang keempat. Visi politik kebangsaan masa kini memang mulai bergeser.
Idealitas, spirit, dan karakter yang diawetkan para pendiri di dalam rumusanrumusan gramatika Pancasila mengalami pergeseran di tangan penerusnya. Jajak pendapat KOMPAS (30/9) membuktikan lebih dari 25% masyarakat tidak hafal gramatika Pancasila.
Sila yang paling dilupakan adalah kerakyatan (sila ke-4) sebesar 30.2%, disusul sila keadilan (sila ke-5) 28,8%, kemanusiaan (sila ke-2) 27,8%, persatuan (sila ke-3) 23,8%, dan ketuhanan (sila ke-1) 9,0%.
Konkretnya, rumusan gramatika para pendiri bangsa itu tidak ditemukan di dalam teks-teks yang disusun elite politik.Konsepsi hak asasi (kemanusiaan yang adil dan beradab) tidak ditemukan di dalam pasal-pasal yang mengangkat kemanusiaan sebagaimana terlihat dalam UU No 39/1999 tentang HAM.Istilah ”adil dan beradab” diganti dengan konsepsi HAM model Barat yang ”beradab, setara, dan bersaudara”.
Istilah ”keadilan sosial” telah berganti dengan ”keadilan atas penanaman modal asing” sebagaimana termaktub di dalam SK Menteri Perindustrian No 107/MPP/Kep/2/1998. Istilah ”persatuan Indonesia” diwujudkan dengan ”partai lokal”. Istilah ”kerakyatan” telah berganti spirit dengan ”kerakyatan berdasarkan iklan”.
* Saifur Rohman, Dosen Bahasa Indonesia di Universitas Semarang Hari
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/10/cultuurtaal-aspek-ekstralinguistik.html

Jawablah Tantangan dengan Kerja Kreatif


Jawablah Tantangan dengan Kerja Kreatif
Posted by PuJa on May 26, 2012
Fedli Azis *
http://www.riaupos.co/

Geliat seni, salah satunya seni teater di Riau dari tahun ke tahun, tak kunjung stabil. Ada kalanya meningkat dan ada kalanya pula menurun. Namun tak pernah mati. Jantungnya senantiasa berdenyut di ruang gelap mengakap lagi senyap.
Kondisi semacam ini bukan karena para penggiatnya tak berkarya atau melakukan kerja-kerja kreatif. Mereka (pelaku teater) terus berproses, baik secara individu maupun di kelompok / komunitas / sanggarnya masing-masing. Meski jadwal pementasan yang sudah disepakati antar awak yang terlibat di dalamnya tak kunjung terealisasi dengan alasan klasik yakni tak ada dana.
Pertanyaannya, seberapa besar uang yang diperlukan dan berapa yang didapat dari hasil sebuah pagelaran? Pertanyaan ini tentu bisa dijawab, jika pagelaran telah dilakukan berkali-kali. Akan tercatat, berapa uang yang habis jika pementasan dilakukan di dalam gedung, di luar dan semacamnya. Berapa uang untuk sewa sound system, pencahayaan (lighting), promosi (publikasi ke media massa, pamflet, baliho dsb), berapa banyak uang untuk mencetak tiket, jika dikomersilkan. Kemudian, berapa uang yang dikeluarkan untuk pembuatan/penyewaan kostum, dekorasi, biaya selama latihan, honor dan banyak lagi.
Pertanyaan-pertanyaan itu begitu menakutkan, karena bisa dikatakan, penggiat teater bukanlah orang berkantong tebal. Bahkan tak pula mengenal orang-orang berduit atau orang kaya yang tak tahu lagi kemana uangnya dihabiskan. Pertanyaan itu pula yang melahirkan kegamangan di kepala penggiat teater saat ini, terutama Riau. Alhasil pementasan yang hendak di bentang ke hadapan publik hanya jadi cita-cita yang senantiasa tertunda.
Jadwal pementasan sangat minim sekali, bahkan dalam setahun hanya satu atau dua kelompok yang nekat menggelarnya. Itupun dengan catatan, usai pentas hutang pun melambak di sana-sini. Pertanyaan penting yang perlu dijawab bersama, “bagaimana orang di luar seni (masyarakat umum atau donatur) percaya jika orang-orang di dalam (penggiatnya) tak percaya diri?”
Satu pertanyaan lagi yang perlu dijawab bersama, “apakah karena Riau tak lagi punya tokoh setelah Idrus Tintin berpulang?” Atau karena komunitas yang dulunya produktif, terutama teater kampus, kehilangan tokoh-tokohnya?
Dan pertanyaan terpenting adalah apakah pelaku teater yang muda-muda tak mampu membesarkan dirinya sendiri seperti para senior mereka yakni Ibrahim Sattah, BM Syamsuddin, Ediruslan Pe Amanriza, Bustamam Halimi, Dasri Almubary dan banyak lagi? Benarkah ‘’teater tokoh’’ telah membunuh kreativitas generasi selanjutnya?
Istilah “teater tokoh” barangkali telah tumbuh dan berkembang sejak lama. Teater Populer dengan tokohnya Teguh Karya, Teater Bengkel dengan Rendra, Arifin C Noer dengan Teater Kecil dan sederetan nama lain. Memang masih ada komunitas lain yang produktif seperti Koma dengan Nano Riantiarno dan Mandiri dengan Putu Wijaya serta banyak komunitas lainnya. Lalu, apakah akan muncul tokoh-tokoh baru dalam komunitas tersebut setelah tokohnya tiada dan terbenam bersama tokohnya? Terbukti setelah tokoh-tokoh komunitas ini tiada atau tak produktif lagi, aktivitas/kerja kreatif komunitas itu juga tak terdengar lagi.
Ulasan di atas hanyalah kerisauan saya selaku penggiat teater selama kurun waktu beberapa tahun terakhir. Begitu banyak masalah dan beban yang membelit percabangan seni satu ini. Perlu dihayati, meski usianya sudah ribuan tahun, teater masih diminati dan terus memberi pengaruh positif hingga hari ini. Lantas mengapa harus takut menderita untuk bertungkus-lumus di dalamnya? Masih ada peluang untuk lebih mengoptimalkan keberadaannya di muka bumi ini, sekali lagi demi Riau.
Harus Mencoba
Sebagai pelaku teater, tak ada salahnya untuk mencoba dan siap menanggung konsekuensinya. Masih banyak cara, trik dan solusi agar teater, sebagai wadah ekspresi untuk diapresiasi masyarakat luas. Salah satu contoh yakni apa yang dilakukan Dindon WS dengan Teater Kuburnya. Beberapa kali diskusi dengannya, jelas bahwa upaya Dindon yang mengenalkan teater di kalangan kelas bawah cukup ampuh. Bahkan di kawasan tempat tinggalnya, teater jadi gaya hidup dengan slogan ‘’Gak ikut teater, gak keren’’.
Para pemulung, pengamen, pencopet, maling, tukang palak dan perampok ikut bersama Dindon, bermain drama. Pagelaran tak hanya dihelat dalam gedung, bahkan luar ruangan (out door) dengan penonton bisa dari kalangan mana saja. Gambaran ini hanya satu contoh ringan.
Begitu pula kerja kreatif yang dijalani Peter Brook di kampung-kampung termiskin Afrika. Meski menghabiskan banyak biaya, namun bisa diadopsi ke negeri ini. Intinya, jika tak berani menggelar pertunjukan di dalam gedung yang perlu biaya puluhan bahkan ratusan juta, mengapa tak di luar saja. Saya pikir, jauh lebih menarik dan menyenangkan.
Kenapa tak mengadakan pertunjukan di lapangan di RT/RW, kelurahan atau kecamatan. Biaya yang diperlukan jauh lebih kecil dan apa yang hendak disampaikan dapat diterima langsung masyarakat umum. Bukan tak mungkin, setelah kerja itu dilakukan berulang-ulang maka kelompok yang rutin melaksanakannya secara otomatis telah membangun masyarakat penonton teaternya sendiri. Hasilnya, teater makin populer dan dikenal secara positif.
Bisa juga teater digelar di pasar-pasar seperti tukang obat yang sering kita saksikan membuat lingkaran besar di tengah pasar. Tak sedikit orang yang berminat menyaksikannya. Padahal sang penjual sedang menggelar obat-obat penyakit ringan belaka. Bukankah digelarnya dagangan itu dengan gaya teatrikal tanpa unsur pendukung seperti lampu-lampu atau panggung khusus. Hanya pengeras suara seadanya dan upaya itu mampu menghipnotis ratusan pengunjung.
Teater bisa juga dipentaskan di sekolah-sekolah dengan meminta waktu, sekian menit pada pengelolanya. Bayangkan saja, sekali pentas langsung disaksikan 1.000-an penikmat (siswa/i). Masih banyak cara untuk mementaskan teater tanpa perlu biaya besar. Jika geliat teater marak di tengah-tengah masyarakat maka otomatis saja banyak pihak yang terpanggil untuk membantu.
Tanpa sponsor pertunjukan bisa digelar jika masyarakat penonton sudah terbangun. Lambat laun, masyarakat yang mengenal dan memahami teater secara baik, akan bersedia merogoh kantong lebih dalam untuk membeli tiket.
Saat ini, teater sebagai satu percabangan seni yang memiliki unsur edukasi, hiburan dan semacamnya, memerlukan pengorbanan tanpa pamrih. Teater yang berisi ajakan serta penawaran pemikiran atas sebuah peristiwa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat juga tak menuntut biaya maksimal. Tak ada salahnya mencoba daripada menunggu festival atau undangan seperti yang terjadi selama bertahun-tahun belakangan ini. Selamat mencoba dan selamat berpeluh-peluh tanpa berkeluh-kesah.***
Fedli Azis, Adalah penggiat teater di Riau yang juga Ketua Teater Selembayung. Bermastautin di Pekanbaru. /13 Mai 2012